Docstoc

Perempuan Dan Laki-laki dalam Islam

Document Sample
Perempuan Dan Laki-laki dalam Islam Powered By Docstoc
					    PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI SETARA DIHADAPAN ALLAH



                              (TINJAUAN ISLAM)

                              Oleh : Anjar Nugroho

      Sebelum kedatangan Islam kedudukan perempuan di seluruh dunia
dipandang rendah. Perempuan tidak mendapat hak apa-apa dan diperlakukan
tidak lebih dari barang dagangan. Mereka tidak hanya diperbudak, tapi juga
dapat diwariskan sebagaimana harta benda. Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa
bangsa Arab pada masa Jahiliyyah biasa menguburkan anak perempuan

Kehadiran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw. membawa perubahan yang
cukup mendasar berkaitan dengan harkat dan kedudukan perempuan. Secara
perlahan perempuan mendapat tempat yang terhormat, sampai akhirnya
berbagai bentuk penindasan terhadap perempuan terkikis dari akar budayanya
(Asghar Ali Engineer, 1997)

Secara normatif Islam memandang sama dan sederajat antara laki-laki dan
perempuan. Banyak ayat al-Qur’an yang telah menunjukkan bahwa laki-laki dan
perempuan adalah sama-sama semartabat sebagai manusia, terutama secara
spiritual. Begitu pula, banyak hadis yang menunjukkan kesamaan harkat laki-laki
dan perempuan.

Dalam pandangan agama Islam, segala sesuatu diciptakan Allah dengan kodrat.
“Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan qadar.” (Q.S. al-
Qamar/54 : 49). Oleh pada ulama, qadar di sini diartikan sebagai “ukuran-
ukuran, sifat-sifat yang ditetapkan Allah bagi segala sesuatu”, dan itulah kodrat.
Dengan demikian laki-laki dan perempuan, sebagai individu dan jenis kelamin
memiliki kodratnya masing-masing. Namun demikian, Syekh Mahmud Syaltut,
Pemimpin tertinggi al-Azhar pernah mengatkan :

      “Tabiat kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan hampir apat
      dikatakan Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana
      Allah menganugerahkan kepada laki-laki. Kepada mereke berdua
      dianugerahkan Tuhan potensi dan kemanusiaan”.
Ayat al-Qur’an yang populer dijadikan rujukan di dalam membicarkan tentang
asal usul kejadian perempuan adalah firman Allah dalam al-Qur’an surat an-
Nisa’/4 : 1, “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu, yang telah
menciptakan kamu dari diri (nafs) yang satu, dan darinya Allah menciptakan
pasangannya dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan
perempuan yang banyak.”

Yang dimaksud dengan nafs di sini menurut banyak ulama adalah Adam dan
pasangannya adalah istri beliau Hawa. umumnya para mufassirin memahami
dan meyakini bahwa yang dimaksud dengan nafs wâhidat dan zaujahâ dalam
ayat itu adalah Nabi Adam AS (laki-laki) dan Hawa (perempuan) yang dari
keduanyalah kemudian berkembang biak ummat manusia (Yunahar Ilyas, 1997).
Kontrovesi sesungguhnya bukan kepada siapa yang pertama, tapi pada
penciptaan Hawa yang dalam ayat diungkapkan dengan kalimat wa khalaqa
minhâ zaujahâ. Persoalannya adalah, apakah Hawa diciptakan dari tanah seperti
penciptaan Adam, atau diciptakan dari (bagian tubuh) Adam itu sendiri. Kata
kunci penafsiran yang kontroversial itu terletak pada kalimat minhâ. Apakah
kalimat itu menunjukkan bahwa untuk Adam diciptakan istri dari jenis yang sama
dengan dirinya, atau diciptakan dari (diri) Adam itu sendiri.

      Pandangan ini kemudian melahirkan pandangan negatif terhadap
perempuan, dengan menyatakan bahwa perempuan adalah bagian dari laki-laki.
Tanpa laki-laki perempuan tidak akan pernah ada. Bahkan tidak sedikit diantara
mereka yang mengatakan bahwa perempuan (Hawa) diciptakan dari tulang
rusuk Adam. Kitab-kitab tafsir terdahulu hampir sepakat mengartikannya
demikian. Namun tidak sedikit ulama memahaminya sebagai metafora, bahkan
ada yang menolak keshahihan hadis tersebut (Quraish Shihab, 1999).

