Docstoc

Model Pengembangan RPP

Document Sample
Model Pengembangan RPP Powered By Docstoc
					                    MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
                                  SENI RUPA

Dalam tulisan ini akan dibahas beberapa model pengembangan kurikulum inovasi pada
pendidikan Seni Rupa. Yang dimaksud dalam pengembangan kurikulum inovasi pada
pendidikan Seni Rupa adalah dilihat dari berbagai sudut, dimana pembelajaran tidak
konvensional atau seperti yang biasa dilakukan yaitu di dalam kelas dan fokus pada guru
sebagai sutradara. Mengapa ini masih dianggap perlu, karena pelaksanaan pendidikan
Seni Budaya khususnya Seni Rupa di lapangan tidak terjadi sesuai apa yang diharapkan.
Setiap satuan pendidikan dapat memilih salah satu atau beberapa model pengembangan
kurikulum inovasi yang dapat diterapkan dengan tepat sesuai dengan kondisi sekolah dan
daerah masing-masing.
Adapun prinsip pengembangan dalam pendidikan Seni Rupa adalah : a. Berakar budaya
Nusantara, b. Berpusat pada kebutuhan peserta didik, c. Memperhatikan kondisi sekolah
dan lingkungan, d. Dinamis, e. Bebas jender, f. Memperhatikan karakteristik siswa, g.
Mengembangkan konsep pikir.

          Tujuan umum untuk peserta didik dalam pengembangan model ini adalah :
          1. Mengembangkan sikap kreatif, terampil dan bertanggung jawab dalam
             kegiatan berkarya Seni Rupa.
          2. Mengembangkan teknologi sederhana dan tepat guna.
          3. Mampu menciptakan peluang untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan
             lingkungannya.
          4. Menyalurkan dan memupuk minat serta bakat.
          5. Menggali sikap kemandirian melalui kreativitas, keterampilan dan
             Estetika.
          6. Mengembangkan dan mengasah sikap apresiatif terhadap media dan karya
             Seni Rupa dalam berbagai bentuk dan kritik seni.

      Model Pengembangan Pembelajaran
        1). Definisi
        Model pengembangan dalam bidang pembelajaran merupakan strategi
        pengajaran dengan menerapkan pengembangaan pada seluruh perangkat
        pembelajaran di kelas. Perangkat pembelajaran yang dimaksud dapat meliputi :
        - Bentuk karya
        Kebanyakan pengajaran seni rupa selalu berorientasi pada gambar atau bentuk 2
        dimensi, maka perlu dikembangkan menjadi 3 dimensi dengan kreasi karya
        yang beraneka ragam.

          - Media dan sumber inspirasi
         Media yang biasa digunakan adalah kertas, maka pada pengembangannya perlu
         dikreasikan menjadi aneka media seperti kayu, daun, plastik, dll dengan
         berbagai bentuk tidak hanya persegi empat. Media Audio Visual juga dapat
         digunakan sebagai media pembelajaran.
         Sumber inspirasi dapat dicari dari berbagai tempat seperti buku, media massa,
         internet, atau pengrajin.
   - Pengelolaan kelas
    Meja dan kursi dapat diatur sedemikian rupa agar siswa tidak bosan, sekali
    waktu dapat dibuat lesehan dan berkelompok. Penataan dapat disesuaikan
    dengan tugas yang akan dilakukan peserta didik. Perlu juga tempat yang lapang
    untuk menjelaskan materi kepada siswa dimana siswa duduk posisi di bawah
    agar memudahkan pembelajaran.
    Sangat perlu dibuatkan pojok baca dimana peserta didik akan bereksplorasi
    mencari sumber ide dalam berkarya.
    Alat-alat dan bahan belajar yang diperlukan peserta didik perlu dipersiapkan
    dan ditempatkan pada rak-rak yang terbuka sehingga peserta didik dapat bekerja
    mandiri dengan alat dan bahan yang tersedia tanpa harus meminta bantuan.

     - Tempat display
    Persiapkan tembok dan meja untuk mendisplay karya peserta didik untuk
   apresiasi.
   - Wadah cuci tangan dan peralatan
   Perlu juga dipersipkan wadah cuci tangan dengan kran atau ember yang mudah
   dijangkau peserta didik untuk membersihkan tangan dan alat belajar.
    - Pengembangan instruksi tugas
   Sekali waktu perlu membuat game dalam pembelajaran Seni Rupa untuk
   mencegah kebosanan, seperti ;

a. gambar estafet; peserta didik diminta untuk bekerja dalam sebuah kelompok dan
    diberikan media untuk melukis/menggambar, setiap peserta mendapatkan
    sebuah media gambar. Lalu guru meminta peserta didik menggoreskan apa saja
    dalam media gambar tersebut dengan alat gambar misal krayon. Biarkan hingga
    5 menit, setelah waktu 5 menit selesai media gambar dioper kepada temannya
    dengan hitungan operan 3 kali dengan menyebutkan 3 warna contohnya merah
    kuning biru sebagai warna pokok. Peserta didik berikutnya melanjutkan gambar
    tersebut. Begitu terus menerus hingga selesai. Gambar harus betul-betul jadi dan
    bisa dipamerkan sehingga mereka akan sungguh-sungguh bekerja. Gambar
    boleh saja diganti dengan membentuk plastisin estafet dan sebagainya.

b. instruksi mencongak, Guru mengajarkan komposisi dengan cara mendikte
    soal-soal yang perlu dibuat oleh peserta didik dalam beberapa menit. Peserta
    didik diberi media 3 dimensi yang akan diselesaikan dengan cara kolase.
    Misalnya; buatkan 3 jenis garis yang berbeda ukuran dan posisi pada
    bidang/media 3 dimensi tersebut dengan tempelan aneka bahan kolase. Lalu
    peserta didik melakukan. Dalam hitungan 10 menit misalnya guru menyebutkan
    lagi soal kedua; Buatlah bentuk lingkaran besar dan kecil sebanyak 5 buah yang
    tersebar pada media 3 dimensi tersebut. Begitu seterusnya hingga selesai.
c. tebak bentuk atau gambar, kegiatan ini seperti permainan win lose or draw di
    televisi, sangat menarik dan membuat peserta didik ketagihan dalam belajar dan
    mengolah bentuk dengan baik, dll.
        2). Tujuan
            Adapun tujuan pengembangan model pembelajaran ini adalah guna
            meningkatkan kualitas pembelajaran dalam kelas, mencegah kebosanan, dan
            mewadahi potensi peserta didik dengan variasi pembelajaran.

        Model Pengembangan Kelas Khusus
          1). Definisi
           Model pengembangan kelas khusus ini merupakan strategi penangan potensi
          peserta didik sesuai minat atau pilihan peserta didik sendiri. Dimana sistem
          pemilihan diatur oleh pengajar, dan kelas khusus yang dibuka merupakan kelas-
          kelas proyek materi seni rupa yang disesuaikan dengan besaran materi yang
          harus dikuasai siswa di dalam kurikulum. Misal ; kelas lukis, kelas keramik,
          kelas patung, kelas batik , kelas desain grafis, dll. Adapun waktu dibukanya
          kelas khusus ini dapat pertiga bulan atau persemester. Sehingga nantinya
          lulusan dapat merasakan pembelajaran dalam setiap materi dengan lebih mahir.
          2). Tujuan
           Peserta didik dapat mengasah potensi dalam jangka waktu yang cukup panjang
          sehingga peserta didik dapat belajar lebih mendalam pada satu materi tertentu.
          Tentunya kelas khusus ini dapat diterapkan pada siswa kelas tinggi di Sekolah
          Dasar dan Sekolah Menengah.

        Model Pengembangan Kelas Integrasi
          1). Definisi
           Model pengembangan kelas integrasi merupakan strategi pengajaran yang
          memadukan beberapa bidang seni ke dalam satu pembelajaran. Untuk dapat
          membuat kelas integrasi/terpadu maka pengajar perlu menentukan sebuah tema
          khusus yang tepat untuk diterapkan dalam berbagai bidang seni. Misal ; Tubuh
          manusia, Perayaan, dll. Tema yang sudah dibuat itu lalu dibuatkan dalam
          silabus, disitu akan terlihat kompetensi apa yang dapat dimunculkan dalam seni
          rupa, seni musik, seni tari dan seni teater dalam tiap kelasnya.
          Tentunya dalam menerapkan kelas integrasi tidak mudah, seorang pengajar
          harus mengetahui dan menguasai semua bidang seni terlebih dahulu sebelum
          diajarkan pada peserta didik. Dalam pelaksanaannya pun kelas integrasi hanya
          tentatif, sewaktu-waktu saja mengingat seorang pengajar harus menjadi
          meneger dalam kelas dan juga tidak semua bidang seni dapat diintegrasi pada
          setiap tema yang ditentukan.
          Dalam kelas integrasi guru dituntut harus kreatif, agar peserta didik dapat
          menerima pelajaran dengan baik dan hati senang.

             2). Tujuan
                Memadukan setiap unsur seni dalam satu waktu pembelajaran, yang dapat
               membuat pembelajaran menjadi efektif, efisien dan menarik.

