Docstoc

sejarah perkembangan islam diindonesia

Document Sample
sejarah perkembangan islam diindonesia Powered By Docstoc
					      MAKALAH AGAMA ISLAM
SEJARAH PEKEMBANGAN AGAMA ISLAM
           DI INDONESIA




               D
               I
               S
               U
               S
               U
               N


             OLEH :


     NAMA    : DWI RAHAYU
     NIM     : 10-031-101
     KELAS   : 1C Akbid Mawar




 AKADEMI KEBIDANAN SARI MUTIARA
             MEDAN
              2011
       Islam merupakan salah satu agama besar di dunia saat ini. Agama ini lahir

dan berkembang di Tanah Arab. Pendirinya ialah Muhammad. Agama ini lahir

salah satunya sebagai reaksi atas rendahnya moral manusia pada saat itu. Manusia

pada saat itu hidup dalam keadaan moral yang rendah dan kebodohan (jahiliah).

Mereka sudah tidak lagi mengindahkan ajaran-ajaran nabi-nabi sebelumnya. Hal

itu menyebabkan manusia berada pada titik terendah. Penyembahan berhala,

pembunuhan, perzinahan, dan tindakan rendah lainnya merajalela.


       Islam mulai disiarkan sekitar tahun 612 di Mekkah. Karena penyebaran

agama baru ini mendapat tantangan dari lingkungannya, Muhammad kemudian

pindah (hijrah) ke Madinah pada tahun 622. Dari sinilah Islam berkembang ke

seluruh dunia.


       Muhammad       mendirikan    wilayah     kekuasaannya      di   Madinah.

Pemerintahannya didasarkan pada pemerintahan Islam. Muhammad kemudian

berusaha menyebarluaskan Islam dengan memperluas wilayahnya.


       Setelah Muhammad wafat pada tahun 632, proses menyebarluaskan Islam

dilanjutkan oleh para kalifah yang ditunjuk Muhammad.


       Sampai tahun 750, wilayah Islam telah meliputi Jazirah Arab, Palestina,

Afrika Utara, Irak, Suriah, Persia, Mesir, Sisilia, Spanyol, Asia Kecil, Rusia,

Afganistan, dan daerah-daerah di Asia Tengah. Pada masa ini yang memerintah

ialah Bani Umayyah dengan ibu kota Damaskus.


       Pada tahun 750, Bani Umayyah dikalahkan oleh Bani Abbasiyah yang

kemudian memerintah sampai tahun 1258 dengan ibu kota di Baghdad. Pada masa
ini, tidak banyak dilakukan perluasan wilayah kekuasaan. Konsentrasi lebih pada

pengembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban Islam. Baghdad

menjadi pusat perdagangan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan.


       Setelah pemerintahan Bani Abbasiyah, kekuasaan Islam terpecah.

Perpecahan ini mengakibatkan banyak wilayah yang memisahkan diri. Akibatnya,

penyebaran Islam dilakukan secara perorangan. Agama ini dapat berkembang

dengan cepat karena Islam mengatur hubungan manusia dan TUHAN. Islam

disebarluaskan tanpa paksaan kepada setiap orang untuk memeluknya.

Proses Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Indonesia

       Sejarah mencatat bahwa kaum pedagang memegang peranan penting

dalam persebaran agama dan kebudayaan Islam. Letak Indonesia yang strategis

menyebabkan timbulnya pelabuhan - pelabuhan perdagangan yang turut

membantu mempercepat persebaran tersebut. Di samping itu, cara lain yang turut

berperan ialah melalui dakwah yang dilakukan para mubaligh.

