IJTIHAD

Document Sample
IJTIHAD Powered By Docstoc
					                                        IJTIHAD




PENDAHULUAN
         Ada beberapa landasan yang digunakan untuk pegangan dalam hukum
syara’ yaitu Al Qur’an, as sunnah, ijma’ dan qiyas. Apabila suatu hukum belum
terperinci atau belum jelas maka dibutuhkan mujtahid untuk menjelaskan hukum
tersebut sehingga timbullah qiyas dan ijma’ sebagai rujukan hukum syara’ setelah al
Qur’an dan as sunnah


PENGERTIAN
         Ijtihad secara etimologis diambil dari kata al Jaha / al juhd yang berarti al
masyaqot (kesulitan / kesusahan) dan at-thagat (kesanggupan / kemampuan)
         Sedangkan menurut terminologi adalah mencurahkan tenaga (memeras
pemikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’) melalui salah satu dalil syara’
         Adapun ijtihad menurut ulama’ usul ialah usaha seseorang yang ahli fiqih
yang menggunakan seluruh kemampuannya untuk menggali hukum yang besifat
amaliah (prktis) dari dalil-dalil terperinci.
         Dan menurut kebanyakan ulama’ adalah :




Ijtihad : aktifitas untuk memperoleh pengetahuan (istimbath) hukum syara’ dan dalil
terperinci dalam syari’at.
Dalam istilah inilah ijtihad lebih banyak dikenal dan digunakan bahkan fuqoha
menegaskan bahwa ijtihad bisa dilakukan di bidang fiqih. Pendapat tersebut
diperkuat dengan pendapat at-Tafzani dan ar-ruha yakni ijtihad tidak dilakukan :
                                                    (akidah)




                                            1
DASAR-DASAR IJTIHAD
Ijtihad dipandang sebagai salah satu metode menggali sumber hukum islam, yang
menjadi landasan bolehnya ijtihad dintaranya :
1. Firman Alloh SWT




   Artinya :   Sesungguhnya kami telah turunkan alkitab (al-qur’an) kepamu
               (Muhammad) membawa kebenaran, agar kamu mengadili antara
               manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan
               janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah)
               karena (membela) orang yang berkhianat.




   ”... sesungguhnya padahal itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
   berfikir”
2. Keterangan dari sunnah




KEDUDUKAN DAN FUNGSI IJTIHAD
        Faqih atau fuqaha melakukan ijtihad dalam suatu peristiwa yang terjadi
tidak ada dasar hukum atau petunjuk nash-nash Al Qur’an
        Manusia secara kodrati terdiri atas jasmani dan rohani. Rohani itu
berfungsi untuk memahami apa yang dilihat oleh manusia, apa yang dialami oleh
akal pikiran yang sekaligus berfungsi untuk memahami segala sesutu yang ada di
dalam jagad raya ini. Sekalipun tidak ada petunjuk dari agama, manusia dapat
menggunakn akalnya untuk menggunakan akalnya untuk memperoleh kebahagiaan
hidupnya.




                                         2
         Dari sifat kodrati manusia itu sendiri dalam perjuangan kehidupan untuk
kebahagiaan lahir batin dari dunia ke akhirat (yaumul masyar). Ijtihad dapat
dianggap sebagai kebutuhan pokok dari setiap insan. Sedangkan kebahagiaan lahir
batin dan ketentraman hidup yang dituntut itu adalah berdasarkan hukum syara’.
Untuk memahami ketentuan-ketentuan syara’ itu ijtihad merupakan kebutuhan
utama. Dengan insting, manusia dapat menghindari bahaya yang dapat
mengancamnya. Dengan instingnya manusia berusaha untuk hidup lebih baik
daripada yang diperolehnya sekarang. Dengan panca inderanya manusia
memperoleh petunjuk sehingga terhindar dari kerugian-kerugian dan mendapat
keuntungan.
         Namun demikian, bain insting maupun panca indra mempunyai
keterbatasan. Apabila manusia sakit, insting dan panca indera tidak dapat berfungsi
dengan baik, misalnya makan yang enak itu menjadi pahit.


