Docstoc

PEMBENTUKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI MELALUI METODE PEMBIASAAN

Document Sample
PEMBENTUKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI MELALUI METODE PEMBIASAAN Powered By Docstoc
					A. Latar Belakang

         Usia 2-6 tahun merupakan masa peka bagi anak-anak. Anak mulai

   sensitif untuk menerima berbagai perkembangan seluruh potensi anak. Masa

   peka adalah masa terjadinya pematang fungsi-fungsi dan psikis yang siap

   merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan, karena faktor lingkungan

   sangat mempengaruhi perkembangan anak. Masa ini merupakan masa untuk

   meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik, kognitif,

   bahasa, sosial emosional, konsep diri, disiplin, kemandirian, seni, moral, dan

   nilai-nilai agama. Oleh sebab itu dibutuhkan kondisi dan stimulasi yang sesuai

   dengan kebutuhan anak agar perkembangan anak sesuai secara optimal. Oleh

   sebab itu pembiasaan kemandirian dalam penanaman agama sangatlah, karena

   di usia emas (golden age) anak mudah sekali dipengaruhi. Untuk bagaimana

   cara kita menanamkannya, karena pembiasaan yang baik dan dilakukan terus-

   menerus dalam kehidupan anak sehari-hari insyaallah kelah anak-anak akan

   tumbuh seperti yang kita harapkan, sehat, cerdas, berbudi pekerti dan berakhlak

   terpuji, serta mempunyai kemampuan dasar yang kelak bermanfaat bagi dirinya

   sendiri.



B. Rumusan Masalah

         Peran pendidik (orang tua, guru, dan orang dewasa lain) sangat

   diperlukan dalam upaya pengembangan tersebut harus dilakukan melalui

   kegiatan yang menyenangkan, bermain sambil belajar, belajar sambil bermain.

         Dengan metode pembiasaan, pendidik harus dapat menanamkan dasar

   pertama bagi anak di usia dini dengan nilai-nilai agama kemandirian untuk



                                        1
disiplin sehingga dapat memberi manfaat dan tujuan yang luar biasa untuk

bekal anak samapai dewasa, maka dari itu bagaimanakah pembiasaan

dilakukan? Yaitu dengan melakukan kegiatan positif, yang diberikan secara

terus-menerus setiap hari, agar pembiasaan yang baik dapat melekat pada diri

anak sampai kelak merasa dewasa.




                                   2
                                    PEMBAHASAN



A. Pengertian Metode Pembiasaan

            Pembiasaan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus dan ada dalam

      kehidupan sehari-hari anak sehingga menjadi kebiasaan yang baik. Bidang

      pengembangan pembiasaan meliputi pengembangan moral dan nilai-nilai

      agama serta pengembangan sosial, emosional, dan kemandirian 1.

      a. Pentingnya Penanaman Nilai Agama Kepada Anak

                Anak adalah keturunan pertama (sesudah ibu, bapak). Anak adalah

          manusia yang paling kecil yang belum dewasa dan memiliki berbagai

          potensi laten untuk berkembang. Potensi laten itu diantaranya potensi

          jasmani yang berkaitan dengan intelektual maupun spiritual termasuk di

          dalamnya potensi untuk menempuh kehidupan beragama.

                Pada mulanya seorang bayi atau anak-anak belum mengenal agama.

          Agama merupakan suatu yang asing bagi mereka. Malahan anak-anak

          belum mempermasalahkan tentang agama, pemikiran anak-anak masih

          sangat sederhana, demikian juga dengan perasaannya. Mereka lebih tertarik

          terhadap hal-hal yang dapat merangsang panca indranya dari pada hal-hal

          yang abstrak di luar jangkauan panca indranya 2.

                Oleh karena itu, orang tua berkewajiban untuk mengembangkan

          kemampuan potensial (laten) anak, yang berupa pendengaran, penglihatan,




1
    Departemen Pendidikan Nasional : Kurikulum Taman Kanak-Kanak, (Jakarta, 2004) hal. 6
2
    Yahya Kurnia, Metode Pengembangan Agama Jawa Timur, 2000 : Departemen Pendidikan dan
    Kebudayaan. Hal. 20.



                                            3
            dan hati nurani anak-anak untuk mengetahui dan mengerti tugas dan

            kewajiban, yaitu dengan menenmkan nilai-nilai agama Islam.

                     Behubungan dengan kondisi anak-anak dan peranan yang ditampilakn

            orang tua, Rosulullah SAW bersabda :




            Artinya :
                        Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci, bersih) maka
                        orang tualah yang akan menjadikannya yahudi, nashrani, maupun
                        majusi (H.R. Bukhari dan Muslim)

                     Hadits di atas dapat memberikan kesimpulan bahwa :

            –   Anak dikeluarkan oleh Allah SWT dari kandungan (perut) ibunya.

            –   Anak yang baru lahir belum memiliki pengetahuan apa-apa, bahkan dia

                masih suci bersih.

            –   (Untuk menyerap ilmu pengetahuan dan menjalankan tugas dan

                kewajibannya) anak diberkahi oleh Allah SWT pendengarannya,

                penglihatannya, dan hati sebagai alat untuk menyerap ilmu pengetahuan,

                kemudian bersyukur kepada Allah SWT.

