; Hakikat Kehidupan Yang Mulia
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Hakikat Kehidupan Yang Mulia

VIEWS: 93 PAGES: 6

  • pg 1
									                            Hakikat Kehidupan Yang Mulia
                                 Senin, 17 Desember 2007

                      Limpahan puji kehadirat Allah yang telah menjadikan hujan sebagai lambang
                      keindahan Illahi juga sebagai cobaan dan pengangkatan derajat bagi sebagian
                      muslimin dan juga sebagai penghapusan dosa bagi sebagian muslimin dan juga
                      sebagai Rahmat dan kemudahan bagi sebagaian muslimin lainnya. Maha Suci Allah
                      SWT yang cahaya kelembutanNya terus memanggil para pendosa, cahaya
                      kelembutan Illahi terus mengundang ruh dan jiwa mereka untuk meninggalkan dosa,
                      untuk kembali kepada Allah “fafirruu ilallah..” Dari salah satu firman Allah memanggil
hamba–hambaNya untuk lari dari dosa–dosa, lari dari seluruh permasalahan kepada Allah “fafirruu ilallah..”
Wahai hamba–hambaKu tempat melarikan diri adalah kepadaKu, dari apapun keluhan–keluhan hamba-
hambaNya hanya Dialah yang Maha Mampu memaksakan kehendaknya untuk mengatur dan merubah
keadaan. Jalla wa'alla (Dia Maha Dahsyat dan Maha Luhur) yang menjadikan setiap saat merupakan
Rahmat bagi umat dan sebagian lagi menjadi penghapusan dosa dan cobaan.

Maha Suci Allah yang undangannya memanggil nafas nafas para pendosa untuk bertaubat, mengundang
mereka untuk kembali kepada Rahmat ilahi, sehingga tiadalah seseorang dari hamba ini wafat terkecuali
menyesali ternyata betapa indah dan lemah lembutnya Allah, ternyata betapa baiknya Allah, ternyata
betapa indahnya kasih sayang Allah, merugilah mereka yang telah meninggalkan Allah, didalam hidupnya,
didalam hari harinya ia meninggalkan hal hal yang dicintai Allah, sebagaimana Allah SWT memanggil
hamba hambaNya kelak di Yaumil Qiyamah “yaa ayyuhal insan.., Maa gharraka birabbikal kariim…….?”
Wahai manusia apa yang telah membuatmu meninggalkanKu Tuhanmu yang Maha Pemurah? yang telah
menciptakanmu dan menjadikanmu ada dari ketiadaan.,

Bukankah kita wajib berbakti kepada ayah dan ibu sedangkan Allah lebih dari pada jasa ayah dan bunda
kita “maa gharraka birabbikal kariim……….” apa yang membuat engkau meninggalkan Tuhanmu yang
Maha Pemurah yang menawarkan pengampunanNya atas setiap dosa, yang menginginkanmu selalu dekat
kepada kasih sayangNya sehingga mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, ketika orang orang
menyesal di Yaumil Qiyamah akan tetapi sebagian hamba hamba Allah yang dimasa hidupnya selalu ingin
bersama Allah mereka berada dalam kebahagiaan yang kekal, mereka di dalam istana istana termegah
yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, sebagaimana hadits Qudsyi Allah berfirman
didalam hadits Qudsiy diriwayatkan dalam Shahih Bukhari “a’dadatu li’ibaadiy……….” telah Aku siapkan
bagi hamba hamba Ku yang Shalih, ini yang berbicara adalah yang Maha Menciptakan jagat raya dengan
segala kemegahannya, Kuciptakan dan Kusiapkan bagi hamba–hambaKu yang saleh apa–apa yang belum
pernah terlihat mata, belum pernah didengar telinga, belum pernah terlintas dalam lintasan pemikiran
mereka.

Ucapan dari hadits Qudsiy firman Allah ini bagi mereka yang berfikir dan mendalami dan merenunginya
merupakan undangan Allah kepada setiap jiwa kita, telah kusiapkan hidangan–hidangan dan istana agung
untukmu wahai hambaKu, sayanglah dan merugilah jika engkau menolak tawaranKu dan inilah mahluk yang
paling merugi ketika ia menolak tawaran Rabbul 'alamin untuk hidup bersamanya dalam kebahagiaan yang
kekal.