a. Peranan Kaum Pedagang

       Seperti halnya penyebaran agama Hindu-Buddha, kaum pedagang

memegang peranan penting dalam proses penyebaran agama Islam, baik pedagang

dari luar Indonesia maupun para pedagang Indonesia


       Para pedagang itu datang dan berdagang di pusat-pusat perdagangan di

daerah pesisir. Malaka merupakan pusat transit para pedagang. Di samping itu,

bandar-bandar di sekitar Malaka seperti Perlak dan Samudra Pasai juga didatangi

para pedagang.
       Mereka tinggal di tempat-tempat tersebut dalam waktu yang lama, untuk

menunggu datangnya angin musim. Pada saat menunggu inilah, terjadi pembauran

antarpedagang dari berbagai bangsa serta antara pedagang dan penduduk

setempat. Terjadilah kegiatan saling memperkenalkan adat-istiadat, budaya

bahkan agama. Bukan hanya melakukan perdagangan, bahkan juga terjadi

asimilasi melalui perkawinan.


       Di antara para pedagang tersebut, terdapat pedagang Arab, Persia, dan

Gujarat yang umumnya beragama Islam. Mereka mengenalkan agama dan budaya

Islam kepada para pedagang lain maupun kepada penduduk setempat. Maka,

mulailah ada penduduk Indonesia yang memeluk agama Islam. Lama-kelamaan

penganut agama Islam makin banyak. Bahkan kemudian berkembang ke

perkampungan para pedagang Islam di daerah pesisir.


       Penduduk setempat yang telah memeluk agama Islam kemudian

menyebarkan Islam kepada sesama pedagang, juga kepada sanak familinya.

Akhirnya, Islam mulai berkembang di masyarakat Indonesia. Di samping itu para

pedagang dan pelayar tersebut juga ada yang menikah dengan penduduk setempat

sehingga lahirlah keluarga dan anak-anak yang Islam.


       Hal ini berlangsung terus selama bertahun-tahun sehingga akhirnya

muncul sebuah komunitas Islam, yang setelah kuat akhirnya membentuk sebuah

pemerintahaan Islam. Dari situlah lahir kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara.
b. Peranan Pelabuhan di Indonesia

          Pelabuhan merupakan tempat berlabuh kapal-kapal atau persinggahan

kapal-kapal dagang. Pelabuhan juga merupakan pusat perdagangan, bahkan juga

digunakan sebagai tempat tinggal para pengusaha perkapalan. Sebagai negara

kepulauan yang terletak pada jalur perdagangan internasional, Indonesia memiliki

banyak bandar. Pelabuhan - pelabuhan ini memiliki peranan dan arti yang penting

dalam proses masuknya Islam ke Indonesia.


          Di pelabuhan - pelabuhan inilah para pedagang beragama Islam

memperkenalkan Islam kepada para pedagang lain ataupun kepada penduduk

setempat. Dengan demikian, bandar menjadi pintu masuk dan pusat penyebaran

agama Islam ke Indonesia. Kalau kita lihat letak geografis kota-kota pusat

kerajaan yang bercorak Islam pada umunya terletak di pesisir-pesisir dan muara

sungai.


          Dalam perkembangannya, bandar-bandar tersebut umumnya tumbuh

menjadi kota bahkan ada yang menjadi kerajaan, seperti Perlak, Samudra Pasai,

Palembang, Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Tuban, Gresik,

Banjarmasin, Gowa, Ternate, dan Tidore. Banyak pemimpin bandar yang

memeluk agama Islam. Akibatnya, rakyatnya pun kemudian banyak memeluk

agama Islam.


          Peranan pelabuhan - pelabuhan sebagai pusat perdagangan dapat kita lihat

jejaknya. Para pedagang di dalam kota mempunyai perkampungan sendiri-sendiri

yang penempatannya ditentukan atas persetujuan dari penguasa kota tersebut,
misalnya di Aceh, terdapat perkampungan orang Portugis, Benggalu Cina,

Gujarat, Arab, dan Pegu.


