Docstoc

Pendidikan - DOC - DOC

Document Sample
Pendidikan - DOC - DOC Powered By Docstoc
					  IMPLEMENTASI KONSEP DEMING, JURAN DAN CROSBY DALAM
                PENDIDIKAN DI INDONESIA
                                           (Dave J. Rupilu)

Pendahuluan :

Edwards Deming, Joseph M. Juran dan Philip B. Crosby dikenal sebagai tokoh mutu. Mereka memiliki
kreatifitas dalam mengembangkan pemikiran dan pengalaman mereka untuk meningkatkan mutu, baik
dalam bidang industri barang maupun dalam bidang industri jasa. Tidak terkecuali dalam bidang
pendidikan, berbagai konsep mereka tentang mutu dapat diterjemahkan atau diaplikasikan dalam dan oleh
lembaga-lembaga pendidikan dalam upaya meningkatkan kualitas in put, out put dan out come dari
lembaga pendidikan itu sendiri.

Dalam rangka memenuhi salah satu tugas akhir mata kuliah Manajemen Mutu Terpadu pada program
pascasarjana kerjasama Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Negeri Manado, jurusan Manajemen
Pendidikan, maka dalam tulisan ini dipaparkan aplikasi atau implementasi konsep mutu dari Deming,
Juran dan Crosby dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Pembahasan :

A. W. Edwards Deming
   Edwads Deming memiliki 14 prinsip (14 prinsip Deming), yaitu :
   1. Tujuan yang konstan (kebulatan tekad) meningkatkan produk.
      Tujuan dari prinsip pemikiran Deming ini adalah sebagai upaya untuk mempertahankan dan
      mengembangkan mutu yang kompetitif atau memiliki daya saing yang kuat. Mutu yang
      kompetitif secara langsung dan tidak langsung membuka kemungkinan lapangan pekerjaan yang
      lebih luas bagi masyarakat.
      Jika konsep ini diterapkan dalam dunia pendidikan, maka yang diharapkan adalah setiap sekolah
      pada berbagai jenjang (SD-PT) mesti menetapkan tujuan yang jelas, tepat dan realistis, baik pada
      jangka pendek maupun jangka panjang. Tujuan yang dimaksudkan disini adalah yang berorientasi
      pada kualitas atau mutu proses pendidikan dan out put (lulusan) yang memiliki kualifikasi
      kompetitif dalam duni kerja di tengah masyarakat. Lulusan yang bermutu dari lembaga
      pendidikan dapat diterima dan dipakai oleh masyarakat dan atau stake holders yang lain. Harapan
      ideal ini dapat dicapai jika setiap lembaga pendidikan memiliki visi masa depan yang jelas, dan
      memiliki implementasi misi yang realistis.
   2. Adopsi filsafat yang baru.
      Dasar pemikiran Deming dengan prinsipnya yang kedua ini adalah dunia usaha (bisnis dan
      perusahaan) tidak boleh kaku dengan strategi manajemen yang sudah using atau kadaluarsa, alias
      ketinggalan zaman. Keterbukaan untuk belajar dan memakai metide-metode baru dalam
      organisasi untuk meningkatkan mutu produk adalah hal yang wajar dan bahkan harus dilakukan.
      Dalam lingkup pendidikan, prinsip Deming ini juga dapat diterapkan dengan dasar pemahaman
      bahwa ilmu selalu berkembang. Setiap ilmu selalu diuji keuletan dan kebenarannya dengan
      ditemukannya konsep-konsep ilmu yang baru. Karena itu, setiap lembaga pendidikan sebagai
      media belajar harus menyadari bahwa perubahan, pembaharuan dan pengembangan kurikulum
      yang lebih bermutu merupakan hal yang mutlak diberlakukan. Studi banding dengan lembaga-