Hadirin-Hadirat yang dimuliakan Allah, sungguh Allah SWT lah yang tiada henti–hentinya Maha bersabar
kepada mereka yang berbuat salah dari hambaNya dan betapa indahnya umat Nabi Muhammad saw yang
mendapat undangan untuk selalu menghadap dalam setiap lima kali dalam setiap harinya, adakah lagi
hamba yang lebih suci dan bercahaya dari umat Sayyidina Muhammad, mereka lima kali setiap hari
dipanggil Allah, bukankah mereka benar–benar dimanjakan oleh Allah, adakah seorang raja memanggil
seorang rakyatnya lima kali sehari terkecuali ia seorang yang sangat dicintai. Demikian keadaanku dan
kalian yang selalu mendapat undangan agung lima kali setiap hari. Betapa suci dan terang benderangnya
umat Nabi Muhammad saw dan betapa rugi dan gelapnya mereka yang menolak dengan Allah, ketika ia
dipanggil oleh Allah ia menolak, ketika ia dipanggil oleh Allah untuk menghadap ia pun mungkar dan
berpaling, adakah yang lebih rugi dari orang yang menolak undangan seorang raja, kalau ini rugi maka
bagaimana dengan undangan Maha Raja langit dan bumi.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah sambutlah undangan Rabbul 'allamin, dengan semangat gembira
kehadirat Allah atas anugrahNya, jadikan siang dan malam kita selalu didalam cahaya Rabbani didalam
cahaya kehidupan yang kekal dan inilah hakikat kehidupan yang mulia.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah sampailah kita dimalam yang diberkahi Allah ini dan esok hari
saudara saudari kita dimedan haji mereka akan sampai di padang Arafah, hari yang sangat agung dari
sepanjang tahun, bahkan berkata sebagian Muhadditsin “hari Arafah adalah hari yang paling mulia
sepanjang tahun. Allah SWT menjanjikan kepada mereka yang berpuasa dihari Arafah pengampunan dosa
setahun yang lalu dan setahun yang akan datang”. Allah swt menjanjikan bagi orang yang berpuasa di hari
Arafah pahala puasa setahun penuh, setahun penuh berarti termasuk Ramadhan berarti berlipat ganda
dengan puasa Ramadhan Allah kumpulkan seluruh kemuliaan bulan lainnya berpadu dalam satu hari mulai
terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari tanggal 9 Dzulhijjah.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah telah sampai riwayat didalam Alqur’anulkarim pada kita ketika Allah
memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya “Ketika sudah sampai usia putranya
itu mulai tumbuh, berkata Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy usia putra Nabi Ibrahim 7 tahun,
pendapat lain 12 tahun. Ada 2 pendapat, pendapat yang pertama mengatakan putra Nabi Ibrahim as yang
disembelih adalah Nabi Ishaq as putra Nabi Ibrahim as, tetapi pendapat yang kedua mengatakan yang
diperintah untuk disembelih adalah Nabi Ismail as putra Nabi Ibrahim as. Kedua pendapat ini sama-sama
kuatnya, pendapat yang pertama didukung oleh Al Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya
Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari, pendapat yang kedua itupun didalam tafsir Imam Ibn Abbas dan
ulama lainnya. Pendapat ulama berikhtilaf tentang putra Nabi Ibrahim as yang disembelih akan tetapi
menjadi pendapat jumhur bahwa mereka putra Nabi Ibrahim as yang diperintah untuk disembelih. “Wahai
putraku aku bermimpi melihat menyembelihmu maka bagaimana pendapatmu?, putranya masih 7 tahun.
Mimpi dari para Nabi adalah wahyu dan perintah Allah, berbeda dengan mimpi kita bukan wahyu dan bukan
perintah Allah. Mimpi para Nabi adalah wahyu dan perintah Allah, bila ia bermimpi menyembelih putranya
maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih putranya. Akan tetapi Nabi Ibrahim as bertanya pada
putranya, kenapa harus bertanya kalau sudah perintah Allah? Demi mencoba iman putranya karena
seorang Nabi sudah cerdas dari kecilnya. Kalau dia memang betul Nabi apalagi Rasul sudah cerdas
menerima perintah Allah sejak kecil.

