Petunjuk Teknis Design Irigasi

Document Sample
Petunjuk Teknis Design Irigasi Powered By Docstoc
					        PROGRAM ASIO AL
 PEMBERDAYAA MASYARAKAT MA DIRI
   DAERAH TERTI GGAL DA KHUSUS




              PETU JUK TEK IS
         PERE CA AA DESAI
           IRIGASI PEDESAA




  KO SULTA MA AJEME    ASIO AL
         PROGRAM P2DTK
              2008




      Jl. Tanah abang V/37B Petojo Selatan, Gambir, Jakarta Pusat 10130,
Telp. (021) 3510004, Fax. (021) 3857287 email : nmc_p2dtk@yahoo.com
                                        BAB I
                                        UMUM

1.1.   LATAR BELAKANG

       Dalam pembangunan Jaringan Irigasi Perdesaan, semata-mata bukan hanya
       untuk menyediakan prasarana guna mendukung kegiatan usaha masyarakat
       desa, namun lebih ditekankan pada upaya pemberdayaan masyarakat.
       Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan melibatkan masyarakat dalam
       proses perencanaan, pelaksanaan, operasi dan pemeliharaan serta pelestarian
       prasarana yang akan dan telah dibangun.

1.2.   TUJUAN

       Tujuan pembangunan jaringan irigasi perdesaan, yaitu :
       a. Meningkatkan produksi pangan terutama beras
       b. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemanfaatan air irigasi
       c. Meningkatkan intensitas tanam
       d. Meningkatkan dan memberdayakan masyarakat desa dalam pembangunan
           jaringan irigasi perdesaan

1.3.   LINGKUP KEGIATAN

       Lingkup pekerjaan Pembangunan Jaringan Irigasi Perdesaan, dibatasi dengan
       prioritas sebagai berikut :
       a. Perbaikan/rehabilitasi jaringan irigasi perdesaan yang telah ada
       b. Peningkatan irigasi perdesaan yang telah ada
       c. Pembangunan baru irigasi perdesaan

1.4.   KRITERIA KEGIATAN

       a. Irigasi yang tidak tercatat dalam buku inventaris DPU Pengairan
       b. Luas areal daerah irigasi perdesaan maksimum 150 ha
       c. Pengelolaan, Operasi dan Pemeliharaan jaringan irigasi dilaksanakan oleh
          P3A atau kelompok petani
       d. Merupakan usulan dari masyarakat petani yang didukung adanya kemauan
          dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan pekerjaan dan
          sanggup melaksanakan operasi dan pemeliharaan setelah pekerjaan selesai.
          Usulan tersebut harus sudah mencerminkan urutan prioritas perbaikan,
          rehabilitasi, peningkatan, atau pembangunan baru
       e. Dapat merupakan rehabilitasi jaringan tersier dalam daerah irigasi teknis,
          semi teknis
       f. Tidak ada masalah ganti rugi tanah, bangunan dan tanaman.
       g. Tidak sedang dibiayai oleh sumber dana lain
       h. Usulan bendung baru dari pasangan batu atau beton terbatas pada :
          -    Panjang bendung maksimum :           5,00 m
          -    Tinggi bendung maksimum         :    3,00 m
          -    Debit banjir rencana            :    30,00 m3/det

       i.   Pembangunan irigasi baru harus memenuhi ketentuan
            -  ada sumber air cukup
            -  adanya sawah (tadah hujan)
            -  ada petani
            -  kualitas air memenuhi
            -  tanah/sawah baik untuk pertanian (padi)
            -  ada pemasaran hasil produksi
       j.   Daerah irigasi perdesaan bukan merupakan daerah banjir rutin


                                                                                   1
1.5.   PENDEKATAN

       Dalam melaksanakan pembangunan jaringan irigasi perdesaan, digunakan
       pendekatan sebagai berikut :

       a. Uraian prioritas

            Karena proses pelaksanaan pembangunan jaringan irigasi perdesaan (mulai
            dan penyuluhan survai, disain sampai pelaksanaan konstruksi) harus dapat
            diselesaikan dalam 3-6 bulan, maka urutan prioritas ditetapkan sebagai
            berikut.
            (1) Diutamakan pekerjaan perbaikan atau rehabilitasi jaringan irigasi yang
                  telah ada, dan tidak memerlukan kajian teknis yang berat.
            (2) Pekerjaan peningkatan jaringan irigasi yang telah ada, yang benar-
                  benar diperlukan
            (3) Pembangunan jaringan irigasi baru

            Meskipun membangun irigasi baru dimungkinkan (sekalipun merupakan
            prioritas terakhir), harus dihindari pembangunan bendung baru karena
            Pembangunan bendung baru memerlukan kajian teknis yang berat seperti:
            Pengumpulan data hidrologi dan hidrometri, penyelidikan tanah, dsb secara
            akurat dan kajian teknik yang berat, yang kesemuanya itu memerlukan waktu
            panjang. Maka sangat sulit mempertanggung jawabkannya jika harus
            membuat bendung sejak persiapan perencanaan sampai selesai konstruksi
            hanya dalam waktu satu tahun saja.

       b. Luas Areal Daerah Irigasi

            Setiap sistem irigasi harus diketahui luas arealnya, karena data areal tersebut
            diperlukan untuk berbagai keperluan, seperti Penentuan jumlah debit air,
            perencanaan tata tanam, pelaporan hasil produksi, dsb. Karena itu setiap
            usulan pekerjaan irigasi dalam program harus sudah lengkap dengan data
            luas arealnya Luas areal suatu sistem irigasi umumnya dapat diketahui dari
            gambar peta daerah irigasi yang bersangkutan.

       c.   Kemampuan Petani untuk Mengelola (O&P) Jaringan Irigasi

            Agar hasil pembangunan jaringan irigasi perdesaan dapat berkesinambungan
            keberadaan dan kegunaannya, maka petani pemakai air selaku pemanfaat
            irigasi harus mampu mengelolanya

            Pengelolaan jaringan irigasi pada dasarnya merupakan usaha bersama para
            petani untuk menjaga, memelihara dan mengoperasikan jaringan irigasi agar
            dapat berdayaguna dan berhasilguna setinggi-tingginya. Pengelolaan ini
            harus dilakukan atas kemampuan para petani sendiri (baik teknis maupun
            financial) tanpa tergantung kepada pihak Lain termasuk Pemerintah

       d.   Alasan (Reasoning) Pembangunan Jaringan Irigasi Perdesaan
            Setiap usulan Pembangunan Jaringan Irigasi Perdesaan harus disertai
            dengan alasan mengapa kegiatan itu diusulkan ini penting agar semua
            pengeluaran biaya untuk kegiatan dapat dipertanggung jawabkan

       e    Keterkaitan Dengan Institusi Pengelola Irigasi Setempat

            Setiap pembangunan jaringan irigasi perdesaan harus diketahui Institusi
            Pengelola irigasi setempat, agar ketersediaan air dan penggunaan air oleh
            masing-masing sistem irigasi dapat tercatat oleh institusi yang bersangkutan.


