Docstoc

modul

Document Sample
modul Powered By Docstoc
					                               BAB I
                            KURIKULUM
A. Pendahuluan

      Banyak definisi kurikulum yang satu dengan yang lain saling berbeda
 dikarenakan dasar filsafat yang dianut oleh para penulis berbeda – beda.
 Walaupun demikian ada kesamaan satu fungsi, yaitu bahwa kurikulum
 adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Di Indonesia tujuan
 kurikulum tertera pada Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional
 Tahun 1989 Bab I Pasal 1 disebutkan bahwa : Kurikulum adalah
 seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran
 serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
 belajar mengajar.
      Kurikulum yang terdiri atas yang satu dengan yang lain saling terkait
 adalah merupakan satu sistem, ini berarti bahwa setiap komponen yang
 saling terkait tersebut hanya mempunyai satu tujuan, yaitu tujuan
 pendidikan yang juga menjadi tujuan kurikkulum.
      Pada dasarnya kurikulum berisikan tujuan, metode, media evaluasi
 bahan ajar dan berbagai pengalaman belajar. Kurikulum yang disusun
 dipusat berisikan beberapa mata pelajaran pokok dengan harapan agar
 peserta didik diseluruh Indonesia mempunyai standar kecakapan yang
 sama. Kurikulum tersebut dinamai Kurikulum Nasional ( KurNas ) atau
 kurikulum inti, sedang evaluasinya dilaksanakan dengan ebtanas,
 kurikulum yang lain yang disusun di daerah – daerah disebut kurikulum
 muatan local, evaluasinya dilaksanakan secara Ebta.

B. Pengertian Kurikulum


      Sebelum membicarakan kurikulum, terlebih dahulu kita perlu
 memahami apa yang dimaksud dengan kurikulum. Setiap orang, kelompok
 masyarakat, atau bahkan ahli pendidikan agar dapat mempunyai penafsiran
 yang berbeda tentang pengertian kurikulum. Berdasarkan studi yang telah
 dilakukan oleh banyak ahli, dapat dasimpulkan bahwa pengertian
 kurikulum dapat ditinjau dari dua sisi yang berbeda, yakni menurut
 pandangan lama dan pandangan baru.
     Pandangan lama, atau sering juga disebut pandangan tradisional,
 merumuskan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang
harus ditempuh murid untuk memperoleh ijazah.
    Pengertian tadi mempunyai implikasi sebagai berikut:
 1. Kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran. Mata pelajaran
    sendiri pada hakikatnya adalah pengalaman nenek moyang di masa
    lampau. Berbagai pengalaman tersebut dipilih, dianalisis, serta
    disusun secara sistematis dan logis, sehingga muncul mata pelajaran
    seperti sejarah, ilmu bumi, ilmu hayat, dan sebagainya.
 2. Mata pelajaran adalah sejumlah informasi atau pengetahuan, sehingga
    penyampaian mata pelajaran pada siswa akan membentuk mereka
    menjadi manusia yang mempunyai kecerdasan berpikir.
 3. Mata pelajaran menggambarkan kebudayaan masa lampau. Adapun
    pengajaran berarti penyampaian kebudayaan kepada generasi muda.
 4. Tujuan mempelajari mata pelajaran adalah untuk memperoleh ijasah.
    Ijasah diposisikan sebagai tujuan, sehingga menguasai mata pelajaran
    berarti telah mencapai tujuan belajar.
 5. Adanya aspek keharusan bagi setiap siswa untuk mempelajari mata
    pelajaran yang sama. Akibatnya, faktor minat dan kebutuhan siswa
    tidak dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum.
 6. Sistem penyesuaian yang digunakan oleh guru adalah system
    penuangan (imposisi). Akibatnya, dalam kegiatan belajar gurulah
    yang lebih banyak bersikap aktif, sedangkan siswa hanya bersifat
    pasif belaka.
    Sebagai perbandingan, ada baiknya kita kutip pula pendapat lain,
    seperti yang dikemukakan oleh Romine (1954). Pandangan ini dapat
    digolongkan sebagai pendapat yang baru(modern), yang dirumuskan
    sebagai berikut :
           “curriculum is interpreted to mean all of the organized course,
    activities, and experiences which pupils have under direction of the
    school, whether in the classroom or not”
    1. Kurikulum sebagai Suatu Program Kegiatan yang Terencana
           Kurikulum berupaya menggabungkan ruang lingkup, rangkaian,
       interprestasi, keseimbangan subject matter, teknik mengajar, dan
       hal lain yang dapat direncanakan sebelumnya (Saylor, Alexander,
       dan Lewis,1986). Pada hakikatnya, kurikulum sebagai program
       kegiatan terencana (program of planned activities) memiliki
       rentang yang sangat luas, hingga terbentuk suatu pandangan yang
   menyeluruh. Di suatu pihak kurikulum dipandang sebagai suatu
   dokume tertulis (Beauchamp, 1981) dan di pihak lain, kurikulum
   dipandang sebagai rencana tidak tertulis yang terdapat dalam
   pikiran pihak pendidik(Taylor, 1970)
2. Kurikulum sebagai Hasil Belajar yang Diharapkan
      Beberapa penulis kurikulum (Johnson, 1977 dan Ponsner, 1982)
   menyatakan bahwa kurikulum seharusnya tidak dipandang sebagai
   aktivitas, tetapi difokuskan secara langsung pada berbagai hasil
   belajar yang diharapkan (intended learning outcomes).
3. Kurikulum sebagai Reproduksi Kultural (Cultural Reproduction)
       Sekolah bertugas memproduksi pengetahuan dan nilai-nilai
   yang penting bagi generasi penerus. Masyarakat, Negara, atau
   bangsa bertanggung jawab mengidentifikasi keterampilan (skill),
   pengetahuan (knowledge), dan berbagai apresiasiyang akan
   diajarkan. Beberapa contoh dari pandangan kurikulum sebagai
   reproduksi cultural ini adalah peristiwa patriotic dalam sejarah
   nasional, system ekonomi yang dominan (komunistik atau
   kapitalistik), berbagai konvensi kebudayaan, dan aturan adat
   istiadat (lores & folkways), serta nilai-nilai yang agama yang ada di
   berbagai sekolah yang bernaung di bawah lembaga keagamaan
   seperti parochial school dan sekolah-sekolah umum.
   Pengembangan semacam ini dimaksudkan untuk meneruskan nilai-
   nilai cultural kepada generasi penerus, melalui lembaga penerus.
4. Kurikulum sebagai Kumpulan Tugas dan Konsep Dikrit
       Pandangan ini berpendapat bahwa kurikulum merupakan satu
   kumpulan tugas dan konsep (discrete tasks and concept) yang
   harus dikuasai       siswa. Dalam hal ini, diasumsikan bahwa
   penguasaan tugas-tugas yang saling bersifat diskrit (berdiri sendiri)
   tersebut adalah untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah
   ditetapkan sebelumnya. Biasanya, tujuan yang dimaksud memiliki
   interprestasi behavioral yang spesifik, misalnya mempelajari suatu
   tugas baru atau dapat melakukan suatu yang lebih baik.
   Pendekataan ini berkembang dari program-program training dalam
   bisnis, indusrti, dan kemiliteran.
5. Kurikulum sebagai Agenda Rekonstruksi Sosial
     Pandangan    ini  berpendapat   bahwa   sekolah      harus
   mempersiapkan suatu agenda pengetahuan dan nilai-nilai yang
        diyakini dapat menuntun siswa memperbaiki masyarakat dan
        institusi kebudayaan, serta berbagai keyakinan dan kegiatan
        praktik yang mendukungnya.
     6. Kurikulum sebagai Currere
            Salah satu pandangan yang paling mutakhir terhadap dimensi
        kurikulum adalah pandangan yang menekankan pada bentuk kata
        kerja kurikulum itu sendiri, yaitu currere. Sebagai pengganti
        intepretasi dari etimologi arena pacu kurikulum.
C. Pengembangan Kurikulum Atas Dasar Lokasi

      Tingkat pengembangan kurikulum dapat dilaksanakan menurut
 lokasinya sebagai berikut.

