Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Masalah Gizi Remaja Dan Wanita Muda

VIEWS: 1,151 PAGES: 5

									Masalah Gizi Remaja dan Wanita Muda

Pendahuluan

Membangun sumber daya manusia yang berkualitas sehingga dapat meneruskan
perjuangan bangsa dan dapat bersaing dengan bangsa lain adalah tantangan yang
dihadapi tidak hanya oleh negara maju tapi juga oleh negara berkembang seperti negara
kita.Kualitas sumber daya itu sendiri dipengaruhi oleh kesehatan dan pendidikan. Dua hal
ini saling terkait satu sama lain. Kesehatan, baik kesehatan fisik maupun mental
merupakan syarat berhasilnya pendidikan. Karena hanya dalam kondisi sehat lah kita
dapat menuntut ilmu dan menerapkannya Sedangkan mutu pendidikan yang baik akan
mendorong peningkatan status kesehatan seseorang. Karena mutu pendidikan yang baik
akan berimplikasi pada meningkatnya pendapatan di sampng pengetahuan yang baik
mengenai perlunya pemenuhan gizi seimbang. Sehingga daya beli dalam rangka
pemenuhan gizi tersebut dapat meningkat. Terkait dengan kelanjutan pembangunan,
maka sesungguhnya kita sedang membicarakan generasi muda. Generasi muda adalah
generasi penerus perjuangan bangsanya. Akan bagaimana nasib bangsanya di masa
depan, generasi muda saat ini lah jawabannya.

Menyiapkan generasi muda dalam hal ini adalah remaja yang siap untuk meneruskan
estafet pembangunan dan bersaing dalam skala global bukan hal yang mudah. Salah satu
faktor yang menjadi penghalang terciptanya generasi penerus yang unggul yakni masalah
gizi. Karena kekurangan gizi menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik dan
perkembangan kecerdasan. Remaja yang terpenuhi dengan baik kebutuhan gizinya tentu
akan tumbuh sehat, dapat menggunakan daya pikir dengan optimal, sehingga dapat
berproduktifitas dengan maksimal. Dan sebaliknya jika remaja kurang konsumsi gizinya
maka dia akan sering sakit, daya pikir tidak berkembang, sehingga tidak dapat
berproduktifitas dengan baik sebagaimana mestinya. Masalah gizi pada remaja tentunya
juga akan berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat karena remaja tidak lain adalah
bagian dari masyarakat juga. Dampak negatif itu antara lain turunnya konsentrasi belajar,
resiko melahirkan bayi BBLR, dan penurunan kesegaran jasmani. Lalu bagaimana remaja
dengan kondisi seperti ini akan membangun bangsanya. Begitu juga dengan wanita usia
muda atau wanita usia subur (WUS). Merupakan salah satu komponen yang berperan
penting dalam usaha pembangunan bangsa. Mengingat jumlahnya yang cukup besar
sehingga pemberdayaan yang baik dari jumlah yang cukup besar ini tentu akan sangat
membantu proses percepatan pembangunan. Untuk itu perhatian terhadap kesehatan
kelompok ini juga tidak kalah pentingnya.

Sudah sekitar tiga puluh tahun pemerintah melalui program pembangunan jangka panjang
berusaha memperbaiki masalah gizi utama yang terjadi di Negara ini seperti Kekurangan
Vitamin A, Kekurangan Energi Protein, Gangguan Akibat Kurang Yodium dan Anemia
Gizi Besi. Walaupun berhasil melakukan perubahan, namun perubahan tersebut dinilai
lamban Keadaan ini menyebabkan Indonesia mengalami beban ganda masalah gizi yaitu
gizi kurang belum sepenuhnya diatasi, gizi lebih sudah menunjukkan peningkatan.
Sebagaimana telah dipaparkan di atas tadi, tentang pentingnya menyiapkan generasi
muda yang sehat yang akan melanjutkan pembangunan nantinya maka masalah gizi harus
mendapat perhatian serius untuk segera diatasi. Masalah ini tentunya akan lebih mudah
diatasi jika semua pihak masyarakat, swasta dan pemerintah mau bekerja sama. Akan
sulit mengatasi masalah ini jika hanya berharap pada pemerintah, karena tenaga
kesehatan masih kurang belum lagi masih banyak masalah lain yang juga cukup penting
sehingga pemerintah tidak bisa terlalu fokus pada masalah gizi ini saja.

