Docstoc

Kajian konsep

Document Sample
Kajian konsep Powered By Docstoc
					KONSEP PENGEMBANGAN MODEL INTEGRASI
   KURIKULUM KESETARAAN GENDER




            PUSAT KURIKULUM
   BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
     DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
                   2007
                                                 DAFTAR ISI


                                                                           halaman

Abstraksi                                                                     i
Daftar Isi                                                                    ii


BAB I                   :    PENDAHULUAN                                       1
                             A. Latar Belakang                                1
                             B. Tujuan                                        1
                             C. Ruang Lingkup                                 2

BAB II                  :    LANDASAN                                         3
                             A. Landasan Teoritik                             3
                                Konsep Dasar Gender
                             B. Landasan Yuridis                             12

BAB III                 :    POLA PENGEMBANGAN MODEL                         14
                             A. Prinsip-prinsip Pengembangan                 14
                             B. Nilai-nilai Kesetaraan Gender yang dapat
                                diintegrasikan dalam KTSP                    14
                             C. Langkah-langkah Pengembangan                 15

BAB IV                  :    PELAKSANAAN DAN IMPLIKASI                       16
                             PENGEMBANGAN MODEL
                             A. Pelaksanaan                                   16
                             B. Implikasi                                     16




Daftar Pustaka

Contoh Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender dari SMAN 4
Yogyakarta




23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                   i
                                                     BAB I
                                              PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

      Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 tahun 2006 tentang
      Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan, salah satu tugas Pusat
      Kurikulum adalah mengembangkan dan mengujicobakan model-model kurikulum
      inovatif. Pengembangan dan uji coba yang dimaksud, dilakukan dalam rangka
      menyusun model-model kurikulum inovatif yang disesuaikan dengan kebutuhan,
      potensi, karakteristik peserta didik dalam rangka memberikan layanan yang
      optimal kepada peserta didik.
      Salah satu pengembangan kurikulum inovatif pendidikan yang akan dikembangkan
      oleh pusat kurikulum adalah model integrasi kurikulum kesetaraan gender. Latar
      belakang dari pengembangan model integrasi kurikulum kesetaraan gender adalah .
      1. Amandemen Undang-undang Dasar tahun 1945, Pasal 27.
      2. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) PBB. Tahun 1948.
      3. Undang-undang Nomor : 39 tahun 1999 tentang Hak Asazi Manusia.
      4. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003.
      5. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
          Pendidikan
      6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
      7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 tentang Standar
          Kompetensi Lulusan
      8. Dan peraturan-peraturan lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan dan
          pengembangan KTSP
      Pengembangan model integrasi kurikulum kesetaraan gender, dilandasi oleh
      Deklarasi pada Komperensi Dunia Tingkat Tinggi untuk Anak, yang tertera pada
      point 7 (5) yang berbunyi ”... ketidak seimbangan gender dalam pendidikan dasar
      dan menengah harus di tiadakan”. Serta rencana aksi hasil dari Komperensi Dunia
      Tingkat Tinggi untuk Anak pada point 39 (c) yang berbunyi : ” .... Menghapuskan
      ketimpangan gender dalam pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005; dan
      mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan pada tahun 2015 (UNICEF). Begitu
      pula adanya intruksi Presiden Nomor 9 tahun 2000 tentang kebijakan
      Pengarusutamaan Gender (PUG).
      Dengan demikian Pusat Kurikulum pada tahun 2007 melakukan penelitian dan
      pengembangan untuk menyusun model integrasi kurikulum kesetaraan gender
      sebagai implementasi dari kebijakan-kebijakan nasional maupun internasional,
      serta kebutuhan pada masyarakat.

B. Tujuan
   Kegiatan ini bertujuan untuk menyediakan model integrasi kurikulum kesetaraan
   gender. Model ini diharapkan dapat membantu tenaga kependidikan dalam
   mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Integrasi kurikulum
   kesetaraan gender baik dari : perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran,
   dan penilaiannya yang mengacu pada standar isi pendidikan dengan
   mempertimbangkan kesesuaiannya serta kondisi dan kebutuhan peserta didik,
   daerah, dan satuan pendidikan masing-masing.



23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                 1
C. Ruang Lingkup
   Ruang lingkup kegiatan pengembangan penyusunan model pada tahun anggaran
   2007 dibatasi pada jenjang pendidikan menengah pada satuan pendidikan sekolah
   menengah atas. Daerah uji coba masih terbatas pada tiga provinsi. Silabus dan RPP
   yang dikembangkan masih dibatasi pada kelas X .




23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                2
                                                       BAB II
                                                     LANDASAN

A. Landasan Teoritik
     Konsep Dasar Gender
     Sebagaimana disinggung di muka, jender sebagai konsep sering disalahfahami. Persepsi
     masyarakat tentang jender muncul berbeda–beda. Pandangan umum menyatakan bahwa
     perbedaan sifat, posisi, dan peran antara laki-laki dan perempuan adalah suatu yang
     niscaya dan tidak perlu dipermasalahkan.

     Padahal sebagai konsep, jender lahir dari rahim sosial dan budaya yang timpang.
     Konstruk sosial-budaya inilah yang pada gilirannya membentuk konsep jender menjadi
     bias. Bagaimana pandangan itu muncul dan faktor apa yang melatarbelakangi konstruk
     itu? Pada titik ini kajian akan lebih terarah apabila diawali dengan pemahaman terhadap
     teori-teori dasar tentang jender.

     Beberapa teori dasar yang sering digunakan dalam membedah sekaligus membenarkan
     adanya perbedaan sifat, posisi, dan peran antara laki-laki dan perempuan adalah sebagai
     berikut.

     1. Teori Kodrat Alam (Nature)
        Teori kodrat alam memandang bahwa pemilahan peran sosial antara laki-laki dan
        perempuan dianggap sebagai kejadian yang alamiah. Seperti dikemukakan Kamla
        Bhasin, ”Selama berabad-abad diyakini bahwa sifat-sifat, peran sosial, dan status
        yang berbeda dari laki-laki dan perempuan dalam masyarakat ditentukan oleh
        biologis (yaitu jenis kelamin). Hal itu bersifat alamiah sehingga tidak dapat diubah”.1
        Teori ini mengacu pada kodrat manusia secara alami, kehendak takdir, atau dalam
        bahasa Islam disebut ”ciptaan Allah”. Teori ini memandang laki-laki terlahir sebagai
        laki-laki dan perempuan terlahir sebagai perempuan, dalam penampilan fisik, fungsi
        fisik secara biologis dan peran sosialnya. Karena manusia diciptakan sejak sono-nya
        berbeda, maka manusia harus menerima. Apabila penampilan fisik, fungsi serta
        peran masing-masing dipertukarkan maka dianggap ada yang tidak beres pada orang
        yang bersangkutan. Sanksi sosial akan menuduh laki-laki yang berpenampilan
        feminin dengan sebutan banci, dan perempuan yang berpenampilan maskulin sebagai
        tomboy.2

           Sejak lahir secara biologis antara laki-laki dan perempuan berbeda. Anak laki-laki
           sejak lahir telah memiliki penis (zakar), dan pada saat tumbuh dewasa ia mulai
           berkumis, berjenggot, dan memiliki jakun. Sedangkan perempuan memiliki rahim,
           buah dada, payudara, indung telur sebagai ciri-ciri biologis untuk melaksanakan
           fungsi 4M yaitu menstruasi, mengandung, melahirkan dan menyusui anak.
           Berdasarkan pandangan teori ini apa yang dimiliki laki-laki tidak dimilki oleh
           perempuan, demikian pula sebaliknya, sehingga laki-laki dan perempuan saling
           membutuhkan dan saling melengkapi.3 Kondisi fisik yang secara kodrati memang
           berbeda tersebut dianggap berpengaruh pada kondisi psikis masing-masing.

