islami

Document Sample
islami Powered By Docstoc
					               SERI TAUJIHAT RI’AYAH MA’NAWIYAH KADER PK-SEJAHTERA 1424 H
                                 TAUJIHAT DUA PEKANAN
                                             Seri 07/67
                 Rumah Tangga Sebagai Cermin
                      Kepribadian Kader


    Masyarakat Islam bagaikan bangunan kokoh. Usrah (keluarga) bukan saja sebagai sendi terpenting
dalam bangunan tersebut, tetapi juga menjadi unsur pokok bagi eksistensi umat Islam secara
keseluruhan. Oleh sebab itu, agama Islam memberikan perhatian khusus masalah pembentukan
keluarga ini.
    Perhatian istimewa terhadap pembentukan usrah tersebut tercermin dalam beberapa hal, yaitu:
    Pertama, Al-Qur’an menjabarkan cukup terinci tentang pembentukan keluarga ini. Ayat-ayat
tentang pembinaan keluarga termasuk paling banyak jumlahnya dibandingkan dengan ayat-ayat yang
menjelaskan masalah lain. Al-Qur’an menjelaskan tentang keutamaan menikah, perintah menikah,
pergaulan suami-istri , menyusui anak, dan sebagainya.
    Kedua, sejak dini As-Sunah telah mengajarkan takwinul usrah yang shalihah dengan cara memilih
calon mempelai yang shalihah. Rasulullah SAW bersabda, “Pilihlah tempat untuk menanam benihmu
karena sesungguhnya tabiat seseorang bisa menurun ke anak”
    Rasulullah SAW suami teladan
    Rasulullah SAW sejak masa remaja sudah terkenal sebagai orang yang bersih dan berbudi mulia.
Ketika beliau menginjak umur 25 tahun menikahi Khadijah binti Khuwalid. Sejak saat itulah beliau
mengarungi kehidupan rumah tangga bahagia penuh ketenteraman dan ketenangan.
    Rasulullah SAW amat menghormati wanita, lebih-lebih istrinya. Beliau bersabda, “Tidaklah orang
yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia dan tidaklah yang menghinakannya kecuali orang
yang hina”. Menghormati istri adalah kewajiban suami. Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan agar
menghormati dan berbuat baik terhadap istri. Kita tidak mendapatkan kata-kata dalam Al-Qur’an yang
mengharuskan untuk berbuat baik dalam mempergauli istri, baik dalam keadaan marah atau tidak.
Kecuali, ditekankan kewajiban berbuat ma’ruf dan ihsan terhadap istri dan dilarang menyakiti atau
menyiksanya.
    Perbuatan baik ini tidak terbatas pada perlakuan sopan terhadap istri saja tapi mencakup ketabahan
dan kesabaran ketika menghadapi kemarahan istri sebagian kasih sayang atas kelemahannya.
Rasulullah SAW menyatakan, “Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, bila kamu luruskan (dengan
keras) maka berarti mematahkannya”. (Al-Hadits)
    Rasulullah SAW amat sayang terhadap istri-istrinya. Beliau amat marah bila mendengar seorang
wanita dipukul suaminya. Pernah datang seorang wanita mengadu kepada Rasulullah SAW bahwa
suaminya telah memukulnya. Maka beliau berdiri seraya menolak perlakuan tersebut dengan bersabda,
“Salah seorang dari kamu memukul istrinya seperti memukul seorang budak, kemudian setelah itu
memeluknya kembali, apakah dia tidak merasa malu?”
    Ketika Rasulullah SAW mengizinkan memukul istri dengan pukulan yang tidak membahayakan,
dan setelah diberi nasihat dan ancaman secukupnya. Beliau didatangi 70 wanita dan mengadu bahwa
mereka dipukuli suami. Rasulullah SAW berpidato seraya berkata, “Demi Allah, telah banyak wanita
berdatangan kepada keluarga Muhammad untuk mengadukan suaminya yang sering memukulnya.