 1. Pengembangan Kurikulum Tingkat Nasional

       Karena banyak ragamnya keadaan di Indonesia seperti geografis,
  demografi, adat istiadat, bahasa, kebudayaan, keadaan sosial, dan
  sebagainya,maka di Indonesia ada kurikulum nasional dan kurikulum
  lokal. Di sekolah – sekolah lingkungan Dinas Depdiknas, berbagai mata
  pelajaran yang kurikulumnya diberikan dari pusat kurikulum tersebut
  disebut kurikulum nasional, evaluasinya diselenggarakan dengan
  EBTANAS, sedang yang mengacu pada kurikulum lokal, evaluasinya
  diselenggarakan dengan EBTA.

       Proses yang demikian membutuhkan waktu lama dan bimbingan
  yang sabar dan bijak dan langsung. Oleh karenanya evaluasi outputnya
  tidak dapat dilaksanakan dengan tes sesaat, melainkan dengan cara
  mengikuti secara terus menerus secara individual.

       Pada tarap nasional pokja kurikulum biasanya mengembangkan
  berbagai komponen kurikulum penunjang, yang dijadikan dasar
  pelaksanaan untuk lembaga – lembaga pendidikan yang terkait. Adapun
  yang dikembangkan untuk kurikulum pendidikan tinggi misalnya : sistem
  jenjang dan program, sistem kredit, sistem administrasi, sistem
  bimbingan, sistem evaluasi dan sebagainya.

 2. Pengembangan Kurikulum Tingkat Lokal
       Salah satu sasaran pengembangan kurikulum tingkat lokal adalah
  penyusunan kurikulum muatan lokal. Sedang kegiatan lainya dapat
  berupa :
   Berbagai kegiatan penataran, seminar, KKG, KK, Kepsek, Penilik dan
     sebagainya yang diselenggarakan di lokal masing – masing lembaga
     pendidikan yang sesuai dengan situasi dan kondisinya.
   Berbagai kegiatan yang mendukung profesi kependidikan.
   Berbagai kegiatan proyek pendidikan yang bersifat lokal? Misalnya
     penyusunan kurikulum pendidikan pertanian, perikanan, peternakan,
     perkebunan, pertukangan dan sebagainya.

 3. Pengembangan Kurikulum Tingkat Sekolah

       Sesuai dengan namanya kurikulum tingkat sekolah, yang
  bertanggung jawab pada pengembangan tingkat ini adalah pimpinan
  lembaga ( Kepsek ) setempat.

 4. Pengembangan Kurikulum Tingkat Klas

       Kegiatan pengembangan kurikulum tingkat klas ini tergantung pada
  keinisiatipan guru. Meskipun kurikulum tertulis yang ada sangat bagus,
  teteapi kalau ada di tangan guru yang tidak berinisiatif hasilnya akan
  tidak memuaskan.



D. Model – Model Pengembangan Kurikulum

     Model adalah kontruksi yang bersifat teoretis dari konsep, berbagai
 model dalam pengembangan kurikulum secara garis besar adalah :
  a. Model Administratif
  b. Model dari Bawah ( Grass – Roats )
  c. Model Demonstrasi
  d. Model Beaucham
  e. Model Terbalik Hilda Taba
  f. Model Hubungan Interpersonal dari Rogers
  g. Model Action Research yang Sistematis

E. Fungsi Kurikulum
    Alexander Inglis, dalam bukunya Principle of Secondary Education
(1981), mengatakan bahwa kurikulum berfungsi sebagai fungsi
penyesuaian, fengsi pengintegrasian, fungsi diferensial, fungsi persiapan,
fungsi pemilihan, dan fungsi diagnostik.
1. Fungsi Penyesuaian (The Adjustive of Adaptive Function)
 Setiap individu harus bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungannya
 secara menyeluruh. Karena lingkungan senantiasa berubah dan bersifat
 dinamis, maka masing-masing individu pun harus memiliki kemampuan
 menyesuaikan diri secara dinamis pula. Di balik itu, lingkungan pun
 harus di sesuaikan dangan kondisi perorangan. Di sini letak fungsi
 kurikulum sebagai alat pendidik, sehingga individu bersifat well-
 adjusted.
2. Fungsi Integrasi (The Integrating Function)
 Kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi. Oleh
 karena individu sendiri merupakan bagian dari masyarakat, maka pribadi
 yang terintegrasi itu akan memberikan sumbangan dalam pembentukan
 atau pengintegrasian masyarakat.
3. Fungsi Diferensiasi (The Differentiating Function)
 Pada dasarnya, diferensiasi akan mendorong orang berfikir kritis dan
 kreatif, sehingga akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat.
 Akan tetapi, adanya diferensiasi tidak mengabaikan solidaritas soaial dan
 integrasi, karena diferensiai juga dapat menghindarkan terjadinya
 stagnasi sosial.
4. Fungsi Persiapan (The Propaedeutic function)
 Kurikulum berfungsi menyiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi
 lebih lanjut untuk suatu jangkauan yang lebih jauh, missal melanjutkan
 studi ke sekolah yang lebih tinggi atau persiapan belajar di dalam
 masyarakat.
5. Fungsi Pemilihan (The Selective Function)
 Perbedaan (diferensiasi) dan pemilihan (seleksi) adalah dua hal yang
 saling berkaitan. Pengakuan atas perbedaan berarti memberikan
 kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang di inginkan dan yang
 menarik minatnya. Kedua hal tersebut merupakan kebutuhan bagi
 masyarakat yang menganut system demokratis. Untuk mengembangkan
 berbagai kemampuan tersebut , maka kurikulum perlu disusun secara luas
 dan fleksibel.
6. Fungsi Diagnostik(The Diagnistic Function)
 Salah satu segi pelayanan pendidikan adalah membantu dan
 mengarahkan siswa untuk mampu memahami dan menerima dirinya,
 sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang di milikinya. Hal ini
 dapat di lakukan jika siswa menyadari semua kelemahannya dan
 kekuatan yang dimilikinya melalui proses ekspolari. Selanjutnya siswa
 sendiri yang memperbaiki kelemahan tersebut dan mengembangkan
 sendiri kekuatan yang ada. Fungsi ini merupakan fungsi diagnostic
 kurikulum dan membimbing siswa untuk dapat berkembang secara
 optimal.
    Berbagai fungsi kurikulum tadi dilaksanakan oleh kurikulum secara
 keseluruhan. Fungsi-fungsi tersebut memberikan pengaruh terhadap
 pertumbuhan dan perkembangan siswa, sejalan dengan arah filsafat
 pendidikanh dan tujuan pendidikan yang di harapkan oleh institusi
 pendidikan yang bersangkutan.
                                   BAB II
             KONSEP PERENCANAAN PENGAJARAN