Tujuan
Untuk mengethahui masalah gizi yang terjadi pada remaja, dampak, dan penyebabnya
serta solusi untuk mengatasi dan mencegahnya.

Pembahasan

Masalah Gizi Remaja dan Wanita Muda
Masalah gizi bukan hal yang terjadi secara tiba-tiba (akut). Masalah gizi merupakan hal
yang terjadi dalam proses waktu yang lama bahkan menahun (kronis). Masalah gizi ini
sulit terdeteksi sejak dini. Kita tidak akan langsung mengetahui bahwa seorang ibu hamil
kekurangan zat besi, bayi terganggu pertumbuhannya dan anak sekolah yang kesulitan
menyerap pelajaran karena kekurangan yodium. Sehingga yang perlu dilakukan adalah
upaya preventif.

Setiap kelompok umur: bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan manula tidak terlepas dari
masalah gizi. Bahkan masalah gizi ini dapat bersifat intergenerational impact. Artinya
masalah gizi pada kelompok umur tertentu dapat mempengaruhi siklus hidup selanjutnya.
Misalnya proses kehamilan akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan bayi nantinya.
Sehingga penting sekali memenuhi kebutuhan gizi selama proses kehamilan ini. Namun
kesehatan selama kehamilan juga terkait pada kesehatan sebelum kehamilan yakni pada
saat remaja atau usia sekolah.

Ada dua hal yang terkait dengan masalah gizi yang dialami oleh remaja dewasa ini.
Pertama, tidak seimbangnya konsumsi makanan dengan kebutuhan tubuh baik konsumsi
kurang sehingga menyebabkan remaja menjadi kurus maupun konsumsi berlebih
sehingga menyebabkan obesitas. Remaja adalah masa dimana banyak sekali terjadi
perubahan pada diri manusia. Pada masa ini terjadi perubahan fisik yang signifikan akibat
adanya ekspresi hormon tertentu yang dihasilkan oleh tubuh kita. Perubahan fisik tersebut
seperti perubahan suara, menjadi bidangnya dada, melebarnya pundak dan tumbuhnya
kumis dan janggut pada laki-laki sedangkan pada perempuan seperti membesarnya
pinggul dan menstruasi. Selain itu juga terjadi perubahan secara emosional. Pada remaja
akan timbul rasa ingin mendapat pengakuan dari lingkungannya dan mulai mencari
jatidiri bahwa siapakah dia sebenarnya. Perasaan ini akan membuat mereka berusaha
mencari pergaulan yang cocok menurut mereka dimana mereka bisa diakui dan berusaha
mencontoh tingkah laku orang yang menurut mereka juga pantas untuk mereka contoh.

