Docstoc

about anglingdarmo

Document Sample
about anglingdarmo Powered By Docstoc
					Anglingdarmo
ADAKAH sejarah lokal diajarkan di sekolah? Saya tak yakin. Sejumlah teman yang masih dibangku SMA
saya tanya tentang pengetahuan sejarah Bojonegoro. Ternyata jawaban mereka seragam, tak tahu.
Ironis, kita bicara soal kecintaan terhadap lokal. Kita berkoar tentang membangun Bojonegoro yang matoh tapi
sejarah lokal sendiri kita tak pernah tahu. Barangkali, pelajaran sejarah dianggap tak penting karena hanya
bicara masa lalu. Tapi bukankah, masa kini juga berasal dari masa lalu? Bukankah jika kita ingin merancang
masa depan, maka kita harus memahami masa lalu dan masa kini? Bagi saya, sejarah yang diajarkan pun harus
sesuai fakta, bukan sekadar mitos.
Saya mendapatkan bundelan fotokopi berjudul Sejarah Bojonegoro: Bunga Rampai. Mantan Camat Bubulan,
Hamzah Lukman berbaik hati memberikan kepada saya beberapa hari lalu. Saya membaca lembar demi lembar.
Saya menikmati tiap babak dalam sejarah Bojonegoro mulai awal kerajaan Hindu hingga . Luar biasa. Bagi saya,
yang belum lama tinggal di Bojonegoro, memahami sejarah Kota Ledre ternyata membawa hati saya enggan
beranjak dari Kota Ledre ini.
Bukan hanya soal rasa, saya juga menemukan banyak mitos yang saat ini banyak dipelihara oleh pemerintah.
Sayang, cerita mitos itu justru tak diluruskan tapi malah menjadi kebanggaan. Akhirnya karena kita buta
sejarah, rakyat gampang dibodohi. Karena semua komponen mempercayai mitos. Mitos itu adalah sejarah
Anglingdarmo. Mau bukti? Jika Anda masuk ke kantor pemkab, di tiap ruang dinamakan dengan nama-nama
mitos. Ada ruang Anglingdarmo, ruang Batik Madrim. Bahkan, pendapa pun dinamakan Malowopati.
Mengapa saya sebut Anglingdarmo adalah mitos? Karena tak ada bukti otentik kesejarahan jika Anglingdarmo
adalah raja di Bojonegoro. Tak ada prasasti. Tak ada tulisan. Dan tak ada ditemukan tulisan tentang
Anglingdarmo. Yang ada hanya cerita rakyat biasa (folklore).
Ironisnya, pemerintah justru membangun mitos itu begitu megah. Lokasi yang diduga bekas kerajaan Ang-
lingdarmo dibangun joglo          yang sangat megah di Desa Wotanngare Kecamatan Kalitidu. Padahal
sesungguhnya awal Bojonegoro bukan berasal dari Anglingdarmo.
Dari catatan bundelan Sejarah Bojonegoro: Bunga Rampai, Bojonegoro bermula dari perkampungan yang tersebar
di sejumlah titik. Kampung-kampung itu tersebar di Gadung Rahu yang saat ini disebut Ngraho, Badender
(Dander), Randu Gempol, Toja dan Adiluwih. Adalah Ki Ruhadi atau yang dikenal Rakai Purnawikan yang menjadi
salah satu kepala suku terkuat dari sejumlah perkampungan. Dia tinggal di Randu Gempol. Nama itu lalu diubah
menjadi Hurandu Purwo pada 1115. Letaknya berada di Desa Plesungan Kecamatan Kapas. Ibukota kerajaannya
di Kedaton di sekitar wilayah Kecamatan Kapas. Kerajaan kecil Hurandu Purwo lalu lenyap. Pada saat kekuasaan
Airlangga bertahta di Kahuripan, wilayah kekuasaanya hingga barat. Saat itu berdiri kabupaten Rajekwesi. Pada
masa kerajaan Singasari (1222-1292), kerajaan Rajekwesi pecah menjadi tiga. Yakni Rajekwesi Wetan, Bahuwerno
(Baureno) dan Getasan Kenur (Kanor saat ini). Pada zaman kerajaan Majapahit (1293-1309), tiga kabupaten itu
dilebur menjadi satu dengan nama Kabupaten Kahuripan. Sejumlah candi pada zaman Airlangga dan Majapahit
dibangun di kabupaten Kahuripan. Sayang, candi-candi itu dihancurkan saat kerajaan Demak berkuasa di tanah
Jawa (1521). Kabupaten Kahuripan pun ditelan zaman. Lalu pada 1523, muncul dua kabupaten yang berbasis
Islam. Yakni, Jipang Panolan dan Waru. Jipang Panolan dipimpin Raden Wirabaya dan bekas Senopati
Anggakusuma sebagai adipati Waru. Hingga kemudian Jipan Panolan menjadi wilayah kekuasaan Kasultanan
Yogyakarta.
Dari Bojonegorolah sesungguhnya keturunan Kasultanan Yogyakarta Hamengkubowo turun temurun. Adalah
bupati Bojonegoro, R.T Sosrodingrat yang menikah dengan BRA Sosrodiningrat menurunkan trah
Hamengkubuwono ke IV hingga Hamengkubuwono ke X saat ini.
Bojonegoro ternyata mempunyai cerita yang luar biasa. Dan sejarah ini bukan mitos seperti
Anglingdarmo. Karena itu, selayaknya, generasi muda memahami sejarah asal usul Bojonegoro. Agar kita
tak lagi menjadi generasi yang ahistoris. Generasi yang asal percaya mitos. Membaca sejarah yang benar
berarti kita membaca peta kehidupan kita mendatang. (ef)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:298
posted:2/2/2011
language:Indonesian
pages:1
Description: anglingdarmo is folklore, it's a my ideas about anglingdarmo