A. Pengertian
      William H. Newman dalam bukunya Administrative Action
 Techniques of Organizatian management: Mengemukakan bahwa
 “Perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan
 mengandung rangkaian-rangkaian yang luas dan penjelasan-penjelasan dari
 tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-
 metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatanberdasarkan jadwal
 sehari-hari.”
     Terry (1993: 17) menyatakan bahwa perencanaan adalah menetapkan
 pekerjaan yang harus dilakukan oleh kelompok untuk mencapai tujuan
 yang digariskan.
      Banghart dan Trull, (1973)mengemukakan bahwa perencanaan adalah
 awal dari semua proses yang rasional dan mengandung sifat optimisme
 yang didasarkan atas kepercayaan bahwa akan dapat menghadapi berbagai
 macam permasalahan. Nana sudjana (2000: 61) mengatakan bahwa
 perencanaan adalah proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan
 tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang.
      Dalam konteks pengajaran, perencanaan dapat diartikan sebagai
 proses penyusun materi pelajaran, penggunaan media pengajaran, dan
 penilaian dalam suatu alokasi yang akan dilaksanakan pada masa tertentu
 untuk mencapai tujuanyang telah ditetapkan.
     Konsep perencanaan pengajaran dapat diliahat dari berbagai sudut
 pandang, yaitu:
     a.   Perencanaan pengajaran sebagai teknologi
     b.   Perencanaan pengajaran sebagai suatu sistem
     c.   Perencanaan pengajaran sebagai sebuah disiplin
     d.   Perencanaan pangajaran sebagai sains (science)
     e.   Perencanaan pengajaran sebagai sebuah proses
     f.   Perencanaan pengajaran sebagai sebuah realitas

B. Dimensi-dimensi Perencanaan
      Pertimbangan terhadap dimensi-dimensi perencanaan menurut
 harjanto (1997:5) memungkinkan diadakannya perencanaan komprehensif
 yang menalar dan efisien, yakni:
      1. Signifikansi
      2. Feasibilitas
      3. Relevansi
      4. Kepastian
      5. Ketelitian
      6. Adaptabilitas
      7. Waktu
      8. Monitoring
      9. Isi perencanaan

      Hidayat (1990:11) mengemukakan bahwa perangkat yang harus
 dipersiapkan dalam perencanaan pembelajaran antara lain:
      1. Memahami kurikulum.
      2. Menguasai bahan ajar.
      3. Menyusun program pengajaran.
      4. Melaksanakan program pengajaran.
      5. Menilai program pengajaran dan hasil proses belajar yang telah
         dilaksanakan.

C. Manfaat Perencanaan Pengajaran
      Perencanaan pengajaran juga dimaksudkan sebagai langkah awal
 sebelum proses pembelajaran berlangsung. Terdapat beberapa manfaat
 perencanaan pengajaran dalam proses belajar mengajar, yaitu:
      1. Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
      2. Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang dalam
         setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan.
      3. Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun
         unsur murid.
      4. Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap
         saat diketahui ketepatan dan kelambatan kerja.
      5. Untuk bahan penyusunan data agar terjadi kesinambungan kerja.
      6. Untuk menghemat waktu, tenaga, alat-alat dan biaya.

D. Desain Pembelajaran Berbasis Kompetensi
     Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan
 kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu yang
 sesuai dangan standart performasi yang telah ditetapkan. “ Competency
Based Education is geared Toward preparing individuals to perform
identified competency” (Schrag,1987,h 22).
     Rumusan ini menunjukan bahwa pendidikan mengacu pada upaya
peyiapan individu agar mampu melakukan perangkat kompetensi yang
diperlukan. Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus
mengandung empat unsur pokok, yaitu:
     1. Pemilihan kompetensi yang sesuai.
     2. Spesifikasi indikator-indikator evaluasi yang menentukan
         keberhasilan pencapaian kompetensi.
     3. Pengembangan sistem pengajaran.
     4. penilaian.
                       BAB III
                 MODEL PEMBELAJARAN
         DAN TEORI BELAJAR YANG MENDUKUNGNYA

Pengertian Model Pembelajaran

       Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang
digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas
atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat –
perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku – buku, film, komputer,
kurikulum, dan lain – lain ( Joyce, 1992: 4 ).
       Adapun soekamto, dkk (dalam Nurulwati, 2000: 10) mengemukakan
maksud dari model pembelajaran adalah: “Kerangka konseptual yang
melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengoganisasikan pengalaman
belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai
pedoman bagi para perancang pembalajaran dan para pangajar dalam
merencanakan aktifitas belajar mengajar.”
       Arends (1997:7) menyatakan “The term teching model refrens to a
particular approach to intuction that includes its goals, syntax, environment,
and mamagement system.” Istilah model pengajaran mengarah pada suatu
pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuanya, sintaksnya,
lingkunganya, dan sistem pengelolaanya.
       Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas
daripada strategi, metode atau prosedur. Model pengajaran mempunyai
empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode atau prosedur.
Ciri – ciri tersebut adalah :
           a. Rasional teoretik logis yang disusun oleh para pencipta atau
               para pengembangnya
           b. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (
               tujuan pembelajaran yang akan dicapai )
           c. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut
               dapat dilaksanakan dengan berhasil, dan
           d. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran
               itu dapat tercapai ( Kardi dan Nur 2000: 9 )

A. Model Pengajaran Langsung

     Model pengajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar
 yang dirancang khusus untuk menunjang proses balajar siswa yang
berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang
terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kajian yang
bertahap, selangkah demi selangkah ( Arends, 1997 ). Istilah lain model
pengajaran langsung dalam Arends (2001, 264) antara lain training model,
active teaching model, mastery teaching, explicit intruction.

Ciri – cirri model pengajaran langsung ( dalam Kardi & Nur, 2000: 3 )
adalah sebagai berikut :
 1. Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa
     termasuk prosedur penilaian belajar.
 2. Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran; dan
 3. Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan
     agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan
     berhasil.

Langkah – langkah Pembelajaran Model Pengajaran langsung
     Langkah – langkah pembelajaran model pengejaran langsung pada
dasarnya mengikuti pola – pola pembelajaran secara umum. Menurut Kardi
dan Nur (2000: 27-43), langkah – langkah pengajaran langsung meliputi
tahapan sebagai berikut.

a. Mempunyai Tujuan dan Menyiapkan Siswa
     Tujuan langkah awal ini untuk menarik dan memusatkan perhatian
  siswa, serta memotivasi mereka untuk berperan serta dalam pelajaran itu.

b. Menyampaikan Tujuan
    Siswa perlu mengetahui secara jelas, mengapa mereka berpartisipasi
 dalam suatu pelajaran tertentu, dan mereka harus mengetahui apa yang
 harus dapat mereka lakukan setelah selesai berperan serta dalam
 pelajaran itu. Penyampaian tujuan terhadap siswa dapat dilakukan guru
 melalui rangkuman rencana pembelajaran dengan cara menuliskanya
 dipapan tulis yang berisi tahap – tahap dan isinya, serta alokasi waktu
 yang disediakan dalam setiap tahap.

c. Menyiapkan Siswa
     Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa, memusatkan
  perhatian siswa pada pokok pembicaraan, dan mengingatkan kembali
  pada hasil balajar yang telah dimilikinya, yang relevan dengan pokok
  pembicaraan yang telah dipelajari.
d. Presentasi dan Demonstrasi
     Fase kedua pangajaran langsung adalah melakukan presentasi atau
 demonstrasi pengetahuan dan keterampilan. Kunci untuk berhasil adalah
 mempresentasikan informasi sejalas mungkin dan mengikuti langkah –
 langkah demonstrasi yang efektif.