                                                  1
Demi Allah, mereka yang suka memukul istri tidaklah aku dapatkan sebagai orang-orang yang terbaik
di antara kamu sekalian.”
    Rasulullah SAW merupakan contoh indah dalam kehidupan rumah tangganya. Beliau sering
bercanda dan bergurau dengan istri-istrinya. Dalam satu riwayat beliau balapan lari dengan Aisyah,
terkadang beliau dikalahkan dan pada hari lain beliau menang. Beliau senantiasa menegaskan
pentingnya bersikap lembut dan penuh kasih sayang kepada istrinya. Kita banyak menjumpai hadits
yang seirama dengan hadits berikut, “Orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik
akhlaqnya dan paling lembut pada keluarganya”. Riwayat lain, “Sebaik-baik di antara kamu adalah
yang paling baik pada keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku”.
    Di antara yang menunjukkan keteladanan beliau dalam menghormati istri adalah menampakkan
sikap lembut, penuh kasih sayang, tidak mengkritik hal-hal yang tak berguna dikritik, memaafkan
kekeliruannya, dan memperbaiki kesalahannya dengan lembut dan sabar Bila ada waktu senggang
beliau ikut membantu istrinya dalam mengerjakan kewajiban rumah tangganya,
    Aisyah pernah ditanya tentang apa yang pernah dilakukan Rasulullah SAW di rumahnya. Beliau
menjawab, “Rasulullah mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, dan bila datang waktu shalat dia
pergi shalat.”
    Rasulullah SAW memiliki kelapangan dada dan sikap toleran terhadap istrinya. Bila istrinya salah
atau marah, beliau memahami betul jiwa seorang wanita yang sering emosional dan berontak. Beliau
memahami betul bahwa rumah tangga adalah tempat yang paling layak dijadikan contoh bagi seorang
dai, yaitu rumah tangga yang penuh kecintaan dan kebahagiaan. Kehidupan rumah tangga harus
dipenuhi gelak tawa, kelapangan dada, dan kebahagiaan agar tidak membosankan.
    Bila terpaksa harus bertindak tegas, beliau lakukan itu disertai dengan kelembutan dan kerelaan.
Sikap keras dan tegas untuk mengobati keburukan dalam diri wanita sedangkan kelembutan dan kasih
sayang untuk mengobati kelemahan dan kelembutan dalam dirinya.
    Khadijah sebagai istri teladan.
    Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita bangsawan Quraisy yang kaya. Dia diberi gelar
wanita suci di masa jahiliyah, juga di masa Islam. Banyak pembesar Quraisy berupaya meminangnya,
akan tetapi beliau selalu menolak. Beliau pedagang yang sering menyuruh orang untuk menjualkan
barang dagangannya keluar kota Mekkah.
    Ketika beliau mendengar kejujuran Muhammad SAW, ia menyuruh pembantunya dan meminta
Muhammad menjualkan barang dagangannya ke Syam bersama budak laki-laki bernama Maisyarah.
Nabi Muhammad menerima permohonan itu dengan mendapatkan keuntungan besar dalam perjalanan
pertama ini.
    Setelah mendengar kejujuran dan kebaikan Muhammad, Khadijah tertarik dan meminta kawannya,
Nafisah binti Maniyyah, untuk meminangkan Muhammad. Beliau menerima pinangan itu dan
terjadilah pernikahan ketika beliau menginjak 25 tahun sedang Khadijah berumur 40 tahun.
    Khadijah sebagai ummul mukminin telah menyiapkan rumah tangga yang nyaman bagi Nabi SAW.
Sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika beliau sering berkhalwat di gua Hira,
Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi mengajaknya masuk Islam.
Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang mendukung Rasulullah SAW dalam melaksanakan
dakwahnya baik dengan jiwa, harta, maupun keluarganya. Perikehidupannya harum semerbak wangi,
penuh kebajikan, dan jiwanya sarat dengan kehalusan.
    Rasulullah SAW pernah menyatakan dukungan ini dengan sabdanya, ”Khadijah beriman kepadaku
ketika orang-orang ingkar, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku dan dia
menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku
anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selainnya”. (H.R. Imam Ahmad dalam kitab
Musnadnya)

