Earning Management Dan Kinerja Jangka Panjang Perusahaan by yxk82671

VIEWS: 480 PAGES: 15

More Info
									    Analisis Komparatif Kinerja Keuangan Perusahaan dengan Menggunakan
                Metode Konvensional dan Economic Value Added

                                Rachman Fitrianto
                     Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma


                                      ABSTRAK

Pengukuran kinerja keuangan perusahaan akan menunjukkan sehat atau tidaknya suatu
perusahaan dalam menjalankan aktivitas operasionalnya selama periode tertentu.
Adanya Economic Value Added (EVA) menjadi relevan untuk mengukur kinerja
berdasarkan nilai (value) karena EVA adalah ukuran nilai tambah ekonomis yang
dihasilkan oleh perusahaan sebagai akibat dari aktivitas atau strategi manajemen.
Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kehandalan metode EVA dalam
mengukur kinerja keuangan perusahaan bila dibandingkan dengan metode konvensional
dan bagaimana EVA dapat menciptakan atau menghancurkan nilai bagi pemegang
saham. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kinerja keuangan
perusahaan dengan menggunakan metode konvensional dan membandingkan dengan
metode EVA.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode komparatif. Dalam
penelitian ini yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan 5
perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Metode yang digunakan
adalah metode EVA dan konvensional serta uji statistik dengan metode Independent
Sample t-test.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara
metode konvensional dengan metode Economic Value Added (EVA) sebagai pengukur
kinerja keuangan perusahaan. Laba yang dihitung dengan metode konvensional lebih
baik dari pada menggunakan metode EVA. Berarti metode EVA belum dapat diterapkan
dalam perusahan ini dalam kurun waktu tersebut.

Kata Kunci: Metode Konvensional, Economic value added, Kinerja Keuangan.


                                      ABSTRACT

The performance measurements of company’s activities will show either the company is
healthy or not in running the operational activities along the specified period. The
existence of Economic Added Value (EVA) become relevant to measure the performance
based on value, because EVA is the measure of economic added value which is
produced by the company as a result of activites or strategies by the management. The
issue of this research is how the reability of EVA method is in measuring the company’s
financial performance whwn compared by the conventional method and how EVA could
create or destruct the value for stakeholders. The aim of this research is to analyse the
company’s financial performance using the conventional method and compared with
EVA method.


                                                                                       1
The method used in this research is comparative method. This research using secondary
file in the form of financial statement of 5 pharmacy companies enlisted in Indonesian
Effect Exchange (BEI). The method used is EVA method and conventional one, also
statistical test using Independent Sample T test method.

The Result of this research indicates there is not any significant differences between
Conventional Method and EVA method as a indicator of the company’s financial
statement. Profit counted by conventional method is better than EVA method. It means
EVA could not yet applied in this company on the specified period.

Keywords: Conventional method, Economic value added, Financial performance




                                 1. PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

       Di era globalisasi ini, kemajuan teknologi dan perkembangan arus informasi
telah menyebabkan terjadinya perkembangan dunia usaha yang begitu pesat.
Perkembangan ini diiringi dengan munculnya persaingan yang ketat dan kompetitif
didalam dunia usaha. Persaingan usaha yang ada ini perlu diantisipasi dengan suatu
pemikiran yang kritis dan pemanfaatan secara optimal semua sumber daya yang dimiliki
perusahaan.
       Ukuran yang dicapai dalam menilai kinerja perusahaan sangatlah bermacam-
macam dan berbeda-beda dari satu industri ke industri lainnya tergantung pada aktivitas
pokok perusahaan seperti produksi, keuangan, pemasaran, sumber daya manusia, dan
banyak lagi kegiatan lainnya. Rasio keuangan Profitabilitas yang diantaranya adalah
Return on Investment (ROI), Return on Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), dan
Earning per Share (EPS) dalam analisa keuangan mempunyai arti yang sangat penting
sebagai salah satu teknik analisa keuangan yang bersifat menyeluruh. Untuk melengkapi
cara pengukuran kinerja perusahaan yang ada, selama beberapa tahun terakhir telah
berkembang suatu pendekatan baru dalam mengukur kinerja perusahaan yang dikenal
dengan pendekatan nilai tambah ekonomis (Economic Value Added) atau lebih dikenal
dengan sebutan EVA
       Economic Value Added (EVA) adalah pengukuran kinerja keuangan perusahaan
yang dihitung dengan cara mengurangkan net operating profit after tax dengan capital
charges. EVA merupakan indikator tentang adanya penciptaan nilai dari suatu investasi,
EVA yang positif menandakan perusahaan berhasil menciptakan nilai (create value)
bagi pemilik perusahaan ini sejalan dengan tujuan memaksimalkan nilai perusahaan.
       Rasio Profitabilitas dan Economic Value Added (EVA) merupakan cara yang
digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan, oleh sebab itu penulis membandingkan
kedua cara tersebut untuk dapat mengetahui mana yang lebih memberikan nilai bagi
perusahaan.