                                                                                                    1
   lembaga pendidikan yang setara atau diatasnya sedapat mungkin mesti dilakukan dalam rangka
   saling belajar, baik tentang isi maupun kemasan pengembangan mutu pendidikan. Mengadopsi isi
   dan kemasan (strategi pendidikan) yang dipakai oleh sekolah atau lembaga pendidikan yang lebih
   berkualitas merupakan hal yang tidak memalukan, bahkan merupakan keharusan sebagai upaya
   penyebaran kualitas atau mutu pendidikan secara berkeadilan bagi semua anak bangsa….kenapa
   harus malu mengadopsi strategi pendidikan yang dimiliki oleh lembaga pendidikan lain….tidak
   ada yang salah….yang salah adalah tidak mau belajar dari orang lain (lembaga pendidikan lain)
   dalam kondisi diri kita atau lembaga pendidikan kita sendiri carut marut dan sangat tertinggal.
   Mengadopsi filsafat baru juga mesti disesuaikan dengan perkembangan zaman dan peradaban
   sehingga kualitas/mutu pendidikan selalu up date.
3. Menghentikan ketergantungan pada inspeksi.
   Budaya klasik yang membius kebanyakan organisasi adalah kesetiaan pinjaman, alias kesetiaan
   yang tidak konsisten. Dalam perusahaan bisnis, motivasi kerja karyawan dan hasil produk „baik‟
   selalu terpergantung pada pengawasan manajer atau pimpinan. Artinya, kalau manajer selalu
   awasi maka karyawan dapat bekerja dengan baik, tetapi jika manajer tidak ada maka kerja
   karyawan asal-asalan. Dengan demikian, motivasi kerja karyawan dan kualitas hasil produk
   sangat ditentukan oleh aktivitas inspeksi yang dilakukan manajer atau pimpinan.
   Dalam dunia pendidikan, jika tradisi seperti digambarkan di atas terjadi terus menerus, maka
   komitmen dan profesionalitas guru serta kualitas proses pendidikan dan lulusan tidak baik.
   Dengan kata lain, komitmen pelayanan dan profesinalisme guru jangan ditunjukkan pada saat
   diinspeksi oleh kepala sekolah dan atau pejabat dari DIKOR. Demikian halnya dengan kepala
   sekolah, jangan taat dan disiplin dalam mengelola pendidikan hanya ketika diinspeksi oleh
   pejabat dari kabupaten/kota (KADIKOR).
   Ketergantungan kepada inspeksi dapat menyebabkan pembengkakan biaya yang luar biasa.
   Dengan demikian, semua tenaga kependidikan di sekolah (kepala sekolah, guru, tenaga
   administrasi, petugas laboratorium dan perpustakaan, dll) harus memahami bahwa melakukan
   pekerjaan secara maksimal dan penuh rasa tanggung jawab adalah panggilan hidup yang
   berangkat dari hati dan iman masing-masing, bukan dari luar dirinya.
4. Hentikan praktek menghargai bisnis berdasarkan harga.
   Orientasi keuntungan dalam organisasi bisnis adalah hal yang wajar dan selalu dikejar untuk
   dimiliki oleh organisasi. Biasanya, yang memenangkan tender adalah perusahan yang
   menawarkan harga yang rendah.
   Dalam dunia pendidikan yang “bukan organisasi nirlaba” jika prinsip ekonomi yang dipakai maka
   secara tanpa sadar hendak mengesampingkan nilai dari kualitas atau mutu yang harus
   dipertahankan. Dengan demikian, dalam dunia pendidikan, setiap lembaga pendidikan tidak boleh
   terjebak pada tawaran harga yang murah tetapi harus fokus pada kualitas mutu produk (proses
   dan out put). Kualitas yang penting. Benar bahwa untuk memperoleh mutu pendidikan yang di
   atas standar (minimal) membutuhkan biaya, tetapi adalah lebih baik berorientasi pada mutu
   pendidikan yang berkualitas dengan harga (biaya) yang kecil, atau minimal mutu pendidikan
   yang baik dan kompetitif dengan harga (biaya) pendidikan yang seimbang; ketimbang harga
   (biaya) tinggi (menang label), tetapi mutu proses dan out put yang tidak berkualitas, atau minimal
   sama dengan lembaga pendidikan yang lain. Dapat saya simpulkan bahwa mestinya nilai jual
   lembaga pendidikan yang ditawarkan adalah kualitas mutu (proses dan out put), bukan



                                                                                                   2
   kemegahan material yang dipakai oleh lembaga pendidikan tersebut. Ibarat bangunan yang
   ditender dengan harga murah, tetapi kualitas bangunan tidak kuat karena dibangun asal-asalan.
5. Secara tetap meningkatkan mutu produk.
   Dalam organisasi bisnis, kepekaan perusahaan terhadap dunia saing merupakan entri point untuk
   mengembangkan hasil dan kualitas produk. Hal ini dilakukan secara terus menerus untuk
   menghindari kebosanan dan pengalihan pelanggang ke hasil produk lawan bisnis.
   Dalam lingkup pendidikan, perbaikan secara terus menerus terhadap berbagai kendala dalam
   proses pendidikan dan peningkatan kualitas lulusan yang up to date harus dilakukan oleh pelaku
   pendidikan di sekolah. Tidak boleh berpuas diri dengan apa yang sudah dicapai, tetapi selalu
   terdorong untuk melakukan perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan menjadi lebih baik dari
   yang ada. Mutu pendidikan yang harus ditingkatkan, bukan aspek monumental yang lebih
   diutamakan….sarana dan prasarana penting untuk menopang kokohnya kualitas mutu pendidikan
   yang sudah, sementara dan terus dicapai. Semua aspek material dan non material yang dimiliki
   oleh lembaga pendidikan harus dikerahkan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara terus
   menerus. Mutu pendidikan harus berada pada garis grafik me-naik, bukan konstan, apalagi me-
   nurun. Lebih baik naik secara perlahan, ketimbang mati suri dan atau mati total.
6. Lembagakan pelatihan kerja.
   Pendidikan dan pelatihan merupakan satu kesatuan yang utuh. Dalam dunia bisnis, pelatihan bagi
   karyawan adalah proses pendewasaan pengalaman kerja untuk meningkatkan motivasi dan hasil
   produksi perusahaan atau organisasi.
   Dalam lingkup pendidikan, pelatihan merupakan media pembelajaran yang berhubungan
   langsung dengan lapangan pekerjaan yang sementara dan akan dimasuki oleh peserta belajar.
   Setiap lembaga pendidikan harus memiliki laboratorium peningkatan wawasan dan pengalaman
   (praktek) lapangan, sehingga pengetahuan akademik yang diperoleh lewat proses pembelajaran di
   kelas dapat dikolaborasi dengan pengalaman langsung di lapangan. Setiap balai pelatihan harus
   dilembagakan sehingga memiliki dasar hukum yang jelas dan dapat dikembangkan sesuai jenis
   dan kebutuhan pelatihan yang terlembaga.
   Lembaga pelatihan harus dimiliki oleh lembaga pendidikan kejuruan, seperti SMK dan
   Politeknik. Pada lembaga pendidikan seperti ini, justru disarankan untuk 80% alokasi waktu yang
   disediakan untuk proses pembelajaran dapat dipakai di lapangan, alias praktek langsung di
   lapangan.
   Di dalam lingkup pendidikan, bukan hanya para siswa yang dianjurkan untuk memasuki ruang
   praktek secara langsung, tetapi para guru dan kepala sekolah serta tenaga kependidikan yang lain
   juga harus diikutsertakan mengikuti pelatihan „khusus‟ yang berhubungan dengan jenis pekerjaan
   yang sementara dan akan dilakukan di sekolah. Karena itu, pemerintah dan sekolah atau
   Perguruan Tinggi harus memiliki lembaga pelatihan yang memadai untuk peningkatan kualitas
   mutu (proses dan out put) pendidikan. Pelatihan merupakan alat atau media yang paling ampuh
   untuk meningkatkan kualitas/mutu.
7. Lembagakan kepemimpinan.
   Jika diimplementasikan dalam dunia pendidikan, maka penekanan lebih pada peran kepala
   sekolah. Dalam hal ini, di lingkup pendidikan, tugas kepala sekolah mestinya tidak lebih banyak
   ditekankan pada aspek pengawasan terhadap kinerja para guru, melainkan pada manajemen
   kepemimpinan yang bersahabat dengan para guru untuk mengorganisir proses pendidikan di
   sekolah sehingga dapat menghasilkan kualitas out put yang bermutu dan diterima oleh stake