                                                 2
    Khadijah amat setia dan taat kepada suaminya, bergaul dengannya, siap mengorbankan
kesenangannya demi kesenangan suaminya dan membesarkan hati suaminya di kala merasa ketakutan
setelah mendapatkan tugas kenabian. Beliau gunakan jiwa dan semua harta miliknya untuk mendukung
Rasul dan kaum Muslimin. Pantaslah kalau beliau dijadikan sebagai istri teladan pendukung risalah
dakwah Islamiyah.
    Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau
gelisah, menolongnya di waktu-waktu sulit, membantunya dalam menyampaikan risalah, ikut serta
merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad, dan menolongnya dengan jiwa dan hartanya.
    Rasulullah SAW senantiasa menyebut-nyebut kebaikan Khadijah selama hidupnya sehingga ini
pernah membuat Aisyah cemburu kepada Khadijah yang telah tiada. Dengan ketaatan dan pengorbanan
yang luar biasa ini, pantas kalau Allah SWT menyampaikan salam lewat malaikat Jibril seperti yang
pernah diungkapkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, “Jibril datang kepada Nabi lalu berkata,
wahai Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan dan
minuman, apabila datang kepadamu sampaikan salam dari Tuhannya dan beritahukan kepadanya
tentang sebuah rumah di surga, terbuat dari mutiara yang tiada suara gaduh di dalamnya dan tiada
kepenatan.” (H.R Bukhari)
    Itulah sekelumit tentang sosok Khadijah sebagai seorang istri yang layak dijadikan teladan bagi
wanita-wanita sekarang dalam mendukung suami melaksanakan kewajiban dakwah dan menyampaikan
risalah Islam .
    Ciri-ciri rumah tangga kader dakwah
  1. Sendi bangunan keluarga kader adalah taqwallah. Taqwa merupakan sendi yang kuat untuk
       bangunan usrah Islamiyah. Memilih istri harus sesuai dengan taujih Rasulullah, yaitu
       mengutamakan sisi agama.
  2. Kebahagiaan rumah tangga bukanlah berdasarkan atas kesenangan materi saja tapi kebahagiaan
       hakiki harus muncul dari dalam jiwa berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. Bila taqwa telah
       menjadi sendi utama, maka kekurangan material apapun akan menjadi ringan. Dengan taqwa
       akan memunculkan tsiqah antara keduanya sehingga akan melahirkan ketenteraman dan
       ketenangan. Dengan ketaqwaan, hubungan antara suami dan istri serta anak-anaknya akan
       menjadi indah karena semua akan sadar akan tanggung jawabnya dan hak-haknya.
  3. Rumah yang dibangun untuk keluarga kader seharusnya sederhana, mengutamakan dharuriyyat
       (prioritas), mengurangi hal-hal yang tersier, dan tidak ada israf.
  4. Dalam masalah pakaian dan makanan hendaknya menjauhi israf, mewah-mewahan, tapi justru
       harus menekankan masalah kesederhanaan, kebersihan, menghindari yang haram. Rumah tangga
       kader lebih mengutamakan memperbanyak sedekah untuk fakir dan miskin. Nasihat pada setiap
       kader dalam hal makanan harus selalu halal dan baik, menjauhi yang haram dan yang syubhat
  5. Sekitar anggaran rumah tangga haruslah menjadi contoh . Dalam hal ini kita harus:
         a. mencari rezki yang halal dan baik serta menjauhi yang haram. Sebab, semua daging yang
             lahir dari barang haram maka api neraka lebih berhak untuk membakarnya.
         b. Perlu ada kesepakatan antara suami dan istri dalam menentukan anggaran belanja rumah
             tangga, untuk apa saja penggunaan anggaran tersebut. Yang jelas, pengeluaran tidak boleh
             melebihi penghasilan
         c. Mencukupkan diri dengan hal-hal yang dharuriyyat dan menjauhi hal-hal yang sifatnya
             kamaliyat semampu mungkin.
         d. Memperhatikan hak Allah SWT seperti menunaikan zakat, menunaikan ibadah haji kalau
             sudah mampu. Dalam rumah tangga diutamakan bila mampu menyediakan kotak khusus
             untuk sedekah. Wallahu a’lam.