        Riffat Hasan tidak hanya menolak dengan keras pandangan para ulama
di atas, bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, tetapi juga
mempertanyakan kenapa dipastikan nafs wâhidah itu Adam dan zaujahâ itu
Hawa, istrinya. Padahal ungkap teolog muslimah yang akhir-akhir ini sangat
serius mengkaji masalah perempuan itu, kata nafs dalam bahasa Arab tidak
menunjukkan kepada laki-laki atau perempuan, tetapi bersifat netral, bisa laki-
laki bisa perempuan. Begitu juga zauj, tidak secara otomatis diartikan istri,
karena istilah itu bersifat netral, artinya pasangan yang bisa laki-laki dan bisa
perempuan. Disamping zauj dikenal juga istilah zaujah, bentuk feminin dari zauj.
Mengutip kamus Taj al-„Arus, Riffat menyatakan bahwa hanya masyarakat hijaz
yang menggunakan istilah zauj untuk menunjukkan kepada perempuan,
sementara di daerah lain digunakan zaujah untuk menyatakan perempuan. Lalu,
tulis Riffat mempertanyakan, kenapa al-Qur’an yang secara meyakinkan tidak
hanya diperuntukkan bagi masyarakat Hijaz, menggunakan istilah zauj bukan
zaujah, seandainya yang dimaksud itu sungguh-sungguh perempuan?

Lepas dari kontrovesri di atas, Amina Wadud Muhsin (1992), menyatakan
bahwa yang penting bukan bagaimana Hawa diciptakan, tetapi kenyataan bahwa
Hawa adalah pasangan Adam. Pasangan, menurut Amina, dibuat dari dua
bentuk yang saling melengkapi dari satu realitas tunggal, dengan sejumlah
perbedaan sifat, karakteristik dan fungsi, tetapi kedua bagian yang selaras ini
pas saling melengkapi sebagai kebutuhan satu keseluruhan. Setiap anggota
pasangan mensyaratkan adanya pasangan lainnya dengan logis dan keduanya
berdiri tegak hanya atas dasar hubungan ini. Dengan pengertian seperti ini
penciptaan Hawa, bagi Amina merupakan bagian rencana penciptaan Adam.
Dengan demikian keduanya sama pentingnya.

        Al-Qur’an tidak membedakan perempuan dan laki-laki dalam konteks
penciptaan dan proses selanjutnya sebagai manusia. Tidak sebagaimana
pandangan sebagian pandangan kebanyakan orang selama ini (khususnya
dalam tradisi Nasrani dan Yahudi) bahwa perempuan diciptakan dari laki-laki,
tapi juga untuk laki-laki. Dalam pandangan al-Qur’an, Allah menciptakan
semuanya (perempuan dan laki-laki) adalah “untuk satu tujuan” (Q.S. Al-Hijr/15 :
85) dan “tidak untuk main-main” (Q.S. Al-Anbiya’/21 : 16). Hal tersebut
merupakan salah satu tema utama al-Qur’an.

        Dalam kapasitas manusia sebagai hamba, tidak ada perbedaan antara
laki-laki dan perempuan . Keduanya mempunyai potensi dan peluang yang sama
untuk menjadi hamba ideal. Hamba ideal dalam al-Qur’an biasa diistilahkan
denagn orang-orang yang bertaqwa (muttaqun), dan untuk mencapai derajat
muttaqun ini tidak dikenal adanya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa atau
kelompok etnis tertentu.

Manusia, yang diciptakan “dengan sebaik-baik bentuk” (Q.S. At-Tin/95 : 4) telah
diciptakan untuk mengabdi kepada Allah (Q.S. Adz-Dzariyat/51 : 56). Yang
selanjutnya, menurut ajaran al-Qur’an, pengabdian kepada Allah tidak bisa
dipisahkan dari pengabdian kepada umat manusia, atau, dalam istilah Islam,
orang-orang yang beriman kepada Allah harus menghormasti Haqqullah (hak-
hak Allah) dan Haqul „Ibad (hak-hak makhluq). Penenuhan kewajiban kepada
Tuhan dan manusia merupakan hakekat kesalehan. Laki-laki dan perempuan
sama-sama diseru oleh Allah agar berbuat kebajikan dan akan diberi pahala
yang sma untuk kesalehan mereka. Hal ini dinyatakan dengan jelas dala
sejumlah ayat al-Qur’an seperti berikut :
“ Dan Tuhan …. memperkenankan permohonan mereka : “Tidak pernah aku sia-
siakan amal setiap kamu, baik laki-laki maupun perempuan. Sebagian kamu
adalah turunan dari sebaian yang lain.” (Q.S. Ali Imran/3 : 195)