                                                                                                 3
    holders. Artinya, kepala sekolah bukan pengawas, tetapi manajer atau pemimpin yang
    membimbing dan mampu melakukan perubahan untuk meningkatkan mutu pendidikan di
    sekolah. Demikian halnya dengan guru, ia bukan pengawas bagi para murid, tetapi pemimpin dan
    teman dialog bagi para murid.
8. Hilangkan ketakutan.
    Hal ini dimaksudkan oleh Deming sebagai upaya untuk member ruang dan suasana yang nyaman
    bagi karyawan untuk melakukan fungsinya secara baik dan efektif, yang akhirnya dapat
    menghasilkan kualitas proses dan hasil produksi yang bermutu.
    Dalam lingkup pendidikan, suasana sekolah yang nyaman dapat menciptakan suasana belajar
    yang nyaman dan efektif. Dengan suasana sekolah dan suasana belajar yang nyaman akan dapat
    meningkatkan semangat belajar murid, yang sekaligus meningkatkan kualitas atau mutu
    pendidikan di sekolah dan meningkatkan pengetahuan murid sendiri. Suasana sekolah dan
    suasana belajar yang nyaman, bukan hanya untuk kepentingan murid, tetapi juga untuk
    kenyamanan dan meningkatkan motivasi kerja (pelayanan) dari semua tenaga kependidikan di
    sekolah.
9. Singkirkan sekat penghalang departemen.
    Semua organisasi memiliki bagian dan sub bagian yang berbeda satu dengan yang lain, tetapi
    pada prinsipnya semua bagian bergerak menuju tujuan pencapaian visi dan misi organisasi yang
    telah disepakati. Semua bagian (termasuk unit yang paling kecil) tetap penting bagi organisasi.
    Karena itu berpikir dan bekerja secara sistemik merupakan hal yang mutlak bagi organisasi.
    Dalam lingkup pendidikan, juga terdapat berbagai komponen atau bagian, baik pada posisi
    struktural maupun pada posisi yang sejajar. Dalam mengorganisir berbagai aktivitas pendidikan
    di sekolah, maka semua komponen harus difungsikan secara seimbang sesuai peran masing-
    masing. Semua bagian (termasuk yang terkecil…mungkin, seorang cleaning service) juga harus
    dihargai sebagai bagian yang penting di sekolah.
    Keberhasilan pendidikan di sekolah bukan ditentukan oleh seberapa penting dan besar peran satu
    bagian (mis, guru saja), melainkan ditentukan oleh semua komponen yang berada dalam sistem.
    Karena itu, sekat-sekat struktural dalam organisasi pendidikan tidak mesti dijadikan sebagai
    alasan untuk mengelak dari suatu masalah yang terjadi di sekolah. Sekat antara berbagai bagian
    tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk saling menyalahkan tetapi mestinya dipakai sebagai
    media untuk menata kerja tiap bagian sesuai fungsi dan perannya masing-masing….biasanya,
    terjadi kesombongan dan atau egoisme pada bagian tertentu karena merasa bagiannya yang lebih
    penting. Dalam organisasi pendidikan, pandangan seperti ini harus dihindari. Karena semua
    bagian sama penting menurut fungsi dan perannya masing-masing.
10. Hilangkan slogan yang sukar dicapai (harus realistis).
    Dalam lingkup pendidikan, prinsip Deming yang ke 10 ini „mungkin‟ lebih disasarkan dan
    disarankan kepada pimpinan sekolah yang terlalu idealis dan tidak realistis dan rasional dalam
    netapkan visi dan misi sekolah yang dipimpinnya. Visi dan misi yang menjadi tujuan jangka
    panjang yang akan dicapai oleh sekolah dalam kurun waktu lebih dari 5 tahun ke depan, jika
    dirumuskan oleh kepala sekolah tanpa analisis yang obyektif terhadap fakta lapangan dan
    tantangan konteks akan berdampak pada nihilisme absolute. Alias, tidak tercapai karena terlalu
    sulit dan tidak bisa diukur secara obyektif. Karena itu, kepala sekolah dan berbagai tenaga
    kependidikan di sekolah harus merumuskan visi dan misi sekolah yang realistis sehingga dapat
    dicapai dan diukur secara baik dan obyektif.