Maka berkata putranya ini “wahai ayahku perbuat apa yang diperintah Allah kau akan temukan aku sebagai
orang yang bersabar. Maka Nabi Ibrahim as membawa putranya keatas bukit dan disaat itu syaitan
menghalangi perbuatan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ibrahim tidak mau menurut dengan godaan syaitan yang
menghalanginya seraya mengambil 7 buah batu dan melempari syitan dan kejadian itupun hingga saat ini
diabadikan dengan cara jumrah.

Allah swt menjadikan ummat ini mendapatkan kemuliaan-kemuliaan dari ummat yang terdahulu, perbuatan
Nabi Ibrahim yang melihat syaitan yang menghalanginya menjalankan perintah Allah dilempari oleh Nabi
Ibrahim as. Kita ummat Nabi Muhammad saw tidak mampu melihat syaitan tidak pula mampu untuk
melempari syaitan, akan tetapi Allah menjadikan mereka yang berangkat haji melempar batu jumrah yaitu di
Mina untuk apa? Untuk mendapatkan keberkahan dari perbuatan Nabi Ibrahim as.

Maha Suci Allah yang telah memperindah ummat ini dengan mengikat perbuatan mulia dari para Nabi dan
Rasul diikat kepada ummat Nabi Muhammad saw. Nabi Ibrahim membawa putranya kebukit dan syaitan
yang gagal menghalangi Nabi Ibrahim as datang kepada istrinya Sayyidatuna Sarah ra. Nabi Ibrahim
mempunyai 2 istri Sayyidatuna Sarah ra dan Sayyidatuna Hajar ra, Sayyidatuna Hajar ra adalah ibunda
Nabi Ismail as dan Sayyidatuna Sarah ra ibunda Nabi Ishaq as. Datang kepada Sayyidatuna Hajar ra “itu
suamimu, anakmu dibawa keatas bukit mau disembelih” kata syaitan “sengaja katanya ia bermimpi
menyembelih anaknya, itu dibawa anakmu mau disembelih diatas bukit”. Kaget Sayyidatuna Sarah ra dan
berkata “apakah betul suamiku membawa membawa putraku untuk disembelih?”, maka berkatalah syaitan
“buktikan saja, memang begitu”.

Kita lihat iman seorang wanita shalihah, maka berkatalah istrinya “aku takut suamiku ragu-ragu menerima
perintahnya Allah..!”, malah ingin diyakinkan oleh Sayyidatuna Sarah ra kalau seandainya Nabi Ibrahim as
ada didepannya akan ia bilang “jangan ragu-ragu kalau sudah perintah Allah. Demikian hebatnya iman
Sayyidatuna Sarah ra. Maka putranya dibawa keatas bukit dan seraya berkata “wahai ayahku tajamkan
pisaumu”. Demikian diriwayatkan didalam Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari “tajamkan pisaumu wahai
ayah dan jadikanlah pakaianku ini sebagai kafanku karena kita tidak mempunyai kain kafan, kalau nanti
kena darah yang mengalir dari tubuhku tidak bisa dijadikan kafan maka jadikan saja pakaian ini kafan maka
pakaiannya pun dibuka. Bocah kecil ini pun berkata “wahai ayah ikatlah akau agar aku tidak berontak
sehingga kau ragu-ragu menyembelihku nanti” sehingga kepalanya ditaruhkan diatas batu dan Nabi Ibrahim
mengangkat pedangnya dan malaikat Jibril membalikkan tangannya pada seekor kambing.

Siapa yang mampu berbuat seperti ini dari kita?, berat mendapat perintah Allah menyembelih anaknya.
Akan tetapi Allah mengikat perbuatan ini dengan ummat Nabi Muhammad saw sehingga seluruh ummat
Nabi Muhammad saw disunnahkan menyembelih qurban sehingga mendapatkan pahala kemuliaan Nabi
Ibrahim as. Demikian Allah mengikat ummat ini dengan banyaknya hal-hal yang mulia dimasa yang
terdahulu. Demikian indahnya Sayyidatuna Sarah ra dan Sayyidatuna Hajar wanita-wanita shalihah.