Terjadinya perubahan fisik dan emosional tadi tentu akan berpengaruh pada kebutuhan
mereka akan gizi. Dimana kebutuhan itu akan meningkat karena pada masa remaja ini
mereka akan banyak melakukan aktifitas dan pertumbuhan tubuh berlangsung sangat
cepat. Sedangkan kita ketahui bahwa setiap aktivitas membutuhkan energi yang cukup
begitu juga dengan proses pertumbuhan tubuh kita dimana sel melakukan pembelahan
sehingga jika makanan yang mereka konsumsi tidak sesuai dengan energi yang mereka
gunakan untuk beraktifitas maka tubuh akan menanggung beban yang berat dan dapat
jadi `pencuri` pada dirinya sendiri. Jika tidak tersedia sumber energi dari karbohidrat
yang cukup, maka tubuh akan menggunakan cadangan lemak pada tubuh kita. Jika lemak
tidak mencukupi maka tubuh akan menggunakan protein pada tubuh padahal protein ini
sendiri juga dibutuhkan untuk banyak keperluan seperti mengganti sel yang rusak,
pertumbuhan, enzim, hormon, hemoglobin. Begitu seterusnya tubuh kita akan terus
menggerogoti cadangan energi lainnya yang ada pada tubuh kita jika kita tidak
mengkonsumsi nutrisi yang mencukupi kebutuhan energi kita. Sehingga menjadi
penyebab rendahnya IMT dari yang seharusnya (Kurus,IMT<18,5). Namun, di Indonesia
telah terjadi masalah gizi ganda pada remaja (double burden). Di satu sisi terjadi masalah
gizi karena kekurangan nutrisi, di sisi lain terjadi masalah gizi karena konsumsi makanan
yang berlebih. Fakta ini bahkan telah tampak jelas di 27 propinsi pada tahun 1996/1997.
Tidak hanya terjadi di perkotaan, tapi juga terjadi dipedesaan. Berdasarkan hasil analisa
HKI tentang double burden ini, IMT<18,5 terjadi pada remaja. Seiring bertambahnya usia
kasus ini berubah menjadi naiknya IMT menjadi > 25 bahkan menjadi > 27 (obesitas).
Hal ini terjadi terutama pada usia 30 tahun keatas. Dan lebih ekstrim terjadi pada
perempuan. Gejala ini juga terjadi di daerah kumuh perkotaan dan pedesaan. Hanya saja
jumlahnya lebih sedikit bila dibandingkan dengan yang terjadi di ibukota propinsi.

Dalam 19 tahun terakhir terjadi pergeseran proporsi kematian yang tinggi dari kelompok
usia muda ke kelompok usia tua, pergeseran perubahan penyakit penyebab kematian,
kematian karena penyakit infeksi menurun, kematian karena penyakit degeneratif dan
pembuluh darah meningkat hingga 2-3 kali lipat. Kegemukan dan obesitas merupakan
salah satu yang dapat mengakibatkan sesorang terkena penyakit karena degeneratif dan
pembuluh darah. Kegemukan dan obesitas itu umumnya terjadi karena perubahan gaya
hidup dan konsumsi makanan yang tinggi karbohidrat, lemak, dan garam namun rendah
serat dan kurang olahraga karena mobilitas yang tinggi sebagi usaha untuk
mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya.

Pada WUS, selain kasus double borden ini, baik kekurangan energi kronis (KEK)
maupun obesitas. Juga terjadi kasus AGB (Anemia Gizi Besi). AGB ini ditemukan pada
40% ibu hamil. Sedangkan KEK ditemukan pada WUS (15-29 tahun) sekitar 16.3 %
namun persentase ini cenderung turun tiap tahunnya. Kasus KEK akan lebih besar
proporsinya pada usia 15-29 tahun dan akan menurun seiring bertambahnya umur.
Ironisnya, jika kasus KEK ini terjadi WUS dan berlanjut pada proses kehamilan maka
bayi yang ada dalam rahim akan terpengaruh dan akan berisiko melahirkan bayi BBLR.
Lebih lanjut akan menjadi masalah pada pertumbuhan anak saat balita.