e. Mencapai Kejelasan
     Hasil – kasil penelitian secara konsisten menunjukan bahwa
  kemampuan guru untuk meberikan informasi yamg jelas dan spesifik
  kepada siswa, mempunyai dampak yang positif terhadap proses balajar
  siswa. Sementara itu, para peneliti dan pengamat terhadap guru pemula
  dan belum berpengalaman menemukan banyak penjelasan yang kabur
  dan membingungkan. Hal ini pada umumnya terjadi pada saat guru tidak
  meguasai sepenuhnya isi pokok bahasan yang dikerjakanya, dan tidak
  menguasai teknik komunikasi yang jelas.

f. Melakukan Demonstrasi
     Pengajaran langsung berpegang teguh pada asumsi, bahwa sebagian
  besar yang dipelajari ( hasil belajar ) berasal dari mengamati orang lain.
  Belajar dengan meniru tingkah laku orang lain dapat menghemat waktu,
  menghindari siswa dari belajar melelui ” trial and error ”.

g. Mencapai Pemahaman dan Penguasaan
      Untuk menjamin agar siswa akan mengamati tingkah laku yang benar
  dan bukan sebalikny, guru perlu benar – benar memperhatikan apa yang
  terjadi pada setiap tahap demonstrasi ini berarti, bahwa jika guru
  menghendapi agar siswa – siwanya dapat malakukan sesuatu yang benar,
  guru perlu berupaya agar segala sesuatu yang didemonstrasikan juga
  benar.

h. Berlatih
     Agar dapat mendemonstrasikan sesuatu dengan benar diperlukan
 latihan yang intensif, dan memperhatikan aspek – aspek penting dari
 keterampilan atau konsep yang didemonstrasikan.

i. Memberikan Latihan Terbimbing
     Salah satu tahap penting dalam pengajaran langsung ialah cara guru
  melaksanakan dan mempersiapkan ” pelatihan terbimbing ”. Keterlibatan
  siswa secara aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi, membuat
  belajar berlangsung dengan lancar, dan memungkinkan                 siswa
  menerapkan konsep/ keterampilan pada situasi yang baru.

 j. Mengecek Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik
       Tahap ini kadang – kadang disebut juga dengan tahap resitasi, yaitu
   guru memberikan beberapa pertanyaan lisan atau tertulis kepada siswa
   dan guru memberikan respon terhadap jawaban siswa. Kegiatan ini
   merupakan aspek penting dalam pengajaran langsung, karena tanpa
   mengetahui hasilnya, latihan tidak banyak manfaatnya bagi siswa. Guru
   dapat menggunakan berbagai cara untuk memberikan umpan balik secara
   lisan, tes, dan komentar tertulis.

B. Model Pembelajaran Tematik

 a. Hakikat belajar tematik
       Belajar tematik didefinisikan sebagia suatu kegiatan belajar mengajar
   yang dirancang sekitar ide pokok (tema) dan melibatkan beberapa bidang
   studi (mata pelajaran ) yang berkaitan dengan tema. Pendekatan ini
   dilakukan oleh guru dalam usahanya untuk menciptakan konteks dalam
   berbagai jenis pengembangan yang terjadi sehingga apa yang dipelajari
   atau dibahas disajikan secara utuh dan menyeluruh, bukan bagia-bagian
   dari satu konsep yang utuh. Pappas (1995) mengatakan bahwa
   pembelajaran tematik
       Pembelajaran tematik diajarkan kepada siswa dikelas awal SD ( kelas
   1 sampai kelas 3) karena pada perkembangannya mereka masih melihat
   segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik). Pembelajaran tematik
   dimaksudkan untuk memberikan pengalaman menjadi lebih bermakna.

 b. Tahap-tahap pembelajaran tematik:
   Analisis standar isi dalam kurikulum, khususnyapada muatan standar
     kompetensi masing- masing mata pelajaran.
   Tentukan tema pembelajaran untuk mengikat standar kompetensi
     berbagi mata pelajaran tersebut menjadi sebuah ruang lingkup
     pembelajaranyang utuh, padu dan bermakna.
   Tentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar masing-masing
     mata pelajaran terkai yang terdapat didalam kurikulum sesuai degan
     tema yang telah ditentukan.
   Tentukan indikatior ketercapaian standar kompetensi standar sesuai
     dengan tema yang telah ditentkan.
    Berdasarkan indikator ketercapaina standar kompetensi dan
     kompetensi dasar, tentukan tujuan pembelajaran masing-msing mata
     pelajaran terkait sesuai dengan tema yang telah ditentukan.
    Rancanglah pembelajaran sesuai dengan dengan prosedur
     perencanaan mengajar yang meliputi materi, langkah-langkah
     pembelajaran, media, dan metode pembelajaran, sertya evaluasi.

 c. Karakteristik Pembelajaran Tematik
         Pembelajaran tematik memiliki karakteristik yang khas dengan
    pembelajaran lainnya. Kegiatan belajarnya lebih banyak dilakukan
    melalui pengalaman langsung atau hans on experiences. Secara
    terperinci barbara Rohde dan kostelnik, et al (1991) mengemukakan
    karakteristik pembelajaran tersebutsebagai berikut :
     Memberikan pengalaman langsung dengan objek-objek yang nyata
       bagi pebelajar untuk menilai dan memanipulasinya.
     Menciptakan kegiatan dimana anak menggunakan semua
       pemikirannya.
     Membangun kegiatan sekitar minat-minatumum pebelajar.
     Membantu mengembangkan pengetahuan dan kjeterampilan baru
       yang didasarkan pada apa yang telah mereka ketahui dan kerjakan.
     Menyadiakan kegiatan dan kebiasaan yang menghubungkan semua
       aspek perkembangan kognitif, emosi, sosial dan fisik.
     Mengakomodasi kebutuhan pebelajar untuk bergerak dan melakukan
       kegiatan fisik, interaksi sosial, kemandirian, dan harga diri yang
       positif.
     Memberikan kesempatan bermain untuk menerjemahkan
       pengalaman bermain untuk menerjemahkan pengalaman kedalam
       pengertian.
     Menghargai perbedaan individu, latar belakang budatya, dan
       pengalaman di keluarga yang dibawa pebelajar ke kelasnya.

C. Model Pembelajaran kontekstual

     Pembelajaran konstektual atau contextual teaching and learning
 (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara
 materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong
 siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
 penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
     Landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar
yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, tetapi
merekonstruksikan atau membangun pengetahuan dan ketrampilan baru
lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya.
Sebagai tambahan wawasan, padanan istilah yang visi dan misinya hamper
sama dengan konteks CTL adalah:
   - Experiencial learning
   - Real world education
   - Active learning
   - Learner centered instruction
   - Learning-in-context
      Untuk memahami secara lebih mendalam konsep pembelajaran
      konstektual, COR (Center for Occupational Research)
      menjabarkannya menjadi lima konsep bawahan yang disingkat
      REACT:
           Relating adalah bentuk belajar dalam konteks kehidupan nyata
             atau pengalaman.
           Experiencing adalah belajar dalam konteks eksplorasi,
             penemuan, dan penciptaan.
           Applying adalah belajar dalam behtuk penerapan hasil belajar
             ke dalam penggunaan dan kebutuhan praktis.
           Cooperating adalah belajar dalam bentuk berbagi informasi dan
             pengalaman, saling merespons, dan saling berkomunikasi.
           Transfering adalah kegiatan belajar dalam bentuk
             memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman berdasarkan
             konteks baru untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman
             belajar yang baru.

 Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
  1. Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu
     pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam
     konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam
     lingkungan yang alamiah.
  2. Pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk
     mengerjakan tugas-tugas yang bermakna.
  3. Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman
     bermakna kepada siswa.
  4. Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling
     mengoreksi antar teman.
  5. Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa
     kebersamaan, bekerja sama, dan saling memahami antara satu dengan
     yang lain secara mendalam.
  6. Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan
     mementingkan kerja sama.
  7. Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan.

D. Model Pembelajaran Kooperatf ( Kooperatif Learning )

      Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih
 mudah menemukan dan mamahami konsep yang sulit jika mereka saling
 berdiskusi dengan temanya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok
 untuk saling membantu memecahkan masalah yang kompleks. Jadi,
 hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama
 dalam pembelajaran kooperatif.

 a. Student Teams Achievement Division (STAD)
      Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari
   model pembelajaran koopertaif dengan menggunakan kelompok-
   kelompok kecil dengan jumlah anggota tyiap kelompok 4-5 orang siswa
   secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran,
   penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan
   kelompok.
   Manfaat belajar kooperatif
    Meningkatkan hasil belajar pelajar.
    Meningkatkan hububgan antarkelompok, belajarkooperatif memberi
      kesempatan kepada setiap siswa untuk mencerna materi pelajaran.
    Meninkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar, belajar kooperatif
      dapat mebina sifat kebersamaan, peduli satu sama lain dan tenggang
      rasa andil terhadap keberhasilan tim.
    Menumbuhkan rasa realisasi kebutuhan pebelajaruntuk belajar
      berpikir, belajar kooperatif dapat diterapkan untuk berbagai materi
      ajar, seperti pemahaman yang rumit, pelaksanaan kajian proyek, dan
      latihan memecahkan masalah.
    Memadukan dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan.
    Meningkatkan perilaku dan kehadiran dikelas
    Relatif murah karena tidak memerlukan biaya khusus untuk
      menerapkannya.

 b. Tim Ahli (JINGSAW)
  Langkah-langkah pembelajaran jingsaw :
   Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 5-6
     orang)
  Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah
   dibagi-bagi menjadi sub bab.
  Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan
   bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
  Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang
   sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk untuk
   mendiskusikannya.
  Setiap angggota kelompok ahli setelah kembali kekelompoknya
   betugas mengajar teman-temannya.
  Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai
   tagihan berupa kuis individu.

c. Investigasi kelompok
     Investigasi kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang
  paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Dalam
  implementasinya tipe investigasi kelompok guru membagi kelas menjadi
  kelompok-kelompok dengan anggota 5- siswa yang heterogen. Kelompok
  ini disini dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban
  persahabatan atau minat yang sama dalam topic tertentu. Selanjutnya
  siswa memlih topik yang dipilih. Selanjutnya ia menyiapkan dan
  mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas.
  Langkah-langkah pelaksanaan model investigasi kelompok meliputi 6
  fase:
  1. Memilih topik
  2. Perencanaan kooperatif
  3. Implementasi
  4. Analisis dan sintesis
  5. Presentasi hasil final
  6. Evaluasi

d. Think Pair Share (TPS)
    Think pair share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi adalah
 merupakan Jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk
 mempengaruhi pola interaksi siswa. Strategi TPS ini berkembang dari
 penelitian belajar kooperatif dan waktu tunggu. Pertama kali
 dikembangkan oleh Frang Lyman dan koleganya di Universitas
 Maryland sesuai yang dikutip Arends (1997), menyatakan bahwa think
 pair share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi
 suasana pola diskusi kelas.
       Langkah-langkah (fase) think fair share :
                Berpikir (thinking)
                Berpasangan (Pairing)
                Berbagi (Sharing)

 e. Numbered Head Togther (NHT)
      Numbered Head Together (NHT) atau pemikiran penomoran bersama
   adalah merupakan jenis pelajaran kooperatif yang dirancang untuk
   mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternative terhadap kelas
   tradisional.
                Dalam mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas guru
        menggunakan struktur empat paju sebagai sintaks NHT :
          1. Penomoran
          2. Mengajukan pertanyaan
          3. Mengajukan pertanyaan
          4. Berpikir bersama
          5. Menjawab

 f. Teams-Games-Tournamen (TGT)
      TGT     atau     Pertandingan-Permainan-Tim      merupakan    jenis
   pembelajaran kooperatif yang berkaitan dengan STAD. Dalam TGT,
   siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk
   memperoleh tambahan poin pada skor mereka. Permainan disusun dari
   pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan pembelajaran yang
   dirancang untuk mengetes pengetahuan yang diperoleh siswa dari
   penyampaian pembelajaran di kelas dan kegiatan-kegiatan kelompok.
   Permainan ini dimainkan pada meja-meja turnamen. Setiap meja
   turnamen diisi oleh wakil-wakil kelompok yang berbeda, tetapi memiliki
   kemampuan setara.
      Permainan ini berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-
   kartu yang diberi angka. Tiap-tiap siswa akan mengambil sebuah kartu
   yang diberi angka dan berusaha menjawab pertanyaan yang sesuai
   dengan angka tersebut. Turnamen ini memungkinkan bagi siswa dari
   semua tingkat untuk menyumbangkan dengan maksimal skor-skor
   kelompoknya bila mereka berusaha dengan maksimal. Turnamen ini
   dapat berpendapat untuk review materi pembelajaran.

E. Model Pembelajaran Berbasis Masalah

     Pengajaran berbasis masalah telah dikenal sejak zaman John Dewey,
 yang sekarang ini mulai diangkat sebab ditinjau secara umum
 pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa
 situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan
 kemudahan kepada mereka untuk malakukan penyelidikan dan inkuiri.

     Pengajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif
 untuk pengajaran proses berfikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini
 membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam
 benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tenteng dunia sosial
 dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan
 pengetahuan dasar maupun kompleks ( Ratunaman, 202 : 123 ).

 Manfaat Pengajaran Berbasis Masalah
      Pengajaran berdasrkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru
 memberikan informasi sebanyak – banyaknya kepada siswa. Pengajaran
 berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa
 mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan
 keterampilan intelektual. Belajar berbagai peran orang dewasa melalui
 pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi dan menjadi
 pebelajar yang otonom dan mandiri.

F. Model Pembelajaran Quantum
  Hakikat belajar Quantum
         Model belajar ini muncul untuk menanggulangi masalah yang
    paling sukar Quantum learning berakar dari upaya Lozanov dengan
    eksperimenna tentang suggestopedia. Prinsipnya bahwa sugesti dapat
    mempengaruhi hasil belajar dan setiap detail apapun memberikan
    sugesti positif atu negatif. Beberapa teknik yang digunakan untuk
    memberikan sugesti positif adalah sebagai berikut:
         a. Mendudukan siswa secara nyaman
         b. Memasang musik latar didalam kelas
         c. Meningkatkan partisipasi individu
         d. Menggunakan poster untuk memberikan kesan besar sambil
            menunjukan informasi.
         e. Menyediakan guru-guru yang terlatih dalam seni pembelajaran
               sugesti.
    Pembelajaran quantum mengedepankan unsur-unsur kebebasan, santai,
    menakjubkan, menyenangkan, dam menggairahkan. Indikator
    keberhasilan pembelajaran kuantum adalah siswa sejahtera. Siswa
    dikatakan sejahtera kalau aktivitasnya menyenangkan dan
    menggairahkan.
  Manfaat Belajar Quantum:
      a.. Suasana kelas menyenangkan sehingga siswa bergairah belajar.
      b. Siswa dapat memanfaatkan segala sesuatu yang ada
          disekilingnya sebagai pendorong belajar.
      c. Siswa belajar sesuai dengan gaya belajar masing-masing.
      d. Apapun yang dilakukan oleh siswa sepatutnya dihargai.