Sampailah kita dimalam hari ini kepada salah satu Qurratul aini li Rasulillah, belahan cinta Nabi Muhammad
saw yaitu putri beliau saw Sayyidatun Fathimah tu Zahra ra yang menjadi lambang istri yang shalihah, putri
yang shalihah dan ibunda yang shalihah dan sahabiyah yang shalihah. Empat kemuliaan Sayyidatuna
Fathimah ra menjadi Qudwah (panutan) sebagai istri yang shalihah, menjadi Qudwah sebagai anak yang
shalihah berbakti kepada ayah dan ibunya dan menjadi Qudwah sebagai ibu yang shaleh terhadap anaknya
dan menjadi sahabat Nabi saw yang mulia.

Empat kemuliaan ini berkumpul pada Sayyidatuna Fathimah Zahra ra. Ketika datang tamu kepada
Sayyidatuna Fatihimah Zahra ra tiadalah ia ingin menemui tamunya sebelum meminta izin kepada
suaminya Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw padahal ia adalah putrinya Rasulullah saw.

Penghargaannya kepada suaminya tidak mau menemui tamu terkecuali sudah diizinkan oleh suaminya. Istri
yang shalihah dan juga sebagai ibunda yang shalihah, ibunda yang selalu mendidik anak-anaknya dengan
didikan yang mulia dengan pengajaran Nabi Muhammad saw. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika
Sayyidatuna Fathimah Zahra ra mengadu kepada Rasul karena selalu menumbuk gandum dengan
tangannya sendiri, tangan yang demikian lembutnya tercabik-cabik karena kasarnya daripada alat untuk
menumbuk gandum itu. Tangan Sayyidatuna Fathimahtu Zahra ra yang demikian lembutnya yang
diriwayatkan oleh Alhafidh Al Imam Muhammad bin Alwi dalam kitabnya bahwa Rasul saw selalu mencium
pipinya Fathimah karena pipinya Sayyidatuna Fathimah ra wanginya sama dengan wanginya buah-buahan
di surga sehingga Rasul saw jika rindu kepada surga mencium Sayyidatuna Fathimah ra putrinya.

Tangan lembut itu tercabik-cabik terkena kasarnya alat penumbuk gandum, ia harus menumbuk gandum
setiap harinya untuk membuat roti sendiri untuk makanan anaknya seraya datang kepada Rasul meminta
khadim barangkali ada pembantu yang bisa membantuku dirumah untuk menumbuk gandum wahai ayahku.
Rasul saw menjawab “kuberi kau amalan yang lebih indah dari sekedar pembantu yaitu bacalah
Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x dan Allahu akbar 34x sebelum tidur, itu akan membuatmu bersemangat
dan memberimu kekuatan.

Ini mujarab hadirin, ini terijazahkan oleh guru mulia kita Alhafidh Almusnid Alhabib Umar bin Hafidh setahun
yang silam, mengijazahkan setiap akan tidur untuk membaca Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu
akbar 34x sebelum setiap tidur.

Ini diriwayatkan didalam Shahih Bukhari dan ini adalah amalan yang dipegang oleh putrinya Rasulullah saw
Sayyidatuna Fathimah Zahra ra. Kita bertanya kok tega sekali Rasulullah saw tidak mau memberi pembantu
kepada putrinya, Bukankah ini putri yang paling disayangi? Kita bertanya apakah Rasul ini kejam mendidik
putrinya? Tentunya tidak.

Jawabannya adalah putri beliau ini Sayyidatuna Fathimah ra adalah seorang wanita shalihah yang sangat
khusyu dalam beribadah, maka Rasul saw tidak menginginkan anaknya memakan dari makanan yang
ditumbuk oleh pembantu agar makanan anak-anaknya yaitu Sayyidina Hasan dan Husein ra langsung
mendapatkan makanan dari gandum yang ditumbuk sendiri oleh tangan ibunya, Keberkahan dari ibunya
Sayyidatuna Fathimah Zahra ra.

Ini menjadi hikmah bagi kita juga terutama bagi kaum wanita untuk memberi makan anak-anaknya dari
tangannya sendiri. Tangan itu lebih membawa keberkahan dari seorang wanita shalih dan ibunya sendiri
daripada tangan pembantu. Demikian didikan Nabi Muhammad saw sehingga muncul putra yang shalihin
Sayyidina Hasan wal Husein ra yang keduanya menjadi imam besar bagi muslimin dan jadilah Sayyidatuna
Fathimah Zahra ra ibunda bagi seluruh dzuriah Nabi saw hingga akhir zaman. Perbuatan yang sedikit
menyakitkan tapi keberkahannya hingga akhir zaman.