             Model Pengembangan Luar Kelas (OutDoor)
              1). Definisi
         Model pengembangan luar kelas merupakan strategi pengajaran yang
         memanfaatkan lingkungan luar kelas menjadi tempat belajar atau ruang kelas.
         Pengajar diharapkan dapat merubah suasana belajar yang sudah tidak kondusif
         ke dalam suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.
         Tentunya dalam menjadikan luar kelas sebagai tempat belajar dilihat cuaca
         terlebih dahulu, apakah memungkinkan atau tidak. Kesiapan peralatan yang
         digunakan sangat berpengaruh terhadap keberhasilkan pembelajaran.
         Materi yang diberikan kepada peserta didik hendaknya disesuaikan dengan
         kondisi penggunaan luar kelas tersebut. Alat dan bahan pun dapat
         memanfaatkan kondisi alam di lingkungan tersebut.
         Peserta didik sangat senang jika dibawa ke luar kelas, karena tercipta suasana
         yang baru. Hal ini dapat berdampak positf terhadap kesiapan dan kualitas hasil
         belajar peserta didik.
         2). Tujuan
         Dapat merangsang banyak gagasan jika berada di luar kelas. Peserta didik
         dapat belajar dari alam terbuka. Dapat menemukan banyak kejutan dalam hal
         kreativitas.

        Model Pengembangan Kelas Magang
         1). Definisi
         Model pengembangan kelas magang merupakan strategi pengajaran dimana
         peserta didik belajar di tempat pengrajin atau seniman tertentu. Di sini peserta
         didik dapat berinteraksi langsung dengan pengrajin. Peserta didik dapat
         bertanya pada sumber belajar yang tepat dan terlihat. Misal ; pada pengrajin
         anyaman bambu, atau seniman keramik.
         Dalam kelas magang tentunya perlu waktu khusus, yang mungkin dapat
         diagendakan sebagai karyawisata atau workshop. Peserta didik langsung
         belajar berkarya ditempat tersebut, sehingga pengalaman yang didapat lebih
         berkualitas.
         Pertemuan dapat diatur dalam 1 atau 2 kali berjalan, sehingga tidak terlalu
         mengganggu jam sekolah. Dan waktu kunjungan ini pun harus disesuaikan
         dengan kondisi, sehingga hanya materi tertentu saja yang dapat dilakukan
         mengingat pengrajin yang tersedia juga terbatas.
         2). Tujuan
          Memberi pengalaman langsung kepada peserta didik kepada sumber belajar
         dan peran profesi pada pengrajin atau seniman tertentu.

                                     MUSIK
  MODEL PEMBELAJARAN TENTANG KEPEKAAN PERSEPTUAL DAN
           ELEMEN MUSIKDI KELAS I, II DAN III SD


A. PENGALAMAN RUANG
  Penggunaan sebanyak mungkin alat inderanya, diharapkan peserta didik menjelajahi
  suatu ruangan, untuk mengurangi ataupun menghilangkan rasa takut menghadapi
   ruangan yang baru/asing dan mereka secara aktiv menyesuaikan diri dengan ruangan
   tersebut, tempat dimana mereka nanti akan belajar.
   Dalam penguasaan seluruh ruangan dan tidak hanya bergerak pada bagian tengah
   ruangan ataupun tepi tembok saja namun perlu memiperhatikan hal-hal sebagai
   berikut:
1. Peserta didik duduk di tengah ruangan dan melihat/mengamati seluruh ruangan secara
   teliti:
   a. Memenjamkan mata sambil membayangkan ruangan.
   b. Jika ada pertanyaan: Dimana letak (almari, gambar...?) peserta didik dalam
        keadaan mata tertutup menunjukkan dengan tangannya ke arah letak „sesuatu
        yang ditunjuk“.
   c. Benda tertentu dipindahkan letaknya, dan peserta didik mencoba mencari benda
        apakah yang dipindahkan itu dan kemana benda tadi dipindahkan.
   d. Peserta didik dalam keadaan mata tertutup memutarkan arah posisi duduknya.
        Mereka membuka matanya pada arah bunyi tertentu (yang dibuat oleh guru) dan
        menutup mata kembali setelah mendengar bunyi yang lain. Berakhir dengan
        menceritakan segala hal yang dilihat.
   2. Peserta didik diberi seutas tali. Mereka meletakkan tali-tali tersebut dengan
        membentuk seperti „jalan“ ada yang berputar, membelok, seperti kurva atau
        jalan buntu di seluruh ruangan. Jika semua tali sudah diletakkan, peserta didik
        berjalan di atas jalan yang dibentuk peserta didik tadi, tanpa saling mengganggu
        satu sama lain.
   3. Peserta didik diberi ban karet. Setiap anak memilih sendiri tempat di dalam
        ruangan, dengan memberi kemungkinan agar jarak antara ban yang satu dengan
        yang lainya masih tersedia cukup tempat. Jika terdengar bunyi tertentu peserta
        didik meninggalkan bannya dan berjalan ke seluruh ruangan, tanpa saling
        mengganggu satu sama lain dan juga tidak menginjak ban-ban yang ada. Jika
        terdengar bunyi tertentu (bunyi yang lain) peserta didik menuju pada ban masing-
        masing.
   4. Setiap anak mengenali betul-betul bannya masing-masing dan mencoba berjalan
        pada ban yang terjauh (terdekat), dengan tanpa mengganggu teman yang lain.
        Selanjutnya kembali pada bannya sendiri.
   5. Peserta didik diperdengarkan lagu yang dikenal. Ketika lagu di perdengarkan,
        peserta didik bergerak menuju ke seluruh ruangan dan pada nada terakhir peserta
        didik berdiri pada bannya masing-masing. Langkah yang sama hanya saja tanpa
        diperdengarkan lagu, melainkan peserta didik sambil bernyanyi sendiri, bertepuk
        tangan dan atau bergerak bebas.
   6. Latihan bagian 3 s/d 6 tanpa ban, melainkan peserta didik mengenali struktur
        lantai ataupun tanda lain.
   7. Seorang anak bergerak dengan langkah kecil ke seluruh ruangan. Peserta didik
        yang lain mencoba mengikuti di belakangnya, atau mengikuti jejak seorang anak
        dengan cara meletakkan tali dibelakangnya.
   8. Di tengah dan di pinggir ruangan di perdengarkan 2 bunyi. Jika dibunyikan bunyi
        tertentu peserta didik bergerak ke tengah ruangan, dan jika dibunyikan dengan
        nada yang lain peserta didik bergerak ke pinggir (nada-nada yang dimaksud bisa
        ditentukan oleh guru, namun lebih baik berdasarkan kesepakatan peserta didik).
   9. Setelah peserta didik cukup waktu untuk mengenali ruangan yang ada, seorang
       anak ditutup matanya. Anak tadi dibawa ke sudut tertentu dan diminta meraba
       sesuatu, dan menyebutkan dimana kira-kira dia berada.
   10. Tali yang cukup panjang diletakkan didalam ruangan. Pada bagian ujung tali
       terdapat misalnya alat bunyi-bunyian atau ban. Peserta didik meraba seluruh tali
       yang disediakan dalam keadaan tertutup matanya, sampai mereka menemukan
       alat bunyi-bunyian/ban. Selanjutnya permainan bebas dengan alat bunyi-
       bunyian/ban.
   11. Di 4 sudut ruangan dibunyikan 4 alat bunyi-bunyian yang berbeda satu dengan
       yang lainnya (dibunyikan secara bergantian atau acak). Peserta didik berjalan
       dengan mata tertutup menuju sumber bunyi.
   12. Peserta didik berdiri masing-masing dengan jarak 2-3 meter membentuk dua
       barisan yang saling berhadapan. Ketika tanda bunyi di perdengarkan peserta didik
       menutup matanya dan berjalan pelan-pelan ke arah yang bebas.
   13. Seluruh kelompok mencoba
   a. Sedapat mungkin menutupi/memenuhi seluruh besarnya ruang (Tangan dan kaki
       membentang kekanan dan ke kiri).
   b. Selanjutnya menutupi ruangan sekecil mungkin (duduk bersila saling berhimpitan
       dan tangan saling merangkul).