           Perempuan yang memiliki kodrat fisik berkaitan dengan fungsi reproduksi (4M)
           dianggap sangat berkaitan dengan berkembangnya perangai psikologis yang
       1
        Kamla Bhasin, Memahami Gender, (Jakarta: Teplok Press, 2002), h. 23
       2
        Suryadi & Idris, Kesetaraan Gende, h. 44-45
       3
        Suryadi & Idris, Kesetaraan Gender, h. 45
23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                           3
           dibutuhkan untuk mengasuh anak yang dilahirkannya, seperti perangai keibuan yang
           menuntut sikap halus, penyabar, lemah lembut dan kasih sayang. Sedangkan lawan
           jenisnya yang terlahir sebagai laki-laki secara kodrati mempunyai ciri fisik seperti
           mampu produksi sperma, dan dipandang merepresentasikan fisik-laki-laki yang kuat
           dan perkasa.4 Kondisi fisik yang kuat cenderung agresif dianggap akan berdampak
           pada perangai psikologis yang lebih tegar, lebih tenang, keras dan bahkan kasar.
           Kaum laki-laki yang memiliki sosok fisik lebih kuat dikonstruksikan untuk berperan
           di sektor publik, menghadapi kerasnya kehidupan, sekaligus memberi perlindungan
           kepada pihak yang lebih lemah, yaitu perempuan.5 Sementara perempuan dengan
           kelembutan sifatnya cukup berkecimpung pada urusan domestik dan menjadi pelayan
           laki-laki.

           Teori ini bukan saja membagi manusia secara kategoris per se, tetapi juga
           menyebabkan pembagian kerja secara seksual antara laki-laki dan perempuan: sektor
           publik versus domestik. Perempuan dengan perangai yang lembut dan penuh kasih
           sayang mengharuskannya untuk mengasuh anak dan membereskan semua urusan
           rumah tangga. Sebaliknya, laki-laki dengan fisik dan perangai kuat lebih layak
           melakukan kegiatan di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan nafkah keluarga dan
           memberi perlindungan terhadap semua anggota keluarganya. Perbedaan biologis ini,
           kata Sanderson, merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan dalam
           membentuk pembagian peran antara kedua jenis kelamin: laki-laki dan perempuan.6

           Teori kodrat alam sebenarnya lebih berorientasi kapada kondisi masyarakat pra-
           industri, dimana laki-laki berperan sebagai hunter (pemburu) dan perempuan sebagai
           gatherer (peramu). Seperti dilukiskan Nasarudin Umar, ”sebagai pemburu, laki-laki
           lebih banyak berada diluar rumah dan bertanggung jawab untuk menghasilkan
           makanan kepada keluarga. Peran perempuan lebih terbatas di sekitar rumah dan
           urusan reproduksi....”.7 Pada masyarakat tradisional, pembagian peran atau kerja
           seperti ini telah terbukti mampu menciptakan kelangsungan masyarakat yang stabil.
           Dengan demikian, pembagian peran laki-laki dan perempuan menurut teori ini mutlak
           diperlukan demi mencapai keharmonisan keluarga dan masyarakat.

           Segregasi sosial yang menjadikan dominasi pekerjaan pada sektor publik oleh kaum
           laki-laki khususnya untuk pekerjaan berat atau kerja kasar, anehnya, dimaksudkan
           untuk menjaga tugas mulia kaum perempuan (4M). Kaum laki-laki diharuskan secara
           sosial bekerja keras untuk mencari dan mencukupi nafkah keluarganya, terdiri atas
           perempuan dan anak-anak. Hubungan patriarkhi yang membagi peran perempuan di
           sektor domestik dan laki-laki di sektor publik, secara turun temurun telah diyakini
           kebenarannya dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pewarisan budaya tersebut
           melalui pembiasaan budaya dan adat istiadat sejak anak dilahirkan. Kemudian secara
           estafet generasi muda menerimanya tanpa kritik dan keraguan.8 Pada akhirnya gender
           yang dikonstruk secara sosial ini menjadi budaya dominan yang diterima oleh antar-
           generasi sebagai suatu yang niscaya dan semestinya.



       4
       Bandingkan Muthali’in, Bias Gender, h. 24
       5
       Arief Budiman, Pembagian Kerja Secara Seksual: Sebuah Pembahasan Sosiologis tentang
Peran Wanita di dalam Masyarakat, (Jakarta: Gramedia, 1985), h. 1-14
      6
       Stephen K. Sanderson, Sosiologi Makro Sebuah Pendekatan terhadap Realitas Sosial, (Jakarta:
Rajagrafindo Persada, 1995), h. 409
      7
       Umar, Argumen, h. 134
      8
       Suryadi & Idris, Kesetaraan Gender, h. 47
23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                              4
     2. Teori Kebudayaan (Nurture)
        Teori ini disebut teori kebudayaan karena memandang jender sebagai akibat dari
        konstruksi budaya. Identitas jender dari perempuan dan laki-laki tidak ditentukan oleh
        kodrat alam, melainkan secara psikologis dan sosial, yang berarti secara historis dan
        budaya. Teori ini tampaknya sebagai ”bantahan” terhadap teori kodrat alam. Teori
        nurture tidak setuju bahwa pemilahan dan pembedaan peran sosial laki-laki dan
        perempuan merupakan kodrat alam. Faktor biologis tidak menyebabkan laki-laki
        lebih unggul ketimbang perempuan. Pemilahan sekaligus pengunggulan terhadap
        laki-laki ketimbang perempuan lebih disebabkan karena elaborasi kebudayaan
        terhadap kondisi biologis jenis kelamin.9 Dengan demikian pembentukan sifat yang
        berbeda yang disebut dengan sifat-sifat feminin dan maskulin merupakan hasil dari
        proses sosial-budaya masyarakat, bahkan lebih khusus dapat dibentuk melalui
        pendidikan.

