Docstoc

PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Document Sample
PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP DALAM PENDIDIKAN ISLAM Powered By Docstoc
					        PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP DALAM PENDIDIKAN ISLAM


       Pendidikan merupakan suatu proses pembentukan kepribadian manusia.
Sebagai suatu proses, pendidikan tidak hanya berlangsung pada suatu saat saja. Akan
tetapi harus berlangsung secara berkelanjutan. Dari sinilah muncul istilah pendidikan
seumur hidup (life long education) atau pendidikan terus menerus (continuing
education).
       Islam juga telah menggariskan pendidikan seumur hidup. Rasulullah SAW
bersabda: ”tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”. Lepas dari sahih atau
tidaknya pendapat tersebut, namun itu memberikan masukan yang cukup berharga bagi
pendidikan. Di samping itu, pendapat ini tidak bertentangan dengan ajaran al-qur’an
dan hadits.
A. KONSEP DASAR PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
         Dalam GBHN dinyatakan bahwa ”pendidikan berlangsung seumur hidup dan
   dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Karena
   itu, pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan
   pemerintah”.
         Konsep pendidikan seumur hidup merumuskan suatu asas bahwa pendidikan
   adalah suatu proses yang terus-menerus (kontinu) dari bayi sampai meninggal
   dunia. Konsep ini sesuai dengan konsep islam, hadis Nabi Muhammad SAW, yang
   menganjurkan belajar dari buaian sampai ke liang kubur.
         Konsep pendidikan seumur hidup merumuskan suatu asas bahwa pendidikan
   adalah suatu proses yang terus-menerus (kontinu) dari bayi sampai meninggal
   dunia.
         Asas pendidikan seumur hidup itu akan mengubah pardangan tentang status
   dan fungsi sekolah, dimana tugas utama pendidikan sekolah adalah mengajar anak
   didik bagaimana caranya belajar, peranan guru terutama adalah sebagai motivator
   dan penunjuk jalan anak didik dalam hal belajar, sekolah sebagai kegiatan belajar
   (learning centre) bagi masyarakat sekitarnya. Sehingga dalam rangka pandangan
   mengenai pendidikan seumur hidup, maka semua orang secara potensial
   merupakan anak didik.


B. PRIODE PRA KONSEPSI
         Priode pra konsepsi sama halnya dengan fase pemilihan jodoh dalam
   pendidikan pra natal. Fase ini adalah priode persiapan untuk menghadapi hidup
   baru yaitu berkeluarga.
      Menurut R.I. Suhartin, memilih jodoh harus ada syarat dan kriterianya.
Sebaiknya jodoh yang dipilih sudah dewasa agar tidak mengalami kesulitan dalam
berkeluarga. Dan syarat khusus tentunya dengan selera masing-masing. Namun
syarat yang terpenting adalah saling mencintai.
      Rasulullah telah meinberikan gambaran dalam haditsnya mengenai pemilihab
calon istri atau calon suami.
a. Pemilihan Calon Istri
   Sabda Nabi SAW ”wanita itu dinikahi karena empat pertimbangan; karena
   hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Dapatkanlah
   wanita yang memiliki agama, akan beruntunglah kamu”. (HR. Bukhori
   Muslim)
   Dari beberapa hadits Rasulullah, maka dapat diambil beberapa syarat yang
   penting untuk memilih calon istri diantaranya :
   a) Saling mencintai
   b) Memilih wanita karna agamanya agar nautinya mendapat berkah dari Allah
       SWT. Sebab orang yang memilih kemuliaan seseorang akan mendapatkan
       kehinaan, jika memilih karena hartanya maka akan mendapatkan
       kemiskinan, jika memilih karena kedudukan maka akan memperoleh
       kerendahan.
   c) Wanita yang sholeh
   d) Sama derajatnya dengan calon mempelai
   e) Wanita yang hidup dalam lingkungan yang baik
   f) Wanita yang jauh keturunannya dan jangan memilih wanita wanita yang
       dekat sebab dapat menurunkan anak yang lemah jasmani dan bodoh
   g) Wanita yang gadis dan subur (bisa melahirkan)
b. Pemilihan Calon Suami
   Rasulullah bersabda :
   yang artinya :
   Apabila kamu sekalian didatangi oleh seorang yang agama dan akhlaknya
   kamu ridhai, maka kawinkanlah ia, jika kamu sekalian tidak melaksanakannya
   maka akan menjadi fitnah dimuka bumi ini dan tersebarlah kerusakan. (HR.
   Tarmidzi)
   Hadits ini tidak hanya di ungkapkan Nabi SAW untuk menjelaskan alternatif
   pemilihan, istri atau suami semata, melainkan lebih dari itu. yang lebih penting
   adalah peningkatan martabat manusia dimasa depan, melalui upaya pendidikan.
   Rasulullah tidak hanya menganjurkan kepada seorang pria untuk memilih calon
     istri yang taat beragama, akan tetapi juga menganjurkan kepada perempuan
     untuk memilih calon suami yang taat beragama.