B. Durasi (panjang Pendek) Nada
   Peserta didik sebaiknya tidak hanya mengalami adanya bunyi panjang dan bunyi
   pendek, melainkan juga bisa menentukan kira-kira seberapa panjang dan seberapa
   pendek bunyi itu. Untuk bisa menentukan durasi nada secara lebih obyektiv, alangkah
   baiknya jika dibuat jam pasir dari dua buah botol besar. Satu botol diisi dengan pasir
   (bisa juga Gula, Garam dll, yang tidak pekat ataupun lengket). Selanjutnya dua botol
   tersebut dirapatkan dibagian ujung- ujungnya. Durasi mengalirnya pasir sebaiknya
   tidak terlalu lama, sekitar 20 detik saja. Peserta didik sebaiknya mengalami bahwa
   durasi nada bergantung pada:
   1. Material, dari bahan apa dia dibuat.
   2. Kekerasan, bagaimana nada itu diproduksi
   3. Kondisi gelombang yang berarti apakah sumber bunyi bebas bergelombang atau
       tertahan.
   Dalam hal ini sangat penting untuk mengupayakan agar peserta didik bermain dengan
   teknik memainkan instrument secara benar. Peserta didik harus mencoba sendiri
   bagaimana seharusnya memainkan instrument, agar menghasilkan bunyi yang
   „indah“.
   Suatu pembicaraan tentang ciri-ciri durasi nada yang difahami melalui latihan-latihan
   akan dimengerti secara sendirinya, oleh sebab itu dalam contoh-contoh latihan tidak
   perlu dibicarakan lagi secara ekstra.
   1. Di bunyikan suatu bunyi yang cukup panjang (misalnya simbal yang digantung).
      Selama bunyi berlangsung peserta didik secara perlahan-lahan bergerak
      melingkari ruangan. Jika mereka tidak mendengar lagi, mereka duduk secara
      perlahan-lahan pula.
2. Sebagaimana pada kegiatan pertama peserta didik duduk selama bunyi
    berlangsung, jika sudah tidak mendengar lagi mereka berdiri dan berjalan pelan-
    pelan mengitari ruangan sampai terdengar bunyi yang berikutnya.
3. Selama mendengarkan bunyi peserta didik mengangkat atau menurunkan lengan
    secara pelan-pelan.
4. Selama bunyi berlangsung peserta didik memejamkan mata. Jika tidak terdengar
    lagi, mereka mengangkat lenganya tinggi-tinggi, secara perlahan.
5. Selama bunyi berlangsung lama mata peserta didik mencoba untuk menemukan
    suatu titik tertentu didalam ruangan, dengan tanpa memejamkan/mengejapkan
    mata (setelah bunyi berhenti baru boleh mengejapkan mata).
6. Selama bunyi berlangsung peserta didik berjalan seperti langkah unggas ke
    seluruh ruangan. Pijakan kaki paling awal dan paling akhir diberi tanda (dengan
    kapur). Selanjutnya jauhnya langkah masing-masing anak dibandingkan.
7. Peserta didik membuat corat-coret durasi berbagai nada yang diperdengarkan
    diatas sebuah kertas dengan perbedaan coretan/garis (setiap durasi nada
    disimbulkan dengan sebuah garis).
8. Peserta didik mengamati, seberapa banyak pasir yang masuk didalam jam pasir
    selama bunyi berlangsung. Perbedaan banyaknya pasir (tingginya pasir) ditandai
    dengan lackband ataupun tanda yang lain.
9. Seorang anak memukul simbal yang digantung. Secara serentak peserta didik
    yang lain melemparkan balon ke udara. Balon baru boleh dipegang lagi jika bunyi
    tidak terdengar lagi.
10. Semua anak diberi benda (instrument) apa saja yang bisa menghasilkan bunyi
    yang penting bisa memproduksi bunyi secara cukup panjang. Peserta didik duduk
    melingkar.
    a. Seorang anak memperdengarkan Instrumentnya. Jika bunyinya tidak terdengar
        lagi, maka anak yang disebelahnya membunyikan instrumentnya, demikian
        berturut-turut hingga semua anak memainkan instrumentnya.
    b. Sama dengan langkah (a) tetapi dengan mata tertutup.
11. Peserta didik menyentuh senar yang digetarkan secara hati-hati (Gitar; Piano,
    Kecapi dll) Peserta didik menceritakan apa yang terjadi jika menekan terlalu
    keras. Sebagai perbandingan peserta didik menyentuh bilahan Xylophon, Saron,
    Gender dan sejenisnya, yang dibunyikan.
12. Beberapa uang logam diletakkan diatas permukaan kulit genderang/tambur atau
    kendang. Setelah dipukul maka uang-uang logam tersebut akan bergetar. Peserta
    didik baru boleh memukulnya lagi jika uang logam tidak bergerak lagi.
13. Setiap anak diberi ban karet. Semua anak memutarkan ban yang didirikan secara
    serentak. Semua anak menunggu sampai tidak ada satu banpun yang bergerak,
    kemudian diulangi lagi.
14. Sebagaimana langkah 13 tetapi dengan mata tertutup.
15. Peserta didik memutarkan bannya masing-masing (ban didirikan). Selama ban
    bergerak, peserta didik bergerak mengitari ruangan. Mereka baru boleh kembali
    pada ban masing-masing jika ban tidak bergerak lagi. Jika mungkin merebahkan
    diri bersamaan dengan gerakan ban.
16. Selama bunyi tertentu berlangsung (terdengar) seorang anak membuat garis
    ataupun lingkaran dengan jari pada punggung anak yang lain. Peserta didik yang
      lain mengamati apakah seluruh durasi nada diikuti dengan gerakan jari secara
      tepat, terlalu cepat ataukah terlalu lambat menghentikan gerakan jarinya (saling
      bergantian).
  17. Selama bunyi tertentu berlangsung (terdengar), peserta didik kembali berjalan
      pada jalan yang telah ditentukan sebelumnya. Ketika bunyi berhenti peserta didik
      harus sudah sampai pada tujuan secara tepat.
  18. Peserta didik dibagi menjadi 2 kelompok. Satu kelompok mendapatkan
      instrument yang berbunyi pendek, dan kelompok yang lain mendapat instrumen
      yang berbunyi panjang. Seorang anak mendireksi. Kelompok bisa saling diganti,
      tetapi sekaligus diminta untuk bermain (nonverbal).
  19. Berbagai durasi nada disusun dengan tanda ataupun gerakan misalnya Bunyi
      pendek= sebuah titik, bunyi yang panjang = garis atau lingkaran.
  20. Tanda yang ditemukan ditulis diatas kertas. Kertas-kertas dijejerkan secara
      berturutan dan berdekatan satu sama lain. Selanjutnya berbagai macam durasi
      bunyi yang disusun tadi, dimainkan.
  21. Rangkaian bunyi panjang dan pendek diperdengarkan (secara singkat saja).
      Peserta didik meletakkan kertas-kertas tadi sesuai dengan bunyi yang
      diperdengarkan.



C. Timbre (Warna Nada)
  Peserta didik dengan bantuan tanda-tanda akustis diharapkan dapat menentukan
  berbagai macam sumber bunyi. Peserta didik tidak hanya dapat mempergunakan alat-
  alat musik yang umum, tetapi juga alat-alat sederhana yang dibuat sendiri.
  Pada setiap kegiatan sebaiknya tidak diperkenalkan lebih dari 3 jenis alat yang
  berbeda, yang harus dialami dengan berbagai macam aspek.
  1. Sumber bunyi dilukiskan oleh peserta didik. Guru mempersiapkan kertas yang
      disusun menjadi 4 kategori. Yaitu Instrument Mettal, Kayu, Kulit Binatang dan
      yang lain. Peserta didik mengelompokkan instrumen yang diperkenalkan kedalam
      kategori secara benar. Peserta didik juga bisa menggambar instrumen pada
      kategori atau menggunting gambar-gambar instrument dari majalah, koran
      Prospekt dll lalu menempelkan pada kertas yang telah diberi kategori-kategori
      tadi. Peserta didik harus dibuat sedemikian rupa bisa menghayati/mengenali
      instrument mana yang mereka kenal secara lebih baik, sekaligus peserta didik bisa
      mengenali berbagai instrument secara lebih cepat. Bunyi-bunyi insterument
      diperdengarkan dan digambarkan oleh peserta didik. Setelah latihan dengan cukup
      lama harus dimungkinkan bahwa peserta didik , berdasarkan dari pengalaman
      mereka, yang telah mereka perbuat pada instrument lain, mengatakan, bunyi yang
      mana yang mereka harapkan. Harapan bunyi ini kemudian dibandingkan dengan
      bunyi yang sebenarnya.
  2. Sumber bunyi disentuh dan akhirnya diberi nama (peserta didik dalam keadaan
      mata tertutup). A. Sumber bunyi masing-masing tersedia dobel. Peserta didik
      hanya menyusun berdasarkan indera peraba yang sesuai dengan instrument. B. di
      sediakan 2 pasang instrument, yang memiliki perbedaan besar ukuran. Peserta
      didik meyusun masing-masing instrument yang kecil dan yang besar yang sejenis.
3. Peserta didik merasakan, seberapa keras berbagai instrument itu bergetar pada
    saat dibunyikan. Dalam hal ini setelah beberapa lama juga bisa ditempuh cara
    yang lain artinya peserta didik mengamati dan menyebutkan instrument, seberapa
    keras instrument ini bergetar.
4. 3 buah isntrument di bagi-bagi didalam ruangan. Peserta didik duduk sedemikian
    rupa sehingga tidak melihat instrumentnya. Seorang anak berjalan mengelilingi
    ruangan dan memukul instrument sekehendaknya dengan urutan tertentu.
    Selanujutnya anak yang lain mencoba menirukan secara persis urutan nada yang
    telah dibunyikan anak sebelumnya.
5. Peserta didik mendapat 2 instrument. Peserta didik harus saling memiliki
    instrument yang sama. Oleh karena dalam perbedaan perlengkapan hanya jarang
    dijumpai instrument yang cukup banyak, maka disarankan untuk mengambil
    instrument buatan sendiri atau berbagai jenis kertas. Guru atau seorang peserta
    didik membunyikan bunyi tertentu tetapi tidak terlihat oleh peserta didik yang
    lain. Peserta didik yang lain menirukan bunyi tadi artinya mempergunakan
    instrument dengan cara yang sama. Latihan ini bisa juga dijadikan semacam
    „perlombaan“. Dalam hal ini semua anak mengambil instrument yang tidak
    dimainkan sebelumnya.
6. Bunyi-bunyi ataupun nada yang diperkenalkan disusun berdasarkan gerakan-
    gerakan a. Peserta didik menyajikan gerakan tertentu (sesuai dengan perjanjian)
    pada saat bunyi/nada diperdengarkan. B. Peserta didik dibagi dalam 3 kelompok..
    Setiap kelompok disusun berdasarkan satu bunyi dan gerakan yang sesuai (perlu
    diperhatikan bahwa tidak selalu semua instrument dimainkan secara bersama-
    sama. Kombinasi bunyi yang serentak harus diganti-ganti, atara kombinasi bunyi
    atau juga bunyi tunggal, harus diberi jeda (Pause). Untuk meningkatkan daya
    konsentrasi sangat bermanfaat jika setiap setelah Pause terkadang bunyi dengan
    kombinasi yang sama dibunyikan lagi).
7. Peserta didik membuat perjanjian dengan bunyi tertantu, ketika bunyi
    diperdengarkan semua peserta didik berdiri. Selama peserta didik bergerak secara
    bebas didalam ruangan, beberapa nada diperdengarkan. Dan jika bunyi teertentu
    berdasarkan kesepakatan di perdengarkan peserta didik boleh berdiri. (setelah
    latihan dengan waktu yang memadahi, dibuat perjanjian lagi dengan bunyi yang
    lain yang mirip). Sebagai contoh bunyi yang disepakati: Simbal besar yang
    digantungkan, dua bunyi: Simbal kecil yang digantung dan simbal besar dll).
8. Peserta didik mencoba mengembangkan berbagai jenis teknik permainan diatas
    instrument (explorasi bunyi) untuk memproduksi berbagaimacam bunyi.
    Selanjutnya peserta didik memperkenalkan bunyi-buyni yang mereka temukan.
9. Dari berbagai macam bunyi yang peserta didik temukan, mereka memberikan
    sebagian untuk diberi simbol, misalnya gosokan, gemerincing, bunyi luncuran
    diatas bilah-bilah nada (lebih lengkap silahkan lihat B III „Notasi Grafis“).
    Simbol-simbol notasi dilukis diatas kertas/kartu.
10. Kartu-kartu/Kertas-kertas diletakkan saling berdampingan dan berurutan.
    Selanjutnya dimainkan bunyi-bunyi yang sesuai dengan urutan yang telah
    ditentukan.
   11. Seorang anak memainkan berbagai macam bunyi secara pelan-pelan dalam urutan
       yang tertentu. Seorang anak lagi (atau semua anak) meletakkan kartu-kartu sesuai
       dengan urutan sebelum dimainkan.
   12. Peserta didik membuat „kaleng kocok“ yang bisa diisi dengan berbagai macam
       material. Masing-masing 2 kaleng diisi dengan material yang sama dan bagian
       bawahnya diberi tanda warna. Peserta didik mengelompokkan secara berpasangan
       nada-nada yang sesuai (kontrol melalui tanda warna).