“ Siapapun yang berbuat kesalehan, baik laki-laki maupun perempuan, dan
mereka beriman, mereka akan masuk ke dalam surga. Dan tidaklah
ketidakadilan sekecilpun akan ditimpakan kerpada mereka.” (Q.S. An-Nisa’/4 :
124)

“ Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, adalah pelindung, yang
satu terhadap yang lain : mereka menyuruh kepada keadilan dan mencegah
berbuat kejahatan; mereka taat melakukan shalat, menunaikan zakat, dan taat
kepada Allah dan Rasul-Nya. Atas mereka, akan Allah limpahkan rahmat-Nya
karena Allah.” (Q.S. At-Taubah/9 : 71)

“Siapapun yang berbuat kesalehan, laki-laki ataupun perempuan, dan mereka
beriman, sungguh, kepada mereka akan Kami berikan suatu kehidupan baru,
kehidupan yang baik dan suci, dan Kami akan memberikan pahala yang terbaik
atas apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. an-Nahl/16 : 97)

Ayat-ayat di atas mengisyaratkan konsep kesetaraan laki-laki dan perempuan
yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individu, baik dalam
bidang spiritual maupun urusan karier profesional, tidak mesti dimonopoli oleh
salah satu jenis kelamin saja. Laki-laki dan perempuan memperoleh kesempatan
yang sama meraih prestasi yang optimal. Namun dalam kenyataan di
masyarakat muslim, konsep ideal ini membutuhkan tahapan dan sosialisasi,
karena masih terdapat sejumlah kendala, terutama kendala budaya yang sulit
diselesaikan.

Salah satu tujuan al-Qur’an ialah terwujudnya keadilan di dalam masyarakat.
Keadilan dalam al-Qur’an mencakup segala segi kehidupan umat manusia, baik
sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Karena itu al-Qur’an
tidak mentolerir segala bentuk penindasan, baik berdasarkan kelompok etnis,
warna kulit, suku bangsa, dan kepercayaan, maupun yang berdasarkan jenis
kelamin.

       Al-Qur’an tidak hanya menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan benar-
benar setara dalam pandangan Allah tetapi juga bahwa mereka merupakan
“anggota-anggota” dan “pelindung” satu sama lain. Dengan kata lain, al-Qur’an
tidak menciptakan hirarki-hirarki yang menempatkan laki-laki di atas perempuan
(sebagaimana dilakukan oleh banyak ulama Nasrani). Al-Qur’an juga tidak
menempatkan laki-laki dan perempuan dalam satu hubungan yang bermusuhan.
Mereka diciptakan sebagai makhluq-makhluq yang setara dari Pencipta alam
semesta, yang Maha Adil dan Maha Pengasih, yang menginginkan mereka hidup
dalam harmoni dan kesalehan bersama-sama.
Meskipun al-Qur’an menegaskan kesetaraan laki-laki dan perempuan,
masyarakat muslim pada umumnya tidak menganggap laki-laki dan perempuan
setara, terutama dalam konteks perkawinan. Dasar penolakan masyarakat
Muslim terhadap gagasan kesetaraan laki-laki dan perempuan berakar dalam
keyakinan bahwa perempuan lebih rendah dalam asal-usul penciptaan (karena
diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok) dan dalam kesalehan (karena
membantu setan dalam menggoda Adam untuk melakukan apa yang telah
dilarang Allah), dan diciptakan terutama untuk dimanfaatkan oleh laki-laki yang
lebih tinggi dari mereka.