                                                                                          2
           Institusi yang dimaksud disini adalah Dinas PU Pengairan Kabupaten atau
           Cabang Dinas PU Pengairan Propinsi. Maka semua sistem irigasi yang
           termasuk dalam program harus diinformasikan kepada institusi tersebut


1.6.   TATA LAKSANA

       Tata laksana bertujuan untuk memberikan gambaran alur produk suatu kegiatan
       atau dokumen :

       a. Umum

           Kebijakan Pemerintah dalam program sektor pertanian, khususnya untuk
           Pembangunan Jaringan Irigasi Perdesaan adalah untuk meningkatkan dan
           memberdayakan masyarakat desa dalam pembangunan jaringan irigasi
           pedesaan mulai dari penyiapan usulan, perencanaan, pelaksanaan phisik
           sampai dengan operasi dan pemeliharaan

       b. Usulan

           Usulan Kegiatan pembangunan prasarana irigasi perdesaan merupakan hasil
           prioritas yang ditetapkan dalam Musyawarah Kecamatan Perangkingan atau
           Musyawarah Kabupaten Perangkingan

       c   Perencanaan

           Tahap perencanaan harus melibatkan petani dan masyarakat desa baik pada
           system planning maupun disain.

           Pada tahap diskusi akan melibatkan (a) Perencana/Konsultan, (b) P3A, (c)
           Tokoh Masyarakat, (d) Petugas tingkat Desa dan Kecamatan (Camat, Kades
           dan PPL), (e) Petugas Cabang Dinas PU Pengairan / Dinas Pengairan
           Kabupaten.

       d. Pelaksanaan

           1.  Pelaksanaan pembangunan jaringan irigasi perdesaan dilaksanakan
               dengan 2 cara:
               1) dilaksanakan langsung oleh masyarakat dibawah koordinasi Tim
                  Pelaksana Kegiatan (TPK)
               2) dilaksanakan oleh Pihak Ketiga (Kontraktor) dibawah penugasan
                  UPKD di Dinas terkait
           2. Pada saat pelaksanaan pembangunan sudah selesai baik yang
              dilaksanakan dengan Pola Kontraktor maupun langsung masyarakat,
              sebelum hasil pekerjaan di serah terimakan kepada masyarakat harus
              diadakan uji pengaliran yang disaksikan oleh P3A.
           3. Langkah selanjutnya hasil pembangunan akan diserahkan TPK kepada
              masyarakat dan menyerahkan hasil pembangunan tersebut kepada
              kepala Desa, sebagai asset Desa.

       e. Pengelolaan

           Pengelolaan jaringan irigasi perdesaan akan dilaksanakan sepenuhnya oleh
           P3A. Selanjutnya P3A akan mengelola jaringan irigasi perdesaan sesuai
           dengan anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangganya.




                                                                                  3
f.   Laporan Akhir

     Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) atak Pihak Ketiga perlu membuat laporan
     akhir kegiatan antara lain :
     -   Lokasi jaringan irigasi
     -   Luas areal daerah irigasi (luas oncoran) dalam ha
     -   Type bangunan utama (bendung, pengambilan bebas, dan lain-lain)
     -   Sifat pembangunan (perbaikan/rehabilitasi, peningkatan, pembangunan
         baru)
     -   P3A (sudah ada, pembentukkan baru)
     -   Hambatan-hambatan saat pembangunan
     -   Biaya pembangunan




                                                                           4
                                  BAB II
                 PERENCANAAN UNTUK PERBAlKAN / REHAB1LITASI


2.1.   LINGKUP
       -   Saluran atau bangunan yang sebagian atau seluruhnya berkurang fungsi
       -   pelayanannya, karena longsor atau rusak
       -   Bangunan Pembagi/Boks Bagi
       -   Bangunan Sadap/Corongan
       -   Penahan Talud
       -   Penahan Tebing

2.2.   KRITERIA

       2.2.1. Perbaikan/Rehabilitasi
             •    Bangunan masih kuat dan masih akan dapat bertahan lama terhadap
                  pengaruh cuaca
             •    Bangunan akan tetap stabil
             •    Kapasitas bangunan mampu untuk mengalirkan debit air yang
                  direncanakan
             •    Sambungan antara bagian lama dan bagian baru secara teknis dapat
                  dilaksanakan dengan mudah dan akan mempunyai daya ikat yang
                  kuat

       2.2.2. Meningkatkan Efisiensi dan Eefektifitas
             •    Mudah dioperasikan oleh petani
             •    Dapat menjamin pembagian air secara adil dan merata
             •    Melindungi jaringan irigasi dari kerusakan akibat pengaruh alam
             •    Mengurangi biaya pemeliharaan

2.3.   SURVAI DAN INVENTARISASI

       Kriteria dari pelaksanaan kegiatan ini adalah

       a. Melakukan survai, membuat skets semua bangunan dengan memperhatikan
          ukuran seperti, lebar dan panjang bangunan, ukuran pintu dan sebagainya.
          Bilamana perlu untuk bangunan penting tersebut supaya dilengkapi dengan
          foto Memberi tanda pada bagian-bagian yang rusak dan perlu diperbaiki.
       b. Membuat daftar inventarisasi kondisi saluran atau bangunan yang berisi
          kondisi baik, perlu perbaikan, ganti baru.
       c. Melakukan survai dan perkiraan luas oncoran atau penyadapan air yang
          belum ada bangunannya, sekaligus menetapkan batas petak.




                                                                                    5
 Contoh hasil inventarisasi seperti pada Gambar 1.2.




Gambar 1. Inventarisasi Situasi dan Lokasi Bangunan




                                                       6
Gambar 2. Sket Bangunan Hasil Inventarisasi




                                              7
2.4.   SITUASI DAN PENGUKURAN SALURAN

       2.4.1. Peta Situasi

             Tidak diperlukan peta situasi kalau sifat pekerjaan perbaikan, rehabilitasi atau,
             peningkatan efisiensi dan efektifitas.