            Meskipun teori nurture berbeda dengan teori nature, tetapi pandangan terhadap peran
            sosial laki-laki dan perempuan tetap saja sama. Pemilahan manusia menjadi laki-laki
            dan perempuan, dan usaha untuk membedakan keduanya dalam posisi dan peranan
            sosial yang berbeda ini, menurut Budiman, merupakan suatu tindakan yang disengaja.
            Apa yang disebut sebagai kodrat perempuan adalah hasil buatan, yaitu hasil
            kombinasi antara tekanan dan paksaan di suatu pihak dengan rangsangan yang tidak
            wajar sekaligus menyesatkan di pihak lain, khususnya perempuan.10

            Teori nurture memandang pembagian peran sosial berdasarkan jenis kelamin sebagai
            menifestasi dari budaya masyarakat setempat. Dimensi lokalitas itu menyebabkan
            konstruk budaya tertentu tidak bisa berlaku dan dipaksakan secara universal,
            melainkan tergantung pada kondisi sosial budaya yang melingkupinya. Menurut teori
            ini, terjadinya keunggulan laki-laki terhadap perempuan karena dikonstruksi oleh
            budaya yang dipengaruhi oleh peluang laki-laki yang lebih besar untuk berperan aktif
            di dunia luar.11 Peluang ini dimungkinkan karena bergesernya orientasi kepemilikan
            benda yang bersifat komunal menjadi milik pribadi. Semula rumah tangga dan harta
            milik yang ada di dalamnya menjadi milik dan tanggung jawab bersama. Perempuan
            memiliki hak dan kontribusi yang sama dalam memenuhi kebutuhan ekonomi
            kelompok/rumah tangganya. Namun, dengan berkembangnya kepemilikan pribadi,
            kesetaraan itu kemudian bergeser. Laki-laki memiliki peluang lebih besar untuk
            menguasai materi atau harta milik pribadi, karena laki-laki tidak disibukkan oleh
            tanggung jawab mengandung, melahirkan, menyusui bahkan mengasuh anak,
            sehingga laki-laki lebih leluasa bekerja keras untuk meraih dan mengumpulkan uang.
            Kepemilikan pribadi atas harta milik yang merupakan aset ekonomi itu
            memungkinkan laki-laki memiliki kontrol terhadap seluruh lingkungan kehidupan
            sosial budaya yang lain, termasuk kehidupan rumah tangganya. Kondisi ini pada
            gilirannya laki-laki bukan saja menggenggam harta, tetapi juga memperoleh
            kekuasaan yang lebih tinggi daripada perempuan.12 Dalam perspektif teori ini, materi
            atau harta kekayaan turut menentukan dominasi laki-laki terhadap perempuan.
            Misalnya raja-raja atau kaum bangsawan pada jaman dahulu dapat menguasai dan
            mendominasi perempuan bahkan lebih dari satu orang perempuan (istri). Perempuan
            yang tidak memiliki kontrol terhadap kepemilikan harta, dengan demikian, akan
            menurut dan sangat tergantung pada laki-laki.


       9
        Sanderson, Sosiologi Makro, h. 409
       10
         Periksa Budiman, Pembagian Kerja, h. 4
       11
         Suryadi & Idris, Kesetaraan Gender, h. 48
       12
         Sanderson, Sosiologi Makro, h. 412-16
23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                            5
            Secara empirik diketahui laki-laki sering mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk
            memperebutkan dan mendapatkan kekayaan dan perempuan, seperti berkelahi,
            berperang, merampok, mencuri, membajak, korupsi dan sebagainya. Dari kondisi
            seperti ini, lahir peran sosial berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Laki-
            laki yang memiliki akses yang lebih besar terhadap sektor produktif kemudian
            dikonstruksikan untuk berperan sosial di sektor publik, sedangkan perempuan yang
            mempunyai tugas 4M dikonstruksikan untuk berperan pada sektor domestik yaitu
            mengurusi rumah tangga, anak dan melayani laki-laki atau suami.13

            Teori kebudayaan yang memandang jender sebagai hasil dari proses budaya
            masyarakat yang membedakan peran sosial laki-laki dan perempuan sangat banyak
            pengikutnya. Semua pejuang kesetaraan jender berpandangan bahwa jender bukan
            kodrati tetapi jender adalah hasil dari proses budaya yang diwariskan secara turun
            temurun. Implikasinya gender atau pemilahan peran sosial berdasarkan jenis kelamin
            dapat dipertukarkan, dapat dibentuk dan dapat dilatihkan. Melalui pandangan ini,
            munculnya ketidaksetaraan dan ketidakadilan jender menjadi isu krusial dan
            mendapat perhatian yang besar.

     3. Teori Psikoanalisis
        Teori ini pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli psikoanalisa kenamaan,
        Sigmund Freud. Teori ini berpangkal dari pernyataan Freud tentang penis evny, yaitu
        perasaan iri terhadap alat kelamin laki-laki. Maksudnya, pada saat anak perempuan
        pertama kali melihat alat kelamin laki-laki, ia segera menjadi sadar bahwa dirinya
        memiliki kekurangan sesuatu, atau tidak selengkap yang dimiliki anak laki-laki. Anak
        perempuan ketika melihat alat kelamin laki-laki memandang sebagai sesuatu yang
        sempurna dan dapat dibanggakan. Dia menyadari bahwa yang dimilikinya tidak bisa
        dibanggakan sehingga memunculkan sifat kurang percaya diri, karena tidak memilki
        kebanggaan seperti yang dimiliki oleh laki-laki. Mulai saat itu pada diri anak
        perempuan berkembang perasaan rendah diri, malu-malu atau kurang percaya diri
        karena merasa ada yang kurang pada dirinya, terutama pada saat berhadapan dengan
        laki-laki. Dari sini muncul kesadaran akan sifat-sifat feminin dan maskulin.

            Selanjutnya berdasarkan teori ini, ketika anak perempuan menjadi dewasa, keinginan
            untuk memiliki kelamin laki-laki berubah menjadi keinginan untuk memiliki bayi.
            Jika laki-laki berkembang menjadi senang kepada perempuan, pada perempuan
            berkembang menjadi senang kepada bayi. Berkembangnya rasa kasih sayang yang
            besar kepada bayi dan anak-anak adalah sebagai kelanjutan dari perasaan adanya
            kekurangan pada diri perempuan, atau sebagai pengganti dan penghibur kekurangan
            itu. Kebahagiaan seorang perempuan akan semakin besar jika keinginan memiliki
            bayi terkabulkan, apalagi bayi yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki. Bayi laki-
            laki, bagi perempuan, merepresentasikan kelamin yang diidam-idamkannya.14

            Berdasarkan teori ini, laki-laki dan perempuan secara psikologis memang berbeda.
            Teori Freud memandang perbedaan jenis kelamin sebagai awal dari perbedaan
            perkembangan psikologis antara laki-laki dan perempuan. Selanjutnya perbedaan
            perkembangan psikologis itulah yang menentukan perbedaan perkembangan perilaku
            masing-masing. Dari perkembangan perilaku kemudian berkembang kepada
            pemilihan peran sosial yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan



       13
         Suryadi & Idris, Kesetaraan Gender, h. 48-49
       14
         Baca lebih lanjut dalam Budiman, Pembagian Kerja, h. 8
23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                                6
            teori ini pemilahan peran publik untuk laki-laki dan peran domestik bagi perempuan
            merupakan pilihan masing-masing dalam mengekspresikan dirinya.