        Begitu juga di Banten dan kota-kota pasar kerajaan lainnya. Dari uraian di

atas dapat disimpulkan bahwa kota-kota pada masa pertumbuhan dan

perkembangan Islam memiliki ciri-ciri yang hampir sama antara lain letaknya di

pesisir, ada pasar, ada masjid, ada perkampungan, dan ada tempat para penguasa

(sultan).


c. Peranan Para Wali dan Ulama

        Salah satu cara penyebaran agama Islam ialah dengan cara mendakwah. Di

samping sebagai pedagang, para pedagang Islam juga berperan sebagai mubaligh.

Ada juga para mubaligh yang datang bersama pedagang dengan misi agamanya.

Penyebaran Islam melalui dakwah ini berjalan dengan cara para ulama

mendatangi masyarakat objek dakwah, dengan menggunakan pendekatan sosial

budaya. Pola ini memakai bentuk akulturasi, yaitu menggunakan jenis budaya

setempat yang dialiri dengan ajaran Islam di dalamnya. Di samping itu, para

ulama ini juga mendirikan pesantren-pesantren sebagai sarana pendidikan Islam.


        Di Pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Walisongo (9

wali). Wali ialah orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam

mendekatkan diri kepada Allah. Para wali ini dekat dengan kalangan istana.

Merekalah orang yang memberikan pengesahan atas sah tidaknya seseorang naik

tahta. Mereka juga adalah penasihat sultan.
       Karena dekat dengan kalangan istana, mereka kemudian diberi gelar sunan

atau susuhunan (yang dijunjung tinggi). Kesembilan wali tersebut adalah seperti

berikut.


(1) Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim).

       Inilah wali yang pertama datang ke Jawa pada abad ke-13 dan menyiarkan

Islam di sekitar Gresik. Dimakamkan di Gresik, Jawa Timur. Maulana Malik

Ibrahim dianggap termasuk salah seorang yang pertama-tama menyebarkan

agama Islam di tanah Jawa, dan merupakan wali senior diantara para Walisongo

lainnya. Beberapa versi babad menyatakan bahwa kedatangannya disertai

beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali ialah desa Sembalo, sekarang

adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar, yaitu 9 kilometer ke arah utara kota

Gresik. Ia lalu mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa bagian timur, dengan

mendirikan mesjid pertama di desa Pasucinan, Manyar. Makam Maulana Malik

Ibrahim, desa Gapura, Gresik, Jawa Timur


       Pertama-tama yang dilakukannya ialah mendekati masyarakat melalui

pergaulan. Budi bahasa yang ramah-tamah senantiasa diperlihatkannya di dalam

pergaulan sehari-hari. Ia tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan

hidup dari penduduk asli, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan

kabaikan yang dibawa oleh agama Islam. Berkat keramah-tamahannya, banyak

masyarakat yang tertarik masuk ke dalam agama Islam.


       Sebagaimana yang dilakukan para wali awal lainnya, aktivitas pertama

yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang. Ia berdagang di tempat

pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar. Perdagangan
membuatnya dapat berinteraksi dengan masyarakat banyak, selain itu raja dan

para bangsawan dapat pula turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut

sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal atau pemodal.


       Setelah cukup mapan di masyarakat, Maulana Malik Ibrahim kemudian

melakukan kunjungan ke ibukota Majapahit di Trowulan. Raja Majapahit

meskipun tidak masuk Islam tetapi menerimanya dengan baik, bahkan

memberikannya sebidang tanah di pinggiran kota Gresik. Wilayah itulah yang

sekarang dikenal dengan nama desa Gapura. Cerita rakyat tersebut diduga

mengandung unsur-unsur kebenaran; mengingat menurut Groeneveldt pada saat

Maulana Malik Ibrahim hidup, di ibukota Majapahit telah banyak orang asing

termasuk dari Asia Barat.