Demikian hadirin dan beliau juga sebagai putri yang shalihah. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika
Rasul saw ditumpahi kotoran onta saat bersujud, Sayyidatuna Fathimah ra keluar dari rumahnya dan
berteriak ”wahai ayahku dan seraya mendudukkan Sang Nabi dari sujudnya dan membersihkan kotoran
onta dari pundak Sang Nabi saw seraya menangis dan Rasul saw berkata “wahai Fathimah putriku akan
muncul suatu saat bahwa agama islam akan merajai dimuka bumi”. Demikian hadirin-hadirat putri yang
shalihah, hari-hari terakhir sebelum wafatnya Sang Nabi, Rasulullah saw memanggil Sayyidatuna Fathimah
ra seraya berkata “wahai putriku biasanya Jibril datang kepadaku dibulan Ramadhan satu kali tapi kali ini ia
datang dua kali, ini menunjukkan adalah ini tahun terakhirku dan aku akan wafat Wahai putriku”

mendengar ucapan ini maka menangislah Sayyidatuna Fathimah ra, dan berkatalah Rasul saw “wahai
putriku apakah kau ridha sebagai kedudukan Sayyidah nisa Ahluljanna..?, kau ini adalah pemimpin seluruh
wanita dari penduduk surga” maka seraya tersenyum dengan kabar gembira dari Rasulullah saw.
Diriwayatkan oleh para fuqaha kita bahwa beliau tersenyum bukan karena derajatnya sebagai pemimpin
wanita ahluljannah tapi karena gembira, karena apa? Karena telah dihibur oleh ayahnya yang menjadi
manusia yang paling ia cintai seraya tersenyum karena dihibur oleh ayahnya Rasulullah saw. Sehingga
Rasul saw bersabda diriwayatkan didalam Shahih Bukhari .”Sayyidatuna Fathimah tu Zahra ra adalah
belahan tubuhku dan akan murkalah aku pada siapa-siapa yang membuatnya marah”.

Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, agungnya putri Rasulullah saw ini sehingga jadilah
keturunan Rasul saw muncul dari keturunan Sayyidatuna Fathimah Zahra ra sebagaimana firman Allah
yang menjadi dalilnya “Sungguh wahai Muhammad kuanugerahkan padamu telaga al kautsar, dan
lakukanlah shalat yaitu shalat idul adha, dan setelah itu berkurbanlah. “innasyani’aka huwal Abtar” justru
mengatakanmu (Abtar adalah orang yg putus keturunannya) al abtar dialah yang abtar. Jadi Rasul saw ini
digelari oleh salah seorang musyrikin abtar, abtar itu apa? Tidak punya keturunan lelaki karena semua
keturunan Rasulullah wafat, maka Allah menjawab “innasyani’aka huwal Abtar”yang abtar itu yang putus
keturunannya adalah yang mengucapkannya kepadamu bukan engkau saw. Ayat ini dijadikan dalil oleh
para muhaddits kita bahwa keturunan Rasul tidak terputus yaitu berlanjut dari keturunan Sayyidatuna
Fathimah ra karena Allah menjawab “innasyani’aka huwal Abtar”bukan Rasul yang putus keturunannya,
berarti keturunannya Rasul tidak terputus sampai kepada Sayyidina Hasan wal Husein ra yang diakui
zumhur oleh seluruh ulama ahlusunnah wal jamaah sebagai keturunan Rasulullah saw.

Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, dan Rasul saw sebagai lambang manusia yang
menghantarkan seluruh ummat kepada kemuliaan ini sangat dicintai oleh putrinya dan oleh para sahabat
sehingga Sayyidatuna Fathimah Zahra ra setelah wafatnya Rasul tidak lagi keluar rumahnya seraya
berkhalwat sehingga beliau ra wafat 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah saw, setelah mendapat kabar dari
Sang Nabi orang pertama yang akan menyusulku dari sahabatku adalah engkau wahai Fathimah. Beliau ra
yang pertama kali menyusul ayahnya Rasulullah saw dan disusul oleh Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ra
lantas para sahabat lainnya kembali ke alam barzakh, aku dan kalian semoga akan menyusul mereka..