G. Model Pembelajaran SAVI

     Model pembelajaran SAVI bersumber pada konsep percepatan belajar
 (The Accelerated)
 Prinsip-prinsip SAVI :
      Belajar melibatkan seluruh pikiran dan tubuh .
      Belajar dalam berkreasi dan bukan mengkonsumsi.
      Kerja sama membantu proses belajar.
      Pembelajaran langsung dengan banyak tingkatan secara simultan
      Balajar berasal dan mengerjakan pekerjaan itu sendiri.
      Emosi positif sangat membantu pembelajaran
      Otak menyerap informasi secara langsung dan otomatis.

H. Model Pembelajaran Partisipatori

    Model pembelajaran partisipatori lebih menekankan keterlibatan siswa
 secara penuh dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar.

 Berkaitan dengan penyikapan guru kepada siswa partisipatori beranggapan
 :
      Setiap siswa adalah unik. Siswa mempunyai kelebihan dan
         kelemahan masing-masing. Oleh karena itu , proses penyeragaman
         dan penyeramataan akan membunuh keunikan tersebut. Keunikan
         harus diberi tempat dan dicarikan peluang agar lebih dapat
         berkembang.
      Anak bukan orang dewasa dalam bentuk kecil , jalan pikir anak
         tidak selalu sama dengan jalan pikir orang dewasa. Orang dewsa
         harus dapat menyelami cara merasa dan berkir anak-anak
      Dunia anak adalah dunia bermain
      Usia anak merupakan usia yang paling kretif dalam hidup
         manusia.
I. Pembelajaran Model Diskusi Kelas
      Diskusi dan diskursus merupakan komunikasi seseorang berbicara satu
  dengan yang lain, saling berbagi gagasan dan pendapat. Menurut
  Suryosubroto (1997 : 179), diakusi adalah suatu percakapan ilmiah oleh
  beberapa orang yang tergabung dalam suatu kelompok, untuk saling
  bertukar pendapat tentang suatu masalah atau bersama- sama mencari
  pemecahan mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah.
      Dalam pembelajaran diskusi mempunyai arti suatu situasi di mana guru
  dengan siswa atau siswa dengan yang lain saling bertukar pendapat secara
  lisan, saling berbagi gagasan dan pendapat. Pertanyaan yang ditujukan
  untuk membangkitkan diskusi berada pada tingkat kognitif lebih tinggi
  Arrends (1997).

 Implementasi Pembelajaran Model Diskusi Kelas
 1. Pelaksanaan Pembelajaran Diskusi
   Dalam melaksanakan diskusi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
   antara lain Arrends (1997) disadur Tjokrodiharjo, (2003).
 a. Tugas perencanaan
             Perencanaan yang tepat bagi pelajaran diskusi akan
             meningkatkan kesempatan untuk terjadinya spontanitas dan
             fleksibilitas di dalam pelajaran.
 b. Memilih Strategi Diskusi
             Ada beberapa strategi diskusi yang dapat digunakan untuk
             meningkatkan partisipasi siswa, diantaranya adalah :
             1). Berpikir-Berpasangan-Berbagi (TPS)

            2). Kelompok Aktif ( Buzz Group)
            3). Bola Pantai (Beach Ball)
         c. Membuat Perencanaan.
                          BAB IV
                METODE – METODE MENGAJAR

A. Pengertian

      Mengajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses mengorganisasi
 atau menata sejumlah sumber potensi secara baik dan benar sehingga
 terjadi proses balajar anak. Implikasi definisi ini adalah, bahwa peranan
 guru/ dosen bukanlah mentranmisikan/ mendistribusikan pengetahuan
 kepada anak semata – mata, akan tetapi sebagai direktur belajar, berarti
 bahwa guru/ dosen bukanlah orang yang serba unggul secara kognitif,
 efektif, dan psikomotorik, ia adalah orang yang harus pandai membawa
 peserta didik menuju kondisi belajar atau membawa peserta didik kedalam
 kesadaran akan perlunya belajar.

     Ahli pendidikan sependapat bahwa tidak ada satu metode
 memngajarpun yang di pandang paling baik, karena baik tidaknya metode
 mengajar sangat tergantung pada tujuan pengajaran, materi yang diajarkan,
 jumlah peserta didik, fasilitas penunjang, kesanggupan individual,.

      Metode mengajar yang umum dipakai dalam proses belajar mengajar
 dikelasn antara lain : ceramah, tanya jawab, diskusi, tugas, latihan inkuiri,
 karya wisata, kerja dalam kelompok, bermain paranan, simulas social,
 seminar, studi kasus dan lain – lain.

 1. Metode Ceramah
      Metode ceramah berasal dari kata lecture, memiliki arti dosen atau
   metode dosen, metode ini lebih banyak dipergunakan dikalangan dosen
   mememberikan kuliah mimbar dan isampaikan dengan ceramah dan
   pertimbangan dosen berhadapan dengan banyak mahasiswa yang
   mengikuti perkuliahan. Metode ceramah ini berbentuk penjelasan
   konsep, prinsip dan fakta. Pada akhir perkuliahan ditutup dengan tanya
   jawab antara dosen dan mahasiswa , namun demikian pada sekolah
   tingkat lanjutan ceramah dapat dipergunakan oleh guru, metode ini
   divariasi dengan metode lain.
    Metode ceramah dapat dilakukan oleh guru:
      a. Untuk memberikan pengarahan, petunjuk diawal pembelajaran.
      b. Waktu terbatas, sedangkan materi/informasi banyak yang akan
          disampaika.
   c. Lembaga pendidikan sedikit memiliki staf pengajar sedangkan
      jumlah siswa banyak.
  Keterbatasan metode ceramah sebagai berikut :
   a. Keberhasilan siswa tidak terukur.
   b. Perhatian dan motivasi siswa sulit diukur.
   c. Peranserta siswa dalam pembelajaran rendah.
   d. Materi kurang terrfokus.
   e. Pembicaraan sering melantu.


2. Metode Diskusi
      Diskusi diartikan sebagai suatu proses penyampaian materi, dimana
  guru bersama subyek didik mengadakan dialog bersama untuk mencari
  jalan pemecahan dan menyerap serta menganalisis satu atau sekelompok
  materi tertentu. Dalam diskusi guru berperan sebagai pengatur lalu lintas
  informasi.

3. Metode Tugas
     Tugas diartikan sebagai materi tambahan yang harus dipenuhi oleh
  subjek didik, baik didalam maupun diluar kelas. Di perguruan tinggi
  dikenal dengan sebutan tugas – tugas terstruktur, yaitu tugas yang
  langsung diberikan oleh dosen dengan bobot tertentu. Oleh karena
  pemberian tugas hanya sebagai tambahan, maka keliru, jika guru/ dosen
  berada di kantor dan menugaskan subyek didik mencatat materi pelajaran
  dikelas.