       2.4.2. Pengukuran Saluran

             Dilaksanakan dengan pipa plastik berisi air. Pelaksanaan metode ini dapat dilihat
             pada Buku II

2.5.   DISAIN TEKN1S

       2.5.1. Perbaikan/Rehabilitasi

             a.  Apabila ada gambar disain lama, maka perlu diteliti, bila perlu
                 diadakan penyempurnaan sehingga dapat dipakai sebagai gambar
                 disain baru.
             b. Apabila tidak ada, maka urutan kegiatan disain teknis tetap diikuti
                 sebagai berikut:
                 • Pra disain
                 • Hasil dari kegiatan survai dan inventarisasi (butir 2.3. ditetapkan
                    sebagai hasil pra disain)
                 • Diskusi disain
                 • Final disain
             c . Gambar purna laksana (A3 built Drawing)
             d. Pada akhir pekerjaan (perbaikan/rehabilitasi) maka dibuat gambar
                 purna laksana lengkap dengan ukuran dan skala

       2.5.2. Meningkatkan Efisiensi/Efektivitas

             a.   Saluran
                  Kapatitas saluran pembawa didimensi berdasarkan kebutuhan air
                  irigasi (WR) dan luas sawah (A)

                  Q = IWR x A

                  Kebutuhan air irigasi IWR = Irr/E
                  Irr = Kebutuhan air untuk tanaman
                  E = Faktor efisiensi - 80 %
                  A = Luas areal

                  -   Untuk Irigasi Pedesaan, data tersebut di atas sangat sulit didapat/
                      tidak tersedia.
                      Dapat menentukan kebutuhan air irigasi, maka dapat diambil dari
                      besaran kebutuhan irigasi dari daerah irigasi teknis yang lokasinya
                      berdekatan dengan lokasi proyek.

                      Secara umum IWR= 1,75 l/det/ha (NWR = 1,4 l/dt/ha)
                  -   Untuk saluran pembawa irigasi perdesaan disarankan untuk
                      memakai label 1, 2, 3 dibawah mi, dengan catatan: Apabila
                      kemiringan tanah (Ie) lebih besar dan pada keminngan saluran
                      tabel, maka pada saluran dilengkapi dengan bangunan terjun
                      (tegak).

             b. Bangunan bagi atau boks pembagi

                                                                                            8
 1) Pembagian air dalam bangunan dibuat secara proporsional.
 2) Lebar bukaan lubang pembagian berbanding lurus terhadap Kias
    areal yang diairi dengan elevasi ambang yang sama serta
    diusahakan tidak terlalu tinggi.
 3) Ditinjau dari banyak dan arah pembagiannya ada tiga macam
    bangunan bagi atau boks pembagi (Gambar 3a, 3b dan 3c)
 4) Rumus pengaliran melewati ambang : Aliran sempurna Q = 1,7
    1.b.h 3/2




Gambar 3a . Bangunan Bagi/Boks       Gambar 3b. Bangunan Bagi/Boks
        Pembagi Kanan                         Pembagi Kiri




        Gambar 3c Bangunan Bagi/Boks Pembagi Kanan dan Kiri




                                                                     9
       c.   Bangunan Sadap/Corongan

            1) Penyadapan dengan pipa beton atau pipa PVC φ 75 mm untuk
               areal 5-7 ha dan dengan pipa beton atau pipa PVC φ 100 mm
               untuk areal 8 - 12,50 ha.
            2) Pintu Sadap/Corongan dapat dilengkapi dengan pintu sorong
               sederhana atau cukup dengan lubang balok sekat
            3) Bangunan Sadap dapat dikombinasikan dengan bangunan boks
               pada bagian ujung keluaran (outlet) Gambar 4a dan 4b




      Gambar 4a. Bangunan Sadap/       Gambar 4b. Bangunan Sadap/Corongan
      Corongan                        dengan kombinasi boks



       d. Bangunan Terjun

            1) Bangunan terjun type ini adalah bangunan terjun dengan tembok
               tegak lurus atau dengun kemiringan 1,5 seperti (Gambar 5) yang
               digunakan bila tinggi terjun, Hmax (A-B) = 1,50 m.




                                   Gambar 5. Bangunan Terjun


     2) Syarat-syarat perhitungan untuk Bangunan Terjun Type ini secara praktis
        dapat didasarkan pada
        - Lebar alas tembok penahan 0,30 m dan lebar bawah diambil 0,47 H.
        - Panjang ruang olakan Lb = 4 - 6h (h = tinggi air di saluran)
        - Panjang sayap hulu dan hilir bervariasi disesuaikan dengan tinggi air
           dan keadaan tanah.

e.   Penahan Talud Saluran
                                                                             10
Untuk stabilitas talud saluran dipakai penahan talud saluran type 1, 2, 3, 4, 5 seperti
pada Gambar 6a, 6b, 6c, 6d, 6e.




              Gambar 6a     Penahan Talud Saluran Type 1




              Gamhar 6b . Penahan Talud Saluran Type 2




              Gambar 6c. Penahan Talud Saluran Type 3




              Gambar 6d. Penahan Talud Saluran Type 4




                                                                                    11
                 Gambar 6e. Penahan Talud Saluran Type 5



f.   Penahan Tebing Sungai

     1) Bila konstruksi penahan tebing sungai dibuat dan pasangan batu kali,
        ukuran untuk tebal pasangan atau cukup 0,25 H sedangkan tebal
        pasangan bawah 0,47 H Gambar 7.




             Gambar 7. Penahan tebing dari pasangan batu

     2) Konstruksi penahan tebing sungai dibuat dari pasangan bronjong kawat
        Gambar 8




                Gambar 8. Penahan tebing dan bronjong




                                                                          12
                               BAB III
              PERENCANAAN UNTUK JARINGAN IRIGASI BARU atau
                           BANGUNAN BARU


3.1.   LINGKUP

       a. Jaringan Irigasi Baru dalam rangka memanfaatkan potensi alam yang ada,
          antara lain air, tanah (sawah)
       b. Bangunan Dam, dalam rangka menambah atau mengganti bangunan sudah
          rusak atau tidak berfungsi lagi pada jaringan irigasi yang ada

3.2.   KRITERIA

       a. Jaringan Irigasi Baru
          •   Ada sumber air cukup
          •   Ada sawah (tadah hujan)
          •   Ada petani penggarap
          •   Kualitas air memenuhi
          •   Tanah (sawah) baik pertanian (padi)
          •   Ada pemasaran hasil produksi

       b. Bangunan Dam
          •  Kapasitas bangunan mampu untuk mengalirkan              debit   air   yang
             direncanakan
          •  Mudah dioperasikan dan dipelihara petani
          •  Pembagian air akan lebih adil dan merata

3.3.   PEKERJAAN PERSIAPAN

       3.3.1. Pengumpulan data, laporan dan pengenalan lapangan

             a.   Data atau laporan di dapat dan mcngumpulkan informasi tertulis atau
                  lisan dari penduduk sekitar lokasi pekerjaan atau dari instansi
                  setempat
             b.   Pengenalan lapangan dilakukan untuk memperjelas informasi atau
                  laporan yang didapat, dalam rangka melakukan analisa atas laporan
                  dan keadaan lapangan.