C. PENDIDIKAN PRANATAL (TARBIYAH QABL AL-WILADAH)
       Pendidikan pranatal adalah pendidikan sebelum masa melahirkan. Masa ini
  ditandai dengan pemilihan jodoh, pernikahan dan kehamilan.
  1. Fase perkawinan / pernikahan
     Ada beberapa aspek yang dijelaskan oleh syariat islam yang berhubungan
     dengan anjuran pernikahan/perkawinan diantaranya.
     a) Perkawinan merupakan Sunnah Rasulullah sabda Nabi “siapa saja yang
         mampu untuk menikah, namun ia tidak menikah maka tidaklah ia termasuk
         golonganku (H.R. Thabrani dan Baihaki) perkawinan untuk
     b) Ketentraman dan kasih sayang, Firman Allah SWT “dan diantara tanda-
         tanda kekuasaanNya ialah, doia menciptakan untukmu istri-istri dari
         jenismu sendiri supaya kamu cendrung merasa tentram kepadanya, dan
         dijadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang
         demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”
         (QS, Al-Rum: 21).
     c) perkawinan untuk mendapatkan keturunan,
     d) Firman Allah SWT "Allah telah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis
         kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu anak-anak
         dan curu-cucu” (QS. An Nahl : 7/2)
     e) Perkawinan untuk memelihara pandangan dan menjaga kemaluan dari
         kemaksiatan. Setelah calon dipilih, diadakan peminangan, dan selanjutnya
         diadakan pernikahan
  2. Fase Kehamilan
     Tahap ini sudah selangkah lebih maju dari yang pertama. Masa pasca konsepsi
     disebut juga dengan masa kehamilan. Secara umum masa ini berlangsung
     kurang lebih 9 bulan 10 hari. Walau masa ini relatif lebih pendek dari masa
     selainnya, namun priode ini memberikan makna yang sangat penting bagi
     proses pembentukan kepribadian manusia berikutnya. Islam melihat dari aspek
     pendidikan ada tiga faktor untuk dibicarakan. Pertama, harus diyakini bahwa
     periode dalam kandungan pasti bermula dari adanya kehidupan (al-hayat).
     Kedua setelah berbentuk sekerat daging, Allah mengutus malaikat untuk
     meniupkan ruh kepadanya. Ketiga ada satu aspek lagi bagi si janin pada masa
     dalam kandungan, yaitu aspek agama.
     Pada masa itu hubungan janin sangat erat dengan ibunya, untuk itu sang ibu
     berkewajiban memelihara kandungannya, antara lain:
     1) Makan makanan yang bergizi,
     2) Menghindari benturan,
     3) Menjaga emosi dan perasaan sedih,
     4) Menjauhi minuman keras,
     5) Menjaga rahim agar jangan terkena penyakit,
     Oleh karena itu pendidikan sudah dirnulai sejak anak dalam masa kandungan.
     Proses pendidikan itu dilaksanakan dengan secara tidak langsung, seperti
     berikut:
     a) Ibu yang hamil harus mendoakan anaknya,
     b) Ibu harus selalu menjaga dirinya dengan memakan makanan dan minuman
          yang halal,
     c) Ikhlas mendidik anak,
     d) Suami harus memenuhi kebutuhan istri,
     e) Mendekatkan diri kepada Allah,
     f)   Kedua orang tua harus berakhlak mulia. Akhlak mulia yang harus dimiliki
          orang tua adalah: kasih sayang, sopan dan lemah lembut, pemaaf, dan
          rukun dalam keluarga dan tetangga.