                                                                                     2
1.2   Rumusan Masalah

      1.   Bagaimana kinerja keuangan perusahaan apabila diukur dengan
           menggunakan metode konvensional?
      2.   Bagaimana kinerja keuangan perusahaan apabila diukur dengan
           menggunakan Economic Value Added (EVA)?
      3.   Apakah terdapat perbedaan yang signifikan atas hasil pengukuran kinerja
           keungan perusahaan dengan metode konvensional dan Economic Value
           Added (EVA)?

1.3   Tujuan Penelitian

      1.   Untuk menganalisis kinerja keuangan perusahaan yang diukur melalui
           metode konvensional Rasio Profitabilitas EPS, NPM, ROE, ROI.
      2.   Untuk menganalisis kinerja keuangan perusahaan yang diukur melalui
           Economic Value Added (EVA).
      3.   Untuk menganalisis apakah perbedaan signifikan antara hasil kinerja
           perusahaan dengan penerapan metode konvensional dan Economic Value
           Added (EVA).


                                2. TELAAH PUSTAKA


           Kinerja perusahaan (organizational performance) adalah seberapa efisien dan
efektif sebuah organisasi atau seberapa baik organisasi itu mentapkan dan mencapai
tujuan yang memadai. Bagi Pihak investor, informasi mengenai kinerja perusahaan
dapat digunakan untuk melihat apakah mereka akan mempertahankan investasi mereka
di perusahaan tersebut atau harus mencari alternatif investasi yang lain. Selain itu,
kinerja juga memperlihatkan kepada penanam modal maupun pelanggan atau
masyarakat secara umum bahwa perusahaan memiiki kredibilitas yang baik.


2.1   Analisis Rasio Profitabilitas

      Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam
mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen
suatu perusahaan. Penggunaan rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan
perbandingan antara berbagai komponen yang ada di laporan keuangan, terutama neraca
dan laporan laba rugi. Pengukuran dapat dilakukan untuk beberapa periode operasi.
Tujuannya adalah agar terlihat perkembangan perusahaan dalam rentang waktu tertentu,
baik penurunan atau kenaikan, sekaligus mencari penyebab perubahan tersebut
(Kashmir, 2009).

   1. Return on Investment (ROI)
       Kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva
merupakan tolok ukur dari kemampuan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan
keuntungan. Dengan rumusnya sebagai berikut:


                                                                                    3
    2. Return on Equity (ROE)
        Return on Equity (ROE) merupakan suatu pengukuran dari penghasilan atau
income yang tersedia bagi pemilik perusahaan, baik pemegang saham biasa maupun
pemegang saham preferen atas modal yang mereka investasikan di dalam perusahaan.
Secara umum, semakin tinggi tingkat pengembalian atas penghasilan yang diperoleh
maka semakin baik pula kedudukan pemilik perusahaan. Tingkat pengembalian modal
itu sendiri menghasilkan keuntungan netto bagi para penanam modal. Rumusnya adalah
sebagai berikut:




   3. Earning per Share (EPS)
       Rasio laba per lembar saham atau disebut juga rasio nilai buku merupakan rasio
untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang
saham. Rasio rendah berarti manajemen belum berhasil untuk memuaskan pemegang
saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi, kesejahteraan pemegang saham meningkat.
Dengan pengertian lain, tingkat pengembalian tinggi. Rumus untuk mencari laba per
lembar saham biasa adalah sebagai berikut:




    4. Net Profit Margin (NPM)
        Net Profit Margin merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur
margin laba atas penjualan. Cara pengukuran rasio ini adalah dengan membandingkan
laba bersih setelah pajak dengan penjualan bersih. Adapun rumus untuk mencari rasio
ini adalah:




2.2   Analisis Economic Value Added

      Economic Value Added (EVA) adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk
mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan, yang menyatakan bahwa
kesejahteraan hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua biaya
operasi (operating cost) dan biaya modal (cost of capital). Nilai EVA didapat dari
NOPAT dikurangi capital charges. Rumus umum yang dipakai untuk menghitung EVA
adalah sebagai berikut:




                                                                                   4
Net Operating Profit After Tax (NOPAT)
        Laba bersih dari operasi setelah pajak atau lebih dikenal dengan sebutan
NOPAT adalah sejumlah laba yang tersedia untuk memberikan pengembalian (return)
tunai kepada semua penyedia dana untuk perusahaan.

Invested Capital
        Modal yang diinvestasikan (invested capital) merupakan jumlah modal yang
digunakan perusahaan untuk melakukan investasi, dimana sumber dana investasi berasal
dari hutang jangka panjang dan ekuitas. Invested capital merupakan jumlah investasi
dalam bentuk aset yang berhubungan dengan kegiatan/aktivitas operasional perusahaan.
Invested capital adalah investasi perusahaan dalam bentuk kas, modal kerja dan aktiva
tidak lancar. Modal yang diinvestasikan (Invested Capital) merupakan jumlah seluruh
keuangan perusahaan, terlepas dari kewajiban jangka pendek, passiva yang tidak
menanggung bunga (non interest bearing liabilities), seperti utang, upah yang akan
jatuh tempo, dan pajak yang akan jatuh tempo. Modal yang diinvestasikan sama dengan
jumlah ekuitas pemegang saham, seluruh utang jangka panjang yang menanggung
bunga, utang dan kewajiban jangka panjang lainnya.


Weighted Average Cost of Capital (WACC)
       Para investor membutuhkan pengendalian lebih tinggi untuk pembelian saham
dalam suatu perusahaan tertentu daripada ketika mereka memberikan pinjaman karena
yang terdahulu lebih beresiko. Oleh karenanya, biaya modal suatu perusahaan
bergantung tidak hanya pada biaya utang dan pembiayaan ekuitas tetapi juga seberapa
banyak dari masing-masing itu dimiliki struktur modal. Hubungan ini digabungkan
dalam biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) dari perusahaan tersebut yang dihitung
dengan rumus sebagai berikut:



Dimana:
WACC:         Biaya modal rata-rata tertimbang
D:            Tingkat modal dari hutang (Debt)
rd:           Biaya hutang (Persentase cost of debt)
Tax:          Persentase pajak dari EBT
E:            Equity (Tingkat modal dari ekuitas)
re:           Biaya ekuitas (Persentase cost of equity)


                             3. METODE PENELITIAN

3.1    Objek Penelitian
       Objek dalam penelitian ini adalah laporan kinerja keuangan perusahaan farmasi
yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2004 sampai 2008 yang
memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut: (1) Telah menyampaikan laporan keuangan
tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 yang telah diaudit (3) Laporan keuangan telah
diaudit dengan pendapat wajar tanpa pengecualian (4) Tahun buku berakhir pada



                                                                                   5
tanggal 31 Desember dan (5) Tidak sedang dalam proses delisting. Adapun perusahaan
tersebut diantaranya yaitu:

      1.    PT Darya Varia Laboratoria Tbk;
      2.    PT Indofarma (Persero) Tbk;
      3.    PT Kalbe Farma Tbk;
      4.    PT Kimia Farma (Persero) Tbk; dan
      5.    PT Pyridam Farma Tbk.

3.2        Variabel Penelitian
           Dalam penelitian ini variabel-variabel yang digunakan adalah sebagai berikut:

                     Earning Per Share (EPS)


                     Net Profit Margin (NPM)


                     Return On Equity (ROE)


                     Return On Invesment (ROI)


                     Economic Value Added (EVA)

            Rumus umum yang dipakai untuk menghitung EVA adalah sebagai berikut

1. Rumus mencari NOPAT adalah sebagai berikut:
     NOPAT adalah laba yang diperoleh dari operasi perusahaan setelah dikurangi
     pajak penghasilan, tetapi termasuk biaya keuangan (financial cost) dan non cash
     bookkeeping entries seperti biaya penyusutan.
2. Rumus mencari biaya modal (Capital Charges)