Ketika Sayyidina Zied bin Haritsah ra diriwayatkan didalam Shahih Bukhari salah seorang budak yang
ditawarkannya kebebasan untuk kembali kepada ayahnya atau tetap bersama Rasul. Kupilihkan padamu
kata Rasul “bebas jadi orang merdeka balik pada ayahmu atau tetap bersamaku?” maka berkata Sayyidina
Zeid bin Haritsah ra : “wahai Rasulullah aku tidak memilih orang lain selain mu”, jangan berkata silahkan
pilih, Tidak akan kupilih orang lain selain mu ya Rasulullah”. Demikian indahnya cinta Sayyidina Zeid bin
Haritsah ra kepada Sayyidina Muhammad saw dan ia bukan seorang sahabat besar dari Khulafaur
Rasyidin, bagaimana para Khulafaurrasyidin Nabi?

Sayyidina Abdullah bin Umar ketika Rasul saw telah wafat, ia sedang duduk di Masjid Nabawi, maka terlihat
seorang pemuda masuk ke masjid terburu dalam keadaan selesai berwudhu masuk kedalam shaf shalat
berjamaah. Berkata Sayyidina Abdullah bin Umar ra : ini anak seperti ini kalau dilihat oleh Rasulullah saw
pasti dicintai oleh Rasul”, kenapa? Pemuda yang mencintai sunnah Nabi Muhammad saw. Pemuda
berwudhu terburu-buru ingin hadir shalat berjamaah.

Hadirin-hadirat sampailah kita 14 abad setelah wafatnya Rasulullah saw namun tidak bisa memutus cinta
kita kepada Nabi Muhammad saw. 1400 tahun jarak antara kita dengan Rasulullah saw kita tidak bisa
terputus dengan jarak sepanjang itu, kita tetap mencintai Nabi Muhammad saw. Kita tidak melihat Rasul,
tidak berkumpul dengan Rasul, tidak mendengar suara Rasul tapi kita mencintai Nabi Muhammad saw.
Inilah yang paling menggembirakan hati Sang Nabi karena beliau tidak gembira melebihi para pemuda yang
mengikuti sunnah beliau saw. berkumpul kita dimalam hari ini niscaya kalau Rasulullah saw melihat kita
akan mencintai kita.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah penyampaian saya yang terakhir dari sabda Rasulullah diriwayatkan
didalam Shahih Bukhari ketika beliau saw berkhutbah di akhir majelis sebelum beliau wafat seraya berkata
“Sungguh manusia muslimin semakin banyak..” kata Rasul saw, beliau keluar pakai pengikat kepalanya
tanda sakit kepalanya yang demikian dahsyat keluar menuju majelis dan duduk diatas mimbar
menyampaikan ucapan “sungguh manusia muslimin akan semakin banyak, tetapi yang mendukung semakin
sedikit, bagaikan butiran-butiran garam didalam suatu makanan, sedikit saja, barang siapa yang dipimpin
oleh seorang muslim dan ia melihat ada suatu mudharat yang diperbuat oleh pemimpinnya tetapi membawa
manfaat bagi kelompok muslimin lainnya maka terimalah perbuatan baiknya dan maafkan kesalahannya”.
hadits ini riwayat Shahih Bukhari, pahamlah kita bahwa Rasulullah saw melarang pengingkaran terhadap
pemimpin selama ia beragama islam. Rasul saw memilihkan kepada kita pembenahan ummat dari bawah
bukan dengan penghancuran dari atas dengan kekerasan.