D. PENDIDIKAN PASCA NATAL (TARBIYAH BA’DA AL-WILADAH)
  1. Fase bayi
     Fase bayI ialah fase masa kehidupan manusia terhitung dari saat kelahiran
     sampai kira-kira berumur dua tahun. Perkembangan yang menonjol pada saat
     itu adalah pendengaran. Firman Allah “Dia yang menciptakan kamu dan
     menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, tetapi amat sedikit
     kamu bersyukur”.
     Hal yang harus dilakukan orang tua terhadap anaknya:
     a. Mengeluarkan zakat fitrah.
     b. Mendapat hak waris.
     c. Menyampaikan kabar gembira dan ucapan selamat atas kelahiran.
     d. Menyuarakan azan dan iqamah di telinga bayi.
     e. Aqiqah.
     f. Memberi nama.
  2. Fase kanak-kanak
     Fase kanak-kanak disebut sebagai masa estetika, masa indera, dan masa
   menentang orang tua. Masa bayi ini dibagi dua fase, yaitu fase anal dan pra
   sekolah.
   Fase anal (1-3 tahun), pada masa ini kecerdasan anak ditingkatkan dengan cara,
   memberikan makanan yang baik, dan anak selalu diajak berkomunikasi dengan
   macarn-macam permainan yang cocok dengan usianya.
   Fase pra sekolah (3-6 tahun), karakteristik anak pada masa ini adalah
   1) Dapat mengontrol tindakan.
   2) Selalu ingin bergerak
   3) Berusaha mengenal lingkungan
   4) Perkembaugan yang cepat dalam berbicara
   5) Senantiasa ingin memiliki sesuatu
   6) Mulai membedakan yang benar dan yang salah
3. Fase anak-anak (6-12 tahun)
   Karateristiknya:
   1) Anak mulai bersekolah
   2) Guru mulai menjadi pujaannya
   3) Gigi tetap mulai tumbuh
   4) Mulai malu apabila auratnya dilihat orang
   5) Hubungan anak dengan ayah semakin dekat
   6) Anak suka sekali menghafal
4. Fase remaja
   Awal remaja ditandai dengan dimulainya keguncangan, baik bagi laki-laki
   maupun perempuan. Proses terbentuknya pedirian hidup dipandang sebagai
   penemuan nilai-nilai hidup. Menurut Sumardi Suryabrata proses tersebut
   melalui tiga langkah :
   a) Karena tidak ada pedoman, si remaja merindukan sesuatu yang dianggap
       bernilai, pantas dihargai dan dipuja.
   b) Pada taraf kedua, objek pemujaan itu telah mulai lebih jelas, yaitu pribadi-
       pribadi yang dianggap mendukung sesuatu nilai.
   c) Pada taraf yang ketiga, si remaja telah dapat menghargai nilai-nilai lepas
       dari pendukungnya.
5. Fase dewasa
   Usia dewasa dimulai sejak berakhirnya kegoncangan-kegoncangan kejiwaan
   pada masa remaja. Maka usia dewasa dikatakan masa ketenangan jiwa,
   ketetapan hati dan kemauan yang tegas.
   a) fase dewasa dini, yaitu masa pencarian kemantapan, yaitu suatu masa yang
         penuh dengan masalah dan ketegangan emosional.
     b) Fase dewasa madya, (40-60 tahun), masa ini ditandai dengan adanya
         perubahan-perubahan jasmani dan mental. Pada usia 60 tahun biasanya
         terjadi penurunan kekuatan fisik, sering pula diikuti dengan penurunan
         daya ingat.
     c) Fase dewasa akhir, ciri-ciri fase dewasa akhir adalah : merupakan periode
         kemunduran, perbedaan individual, usia tua dinilai dengan kriteria yang
         berbeda.


E. STRATEGI PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
  1. Konsep-konsep kunci Pendidikan Seumur Hidup
     a. Konsep Pendidikan Seumur Hidup Itu Sendiri
        Pendidikan seumur hidup diartikan sebagai tujuan dan pengalaman-
        pengalaman pendidikan. Hal ini berarti pendidikan akan meliputi seluruh
        rentang usia.
     b. Konsep Belajar Seumur Hidup
        Istilah belajar ini merupakan kegiatan yang dikelola walaupun tanpa
        organisasi sekolah.
     c. Konsep Pelajar Seumur hidup
        Untuk mengatasi problema, perlu adanya sistem pendidikan yang bertujuan
        membantu        perkembangan    orang-orang    untuk   beradaptasi   dengan
        lingkungan mereka seumur hidup.
     d. Kurikulum Yang Membantu Pendidikan Seumur Hidup
        Kurikulum harus didesain atas dasar asa pendidikan seumur hidup.
        Kurikulum yang demikian merupakan kurikulum yang praktis untuk
        mencapai tujuan pendidikan.