D. Keras-Lunaknya Bunyi
      Peserta didik biasanya mengenali dinamik sebagai bentuk bunyi yang mandiri
      yang pemunculannya tidak terikat dengan kecepatan. Karakter bunyi yang keras
      menuju pada gerakan yang lebih cepat atau lebih keras tidak dilarang, tetapi
      harus jelas dikenali bahwa bunyi yang keras juga dapat diungkapkan dengan
      gerakan yang lambat dan tenang. Hal sedemikian juga untuk bunyi yang lembut.
      Peserta didik juga harus mengenali secara lebih jauh, bahwa terdapat juga
      penghubung yang mengalir didalam keras lunaknya suara (crescendo = semakin
      keras, decrescendo= semakin lirih). Penghubung bunyi-bunyi ini harus dimainkan
      oleh peserta didik di dalam instrument. Bisa juga diberikan contoh melalui suara
      mulut.
   1. Peserta didik duduk di dalam ruang dengan mata tertutup. Jendela ruangan di
      buka. Peserta didik mendengarkan secara cepat berbagai bunyi di lingkungan dan
      selanjutnya menceritakan bunyi mana yang mereka dengarkan dan seberapa
      keras/lunak bunyi tersebut.
   2. Keras dan Lunak disusun dengan gerakan. A. Keras = langkah besar, lembut
      =langkah kecil b. Keras =langkah kecil, lembut =langkah besar.
   3. Setiap anak mendapat satu instrumen. Guru atau seorang peserta didik
      memainkan bunyi keras dan lunak didalam rangkaian yang berbeda. A. Peserta
      didik menirukan b. peserta didik berpendapat (komentar). Melalui bunyi tidak
      analog dengan gerakan (misalnya melencangkan lengan jauh-jauh, tetapi pukulan
      yang lirih) peserta didik tidak di tanamkan pada aspekt visualnya melainkan
      aspekt akustisnya.
   4. Pembicaraan kereta yang datang di Station kereta bunyinya keras sekali tetapi
      gerakannya lambat dan juga kereta yang cukup jauh melaju dengan sangat cepat
      (lirih tetapi cepat). Peserta didik mencoba mempresentasikan ke dua buah kereta
      api dengan membunyikan instrument.

   5. Peserta didik mencoba memperdengarkan penghubung antara keras dan lunak
      demikian pula sebaliknya dalam instrument. Sebaiknya memilih bunyi-bunyi
      yang telah dikenal oleh peserta didik, misalnya keberangkatan dan kedatangan
      suatu mobil, langkah manusia yang datang dan pergi dll.
   6. Berbagai jenis crescendo dan decrescendo (a). Semakin keras dan semakin cepat
       (b). Semakin keras dan semakin lambat (c). Semakin lirih dan semakin lambat d.
       Semakin lirih dan semakin cepat.
   7. Dibuat kesepakatan sebuah tanda gerakan yang masing-masing diberi tanda
       dinamik yang harus dimainkan Misalnya: Tangan diatas kepala = dimainkan
       secara keras sekali, Tangan kebawah pelan-pelan = semakin lirih, Tangan benar-
       benar dibawah =bermain lirih sekali. Peserta didik bermain sesuai dengan gerakan
       tangan peserta didik yang lain atau guru.
   8. Berbagai jenis instrument (max 4) dimainkan dengan dinamik yang berbeda-beda.
       Peserta didik menyusun isntrument-instrument menurut dinamik yang dimainkan.
   9. Balon dilemparkan ke udara. Peserta didik bermain keras sekali, dan jika balon di
       udara semakin lirih, jika balon semakin turun ke bawah.
   10. Peserta didik membuat tanda untuk keras, lunak, semakin keras dan semakin lirih.
       Tanda-tanda dilukis didalam kartu atau kertas saling berdampingan secara
       berurutan. Selanjutnya susunan kartu tersebut dimainkan dengan isntrument atau
       dengan mulut.
   11. Dimainkan berbagai jenis dinamik dan juga tahap-tahap penghubug bunyi.
       Ameletakkan kartu sesuai dengan urutan yang sama.

E. Arah Nada
   Untuk dapat melaksanakan latihan-latihan arah nada, diperlukan ruang Hall. Efekt
   echo yang kuat mempersulit penemuan sumber bunyi. Guru harus meneliti problema
   tersebut dan mencari instrumen yang cocok untuk latihan-latihan yang berikut.
   Latihan-latihan arah nada dimaksudkan, untuk memperkenalkan „lingkungan bunyi“
   pada peserta didik . Anak-nak harus mengalami, bahwa bunyi-bunyi dalam hubungan
   dengan arahnya memiliki fungsi tanda dan menghendaki reaksi-reaksi yang sesuai.
   Latihan-latihan arah bunyi atas dasar tersebut khususnya sangat bermanfaat untuk
   pendidikan ke lalu lintasan. Sekaligus menopang kemampuan resepsi bunyi
   sebagaimana latihan-latihan yang lainnya.
   1. Peserta didik berdiri didekat jendela ruang yang terbuka dan mencoba
       menjelaskan a. Apa yang mereka dengar b. dari mana arah datangnya bunyi c.
       apakah bunyi semakin mendekat atau menjauh d. apakah bunyi-bunyi cepat atau
       lambat datang mendekat/menjauh.
   2. Peserta didik duduk di atas lantai dalam keadaan mata tertutup. Guru berjalan
       pelan-pelan dan lirih pada posisi ruang yang berbeda-beda dan disana
       membunyikan instrument. Peserta didik menunjukkan arah dari mana datangnya
       bunyi.
   3. Sebagaimana kegiatan ke dua hanya saja peserta didik menunjuk kearah yang
       berlawanan.
   4. 4 anak berdiri di 4 sudut ruangan. Setiap anak memegang instrument. Peserta
       didik yang lain bergerak ke seluruh ruangan. Seorang anak membuat bunyi.
       Peserta didik yang lain berjalan menuju sumber bunyi. Bunyi yang baru, reaksi
       yang baru oleh peserta didik.
   5. Sebagaimana langkah 4 tetapi peserta didik justru menjauhi bunyi.
   6. 3 anak mendapat instrument dan meletakkan pada 3 dari 4 sudut ruangan. Ketiga-
       tiganya anak membuat bunyi secara bersamaan. Peserta didik yang lain yang
       bergerak dengan mata tertutup ke seluruh ruangan harus menemukan pada sudut
       mana tidak ada bunyi dan peserta didik menuju ke tempat itu atau menunjukkan
       dengan jari arah „ketiadaan bunyi“ tadi.
   7. 2 bunyi diperdengarkan secara serentak dari berbagai arah. Peserta didik berjalan
       menuju pada bunyi yang telah disepakati seblumnya atau menunjukkan arahnya.
   8. Seorang anak dengan bantuan bunyi menuntun anak yang lain yang matanya
       tertutup mencari menemukan sesuatu keseluruh ruangan.
   9. Peserta didik duduk ditengah ruangan dengan mata tertutup. Mereka dari sudut
       ruang yang berlainan memperdengarkan bunyi-bunyi bergiliran satu sama lain.
       Peserta didik mendengarkan sesaat dan memperdengarkan lagi urutan bunyi yang
       terdengar berdasarkan ingatannya. (Setelah berlatih dengan cukup lama jumlah
       bunyi semakin dinaikkan, yang awalnya 2 bunyi ditingkatkan menjadi max. 5
       bunyi).
   10. Balon karet ditiup tetapi tidak diikat. Jika semua anak telah menutup matanya,
       guru melepaskan balon ke udara. Udara yang keluar dari balon mengakibatkan
       balon karet bergerak dengan sangat cepat dan selalu menuju ke arah yang baru.
       Peserta didik harus mendengarkan sebaik-baiknya dimana balon tadi mendarat.
   11. Setiap anak mendapatkan ban karet. Setelah mendengarkan tanda bunyi tertentu
       semua anak memutarnya dan melepaskannya. A. Peserta didik mengamati ban
       karet yang mana yang paling lambat berputar. B. Peserta didik menutup matanya
       dan mencoba mendengarkan ban yang mana yang paling lama berputar. Peserta
       didik menunjukkan dengan jari ke arah ban tersebut.
   12. Didalam ruang kelas disembunyikan sebuah alat sumber bunyi, yang
       mempruduksi bunyi secara terus menerus (misalnya jam Wecker, Radio dll).
       Peserta didik mencoba menemukan sumber bunyi.
   13. Untuk latihan berikut diperlukan ember cuci yang berbeda-beda warna (bisa
       ditempel kertas atau dicat). Peserta didik mendapatkan 3 kartu warna yang sesuai
       dengan warna ember. Ember cuci diletakkan dengan jarak sekitar 1 meter saling
       berdekatan di atas lantai. Di salah satu ember diletakkan Radio (disesuaikan
       dengan kondisi ruang dan kemampuan peserta didik menangkap kekerasasn
       bunyi), tanpa bahwa peserta didik melihatnya.Peserta didik mencoba
       mendengarkan dan menemukan dari ember mana bunyi tersebut berasal. Mereka
       mengangkat kartu berwarna ke atas.