                                                 3
                                                              -

            Seri Taujihat Ri’ayah Ma’nawiyah terdiri dari Khithab Qiyadi, Taujihat Lailatul Katibah dan Taujihat Dua Pekanan.
                                         Taujihat tersedia dalam bentuk audio, vcd dan tulisan.
        Taujihat Ri’ayah Ma’nawiyah terbit secara berkala dalam rangka penyiagaan kader menghadapi agenda Dakwah 1424 H.
                                                      kaderisasi@pk-sejahtera.org



Masyarakat Islam bagaikan bangunan kokoh. Keluarga bukan saja sebagai sendi terpenting dalam bangunan
tersebut, tetapi uga menjadi unsur pokok bagi eksistensi umat Islam secara keseluruhan. Karena itu, agama
Islam memberikan perhatian khusus masalah pembentukan keluarga.
Perhatian istimewa terhadap pembentukan keluarga tersebut tercermin dalam beberapa hal, yaitu:
Pertama, Al-Qur’an menjabarkan cukup terinci tentang pembentukan keluarga ini. Ayat-ayat tentang
pembinaan keluarga termasuk paling banyak jumlahnya dibandingkan dengan ayat-ayat yang menjelaskan
masalah lain. Al-Qur’an menjelaskan tentang keutamaan menikah, perintah menikah, pergaulan suami-istri,
menyusui anak, dan sebagainya.
Kedua, sejak dini As-Sunah telah mengajarkan takwinul usrah yang shalihah dengan cara memilih calon
mempelai yang shalihah. Rasulullah saw. bersabda, “Pilihlah tempat untuk menanam benihmu karena
sesungguhnya tabiat seseorang bisa menurun ke anak.”

Rasulullah Suami Teladan

Rasulullah saw. sejak masa remaja sudah terkenal sebagai orang yang bersih dan berbudi mulia.
Rasulullah saw. amat menghormati wanita, lebih-lebih istrinya. Beliau bersabda,
“Tidaklah orang yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia; dan tidaklah yang menghinakannya
kecuali orang yang hina.”
Menghormati istri adalah kewajiban suami. Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan agar menghormati dan
berbuat baik terhadap istri. Kita tidak mendapatkan kata-kata dalam Al-Qur’an yang mengharuskan untuk
berbuat baik dalam menggauli istri, baik dalam keadaan marah atau tidak. Kecuali, ditekankan kewajiban
berbuat ma’ruf dan ihsan terhadap istri dan dilarang menyakiti atau menyiksanya.
Pernah datang seorang wanita mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa suaminya telah memukulnya. Maka
beliau berdiri seraya menolak perlakukan tersebut dengan bersabda,
“Salah seorang dari kamu memukuli istrinya seperti memukul seorang budang, kemudian setelah itu
memeluknya kembali, apakah dia tidak merasa malu?”
Rasulullah saw. merupakan contoh indah dalam kehidupan rumah tangganya. Beliau sering bercanda dan
bergurau dengan istri-istrinya. Dalam satu riwayat beliau balapan lari dengan Aisyah, terkadang beliau
dikalahkan dan pada hari lain beliau menang. Beliau senantiasa menegaskan pentingnya sikap lemah lembut
dan penuh kasih sayang kepada istri. Kita jumpai banyak hadits yang seirama dengan hadits berikut,
“Orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lembut pada
keluarganya.”
Riwayat lain,
“Sebaik-baik di antara kamu adalah yang paling baik pada keluarganya dan aku adalah yang paling baik
terhadap keluargaku.”
Di antara yang menunjukkan keteladanan beliau dalam menghormati istri adalah menampakkan sikap
lembut, penuh kasih sayang, tidak mengkritik hal-hal yang tidak berguna untuk dikritik, memaafkan
kekeliruannya, dan memperbaiki kesalahannya dengan lembut dan sabar. Bila ada waktu senggang beliau
ikut membantu istrinya dalam mengerjakan kewajiban rumah tangganya.
Aisyah pernah ditanya tentang apa yang pernah dilakukan Rasulullah saw. di rumahnya, beliau menjawab,
“Rasulullah mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, dan bila datang waktu shalat, dia pergi shalat.”