  2. Arah Pendidikan Seumur Hidup
     Pada umumnya pendidikan seumur hidup diarahkan pada orang-orang dewasa
     dan pada anak-anak dalam rangka penambahan pengetahuan dan keterampilan
     mereka yang sangat dibutuhkan dalam hidup.
     Anak bukan hanya sekedar buah hati orang tua, tetapi juga amanah dari Tuhan
     yang wajib bagi semua orang tua untuk mencetaknya menjadi generasi yang
     kuat, yang militan.
     Demikianlah pesan Alloh dalam Al-Qur’an :
     ”Dan   hendaklah      takut   kepada   Allah,   orang-orang   yang   seandainya
meninggalkan dibelakang mereka anak-anak (keturunan) yang lemah” (An
nisa’ / 9).
Inilah diantara tanggung jawab para orang tua, harus berusaha semaksimal
mungkin jangan sampai meninggalkan keturunan yang lemah (dalam arti lemah
iman, aqidah, moral, ilmu, ekonomi, fisik).
Dan untuk bisa melaksanakan pesan Al-Quran ini, peran wanitalah yang sangat
menetukan sekali. Sebab, ikatan lahir batin yang paling kuat yang dimiliki oleh
anak adalah dengan ibunya. Selama sembilan bulan sepuluh hari dalam
kandungan, maka interaksi sosial anak lebih banyak dengan ibunya. Bahkan
setelah lahir interaksi itu makin keras. Maka, sepatutnyalah seorang ibu
menjadi panutan yang baik bagi anak-anaknya. Ibarat kertas putih, anak yang
baru lahir mau dijadikan apapup adalah hak dari ibu. Di tangan ibulah proses
pendidikan anak akan berjalan.
Wanita adalah guru pertama bagi sang anak, sebelum dididik orang lain. Sejak
ruh ditiupkan ke dalam rahim, proses pendidikan sudah dimulai. Sebab mulai
saat itu, anak telah mampu menangkap rangsangan-rangsangan yang diberikan
oleb ibunya. la mampu mendengar dan merasakan apa yang dirasakan ibunya.
Bila ibunya sedih dan cemas, ia pun merasakan demikian. Sebaliknya, bila
ibunya merasa senang, ia pun turut senang.
Kemudian bertambah hari, minggu dan bulaan, yang pada wakunya ia terlahir
ke muka bumi. Dari nol hari, ia sudah berusaha memahami apa yang diajarkan
oleh seorang ibu. Bila seorang ibu membiasakan anaknya dari kandungan
sampai dewasa dengan adab-adab Islam, ia pun akan terbiasa dengan hal itu.
Tapi sebaliknya, bila ibu membiasakan dengan adab-adab yang tidak Islami, ia
pun akan ikut seperti ibunya. Saat inilah pendidikan seorang ibu sangat
berpengaruh pada anak.
Karena perkembangan otak sangat cepat, daya ingat masih kuat. Bagi seorang
ibu perlu memperhatikan hal berikut :
1. Pendidikan Ibadah
    Ketika ibu menjalani kehamilan sampai melahirkan, tidaklah berat baginya
    untuk mengajak si calon bayi untuk ikut serta dalam melakukan ibadah
    harian. Seperti: sholat, puasa, baca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, dan lain
    sebagainya. Walau mungkin anak tidak paham apa yang dilakukan dan
    diinginkan ibunya, tapi ketika ia menginjak dewasa (baligh), Insya Alloh
    ibadah-ibadah tadi akan mudah diajarkan. Sebab sudah sering melihat dan
    mendengar, sehingga takkan terasa berat menjalaninya.
     2. Pendidikan Akhlak
         Pembiasaan akhlak yang baik tidak perlu menunggu anak dewasa. Dari sini
         harus sudah dibiasakan. Sebab kebiasaan yang baik, kalau tidak dibiasakan
         dalam waktu yang lama, sangat sulit untuk menjadi akhlak. Justru ketika
         kebiasaan baik tidak ada dalam diri kita, dengan sendirinya kebiasaan buruk
         akan Menghiasinya tanpa harus dibiasakan.
         Jika semenjak dalam kandungan seorang anak dibiasakan mencintai orang
         lain, maka ketika lahir, ia pun akan berusaha untuk mencintai orang lain.
         Apabila sifat-sifat ikhlas, sabar, tawadlu, tabah, pemurah, suka menolong
         orang lain dan sebagainya dibiasakan, insya Alloh ketika anak sudah paham
         dan mengerti, akhlak-akhlak tadi akan menghiasi kehidupannya.
     3. Pendidikan Akidah
         Bagaimana seorang ibu mampu menanamkan akidah sedini mungkin,
         sehingga anak meyakini bahwa kita hidup tidak semau kita. Tapi di sana
         ada pengatur, pengawas tujuan hidup, akhir dari kehidupan. Kemudian
         meyakini bahwa apa yang terjadi pada kita, pasti akan kembali pada sang
         kholiq. Hal itu terangkum dalarn rukun iman yang enam. Ketika ia besar, ia
         tidak lagi ragu dan bingung mencari jati diri. Siapakah aku? untuk apa aku
         hidup? siapakah yang harus aku ikuti dan dijadikan idola ? Dan seterusnya.
         Oleh sebab itu, Rosul menganjurkan kepada para pemuda yang sudah
         waktunya nikah, untuk memilih calon istrinya seorang wanita yang
         beragama dan berakhlak baik. Sebab dari wanita yang inilah, akan terlahir
         generasi yang beragarna dan berakhlak baik juga. Ibu seperti inilah yang
         akan mengajarkan tuntunan agama yang telah terbiasa dan tertanam dalam
         dirinya. Di antara tuntunan tersebut adalah akhlak yang mulia. Sedangkan
         wanita yang cantik, pintar, atau kaya tidak menjamin akan melahirkan
         anak-anak yang berakhlak mulia.