     Invested Capital (modal yang di investasikan) adalah jumlah seluruh keuangan
     perusahaan, terlepas dari kewajiban jangka pendek, passiva yang tidak
     menanggung bunga (non interest bearing liabilities).
3. Rumus umum menghitung Invested Capital
     a. Pendekatan operasi (Operating Approach )



            b.       Pendekatan Financial

4. Rumus mencari WACC




                                                                                           6
     Keterangan:
     WACC (Weighted Average Cost of Capital) adalah jumlah biaya dari setiap
komponen modal, utang jangka pendek, utang jangka panjang dan ekuitas pemegang
saham ditimbang berdasarkan proporsi relatifnya dalam struktur modal perusahaan pada
nilai pasar.
D       = Tingkat modal dari hutang (debt)
tax     = Persentase pajak dari EBT
rd      = Biaya hutang (persentase cost of debt )
E       = Equity (tingkat modal dari ekuitas)
re      = Biaya ekuitas (persentase cost of equity)

3.3   Teknik Pengolahan Data
      Peneliti menggunakan uji Independent sample t-test dalam mengolah data dengan
bantuan software SPSS for Windows15. Tingkat signifikansi untuk pengujian hipotesis
yang dipilih adalah 0,05 yang berarti profitabilitas 95% toleransi kesalahannya adalah
5%, dengan pengujian dua sisi hal ini dipilih karena dinilai cukup ketat untuk mewakili
hubungan antara kedua variabel dan merupakan tingkat signifikan yang umum yang
digunakan dalam penelitian. Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah untuk
membuktikan apakah terdapat perbedaan yang signifikan dari kedua variabel, hipotesis
nol (Ho) pada umumnya diformulasikan untuk ditolak, maka hipotesis (Ha) dapat
diterima.
     Ho: Tidak terdapat perbedaan antara kinerja keuangan perusahaan yang diukur
       dengan metode konvensional rasio profitabilitas dan kinerja keuangan
       perusahaan yang diukur dengan economic value added (EVA)
     Ha: Terdapat perbedaan antara kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan
       metode metode konvensional rasio profitabilitas dan kinerja keuangan
       perusahaan yang diukur dengan economic value added (EVA).



                                  4. PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil perhitungan antara kedua metode (rasio profitabilitas dan EVA) maka
dapat dilihat perbandingannya dalam mengukur kinerja keuangan perusahaan, yaitu
sebagai berikut:

4.1   Earning Per Share (EPS)
      Rasio laba per lembar saham atau disebut juga rasio nilai buku merupakan rasio
      untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi
      pemegang saham. Berikut ini adalah rata-rata EPS perusahaan.




                                                                                     7
                        Tabel 4.1 Perbandingan Earning per Share (EPS)

               Perusahaan              Tahun    EPS     Rata-Rata Per Perusahaan   Rata-Rata Perusahaan Sampel
                                       2004     88,95
                                       2005    127,81
      PT Darya Varia Laboratoria Tbk   2006     93,77           105,22
                                       2007     89,14
                                       2008    126,46
                                       2004      2,34
                                       2005      3,10
      PT Indofarma (Persero) Tbk       2006      4,92            3,11
                                       2007      3,57
                                       2008      1,62
                                       2004     45,85
                                       2005     61,65
      PT Kalbe Farma Tbk               2006     66,62            63,30                       36,99
                                       2007     69,94
                                       2008     72,46
                                       2004     14,00
                                       2005      9,51
      PT Kimia Farma (Persero) Tbk     2006      7,92            10,16
                                       2007      9,40
                                       2008      9,97
                                       2004      2,68
                                       2005      2,48
      PT Pyridam Farma Tbk             2006      3,23            3,19
                                       2007      3,26
                                       2008      4,32


        PT Darya Varia Laboratoria mampu menghasilkan laba bersih per lembar saham
rata-rata terbesar selama lima tahun. PT Kalbe Farma mampu menghasilkan laba bersih
per lembar saham lebih besar dari tingkat laba bersih per lembar saham rata-rata
perusahaan sampel. Sedangkan PT Kimia Farma (Persero) Tbk, PT Pyridam Farma Tbk
dan PT Indofarma (Persero) Tbk mempunyai laba bersih per lembar saham rata-rata
dibawah rata rata perusahaan sampel.