F. Tinggi Rendah Nada.
    Adalah bukan pekerjaan pendidikan taman kanak-kanak, untuk menjembatani agar
    peserta didik mempu membedakan secara detail tinggi rendah nada dan menentukan
    tinggi rendah nada. Pada awalnya sangat penting agar istilah tinggi dan rendah dapat
    dialami oleh peserta didik. Umumnya nada yang tinggi ditandai sebagai bunyi yang
    terang dan bunyi yang rendah ditandai dengan bunyi yang gelap. Terang dan gelap
    adalah warna nada dan bukannya tanda-tanda tinggi rendah nada (bandingkan
    misalnya antara bunyi Xylophon dengan Glockenspiel). Sangat penting bahwa semua
    latihan pada awalnya keluar dari suasana yang extrim dan jarak nada lama kelamaan
    diperkecil.
    1. Peserta didik menggambarkan Xylophon atau Metallophon. Mereka harus
        mengenali bahwa dalam isntrument tersebut terdapat bilah-bilah nada yang besar
    dan yang kecil. Jika tersedia piano, bisa dibandingkan dan diperjelas dengan
    panjangnya senar piano.
2. Bilah-bilah nada diambil dari instrumen dan diletakkan secara tidak beraturan.
    Peserta didik mencoba menyusun kembali bilah-bilah nada secara benar.
3. Peserta didik mendengarkan bunyi-bunyi dari bilah nada yang besar dan yang
    kecil dan selanjutnya ditegaskan bahwa ada bunyi yang gelap dan yang lainnya
    terang.
4. Peserta didik menutup matanya. Sebuah bilah nada dipukul. Peserta didik diminta
    menyebutkan apakah yang dibunyikan tadi bilah yang besar ataukah yang kecil.
5. Peserta didik meraba bilah-bilah nada dengan keadaan mata tertutup. Berdasarkan
    ukuran bilah-bilah nada, peserta didik menentukan apakah yang mereka raba bilah
    yang gelap ataukah yang terang. Sebagai kontrol maka bilah tadi dibunyikan.
6. Pengetahuan bahwa interument yang besar berbunyi berbeda dibandingkan
    dengan instrumen yang kecil lainnya perlu diperjelas, misalnya juga untuk
    triangel, Zimbal dll.
7. (Persiapan: Bilah-bilah nada Metalophone atau Xylophon diikat dengan tapi
    karet). Metallophone diletakkan secara vertikal diatas lantai, dengan demikian
    bilah-bilah nada yang rendah terletak dibawah. Sekarang dibuat sebagai
    perbandingan bahwa instrument terlihat seperti menara yang memiliki kemiripan
    semakin tinggi semakin kecil. Dalam kesempatan ini tanda-tanda nada yang benar
    seperti tinggi dan rendah diperkenalkan artuinya bilah-bilah nada yang terdapat
    dibagian atas instrument adalah menghasilkan nada-nada tinggti dan bilah-bilah
    yang terdapat di bawah adalah nada-nada rendah. Latihan-latihan sebelumnya
    yang pada awalnya dilaksanakan dengan tanda gelap dan terang, saat ini diulangi
    lagi dengan tanda-tanda yang benar.
8. Peserta didik menggambar menara di papan tulis ataupun kertas sesuai dengan
    tanda-tanda nada yang berbunyi. Artinya pada saat nada tinggi berbunyi peserta
    didik menggambar tanda pada puncak menara, dan pada saat nada rendah
    berbunyi peserta didik menggambar tanda pada dasar menara. Untuk latihan ini
    sebaiknya peserta didik sebelumnya memiliki kemungkinan untuk melihat
    instrumen yang memproduksi nada-nada. Pada akhirnya peserta didik dengan
    tanpa bantuan gambar mampu menentukan nada secara benar.
9. Nada-nada disusun dengan warna-warna. Setiap anak mendapatkan setiap warna
    satu kartu berwarna. Ketika nada dibunyikan peserta didik mengangkat kartu yang
    sesuai tinggi-tinggi. (sebaiknya memakai 2 nada yang berbeda, yang mana
    didalam latihan jaraknya lama kelamaan semakin dipersempit.
10. Kartu-kartu warna diletakkan pada lantai yang sebelumnya diletakkan ban karet.
    Ketika nada dibunyikan peserta didik berjalan ke ban karet yang sesuai dengan
    letak kartu.
11. Setiap anak menerima beberapa kartu warna. Setiap anak mencari sendiri tempat
    di ruangan, yang mana nantinya dapat meletakkan kartunya dengan tanpa
    halangan. Selanjutnya dimainkan berbagai rangkaian nada-nada tinggi dan rendah
    secara berturut-turut. Peserta didik mengambil kartu yang sesuai dan meletakkan
    didepannya diatas lantai, sehingga meghasilkan suatu susunan tertentu. Jika tidak
    terdapat kesalahan,untuk selanjutnya semua anak harus meletakkan rangkaian
    yang sama. (Latihan ini mensyaratkan sejumlah pengertian peserta didik untuk
    deretan yang berjalan. Kebanyakan anak meletakan kartu yang baru terkadang
    disebelah kiri terkadang disebelah kanan, sehingga kesan keseluruhan salah,
    meskipun masing-masing telah memilih kartu dengan benar. Disini dapat
    dipergunakan pembatas ruang (tali, bilah-hilah dll), agar peserta didik bisa
    bertahan secara lancar.
12. Satu deretan warna diletakkan. Peserta didik mencoba, memainkan instrument
    tertentu (dengan menunjuk).
13. Tinggi nada disusun berdasarkan gerakan-gerakan. Peserta didik bergerak sesuai
    dengan nada yang diperdengarkan. (Dalam hal ini sangat penting, jika peserta
    didik menemukan sendiri gerakan-gerakannya).
14. Peserta didik dibagi menjadi 2 kelompok. Satu kelompok mereaksi dengan
    gerakan hanya untuk nada-nada tinggi, sedangkan anak yang lain hanya untuk
    nada yang rendah.
15. Papan tulis ataupun kertas disusun secara horisontal. Peserta didik menulis sesuai
    dengan nada-nada yang dibunyikan dibagian atas ataupun bawah, namun
    sekaligus memperhatikan cara menulis „kiri kanan“.
16. Sebuah karya musik yang tertulis, hanya terdiri dari nada-nada tinggi dan nada-
    nada rendah, dimainkan oleh peserta didik (dengan menunjukkan jari). Setelah
    kegiatan yang agak lama peserta didik akan mampu, menulis karya musik yang
    kecil secara mandiri, dimana mereka juga dapat merangkum hal-hal yang sudah
    mengenal keras lunaknya nada dan durasi nada.
17. Peserta didik mengisi botol dengan air dengan ketinggian yang berbeda-beda.
    Ketika memukul (meniup) botol akan muncul tinggi nada yang berbeda-beda.
    Peserta didik dapat mencoba menyetel sesuai dengan nada-nada Xylophone atau
    metallophon
                       MODEL KELAS VII SMP & MTs
                 PROSES BELAJAR MENGAJAR KARAWITAN SUNDA

Langkah-langkah (metode?) didalam pengajaran Karawitan Sunda (Pola Macan ucul)
secara umum bisa dilihat sebagai berikut:




1. Informasi tentang nama-nama waditra.
2. Informasi dan praktek tentang cara duduk, cara meletakkan tabuh, cara memegang
   tabuh, cara menabuh masing-masing waditra.
3. Penjelasan tentang fungsi tangan kanan untuk menabuh dan tangan kiri untuk
   „nengkep“ (menahan bunyi), kecuali bagi peserta didik yang kidal.
4. Latihan menabuh dengan tanpa tabuh (hanya gerakan tangan saja) a. Tangan kanan
   dan kiri bergerak bersama-sama dari atas ke bawah secara vertikal (tangan kanan
   seolah-olah menabuh sedangkan tangan kiri seolah-olah „menengkep“) (lihat gambar
   1a 1b). b. Tangan kanan dan kiri bergerak bersama-sama tetapi dalam posisi silang.
   Posisi silang terkadang dibuat jauh terkadang dibuat dekat secara bergantian (lihat
   gambar 1c dan 1d).
5. Latihan menabuh waditra dengan pola „tangga nada“ (ke atas dan ke bawah).
6. Pola permainan yang paling awal dipelajari/diajarkan adalah pola permainan Gendu
   (Macan Ucul) yaitu pola 1 (Kenong/K) dan 4 (Goong/G), dengan sistem penabuhan
   tersebut pancer jatuh pada angka 5 (paling kecil). Dalam Arkuh
                              N                             G
   I . 3 . 5 I . 3 . 1 I . 3 . 5 I . 3 . 4 I akan dimainkan dengan urutan mulai point ke 4 dan
   seterusnya (dibawah ini). Berbagai teknik permainan ini secara umum diajarkan
   dengan
   a. Memakai „sedikit“ notasi, yaitu notasi hanya dituliskan di bilah-bilah waditra
      sebagai alat ingat letak nada-nada.
   b. Memakai „banyak“ notasi, yaitu notasi dituliskan di bilah-bilah waditra dan di
      papan tulis, sebagai alat ingat letak-nada-nada dan nada-nada mana saja yang
      akan dibunyikan.
   c. Sama sekali tidak memakai notasi yaitu, melalui pendengaran/menirukan 100%
      (guru/pelatih memainkan serangkaian nada dan peserta didik menirukan,
      demikian itu diulang-ulang hingga komposisi dimainkan secara lengkap).
       Langkah pengajaran a,b dan c sebenarnya memerlukan penjelasan khusus yang
       detail, namun karena keterbatasan waktu, maka hanya diuraikan secara singkat.
7. Teknik permainan Selenthem: Pada irama satu wilet, Selenthem sebagai pembawa
   Balunganing Gending dimainkan pada ketukan bilangan genap yaitu ketukan 2, 4, 6,
   8, 10, 12, 14 dan 16 dengan rumus
   I 0 III 0 V I 0 III 0 N I 0 III 0 V I 0 III 0 NG I Dengan demikian jika pola
   tersebut dimainkan dalam patet nem, maka akan dimainkan sbb:
    I . 3 . 5 I . 3 . N I. 3 . 5I . 3 . NG I Ctt. Tanda x akan diisi nada-nada sesuai dengan
    posisi yang dipergunakan, artinya selenthem akan memainkan nada-nada sbb: I . 3 . 5
    I . 3 . 1 I . 3 . 5 I . 3 . 4 I Ctt: N adalah Kenong dan G adalah Goong, NG adalah
    Kenong dan Goong sama-sama ditabuh.
8. Teknik permainan Saron I (Saron Indung) : Saron I sebagai pembawa lagu
   dimainkan
   dengan cara melompati satu bilah nada untuk jatuh pada nada-nada yang dituju. Nada
   ketukan ke 1, 2 dan 4 memainkan nada ke 4 pada arkuh. Saron I mengisi seluruh
   ketukan, dan setiap ketukan ke 4, 8, 12 dan 16 mendapat aksen khusus. Contoh pada
   nada T (1) dimainkan I 1 1 3 1 I dan pada nada L (2) dimainkan I 2 2 4 2 I Dengan
   demikian arkuh diatas akan dimainkan dalam Saron I sbb:
    I5535I1131I5535I4424I
9. Teknik permainan Saron II (Saron anak): Saron II sebagai pembuat sahutan
    (melingkari) dari Saron I, dimainkan dengan cara bersahutan (interlocking) dengan
    Saron I namun pada ketukan ke 4, 8, 12 dan 16 memainkan nada-nada arkuh. Contoh
    jika nada jatuh pada T (1) dimainkan I -.-t -.-2 -.-t 1 I dan L (2) dimainkan I -.-1 -.-3 -
    .-1 2 I Dengan demikian arkuh diatas akan dimainkan dalam Saron II sbb:
   I -.-4 -.-2 -.-4 5 I -.-2 -.-4 -.-2 1 I -.-4 -.-2 -.-4 5 I -.-3 -.-1 -.-3 4 I
10. Teknik permainan Peking: Teknik permainan peking adalah gabungan teknik
    permainan antara saron I dan saron II. Dengan demikian arkuh diatas dimainkan sbb:
    I -5-4 --5--2 -3-4 5 I -1-2 -1-4 -3-2 1 I -5-4 --5--2 -3-4 5 I -4-3 -4-1 -2-3 4 I
11. Teknik permainan Demung: Demung sebagai lilitan balunganing gending, dimainkan
    dengan teknik undur-undur (menurut Nano S. dan Engkos Warnika)1 yaitu menabuh
    dengan bergerak naik atau turun, turun menuju arah dua nada, kemudian naik lagi
    menuruti nada-nada yang pernah dilaluinya. Jika nada jatuh pada T (1) maka akan
    dimainkan -.--1I -2-3 -.-3 -2-1 -.-1 I jika jatuh pada nada P (3) maka dimainkan
    -.-3I -2-1 -.-1 -2-3 -.-3 I Dengan demikian arkuh diatas akan dimainkan dalam
    demung sbb: I -3-2 -.-2 -3-4 -.-1 I-2-3 -.-3 -2-1 -.-1 I-2-3 -.-3 -2-1 -.-4 I-3-2 -.-2 -3-4 -
    .-4 I
12. Teknik permainan kenong: kenong sebagai anggeran wiletan yang berfungsi untuk
    memperkuat tabuhan selenthem dan wiletan-wiletan lagu memainkan nada-nada ke
    4,8, 12 dan 16. Dengan demikian arkuh diatas dimainkan pada waditra kenong sbb:
    I...5I...1I...5I...4I
13. Teknik permainan Bonang: Bonang berfungsi sebagai lilitan balungning gending,
    Bonang dimainkan secara kemprangan (nada atas dan bawah dibunyikan serentak)
    pada ketukan ganjil (1,3,5,7,13 dan 15) biasanya memainkan nada-nada kenong
    (ketukan ke 8) dan goong (ketukan ke 16). Pada ketukan ke 4, 8 dan 12 bonang
    memainkan nada pancer. Dengan demikian arkuh diatas dimainkan sbb:
    I 4/ r . 4/ r 5/ t I 1/ q . 1/ q . I 1/ q . 1/ q 5/ t I 4/ r . 4/ r .I
    Catatan: Nada ... dimainkan tangan kanan dan nada-nada ... dimainkan dengan tangan
    kiri.
14. Teknik permainan ricik: Ricik berfungsi sebagai lilitan balunganing gending, yang
    dimainkan secara kemprangan (nada atas dan bawah dibunyikan serentak) pada
    semua bagian setelah ketukan (dimainkan setelah jatuhnya ketukan) rincik hanya
    memainkan nada-nada kenong (ketukan ke 8) dan goong (ketukan ke 16). Dengan
    demikian arkuh diatas dimainkan sbb:
    I -.- -4-/- -r -.- -4-/- -r -.- -4-/- -r -.- -1-/- -q I -.- -1-/- -q -.- -1-/- -q -.- -1-/- -q -.- -1-/- -
    qI
    I -.- -1-/- -q -.- -1-/- -q -.- -1-/- -q -.- -4-/- -r I -.- -4-/- -r -.- -4-/- -r -.- -4-/- -r -.- -4/- -r
    I
15. Teknik permainan Kempul dan Goong: Kempul (gong kecil, yang nadanya lebih
    tinggi dari goong) dan goong (instrumen yang memiliki nada paling rendah diantara
    seluruh waditra) sebagaimana kenong berfungsi sebagai anggeran wiletan. Kempul
    dimainkan pada ketukan ke 2,6, 10, 12 dan 14, dan goong hanya dimainkan pada
    ketukan ke 16. Dengan demikian susunan permainan kempul dan gong adalah sbb:
    I . P. . I . P . . I . P . P I . P . G I
16. Teknik permainan kendhang: Kendhang berfungsi sebagai pengatur irama/tempo,
    memiliki pola tabuhan yang khusus sbb:
    I. -.-t --t- t . I. -.-t --t- t -.-=.t I---t -=t t ---. -=t t -t- t -p- t Id ---p=.=p ---t -=t t .
    I
    Keterangan : t = Tung, p = Pak, d = dom. Umumnya kendhang tidak diajarkan dan
    kebanyakan dimainkan oleh guru atau pelatih dan kalau di perguruan tinggi
    dimainkan oleh seorang mahasiswa yang telah mampu memainkan kendang.
17. Pangkat/intro: Setelah semua diajarkan, selanjutnya diajarkan untuk memulai
    komposisi yang biasa disebut pangkat yaitu : 3 1 2 4 5 3 4
18. Peserta didik biasanya diajarkan menguasai 1 waditra dan setelah benar-benar
    menguasai baru mempelajari waditra yang lainnya, hingga „kurang lebih“ menguasai
    seluruh waditra.
    Seluruh permainan diatas agar lebih mudah dilihat hubungan teknik permainan antara
    satu waditra dengan waditra lainnya, direkap sebagai berikut: (Lihat Lampiran 1)
KEUNGGULAN PBM KARAWITAN SUNDA
Sisi positif langkah-langkah pengajaran gamelan sebagaimana diatas tersebut antara lain:
1. Peserta didik sangat cepat menguasai materi, dalam arti menguasai satu jenis waditra.
2. Sekali menguasai teknik permainan, arkuh apapun yang akan disodorkan pada peserta
   didik akan langsung bisa dimainkan.
   Keunggulan yang tertulis diatas itupun bisa juga dianggap sebagai kekurangan,
   sebagaimana akan diperjelas dalam pembahasan berikut ini.
    KEKURANGAN DALAM PEMBELAJARAN KARAWITAN SUNDA
Sisi negatif langkah-langkah pengajaran gamelan sebagaimana diatas tersebut antara lain:
Kata kunci yang perlu ditegaskan dalam PBM Musik Sunda ini adalah „peserta didik
kurang dibuat sadar“ terhadap berbagai hal berikut:
1. Berbagai latihan Auditif kurang terlatih „secara sadar“, misalnya:
   a. Kemampuan konsentrasi: Para peserta didik akan mengalami kesulitan jika tidak
       diberikan notasi, peserta didik tidak mampu mengingat meskipun hanya pokok
       gendhingnya saja.
   b. Kurang mampu membedakan sifat-sifat bunyi (Parameter musikal) seperti, tinggi,
       rendah, panjang, pendek, warna nada (timbre) dari berbagai jenis waditra,
       berbagai jenis produksi bunyi, prinsip-prinsip bentuk dasar musikal (kontras, naik,
       turun, pembalikan dll), interval (kecuali gembyang dan kempyung, meskipun hal
       ini secara umum diakibatkan oleh para ahli karawitan sunda sendiri, yang tidak
       memperkenalkan berbagai jenis interval).
   c. Ingatan musikal (kemampuan mengingat kembali, kemampuan mendengarkan
       hubungan antara bunyi nada-nada waditra yang satu dengan yang lainnya,
       mengenali bagian per bagian komposisi musiknya dll) kurang dikuasai. Ctt:
       Survey ke beberapa mahasiswa Sendratasik UPI (jalur PMDK) almuni SMKI
       menunjukkan bahwa mereka amat sangat kesulitan jika diminta
       menyanyikan/menyenandungkan nada-nada masing-masing waditra-waditra
       (selain kempul, goong dan kendang) dalam teknik permainan tertentu (misalnya
       degung).
   d. Memperdengarkan nada-nada (berdasarkan notasi), atau „gamelan sight reading“
       (primavista gamelan) atau juga „sight singing“, tidak pernah diajarkan.
   e. Berbagai kesan/fantasi bunyi lainnya (dengan berbagai cara memainkan, diluar
      kebiasaan), kurang dibiasakan dll
   f. Perpindahan tiknik permainan dari waditra satu ke waditra lainnya umumnya luar
      biasa sulit.