            –   Pendidikan orang tua di rumah atau dalam keluarga sangat menentukan

                agama atau pandangan hidup anak 3.

            Mengapa anak yang baru dilahirkan (masih dalam buaian ibunya) dan tidak

            berdaya dituntut mencari ilmu?

                     Perintah menuntut ilmu kepada anak-anak, sebenarnya ditunjukkan

            kepada orang tua. Orang tua wajib mendidik anak-anaknya agar mereka

            kelak menjadi anak yang sholeh dalam menjalankan perintah agama yaitu

3
    Ibid, hal : 16



                                               4
anak mengabdi kepada Allah SWT, mentaati Rosul-Nya, berbakti kepada

orang tua, hormat dan menghargai guru, berguna bagi agama dan

masyarakat, serta menjadi rahmat bagi alam.

Bagaimana anak mengenal Tuhan dan kapan perasaan ketuhanan tumbuh

pada diri anak-anak?

      Tuhan bagi anak-anak adalah suatu yang asing. Pada mulanya anak-

anak tidak pernah mengenal tuhan, mereka sama sekali tidak pernah

berpikir tentang tuhan.

      Anak-anak pada umumnya belum memiliki kemampuan untuk

memfungsikan pikiran dan hati nurani untuk mengenal tuhan karena :

–   Tuhan bagi anak merupakan suatu yang asing.

–   Tuhan tidak berada pada dunia konkrit, melainkan pada dunia yang

    abstrak.

–   Anak-anak masih menggunakan cara berpikir konkrit atau belum

    mampu berpikir abstrak.

–   Pengetahuan dan perhatian anak-anak hanya terbatas, pada hal-hal yang

    dapat ditangkap dengan panca indranya.

      Menurut Darajat (1991 : 35), ”Anak-anak mengenal tuhan melalui

bahasa”, meskipun anak-anak belum bisa berbicara. Tetapi ia sudah

memiliki kemampuan mendengar dan melihat. Anak-anak mengenal tuhan

melalui orang tuanya dan kemudian melalui lingkungannya.




                                5
                     Ada beberpa cara yang bisa digunakan untuk mengenalkan tuhan

            kepada anak, antara lain4 :

            1. Melalui kegiatan bermain, seperti bernyanyi deklamasi, membaca puisi

                dan permainan lain yang di dalamnya memuat isi pesan adanya tuhan.

            2. Melalui kegiatan karya wisata atau tadabur alam untuk mengenal

                keindahan alam ciptaan tuhan. Guru (orang tua), hendaknya mampu

                menyajikan dan menjadikan karya wisata disamping sebagai hiburan

                dan sarana bermain, juga menyimpan pesan dan juga jiwa ketuhanan

                melalui penjelas atau tanya jawab dengan anak-anak bahwa alam ini

                ciptaan tuhan. Dia sendiri memelihara dan mengaturnya, bahwa tuhan

                maha pengasih dan maha penyayang, diberinya kita makan dari jenis

                buah-buahan, sayur-sayuran dan sebagainya.

            3. Melalui cerita, dengan memperkenalkan sifat-sifat tuhan yang maha

                pengasih    serta   penyayang,          dan   sifat-sifat   baik   lainnya,   atau

                menceritakan tentang kebaikan dan pertolongan tuhan kepada orang-

                orang yang sholeh ketika mendapat kesulitan, atau cerita lainnya yang

                memuat isi pesan ketuhanan.

            4. Melalui tauladan, dimana guru kerap berdzikir menyebut nama-Nya

                dalam     kesempatan,     seperti       selalu membaca       basmalah    sebelum

                melakukan berbagai kegiatan, dan mengucapkan hamdalah sesudahnya,

                serta mengucapkan kalimat tauhid lainnya.

            5. Melalui pembiasaan yang diterapkan anak pada setiap kegiatan dengan

                berdoa atau berdzikir sebelum dan sesudah melakukan barbagai

4
    Ibid, hal : 32



                                                    6
               kegiatan. Seperti sebelum dan sesudah makan, minum, belajar, bermain,

               bekerja, berpakaian, dan lain-lain.

           6. Melalui anjuran untuk bersyukur dan berterimakasih kepada Allah SWT

               setiap menerima kegembiraan, bersabar dan berdoa kepada-Nya ketika

               menerima kegagalan dan cobaan.

           7. Melalui permaina peran sebagai tokoh yang baik, bijak sholeh dan selalu

               berdoa kepada Allah SWT, dan selalu mendapatkan pertolongan-Nya5.



      b. Kemandirian Anak

                  Apa yang dipercaya anak mengenai diri merka sendiri merupakan inti

           akan menjadi apa mereka. Seorang anak yng kepercayaan dirinya positif

           menghargai orang-orang yang dia lihat, ketika dia berkata pada dirinya

           sendiri, dia menganggap dirinya sebagai orang yang bernilai, dan karena dia

           merasa benar mengenai dirinya sendir, dia berperilaku dengan cara

           bermanfaat6.