Superioritas laki-laki atas perempuan yang meresap dalam tradisi Islam
didasarkan kepada hadis-hadis Israilliyat (penyusupan ide-ide Israel dalam
muatan hadis) dan juga pada interpretasi-interpretasi ayat-ayat al-Qur’an.
Riwayat Isra’illiyat ialah cerita-cerita yang bersumber dari agama-agama samawi
sebelum Islam,seperti dari Yahudi dan Nasrani. Cerita-cerita ini muncul di dalam
kitab-kitab tafsir dan dalam kitab-kitab syarh Hadis. Bisa jadi cerita-cerita tesebut
dimasukkan oleh para mantan pengikut kedua agama itu yang sudah masuk
Islam, atau mungkin pula melalui upaya penyusupan secara sistematis oleh
kalangan penganut agama tersebut. Beberapa kitab tafsir mu’tabar
mengintrodusir kisah-kisah isra’iliyat, seperti Tafsir al-Thabari, Tafsir al-Qurthubi,
tafsir al-Alusi dan sebagainya (Nasaruddin Umar, 1999). Seperti yang sudah
diketahui, dalam ajaran Nasrani maupun Yahudi terdapat pendangan yang
merendahkan derajat perempuan. Dengan demikian semakin banyak
mengintrodusir kisah-kisah Isra’illiyat dalam penafsiran al-Qur’an maupun Hadis,
semakin besar pula peluang terjadinya bias ketidakadilan dalam memandang
hubungan antara laki-laki dan perempuan

Contoh kisah Isra’iliyyat dalam penafsiran al-Qur’an adalah kisah asal-usul
kejadian perempuan. Dalam Kitab Perjanjian Lama diceritakan kisah-kisah yang
secara umum cenderung difahami memberikan citra negatif terhadap
perempuan, seperti menafsirkan kehadiran perempuan untuk melengkapi bagian
dari kebutuhan laki-laki (2:20). Perempuan dikesankan sebagai ciptaan kedua
(second creation) dan subordinasi dari laki-laki karena ia diciptakan dari tulang
rusuk laki-laki (2:21-22). Perempuan ditimpakan kesalahan dalam kisah jatuhnya
manusia (Adam dan Hawa) dari surga ke dunia (3:12), karenanya perempuan
harus lebih banyak menanggung resiko dalam konsep dosa warisan tersebut
(3:12) Ayat-ayat ini dijelaskan secara panjang lebar dalam Kitab Talmud, suatu
kitab yang mengulas ayat-ayat yang terdapat dalam Kitab Perjanjian Lama.

Penggunaan kisah-kisah Isra‟iliyyat di dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an
maupun Hadis tidak selamanya dipandang negatif. Agama Yahudi dan agama
Nasrani yang kemudian melahirkan Kitab Taurat dan Injil, adalah berasal dari
anak cucu Nbi Ibrahim. Keberadaan kedua agama dan kedua kitab suci tersebut
diakui dalam al-Qur’an. Merujuk kepada kedua Kitab Suci tersebut dipandang
syah dan wajar oleh para mufassir. Hanya saja maslahnya alah sejauh mana
keaslian kisahikisah yang dijadikan rujukan tersebut. Kalau yang dijadikan
rujukan adalah kisah-kisah yang terdapat dalam Kitab Talmud, sebagaimana
telah diketahui, banyak terdapat cerita-cerita rakyat Babilonia.

Dengan mengintrodusir tradisi klasik masyarakat Babilonia yang sarat dengan
mitos itu, maka barang tentu akan menimbulkan pandangan yang menyudutkan
perempuan, mengingat mitos-mitos Babilonia sangat merugikan
perempuan.Tidak heran jika kitab-kitab tafsir yang mengintrodusir kisah-kisah
Isra‟iliyyat ditemukan banyak penafsiran yang memojokkan perempuan.

Allah yang berbicara melalui al-Qur’an bercirikan keadilan dan dinyatakan secara
jelas dalam al-Qur’an bahwa Tuhan tidak akan pernah berbuat zulm (tidak jujur,
tirani, pemerasan dan perbuatan yang salah). Karenanya, al-Qur’an sebagai
firmah Allah tidak bisa dijadikan sumber ketidakadilan manusia, dan
ketidakadilan yang membuat perempuan Muslim ditundukkan dan diremehkan,
tidak bisa dianggap dari Allah.

Al-Qur’an, menurut penulis, sangat memperhatikan pembebasan manusia –baik
laki-laki mapun perempuan – dari berbagai macam penindasan dan
ketidakadilan yang pada akhirnya menghalangi manusia mengaktualisasikan visi
al-Qur’an tentang tujuan hidup manusia yang mewujud dalam pernyataan al-
Qur’an : “Kepada Allah-lah mereka akan kembali.” (Q.S. An-Najm/53 : 42)

				
DOCUMENT INFO
Stats:
views:4427
posted:1/29/2011
language:Indonesian
pages:6