5. Metode Latihan Inkuiri
      Latihan inkuiri diartikan sebagai proses mempersiapkan kondisi agar
  suyek didik siap menjawab teka – teki. Jawaban atas permasalahan atau
  teka – teki diperoleh melalui usaha subyek didik tersebut. Oleh sebab
  sifatnya demikian, maka tidak setiap materi pelajaran dapat disajikan
  dengan menggunakan pendekatan latihan inkuiri dan dengan demikiam
  latihan semacam ini dapat dipakai dalam bidang ilmu eksakta maupun
  ilmu sosial.

6. Metode Karya Wisata
      Metode karya wisata diartikan sebagai suatu strategi belajar mengajar,
  dimana guru dan muridnya mengunjungi suatu tempat tertentu yang
  relevan intuk memperoleh sejumlah pengalaman empiris. Metode ini
 biasanya digunakan sebagai pelengkap materi pokok yang dipelajari
 dikelas atau dari buku –buku.

     Metode ini memungkinkan siswa melihat sendiri sejumlah peristiwa
 yang terjadi, seperti : sistem distribusi barang, sistem penggudangan,
 sistem informasi dalam perusahaan dan lain – lain. Siswa dapat
 menjawab pertanyaan – pertanyaan secara langsung, mencoba sendiri
 sekalligus berekreasi.

7. Metode Seminar
     Metode ini sangat sering dilakukan, baik untuk mata kuliah
  SEMINAR itu sendiri maupun mata kuliah lain yang disajikan dalam
  bentuk seminar. Dengan seminar, biasanya wawasan terbuka luas, peran
  serta subyek dominan, namun perlu persiapan yang memadai, seperti :
  penentu topik, mempersiapkan kertas kerja, organisasi kelas,
  pengelompokan siswa menurut variasi/ perbedaan kemampuan individual
  mereka.
                   BAB V
 PENGGUNAAN MEDIA PENGAJARAN DALAM PROSES
            BELAJAR –MENGAJAR

1. Pengertian

     Media pengajaran merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap
 yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi
 dengan siswa atau peserta didik. Alat bantu itu disebut media pengajaran,
 sedangkan komunikasi adalah sistem penyampaianya

2. Nilai dan Manfaat Media Pengajaran
  Media pengajaran dapat mempertinggi proses balajar siswa dalam
  pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil
  belajar yang dicapainya. Ada beberapa alas an. Mengapa media pangajaran
  dapat mempertinggi proses belajar siswa. Alasan pertama berkenaan
  dengan manfaat media pengajaran dalam dalam proses belajar siswa antara
  lain:
      a) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat
         menumbuhkan motivasi belajar;
      b) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih
         dipahami oleh siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan
         pembelajaran lebih baik;
      c) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata
         komunikasi verbal melalui penutura kata-kata oleh guru, sehingga
         siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru
         mengajar setiap jam pelajaran;
      d) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya
         mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti
         mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.

3. Jenis dan Kriteria Memilih Media Pengajaran
  a. Jenis Media
       Ada beberapa jenis media pengajaran yang biasa digunakan dalam
    proses pengajaran. Pertama, media grafis seperti gambar, foto, grafik
    bagan atau diadram, poster, kartun, komik dan lain-lain. Media grafis
    juga sering disbut media dua dimensi, yakni media yang mempunyai
    ukuran panjang dan lebar. Kedua, media tiga dimensi yaitu dalam bentuk
    model seperti model padat (solid model), model penampang, model
  susun, model kerja, mock up, diorama dan lain-lain. Ketiga, media
  proyeksi seperti slide, film strips, film, penggunaan OHP dan lain-lain.
  Keempat, penggunaan lingkungan sebagai media pengajaran.
b. Kriteria Memilih Media Pengajaran
  Dalam memilih media untuk kepentingan pengajaran sebaiknya
  memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:
    a) Ketepatannya dengan tujuan pengajaran; artinya media pengajaran
       dipilih atas dasartujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan.
       Tujuan instruksional yang berisikan unsur pemahaman, aplikasi,
       analisis, sintesis lebih memungkinkan digunakannya media
       pengajaran.
    b) Dukungan terhadap isi bahan pelajaran; artinya bahan pelajaran
       yang sifatnya fakta, prinsip, konsep, dan generalisasi sangat
       memerlukan bantuan media agar mudah dipahami siswa.
    c) Kemudahan memperoleh Media; artinya media yang diperlukan
       mudah diperloleh, setidak-tidaknya mudah diperoleh oleh gurupada
       waktu mengajar.
    d) Ketrampilan guru dalam menggunakannya; apa pun jenis media
       yang diperlukan syarat utama adalah guru dapat menggunakannya
       dalam proses pangajaran, nilai dan manfaat yang diharapkan bukan
       pada medianya, tetapi dampak dari penggunaan oleh guru pada saat
       terjadi interaksi belajar siswa gengan lingkungannya.
    e) Tersedia waktu untuk menggunakannya; sehingga media tersebut
       dapat bermanfaat bagi siswa aelama pengajaran berlangsung.
    f) Sesuai dengan taraf berfikir siswa; memilih media untuk pendidikan
       dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berfikir siswa, sehingga
       makna yang terkandung didalamnya dapat dipahami oleh para siswa.
                    BAB VI
     PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI DAN
           PENDEKATAN KONTEKSTUAL

A. Mengelola Ruang Kelas atau Tempat Belajar
      Ruang kelas atau tempat belajar, terutama kursi ndan meja siswa serta
 posisi guru, ditata sedemikian rupa sehingga menunjang kegiatan
 pembelajaran aktif, yang memungkankan muncul kondisi berikut;
    - Aksesibilitas, yaitu siswa mudah menjangkau alat dan sumber belajar.
    - Mobilitas, yaitu siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke
      bagian lain dalam kelas.
    - Interaktif, yaitu siswa mudah untuk saling berinteraksi dan
      berkomunikasi baik antara guru-siswa, siswa-guru, dan siswa-siswa.
    - Variasi kerja sama, yaitu siswa bisa kerja secara perorangan,
      berpasangan, atau berkelompok.

B. Mengelola Siswa
 Terikat dengan pengelolaan siswa,         hal-hal   yang   perlu   menjadi
 pertimbangan adalah;
   - jenis kegiatan,
   - tujuan kegiatan,
   - keterlibatan siswa,
   - waktu belajar,
   - ketersediaan sarana/ prasarana, dan
   - karakteristik siswa.

C. Mengelola kegiatan Pembelajaraan
 Dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran, teknik bertanya, penyediaan
 umpan balik yang bermakna, dan penilaian yang mendorong siswa
 berkinerja juga menentukan keberhasilan pembelajaran.
     Teknik bertanya yang diajarkan dalam pembelajaran adalah
       pertanyaan yang mendorong siswa untuk berfikir dan berproduksi.
     Penyediaan umpan balik yang bermakna merupakan pernyataan atau
       pertanyaan guru yang didasarkan pada prilaku siswa yang bisa
       mendorong siswa untuk menyadari prilakunya.
     Penilaian yang mendorong siswa melakukan unjuk kerja adalah
       penilaian dilakukan secara alami dalam konteks pembelajaran.