                                                                                                 4
11. Hapus standard kerja berdasarkan numerik (tiadakan tujuan kuantitatif).
    Prinsip Deming ini lebih diarahkan pada upaya untuk meningkatkan kualitas ketimbang kuantitas
    hasil produksi….bukan jumlah yang ditekankan melainkan mutu. Lebih baik sedikit tetapi
    bermutu, ketimbang banyak tetapi tidak bermutu.
    Dalam dunia pendidikan, hal ini sering terjadi pada gelombang dasyat penerimaan siswa dan atau
    mahasiswa yang terlampau banyak, tanpa memperhitungkan kapasitas sarana dan prasarana
    pendidikan yang dimiliki. Setiap lembaga pendidikan juga mesti memperhitungkan pangsa pasar
    yang terbuka untuk menerima out put yang siap kerja. Karena itu, penerimaan siswa dan atau
    mahasiswa meskipun sedikit tetapi memiliki kualitas atau mutu proses dan out put yang bermutu
    pula. Tekanan pada kepuasan pelanggan (stake holders) bukan dipenuhi dengan jumlah tenaga
    kerja yang dipakai, tetapi kualitas dan kapasitas keahlian atau profesionalitas tenaga kerja yang
    dimiliki. Karena itu, lembaga pendidikan yang berorientasi untuk mempersiapkan tenaga kerja
    harus mempertimbangkan jumlah penerimaan dan lulusannya. Fakta menunjukkan bahwa banyak
    Perguruan Tinggi juga mengejar jumlah kelulusan yang banyak tanpa pertimbangan obyektif
    terhadap kelulusan yang dihasilkannya….ujian-ujian skripsi dilakukan layaknya kejar tayang
    sehingga walaupun skripsi kacau balau asalkan bisa ujian untuk mengejar jumlah mahasiswa
    yang akan diwisudahkan.
12. Hilangkan penghalang bagi rasa kebanggaan atas kemampuan karyawan.
    Prinsip Deming yang ke 12 ini lebih dimaksudkan untuk melihat organisasi sebagai suatu
    keutuhan sistem yang tidak terpisahkan satu bagian dengan bagian yang lainnya. Penghargaan
    yang diberikan kepada salah satu bagian yang berhasil, harus dimengerti sebagai usaha bersama
    semua bagian dalam sistem oragnisasi tersebut.
    Di lingkungan pendidikan, hal ini juga bisa dilakukan. Artinya, keberhasilan kepala sekolah yang
    memungkinkannya memperoleh penghargaan, mestinya tidak dipahami sebagai kemampuan
    kepala sekolah an sich, melainkan karena kerja sama yang baik dari semua komponen dalam
    sistem (di sekolah). Penghargaan kepada seseorang di sekolah „tertentu‟ tidak boleh
    membangkitkan egosentrisme pribadi yang menerima penghargaan tersebut, melainkan
    membangkitkan motivasi pada yang lain untuk berusaha memperoleh penghargaan yang
    sama….apa lah artinya suatu penghargaan yang tidak membangkitkan semangat kerja dalam
    sistem dan melahirkan kebencian dan atau kesombongan individual….ada baiknya, penghargaan
    kepada seseorang dialihkan kepada penghargaan kepada semua orang dalam satu sistem sekolah
    yang utuh dalam rangka membangkitkan motivasi bersama sehingga mutu pendidikan di sekolah
    dapat dipertahankan dan ditingkatkan.
13. Lembagakan suatu program yang menarik.
    Dalam organisasi pendidikan, pendidikan dan pelatihan merupakan cara yang paling efektif untuk
    meningkatkan mutu pendidikan. Karena itu bentuk-bentuk pendidikan dan pelatihan yang
    dilakukan, baik oleh pemerintah maupun oleh sekolah sendiri, ada baiknya semua komponen
    tenaga kependidikan di sekolah dilibatkan secara langsung untuk menambah wawasan dan
    pengalaman bagi pengembangan motivasi dan layanan yang lebih baik. Dengan demikian, mutu
    pendidikan dapat ditingkatkan.
14. Kerahkan setiap individu.
    Dalam perusahaan bisnis, salah satu komponen kecil (yang hanya mungkin ditangani oleh satu
    orang) sangat penting untuk menopang jalannya roda perusahaan dalam meningkatkan
    kualitas/mutu produksi.

                                                                                                   5
       Dalam lingkup pendidikan, setiap individu dalam sistem memiliki fungsi yang berbeda-beda
       tetapi bergerak ke tujuan yang sama, yakni mencapai dan atau meningkatkan mutu kerja dan hasil
       kerja yang dilakukan masing-masing. Semua orang harus terlibat secara aktif sesuai fungsi dari
       keberadaannya di sekolah. Tidak ada satu lembaga pendidikan sekolah tanpa guru atau siswa.
       Guru yang profesional selalu melayani dengan penuh ketulusan untuk meningkatkan pendidikan
       di sekolah; siswa yang belajar dengan rajin, dapat juga meningkatkan kualitas pendidikan di
       sekolah; dst….dengan demikian, setiap orang atau setiap bagian harus dikerahkan untuk
       melakukan fungsinya masing-masing dalam rangka mencapai tujuan lembaga yang telah
       dirumuskan dan disepakati secara bersama-sama. Masing-masing individu mestinya konsisten
       pada pekerjaannya, tidak perlu tumpan tindih dalam bekerja, sehingga setiap individu dapat
       menghasilkan suatu produk yang bermutu. Profesionalitas seseorang juga sangat ditentukan oleh
       kesempatan yang diberikan kepadanya untuk mengembangkan diri dan melakukan pekerjaannya
       secara konsisten dan efektif. Masing-masing individu bekerja sesuai bidangnya, tetapi tidak bisa
       dipisahkan dari bagian yang lain karena sekolah adalah satu komponen sistem yang
       utuh/terpadu….tegasnya, masing-masing individu harus bekerja secara maksimal untuk
       mempertahankan dan meningkatkan mutu proses dan mutu out put lembaga.-
B. Joseph M. Juran
   Juran memiliki dan merumuskan 3 pendekatan yang dikenal dengan istilah Trilogy Juran, yaitu :
   Quality Planning, Quality Control, dan Quality Improvement.
   Juran memiliki konsep yang dalam tentang pendekatan yang sistematik bagi suatu program
   peningkatan mutu luas bagi perusahaan yang dapat diterapkan dalam lembaga pendidikan, antara lain
   : Identifikasi tujuan dan kebijakan untuk pengembangan mutu; Implementasi rencana-rencana yang
   obyektif untuk mencapai tujuan yang ditetapkan; Menyiapkan sumber daya manusia untuk
   mengevaluasi kemajuan yang telah dicapai; dan Memastikan bahwa motivasi sesuai dengan tujuan
   atau visi dan misi organisasi.
   Terhadap upaya pengembangan dan perbaikan mutu, Juran memiliki atau merumuskan 10 langkah,
   antara lain :
   1. Ciptakan kesadaran tentang kebutuhan dan kesempatan untuk perbaikan mutu.
       Lang kah yang ditawarkan oleh Juran ini jika diterapkan dalam dunia pendidikan, maka perbaikan
       mutu pendidikan, baik dalam proses maupun lulusan, harus didahului dengan cara
       mengidentifikasi kebutuhan utama sekolah/PT yang dapat dipakai sebagai acuan bagi perbaikan
       mutu secara berkelanjutan. Selain mengidentifikasi kebutuhan utama, juga dipertimbangkan
       secara matang bagaimana memanfaatkan kesempatan atau peluang yang lebih tepat untuk
       melakukan perbaikan sehingga tidak terbentur dengan hambatan-hambatan prinsipil dan teknis
       yang merugikan. Dengan kata lain, lembaga pendidikan harus fokus pada kebutuhan utama dan
       pemanfaatan peluang untuk melakukan perbaikan mutu pendidikan di sekolah/PT.
   2. Menetapkan tujuan secara eksplisit untuk perbaikan mutu.
       Langkah Juran ini dimaksudkan agar transparansi dalam merumuskan dan menetapkan tujuan
       yang akan dicapai bersama. Artinya, penetapan tujuan harus diketahui oleh semua komponen
       dalam organisasi pendidikan, sehingga dapat dijadikan sebagai sumber motivasi dalam
       pelaksanaan tugas dari setiap komponen. Selain menjadi sumber motivasi, tujuan yang
       dirumuskan, ditetapkan dan diketahui oleh semua komponen disadari merupakan arah ke mana
       (kompas) sasaran yang hendak dituju. Tentu, perbaikan dan peningkatan mutu merupakan goal
       dari semua tujuan yang dirumuskan, ditetapkan dan diketahu bersama.