F. PENDIDIKAN ORANG DEWASA
  Pendidikan     (education)   tidak   sama   dengan   sekolah   (schooling).   Sekolah
  merupakanbagian dari kegiatan pendidikan atau belajar. Sekolah secara umum
  diarahkan untuk pendidikan anak (TK, SD ) dan pemuda ( SMP – SMA ) Perguruan
  Tinggi. Pendidikan Orang Dewasa secara umum dilakukan dalam pendidikan non
  formal, yang dapat dilakukan di tempat kerja, masyarakat dalam bentuk kurus atau
  kepelatihan.
Pendidikan orang dewasa dapat dilakukan secara mandiri (self education ) yang tidak
tergantung pada lembaga pendidikan yang menyusun program pendidikan.
   2-4 tahun adalah masa keemasan ( golden age ) masa dimana terjadi perubahan
    yang sangat cepat pada kecerdasan (IQ) masa ini anak-anak dapat dengan cepat
    mengembangkan IQnya, menjadi 80% pada usa 4 tahun.
   LIFELONG EDUCATION, belajar dilakukan dari lahir sampai meninggal.
Definisi ( Batasan Pengertian )
Pendidikan Orang Dewasa ( Adult Education )
1. Pendidikan → dapat dilakukan dengan belajar (Learning ) tetapi juga sering
    dianggap sama.
    Semua kegiatan pendidikan melibatkan belajar tetapi tidak semua kegiatan
    belajar melbatkan pendidikan.
    Pendidikan selalu terdapat unsur kegiatan yang dirancang (didesain) dan
    disengaja, dengan tujuan yang dtetapkan. Sedangkan belajar dapat berjalan atau
    dilakukan secara insidental, tidak dirancang, dan dalam waktu yang sangat
    pendek.
    Pada orang dewasa pendidikan dapat dilakukan dengan self education dimana
    kegiatan pendidikan dapat bersifat belajar yang diarahkan oleh diri sendiri.
    Pada self education yang terjadi pada orang dewasa, tujuan, materi, metode,
    belajar diarahkan oleh diri sendiri; orang dewasa sudah dapat bertanggungjawab
    terhadap aktivitas pendidikan atau belajar.
2. Orang dewasa ( Adult ) terdapat batasan pengertian orang dewasa yang sering
    membingungkan.
    Dewasa dapat dilihat dalam batasan, biologis, psikologis, dan sosial.
    Dewasa secara biologis menunjuk pada perkembangan biologis, umumnya
    dikaitkan dengan kesiapan untuk reproduksi. Masalahnya, seseorang sering
    sudah dianggap dewasa secara biologis, tetapi belum tentu dewasa secara
    psikologis. Dewasa psikologis umumnya dikaitkan dengan kemampuan mental
    untuk memikul tanggungjawab oleh keputusan / pilhan.
       Dewasa sosial umumnya dikaitkan dengan kemampuan untuk melakukan
        peran sosial (kemasyarakatan ) sebagai orang tua dari anak-anaknya
        pemimpin dalam organisasi kerja dan lain-lain.
Pengertian
Pendidikan Orang Dewasa adalah suatu proses dimana orang-orang yang sudah
memiliki peran sosial sebagai orang dewasa melakukan aktivitas belajar yang
sistematik dan berkelanjutan dengan tujuan untuk membuat perubahan dalam