4.2     Net Profit Margin (NPM)

        Net Profit Margin merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur
        margin laba atas penjualan. Berikut adalah rata-rata NPM perusahaan.




                                                                                                                 8
                       Tabel 4.2 Perbandingan Net Profit Margin (NPM)

               Perusahaan              Tahun   NPM     Rata-Rata Per Perusahaan   Rata-Rata Perusahaan Sampel
                                       2004    11,67
                                       2005    13,24
      PT Darya Varia Laboratoria Tbk   2006    9,11             11,27
                                       2007    10,09
                                       2008    12,26
                                       2004    1,05
                                       2005    1,40
      PT Indofarma (Persero) Tbk       2006    1,48             1,03
                                       2007    0,87
                                       2008    0,34
                                       2004    10,91
                                       2005    10,66
      PT Kalbe Farma Tbk               2006    11,14            10,35                        5,63
                                       2007    10,07
                                       2008    8,97
                                       2004    4,04
                                       2005    2,91
      PT Kimia Farma (Persero) Tbk     2006    2,01             2,64
                                       2007    2,21
                                       2008    2,05
                                       2004    4,21
                                       2005    3,35
      PT Pyridam Farma Tbk             2006    2,82             2,86
                                       2007    2,01
                                       2008    1,93


        PT Darya Varia Laboratoria Tbk mampu menghasilkan net profit margin rata-
rata terbesar selama lima tahun. PT Kalbe Farma Tbk mampu menghasilkan net profit
margin lebih besar dari tingkat net profit margin rata-rata perusahaan sampel.
Sedangkan PT Kimia Farma (Persero) Tbk, PT Pyridam Farma Tbk dan PT Indofarma
(Persero) Tbk mempunyai net profit margin rata-rata dibawah rata rata perusahaan
sampel. Ini berarti kinerja PT Darya Varia Laboratoria Tbk dan PT Kalbe Farma Tbk
dapat dikatakan baik karena berada diatas rata-rata industri. Sedangkan kinerja PT
Kimia Farma (Persero) Tbk, PT Pyridam Farma Tbk dan PT Indofarma (Persero) Tbk
dikatakan kurang baik karena berada dibawah rata-rata industri.

4.3    Return On Equity (ROE)

       Return On Equity (ROE) merupakan salah satu indikator profitabilitas yang
       menggambarkan kemampuan perusahaan secara keseluruhan dalam
       menghasilkan laba. Berikut ini adalah ROE dari masing-masing perusahaan.



                                                                                                                9
                        Tabel 4.3 Perbandingan Return on Equity (ROE)

               Perusahaan              Tahun   ROE     Rata-Rata Per Perusahaan   Rata-Rata Perusahaan Sampel

                                       2004    15,61
                                       2005    18,32
      PT Darya Varia Laboratoria Tbk   2006    12,74            14,28
                                       2007    10,8
                                       2008    13,94
                                       2004    2,83
                                       2005    3,62
      PT Indofarma (Persero) Tbk       2006    5,43             3,49
                                       2007     3,8
                                       2008     1,7
                                       2004    30,54
                                       2005    26,84
      PT Kalbe Farma Tbk               2006    22,59            24.06                       10,18
                                       2007    20,84
                                       2008    19,51
                                       2004    9,55
                                       2005    6,26
      PT Kimia Farma (Persero) Tbk     2006    5,05             6,49
                                       2007    5,75
                                       2008    5,84
                                       2004      2,3
                                       2005     2,09
      PT Pyridam Farma Tbk             2006     2,65            2,59
                                       2007      2,6
                                       2008     3,33


        PT Kalbe Farma Tbk mampu menghasilkan laba rata-rata terbesar dengan modal
sendiri selama lima tahun, yang kontribusi terbesar dihasilkan pada tahun 2005. PT
Darya Varia Laboratoria Tbk mampu memperoleh laba dengan modal sendiri lebih
besar dari tingkat laba rata-rata perusahaan sampel. PT Kimia Farma (Persero) Tbk, PT
Indofarma (Persero) Tbk dan PT Pyridam Farma Tbk mempunyai laba rata-rata
dibawah laba rata-rata perusahaan sampel.