D. Mengelola Isi Pembelajaran
 Pengelolaan isi pembelajaran perlu mempertimbangkan hal-hal berikut;
     Materi dipilih berdasarkan tujuan pembelajaran atau kompetensi
      yang ingin dicapai.
     Tingkat keluasan dan kedalaman materi disesuaikan dengan
      karakteristik peserta didik(termasuk yang cepat dan lambat, yang
      bermotifasi tinggi dan rendah)
     Peserta yang memiliki kemampuan berbeda diberikan layanan
      pembelajaran yang berbeda.
     Penataan materi disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran.
     Kemungkinan tidaknya keluasan dan kedalaman materi dapat
      dicapai dalam waktu yang disediakan.
     Menyajikan berbagai materi mata pelajaran lain secara integratif
      untuk keperluan pembelajaran.
     Menggunakan variasi materi ajar untuk menunjang pembelajaran
      sesuai tujuan/ kompetensi yang ingin dicapai.
     Menyajikan materi ajar yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
      peserta didik.
     Menggunakan materi ajar yang dapat diterapkan, dimanfaatkan, atau
      difungsikan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

E. Mengelola Sumber Belajar
 Pengelolaan sumber pembelajaran perlu mempertimbangkan hal-hal
 berikut;
     Sumber belajar/ media pembelajaran yang dipilih dapat dipakai
       untuk mencapai tujuan/ kompetensi yang ingin dicapai.
     Sumber belajar/ media pembelajaran yang dipilih dapat
       memudahkan pemahaman peserta didik.
     Sumber belajar/ media pembalajaran dideskripsikan secara spesifik
       dan sesuai dengan materi penbelajaran.
     Sumber belajar/ media pembelajaran yang dipilih sesui dengan
       tingkat perkembangan kognitif, katrakteristik afektif, dan
       keterampilan motorik peserta didik.
                  BAB VII
PENILAIAN PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI
       DAN PENDEKATAAN KONSTEKTUAL

A. Pengertian Penilaian
      Penilaian dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mengukur kadar
 pencapaian tujuan. Pengertian ini sesuai dengan apa yang dikemukakan
 Tuckman (1975:12) yang mengartikan penilaian sebagai suatu proses
 untuk mengetehui (menguji) apakah suatu kegiatan, proses kegiatan,
 keluaran suatu program telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah
 ditentukan.

B. Penilaian Berbasis Kelas (PBK)
      Hal-hal yang harus diperhatikan guru dalam melaksanakan PBK adlah
 sebagai berikut;
    Memandang penilaian sebagai bagian integral dari kegiatan
      pembelajaran.
    Mengembangkan strategi pebelajaran yang mendorong dan
      memperkuat proses penilaian sbagai kegiatan refleksi(bercermin diri
      dan pengalaman belajar).
    Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program
      pembelajaran untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang
      hasil belajar siswa.
    Mengakomodasi kebutuhan khusus siswa.
    Mengembangkan sistem pencatatan yang menyediakan cara yang
      bervariasi dalam pengamatan belajar siswa.
    Menggunakan penilaian dalam rangka mengumpulkan informasi
      untuk membuat keputusan tentang tingkat pencapaian siswa.

     Prinsip dasar penilaian autentik yang menjadi patokan pendekatan
 kontekstual, dapat diterapkan sepenuhnya dalam pembelajaran berbasis
 kompetensi. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah sebagai berikut;
   Penilaian bukan menghakimi siswa, tetapi untuk mengetahui
     perkembangan pengalaman belajar siswa.
   Penilaian dilakukan secara komprehensif dan seimbang antara
     penilaian proses dan hasil.
   Guru sebagai penilai konstruktif (contructive evaluator) yang dapat
     merefleksikan bagaimana siswa belajar, bagaimana siswa
     menghubungkan apa yang mereka ketahui dengan berbagai konteks,
     dan bagaimana perkembangan belajar siswa dalam berbagai konteks
     belajar.
    Penilaian    memberikan        kesempatan    siswa   untuk     dapat
     mengembangkan penilaian diri (self assessment) dan penilaian sesama
     (performance-based).
    Penilaian dilakukan dengan berbagai alat secara berkesinambungan
     sebagai bagian integral dari proses pembelajaran.
    Penilaian dapat dimanfaatkan oleh siswa, orang tua, dan sekolah
     untuk mendiagnosis kesulitan belajar, umpan balik pembelajaran,
     dan/atau untuk menentukan prestasi siswa.

C. Penilaian Kinerja (performance)
      Penilaian kinerja adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan
 penilai terhadap aktifitas siswa sebagai mana yang terjadi. Penilaian
 biasanya digunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam berpidato,
 pembacaan puisi, diskusi, pemecahan masalah, partisipasi siswa dalam
 diskusi, menari, memainkan alat musik, aktifitas olah raga, menggunakan
 peralatan laboratorium, mengoperasikan suatu alat, dan aktifitas lain yang
 bisa diamati/ diobservasi.

D. Penilaian Penugasan (proyek/ project)

     Penilaian penugasan atau proyek merupakan penilaian untuk
 mendapatkan gambaran kemampuan menyeluruh/ umum secara
 kontekstual, menganai kemampuan siswa dalam menerapkan konsep dan
 pemahaman mata paelajaran tertentu. Penilaian terhadap suatu tugas yang
 mengandung investigasi harus selesai dalam waktu tertentu. Investigasi
 dalam penugasan memuat beberapatahapan, yaitu perencanaan,
 pengumpulan data, pengolahan data dan penyajian data.

 Penilaian penugasan ini bermanfaat untuk menilai;

   - Ketrampilan menyelidiki secara umum,
   - Pemahaman dan pengetahuan dalam bidang tertentu,
   - Kemampuan mengaplikasi pengetahuan dalamm suatu penyelidikan,
     dan/ atau
   - Kemampuan untuk menginformasikan subjek secara jelas.
E. Penilaian Hasil Kerja (produk/ product)

     Penilaian hasil kerja atau produk (product) merupakan penilaian
 kepada siswa dalam mengontrol proses dan memanfaatkan/ menggunakan
 bahan untuk menghasilkan sesuatu, kerja praktik atau kualitas estetik dari
 sesuatu yang mereka produksi. Contohnya; kerja artistik (menggambar,
 melukis, kerajinan), makanan, pakaian, produk yang terbuat dari kayu,
 metal, plastik, keramik.



F. Penilaian Test Tertulis (paper & pen)

      Penilain secara tertulis dilakukan dengan cara tes tertulis. Tes tertulis
 merupakan tes di mana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta
 didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal, peserta didik tidak
 selalu merespons dalam bentuk menulis jawaban, tetapi dapat juga dalam
 bentuk yang lain, seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar, dan lain
 sebagainya.
                        DAFTAR PUSTAKA

- Danim, Sudarwan. 1994. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta:
     Bumi Aksara.

- Dakir. 2004. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta:
  Rineka Cipta.
- Mjid, Abdul. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Remaja
     Rosdakarya.
- Muslich,    Masnur.    2007.    KTSP     PEMBELAJARAN            BERBASIS
        KOMPETENSI dan KONSTEKTUAL. Jakarta: Bumi Aksara.
- Nurgiantoro, Burhan. 2001. Penilaian Dalam Pengajaran Bahasa dan
     Sastra. Yogyakarta: BPFE
- Sudjana, nana dan Ahmad Rivai. 2007. Media Pengajaran. Bandung:
        Sinar Baru Algensindo.
- Sutadi. 2007. Telaah kurikulum Bahasa Jawa. Semarang: Ikip Press.
- Trianto. 2007.    Model-model     Pembelajaran     Inovatif   Berorientasi
        Konstruktivistik. Surabaya : Prestasi Pustaka Publisher.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5440
posted:1/31/2011
language:Indonesian
pages:33