            Perbedaan sifat dari kompleks oedipus dan kompleks kastarsi inilah yang menjadi
            dasar berbagai perbedaan psikologis dari kedua jenis kelamin. Perbedaan psikologis
            antara laki-laki dan perempuan dalam perkembangannya menghasilkan dinamika
            kepribadian yang berbeda pula. Sifat feminim dan maskulin menggambarkan sifat-
            sifat kepribadian yang secara psikologis memang berbeda.”Sejak anak usia 3-6 tahun
            perkembangan kepribadian anak laki-laki dan perempuan mulai berbeda. Perbedaan
            ini melahirkan perbedaan formasi sosial berdasarkan identitas jender, yakni bersifat
            laki-laki dan perempuan”.15

            Asumsi dasar teori psikoanalisis ini banyak dikritik. Bahkan banyak kalangan yang
            menganggap bahwa teori Sigmund Freud ini sangat aneh dan tidak lazim. Pembedaan
            laki-laki dan perempuan berdasarkan ”keirihatian” tidak nyata secara sosial dan
            dianggap mengada-ada. Kalau perempuan iri terhadap kelamin laki-laki, mengapa
            laki-laki juga tidak iri terhadap kelamin perempuan yang juga berbeda dengan
            mereka?

     4. Teori Fungsionalisme Struktural
         Teori ini hanya menyoroti bagaimana terjadinya masalah jender itu muncul, dan
        mengarah kepada Teori ini memang tidak secara langsung menyinggung pemilahan
        peran laki-laki dan perempuan bagaimana jender dipermasalahkan. Teori ini
        memandang bahwa ”masyarakat sebagai suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian
        yang saling berkaitan. Masing-masing bagian secara terus menerus mencari
        keseimbangan dan harmoni. Apabila kesalahan terjadi fungsi dari salah satu bagian
        struktur, sistem itu akan melahirkan gejolak”. Dalam kaitan dengan masalah
        kesetaraan jender yang sedang disuarakan dapat diartikan bahwa dalam struktur
        masyarakat telah terjadi suatu kesalahan fungsi atau penyimpangan struktur
        kehidupan masyarakat, sehingga terjadi gejolak. Gejolak itu adalah suatu gejala
        adanya kesalahan fungsi dan atau struktur kehidupan, dan gejolak itu sendiri
        merupakan cara untuk mencapai keseimbangan (equilibrium) dan harmoni.16

            Teori fungsionalisme struktural memandang bahwa laki-laki dan perempuan sebagai
            bagian dari struktur nilai dalam kehidupan di masyarakat. Masyarakat merupakan
            suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling terkait, masing-masing
            bagian akan terus menerus mencari keseimbangan dan harmoni. Munculnya gejolak
            merupakan indikator adanya kesalahan fungsi dari salah satu bagian struktur nilai di
            masyarakat. Selama tidak ada gejolak dalam masyarakat, berarti pemilahan peran
            sosial menurut jenis kelamin perlu dipertahankan. Kondisi ini merupakan pengaturan
            yang paling baik dan berguna bagi harmoni dan keuntungan masyarakat secara
            keseluruhan. Jadi, menurut teori ini, pembagian peran laki-laki dan perempuan mutlak
            diperlukan untuk menjaga harmoni dari keseluruhan sistem.17

            Perspektif teori ini memandang harmoni dan integrasi sebagai fungsional, bernilai
            tinggi, dan harus ditegakkan, sedangkan konflik mesti ditinggalkan. Artinya, status

       15
        Umar, Argumen Kesetaraan, h. 138
       16
        Baca lebih lanjut mengenai sistem sosial ini dalam Nasikun, Sistem Sosial Indonesia, (Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 1995)
      17
        Siti Zuhaini Dzuhayatin, “Ideologi Pembebasan Perempuan : Perspektif Feminisme dalam
Islam”, dalam Bainar (Ed.), Wacana Perempuan dalam Keindonesiaan dan Kemodernan, (Jakarta:
CIDES-UII, 1998), h. 14
23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                                  7
            quo harus dipertahankan. Semampang peran laki-laki dan perempuan dalam kondisi
            integratif dan harmoni, keadaan itu mesti dipertahankan. Apabila terjadi gejolak atau
            pertentangan dalam memandang pemilahan peran sosial laik-laki dan perempuan,
            berarti diperlukan pemecahan untuk mencapai equilibrium. Gejolak tersebut sebagai
            akibat dari adanya kesalahan fungsi dalam struktur atau tatanan kehidupan di
            masyarakat yang harus segera diselasailkan. Adanya gejolak yang menuntut
            ’kesetaraan jender’ berarti struktur dan fungsi sosial lama yang berlaku di masyarakat
            perlu diperbaiki karena dianggap tidak sesuai atau terjadi penyimpangan.18

            Berdasarkan pandangan teori ini, kehidupan masyarakat yang normal harus berfungsi
            dan berstruktur secara normal sehingga akan melahirkan harmoni dalam kehidupan.
            Apabila terjadi kesalahan fungsi atau struktur kehidupan di masyarakat yang tidak
            berjalan dengan normal seperti terjadi penyimpangan yang melanggar norma atau
            aturan maka akan terjadi gejolak. Pada dasarnya gejolak itu sendiri merupakan cara
            untuk membentuk fungsi dan struktur baru dalam mencapai keseimbangan.

            Pemilihan peran sosial antara laki-laki dan perempuan seperti yang terjadi saat ini
            merupakan pengaturan yang paling baik dan berguna bagi terwujudnya keseimbangan
            dan harmoni. Berdasarkan teori fungsionalisme struktural, pembagian peran antara
            laki-laki dan perempuan apabila mendapatkan harmoni dan dapat menghindarkan
            gejolak harus dipertahankan. Pemilahan peran sosial antara laki-laki di sektor publik
            dan perempuan di sektor domestik telah terbukti dapat melahirkan harmoni dalam
            kehidupan. Sebagai bukti bahwa hubungan patriarkhi telah melahirkan harmoni
            dalam masyarakat adalah pemilahan peran tersebut masih dipertahankan sampai
            masyarakat yang bersangkutan memerlukan adanya perubahan yang ditandai dengan
            adanya gejolak.19

            Keluarga merupakan bagian penting dalam masyarakat. Untuk melahirkan harmoni
            dalam masyarakat diperlukan harmoni dalan kehidupan keluarga, yang ditempuh
            dengan melakukan pembagian tanggung jawab dan peran antara suami dan istri
            dalam keluarga yang melahirkan rasa tenang pada keduanya.Harmoni dan ketenangan
            dalam keluarga akan melahirkan harmoni dan ketenangan dalam masyarakat yang
            lebih luas. Dengan demikian, harmoni dalam masyarakat sebagaimana diasumsikan
            oleh teori fungsional dapat terjadi sebagai akibat adanya pemilahan peran dalam
            kehidupan berdasarkan jenis kelamin. Dengan kata lain, pemilahan peran secara
            seksual memang diperlukan untuk menciptakan harmoni masyarakat.