2. Bidang Kognitif yaitu hubungan antara berbagai pengetahuan yang dapat
   meningkatkan kemampuan peserta didik terhadap pembahasan dan pemahaman
   musik secara rasional kurang tergarap, misalnya mengenai materi musik, prinsip-
   prinsip bentuk, struktur, notasi, pelaksanaan teknis, keterikatan dan hubungan-
   hubungan musik dengan masyarakat, fungsi musik, efek-efek musik dll.
3. Kekurangan dibidang Afektif dan motivasional yaitu
 a. Perkembangan dari: kemampuan menangkap/memahami dan mempergunakan,
     tindakan ingin tahu, keterbukaan, toleransi secara kritis terhadap berbagaimacam
     peristiwa musikal.
 b. Perkembangan terhadap kebahagiaan/kepuasan/kesenangan terhadap bermain
     musik, sikap untuk tidak memihak antara nyanyian dengan permainan instrument.
 c. Perkembangan dibidang pengalaman dan kemampuan menikmati musik.
4. Kekurangan dibidang Expresi yaitu, kemampuan siswa dibidang vokal dan
   instrumental demikian pula mimik, gestik dan bentuk ungkapan dengan gerakan.
   Khususnya para peserta didik hendaknya belajar sebuah komposisi musik (permainan
   vokal, permainan instrumental, dan juga permainan yang ditemukan sendiri) yang
   diungkapkan secara mandiri, secara musikal.
5. Kelemahan dibidang Psychomotorik misalnya kemampuan peserta didik untuk
   mengendalikan Motorik pada saat permainan musik, khususnya perkembangan dari:
   a. Kemampuan bersuara (penguasaan nafas, suara dan pengucapan, dalam nyanyian
        tradisional anak-anak dapat memproduksi secara sadar dan terkontrol tetapi juga
        berbagai jenis suara mulut yang beraneka jenis)
   b. Kemampuan instrumental (kemampuan penguasaan instrumen sederhana dan
        berbagai jenis sumber bunyi lainnya).
   c. Kemampuan penguasaan tubuh dalam gerakan-gerakan mengikuti gerakan musik.


6. Kekurangan secara Transformatif misalnya, perkembangan kemampuan
   mengalihkan dari musik dan peristiwa akustik lainnya kedalam bidang expresi dan
   penampilan demikian pula sebaliknya:
   a. Memindahkan peristiwa jalannya musik ke dalam gerakan tubuh dan notasi
      (grafis, atau yang lainnya seperti sistem barat „not balok“, daminatila, kepatihan
      dll) menceritakan secara verbal dengan tepat., Ctt. Survey ke beberapa mahasiswa
      Sendratasik UPI (jalur PMDK) almuni SMKI menunjukkan bahwa mereka amat
      sangat kesulitan jika diminta menuliskan nada-nada dan ritmik masing-masing
      waditra-waditra dalam teknik permainan tertentu (misalnya degung), dalam
      sistem daminatila yang sudah amat sangat dikenalinya sekalipun.
   b. Notasi/simbul grafis dan rangkaian simbol dipindahkan/dimainkan didalam bunyi
      dan gerakan badan.
   c. Berbagai gerakan diberi ilustrasi bunyi.
   d. Bayangan bunyi dilukiskan didalam bentuk grafis.
   e. Ungkapan rasa expresi pada saat mendengarkan musik.
7. Kekurangan dibidang Kreatif misalnya perkembangan kemampuan untuk
   membentuk dan menyusun materi bunyi secara mandiri:
   a. Penggunaan prinsip-prinsip penciptaan musikal secara improvisasi
   b. Merencanakan dan merealisasikan bentuk-bentuk musikal sederhana
   c. Mengkombinasikan berbagai bunyi berdasarkan prinsip-prinsip tertentu, termasuk
       prinsip yang dibuat sendiri atau kesepakatan di kelas.
   d. Membuat ilustrasi musik yang sesuai dengan cerita tertentu
8. Kelemahan dibidang Eksploratif diantaranya peserta didik harus belajar secara
   mandiri:
   a. Menemukan dan mencoba berbagai kemungkinan penggunaan berbagai instrumen
      dan sumber bunyi lainnya.
   b. Menemukan dan mencoba berbagai kemungkinan mencipta musik.
9. Kelemahan dibidang Sosial diantaranya memberikan kemungkinan pada siswa untuk
   mampu:

   a. Memahami hubungan dengan sesama (mendengarkan permainan teman lain,
      tenggang rasa, memperhatikan teman lain; menata diri, bersikap kooperativ dan
      tolerant),
   b. Mempertahankan diri,
   c. Menyusun aturan main, memperhatikan aturan main tersebut dan merubahnya
      secara logis,
   d. Menunjukkan gerakan-gerakan musikal. (Bandingkan: Nolte, Eckhard.:
      Musikpädagodik (Forschung und Lehre Band 16), Die neuen Curricula,
      Lehrpläne und Richtlinien für den Musikunterricht an den allgemeinbildenden
      Schulen in der Bundesrepublik Deutschland und West-Berlin, Teil I: Primarstufe
      (Mainz, London, New York, Tokyo: Schott’s Söhne, 1982), hal. 21-23.

 ALTERNATIF SOLUSI
Untuk mengatasi berbagai kekurangan tersebut diatas, maka diusulkan langkah-langkah
yang antara lain:
METHODE PENGAJARAN KARAWITAN ALTERNATIV I (inovatif pembelajaran).
Bagian ini (Aktivitas peserta didik)akan didemonstrasikan bersama-sama dengan
audience .
 Aspek yang                                   Aktivitas
  dipelajari
1. Mengenal      1. Menirukan tepuk irama (arkuh) pada gendhing macan ucul dengan
   prinsip-         tanpa notasi.
   prinsip       2. Menyanyikan (melantunkan) nada-nada
   dasar         3. Menyanyikan (melantunkan) nada-nada dengan gerakan
   permainan        badan/kepala kekanan dan ke kiri, demikian pula gestik, mimik dll
   berbagai         secara relaks
   waditra,      4. Menepuk ritme saron I (tanpa melihat/memperlihatkan notasi),
   secara           sambil memberitahukan bahwa yang sedang dimainkan adalah
   praktek dan      teknik permainan saron I
   auditiv.      5. Menepuk ritme saron I sambil menyanyikan nada-nadanya.