       3.3.2. Survai dan Inventarisasi

             Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan data-data lapangan yang
             lengkap. langkah kegiatan ini perlu mengikuti kriteria pada Buku II.

       3.3.4. Peta Situasi

            Untuk jaringan irigasi baru diperlukan peta situasi guna merencanakan
            luas sawah yang akan diairi, lokasi serta jenis saluran atau bangunan yang
            diperlukan Kriteria serta langkah guna pembuatan peta situasi mengikuti
            petunjuk pada Buku II
3.4.   TATA LAKSANA DISAIN

       Tahap perencanaan/disain harus melibatkan petani dan masyarakat desa, haik
       pada tahap system planning maupun disain.

       Keterlibatan petani antara lain diwujudkan melalui diskusi dalam rangka
       menentukan letak, jenis, saluran atau bangunan keikutsertaan petani dalam
       diskusi system planning dan disain akan mendorong petani merasa ikut memiliki

                                                                                     13
       serta berkemauan melaksanakan operasi dan pemeliharaan.

       Pada tahap diskusi akan melibatkan :
       -  Perencana/Consultan
       -  Tokoh masyarakat
       -  Petugas tingkat desa dan kecamatan
       -  Cabang Dinas Pengairan atau Dinas Pengairan Kabupaten

3.5.   SYSTEM PLANNING

       Sistem planning ini sangat diperlukan dalam menentukan letak dan jenis saluran
       bangunan serta fasilitas lainnya Draft system planning, antara lain:
       • Tata letak saluran dan bangunan
       • Luas masing-masing petak irigasi
       • Usulan perbaikan dan priontasnya
       Ketentuan-ketentuan sistem planning dapat dipelajari dari Buku II

3.6.   PENGUKURAN

       Pelaksanaan pengukuran untuk keperluan pemetaan situasi maupun untuk
       pengukuran saluran agar diusahakan menggunakan alat ukur optik, bila mana
       kesulitan mendapatkan alat ukur optik, pelaksanaan pengukuran dapat dilakukan
       dengan memakai pipa (slang) plastik.

       Metode ini dapat dipelajari pada Lampiran II-1 atau pada Buku II.

3.7.   SURVAI INVESTIGASI GEOTEKNIK

       Tidak diperlukan penyelidikan geologi pada lapisan bawah (sub grade), namun
       cukup data-data geologi permukaan saja Khusus untuk perencanaan bendung
       diperlukan sumur uji pada lokasi rencana bendung secara rinci kegiatan dan
       kriteria survai investigasi Geoteknik dapat dipelajari pada Buku II.


3.8.   DESIGN BENDUNG

       3.8.1.   Kebutuhan air irigasi (IWR)

                Kebutuhan air irigasi (IWR) adalah tergantung dari luas sawah (A) dan
                kebutuhan tanaman dan kebutuhan air irigasi ini tidak akan lebih besar dan
                pada debit andalan sungai (Qp).

                Qp - A x IWR
                Sebagai perkiraan IWR = 1,75 1/det/ha

       3.8.2.   Debit andalan
                Memperkirakan atau menghitung debit andalan adalah sangat memerlukan
                ketelitian karena berkaitan dengan luas sawah yang akan diairi, namun
                dibutuhkan data-data yang lengkap Debit andalan ini dapat diperkirakan
                atau dihitung dan tinggi air di sungai yang informasinya didapat dari
                penduduk setempat Contoh perhitungan dapat dipelajari pada Buku II.

       3.8.3.   Debit Banjir Rencana
                Debit Banjir akan menentukan kedalaman dan panjang lantai olah. Cara
                menghitung debit banjir rencana ada beberapa cara antara lain.
                a . Metode Wedumen, Melchior dan lain-lain
                b. Dihitung dari bangunan air yang letaknya berada di hulu rencana

                                                                                        14
                    bendung
                 c. Dengan membandmgkan luas tangkapan hujan daerah lain yang
                    sudah dihitung debit rencananya.
                 d. Dihitung dan penampang banjir sungai, atas informasi dari penduduk

                 Cara perhitungan debit banjir ini dapat dipelajari pada Buku II.

        3.8.4.   Ruang Olak
                 Penentuan kedalam dan panjang lantai ruang olak dihitung dengan
                 menggunakan metode MDO yang sudah dikembangkan oleh Puslitbang
                 Pengairan dengan menyederhanakan parameter-parameter diaplikasikan
                 pada disain bendung perdesaan Tata cara perhitungan olak metode MDO
                 dapat dipelajari pada Buku II.

3.9.    BANGUNAN BAGI, BANGUNAN PEMBAWA DAN BANGUNAN PELENGKAP
        Disain bangunan bagi, pembawa dan pelengkap dilakukan dengan perhitungan
        praktis dan dibuat standar untuk dapat mudah digunakan dan diaplikasikan dalam
        merencanakan Jaringan Irigasi Perdesaan Untuk Lengkapnya dapat dipelajari
        pada Buku II.

3.10.   BANGUNAN LAIN
        Yang dimaksudkan bangunan bagi, termasuk boks pembagi yang masing-masing
        berfungsi untuk membagi air ditingkat saluran utama dan di saluran tersier.
        Sedangkan bangunan pembawa antara lain: gorong-gorong, jembatan, talang,
        bangunan terjun dan lain-lain.

        Bangunan lain yang dimaksudkan disain antara lain bangunan-bangunan yang
        fungsi menampung sumber air, misalnya embung, mata air, sumur dangkal (air
        tanah), bendung bronjong, bendung cerucuk.

        Disain bangunan dibuat lebih sederhana dan praktis dalam pemakaian untuk
        pembangunan jaringan irigasi perdesaan. Perhitungan dan gambar sket terdapat
        pada Buku II.