       Demikianlah, dalam rangka mempersiapkan kader untuk melanjutkan

perjuangan menegakkan ajaran-ajaran Islam, Maulana Malik Ibrahim membuka

pesantren-pesantren yang merupakan tempat mendidik pemuka agama Islam di

masa selanjutnya. Hingga saat ini makamnya masih diziarahi orang-orang yang

menghargai usahanya menyebarkan agama Islam berabad-abad yang silam. Setiap

malam Jumat Legi, masyarakat setempat ramai berkunjung untuk berziarah. Ritual

ziarah tahunan atau haul juga diadakan setiap tanggal 12 Rabi'ul Awwal, sesuai

tanggal wafat pada prasasi makamnya. Pada acara haul biasa dilakukan khataman

Al-Quran, mauludan (pembacaan riwayat Nabi Muhammad), dan dihidangkan

makanan khas bubur harisah.


       Menurut legenda rakyat, dikatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim atau

Sunan Gresik berasal dari Persia. Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq
disebutkan sebagai anak dari Maulana Jumadil Kubro, atau Syekh Jumadil Qubro.

Maulana Ishaq disebutkan menjadi ulama terkenal di Samudera Pasai, sekaligus

ayah dari Raden Paku atau Sunan Giri. Syekh Jumadil Qubro dan kedua anaknya

bersama-sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah; Syekh Jumadil

Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan;

dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudera Pasai.


        Maulana Malik Ibrahim disebutkan bermukim di Champa (dalam legenda

disebut sebagai negeri Chermain atau Cermin) selama tiga belas tahun. Ia

menikahi putri raja yang memberinya dua putra; yaitu Raden Rahmat atau Sunan

Ampel dan Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri. Setelah cukup menjalankan

misi dakwah di negeri itu, ia hijrah ke pulau Jawa dan meninggalkan keluarganya.

Setelah dewasa, kedua anaknya mengikuti jejaknya menyebarkan agama Islam di

pulau Jawa.


        Maulana Malik Ibrahim dalam cerita rakyat kadang-kadang juga disebut

dengan nama Kakek Bantal. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia

merangkul masyarakat bawah, dan berhasil dalam misinya mencari tempat di hati

masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang

saudara.


        Selain itu, ia juga sering mengobati masyarakat sekitar tanpa biaya.

Sebagai tabib, diceritakan bahwa ia pernah diundang untuk mengobati istri raja

yang berasal dari Champa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat

istrinya.
(2) Sunan Ampel (Raden Rahmat).

       Menyiarkan Islam di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Beliau merupakan

perancang pembangunan Masjid Demak.


       Sunan Ampel pada masa kecilnya bernama Raden Rahmat, dan

diperkirakan lahir pada tahun 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai

lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa

Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles

menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. Menurut

beberapa riwayat, orang tua Sunan Ampel adalah Ibrahim Asmarakandi yang

berasal dari Champa dan menjadi raja di sana.


       Ibrahim Asmarakandi disebut juga sebagai Maulana Malik Ibrahim. Ia dan

adiknya, Maulana Ishaq adalah anak dari Syekh Jumadil Qubro. Ketiganya berasal

dari Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah.


       Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (= Hikayat Banjar resensi I),

nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai. Beliau datang ke

Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil isteri oleh Raja Mapajahit.

Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih

Maudara. Dipati Hangrok telah memerintahkan menterinya Gagak Baning

melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah perahu ke Pasai. Sebagai

kerajaan Islam, mulanya Sultan Pasai keberatan jika Putrinya dijadikan isteri Raja

Majapahit, tetapi karena takut binasa kerajaannya akhirnya Putri tersebut

diberikan juga. Putri Pasai dengan Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki

[yang diduga adalah Raden Patah. Karena rasa sayangnya Putri Pasai melarang
Raja Bungsu pulang ke Pasai. Sebagai ipar Raja Majapahit, Raja Bungsu

kemudian meminta tanah untuk menetap di wilayah pesisir yang dinamakan

Ampelgading. Putri Pasai kemudian diserahkan sebagai isteri bagi putera raja

Bali, yang wafat ketika Putri Pasai mengandung tiga bulan. Karena dianggap akan

membawa celaka bagi negeri tersebut, maka ketika lahir bayi ini dihanyutkan ke

laut, tetapi kemudian dapat dipungut dan dipelihara oleh Nyai Suta-Pinatih, kelak

disebut Pangeran Giri. Putri Pasai kembali ke Majapahit, kelak ketika terjadi huru-

hara di ibukota Majapahit, Putri Pasai pergi ke tempat adiknya Raja Bungsu di

Ampelgading. Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk dapat masuk Islam

kepada Raja Bungsu, tetapi Raja Bungsu sendiri merasa perlu meminta izin

terlebih dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses islamisasi tersebut.