Perubahan emosional juga punya peran terhadap masalah gizi yang terjadi pada remaja
meskipun tidak secara langsung. Hal ini dapat diakibatkan oleh perilaku tidak sehat yang
mereka lakukan akibat dari pengaruh lingkungan. Misalnya saja jika di lingkungan
tempat mereka bergaul mayoritas adalah perokok, peminum minumam beralkohol, dan
terjadi pergaulan bebas kemungkinan besar mereka juga akan terpengaruh. Karena
perubahan emosional tadi membuat mereka ingin mendapat pengakuan dari
lingkungannya sehingga mereka akan cenderung mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang
ada dilingkungannya tersebut. Belum lagi kondisi emosional pada saat remaja sangat labil
sehingga mudah terpengaruh dan punya rasa ingin tahu yang besar terhadap hal baru. Dan
tentu saja kebiasaan merokok, minum minuman keras dan seks bebas tadi tidak baik bagi
kesehatan remaja. Karena dapat mengganggu penyerapan zat gizi pada tubuhnya
sekaligus memberi racun pada dirinya sendiri. Dan ini tentunya akan berimpilikasi pada
masalah gizi juga.

Solusi terhadap masalah gizi remaja dan wanita usia muda
Lebih dari 50% penduduk Indonesia saat ini tinggal di pedesaan dan daerah sulit. Untuk
itu kepada mereka perlu di berikan bantuan kredit untuk mengembangkan usahanya dan
di bantu dalam pemasarannya dengan begitu kesejahteraan mereka akan lebih baik. Krisis
ekonomi telah banyak berdampak kemiskinan. Sekarang ini masih ada lebih kurang 38
juta penduduk miskin ( azrul azwar; 2004). Sehingga membuat daya beli masyarakat
menurun dan tidak mampu mencukupi kebutuhan gizi yang tentunya akan berpengaruh
pada siklus kehidupan seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya.

Kasus gizi buruk yang terus meningkat mengindikaskan rendahnya ketahanan pangan di
tingkat rumah tangga. Sebagai solusi, perlu dilakukan program jaring pengaman sosial
seperti pemberian suplementasi yang tepat sasaran, tepat waktu dan dengan kualitas yang
baik. Hal ini juga dapat berfungsi sebagai gerakan preventif terhadap kemungkinan
masalah gizi yang akan terjadi.

Tingkat pendidikan juga memiliki pengaruh pada masalah gizi. Tingkat melek huruf di
Indonesia sekitar 90% namun tidak berimplikasi pada berkurangnya kasus gizi buruk.
Berati masih kurang tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan
kurangnya pengetahuan mereka tentang bagaimana menjaga kesehatan sendiri dan
lingkungan. Untuk itu perlu dilakukan sosialisasi dalam skala nasional tentang bagaimana
upaya meningkatkan kesehatan keluarga dan pentingnya menjaga kesehatan karena harga
yang akan kita bayar untuk mengobati penyakit akan lebih mahal daripada biaya untuk
menjaga kesehatan kita. Karena ketika sakit kita tidak dapat bekerja seperti biasanya
sehingga produktivitas menurun belum lagi masalah tersebut akan berdampak pada orang
lain misalnya keluarga yang merawat kita atau bisa juga pada rekan kerja kita yang
pekerjaannya terhambat karena tugas yang harusnya kita kerjakan dibebankan kepada
mereka.

Kesimpulan dan Saran
Masalah gizi yang dominan terjadi pada remaja dan WUS antara lain Kekurangan Energi
Kronis, obesitas, dan anemia gizi besi. Masalah ini bersifat intergenerational impact
yakni masalah gizi pada salah satu bagian dari siklus kehidupan akan berdampak pada
siklus kehidupan yang lainnya. Secar umum masalah gizi ini dapat terjadi karena tidak
seimbangnya konsumsi makanan dan karena perilaku negatif seperti merokok, minum
minuman keras dan seks bebas.

Untuk mengatasi masalah ini maka diperlukan kesadaran dari remaja itu sendiri tentang
pentingnya menjaga kesehatan dan cara pemenuhan gizi yang baik. Peran orang tua
dalam rangka usaha untuk memenuhi gizi anaknya. Peran pemerintah dal;am upaya
meningkatan kesejahteraan keluarga sehingga kualitas hidup meningkat dan pada
akhirnya dapat memperbaiki kualitas kesehatannya.

								
To top