4.4    Return On Investment (ROI)

       Kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva
       merupakan tolok ukur dari kemampuan modal yang diinvestasikan untuk
       menghasilkan keuntungan. Berikut ini adalah ROI masing-masing perusahaan.




                                                                                                                10
                           Tabel 4.4 Perbandingan Return on Investment (ROI)

                                                            Rata-Rata Per       Rata-Rata
                  Perusahaan             Tahun     ROI
                                                             Perusahaan     Perusahaan Sampel
                                         2004     11,55
                                         2005     13,00
      PT Darya Varia Laboratoria Tbk     2006      9,42        10,79
                                         2007      8,90
                                         2008     11,11
                                         2004      1,38
                                         2005      1,85
      PT Indofarma (Persero) Tbk         2006      2,22         1,41
                                         2007      1,10
                                         2008      0,52
                                         2004     12,34
                                         2005     13,51
      PT Kalbe Farma Tbk                 2006     14,63        13,32              6,40
                                         2007     13,73
                                         2008     12,39
                                         2004      6,63
                                         2005      4,73
      PT Kimia Farma (Persero) Tbk       2006      3,49         4,49
                                         2007      3,76
                                         2008      3,83
                                         2004      2,03
                                         2005      1,74
      PT Pyridam Farma Tbk               2006      2,08         2,00
                                         2007      1,83
                                         2008      2,34


        PT Kalbe Farma Tbk mampu menghasilkan laba rata-rata terbesar dengan total
aktiva yang diinvestasikan selama lima tahun, yang kontribusi terbesar dihasilkan pada
tahun 2006. PT Darya Varia Laboratoria Tbk mampu memperoleh laba dengan total
aktiva lebih besar dari tingkat laba rata-rata perusahaan sampel. PT Kimia Farma
(Persero) Tbk, PT Pyridam Farma Tbk dan PT Indofarma (Persero) Tbk mempunyai
laba rata-rata dibawah laba rata-rata perusahaan sampel.


4.5       Economic Value Added (EVA)

          Kinerja perusahaan dalam meningkatkan nilai ekonomis perusahaan dapat
          dilihat dari besarnya economic value added (EVA) yang dihasilkan perusahaan
          tersebut. Dimana EVA adalah merupakan laba usaha (Net Operating Profit After
          Tax, NOPAT) yang dikurangi dengan biaya seluruh modal (total invested




                                                                                                11
       capital) yang dipakai sehingga menghasilkan pendapatan (earning). Berikut ini
       adalah EVA untuk masing-masing perusahaan.

                   Tabel 4.5 Perbandingan Economic Value Added (EVA)

                                                                 Rata-Rata           Rata-Rata
              Perusahaan             Tahun       EVA
                                                               Per Perusahaan    Perusahaan Sampel
                                     2004     15.931.065.161

                                     2005     18.577.174.831

    PT Darya Varia Laboratoria Tbk   2006     30.860.269.829   29.314.054.705

                                     2007     29.781.078.967

                                     2008     51.420.684.737

                                     2004      5.342.663.354

                                     2005      5.624.969.019

    PT Indofarma (Persero) Tbk       2006      9.067.226.285    7.310.366.827

                                     2007     13.422.806.980

                                     2008      3.094.168.497

                                     2004    333.702.557.151

                                     2005    545.093.073.692

    PT Kalbe Farma Tbk               2006    560.913.712.443   449.803.141.903    102.984.078.492

                                     2007    546.420.454.687

                                     2008    262.885.911.542

                                     2004     38.897.277.953

                                     2005     15.868.435.831

    PT Kimia Farma (Persero) Tbk     2006     19.716.020.538   31.227.875.423

                                     2007     36.117.852.480

                                     2008     45.539.790.311

                                     2004      (789.833.891)

                                     2005    (1.227.056.072)

    PT Pyridam Farma Tbk             2006      (876.444.287)   (2.735.046.397)

                                     2007       196.908.784

                                     2008       (38.620.931)