                                                                                    15
                                      BAB IV
                             OPERASI DAN PEMELIHARAAN


4.1.   UMUM
       Setiap perbaikain, rehabilitasi, peningkatan, atau pembangunan jaringan irigasi,
       selalu melalui tahapan kegiatan Perencanaan, Pelaksanaan, dan Operasi &
       Pemeliharaan (O&P). Proses perencanaan dan pelaksanaan umumnya
       berlangsung dalam kurun waktu relatif singkat, sedangkan proses berlangsung
       dalam kurun waktu yang sangat panjang.
       4. 1.1   Pengelolaan Jaringan
                Setelah pembangunan/perbaikan/rehabilitasi irigasi selesai, maka hasil-
                hasil pembangunan/perbaikan/rehabilitasi tersebut diserahkan kepda
                masyarakat pemakai air yang tergabung dalam organisasi P3A atau nama
                lain sesuai dengan kondisi setempat selanjutnya pengelolaan jaringan
                irigasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab P3A.
       4.1.2.   Hubungan Antara Operasi dan Pemeliharaan
                Kegiatan operasi dan kegiatan pemeliharaan adalah dua kegiatan yang
                berbeda, namun keduanya saling berkaitan dan ada saling ketergantungan
                satu dengan lainnya, jika pemeliharaan tidak dilakukan dengan baik, maka
                akan berakibat jaringan irigasi tidak dapat di operasikan sccara optimal.
                Sebaliknya kesalahan atau kelalaian dalam menjalankan operasi akan
                berakibat mempercepat kerusakan jaringan irigasi, yang berarti pula
                memperberat usaha pemeliharaan.

4.2.   OPERASI
       4.2.1.   Pengertian Operasi
                Operasi irigasi adalah Proses kegiatan pengaturan, pengambilan air dan
                air, pengaliran air kedalam jaringan irigasi dan pembagian air secara
                rasional ke areal tanah yang diari secara efektif, efisien, adil dan merata
                serta air kelebihan ke saluran-saluran pembuang.
       4.2.2.   Hubungan Antara Kebutuhan Air Untuk Tanaman dan Ketersediaan Air
                Ketersediaan air, baik air hujan maupun air yang berasal dari sumber air
                lainnya (sungai, danau, waduk, mata air, dsb ) dari waktu ke waktu selalu
                berubah-ubah atau tidak tetap. Kebutuhan air untuk tanaman juga tidak
                selalu tetap, baik karena berbeda jenis tanamannya maupun karena
                berbeda tingkat pertumbuhannya.
                Pengoperasian irigasi pada hakekatnya adalah mengupayakan agar antara
                kebutuhan air untuk tanaman dan ketersediaan air irigasi terjadi
                keseimbangan sehingga menghasilkan yang paling menguntungkan bagi
                masyarakat dan sejauh mungkin menghindari terjadinya kegagalan panen.
       4.2.3.   Pola Tanam
                Umumnya setiap tahun lahan beririgasi dapat ditanami tiga kali, maka
                terdapat tiga masa tanam, yaitu Masa Tanam Pertama, Kedua, dan Ketiga
                (disingkat MT I, MT II, dan MT III) Penetapan MT I selalu dimulai dari
                musim hujan dan diakhiri dengan MT III yang jatuh di musim kemarau.
                Contoh :     Pola Tanam Padi - padi - palawija, artinya pada MT I ditanam
                padi, pada MT II ditanam padi dan pada MT III ditanam palawija.
                Pola tanam yang dianjurkan :
                a. Irigasi yang airnya cukup Padi - padi - palawija
                   Perhatian : Jangan melaksanakan pola tanam: Padi - padi - padi

                                                                                         16
                            (menanam padi terus-menerus sepanjang tahun tanpa
                            diselingi palawija), meskipun air irigasi cukup. Sebab
                            siklus kehidupan hama tanaman padi tidak dapat
                            terputus. akibatnya hama akan makin berkembang-biak.
         b.   Irigasi yang airnya terbatas :
              Sebagian areal           Padi - padi - palawija
              Sisa areal lainnya       Padi - palawija - palawija
         c.   Irigasi yang airnya sangat terbatas     :
              Padi - palawija - palawija
         d.   Irigasi yang airnya sangat kurang       :
              Padi - palawija - bera (tak ditanami)
         Pemilihan pola tanam harus sesuai dengan air yang tersedia dan
         keinginan sebagian besar masyarakat petani setempat Sebaiknya
         dimusyawarahkan dengan para pejabat Desa, Dinas Pertanian dan Dinas
         Pengairan setempat

4.2.4.   Rencana Tata Tanam (RTT)
         Tata Tanam pada suatu sistem irigasi adalah suatu rencana tahunan yang
         menggambarkan tentang jenis tanaman yang akan ditanam bentuk luas
         dan lokasinya masing-masing, serta jadual waktu kapan mulai dan
         berakhirnya masa tanam di masing-masing lokasi tiersebut.
         Dengan adanya RTT maka dapat diketahui kebutuhan air dan lokasinya
         masing-masing lahan yang akan ditanami, serta jadual waktu pemberian
         airnya.

4.2.5.   Kegiatan Penting dalam
         Pengoperasian Jaringan Irigasi
         Pengoperasian jaringan irigasi yang penting untuk dilakukan adalah:
         a. Membuka dan menutup pintu pernasukan air (intake) pada bendung/
            bangunan pengambilan air.
            •    Bila air di sumber air normal: pintu dibuka, untuk mengalirkan air
                 irigasi kedalam jaringan irigasi. Bukalah pintu air secukupnya
                 sesuai dengan ketetapan disain. Jangan membuka pintu terlalu
                 lebar, karena air yang masuk ke saluran dapat melampaui kapasitasnya
                 dan akan merusak jaringan irigasi.
            •     Bila air di sumber air banjir ditutup,Untuk mencegah masuknya air
                 banjir kedalam jaringan irigasi, yang akan menimbulkan kerusakan
                 pada jaringan irigasi.
         b. Membuka dan menutup pintu pembitas (jika ada) sesuai dengan jadual
            waktu yang telah ditetapkan dalam disain. Jika sistem irigasinya tidak
            di lengkapi dengan pintu pembilas dan kantong lumpur, maka kegiatan
            ini tak perlu dilakukan.
         c. Mengatur dan membagi air irigasi secara efektif, efisien, adil dan
            merata ke seluruh lahan persawahan dalam sistem irigasi, sesuai
            dengan tingkat pertumbuhan tanaman Pembagian dan pemberian air
            tersebut harus dilakukan tepat waktu, tepat jumlah dan tepat cara.
         d. Mengatur dan menjaga agar akibat-akibat negatif yang mungkin di
            timbulkan oleh air, baik akibat kelebihan air (banjir / genangan atau
            gerusan aliran), akibat kekurangan air (kekeringan), maupun akibat
            pencemaran air dapat dihindarkan.
4.2.6.   Pembagian Air Irigasi Secara Proporsional (Untuk Air Normal)
         Disain bangunaan bagi sudah ditetapkan agar air yang mengalir melalui