Akhirnya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih

kepada agama Islam. Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari Raja Majapahit

secara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu. Petinggi Jipang dan

keluarga masuk Islam. Raja Bungsu beristerikan puteri dari petinggi daerah Jipang

tersebut, kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan

diambil sebagai isteri oleh Sunan Kudus, sedang yang laki-laki digelari sebagai

Pangeran Bonang. Raja Bungsu sendiri disebut sebagai Pangeran Makhdum.


       Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad

merupakan keponakan dari Putri Champa (Jeumpa?) permaisuri Prabu Brawijaya.


(3) Sunan Derajad (Syarifudin)

       Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan agama di sekitar Surabaya. Seorang

sunan yang sangat berjiwa sosial.
      Sunan Drajat bernama kecil Raden Syarifuddin atau Raden Qosim putra

Sunan Ampel yang terkenal cerdas. Setelah pelajaran Islam dikuasai, beliau me-

ngambil tempat di Desa Drajat wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan

sebagai pusat kegiatan dakwahnya sekitar abad XV dan XVI Masehi. Ia

memegang kendali keprajaan di wilayah perdikan Drajat sebagai otonom kerajaan

Demak selama 36 tahun.


      Beliau sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal berjiwa sosial, sangat

memperhatikan nasib kaum fakir miskin. Ia terlebih dahulu mengusahakan

kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi

lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas

kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Usaha ke arah itu menjadi lebih

mudah karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur wilayahnya

yang mempunyai otonomi.


      Sebagai penghargaan atas keberhasilannya menyebarkan agama Islam dan

usahanya menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang

makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari

Raden Patah Sultan Demak pada tahun saka 1442 atau 1520 Masehi.


(4) Sunan Bonang (Makdum Ibrahim)


      Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan Islam di Tuban, Lasem, dan

Rembang. Sunan yang sangat bijaksana.


      Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia

mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian beliau
kombinasi dengan kesimbangan pernafasan yang disebut dengan rahasia Alif Lam

Mim ( ‫ ) م ل ا‬yang artinya hanya Allah SWT yang tahu. Sunan Bonang juga

menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang Beliau ambil dari seni bentuk

huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri

huruf Ya'. Ia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah

adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara

awam penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-

huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca

dan memahami isi Al-Qur'an. Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan

Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Salat dan

dzikir. Hingga sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih

dilestarikan di Indonesia oleh generasinya dan diorganisasikan dengan nama

Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia.


(5) Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said)


       Murid Sunan Bonang. Menyiarkan Islam di Jawa Tengah. Seorang

pemimpin, pujangga, dan filosof. Menyiarkan agama dengan cara menyesuaikan

dengan lingkungan setempat.


       Sunan Kalijaga adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat

dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh

Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di Kadilangu, Demak.