                                                                                                     6
3. Ciptakan suatu struktur organisasi untuk menjalankan proses perbaikan mutu.
   Jika konsep ini hendak diterapkan dalam dunia pendidikan, maka dapat saya katakana bahwa
   yang dimaksudkan dengan struktur organisasi di sini bukan semata-mata terkait dengan posisi dan
   jebatan melainan pada struktur kerja yang diatur secara sistematis. Hal ini dimaksudkan agar
   tidak terjadi tumpan tindih dalam pekerjaan, atau monopoli dan manipulasi pekerjaan yang tidak
   proporsial. Semua komponen telah memiliki job description yang telah diatur sesuai mekanisme
   kerja organisasi sekolah/PT. Karena itu mesti dihindari kewenangan structural yang berlebihan
   dari staf pimpinan yang menyebabkan krisis kepercayaan diri dalam bekerja oleh bawahan.
   Pembagian peran dan konsistensi terhadap peran masing-masing komponen sekolah/PT
   merupakan modal yang penting bagi perbaikan mutu pendidikan secara efektif.
4. Siapkan pelatihan yang sesuai untuk perbaikan mutu.
   Langkah yang dikonsepkan oleh Juran ini, jika diterapkan dalam lingkup pendidikan, maka dapat
   dikatakan bahwa pendidikan dan pengetahuan secara akademis tentu dimiliki oleh semua
   komponen tenaga kependidikan, teristimewa guru dan kepala sekolah. Namun, harus diakui
   bahwa pengetahuan akademik (kognitif) tanpa dipadukan dengan pengalaman lapangan yang
   baik, semua pengetahuan itu akan sia-sia. Karena itu, pelatihan adalah sarana yang paling efektif
   untuk mengasah pengetahuan yang dimiliki oleh semua komponen tenaga kependidikan di
   sekolah/PT. pelatihan yang dimaksudkan di sini adalah pelatihan yang terfokus pada jenis
   pekerjaan yang dilakukan oleh masing-masing komponen. Pelatihan yang terfokus pada
   pekerjaan yang sementara dilakukan akan menambah motivasi dan profesionalitas tenaga
   kerja/kependidikan yang dipakai di sekolah/PT. Pelatihan yang dilakukan secara terus menerus
   atau secara berkala sangat membantu dalam mengevaluasi pekerjaan yang sudah dilakukan dan
   sekaligus memperbaiki membangkitkan semangat untuk melakukan perbaikan mutu secara
   berkelanjutan.
5. Mengadopsi suatu perencanaan proyek untuk pemecahan masalah.
   Belajar dari orang lain yang lebih maju dan berhasil bukan merupakan hal yang tabu, merupakan
   suatu kewajaran. Dalam dunia pendidikan, mengadopsi konsep strategis pengembangan mutu
   sekolah/PT lain tidak ada masalahnya. Hal ini bukan persoalan gengsi atau harga diri, melainkan
   persoalan pelayanan yang maksimal dan berkeadilan. Dengan demikian mengadopsi suatu
   perencanaan proyek dalam upaya memecahkan masalah yang dihadapi oleh sekolah/PT
   dianjurkan, dan sedapat mungkin disesuaikan dengan kebutuhan sekolah/PT kita sendiri.
   Pemecahan masalah yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan di sekolah/PT dapat
   meningkatkan motivasi semua komponen sekolah/PT, yang dengan sendirinya mutu pendidikan
   dan kualitas diri peserta didik dapat ditingkatkan…perbaikan mutu untuk disesuaikan dengan
   kebutuhan pendidikan secara umum dan pendidikan di sekolah merupakan nilai tawar yang dapat
   menarik animo masyarakat terhadap proses dan out put sekolah/PT tersebut.
   Sekolah/PT tidak boleh kaku dalam menggunakan „hanya‟ satu strategi perbaikan mutu. Harus
   menggunakan beberapa metode dan strategi, karena itu belajar dan atau mengadopsi strategi
   perbaikan mutu dari organisasi umum dan organisasi pendidikan lain merupakan hal yang wajar
   dilakukan.
6. Identifikasi dan laporkan kemajuan yang telah dicapai.
   Setiap upaya perbaikan mutu yang telah dilakukan harus dicatat atau direkam dan selanjutnya
   dilaporkan untuk dievaluasi secara terus menerus. Hal ini dilakukan atas dasar kesadaran bahwa
   mutu produk tidak berada dalam keadaan konstan, alias tidak boleh berjalan di tempat (status