                                                                                  17
                bangunan bagi akan otomatis terbagi secara proporsional sesuai dengan
                luas areal masing-masing, maka pengoperasiannya menjadi sangat
                mudah, karena tidak perlu mengatur-atur lagi.
       4.2.7.   Pembagian Air Irigasi Secara Giliran (Untuk Air Kurang)
                Jika suatu saat debit air tidak cukup untuk mengairi seluruh areal lahan,
                pembagian air dapat dilakukan secara giliran Lamanya pemberian air bagi
                masing-masing blok giliran harus diatur agar:
                •    Sebanding dengan luas areal masing-masing.
                •    Sebelum kandungan air (field moisture content) tinggal 8O% atau
                     tanahnya mulai hampir kering, blok tersebut harus telah mendapat
                     jatah giliran air lagi.
                Untuk lebih jelasnya dapat diperiksa contoh pada Petunjuk Teknis
                Lampiran IV-I Jika debit air di sumber air sudah normal kembali, maka
                pembagian air agar dikembalikau secara proporsional lagi.
       4. 2. 8. Pengendalian Pencemaran Air
                Dalam pengoperasian irigasi selain yang telah diuraikan diatas, perlu
                dilakukan juga kegiatan/usaha pengendalian pencemaran air, Namun jika
                terpaksa ada pencemaran air, maka harus masih dibawah ambang batas
                yang diijinkan. Umumnya pencemar air datang dari limbah pabrik atau
                Iimbah rumah penduduk dalam bentuk sampah, kotoran manusia /
                binatang, dsb.

4.3.   PEMELIHARAAN

       4.3.1.   Pengertian Pemeliharaan
              Pemeliharaan jaringan irigasi adalah usaha-usaha dan kegitan-kegiatan
              menjaga agar jaringan irigasi selalu dapat berfungsi dengan baik dapat
              dioperasikan secara optimal, dan terjaga kelestarianya.
       4.3.2. Ruang Ligkup Kegiatan Pemeliharaan
                a.   Perawatan
                     1) Perawatan Rutin
                        Perawatan rutin harus dilakukan secara terus-menerus setiap hari
                        oleh para petani pemakai air (dilakukan secara swakelola). Yang
                        termasuk kegiatan perawatan rutin antara lain:
                        •   Membabat rumput pada tanggul dan tebing saluran
                        •   Membersihkan sampah/kotoran yang hanyut, tumbuhan air
                            pengganggu (ganggang, enceng gondok, dll ) yang berada di
                            saluran
                        •   Menutup lubang-lubang pada tanggul saluran, lubang ini
                            biasanya dibuat oleh tikus, ketam, dll.
                     2) Perawatan Berkala (Periodik)
                        Perawatan dilakukan secara berkala namun harus tepat waktu.
                        •   Membuang endapan lurnpur pada saluran (sekali setahun
                            pada masa pengeringan)
                        •   Mengecat pintu-pintu air (sekali setahun), dll
                b. Perbaikan dan Penyempurnaan
                   1) Perbaikan Darurat (Perbaikan Insidentil)
                      Perbaikan darurat pada umumnya dilakukan untuk mernperbaiki
                      kerusakan-kerusakan akibat bencana alam (banjir, tanah longsor,
                      dsb) atau akibat lain yang tak dapat diduga sebelumnya, dan
                      harus cepat diatasi
                   2) Perbaikan (Permanen)
                      Setelah perbaikan darurat selesai, perlu ditindak lanjuti dengan

                                                                                       18
                  perbaikan yang sebenarnya agar kondisinya tidak merosot lagi.
                  Perbaikan juga dilakukan terhadap kerusakan-kerusakan lain yang
                  disainnya sudah lengkap. Misalnya perbaikan terhadap rantai
                  bangunan terjun yang tergerus oleh aliran air, tembok sayap yang
                  patah, dsb.
         c.   Penggantian
              Penggantian adalah kegiatan pemeliharaan untuk mengganti satu atau
              lebih satuan bangunan/saluran secara utuh, yang karena kondisi dan
              fungsinya sudah tidak layak pakai/tidak ekonornis untuk diperbaiki.
              Penggantian umumnya dilakukan karena usia bangunan sudah lanjut,
              atau karena kerusakannya telah terlalu parah, ataupun karena
              fungsinya tidak mungkin dipertahankan lagi.
         d. Pengamanan
              Pengamanan adalah usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan untuk
              melindungi keselamatan jaringan irigasi dan bahaya yang dapat
              ditimbulkan oleh pihak lain (manusia, binatang, atau benda padat/cair)
              termasuk juga keselamatan bagi pihak lain dari bahaya yang dapat
              ditimbulkan oleh jaringan irigasi.

4.3.3.   Pemeliharaan Saluran Pembawa
         a.   Pembabatan rumput
              Pembabatan rumput dan semak-semak termasuk perawatan rutin
              harus dilakukan setiap saat oleh suatu kelompok kerja yang bergerak
              dari hulu menuju hilir (setiap hari berpindah tempat), setelah sebulan
              kembali kehulu lagi untuk bergerak kehilir dan seterusnya
         b.   Pembersihan Kotoran dan Tumbuh-tumbuhan Dalam Saluran
              Sampah-sampah, kotoran-kotoran, dan tumbuh-tumbuhan air
              pengganggu seperti ganggang, enceng gondok, dll. Harus dibuang
              sebelum berkembang-biak, agar tidak mengganggu aliran air.
              Kebiasaan untuk "Tidak membuang sampah kedalam saluran perlu
              dibudayakan kepada seluruh anggota masyarakat.
         c.   Pembuangan Lumpur
              Lumpur yang mengendap didasar saluran harus dibuang, agar
              kapasitas saluran dapat sesuai dengan disainnya Pckerjaan ini
              dilakukan secara periodik, sekurang-kurangnya setahun sekali yaitu
              pada masa pengeringan.
         d.   Pemeliharaan Tebing dan Profil Saluran
              Profil saluran perlu diusahakan tctap tradisional seperti gambar
              disainnya, kecepatan aliran dan kapasitasnya tidak berubah.
         e.   Pencegahan Rembesan dan Bocoran pada Tanggul Saluran
              Rembesan umumnya belum mengganggu tanggul, namun jika tidak
              segera diatasi dapat membesar dan berubah menjadi bocoran.
              Bocoran dalam waktu singkat dapat membobolkan tanggul saluran.
              Cara mengatasi rembesan/bocoran pada tanggul saluran :
              1) Rembesan yang membesar
                 Membongkar sisi tanggul bagian dalam saluran yang rembes
                 kemudian menggantinya dengan tanah timbunan baru, pekerjaan
                 timbunan dilakukan dengan cara lapis demi lapis ditimbun sampai
                 padat dengan tanah timbunannya harus bermutu baik dan
                 mempunyai kandungan air optimum (bukan tanah kering).
                                                                                  19
              2) Rembesan karena tanah tanggulnya poreus (tanah berpasir)
                 Tebing tanggul saluran bagian dalam perlu dilining (diberi
                 pasangan batu atau beton), kalau perlu termasuk dasar
                 salurannya.
              3) Bocoran
                 Bila bocoran sudah sedemikian besar, badan tanggul saluran di
                 bagian yang bocor harus dibongkar seluruhnya, dan diganti baru
                 dengan material yang baik, seperti yang diuraikan dalam butir a).
              4) Lubang-lubang karena tikus/ketam/ular dsb
                 Lubang-lubang dapat ditutup dengan cara groutting, yaitu dengan
                 memasukkan lumpur tanah liat dicampur semen (perbandingan 1
                 semen 10 tanah liat).