       Menurut cerita, Sebelum menjadi Walisongo, Raden Said menjadi seorang

perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan Hasil
Bumi.Dan hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang-orang yang

miskin.Suatu hari,Saat Raden Said ke hutan,ia melihat seseorang kakek tua yang

bertongkat.Orang itu adalah Sunan Bonang. Karena tongkat itu dilihat seperti

tongkat emas,ia merampas tongkat itu.Katanya,hasil rampokan itu akan ia bagikan

kepada orang yang miskin.Tetapi,Sang Sunan Bonang tidak membenarkan cara

itu.Ia menasihati Raden Said bahwa Allah tidak akan menerima amal yang

buruk.Lalu,Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas dan mengatakan bila

Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha,maka ambillah buah aren

emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang.Karena itu,Raden Said ingin menjadi

murid Sunan Bonang.Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke Sungai.Raden

Said berkata bahwa ingin menjadi muridnya.Sunan Bonang lalu menyuruh Raden

Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tep

sungai.Raden Said tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan

Bonang datang.Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut.Karena itu,ia

menjadi tertidur dalam waktu lama.Karena lamanya ia tertidur,tanpa disadari akar

dan rerumputan telah menutupi dirinya.Tiga tahun kemudian,Sunan Bonang

datang dan membangunkan Raden Said.Karena ia telah menjaga tongkatnya yang

ditanjapkan   ke   sungai,maka    Raden    Said   diganti   namanya     menjadi

Kalijaga.Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan

Bonang.Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan

Kalijaga.


       Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat

dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis
salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan

kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.


       Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat

akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara

bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika

Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak

mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan

Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai

sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan

Gundul-gundul Pacul. Dialah menggagas baju takwa, perayaan sekatenan,

garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu

("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua

beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.


Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk

Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura,

Kebumen, Banyumas, serta Pajang.


(6) Sunan Giri (Raden Paku)


       Menyiarkan Islam di luar Jawa, yaitu Madura, Bawean, Nusa Tenggara,

dan Maluku. Menyiarkan agama dengan metode bermain.


       Setelah tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal

dengan Raden 'Ainul Yaqin kembali ke Jawa. Ia kemudian mendirikan sebuah

pesantren giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas. Dalam bahasa
Jawa, giri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan

Sunan Giri.


      Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat

penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura,

Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang

sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik

dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh

Sultan Agung.


      Terdapat beberapa karya seni tradisional Jawa yang sering dianggap

berhubungkan dengan Sunan Giri, diantaranya adalah permainan-permainan anak

seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng; serta beberapa gending (lagu

instrumental Jawa) seperti Asmaradana dan Pucung.


(7) Sunan Kudus (Jafar Sodiq)


      Menyiarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah. Seorang ahli seni bangunan.

Hasilnya ialah Masjid dan Menara Kudus.


      Sunan Kudus dilahirkan dengan nama Jaffar Shadiq. Dia adalah putra dari

pasangan Sunan Ngudung, adalah panglima perang Kesultanan Demak Bintoro

dan Syarifah adik dari Sunan Bonang. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada

tahun 1550.


      Sunan Kudus pernah menjabat sebagai panglima perang untuk Kesultanan

Demak, dan dalam masa pemerintahan Sunan Prawoto dia menjadi penasihat bagi
Arya Penangsang. Selain sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak,

Sunan Kudus juga menjabat sebagai hakim pengadilan bagi Kesultanan Demak.


        Dalam melakukan dakwah penyebaran Islam di Kudus, Sunan Kudus

menggunakan sapi sebagai sarana penarik masyarakat untuk datang untuk

mendengarkan dakwahnya. Sunan Kudus juga membangun Menara Kudus yang

merupakan gabungan kebudayaan Islam dan Hindu yang juga terdapat Masjid

yang disebut Masjid Menara Kudus.


        Pada tahun 1530, Sunan Kudus mendirikan sebuah mesjid di desa

Kerjasan, Kudus Kulon, yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus

dan masih bertahan hingga sekarang. Sekarang Masjid Agung Kudus berada di

alun-alun kota Kudus Jawa Tengah.Peninggalan lain dari Sunan Kudus adalah

permintaannya kepada masyarakat untuk tidak memotong hewan kurban sapi

dalam perayaan Idul Adha untuk menghormati masyarakat penganut agama Hindu

dengan mengganti kurban sapi dengan memotong kurban kerbau, pesan untuk

memotong kurban kerbau ini masih banyak ditaati oleh masyarakat Kudus hingga

saat ini.