            Berdasarkan teori ini, munculnya tuntutan untuk kesetaraan jender dalam peran-peran
            sosial di masyaarakat sebagai akibat adanya perubahan struktur nilai sosial ekonomi
            masyarakat. Pada masyarakat pra-industri, laki-laki berperan sebagai pencari nafkah
            (pangan, sandang dan papan), dan perempuan berperan sebagai pengurus rumah
            tangga dan anak-anak. Kondisi ini berbeda dengan masyarakat kapitalis, di jaman
            industrialissasi yang lebih mementingkan materi, kondisi masyarakat sangat
            tergantung pada uang. Dalam era globalisasi, peran seseorang tidak lagi mengacu
            kepada norma-norma kehidupan sosial yang lebih banyak mempertimbangkan faktor
            jenis kelamin, melainkan ditentukan oleh daya saing dan ketrampilan.20

            Demikianlah beberapa teori yang sering dipergunakan untuk menjelaskan terjadinya
            pemilahan peran antara laki-laki dan perempuan. Di antara keempat teori tersebut,
       18
         Suryadi & Idris, Kesetaraan Gender, h. 52
       19
         Suryadi & Idris, Kesetaraan Gender, h. 52-53
       20
         Umar, Argumen Kesetaraan, h. 77
23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                              8
          hanya tiga teori yang sering digunakan. Teori psikoanalisis kurang dipertimbangkan
          karena beberapa asumsi dasar teori ini dianggap kurang lazim dan mengandung
          problem ontologis dan aksiologis.

     Ada beberapa konsep yang mendasari, antara lain:
     a. Gender
          Pengertian gender termuat dalam Lampiran Inpres No. 9/2000 dinyatakan:

                    Gender adalah perbedaan peran laki-laki dan perempuan yang
                    dibentuk, dibuat dan dikonstruksi oleh masyarakat dan dapat berubah
                    sesuai dengan perkembangan zaman.

          Melihat pengertian di atas, dapat dilihat bahwa pengertian gender dibedakan dengan
          pengertian seks. Seks sesuatu yang tidak dapat pertukarkan karena itu disebut sebagai
          kodrat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kodrat dipa-hami sebagai sesuatu yang
          tidak dihindari, sesuatu yang telah ditentukan, tergariskan sejak awal. Sementara gender
          menjelaskan mana perbedaan perempuan dan laki-laki yang bersifat bawaan sebagai
          ciptaan Tuhan dan mana yang merupakan bentukan budaya yang dikonstruksikan atau
          dibentuk melalui proses belajar (yaitu sosialisasi dan internalisasi). Untuk lebih jelasnya
          perbedaan antara Seks dan Gender dapat dilihat pada Tabel 1.

                                             Tabel 1
                                 Perbedaan antara Seks dan Gender

                              SEKS                                  GENDER

                             Nature                                 Nurture
               Laki-laki              Perempuan         Laki-laki             Perempuan
                 Penis                  Vagina            Kuat                  Lemah
                Sperma                 Sel Telur       Rasional               Emosional
                 Jakun                Melahirkan        Tampan                  Cantik
                                      Menyusui           Kasar                 Lembut
                                                       Maskulin                Feminin
                                                         Publik               Domestik
                    Ciptaan Tuhan (Given)                     Bukan Ciptaan Tuhan
                                                     merupakan bentukan/konstruksi manusia
                  Tidak dapat dipertukarkan          Dapat dipertukarkan dan (bukan kodrat)
                          (kodrat)
                    Permanen & universal                Dapat berubah & tidak universal
                       Proses alamiah                           Proses belajar

          Sumber: Modul APPHGI , 2006
          Gender pada dasarnya dapat dibentuk, dibuat dan dikonstruksi oleh masya-rakat dan
          dapat dirubah sesuai dengan perkembangan zaman, yang antara lain dipengaruhi oleh
          tempat, waktu/zaman, suku/ras/bangsa. Budaya. Status sosial, agama, negara/ideologi.




23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                                 9
                                                  Bagan I.
                                              Pengertian Gender



                           Tidak dimiliki
                             sejak lahir                                      Tempat

                                                                              Waktu/Jaman
                                                     Bisa
   Konstruksi/
                                                     dibentuk/bisa
   bentukan sosial
                                                     berubah                  Suku/Ras/Bangsa



                              GENDER                      Dipengaruhi         Budaya
                                                             oleh
                                                                              Status Sosial

        •    Bukan kodrat * Relatif                                           Agama
        •    Dibuat manusia * Ciri-ciri tersebut terda-
        •    Bisa diubah      pat pada laki-laki &
                                                                              Negara/Ideologi
                              perempuan
     Sumber: Modul, Kementerian Negara Pemberdayaan
             Perempuan RI, Jakarta, 2001)

     b. Kesetaraan Gender
          Pengertian Kesetaraan Gender termuat dalam Lampiran Inpres No.9/ 2000,
          yaitu:
                    Kesetaraan gender adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perem-
                    puan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia,
                    agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik,
                    ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan nasional, dan
                    kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut.

                                                   Bagan 2
                                              Kesetaraan Gender


                                Kesamaan kondisi laki-
                                laki dan perempuan
                                memperoleh                                             Politik
                                kesempatan dan hak-                  Mampu
        Kesetaraan                                                                     Ekonomi
                                haknya                               berperan
        Gender                                                                         Sosial
                                                                     dan
                                                                                       Budaya
                                Kesamaan dalam                       berpartisipa
                                                                                       Pertahanan
                                menikmati                            si dalam
                                                                                       Keamanan
                                hasil pembangunan                    bidang
                                                                                       Nasional




23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                              10
     c. Keadilan Gender :
        Pengertian Keadilan Gender termuat dalam Lampiran Inpres No.9/2000,
        dinyatakan:

                    Keadilan gender adalah suatu proses untuk menjadi adil terhadap
                    laki-laki dan perempuan.

