Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

ETIKA GURU DALAM MENGAJAR

VIEWS: 1,504 PAGES: 7

									                           ETIKA GURU DALAM MENGAJAR




         Seorang guru ketika menghadiri ruangan hendaknya mensucikan dirinya
dari hadats dan kotoran, memakai harum-haruman, dan memakai pakaian yang
layak sesuai mode zamannya dengan maksud untuk mengagungkan ilmu dan
menghormati syari’at. Ia juga harus berniat menyebarkan ilmu untuk
mendekatkan         diri   kepada      Allah      dan    menegakkan          agama      Allah     serta
menyampaikan hukum-hukum Allah yang diamanatkan dan diperintahkan untuk
menjelaskannya. Sebaiknya juga dengan niat untuk menunjukkan kebenaran dan
kembali kepada kebajikan. Berkumpul bersama untuk berdzikir kepada Allah, dan
juga menyebarkan kedamaian kepada kawan-kawan muslimin dan mendo’akan
ulama terdahulu.
         Apabila keluar dari rumah sebaiknya berdoa sebagaimana doa yang
diajarkan Nabi Muhammad SAW:
‫اىيهم إوي أعىر تل إن اضو أو اضو او ازه او ازه او اظيم او اظيم او اجهو او يجهو عيً عس جارك و‬
                                                                                 ‫جو ثىاؤك وال إىً غيرك‬
         “Ya Allah… aku berlindung kepada Mu dari tersesat atau
         disesatkan,       tergelincir     atau     digelincirkan,       mendzalimi        atau
         didzalimi, bodoh atau dibodohi,maha mulia kekuasaan-Mu dan
         maha agung pujian-Mu, tiada Tuhan selain Engkau”.


         Kemudian berdoa :
‫تسم اهلل آمىد تاهلل اعرصمد تاهلل و ذىميد عيً اهلل و ال حىه و ال قىج إال تاهلل اىيهم ثثد جىاوي و ادار اىحق‬
                                                                                              ‫عيً ىساوي‬
         Dengan menyebut nama Allah, aku beriman kepada Allah dan
         berpegang teguh kepada-Nya, tawakal kepada-Nya tiada kekuatan
         daya upaya kecuali dari Allah. Ya Allah tetapkanlah hatiku,
         tunjukkanlah kebenaran pada lisanku.


         Dan hendaknya ia terus berdzikir pada Allah sampai ia tiba di majlis.
       Apabila telah sampai dihadapan hadirin maka hendaknua ia mengucapkan
salam, lalu duduk menghadap kiblat jika memungkinkan dengan tenang dan
tawadlu seta khusyu’ baik dengan bersila atau dengan yang lainnya penting sopan.
Hendaknya menjaga badannya dari desakan atau bermain-main atau memandang
ke sana ke mari tanpa tujuan. Hendaknya juga menjauhi gurauan atau banyak
tertawa, karena akan mengurangi wibawa. Tidak boleh mengajar ketika sangat
lapar, haus, susah, marah, mengantuk sangat dingin atau sangat panas.
       Hendaknya duduk di tempat yang bisa dilihat oleh seluruh hadirin dengan
tetap menghormati hadirin yang lebih senior, baik dari segi keilmuan, umur
ataupun kedudukan, serta menempatkannya sesuai dengan jenjang kepemimpinan.
Hendaknya bersikap lemah lembut kepada yang lain dan menghormatinya dengan
tutur kata yang lembut, wajah yang berseri-seri dan hormat. Hendaknya berdiri
untuk menghormati pembesar kaum muslimin dan memandang hadirin sesuai
dengan kebutuhan. Menatap wajah orang yang diajak berbicara walaupun ia lebih
rendah karena jika tdak demikian, maka termasuk orang yang sombong.
       Memulai belajar dengan membaca ayat al-Qur’an untuk mencari barokah
dan setelah itu berdoa untuk dirinya, hadirin dan juga seluruh muslimin dan orang
yang mewaqafkan jika itu tempat belajarnya adalah tanah waqaf sebagai balasan
kebaikan perbuatannya dan agar tercapai cita-citanya. Hendaknya kemudian
berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, menyebut nama Allah dan
memujinya, shalawat kepada Nabi, keluarga, serta sahabatnya serta meminta rida
kepada kaum muslimin terdahulu.
       Apabila pelajaran itu banyak, maka harus didahulukan yang lebih penting,
dimulai dari tafsir al Qur’an kemudian hadits, ushuluddin, ushul fiqh, kitab-kitab
madzhab, dan nahwu. Hendaknya diakhiri dengan penjelasan rinci agar bisa
dimanfaatkan    oleh   hadirin   untuk    membersihkan   hatinya,   menyambung
pelajarannya dengan sesuatu yang terkait, berhenti pada tempat yang seharusnya
berhenti. Hendaknya jangan menyebutkan pelajaran yang masih diragukan dan
menunda jawaban ke pertemuan             lain. Bahkan kalau mungkin hendaknya
disebutkan keduanya karena itu akan merusak, baik pelajaran itu dihadapan orang
khusus ataupun orang umum. Hendaknya jangan memperpanjang pelajaran
sehingga membosankan atau meringkasnya sehingga menjadi kurang, jangan
membahas suatu bab yang tidak pada tempatnya. Karena itu, maka jangan
mendahulukan atau mengakhirkan kecuali jika dipandang ada baiknya.
       Jangan mengeraskan suara secara berlebihan atau pun memelankannya
sehingga tidak terdengar, namun sebaliknya suara itu tidak melebihi majlis dan
tidak kurang dari pendengaran hadirin. Hal ini sesuai dengan hadits yang
diriwayatkan al-Khatib al-Baghdadi, Nabi SAW bersabda:
                                   ‫إن اهلل ذعاىً يحة اىصىخ اىخفيض اىخفي و ينري اىصىخ اىرفيع‬
       Sesungguhnya Allah menyukai suara yang lembut dan tidak
       menyukai suara yang kasar