(8) Sunan Muria (Raden Umar Said)


        Menyiarkan Islam di lereng Gunung Muria, terletak antara Jepara dan

Kudus, Jawa Tengah. Sangat dekat dengan rakyat jelata.


        Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh

Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto.
Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18

kilometer ke utara kota Kudus.


       Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga.

Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah

sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.

Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan

bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.


       Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik

internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang

mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi

pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan

Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah

satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.n


KEISTIMEWAAN


       Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah

betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima

oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria adalah lagu Sinom dan Kinanti.


(9) Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)


       Menyiarkan Islam di Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Seorang

pemimpin berjiwa besar.
        Satu hal yang sangat unik dari personaliti Syarif Hidayatullah adalah

dalam riwayat jatuhnya Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda pada tahun

1568 hanya setahun sebelum beliau wafat dalam usia yang sangat sepuh hampir

120 tahun (1569). Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan para

Pembesar istana Pakuan, Syarif Hidayat memberikan 2 opsi.


        Yang pertama Pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan

dijaga kedudukan dan martabatnya seperti gelar Pangeran, Putri atau Panglima

dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing. Yang ke dua adalah bagi

yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar dari keraton masing-masing

dan keluar dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten

wilayah Cibeo sekarang.


        Dalam perundingan terakhir yang sangat menentukan dari riwayat Pakuan

ini, sebagian besar para Pangeran dan Putri-Putri Raja menerima opsi ke 1.

Sedang Pasukan Kawal Istana dan Panglimanya (sebanyak 40 orang) yang

merupakan Korps Elite dari Angkatan Darat Pakuan memilih opsi ke 2. Mereka

inilah cikal bakal penduduk Baduy Dalam sekarang yang terus menjaga anggota

pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga karena keturunan dari 40 pengawal

istana Pakuan. Anggota yang tidak terpilih harus pindah ke pemukiman Baduy

Luar.


        Yang menjadi perdebatan para ahli hingga kini adalah opsi ke 3 yang

diminta Para Pendeta Sunda Wiwitan. Mereka menolak opsi pertama dan ke 2.

Dengan kata lain mereka ingin tetap memeluk agama Sunda Wiwitan (aliran

Hindu di wilayah Pakuan) tetapi tetap bermukim di dalam wilayah Istana Pakuan.
       Sejarah membuktikan hingga penyelidikan yang dilakukan para Arkeolog

asing ketika masa penjajahan Belanda, bahwa istana Pakuan dinyatakan hilang

karena tidak ditemukan sisa-sisa reruntuhannya. Sebagian riwayat yang diyakini

kaum Sufi menyatakan dengan kemampuan yang diberikan Allah karena doa

seorang Ulama yang sudah sangat sepuh sangat mudah dikabulkan, Syarif Hidayat

telah memindahkan istana Pakuan ke alam ghaib sehubungan dengan kerasnya

penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tidak menerima Islam ataupun

sekadar keluar dari wilayah Istana Pakuan.


       Bagi para sejarawan beliau adalah peletak konsep Negara Islam modern

ketika itu dengan bukti berkembangnya Kesultanan Banten sebagi negara maju

dan makmur mencapai puncaknya 1650 hingga 1680 yang runtuh hanya karena

pengkhianatan seorang anggota istana yang dikenal dengan nama Sultan Haji.


       Dengan segala jasanya umat Islam di Jawa Barat memanggil beliau dengan

nama lengkap Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati

Rahimahullah.


3. Kapan dan dari mana Islam Masuk Indonesia


       Sejarah mencatat bahwa sejak awal Masehi, pedagang-pedagang dari India

dan Cina sudah memiliki hubungan dagang dengan penduduk Indonesia. Namun

demikian, kapan tepatnya Islam hadir di Nusantara?