pengetahuan, sikap, nilai-nilai, dan keterampilan.
Beberapa fungsi / tugas dilakukan dalam POD (Pendidikan Orang Dewasa)
Tugas-tugas yang harus dilakukan dalam penyelenggaraan POD adalah :
   1. Tugas sebagai guru ( fasilitator )
   2. Tugas sebagai pengembang program (Program Developer)
   3. Tugas sebagai pengelola ( administration )
   4. Tugas sebagai konselor ( Conselor )
Tujuan POD
Pendidikan Orang Dewasa umumnya memiliki sasaran kelompok orang dewasa yang
beraneka ragam, baik usianya, tingkat pendidikannya. Lingkungan sosialnya,
pelajarannya dan lain-lain. Misalnya pendidikan keaksaraan Functional (Functional
Literacy program) warga belajrnya orang dewasa yang masuk buta huruf dan sering
terdiri ekonominya msikin. Sedang Pendidikan kepelatihan di industri / perkantiran
warga belajarnya adalah para pekerja maupun sifat yang umumnya tingat
pendidikannya cukup tinggi dn kondisi ekonominya cukup baik.
Tujuan POD dengan demikian beraneka ragam sesuai dengan permasalahannya , dan
sasarannya. Secara umum terdapat beberapa tujuan :
   1. Tujuan POD bagi pengembang kecerdasan / intelektual warga belajar,
   2. Tujuan POD bagi aktualisasi dari indvidu peserta belajar
   3. Tujuan POD bagi bagi pengembangan personal dan sosial warga belajar
   4. Tujuan POD bagi perubahan sosial (masyarakat)
   5. Tujuan POD bagi pengembangan SDM dalam organisasi kerja ( efektivitas
       organisasi )
Program POD
Program secara umum diartikan suatu kegiatan bekajar ( kurikulum ) yang drancang
oleh suatu lembaga ( institusi ) yang digunaan bagi peserta didik untuk mengikut
kegiatan belajar sesuai dengan tujuan pendidikan (pembelajaran) yang ditetapkan.
Misalnya program khusus menjahit bagi para peserta sesudah selesai mengikuti
program untuk memasuki dunia kerja di industri konveksi atau mendirikan usaha
sendiri seperti butik atau penjahitan.
Institusi atau lembaga yang menyusun program POD antara lain :
   1. Lembaga kursus
   2. Pusat pendidikan & pelatihan ( balai latihan, tenaga kerja; BLK )
   3. Pusat kegiatan belajar ( SKB )
   4. BPKB ( Badan Pengembangan Kegiatan Belajar )
   5. BPPNFI ( Badan Pengembangan Pendidikan Non Formal – Informal )
   6. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
   7. Perguruan Tinggi ( Program Pendidikan Ekstension )
   8. Pendidikan & Pelatihan di Perusahaan / Perkantoran.
http://bayoedarkochan.wordpress.com/pendidikan-luar-sekolah/kepemudaan/
 TUGAS ILMU PENDIDIKAN ISLAM


           GURU PENGAJAR :
          Dra. Hj. NUR AZIZAH




                 Oleh :
               Nur Sofiyah
            Zumrotul Wahidah




MADRASAH MUALLIMIN MUALLIMAT 6 TAHUN
 BAHRUL ULUM TAMBAKBERAS JOMBANG
                  2010

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2901
posted:2/4/2011
language:Indonesian
pages:11