                                                                                                  7
      quo). Mutu selalu dinamis dan selalu berhadapan dengan berbagai perkembangan dan perubahan
      yang terjadi dalam lingkungan. Karena itu, evaluasi terhadap capaian hasil perbaikan mutu harus
      dilakukan secara transparan sehingga membangkitkan kesadaran semua komponen pendidikan di
      sekolah/PT untuk mengawal, mengontrol dan selalu mencari modus-modus baru bagi perbaikan
      mutu secara terus menerus.
7.    Pengenalan dan penguatan sukses.
      Dalam evaluasi pendidikan di sekolah/PT, pendekatan analisis SWOT sangat penting. Ketika
      ditemukan kelemahan dan tantangan prinsipil dan teknis, maka penting untuk dipicu kekuatan
      dan peluang menjadi lebih efektif untuk mengurangi kelemahan dan tantangan tersebut.
      Penguatan terhadap kesuksesan yang telah dicapai merupakan hal yang baik. Kesuksesan harus
      diumumkan untuk diketahui oleh semua orang/komponen di sekolah/PT untuk memacu semangat
      bekerja yang lebih kuat dan baik. Kesuksesan perlu diperkuat dengan jalan perbaikan dan
      peningkatan mutu secara berkelanjutan.
8.    Komunikasikan hasil-hasil.
      Dalam dunia pendidikan, hasil-hasil yang telah dicapai oleh sekolah/PT harus dikomunikasikan
      kepada semua komponen sekolah/PT, orang tua murid dan kepada semua stake holders untuk
      diketahui dan dikawal bersama. Hasil-hasil yang telah dicapai akan dijadikan sebagai acuan bagi
      peningkatan mutu berkelanjutan. Perbaikan mutu pendidikan di sekolah/PT merupakan nilai
      tawar yang paling efektif untuk membangkitkan animo masyarakat terhadap sekolah/PT tersebut.
      Publikasi hasil-hasil yang dicapai sekolah/PT kepada public sangat kuat pengaruhnya bagi
      pengembangan pendidikan secara efektif.
9.    Menjaga dan memelihara berbagai catatan perubahan.
      Manajemen sekolah/PT yang baik juga ditentukan oleh disiplin pengawalan terhadap berbagai
      file yang terkait dengan kebutuhan, perkembangan atau kemunduran dan perubahan-perubahan
      yang telah dilakukan sekolah/PT. data-data tersebut penting sebagai alat evaluasi secara baik,
      sumber perumusan startegi pengembangan ke depan, dan alat analisis terhadap kekuatan dan
      kelemahan, peluang dan ancaman yang sudah, sementara dan akan dihadapi oleh sekolah/PT. hal
      ini penting karena, setiap evaluasi berkelanjutan selalu bergerak dalam siklus analisis yang
      sistematis.
      Data-data berupa rekaman atau catatan harus dipelihara keutuhannya sebagai data fisik yang
      memiliki dasar hukum yang kuat. Jika terjadi sesuatu hal yang berbenturan dengan hokum positif
      di negara Indonesia, maka data fisik itu merupakan alat bukti yang paling kuat dan efektif untuk
      memperlihatkan kebenaran yang sesungguhnya. Karena itu, data rekaman atau catatan tidak boleh
      hilang atau rusak.
10.   Membangun suatu siklus perbaikan tahunan dalam semua proses perubahan.
      Dari pemikiran Juran ini, jika diterapkan dalam dunia pendidikan di sekolah/PT, maka dapat
      dikatakan bahwa sekolah/PT harus memiliki desain proses analisis dan perencanaan yang
      bergerak dalam alur sirkuler yang tidak terputus. Dalam hal ini, Juran memiliki konsep dan
      langkah yang sama dengan Deming, yakni : langkah perencanaan, pelaksanaan, cek, dan
      tindakkan (PDCA).
      Semua langkah ini hanya dimaksudkan untuk meningkatkan mutu „pendidikan‟ secara
      berkelanjutan. Dalam konsep Juran, dapat diperoleh gagasan bahwa mutu ridak konstan dan tidak
      boleh ketinggalan, melainkan dinamis dan mesti dilakukan perbaikan secara terus menerus.



                                                                                                    8
C. Philip B. Crosby
   Crosby lebih memfokuskan perhatian perbaikan mutu pada apa yang diebut manajemen senior dan
   mendebatkan bahwa inti dari upaya meningkatkan profibilitas atau keuntungan adalah dengan jalan
   memulai perbaikan mutu.
   Crosby memiliki empat (4) kemutlakkan manajemen mutu, yaitu :
   1. Definisi : Mutu adalah konfirmasi bagi persyaratan customer, bukan kebalikan atau kebagusan
       instrinsik.
   2. Sistem : Prevensi bukan deteksi.
   3. Standar : Tanpa cacat.
   4. Pengukuran : Nilai dari non-konformans.

   Crosby memiliki atau menawarkan 14 langkah perbaikan mutu, yaitu :