MACAM-MACAM IJTIHAD
Secara garis besarnya ijtihad dibatasi atas dua bagian, yaitu ijtihad fardi dan ijtihad
jama’i
a. Ijtihad fardi ialah setiap ijtihad yang dilakukan oleh perseorangan atau beberapa
   orang yang tidak ada keterangan bahwa mujtahid lain menyetujuinya dalam
   suatu perkara. Ijtihad semacam inilah pernah dibenarkan oleh rosul kepada
   Maudz ketika Rosul mengutusnya untuk menjdi qath’i di yaman sesuai dengan
   pula ijtihad yang pernah dilakukan Umar bin Khathab kepada Abu Musa Al-
   Asyari dan Syuraikh Umar dengan tegas mengatakan kepada Syuraih :




   Artinya :
   ”Apa-apa yang belum jelas bagmu didalam as sunah mka berijtihadlah padanya
   dengan menggunakan daya pikiranmu”




                                          3
   Umar berkata kepada Abu Musa al Asy’ari :




   Artinya :
   “kenalilah penrupaan-penyerupaan dan tamsilan-tamsilan dan qiyaskanlah
   segala urusan sesudah itu”
b. Ijtihad jama’i ilaha suatu ijtihad dalam suatu perkara yang disepakati oleh
   semua mujtahidin. Ijtihad semacam ini yang dimaksud oleh hadits Ali ketika
   menanyakan kepada Rosul tentang urusan yang tidak ditemukn hukumnya
   dalam al Qur’an dan su-sunah ketika itu Nabi SAW bersabda :




   Artinya :
   ”Kumpulkanlah untuk menghadapi masalah itu orang-orang yang berilmu dari
   orang-orang mukmin dan jadikanlah hal ini masalah yang dimusyawarohkan
   diantara kamu dan janganlah kamu memutuskan hal itu dengan pendapat orang
   seseorang” (HR Ibnu Abdul Barr)
   Contoh dari ijtihad Jama’i ialah kesepakatan sahabat mendukung dan
   mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah dan kesepakatan mereka terhadap
   tindakan Abu Bakar yang menunjuk Umar sebagai penggantinya. Juga
   kesepakatan mereka menerima anjuran Umar penulisan supaya Al Qur’an di
   dalam mushaf. Padahal keputusan itu belum pernah dilakukan dimasa Rosul.
Syarat-syarat menjadi mujtahid
a. Menguasai dan mengetahui ayat-ayat al Qur’an (ayat-ayat hukum terdapat dalam al
   Qur an) akan tetapi tidak disyariatkan harus menghafalkannya melainkan tahu
   letaknya sehingga mudah apabila dia membutuhkan. Imam Ghozali, Ibnu Arobi, Ar
   Rozi dia membatasi ayat-ayat hukum sebanyak 500 ayat.



                                        4
b. Menguasai dan mengetahui hadits-hadits tentang hukum, akan tetapi tidak
   disyariatkan hafal cukup mengetahui letak-letaknya
c. Mengetahui nasakh-mansukh dari al Qur’an dan asu sunah
d. Mengetahui masalah yang sudah ditetapkan dengan jama’ sehingga tidak
   bertentangan dengannya
e. Mengetahui qiyas dan persyaratannya, serta mengistinbatkannya
f. Mengetahui bahasa arab dan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan bahasa,
   karena al Qur’an dan as sunah ditulis dengan menggunakan bahasa arab, namun
   tidak disyariatkan menguasai, sekurang-kurangnya mengetahui maksud dari ayat-
   ayat al Qur’an dan al Hadits (dapat menafsirkan al Qur’an dan al Hadits)
g. Mengetahui usul fiqih yang merupakan pondasi ijtihad
h. Mengetahui maksud syariat                               karena berkaitan dengan
   hujah
i. Mengetahui ilmu riwayat dan dapat membedakan hadits hasan, dloif, maqbul
   dan mardud.