                 6. Menepuk ritme saron I sambil menyanyikan nada-nadanya dengan
                    gerakan badan/kepala
                 7. Menepuk ritme saron I sambil mengucapkan bunyi dengan nada-
                    nadanya dengan gerakan badan/kepala
                 8. Membagi kelas ke dalam 2, 3 atau beberapa kelompok waditra
                    (misalnya saron I dengan saron II, lalu saron I dengan saron II
                    ditambah Bonang dst hingga semua waditra dimainkan secara
                    lengkap.

                 9. Mengganti kelompok, yang tadinya memainkan saron I, pindah ke
                    saron II dst sehingga setiap peserta didik menguasai betul-betul
                    seluruh teknik permainan masing-masing waditra.

                 10. Test bisa dilakukan dengan cara misalnya: (a) Guru memainkan
                     teknik permainan waditra tertentu (b). Guru menyebutkan teknik
                     permainan waditra tertentu.
Aspek yang                                    Aktivitas Guru
   dipelajari
 2. Mengenal         1. Mengulangi langkah 1 s/d 9 diatas, namun disertai notasi.
   prinsip-prinsip      Pertama kali membaca ritmiknya (sistem Cheve), dan
   dasar                selanjutnya simbol-simbol nadanya (dari guru, maupun
   permainan            berdasarkan kesepakatan di kelas, menciptakan simbol nada
   berbagai             sendiri, lihat gambar2). Ctt. Notasi daminatila sebenarnya
   waditra, secara      sangat problematis, lihat Bambang Jasnanto „Perkembangan
   praktek dan          notasi sebagai alat bantu mengajar karawitan dan berbagai
   auditiv-visual       permasalahanya“ (segera terbit) (cuplikan lihat lampiran 2)
                     2. Test bisa dilakukan dengan a. Dikte ritmik, memakai ritmik
                        musik barat, berbagai ritmik yang dipakai dalam karawitan
                        sunda b. Membaca notasi c. dikte interval (interval selain
                        gembyung dan kempyung bisa dibuat kesepakatan sendiri,
                        misalnya interval nada da ke mi memakai simbul warna kuning,
                        da ke na memakai simbul warna merah dll). d. Dikte melodi dll


3. Orientasi dan     1. Menebak bunyi sebuah nada tertentu, misalnya pada saron. Jika
   explorasi            sebuah nada sudah dikuasai, dilanjutkan 2 nada dst (setelah
   waditra              sebelumnya diberikan pelajaran tentang sikap duduk, cara
                        memegang tabuh, dan cara menabuh yang benar).
                     2. Sebagaimana langkah 1 sambil menyanyikan nadanya dan
                        bergerak (kepala dan badan). Ctt. Tidak mengikuti tingkat
                        oktav pada waditra yang sedang dimainkan.
4. Praktek   1. Memainkan saron I (tanpa melihat/ memperlihatkan notasi), sambil
   bermain      mengingatkan kembali bahwa yang sedang dimainkan adalah teknik
   gamelan      permainan saron I
             2. Memainkan nada-nada saron I sambil menyanyikan nada-nadanya.
             3. Sebagaimana langkah 2 ditambah dengan gerakan badan/kepala,
                gestik dan mimik
             4. Sebagaimana langkah 1,2,3 untuk semua jenis waditra (kecuali
                kempul, kenong, goong dan kendang hanya mengucapkan bunyi
                secara onomatopoetis.)
             5. Membagi kelas ke dalam 2, 3 atau beberapa kelompok waditra
                (misalnya saron I dengan saron II, lalu saron I dengan saron II
                ditambah Bonang dst hingga semua waditra dimainkan secara
                lengkap.
             6. Mengganti kelompok, yang tadinya memainkan saron I, pindah ke
                saron II dstt sehingga setiap peserta didik menguasai betul-betul
                seluruh teknik permainan masing-masing waditra.
             7. Menawarkan pada siswa, siapa saja yang paling senang dengan
                waditra Saron I, Saron II dst.
             8. Penyelenggaran Festival antar kelompok, sekelas. a. Kelompok yang
                ditentukan secara acak b. Kelompok yang dibuat berdasarkan pilihan
                peserta didik sendiri. Ctt. Kesempatan ini juga bisa dijadikan alat
                evaluasi (penilaian) secara berkelompok, maupun individual
                                     SENI TARI

                MODEL PEMBELAJARN TARI SD & MI KELAS VI


PROSES GERAK KREATIF
 Proses kreatif dalam mengembangkan gerak dan pola lantai
   Pada dasarnya kamu memiliki potensi kreatif
   Kreativitasmu memungkinkan kita akan memperileh temuan baru, ide baru, yang
     dapat dijadikan tema.
   Tema yang akan kita peroleh dapat diambil dari kejadian-kejadian dalam kegiatan
     sehari-hari, seperti bermain, bekerja, cerita rakyat, cerita pahlawan, binatang, atau
     lingkungan, agama maupun dari gerak tari daerahmu.

Pembelajaran Kreasi Tari
Mari kita coba !
Mulailah dari penjelajahanmu dan spontanitasmu
    Berfantasi:
       Mengingat kembali ide sebagai alat penemuan
    Merasakan:
       Belajarlah melihat dengan teliti, mendengar, merasakan, ide, tema dengan ide
       gerak dan musik.
    Menghayati:
       Menghayati perasaan yang berkaitan dengan temanmu
    Memahami:
       Curahkan hasil yang kamu lakukan dirinci dan menjadi keindahan gerak
    Memberi bentuk:
       Ide / tema dengan gerak, musik, melahirkan bentuk gerak yang indah setelah itu
   kamu membuat bentuk, pola lantai.
   Mari kita berlatih (Lihat Klip 01 SD dan Klip 02 SD)
   Pilihlah ide / temamu dan cobalah dengan gerak yang kamu sesuaikan dengan musik
   atau rasa iramamu.

    POLA LANTAI
   Gerak yang dihasilkan kamu harus dibentuk atau dirangkai menjadi indah. Hasil yang
   ditemukan untuk memberi bentuk kesatuan gerak kedalam garis pola lantai atau
   komposisi kelompok.
   Dalam hubungannya dengan garis yang dilakukan ketika kamu bergerak tari,
   membuat pola lantai patut diperhatikan : garis yang dilalui, besar atau kecil gerak
   (volume gerak) tinggi, rendah, gerak, garis yang dilalui lengkung, lurus, dilihat dari
   gerakan buat huruf atau lingkaran, gerakanmu pasti menarik.

Contoh :
Pola garis yang dilalui :
Garis lurus         garis lengkung      garis lurus dan lengkung

     Gerak tari keseimbangan pola lantai
      Pola lantai dapat menunjukkan posisi para penari di panggung. Ada beraneka
      ragam pola lantai dalam tarian, seperti lurus, lengkung ataupun yang gabungan,

       IRINGAN TARI
    Musik sebagai iringan tari dapat memberikan mutu tari yang lebih menarik, dan dapat
    menciptakan suasana rasa yang lebih sesuai dengan ide yang dibutuhkan.
    Iringan paling sederhana adalah dengan bunyi yang diciptakan atau dilakukan oleh
    penari sendiri, seperti Tari Saman dari Aceh, sambil bernyanyi. Untuk musik iringan
    yang menggunakan alat dari daerah-daerah adalah berbeda-beda seperti gamelan,
    gendang dan lainnya. Setiap daerah yang ada mempunyai ciri dan khas masing-
    masing, selain musik iringan dari daerah, baik musik hidup atau melalui kasetmu, kita
    juga dapat memilih musik yang tidak sebagi musik untuk iringan tari. Dapat
    dipergunakan alat-alat musik tradisi atau alat musik hasil ciptaanmu dapat dijadikan
    sebagai iringan gerak tari kelasmu.
    Fungsi musik sebagai iringan dapat dipergunakan sebagai pendukung suasana (musik
    sedih, gembira, atau bingung), bentuk sebagai iringan, kamu melakukan tempo gerak
    sesuai dengan ketukan dan tempo yang ada dalam musik.
    Sebagai ilustrasi, sekedar kebutuhan gerakmu yang akan dilakukan harus sesuai
    dengan musik, untuk setiap hentakan gerak atau pembentukan gerak musik
    memberikan tanda dan tekanan.
    Semua mausik sebagai iringan gerak tari mempunyai kebuutuhan dalam perubahan
    yang menarik dan menjadi hidup, disebut dinamika.

    Latihan Gerak Tari dengan Iringan Musik
Langkah-langah :
   1. Peserta didik menyaksikan beberapa contoh tari nusantara melalui media audio
       visual
   2. Peserta didik memperagakan salah satu gerak yang diapresiasi
   3. Peserta didik mengekplorasi gerak berdasarkan hasil apresiasi
   4. Peserta didik mengimprovisasi gerak berdasarkan hasil eksplorasi
   5. Menentukan tema tari
   6. Mengembangkan tema tari ke dalam bentuk sinopsis
   7. Peserta didik merangkai gerak hasil eksplorasi dan improvisasi yang sesuai
       dengan sinopsis.
   8. Peserta didik menyelaraskan dengan iringan tari
   9. Merancang penataan pentas yang sesuai dengan tema tari
   10. Merancang pentaan rias busana yang sesuai dengan tema tari

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:731
posted:1/28/2011
language:Indonesian
pages:25