       Apabila diantara hadirin yang kurang jelas, maka tidak apa-apa untuk
mengeraskan suara sehingga dia bisa mendengarkannya. Hendaknya jangan
membentak, tetapi mengajar dengan pelan agar dia berpikir dan mendengarkannya
dengan baik sebagaimana Nabi SAW yang juga merinca kiata-katanya agar dapat
dipahami dengan baik oleh yang mendengarkannya, beliau juga terkadang
berbicara satu kalimat dengan diulang tiga kali agar bisa dipahami, dan apabila
telah selesai pada satu permasalahan, maka hendaknya diam sejenak baru
kemudian mulai berbicara lagi.
       Menjaga majlis dari kesalahan, karena kesalahan bisa merubah lafadz dan
juga harus menjaga suara yang keras atau juga membahas sesuatu yang bukan
bahasannya.
       Imam Robi’ berkata bahwa Imam Syafi’i jika didebat oleh seseorang
tentang satu masalah, maka Beliau berpaling melihatnya, seraya berkata : “Aku
sudah pernah membahas masalah itu namun sekarang terserah kamu”. Dan
kemudian dengan lemah lembut beliau menjelaskan dasar-dasarnya sebelum
beliau berpaling pada yang lain.
       Hendaknya mengatakan kepada para hadirin bahwa berdebat itu tidak baik
apalagi jika sudah jelas kebenarannya. Tujuan dari berkumpul adalah untuk
mencari kebenaran, membersihkan hati dan mencari faidah. Oleh karena itu, maka
tidak pantas bagi ahli ilmu untuk berdebat karena hanya akan menimbulkan
permusuhan dan kemarahan. Seharusnya pertemuan itu dilakukan dengan ikhlas
karena Allah SWT, untuk mendapatkan faidah di dunia dan kebahagiaan di
akhirat sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
                                          ‫ىيحق اىحق و يثطو اىثاطو و ىى مري اىمجرمىن‬
         Agar tampak apa yang benar dan agar hilang apa yang bathil
         walaupun dibenci oleh orang-orang yang berdosa.