   1. Komitmen manajemen untuk program kualitas.
      Langkah ini dapat diterapkan dalam dunia pendidikan dengan jalan mengorganisir semua aspek
      dalam manajemen (6M) untuk menciptakan program-program yang berkualitas. Semua aspek
      manajemen (6M) harus berkerja dalam keutuhan sistem yang kuat dan seluruh potensi yang ada
      konsisten pada pencapaian mutu yang stabil. Dalam kaitan dengan program kualitas, maka
      penting untuk melakukan seleksi terhadap program untuk ditetapkan skala perioritas program.
      Yang perlu diutamakan adalah program-program yang berorientasi untuk meningkatkan mutu
      pendidikan di sekolah/PT sehingga out put yang dihasilkan dapat dipakai dan atau diterima oleh
      stake holders.
   2. Membangun suatu tim peningkatan mutu atas dasar komitmen.
      Sama seperti Deming dan Juran, Crosby juga menekankan soal kerja sama tim yang solid untuk
      meningkatkan mutu. Di lingkungan sekolah/PT, pendidikan yang berkualitas atau bermutu, tidak
      bisa diupayakan oleh seseorang diri, melainkan atas dasar kerja sama. Meskipun demikian, tidak
      semua orang dalam komponen pendidikan „wajib‟ dilibatkan dalam tim. Karena itu, membentuk
      dan membangun satu tim peningkatan mutu atas dasar komitmen harus diambil dari mereka yang
      memiliki kualifikasi dan komitmen yang kuat untuk meningkatkan mutu. Tim ini harus
      dilembagakan dan dijelaskan job description masing-masing sesuai dengan acuan tujuan yang
      disepakati tim atau sekolah/PT.
   3. Pengukuran mutu.
      Pengukuran mutu dapat diterapkan di sekolah/PT dengan maksud untuk mengetahui kekuatan dan
      kelemahan, peluang dan ancaman bagi perbaikan mutu berkelanjutan. Karena itu, standar-standar
      prosedural perlu ditetapkan berdasarkan kebutuhan dan orientasi pada tujuan peningkatan dan
      atau perbaikan mutu di sekolah/PT. pengukuran mutu dimaksudkan untuk menemukan
      ketidaksesuaian atau kesesuaian standar prosedur yang ditetapkan oleh sekolah/PT. pengukuran
      mutu juga dimaksudkan untuk mencari solusi melalui tindakan-tindakan korektif untuk perbaikan
      mutu ke depan.
   4. Mengukur biaya.
      Hal mengukur biaya pendidikan adalah kemutlakkan yang patut diterjemahkan di sekolah/PT.
      mengukur biaya, dimaksudkan untuk membuat perkiraan-perkiraan biaya untuk pengembangan
      mutu pendidikan (proses dan out put); memperkirakan biaya perbaikan mutu yang salah sasaran,
      biaya untuk pekerjaan ulang, biaya untuk penyiapan materi sisa, melakukan hal-hal yang
      mendesak (emergency), inspeksi dan pengujian lanjutan. Hemat saya, hal yang terpenting dari hal

                                                                                                   9
     mengukur biaya untuk perbaikan mutu pendidikan di sekolah/PT adalah untuk menetapkan beban
     tanggunan bagi siswa/mahasiswa.
5.   Membangun kesadaran mutu.
     Membangun kesadaran mutu merupakan langkah yang sangat bertalian dengan peningkatan dan
     perbaikan mutu secara berkelanjutan. Mutu pendidikan tidak akan dicapai jika salah satu saja
     komponen tenaga kependidikan, baik di sekolah maupun di masyarakat umum, tidak memiliki
     kesadaran terhadap pentingnya mutu pendidikan yang terproses di sekolah/PT. Kesadaran tentang
     pentingnya mutu pendidikan akan dapat menolong sekolah/PT dalam hal menetapkan jumlah
     biaya yang dipakai untuk capaian tujuan mutu pendidikan. Karena itu, penting untuk
     dikomunikasikan kepada publik tentang mutu pendidikan yang sudah, sementara dan akan
     diperjuangkan oleh sekolah/PT.
6.   Kegiatan perbaikan.
     Kegiatan perbaikan juga dapat diterapkan di sekolah/PT dengan jalan memperkenalkan langkah-
     langkah atau prosedur-prosedur perbaikan yang dilakukan oleh sekolah/PT. dalam hal ini kepala
     sekolah dan pengawas pendidikan di sekolah diharapkan memiliki wawasan yang luas untuk
     menciptakan strategi konkrit yang dapat diaplikasikan oleh semua komponen sekolah dalam
     melakukan kegiatan perbaikan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Artinya, kepala sekolah
     dan pengawas pendidikan di sekolah/PT tidak kehilangan atau krisis akal budi untuk menemukan
     strategi-strategi yang relevan dengan kegiatan perbaikan mutu.
7.   Perencanaan menihilkan kerusakan-kerusakan.
     Jika langkah ini hendak diterapkan di lingkungan pendidikan (sekolah/PT), maka dapat saya
     katakana bahwa mulai dari proses perencanaan sampai pada implementasi strategis dan evaluasi,
     sedapat mungkin menghindari konsep-konsep yang terlampau ideologis yang mengawan dan sulit
     untuk diterapkan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang terlampau konyol atau
     nihil (tanpa nilai). Langkah yang mesti dilakukan oleh sekolah/PT adalah melakukan analisis
     yang akurat sebelum melakukan proses manajemen (dari pencanaan – evaluasi) untuk
     menghindari kerusakan-kerusakan akibat pemahaman dan sikap yang arogan dalam implementasi
     program yang tidak relevan.
8.   Menekankan perlunya pelatihan pengawas.
     Pengawas pendidikan di sekolah dan atau di PT umumnya adalah mereka yang bernaung di
     bawah struktur KADIKOR kabupaten/kota atau propinsi. Mereka bukan orang-orang super tanpa
     kelemahan dan kekurangan. Karena itu, dibutuhkan wadah-wadah pelatihan yang baik untuk
     mengasah komitmen dan profesionalitas mereka (pengawas) dalam pelaksanaan tugas di
     lapangan. Para pengawas harus memiliki kualifikasi keilmuan dan pengalaman yang lebih dari
     kepala sekolah dan para guru. Atas dasar konsepsi ideal ini, maka sangat penting bagi para
     pengawas untuk meningkatkan pengalaman dan pengetahuan mereka tentang tugas khusus yang
     dilekarkan pada jabatannya sebagai pengawas pendidikan.
9.   Merayakan hari men-zero-kan kerusakan.
     Langkah ini bisa diterapkan di sekolah/PT dengan cara perenungan dan peningkatan komitmen
     untuk melakukan yang terbaik bagi peningkatan mutu pendidikan. Hari tanpa kerusakan dapat
     dirayakan bukan secara serimonial saja, melainkan juga dikolaborasi dengan aspek ritual untuk
     menumbuhkan motivasi internal masing-masing pelaku pendidikan. Hal ini dimaksudkan untuk
     menyadarkan para pelaku pendidikan untuk memahami bahwa tugas mereka tidak hanya
     dipertanggungjawabkan kepada manusia, tetapi juga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melakukan