                  Percaya diri merupakan faktor dasar selain selain optimisme dari

           struktur kepribadian. Kepercayaan diri anak sangat mempengaruhi sikap

           hati-hati, ketergantungan, ketidakserakahan, toleransi dan cita-cita.

                  Ada 6 cara untuk meningkatkan rasa percaya diri pada anak :

           1. Lebih sering meningkatkan rasa percaya diri anak dari pada

               menghancurkannya.

           2. Pantulkan pesan-pesan positif



5
    Ibid, hal : 32.
6
    C.H. Widayanti, Desember 2007, Hindari Strok Sejak Dini, Dokter Kita VII. Hal. 23



                                                 7
           3. Bermain dengan anak

           4. Hormati pilihan anak

           5. Hilangkan hal-hal yang akan menjatuhkan mental anak-anak

           6. Bantu anak-anak menemukan kekhasan mereka7



      c. Disiplin

                   Disiplin merupakan salah satu faktor penentu bagi seseorang untuk

           berhasil memenuhi tugas dan kewajiban dengan baik. Seseorang yang

           memiliki kepandaian, keterampilan bergaul, tetapi tidak memiliki disiplin

           dapat mengakibatkan tugas dan kewajibannya tidak selesai tepat waktu.

                   Sikap disiplin tidak secara otomatis dibawa sejak lahir. Disiplin

           (sikap moral) dibentuk oleh lingkungannya melalui pola asuh orang tua,

           guru dan orang-orang dewasa disekitar diri individu.

                   Melalui penanaman disiplin sejak dini, diharapkan anak dapat

           berperilaku cara-cara yang sesuai dengan standar kelompok, sosial dan

           kelompok budaya dimana anak itu berada.

                   Lingkungan merupakan salah satu pendorong untuk membentuk sikap

           disiplin seseorang.

                   Ada dua macam dorongan yang menyebabkan timbulnya rasa disiplin,

           yaitu :

           1. Dorongan dari dalam diri (internal) dorongan ini disebabkan oleh :

                    Pengetahuan




7
    William Sears, Anak Cerdas, (Jakarta : Emerald Publishing, 2004) hal. 483.



                                                  8
               Mengetahui tentang disiplin, manfaat disiplin, mengapa dan

               bagaimana melakukan disiplin.

              Kesadaran

               Timbulnya kesadaran untuk berlaku disiplin

              Kemauan untuk disiplin

       2. Dorongan dari luar diri (external)

           –   Perintah

           –   Larangan

           –   Pengawasan

           –   Pujian atau penghargaan

           –   Ancaman atau hukuman8



B. Tujuan Metode Pembiasaan

          Tujuan metode pembiasaan adalah membantu anak didik untuk

    mengembangkan         moral   dan   nilai-nilai   agama    dan   diharapkan     dapat

    meningkatkan ketakwaan anak terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan membina

    sikap anak dalam rangka meletakkan dasar agar anak menjadi warga Negara

    yang baik. Pembentukan kemandirian dimaksudkan untuk membina anak agar

    dapat mengendalikan emosinya secara wajar dan dapat berinteraksi dengan baik

    pada sesamanya maupun dengan orang dewasa, serta dapat menolong dirinya

    sendiri dalam rangka kecakapan hidupnya 9



8
  Hasan Mansur A. Karim, Pengembangan Nilai-Nilai Disiplin, Jawa Timur. 2000. Departemen
  Pendidikan dan Kebudayaan. Hal. 53
9
  Patmodewo Semantri (1993), Buku Ajaran Pendidikan Pra Sekolah, Departemen Pendidikan dan
  Kebudayaan. Hal : 36.



                                            9
                                 KESIMPULAN



     Pada uraian yang ada dalam karya ilmiah ini, maka bisa diambil beberapa

kesimpulan :

– Melalui metode pembiasaan akan membantu anak untuk mengembangkan nilai-

   nilai moral dan keagamaan dan diharapkan dapat meningkatkan ketakwaan

   anak terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

– Anak akan terbiasa mengikuti aturan-aturan yang ada, dan dapat membedakan

   mana yang baik dan mana yang benar atau yang salah. Sehingga anak akan

   senantiasa berperilaku terpuji.




                                     10
                                DAFTAR PUSTAKA



Departemen Pendidikan Nasional. Kurikulum Nasional : Kurikulum Taman Kanak-

     Kanak. (Jakarta : 2004).

Kurnia Yahya, Metode Pengembangan Agama. Jawa Timur : 2000. Departemen

     Pendidikan dan Kebudayaan.

Mansur A. Karim, Hasan, Pengembangan Nilai-Nilai Disiplin. Jawa Timur. 2000.

     Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Soemantri Patmodewo (1993), Buku Ajar Pendidikan Pra Sekolah. Departemen

     Pendidikan dan Kebudayaan.

Sears, William. Anak Cerdas. (Jakarta : Emerald Publishing, 2004).

Widayanti, C.H. Desember, 2007. Hindari Strok Sejak Dini. Dokter Kita Edisi VII.




                                       11

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:6861
posted:2/5/2011
language:Indonesian
pages:12