                                                                  4
Rasulullah saw. memiliki kelapangan dada dan sikap toleran terhadap istrinya. Bila istrinya salah atau
marah, beliau memahami betul jiwa seorang wanita yang sering emosional dan berontak. Beliau memahami
betul bahwa rumah tangga adalah tempat yang paling layak dijadikan contoh bagi seorang muslim adalah
rumah tangga yang penuh cinta dan kebahagiaan. Kehidupan rumah tangga harus dipenuhi gelak tawa,
kelapangan hati, dan kebahagiaan agar tidak membosankan.
Bila terpaksa harus bertindak tegas, Rasulullah saw. melakukannanya dengan disertai kelembutan dan
kerelaan. Sikap keras dan tegas untuk mengobati keburukan dalam diri wanita, sedangkan kelembutan dan
kasih sayang untuk mengobati kelemahan dan kelembutan dalam dirinya.

Khadijah Istri Teladan

Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita bangsawan Quraisy yang kaya. Dia diberi gelar wanita suci di
masa jahiliyah, juga di masa Islam. Banyak pembesar Quraisy berupaya meminangnya, tetapi ia selalu
menolak. Ia pedagang yang sering menyuruh orang untuk menjualkan barang dagangannya keluar kota
Mekkah.
Ketika mendengar tentang kejujuran Muhammad saw., ia menyuruh pembantunya mendatangi dan
meminta Muhammad menjualkan barang dagangannya ke Syam bersama budak lelaki bersama Maisyarah.
Nabi Muhammad menerima permohonan itu dan mendapatkan keuntungan besar dalam perjalanan
pertama ini.
Setelah mendengar kejujuran dan kebaikan Muhammad, Khadijah tertarik dan meminta kawannya, Nafisah
binti Maniyyah, untuk meminangkan Muhammad. Beliau menerima pinangan itu dan terjadilah pernikahan
ketika beliau berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.
Khadijah sebagai Ummul Mukminin telah menyiapkan rumah tangga yang nyaman bagi Nabi Muhammad
saw. Sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika beliau sering berkhalwat di Gua Hira.
Khadijah adalah wanita pertama yang beriman ketika Nabi mengajaknya masuk Islam. Khadijah adalah
sebaik-baiknya wanita yang mendukung Rasulullah saw. dalam melaksanakan dakwahnya, baik dengan jiwa,
harta, maupun keluarganya. Perikehidupannnya harum semerbak wangi, penuh kebajikan, dan jiwanya sarat
dengan kehalusan.
Rasulullah saw. pernha menyatakan dukungan ini dengan sabdanya,
“Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar. Dia membenarkanku ketika orang-orang
mendustakanku. Dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah
mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagku anak dari selainnya.” (Imam Ahmad dalam kitab
Musnad-nya)
Khadijah amat setia dan taat kepada suaminya, bergaul dengannya, siap mengorbankan kesenangannya
demi kesenangan suaminya, dan membesarkan hati suaminya di kala merasa ketakutan setelah
mendapatkan tugas kenabian. Ia gunakan jiwa dan semua hartanya untuk mendukung Rasul dan kaum
muslimin. Pantaslah kalau Khadijah dijadikan sebagai istri teladan pendukung risalah dakwah Islam.
Khadijah mendampingi Rasulullah saw. selama seperempat abad. Berbuat baik di saat Rasulullah gelisah.
Menolong Rasulullah di waktu-waktu sulit. Membantu Rasulullah dalam menyampaikan risalah dan ikut
merasakan penderitaan pahit akibat tekanan dan boikot orang-orang musyrik Quraisy. Khadijah menolong
tugas suaminya sebagai Nabi dengan jiwa dan hartanya.
Rasulullah saw. senantiasa menyebut-nyebut kebaikan Khadijah selam hidupnya sehingga membuat Aisyah
cemburu. Dengan ketaatan dan pengorbanan yang luar biasa itu, pantaslah jika Allah swt. menyampaikan
salam lewat malaikat Jibril kepada Khadijah. Jibril datang kepada Nabi, lalu berkata,
“Wahai Rasulullah, ini Khadiah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan dan minuman,
apabila datang kepadamu sampaikan salam dari Tuhannya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah
rumah di surga, terbuat dari mutiara yang tiada suara gaduh di dalamnya dan tiada kepenatan.” (Bukhari)
Itulah Khadijah, sosok seorang istri yang layak dijadikan teladan bagi wanita-wanita yang mendukung
keshalehan dan tugas dakwah suaminya.