                                                                                               10
      pekerjaan dengan menghindari kerusakan yang berdampak bagi kehancuran kapasitas
      kemanusiaan orang lain merupakan tanggung jawab iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
10.   Penyusunan tujuan.
      Dalam lingkup pendidikan di sekolah/PT, penyusunan tujuan harus mempertimbangan aspek
      kebutuhan dan realitas lapangan serta dunia usaha atau lapangan pekerjaan (pangsa pasar) yang
      tersedia. Pertimbangan berdasarkan hasil analisis yang akurat merupakan langkah awal
      perumusan dan penetapan tujuan atau arah kebijakan perbaikan mutu pendidikan secara efektif.
      Sangat berbahaya, jika ada sekolah?PT yang tidak memiliki visi-misi dan atau tujuan yang
      jelas…..tujuan yang sudah dirumuskan, harus dipublikasikan kepada masyarakat untuk
      menghimpun aspirasi dan menarik animo masyarakat terhadap sekolah/PT tersebut.
11.   Menyingkirkan penyebab kesalahan.
      Kesalahan dalam suatu oragnisasi, termasuk organisasi pendidikan (sekolah/PT) merupakan
      keniscayaan. Yang jadi persoalan bukan pada kesalahan, tetapi pada faktor penyebab kesalahan
      itu sendiri. Jika sekolah/PT terfokus pada kesalahan, maka sekolah/PT tidak akan berkembang,
      malah saling mempersalahkan antar berbagai komponen di sekolah/PT. Tindakkan kuratif
      (mengobati) dan atau represif bukan solusi yang baik, ketimbang tindakkan prefentif
      (mencegah). Karena itu, keakuratan dalam analisis SWOT terhadap berbagai kebijakan yang akan
      ditempuh merupakan harga mati yang harus dilakukan. Selain dari analisis SWOT lingkungan
      internal sekolah/PT, sekolah/PT juga harus terbuka mendangarkan masukan, baik positif maupun
      negative, dari masyarakat atau stake holders. Mintalah kepada masyarakat koreksi solutif yang
      bermanfaat untuk mengatasi atau melenyapkan penyebab kesalahan dalam organisasi pendidikan.
12.   Pengakuan.
      Pengakuan ini lebih diarahkan kepada pemimpin kepada bawahan atau dari sesama rekan kerja.
      Di sekolah/PT. Pengakuan, dapat dilakukan dengan tindakkan berupa penghargaan kepada
      mereka yang berprestasi dan teguran yang sopan, alias manusiawi, kepada yang melakukan
      kelalaian. Aspek kejujuran tidak bisa dipisahkan dari narasi pengakuan. Artinya, kalau seseorang
      (bawahan) melakukan sesuatu yang baik, benar dan tepat “harus” diberi penghargaan (mungkin
      sebatas pujian atau acuan jempol), dan jika seseorang (bawahan) melakukan kelaian “harus”
      ditegur, diberitahukan kesalahan dan diberi solusi untuk memperbaikinya. Pengakuan yang
      dilakukan secara tidak langsung merupakan masukan dan koreksi yang solutif untuk upaya
      perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah/PT.
13.   Pembentukkan dewan mutu.
      Dalam hal ini, crosby sama dengan Juran. Pembentukkan dewan mutu dimaksudkan untuk
      mengontrol jalannya mekanisme dan strategi peningkatan mutu pendidikan yang telah
      dirumuskan dan dilaksanakan bersama di sekolah/PT. Dewan mutu bertanggung jawab untuk
      melakukan evaluasi dan analisis terhadap pelaksanaan program perbaikan mutu secara terus
      menerus, sehingga yang sudah baik dipertahankan dan dikembanghkan, dan yang masih jauh dari
      harapan dikoreksi dan diperbaiki. Artinya, dewan mutu bertanggung jawab untuk melakukan
      monitoring terhadap program perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah/PT.
14.   Lakukan kembali.
      Yang dimaksudkan oleh Crosby dengan konsep lakukan kembali sebagai langkah perbaikan mutu
      adalah bahwa setiap program yang sudah dijalankan dan telah menemukan hasil yang maksimal,
      perlu dilakukan secara berulang-ulang dengan tetap mawas diri terhadap berbagai kendala yang
      bisa saja muncul tanpa di duga sebelumnya. Bahwa program perbaikan mutu pendidikan tidak

                                                                                                   11
       pernah berakhir pada satu titik final, karena perbaikan mutu berlangsung secara sirkuler. Karena
       itu, lakukan kembali, secara terus menerus, adalah penting untuk mempertahankan kualitas yang
       telah dicapai dan menemukan metode-metode peningkatan yang labih baik ke depan.

Kesimpulan :

Dari paparan di atas, dapat saya simpulkan bahwa baik prinsip W. Edward Deming maupun langkah-
langkah perbaikan mutu dari Joseph M. Juran dan Philip B. Crosby memiliki kesamaan atau berada pada
satu jalur pemikiran yang sama….orientasi ketiga tokoh ini adalah bagaimana mutu dapat ditingkatkan
dan diperbaiki secara terus menerus; sumbangan pemikiran mereka yangawalnya dan umumnya
diaplikasikan dalam dunia bisnis yang menghasilkan barang, juga sangat relevan dapat diterapkan dalam
dunia pendidikan yang menghasilkan jasa yang bermutu dan yang dapat diterima oleh masyarakat (stake
holders).-




                                                                                                    12

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1695
posted:1/27/2011
language:Indonesian
pages:12