          Keadilan Gender ini dimaksudkan untuk mengatasi ketidakadilan gender yang terjadi.
          Adapun bentuk-bentuk ketidakadilan gender itu meliputi marginilisasi,
          subordinasi, pelabelan/stereotip, kekerasan, beban kerja, yaitu21:

          1) Marginalisasi
             Proses marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang       mengakibatkan
             kemiskinan atas perempuan maupun atas laki-laki yang dise-babkan karena
             jenis kelaminnya adalah merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang
             disebabkan gender. Sebagai contoh, banyak pe-kerja perempuan tersingkir
             dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti intensifikasi
             pertanian yang hanya memfo-kuskan pada petani laki-laki.

          2) Subordinasi
             Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis
             kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin
             lainnya. Sudah sejak dahulu ada pandangan yang menem-patkan kedudukan
             dan peran perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Banyak kasus dalam
             tradisi, tafsir keagamaan maupun dalam aturan birokrasi yang meletakkan
             kaum perempuan pada tataran subordinat. Kenyataan memperlihatkan pula
             bahwa masih ada ma-syarakat yang membatasi ruang gerak terutama
             perempuan diber-bagai kehidupan. Sebagai contoh apabila seorang istri
             yang hendak mengikuti tugas belajar atau hendak berpergian keluar negeri
             harus mendapatkan izin dari suami, tetapi apabila suami pergi ia bisa
             mengambil keputusan sendiri tanpa harus mendapat izin dari istri.

          3) Pelabelan/stereotip
             Pelabelan atau penandaan (stereotip) yang sering kali bersifat negatif secara
             umum selalu melahirkan ketidakadilan. Salah satu stereotip yang melahirkan
             ketidakadilan dan diskrimi-nasi bersumber dari pandangan gender karena
             menyangkut pelabelan atau penandaan terhadap salah satu jenis kelamin
             tertentu. Misalnya pandangan ter-hadap perempuan bahwa tugas dan
             fungsinya hanya melak-sanakan pekerjaan yang berkaitan dengan
             kerumahtanggaan atau tugas domestik dan sebagai akibatnya ketika ia
             berada di ruang pu-blik, maka jenis pekerjaan, profesi atau kegiatannya di
             masyarakat bahkan di tingkat pemerintahan dan negara hanya merupakan
             ‘perpan-jangan’ peran domestiknya.

          4) Kekerasan
             Berbagai kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan peran
             muncul dalam berbagai bentuk. Kata ‘kekerasan’ yang           merupakan
             terjemahan dari ‘violence’ artinya suatu serangan terhadap fisik maupun
             integritas mental psikologis seseorang. Oleh karena itu kekerasan tidak
             hanya menyangkut serangan fisik saja tetapi perko-saan, pemukulan dan

21Bahan Pembelajaran Pengarusutamaan Gender, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, BKKBN,
UNFPA. 2005
23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                       11
               penyiksaan, tetapi juga yang bersifat non fisik seperti pelecehan seksual,
               ancaman dan paksaan sehingga secara emosional perempuan atau laki-laki
               yang mengalaminya akan merasa terusik batinnya. Pelaku kekerasan yang
               bersumber karena gender ini bermacam-macam. Ada yang bersifat
               individual seperti di dalam rumah tangga sendiri maupun di tempat umum
               dan juga di dalam masyarakat dan negara, misalnya suami membatasi uang
               belanja dan memonitor pengeluarannya secara ketat. Istri tidak boleh bekerja
               oleh suami setelah menikah.

          5) Beban kerja (double burden)
             Sebagai suatu bentuk diskriminasi dan ketidakadilan adalah beban kerja
             yang harus dijalankan oleh salah satu jenis kelamin tertentu. Dalam suatu
             rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan oleh laki-
             laki, dan beberapa yang lain dilakukan oleh pe-rempuan. Berbagai observasi
             menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam
             rumah tangga. Selain bekerja di wilayah publik mereka juga masih harus
             mengerjakan pekerjaan do-mestik. Dengan adanya konsep-konsep tersebut di
             atas, sebenarnya memperlihatkan bahwa jenis kelamin laki-laki dan
             perempuan secara “seksual” berada dalam posisi yang tidak sama dan setara.

               Ketidakadilan gender yang terjadi pada perempuan, itu bukan tidak ada proses
               menjadi adil terhadap laki-laki dan perempuan. Hal ini dapat dilihat dalam Bagan 3.

                                                   Bagan 3
                                               Keadilan Gender

                                                                         Marginalisasi
                                         Proses menjadi adil             Subordinasi
          KEADILAN                       terhadap laki-laki dan
           GENDER                                                        Pelabelan/Stereotipe
                                         perempuan                       Kekerasan
                                                                         Beban Kerja




                                                                    Laki-laki dan perempuan


B. Landasan Yuridis
     1. Amandemen Undang-undang Dasar tahun 1945, Pasal 27 yang memberikan
        jaminan adanya persamaan hak dan kedudukan antara perempuan dan laki-laki
        didalam hukum maupun pemerintahan. Hal ini dapat di lihat dari ayat (1) yang
        berbunyi ”Segala warga negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan
        pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak
        ada kecualinya”. Serta ayat (2) yang berbunyi ”Tiap-tiap warga negara berhak
        atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”
     2. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) PBB. Tahun 1948 pada
        Pasal 1 yang berbunyi : ”Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai
        martabat dan hak-hak yang sama Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan
        hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan. Serta pasal 2
        yang berbunyi ”Setiap warga berhak atas semua hak dan kebebasan yang
        tecantum dalam deklarasi ini tanpa terkecuali seperti jenis kelamin”
23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                              12
     3. Undang-undang Nomor : 39 tahun 1999 tentang Hak Asazi Manusia (Ratifikasi
        DUHAM)
     4. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
        Pendidikan Nasional pada pasal 1 ayat (4) yang berbunyi ”Peserta didik adalah
        anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses
        pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
     Demikian juga kewajiban hukum dari pemerintahan terhadap hak atas pendidikan
     mengacu kepada skema 4 – A berikut, yaitu :
     a. Availability (Ketersediaan);
     b. Acceptability (Keberterimaan),
     c. Adaptability (Kebersesuaian),
     d. Accessibility (Keterjangkauan)
        Accessibility (Keterjangkauan), berarti pemerintah harus menghapuskan praktik-
        praktik diskriminasi gender dan rasial serta menjamin pelaksanaan hak asasi
        manusia secara merata.
     Pusat Kurikulum Departemen pendidikan nasional melakukan dan mengembangkan
     model integrasi kurikulum kesetaraan gender, hal ini dilandasi oleh Deklarasi pada
     Komperensi Dunia Tingkat Tinggi untuk Anak, yang tertera pada point 7 (5) yang
     berbunyi ”... ketidak seimbangan gender dalam pendidikan dasar dan menengah
     harus di tiadakan”. Serta rencana aksi hasil dari Komperensi Dunia Tingkat Tinggi
     untuk Anak pada point 39 (c) yang berbunyi : ” .... Menghapuskan ketimpangan
     gender dalam pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005; dan mencapai
     kesetaraan gender dalam pendidikan pada tahun 2015 (UNICEF). Begitu pula
     adanya intruksi Presiden Nomor 9 tahun 2000 tentang kebijakan Pengarusutamaan
     Gender (PUG).