                                                     5
Ciri-ciri Rumah Tangga Muslim
1. Sendi bangunannya adalah ketakwaan kepada Allah swt. Takwa adalah sendi yang kuat bangunan
keluarga. Memilih suami/istri harus sesuai dengan arahan Rasulullah saw., yaitu utamakan sisi agamanya.
2. Kebahagiaan rumah tangga bukanlah berdasarkan kesenangan materi saja, sebab kebahagiaan sejati
muncul dari dalam jiwa yang takwa kepada Allah swt. Bila ketakwaan telah menjadi sendi utama, maka
kekurangan materi menjadi ringan. Ketakwaan yang ada di dalam dada pasangan suami-istri memunculkan
tsiqah (rasa saling percaya) dan akan melahirkan ketentraman serta ketentraman dalam hubungan suami-
istri. Hubungan antara anggota keluarga akan terasa indah karena semua sadar akan tanggung jawab dan
hak-haknya.
3. Rumah yang dibangun untuk keluarga seharusnya sederhana dan mengutamakan skala prioritas dengan
mengurangi hal-hal yang tertier dan berlebihan.
4. Dalam makanan dan berpakaian, seorang muslim amat sederhana, menekankan aspek kebersihan, dan
menghindari dari yang haram, sikap berlebihan (israf), dan bermewah-mewahan. Semua anggota keluarga
dipacu untuk memperbanyak berinfak dan bersedekah. Hindari syubhat, jauhi yang haram, itu moto mereka.
5. Anggaran rumah tangga dipenuhi dari rezeki yang halal dan baik. Sebab, daging yang terbentuk dari
daging haram akan dibakar oleh api neraka. Secara teknis perlu ada kesepakatan antara suami-istri dalam
menentukan besaran dan alokasi anggaran rumah tangga. Yang jelas, pengeluaran tidak boleh melebihi
penghasilan. Cukupi diri dengan hal-hal yang dibutuhkan, bukan memperbanyak daftar keinginan.
6. Perhatikan hak-hak Allah swt. Tunaikan zakat, menabung untuk pergi haji, sediakan kotak khusus untuk
sedekah bagi kemaslahatan umat




                                                   6

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:66
posted:1/31/2011
language:Indonesian
pages:6