         f.   Perbaikan Pelindung Tebing Saluran
              Pelindung tebing umumnya dibuat dari pasangan batu, beton atau batu
              kosong Kadang-kadang kita jumpai juga turap kayu, bronjong, dll
              1). Pasangan Batu / Beton
                 Pasangan yang lepas dapat ditambal dengan lebih dahulu
                 membongkar bagian sekitarnya yang juga sudah mulai lapuk
                 Pasangan yang retak atau pecah dapat disambung kembali dengan
                 terlebih dahulu membongkar kiri kanan bagian yang retak/pecah
                 agar terjadi pias selebar 1 - 1 50 m. Kemudian pias tersebut diisi
                 dengan pasangan batu agar penyambungan dapat menghasilkan
                 bidang yang rata dan baik.
                 Tembok yang runtuh sebaiknya dibongkar sama sekali, lereng
                 belakang pasangan dibentuk kembali, fundasi diperkuat, koperan
                 diperdalam. Jika dibelakang tembok terdapat tekanan air, maka
                 pasangan tembok perlu diberi lubang drain secukupnya.

              2) Pasangan batu kosong
                 Kerusakan pasangan batu kosong umumnya beberapa bagian
                 batunya dilepas oleh pencari ikan, dan rontok akibat dasar saluran
                 tergerus atau tanah dibelakangnya tergerus. Memperbaikinya
                 dilakukan dengan cara mengatur kembali batu-batu yang lepas
                 ketempat semula.

4.3.4. Pemeliharaan Saluran Pembuang
         Pada umumnya saluran pembuang kurang mendapat perhatian Saluran
         pembuang yang tidak terpelihara akan tidak berfungsi, akibatnya akan
         terjadi banjir (genangan) yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman
         dan berkurangnya produksi pertanian. Karena itu saluran pembuang
         memerlukan pemeliharaan seperti halnya pada saluran pembawa, namun
         intensitasnya dapat lebih rendah, tidak perlu setinggi saluran pembawa.

4.3.5.   Pemeliharaan Bangunan
         a.   PasanganBatu
              Pada umumnya bangunan-bangunan irigasi terbuat dari pasangan batu.
              Karena pasangan batu tidak dapat menahan gaya tarik bila terjadi penurunan
              fundasi yang tidak merata, maka pasangan batu akan retak atau patah Cara
              memperbaiki retakan atau patahan ini sama dengan cara memperbaiki
              retak an/pat ahan pada pelindung tebing sakitar.

                                                                                     20
     Kerusakan akibat scouring mungkin perlu pemasangan lantai, pemasangan
     koperan, atau konstruksi pelindung tebing lainnya. Kerusakan akibat piping
     mungkin diperlukan groutting, atau konstruksi lain Kerusakan-kerusakan lain
     yang mungkin terjadi pada pa.sangan batu, ialah :
     1) Abrasi sering terjadi pada bangunan yang berada di sungai yang
        mengalir deras dan menghanyutkan pasir serta batu-batu keras
        (banyak terjadi pada mercu bendung). Pasangan yang tergerus
        agar segera ditutup kembali. Bidang permukaannya perlu
        dilindungi dengan batu candi yang keras dan liat (batu basalt).
     2) Pelapukan sering terjadi pada bangunan yang berada di sungai
        yang airnya mengandung larutan agresif. Bangunan yang bidang
        permukaannya demikian perlu diplester dengan spesi semen,
        secara berkala plesteran tersebut dikupas dan diperbaharui lagi.
     3) Desakan akar: Akar selalu ingin menuju ketempat yang basah
        Maka perlu dijaga agar dalam jarak yang aman tidak terdapat
        tanaman atau tumbuh-tumbuhan yang berakar kuat seperti pohon
        flamboyan, pisang, dsb.
b.   Pintu Air
     Pintu air harus dipelihara agar selalu dapat dibuka dan ditutup dengan
     sempurna serta terhindar dari korosi atau pelapukan, maka:
     •   Secara teratur dalam jangka waktu tertentu harus diperiksa dengan cara
         dibuka penuh dan dilutup penuh, untuk mengetahui kelainan-kelainan
         yang mungkin terjadi.
     •   Alat penggerak, berupa batang ulir, batang pengangkat, sponing dll
         secara teratur dalam jangka waktu tertentu harus dibersihkan dan
         dilumasi dengan minyak pelumas atau gemuk (grease).
     •   Untuk menghindari korosi, maka daun-daun pintu dan bagian-bagian
         konstruksi yang lain yang terbuat dan besi harus dicat dengan cat anti
         karat Pengecatan ini harus dilakukan setahun sekali atau selambat-
         lambatnya dua tahun sekali.
     Pengecetan harus dilakukan setelah bidang yang akan dicat bersih dan kering
     Pintu air yang terbuat dari kayu secara teratur tiap tahun harus dicat di kloter
     untuk mencegah terjadinya pelapukan
     Penggantian umumnya dilakukan karena usia bangunan sudah lanjut, atau
     karena kerusakannya telah terlalu parah, ataupun karena fungsinya tidak
     mungkin dipertahankan lagi.
c.   Pengamanan
     Pengamanan adalah usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan untuk melindungi
     keselamatan jaringan irigasi dan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh pihak
     lain (manusia, binatang, atau benda padat/cair) tcrmasuk juga keselamatan
     bagi pihak lain dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh jaringan irigasi.
d.   Bendung/Pengambilan Bebas
     Bendung/pengambilan bebas adalah bangunan utama yang sangat vital
     dan selalu berada dalam bahaya terutama pada waktu banjir. Kerusakan-
     kerusakan pada bendung harus dapat diketahui saat masih dini, agar tidak
     menjadi kerusakan yang parah, dan perbaikannya tidak dapat diatasi
     dengan pekerjaan pemeliharaan biasa, tetapi sudah menjadi pekerjaan
     rehabilitasi Karena itu pengamatan secara periodik dan teliti sangat
     diperlukan.