23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                  13
                                            BAB. III
                                   POLA PENGEMBANGAN MODEL


Pengembangan model integrasi kurikulum kesetaraan gender yang dikembangkan oleh Pusat
Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional adalah
bagian dari pengembangan kurikulum inovatif.

Model Kurikulum Integrasi Kesetaraan Gender yang dikembangkan dalam kurikulum
pendidikan sangatlah perlu karena peserta didik diharapkan dapat memahami secara mendalam
tentang pentingnya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di dalam kehidupan. Upaya yang
dilakukan itu untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender (Gender Equity dan Equality).

INTEGRASI KURIKULUM KESETARAAN GENDER
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa kesetaraan gender ini sangat penting untuk dipahami oleh
peserta didik dari tingkat pendidikan anak usia dini, dan salah satunya di tingkat menengah.
Pemahaman kesetaraan gender ini telah tercantum dalam berbagai peraturan nasional, yang juga
berakar dari instru-men internasional, sebagaimana termuat dalam:
1. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang kemudian Indonesia telah mengeluarkan
    Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
2. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita yang telah diratifikasi
    melalui Undang-Undang Nomor 7 tahun 1984 Tentang Pengesahan Konvensi Mengenai
    Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita.
3. Konvensi Anak yang telah diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002
    Tentang Perlindungan Anak
4. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutaman Gender dalam
    Pembangunan Nasional.

A. Prinsip-prinsip Pengembangan
     Kesetaraan gender yang terdapat di dalam peraturan tersebut, perlu dipahami oleh peserta
     didik melalui kurikulum, bisa tertuang dalam mata pelajaran secara mandiri ataupun
     terintegrasi ke dalam mata pelajaran yan sudah ada. Masing-masing tentu saja memberikan
     dampak yang berbeda-beda. Kalau dilihat dari padatnya mata pelajaran yang telah diberikan
     kepada siswa SLTP dan SLTA sudah begitu banyak, maka konsep kesetaraan gender ini
     sebaiknya terintegrasi, dengan berbagai alasan, antara lain:
     1. Model yang dikembangkan terintegrasi melalui mata pelajaran
     2. Tidak merubah struktur kurikulum yang berlaku
     3. Tidak menambah alokasi waktu yang tersedia
     4. Materi yang dikembangkan kontekstual dan faktual
     5. Nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender dapat diintegrasikan atau dirumuskan
          kedalam indikator atau kegiatan pembelajaran

B. Nilai-nilai Kesetaraan Gender yang dapat diintegrasikan dalam KTSP, antara
   lain :
    1. Persamaan hak laki-laki dan perempuan
    2. Perbedaan fisik laki-laki dan perempuan
    3. Partisipasi laki-laki dan perempuan
    4. Keadilan bagi laki-laki dan perempuan
    5. Kerjasama laki-laki dan perempuan
    6. Kesetaraan laki-laki dan perempuan
    7. Menghargai Kemajemukan
    8. Demokrasi

     Nilai-nilai kesetaraan gender tersebut di atas dapat diintegrasikan dalam kuri-kulum, dan
     dapat disebarkan pada berbagai mata pelajaran

23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                               14
C. Langkah-langkah Pengembangan

     1. Merumuskan : Visi, Misi, Tujuan Sekolah, dan Pengembangan Diri yang menceramin-
        kan KTSP berbasis kesetaraan gender.
     2. Mengkaji SK-KD pada standar isi yang dapat diintegrasikan oleh nilai-nilai kesetaraan
        gender dari masing-masing mata pelajaran
     3. Mengintegrasikan nilai-nilai tersebut kedalam indikator dan/atau kegiatan pembelajaran
        pada silabus dan RPP




23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                         15
                                  BAB. IV
               PELAKSANAAN DAN IMPLIKASI PENGEMBANGAN MODEL


A. Pelaksanaan
   Pelaksanaan pengembangan model dimulai dengan menyusun perencanaan dengan
   mengakomodir konsep-konsep kesetaraan gender yang akan di rumuskan kedalam
   penyusunan silabus dan RPP.
   Nilai-nilai kesetaraan gender dapat dijabarkan kedalam materi, metode, media, sumber
   belajar, bahan ajar, dan evaluasi dengan pendekatan individu/kelompok/klasikal

B. Implikasi
   Implikasi dari pengembangan model ini memiliki konsekuensi bagi Pemerintah dan
   Sekolah. Pemerintah perlu menyiapkan anggaran untuk pengembangan tenaga pendidik
   dalam bentuk pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan Gender serta menyusun buku
   panduan, bahan ajar yang berisikan konsep gender. Sekolah perlu menyiapkan tenaga
   pendidik yang memiliki kemampuan mengajar dan melaksanakan kegiatan mengajar
   yang mengintegrasikan nilai-nilai kesetaraan gender .




23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                  16
Contoh Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender                                 Jenjang
Pendidikan Menengah

Contoh: Kesetaraan Gender dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk
Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA)

A. Latar Belakang

     Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan
     kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT
     dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi
     pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun
     sosial. Tuntutan visi ini mendorong dikembangkannya standar kompetesi sesuai dengan
     jenjang persekolahan yang secara nasional ditandai dengan ciri-ciri:

     1. lebih menitik beratkan pencapaian kompetensi secata utuh selain penguasaaan materi;
     2. mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia;

     3. memberiklan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk
        mengembangkan strategi dan program pembelajaran seauai dengan kebutuhan dan
        ketersedian sumber daya pendidikan.

B. Tujuan

     Pendidikan Agama Islam di SMA/MA bertujuan untuk:

     1. menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan
        pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik
        tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang
        keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT;
     2. mewujudkan manuasia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu
        manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis,
        berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial
        serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.

C. Ruang Lingkup

     Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
     1. Al-Qur’an dan Hadits
     2. Aqidah
     3. Akhlak
     4. Fiqih
     5. Tarikh dan Kebudayaan Islam

     Pendidikan Agama Islam menekankan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian antara
     hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesama manusia,
     hubungan manusia dengan diri sendiri dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya.