Inilah wasiat Nabi saw, berkata Imam Bukhari ra setelah Rasul saw mengucapkan ini beliau saw masuk
rumahnya, itulah majelis yang terakhir dihadiri oleh Nabi Muhammad saw. Wasiat beliau saw bila muncul
kelak orang-orang muslim yang memimpin pada kalian terlihat hal yang mudharat pada perbuatan mereka,
pada sebagian muslimin dan masih membawa manfaat bagi sebagian muslimin lainnya terimalah perbuatan
baik mereka dan maafkanlah kesalahan mereka, Inilah sabda dan wasiat Nabi kita yang terakhir dari
khutbah beliau dimajelis beliau yang terakhir maka tentunya kita semua menerima dengan ucapan “sami’na
wa athana ya Rasulullah saw”

Hadirin-hadirat baru beberapa hari yang lalu saya kembali dari Banjarmasin Kalimantan Selatan, demikian
luar biasanya Banjarmasin Kalimantan Selatan ini, saya gelari wilayah ini sebagai serambi Madinah Al
Munawwarah karena majelis-majelisnya disana majelis mingguannya puluhan ribu yang hadir bukan ribuan,
Rasanya Majelis Rasulullah ini sudah demikian besarnya di Jakarta tetapi diwilayah Kalimantan Selatan
puluhan ribu yang hadir setiap minggunya dan mereka bershalawat bersama menggetarkan bumi shalawat
mereka ini. Puluhan ribu lidah muslimin muslimat, mereka berdatangan dengan motor, dengan mobil,
bahkan dengan ratusan perahu sehingga kalau satu kampung ditempat majelis itu salah satu pemimpinnya
yang disebut dengan Tuan Guru Syamsuni ia berkata : “Habib ini semua lelaki memenuhi jalanan wanitanya
semua didalam rumah, karena satu kampung ini membuka rumahnya untuk menerima tamu-tamu dari kaum
Nisa, disetiap rumah sudah ada televisi semua wanita memenuhi seluruh kampung disini. Ini sekitar 20 ribu
yang hadir, masya Allah hadirin-hadirat ini Serambi Madinatul Munawwarah. Hadir dimajelis lain lagi
puluhan ribu lagi yang hadir, ini majelis mingguan kita belum bicara majelis tahunan mereka, ini Serambi
Madinatul Munawwarah.

Hadirin-hadirat akan tetapi Kalimantan Selatan mulai dirasuki dengan kerusakan aqidah yang mulai masuk
diwilayah mereka dan kita akan terus untuk insya Allah membantu mereka menegakkan Sunnah Nabi
Muhammad saw. Melihat kejadian itu saya bersemangat didalam jiwa ini sungguh niat agung kita
menjadikan Jakarta ini Serambi Madinah Munawwarah, akan datang waktunya majelis-majelis maulid Nabi
akan dipenuhi puluhan ribu muslimin dari pemuda-pemudi di Jakarta.

Rabbi Ya Rahman Ya Rahim demi hujan yang kau turunkan jadikanlah ini bukti dan saksi bahwa akan
datang masa kota Jakarta dan sekitarnya menjadi Serambi Madinah Munawwarah, kota yang paling banyak
mencintai Nabi Muhammad saw, mencintai sunnah Rasulullah, mengikuti sunnah Sang Nabi, Jadikanlah
kota ini kota Ahlul sujud, kota ahlul khusyu, kota yang mencintai Rasulullah, Yaa Rahman Yaa Rahim Yaa
dzaljalii wal ikram inilah doa kami Rabbi akan muncul kelak satu generasi sesudah kami yang akan
memakmurkan kota Jakarta dan sekitarnya, dan memakmurkan seluruh Barat dan Timur menjadikan muka
bumi ini para pecinta Nabi Muhammad saw, Rabbi kami berdoa dan kami mengikut sertakan dalam
perjuangan ini.

Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu
Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Rahman Yaa
Rahim Yaa dzaljalii wal ikram kami berharap kota Jakarta ini bergemuruh dengan melafadzkan nama Mu
yang maha agung, hapuskan seluruh dosa-dosa kami, jawab seluruh hajat kami dengan pengabulan,
singkirkan segala kesulitan kami Yaa Rahman Yaa Rahim. Hadirin-hadirat konsentrasikan jiwamu didalam
memanggil nama Allah atas seluruh hajatmu, atas semua permintaanmu dan mintalah pengampunan atas
dosa-dosa kita dan bimbingan agar kita dibukakan keberkahan dalam sisa kehidupan kita..

Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu
Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Rahman Yaa
Rahim Yaa dzaljalii wal ikram, salah satu dari doa saya tidak ingin wafat sebelum melihat kota Jakarta
menjadi Serambi Madinahtul Munawwarah. Amin Allahumma amin
Terakhir Diperbaharui ( Friday, 22 August 2008 )

								
To top