       Masuknya Islam ke Indonesia menimbulkan berbagai teori. Meski

terdapat beberapa pendapat mengenai kedatangan agama Islam di Indonesia,

banyak ahli sejarah cenderung percaya bahwa masuknya Islam ke Indonesia pada
abad ke-7 berdasarkan Berita Cina zaman Dinasti Tang. Berita itu mencatat

bahwa pada abad ke-7, terdapat permukiman pedagang muslim dari Arab di Desa

Baros, daerah pantai barat Sumatra Utara.


       Abad ke-13 Masehi lebih menunjuk pada perkembangan Islam bersamaan

dengan tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Pendapat ini

berdasarkan catatan perjalanan Marco Polo yang menerangkan bahwa ia pernah

singgah di Perlak pada tahun 1292 dan berjumpa dengan orang-orang yang telah

menganut agama Islam.


       Bukti yang turut memperkuat pendapat ini ialah ditemukannya nisan

makam Raja Samudra Pasai, Sultan Malik al-Saleh yang berangka tahun 1297.


       Jika diurutkan dari barat ke timur, Islam pertama kali masuk di Perlak,

bagian utara Sumatra. Hal ini menyangkut strategisnya letak Perlak, yaitu di

daerah Selat Malaka, jalur laut perdagangan internasional dari barat ke timur.

Berikutnya ialah Kerajaan Samudra Pasai.


       Di Jawa, Islam masuk melalui pesisir utara Pulau Jawa ditandai dengan

ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat pada

tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik.

Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah adalah keturunan Hibatullah, salah

satu dinasti di Persia. Di samping itu, di Gresik juga ditemukan makam Malik

Ibrahim dari Kasyan (satu tempat di Persia) yang meninggal pada tahun 822 H

atau 1419 M. Agak ke pedalaman, di Mojokerto juga ditemukan ratusan kubur
Islam kuno. Makam tertua berangka tahun 1374 M. Diperkirakan makam-makam

ini ialah makam keluarga istana Majapahit.


       Di Kalimantan, Islam masuk melalui Pontianak yang disiarkan oleh

bangsawan Arab bernama Sultan Syarif Abdurrahman pada abad ke-18. Di hulu

Sungai Pawan, di Ketapang, Kalimantan Barat ditemukan pemakaman Islam

kuno. Angka tahun yang tertua pada makam-makam tersebut adalah tahun 1340

Saka (1418 M). Jadi, Islam telah ada sebelum abad ke-15 dan diperkirakan berasal

dari Majapahit karena bentuk makam bergaya Majapahit dan berangka tahun Jawa

kuno. Di Kalimantan Timur, Islam masuk melalui Kerajaan Kutai yang dibawa

oleh dua orang penyiar agama dari Minangkabau yang bernama Tuan Haji

Bandang dan Tuan Haji Tunggangparangan. Di Kalimantan Selatan, Islam masuk

melalui Kerajaan Banjar yang disiarkan oleh Dayyan, seorang khatib (ahli

khotbah) dari Demak. Di Kalimantan Tengah, bukti kedatangan Islam ditemukan

pada masjid Ki Gede di Kotawaringin yang bertuliskan angka tahun 1434 M.


       Di Sulawesi, Islam masuk melalui raja dan masyarakat Gowa-Tallo. Hal

masuknya Islam ke Sulawesi ini tercatat pada Lontara Bilang. Menurut catatan

tersebut, raja pertama yang memeluk Islam ialah Kanjeng Matoaya, raja keempat

dari Tallo yang memeluk Islam pada tahun 1603. Adapun penyiar agama Islam di

daerah ini berasal antara lain dari Demak, Tuban, Gresik, Minangkabau, bahkan

dari Campa. Di Maluku, Islam masuk melalui bagian utara, yakni Ternate, Tidore,

Bacan, dan Jailolo. Diperkirakan Islam di daerah ini disiarkan oleh keempat ulama

dari Irak, yaitu Syekh Amin, Syekh Mansyur, Syekh Umar, dan Syekh Yakub

pada abad ke-8.