Docstoc

SDM dan kebudayaan _1_

Document Sample
SDM dan kebudayaan _1_ Powered By Docstoc
					                            Laporan Notulensi Seminar




Tema                 : Seminar Perecepatan Pencapaiaan Tujuan MDG’S yang terkait
                     dengan “Universal Access To Reproductive Health “

Tanggal             : Kamis, 11 Juni 2009

Tempat              : Ruang Rapat SS (1-2)

Waktu               : Jam 08.30 s/d selesai

Pemateri             : Tim BPK dan Biro Humas

Peserta rapat       : UKE I dan II serta undangan

Notulen             : Mba Widya dan Wahyudi

Pemaparan :

Seminar Perecepatan Pencapaiaan Tujuan MDG’S yang terkait dengan “Universal Access
To Reproductive Health “

Ruang SS 1-2

Pembukaan: Deputi Bidang SDM dan kebudayaan

Tahun 2009-1014, pemerintah menjalankan RPJMN untuk pencapaian sasaran 2025,
membangun bangsa indonesia yang berday asaing dan peningkatan SDM, dan tingkat
kesejahteraan menjadi lebih baik, salah satu yang dilakukan adalah melakukan
revitalisasi program KB yaitu untuk mengendalikan kelahiran

Moderator: Direktur KP3A Bappenas

DR. Ida Bagus Permana(Kapuslit Pengembangan KB dan KR BKKBN)

Topik Bahasan: Target dan Perkembangan Pencapaian target 5b MDG’s “Universal
Access to Reproductive Health: Adolescent Birth Rate, Contraceptive Prevalence
Rate/CPR( Semua cara dan cara modern), Unmet Need (total, spacing dan limiting)

       Sasaran 2015 untuk CPR Modern (RPJM 2010-2014)= 65%
      Trend CPR (All Method )tahun 2002 – 2007 berada pada kisaran nilai yang
       stagnan (60,3 – 61,4)
      CPR (all method) by province, SDKI 2007, rata-rata nasional = 61, 4%, bengkulu
       memiliki nilai rata-rata tertinggi dan maluku dengan rata-rata terendah
      CPR (modern) menurut provinsi, SDKI 2007, rata-rata Nasional= 57,4%,
       bengkulu memiliki rata-rata nilai tertinggi dan Papua dengan rata-rata nilai
       terendah
      Most Popular contarceptive use by residence SDKI 2007 yaitu secara berturut-
       turut: Injectables, Pill dan IUD.   Dalam trends in contraceptive use, nilai
       pemakaian IUD semakin turun dari tahun ketahun yaitu 13-5%, padahal IUD
       adalah tools yang paling efektif dan efisien. Perserta KB aktif lama cenderung
       menggunakan private medical dibanding public, dan peserta KB baru aktif
       bisasanya menggunakan public medical dalam berKB
      Persebaran Unmet need menurut propinsi, hasil SDKI 2007, dengan rata-rata
       nasional 9,1 %, Babel berada pada posisi teratas nilai Unmet terendah yaitu
       3,2% dan Maluku pada posisi terbawah yaitu 22, 4%
      Alasan Unmet Need, SDKI 2007 Stopping, diantaranya: efek samping, menentang
       untuk memakai,t idak nyaman, suami tidak di rumah, kurang akses, mahal,
       jarang hubungan, dan lainnya
      Alasan Unmet Need, SDKI 2007, spacing: efek samping, menentang untuk
       memakai, tidak nyaman, suami tidak dirumah, kurang akses, mahal, jarang
       hubungan dan lainnya.
      Unmet Need menurut kelompok umur yaitu semakin lebih tua maka biasanya
       semakin membatasi
      Unmet Need menurut pendidikan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan
       semakin rendah unmet need

Kesimpulan:

      CPR Modern 2007= 57%, untuk mencapai sasaran MDG (RPJMN) sebesar 65%
       perlu peningkatan pemakai sekitar 1% point pertahun (tugas yang sangat berat
       dan perlu revitalisasi)
      “Gap” capaian CPR menurut provinsi masih sangat besar (24,5% sd 70,4%),
       perlu upaya keras dan sungguh-sungguh untuk mengurangi kesenjangan
       tersebut
      Angka unmet need masih cukup tinggi dan bahkan meningkat (8,6% sd 9,1%),
       penggarapan unmet need harus menjadi prioritas dalam rangka mencapai
       sasaran MDG dan RPJMN sekaligus meningkatkan capaian CPR
      ‘Gap” capaian Unmet Need menurut provinsi juga sangat besar (3,2% sd 22,4%),
       perlu upaya kera dan sungguh-sungguh untuk mengurangi kesenjangan ini,
       dengan meningkatkan kualitas dan akses pelayanan sampai ke daerah galciltas
      Tren ASFR (15-19) dan remaja yang telah melahirkan/mengandung anak
       pertama cenderung menurun sesuai harapan. Namun perlu upaya yang serius
       agar kecenderungan ini dapat berlanjut dan turun lebih tajam. Remaja yang
       sudah terlanjur kawin diharapkan dapat menunda kelahiran anak pertama.