TINGKATAN MUJTAHID
Ulama ahli usul fiqih membagi ahli fiqih kepada tujuh tingkatan, empat tingkatan
pertama tergolong mujtahid. Tiga tingkatan berikutnya masuk ke dalam katagori
muqallid (orang yang berijtihad kepada iman) belum mencapai mujtahid.
Mujtahid dalam hukum islam (syara’)
a. Mujtahid mustaqil
   Mujtahid mustaqil (independen, mandiri) untuk mencapai tingkat, harus
   dipenuhi seluruh persyaratan ijtihad, ulamaa’ pada tingkat inilah yng
   merumuskan metodologi ijtihad \nya sendiri dan menerapkannya pada masalah-
   masalah furu’. Pendapatnya kemudian disebarluaskan ke tengah masyarakat
   termasuk dalam mujathid ini adalah seluruh fuqpha sahabat, fuqoha tabi’in.




                                          5
b. Mujtahid muntasib
   Mereka adalah mujtahid-mujtahid yang mengambil/memilih pendapat-pendapat
   imannya dalam usul dan berbeda pendapat dari imannya dalam furu’. Meskipun
   secara umum ijtihadnya menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang hampir
   sama dengan hasil ijtihad yang diperoleh imamnya. Karena diantara keduanya
   ada hubungan persahabatan yang sangat kental.
c. Mujtahid mazhab
   Mereka mengikuti imamnya baik dalam usul maupun furu’ yang telah terjadi.
   Fungsi dan peranan mujtahid mazhab pada hakekatny meliputi :
    Secara murni mengambil kaedah-kaedah yang telah dipakai para imam
      pendahulunya, serta semua kaedah fiqhiyah yang bersifat umum yang
      terumuskan dari ilat-ilat qiyas yang telah digali oleh imam-imam besar.
    Menggali hukum-hukum yang belum ada ketetapannya berdasarkan kaedah-
      kaedah tersebut.
d. Mujtahid murajjih
   Mereka melakukan istinbath terhadap hukum-hukum furu’ yang belu sempat
   ditetapkan oleh ulama’ terdhulu dn belum diketahui hukumnya.
e. Mujtahid muazin
   Adalah mujtahid yang membandingkan antara beberapa riwayat dan pendapat,
   yang mereka lakukan. Misal : menetapkan bahwa qiyas yang dipakai dalam
   pendapat ini lebih mengena dibanding penggunaan qiyas pada pendapat yang
   lain atau pendapat yang ini lebih shohih riwayatnya daripada yang lain.
   Sebenarnya perbedaan antara tingkatan ini dengan tingkatan di atasnya tidak
   begitu jelas betul, agar pembayaran mujtahid dapat dibedakan dengan jelas
   maka perlu adanya pembuangan, yakni tingkatan ketiga, keempat dan kelima.
   Lalu digabungkan menjadi dua tingkatan sebagai berikut :
   Pertama, tingkatan mukharrij, yaitu mujtahid yang menelorkan ketetapanhukum
   terhadap masalah-masalah yang belum mendapat perhatian pembahasan




                                        6
   daripada perintis mazhab dengan mendasarkan kepada kaedah-kaedah dari
   mazhab tersebut.
   Kedua, tingkat murajjid, yaitu mujtahid yang bertindak mentarjih diantara
   beberapa riwayat dan pendapat yang berbeda-beda
f. Tingkatan munafizh
   Tingkatan ini tergolong tigkatan muqallid, hanya saja mereka mempunyai hujjah
   dengan mengetahui hasil tarjih ulama’ terlebih dahulu.
g. Muqallid
   Tingkatan ini berada di bawah semua tingkatan yang telah diuraikan di atas.
   Mereka adalah ulama’ yang mampu melakukan tarjih terhadap beberapa
   pendapat atau riwayat. Tingkat keilmuannya belum cukup mendukung untuk
   bisa mentarjih pendapat mujtahid murajjih dan menentukan tingkat tarjih.