         Karena itu dapat difahami bahwa orang yang bertujuan melenyapkan
kebenaran dan menampakkan kebathilan adalah sifat orang yang berdosa karena
itu jagalah diri dari hal seperti itu.
         Menekankan       agar    tidak   membahas      secara     berlebihan     ataupun
menunjukkan tatakarama yang jelek ketika membahas suatu pelajaran, agar segera
berjenti setelah tampak satu kebenaran, berteriak tanpa faidah atau kurang sopan
kepada hadirin yang lain atau yang tidak hadir atau merasa sombong dihadapan
seniornya. Ia juga tidak boleh tidur, brebicara dengan yang lain, tertawa ataupun
menertawakan salah satu hadirin atau salah satu murid dalam halaqah. Hal-hal ini
sudah disebutkan pada bab “etika murid”.
         Apabila ditanya tentang sesuatu yang belum diketahui, maka hendaknya
dijawab : “saya tidak tahu, atau saya tidak mengerti, karena sebagian dari ilmu
adalah menyatakan saya tidak tahu, dan bahwa sebagian dari ilmu adalah saya
tidak mengerti”. Ibnu Abbas berkata: Apabila seorang guru salah dalam mengajar,
maka ia hendaknya mengucapkan kata-kata “Saya tidak mengerti, dan itu adalah
suatu cobaan bagi orang yang sedang berjuang”.
         Muhammad ibnu Hakam berkata: “Saya bertanya pada Imam Syafi’I
tentang nikah mut’ah, apakah di dalamnya juga terdapat talak atau warisan atau aa
kewajiban nafkah atau saksi?” Imam Syafi’I menjawab: “Demi Allah saya tidak
tahu”.
         Ketahuilah bahwa perkataan “saya tidak tahu” dari orang yang ditanyai
tidaklah mengurangi derajat orang tersebut, sebagaimana persangka orang-orang
bodoh, bahkan hal itu mengangkat derajatnya, karena hal itu adalah petanda
keagungan pegetahuan dan kekuatan agama serta ketakwaan kepada Tuhan,
kebersihan hati dan kebaikan argumentasinya.
       Mengenai hal ini ada riwayat dari ulama salaf bahwa orang yang
menganggap remeh hal itu adalah orang yang lemah agamanya dan sedikit
pengetahuannya, karena sebenarnya dia takut kalau martabat akan jatuh dihapan
hadirin. Dan kebodohan ini terjadi karena tipisnya agama orang tersebut.
       Dan jika kesalahannya sudah tersebar maka hal yang memalukan pasti
akan menimpanya, dan kemudian dia akan menyikapinya dengan cara menjauhi
hal tersebut. Allah mengajarkan akhlak kepada ulama dengan kisah Musa AS
dengan Khidir AS, yaitu bahwa Musa AS tidak menolak untuk belajar ilmu pada
Khidir seperti yang diperintahkan Allah. Hal ini karena Musa ditanya “apakah ada
orang yang lebih pandai dari kamu di bumi ini?”.
       Hendaknya menunjukkan kasih sayang kepada orang baru yang hadir di
majlis, memberi kesempatan dengan lapang dada, karena orang yang baru
biasanya masih bingung, jangan banyak dipandang karena hal itu akan membuat
dia merasa tercela. Apabila hendak menerima tamu sedangkan ia sedang
menjelaskan suatu masalah, maka hendaklah berhenti terlebih dahulu sampai
tamunya dan setelah itu baru dilanjutkan menjelaskannya. Apabila ia menerima
tamu pada waktu luang setelah mengajar di majlis maka hendaknya ia
meninggalkan majlis, agar tidak dianggap meremehkan sang tamu yang datang
dan juga tetap menjaga kebaikan majlis, yaitu dengan tetap mendahulukan yang
awal dan mengakhirkan yang akhir kecuali jika ada yang mendesak. Dan ketika
pelajaran usai hendaknya mengatakan “wallahu a’lam” (Allah lebih mengetahui)
namun sebelum itu hendaknya mengucapakan kata-kata yang menunjukkan akhir
pelajaran seperti kata-kata “kini kita tutup dulu adapun selanjutnya pertemuan
yang akan datang Insya Allah” atau senada. Hendaknya kata-kata wallahu a’lam
dilakukan dengan ikhlas sebagai dzikir kepada Allah.
       Hendaknya ketika memulai setiap pelajaran dibuka dengan basmalah, agar
mengingat Allah pada awal dan akhir pelajaran. Hendaknya diam sejenak jika ada
hadirin yang berdiri karena mempunyai beberapa faidah dan juga tata krama yang
baik seperti menghindari berdesakkan dan mengantisipasi bila ada seseorang yang
akan bertanya. Menghindari berdesakan jika membawa kendaraan dan ketika
hendak pergi sebaiknya berdoa seperti yang diajarkan sebuah hadits untuk
melebut dosa.
                       ‫سثحاول اىيهم و تحمذك أشهذ أن ال اىً إال أود أسرغفرك و أذىب إىيل‬
      Maha suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi
       bahawa tiada Tuhan selain Engkau dan aku mohon ampunan serta
       bertaubat kepada-Mu.


      Jika tidak menguasai materi, maka hendaknya jangan mengajar atau
mengajarkan sesuatu yang tidak tahu karena hal itu termasuk mempermainkan
agama dan merendahkan diri di hadapan manusia. Nabi SAW bersabda :
                                                   ‫اىمرشثع تما ىم يعط مالتس ثىتً زور‬
      Barang siapa yang menganjurkan sesuatu yang dia belum tahu,
       bagaikan orang yang memakai baju yang sangat hina.


      Ada ulama berkata :
                                                   ً‫مه ذصذر قثو آواوً فقذ ذصذي ىهىاو‬
      Barang siapa menampakkan sesuatu yang belum waktunya sama
       juga dengan menampakkan nafsunya.


      Dari Abu Hanifah ra.:
                                     ‫مه طية اىرياسح مه غير حيىً ىم يسه في ره ما تقي‬
      “Barang siapa yang mencari kedudukan yang belum waktunya, maka dia
      hanya akan terhina”.
      Sedikit kerusakan akan terjadi jika hadirin tetap bisa menahan diri dan
tidak akan meneliti kebenaran jika terjadi perbedaan pendapat, karena inti
pendidikan adalah menolong orang yang tidak tahu dan membetulkan orang yang
melakukan kesalahan.
      Abu Hanifah ra. Dalam suatu forum perdebatan masalah fiqh yang ada di
masjid, berkata : “Apakah mereka mempunyai pemimpin?” mereka menjawab
“Tidak!” beliau berkata lagi, “Mereka selamanya tidak akan mengerti jika diantara
mereka tidak ada yang belajar untuk memperbaiki mereka”.
       Setiap orang bingung akan tampil untuk mengajar
       Orang bodoh mereka sebut sebagai guru ahli fiqh
       Keadaan ahli ilmu itu seumpama
       Sebuah rumah kuno yang terkenal di setiap majlis
       Sungguh kurus sekali sehingga tampak tulang belulangnya
       Sehingga orang yang tak berduitpun mampu menawarnya.

								
To top