        PT Kalbe Farma Tbk merupakan penghasil nilai terbesar yaitu Rp.
449.803.141.903. PT Kimia Farma (Persero) Tbk menghasilkan nilai tambah rata-rata
Rp. 31.227.875.423. PT Darya Varia Laboratoria Tbk menghasilkan nilai tambah
sebesar Rp. 29.314.054.705. PT Indofarma (Persero) Tbk menghasilkan nilai tambah
sebesar Rp. 7.310.366.827. Sedangkan PT Pyridam Farma Tbk menjadi penghancur
nilai terbesar (Rp 2.735.046.397). EVA perusahaan-perusahaan sampel adalah Rp
102.984.078.492 yang berarti bahwa kinerja rata-rata perusahaan-perusahaan sampel
secara keseluruhan cukup baik dalam menghasilkan nilai tambah ekonomi kepada para
pemegang sahamnya. Hanya PT Pyridam Farma Tbk saja yang menghasilkan EVA
negatif, berarti perusahaan menghancurkan nilai tambah.


                                                                                                     12
4.6          Uji Statistik

       Pada tahap ini akan dilakukan analisis komparatif antara kinerja keuangan
perusahaan dengan menggunakan metode konvensional dan Economic Value Added.
Dengan menggunakan uji t sampel bebas. Berikut ini diperoleh uji statistik Independent
Sample t –test.

              Tabel 4.6 Independent Sample t –test Metode Konvensional dan EVA

                 Levene's Test
                for Equality of                                       t-test for Equality of Means
                   Variance
                                                                                                       95% Confidence Interval of the
                                                      Sig                            Std. Error
                 F        Sig.      t       df                 Mean Difference                                 Difference
                                                   (2tailed)                         Difference
                                                                                                         Lower              Upper
Equal
variances                         0,733     48      0,467      45420815144,72      61933851461,3     -79105539276,9     169947169566
assumed        1,522     0,223
Equal
variances                         0,733    44,63    0,467      45420815144,72      61933851461,3     -79349204050,3     170190834340
notassumed




        Dari hasil uji statistik diatas, maka diperoleh nilai dari thitung sebesar 0,733
dengan signifikansi sebesar 0,467. Dengan melihat hasil tersebut bisa diambil keputusan
untuk menerima Ho atau menolak Ha karena derajat signifikansi 0,467 lebih besar dari
0,05. Kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa tidak terdapat perbedaan yang
signifikan antara penilaian kinerja perusahaan dengan menggunakan metode
konvensional dan Economic Value Added (EVA) karena dalam pengukuran kinerja
keuangan perusahaan menggunakan Economic Value Added (EVA) yang secara
eksplisit memasukkan perhitungan biaya modal ke dalam perhitungannya namun
perbedaan yang dihasilkan tidak signifikan dengan pengukuran kinerja keuangan
perusahaan dengan menggunakan metode konvensional. Dimasukannya biaya modal
merupakan salah satu keunggulan dari Economic Value Added (EVA) dibandingkan
dengan pendekatan lain dalam mengukur kinerja perusahaan, serta perhitungan
Economic Value Added (EVA) ini dianggap cocok karena menyajikan ukuran yang
secara adil memperhitungkan harapan-harapan kreditur dan pemegang saham
perusahaan.



                                          5. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

Kesimpulan

      Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa.
1.    Pengukuran kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan metode
      konvensional menunjukan peningkatan yang fluktuatif. Penurunan laba yang terjadi
      lebih disebabkan oleh adanya faktor tingginya peningkatan biaya operasi
      perusahaan yang diiringi oleh peningkatan yang kurang berarti pada pendapatan
      operasional perusahaan.




                                                                                                                                        13
2.   Pengukuran kinerja keuangan dengan menggunakan metode EVA menunjukkan
     peningkatan dari tahun ke tahun secara stabil, artinya secara umum perusahaan
     telah mampu menciptakan nilai tambah bagi perusahaan dan manajemen mampu
     menyelaraskan kepentingan antara investor dan manajemen terhadap resiko.
     Penurunan nilai EVA yang terjadi lebih disebabkan karena adanya penurunan pada
     nilai NOPAT yang diikuti dengan peningkatan nilai Invested Capital serta serta
     semakin tingginya biaya modal yang harus ditanggung oleh perusahaan.
3.   Dari perhitungan statistik dan pengujian hipotesis, ternyata pengukuran kinerja
     keuangan perusahaan dengan membandingkan penggunaan metode konvensional
     dan economic value added (EVA) menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan
     yang signifikan antara keduanya. Diperoleh nilai dari thitung sebesar 0,733 dengan
     signifikansi sebesar 0,467. Dengan melihat hasil tersebut bisa diambil keputusan
     untuk menerima Ho karena derajat signifikansi 0,467 yang lebih besar dari alpha
     0,05. Kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa tidak terdapat perbedaan yang
     signifikan antara penilaian kinerja perusahaan dengan menggunakan metode
     konvensional dan Economic Value Added (EVA).