Dr. Wicaksono, M.kes (badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional)

Topik Bahasan: Upaya BKKBN Dalam Rangka pencapaian Tujuan Millenium
Development Goals (MDG’s): “Universal Access to Reproductive Health”, permasalahn
dan tantangan, rekomendasi      dalam rangka percepatan pencapaian tujuan (arah
kebijakan, strategi, kegiatan, indikator keberhasilan, mekanisme pelaksanaan)

Upaya yang telah dilakukan dalam pelaksanaan program

    Peningkatan akses untuk: segmen sasaran dan segmen wilayah
    Peningkatan kualitas melalui: promosi, sosialisasi dan KIE MKJP, Kompetensi
       keterampilan provider (pelatihan, orientasi, refreshing), Sarana dan Prasarana
       Fasyankes Pemerintah dan swasta, Pemberian pelayanan (statis dan mobile)
       sesuai dengan SOP
    Peningkatan Kemitraan melalui: memperluas jejaring kerja dengan RS/klinik
       dalam pelayanan pasca persalinan dan pasca keguguran serta dengan media
       massa

Permasalahan dan tantangan
      Akses dan kualitas informasi keseharan reproduksi remaja masih kurang (PIK-
       KRR tahap Tumbuh 91%
      KIE, pengerakkan dan pelayanan KB kurang optimal
      Lebih dari 50% peserta KB masih menggunakan non metode Kontrasepsi Jangka
       Panjang (MKJP)
      Wanita hamil usia > 35 th 26,8% dan jumlah anak lebih dari 3 (resiko ganda)
      Peserta KB baru dari peserta KB konversi/ganti cara
      Peta Unmet need (wilayah dan sasaran)kurang jelas
      Ketimpangan ketersediaan, distribusi dan informasi alokon
      Promosi dan penggerakkan penanggulangan kesehatan reproduksi (HIV/Aids,
       infertilitas, kesehatan seksual/Dual Proteksi)belum optimal

Arah Kebijakan:

      Peningkatan kualitas dan kualitas PIK KRR
      Peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB dan KR
      Peningkatan promosi dan pelayanan metode KB jangka panjang
      Penajaman pelayanan KB pada segmen PUSMUPAR, miskin dan wilayah khusus

Program:

      Keluarga Berencana
      Kesehatan reproduksi Remaja
      Ketahanan dan pemberdayaan Keluarga
      Penguatan Pelembagaan Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera

Kegiatan KB KR

      Kesehatan Reproduksi Remaja: meningkatkan akses dan kualitas informasi ttg
       KRR kepada remaja
      Jaminan dan pelayanan KB: Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan KB
      Partisipasi Pria: meningkatkan akses dan kualitas pelayanan KB pria
      Kelangsungan Hidup Ibu, Bayi dan Anak: Meningkatkan Pelayanan KB Pasca
       Persalinan dan Pasca Keguguran di Fasyankes Pemerintah/swasta
      Penanggulangan Masalah Kesehatan Reproduksi: meningkatkan kesehatan
       seksual, HIV/ AIDS, pencegahan kanker alat reproduksi dan infertil

Rekomendasi

      Membuat peta sasaran Unmet Need per kab/kota( Mini survey) dan hasil
       pendataan keluarga (penggarapan operasional)
      Optimalisasi Program KB Rumah Sakit, jalur DBS, pelayanan PUSKESMAS dan
       Bidan Desa
      Konversi PA yang tidak ingun anak lagi dan 80% PA hormonal diarahkan ke
       MKJP (MOP, MOW dan IUD)
      Penguatan Penggerakkan sasaran dan didukung kemitraan (SKPD-KB, TNI,
       POLRI, IBI, IDI, Organisasi Keagamaan, Organisasi Kemasyarakatan, dan mitra
       kerjaj terkait lainnya)
      Tingkatkan kualitas pelayanan sesuai SOP
      Pembinaan dan monitoring pasca pelayanan (PA)
      Peningkatan cakupan dan kualitas pelaporan PB dan PA

Dr Sri Hermianti M.sc

(Direktur Bina Kesehatan Ibu, Depkes)

      Komitmen pemerintah (UUD 28h ayat 1), salah satunya berkaitan dengan
       penurunan AKI dan kesehatan reproduksi, serta komitmen Indonesia sehat
       2010, yaitu lingkungan sehat, perilaku hidup sehat, pelayanan kesehatan yang
       bermutu secara adil dan merata

Revitalisasi pelayanan kesehatan :

      Supply side: revitalisasi puskesmas, penguatan pelayanan kesehatan DTPK dan
       Save papua
      Behavior side: peran BKKBN
      Financial side: peningkatan tingkat ekonomi masyarakat
      Community empowermen side
      Partnership

Permasalahan program KB:
    Unmet Need masih cukup tinggi
    Drop Out KB masih cukup tinggi
    Rendahnya partisipasi pria dalam ber-KB

Analisa SWOT:

Kekuatan:

      Ada pengelola KB di semua Dinkes Kab/Kota
      Tersedia buku-buku pedoman pelayanan KB
      Beberapa SK Menkes (ketersediaan alokon, dan jamkesmas)
      Seluruh desa mnjadi desa siaga 2009

Kelemahan:

      Kurang ‘sense of belonging’
      Kemampuan manajemen lemah
      Kurang alokasi dana
      Data dan info tidak konsisten
      Alokasi bagi non miskin kurang
      Kualitas pelayanan KB masih rendah

Peluang:

      Desentralisasi
      Kerjasama dengan donor agen, orang profesi dan LSM
      Peran sektor swasta cukup tinggi.

Ancaman:

      Belum jadi prioritas di daerah
      Peningkatan keluarga miskin
      Mitos keliru tentang alokon
      Pemakaian alokon jangka pendek meningkat
      Unmet need tinggi

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:71
posted:1/31/2011
language:Indonesian
pages:6