HUKUM IJTIHAD
1. Fardhu ’Ain
   a. Apabila adat masalah menimpa dirinya dan harus mengamalkannya dan
       tidak boleh taqlid karena hukum ijtihad sama dengan hukum Allah SWT
       terhadap masalah yang ia yakini
   b. Dinyatakan suatu masalah belum ada hukumnya jika tidak segera di jawab
       khawatir terjadi kesalahan/habis waktunya
2. Fardlu kifayah : permasalahan diajukan tidak dikhawatirkan habis waktunya
   atau ada orang lain memenuhi syarat sebagai mujtahid
3. Sunnah : masalah baru baik ditanya ataupun tidak
4. Haram : berijtihad terhadap masalah yang sudah ditetapkan secara ()
   sehingga hasilnya bertentangan dengan dalil syara’




                                         7
OBYEK IJTIHAD
        Menurut al Ghozali, obyek ijtihad adalah setiap hukum syara’ yang tidak
mempunyai dalil qoth’i bukan hukum akal dan kalam.
Syariat Islam dalam kaitannya dengan ijtihad dibagi menjadi 2 :
a. Syari’at yang tidak boleh dijadikan lapangan ijtihad yang hukum-hukum yang
   telah dimaklumi sebagai landasan pokok Islam yang berdasarkan dalil qath’i
   Seperti sholat dan zakat




   ”Dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat”
   Puasa




   ”Wahai orang-orang yang birman diwajibkan atas kamu puasa ...”
b. Syariat yang bisa dijadikan lapangan ijtihad yaitu hukum yang didasarkan pada
   dalil-dalil yang bersifat dzanny serta hukum yang belum ada nashnya dan ijma’
   Misalnya : jika ada nash tetap masih dzanny seperti hadits ahad maka yang
   menjadi lapangan adalah meneliti sanadnya, derajat rowinya dan lain-lain.


PENUTUP
        Jadi, berijtihad berarti menyelidki dalil-dalil hukum dari sumbernya yang
resmi, yaitu al Qur’an dan hadits Rosulullah SAW, kemudian menarik garis hukum
darinya dalam masalah tertentu atau beberapa masalah. Misalnya, berijtihad dari al
Qur’an dan hadits mengalirkan garus kewarisan, hukum perkawina, atau keduanya.
Orang yang melakukan ijtihad dinamakan mujtahid. Jamannya adlah mujtahidin.
Hasil ijtihadnaya adalah qiyas, istihsan, atau ijma’ atau garis hukum baru tentang
suatu masalah.




                                        8
                                   MAROJI




1. Drs. H. Burhanuddin, M.Ag. Fiqih Ibadah, Pustaka
2. Syeh Islam Abi Yahya Zakariya Alfinshori Asyyafii, Ghoyatul Wusul Syarhil
   Usul, Haromen
3. Drs. Moh. Rivai, Usul Fiqih, Penerbit PT. Ma’arif Bandung
4. Prof. Muhammad Abu Zahrah, Usul Fiqih, Pustaka Firdaus
5. Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, MA. Ilmu Usul Fiqih, Pustaka Setia




                                       9
               MAKALAH

              IJTIHAD
     Makalah ini diajukan guna memenuhi
        tugas mata kuliah Usul Fiqih

           DOSEN PENGAMPU :

       SAIFUL HIDAYAT, Lc., M.Hi




                   Oleh :

               AFIFAH
               AZAM KHOIRIYAH
               WIDYANTI


                PRODI PBA
               SEMESTER I


SEKOLAH TINGGI ISLAM BANI FATTAH
     TAMBAKBERAS JOMBANG
      TAHUN AKADEMIK 2008


                    10

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: ijtihad
Stats:
views:1626
posted:2/5/2011
language:Indonesian
pages:10
Zainul Ismanto Zainul Ismanto
About good guy...