23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                         17
  Islam menempatkan posisi perempuan yang sama posisi laki-laki, antara lain:
  1. Dari hakikat kemanusiaan, Islam memberi sejumlah hak yang sama kepada perempuan
      dalam rangka peningkatan kualitas kemanusiaannya. Hak tersebut antara lain waris (QS.
      An Nisa/ 4:11), persaksian (QS. Al.Baqarah/ 2:282), aqiqah (QS. At- Taubah/ 9:21)
  2. Islam mengajarkan bahwa baik perempuan maupun laki-laki mendapat pahala yang sama
      atas amal saleh yang dibuatnya. Sebaliknya laki-laki dan permpuan memperoleh azab
      yang sama atas pelanggaran yang diperbuatnya
  3. Islam tidak mentolerir adanya perbedaan dan perlakuan tidak adil antara umat manusia
      (QS.Al-Hujurat/49:21)

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kelas X, Semester 1


       Standar Kompetensi                                          Kompetensi Dasar

Al-Qur’an
1. Memahami ayat-ayat Al-                    1.1 Membaca QS Al-Baqarah; 30, Al-Mukminun; 12-14,
   Qur’an tentang manusia dan                    Az-Zariyat; 56 dan An Nahl : 78
   tugasnya sebagai khalifah di
                                             1.2 Menyebutkan arti QS Al-Baqarah; 30, Al-Mukminun;
   bumi.
                                                 12-14, Az-Zariyat; 56 dan An Nahl : 78.
                                             1.3 Menampilkan perilaku sebagai khalifah di bumi seperti
                                                 terkandung dalam QS Al-Baqarah;30, Al-Mukminun;
                                                 12-14, Az-Zariyat; 56 dan An Nahl : 78.
2. Memahami ayat-ayat Al-
   Qur’an tentang keikhlasan
                                             2.1 Membaca QS Al An’am; 162-163 dan Al-Bayyinah; 5.
   dalam beribadah.
                                             2.2 Menyebutkan arti QS Al An’am;162-163 dan Al-
                                                 Bayyinah; 5.
                                             2.3 Menampilkan perilaku ikhlas dalam beribadah seperti
                                                 terkandung dalam QS Al An’am;162-163 dan Al-
                                                 Bayyinah; 5.
                                                      Perempuan maupun laki-laki mendapat pahala yang
                                                     sama atas amal saleh yang dibuatnya
Aqidah
3. Meningkatkan keimanan                     3.1 Menyebutkan 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.
   kepada Allah melalui
                                             3.2 Menjelaskan arti 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.
   pemahaman sifat-sifatNya
   dalam Asmaul Husna                        3.3 Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan
                                                 terhadap 10 sifat Allah dalam Asmaul Husna.




23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                                  18
        Standar Kompetensi                                      Kompetensi Dasar

Akhlak
4.    Membiasakan perilaku                   4.1 Menyebutkan pengertian perilaku husnuzhan.
      terpuji
                                             4.2 Menyebutkan contoh-contoh perilaku husnuzhan
                                                 terhadap Allah, diri sendiri dan sesama manusia.
                                             4.3 Membiasakan perilaku husnuzhan dalam kehidupan
                                                 sehari-hari.
Fiqih
5.    Memahami sumber hukum                  5.1 Menyebutkan pengertian kedudukan dan fungsi Al-
      Islam, hukum taklifi, dan                  Qur’an, Al-Hadits, dan Ijtihad sebagai sumber hukum
      hikmah ibadah.                             Islam
                                             5.2 Menjelaskan pengertian, kedudukan dan fungsi
                                                 hukum taklifi dalam hukum Islam
                                             5.3 Menerapkan hukum taklifi dalam kehidupan sehari-
                                                 hari.

Tarikh dan Kebudayaan Islam
6.    Memahami keteladanan                   6.1 Menceritakan sejarah dakwah Rasullah SAW periode
      Rasulullah dalam membina                   Makkah.
      umat periode Makkah.
                                             6.2 Mendeskripsikan substansi dan strategi dakwah
                                                 Rasullullah SAW periode Makkah


Kelas X, Semester 2
      Standar Kompetensi                                       Kompetensi Dasar

Al Qur’an
7.    Memahami ayat-ayat Al-                 7.1 Membaca QS Ali Imran; 159 dan QS Asy Syura;
      Qur’an tentang                             38.
      Demokrasi
                                             7.2 Menyebutkan arti QS Ali Imran 159 dan QS Asy
                                                 Syura; 38.
                                             7.3 Menampilkan perilaku hidup demokrasi seperti
                                                 terkandung dalam QS Ali Imran 159, dan QS
                                                 Asy Syura; 38 dalam kehidupan sehari-hari.
                                              Perempuan juga dapat ikut serta dalam demokrasi dilihat
                                                  hak politik perempuan
Aqidah
8.    Meningkatkan keimanan                  8.1 Menjelaskan tanda-tanda beriman kepada
      kepada Malaikat.                           malaikat.
                                             8.2 Menampilkan contoh-contoh perilaku beriman
                                                 kepada malaikat.
                                             8.3 Menampilkan perilaku sebagai cerminan
                                                 beriman kepada malaikat dalam kehidupan
                                                 sehari-hari.


23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                                  19
Standar Kompetensi                            Kompetensi Dasar
Akhlak
9.    Membiasakan perilaku                    9.1 Menjelaskan pengertian adab dalam
      terpuji bagi laki-laki dan                  berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu, dan
      perempuan muslim                            atau menerima tamu.
                                              9.2 Menampilkan contoh-contoh adab dalam
                                                  berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu atau
                                                  menerima tamu.
                                              9.3 Mempraktikkan adab dalam berpakaian,
                                                  berhias, perjalanan, bertamu dan atau
                                                  menerima tamu dalam kehidupan sehari-hari.
10. Menghindari Perilaku                      10.1 Menjelaskan pengertian hasad, riya, aniaya dan
    Tercela                                        diskriminasi
                                              10.2 Menyebutkan contoh perilaku hasad, riya,
                                                   aniaya dan diskriminasi
                                              10.3 Menghindari hasad, riya, aniaya dan
                                                   diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari

Fiqih
11. Memahami hukum Islam                      11.1   Menjelaskan perundang-undangan tentang
     tentang zakat, haji dan                         pengelolaan zakat, haji dan waqaf.
     wakaf.
                                              11.2   Menyebutkan contoh-contoh pengelolaan
                                                     zakat, haji dan wakaf.
                                              11.3   Menerapkan ketentuan perundang-undangan
                                                     tentang pengelolaan zakat, haji dan wakaf.

Tarikh dan Kebudayaan Islam
12. Memahami keteladanan     12.1                    Menceritakan sejarah dakwah Rasullah SAW
    Rasulullah dalam membina                         periode Madinah.
    umat periode Madinah.
                             12.2                    Mendeskripsikan strategi dakwah Rasullullah
                                                     SAW periode Madinah.




23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                                                20
                                                 Daftar Pustaka

Asosiasi Pengajar dan Peminat Hukum Berperspektif Gender se Indonesia. Modul
Hukum dan Gender, Jakarta, 2006

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita

Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan, Modul, Jakarta, 2001

Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 Tentang
Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


Undang-Undang Nomor 7 tahun 1984 Tentang Pengesahan Konvensi Mengenai
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita.

Konvensi Anak

Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutaman Gender dalam
Pembangunan Nasional.
Lain-lain menyusul..........




23/Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender2007                          21

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:810
posted:1/27/2011
language:Indonesian
pages:23