Implikasi

       Penggunaan metode konvensional dapat dikatakan lebih baik karena
menghasilkan rata-rata yang lebih besar dibandingkan dengan menggunakan metode
EVA. Tetapi walaupun rata-rata yang dihasilkan lebih besar bukan merupakan suatu
ukuran bahwa kinerja perusahaan baik karena dalam metode konvensional hanya
memperhitungkan biaya modal dari hutang (cost of debt) dan tidak memperhitungkan
biaya modal dari ekuitas (cost of equity), sedangkan economic value added (EVA)
memperhitungkan keduanya. Apabila perusahaan akan menggunakan metode economic
value added (EVA) maka perusahaan harus mampu menekan biaya modal dan harus
lebih mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi seperti tingkat bunga dan kondisi
perekonomian. Antara kedua metode tersebut, masing-masing memiliki kelebihan dan
kekurangannya masing-masing karena dasar perhitungan yang digunakan berbeda.
Secara teoritis perhitungan EVA menggambarkan suatu tolok ukur kinerja keuangan
yang berbasis nilai dan memperhitungkan semua biaya yang ada.
       Peneliti menyarankan kepada investor untuk selalu berhati-hati dalam
menanamkan modalnya, karena tidak semua perusahaan yang dianggap prospective
dapat menghasilkan nilai tambah yang tinggi. Untuk perusahaan, ketika menghadapi
masalah yang mengarah kepada kerugian dikarenakan besarnya beban usaha yang
dikelurkan, maka sebaiknya perusahaan melakukan efisiensi beban usaha agar dapat
menghasilkan laba yang lebih tinggi serta sebaiknya perusahaan juga mengurangi
komposisi biaya utang dan biaya ekuitas agar tercipta penciptaan nilai pada perusahaan.




                                                                                    14
                                DAFTAR PUSTAKA

Baridwan, Zaki. Intermediate Accounting. Yogyakarta: BPFE-UGM, 2008.

Dermawan Sjahrial. Kumpulan Pembahasan Soal-Soal Pengantar Manajemen: Mitra
     Wacana Media. 2009.

Iramani. Financial Value Added: Suatu Paradigma Dalam Pengukuran Kinerja dan Nilai
       Tambah Perusahaan.Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol.7 No.1. Surabaya: UK
       Petra. 2005

Kasmir. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009.

Kustianto dan Badrudin. Statistika 1 (Deskriptif). Jakarta: Gunadarma. 1994.

Miswanto dan Eko Widodo. Manajemen Keuangan 1. Jakarta: Universitas
     Gunadarma, 1998.

Mulyadi. Akuntansi Manajemen Konsep, Manfaat dan Rekayasa. Yogyakarta: STIE
      TKPN. 2001

Purbayu Budi Santosa dan Ashari. Analisis Statistik dengan Microsoft Excel dan SPSS.
      Yogyakarta: Penerbit Andi. 2005.

Resmi, Siti. “Economic Value Added sebagai pengukuran kinerja perusahaan”.
     Majalah Ekonomi, No.3. 2003.

Riyanto, Bambang. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Ed.4.Yogyakarta: BPFE
       1997.

Sawir, A. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan.
      Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001.

Subiyakto Haryono. Statistika 2. Jakarta: Gunadarma. 1994

Tunggal, A. W. Memahami Economic Value Added/EVA Teori, Soal dan Kasus.
      Jakarta: Harvarindo, 2008.

Tunggal, A. W. Pengantar Konsep Economic Value Added (EVA) dan Value Based
      Management (VBM). Jakarta: Harvarindo, 2008.

Utomo, L.L. “Economic Value Added Sebagai Ukuran Keberhasilan Kinerja
      Manajemen Perusahaan”, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Volume (1) No.
      4.1999.

Young, S. David dan Stephen F. O’Byrne. EVA dan Manajemen Berdasarkan Nilai.
      Alih Bahasa Lusy Widjaya. Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2001.



                                                                                 15

								
To top