                                                                                  21
              e.   Bangunan Pada Jaringan Irigasi
                   Karena umumnya bangunan-bangunan Tersebut dibuat dari pasangan
                   batu dan dilengka.pi dengan pintu air maka untuk pemeliharaannya dapat
                   dilihat uraian tentang pemeliharaan pasangan batu dan pemeliharaan pintu
                   air.
              f.   Bangunan yang Dibuat Dari Bronjong
                   Bronjong setelah lama akan berubah bentuk, baik karena tanah dasarnya
                   menurun, atau kawatnya putus. Bronjong yang berubah bentuk tidak perlu
                   dibongkar dan diratakan kembali.
                   Bronjong yang rusak karena kawatnya putus cukup diperbaiki dengan cara
                   menyulami bagian kawat bronjong yang putus dan mengisi kembali batu-
                   batu yang hilang.      Bendung bronjong yang kondismya telah stabil,
                   sebaiknya dilapisi dengan pasangan batu setebal 30 - 40 cm, agar usianya
                   dapat makin panjang.



4.4.   PEMANTAUAN DAN PELAPORAN
       Kejadian-kejadian penting selama pelaksanaan O&P jaringan irigasi perlu dipatau
       dan dilaporkan Laporan dapat berisi tentang:
       -   Kondisi dan fungsi jaringan irigasi
       -   Manfaat jaringan irigasi, seperti terjadinya padi (hasil panen), luas areal
           tanam dan luas areal panen dan sebagainya.
       -   Hal-hal lain yang dipandang penting seperti terjadinya bencana alam, banjir,
           kekeringan, adanya pelatihan, dan lain sebagainya.
       Laporan dibuat disampaikan kepada Rapat Anggota Tembusannya dikirimkan
       kepada : (i) Kepala desa, (ii) Kepala Dinas PU Pengairan Kabupaten, dan (iii)
       Kepala Dinas Pertanian Kabupaten.

4.5.   Kebutuhan Pokok Untuk O&P Jaringan Irigasi
       4.5.1. Biaya Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi
              a.   Biaya Operasi
                   Untuk keperluan operasi jaringan irigasi diperlukan biaya antara lain :
                   - Gaji/upah/honorarium petugas pelaksana operasi
                   - Perjalanan dinas
                   - Pembelian alat tulis, biaya surat-menyurat (perangko, meterai, dsb)
                   - Percetakan blanko-blanko operasi
                   - Biaya rapat-rapat dan lain-lain
                   Kebutuhan biaya operasi tiap bulan relatif hampir sama maka untuk
                   mudahnya dapat ditetapkan dari jumlah kebutuhan satu tahun dibagi
                   dua belas.
              b.   Biaya Pemeliharaan
                   Biaya pemeliharaan jaringan irigasi antara lain mencakup :
                   - Gaji/Upah/Honorarium petugas pelaksana pemeliharaan.
                   - Perjalanan Dinas
                   - Pembelian alat tulis dan biaya surat-menyurat (perangko, meterai,
                      dan lain sebagainya)
                   - Harga pekerjaan yang akan dikontrakan (Konstruksi)
                   Menyusun kebutuhan biaya pemeliharaan dapat dilakukan sebagai
                   berikut-berikut :


                                                                                         22
            1) Biaya perawatan rutin: Dihitung berdasarkan jumlah tenaga kerja
               dan lamanya pekerjaan dilakukan (terus-menerus selama satu
               tahun), berupa gaji/upah/honorarium, pembelian bahan, dan alat
               perlengkapan kerja.
            2) Biaya perawatan berkala: Dihitung berdasarkan volume pekerjaan
               yang dirawat secara periodik (pengecetan pintu, air, pembuangan
               lumpur dan lain-lain)
            3) Biaya perbaikan: Terlebih dahulu dilakukan penelusuran jaringan
               guna mendata kerusakan-kerusakan yang memerlukan perbaikan,
               serta urutan prioritasnya. Selanjutnya dibuat desain dan dihitung
               kebutuhan biayanya.
            4) Biaya perbaikan darurat: Karena kerusakannya belum diketahui,
               maka cukup dicadangkan jumlah tertentu sesuai dengan kondisi
               setempat.
            5) Biaya pengamanan: Dihitung sesuai dengan kebutuhann nyata.
            6) Biaya Penggantian Bangunan: Dihitung sesuai dengan kebutuhan
               nyata.
       c.   Cukup Pembiayaan
            Sumber utama pembiayaan didapat dari iuran anggota P3A. Selain
            dapat juga dari sumbangan atau bantuan dari pihak lain termasuk
            Pemerintah. Karena sumbangan belum dapat dipastikan adanya maka
            sebaiknya dalam penyusunan Rencana Biaya dianggap tidak ada dulu.
            Jika akhirnya ternyata ada maka dapat disusun Rencana Anggaran
            Biaya Tambahan (ABT).
       d.   Pertanggung Jawaban Pengeluaran Biaya
            Setiap pengeluaran biaya harus dipertanggung jawabkan oleh
            pelaksana yang bersangkutan. Bukti pengeluarannya dapat berupa
            pembayaran upah kerja, kuitansi pembelian bahan-bahan atau
            peralatan, dan sebagainya.
            Semua pegeluaran biaya tersebut harus dipertanggung jawabkan oleh
            Pengurus P3A kepada Rapat Anggita untuk disahkan.

4.5.2. Bahan-bahan, Peralatan, dan Perlengkapan Kerja
       Untuk kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi selalu diperlukan:
       -  Bahan-bahan: Bahan bangunan seperti semen, pasir, batu kali, dan
          sebagainya yang diperlukan untuk pemeliharaan bangunan irigasi.
       -  Peralatan : Alat-lat kerja seperti sabit, cangkul, linggis, dsb.
       -  Perlengkapan Kerja: Topi, jas hujan, lampu senter, dsb.
       Yang diperlukan oleh para pelaksana operasi dan pemeliharaan irigasi.

4.5.3. Pelatihan

       Agar seluruh hal-hal yang telah disebutkan diatas dapat diketahui dan
       dihayati oleh para petani pengelola jaringan irigasi, maka pelatihan perlu
       dilakukan..




                                                                                23
                                        Bab V
                                    PEMBINAAN P3A


5.1.   Umum
       Para petani pengelolaan jaringan irigasi harus dapat dikoordinasikan secara
       teraturdan terpadu, maka perlu dihimpun dalam organisasi yang dikenal dengan
       nama P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) atau nama lain sesuai dengan
       kondisi setempat. Hal ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah No. 23
       Tahun 1982 tetang Irigasi pasal 20 ayat (2) yang menyebut bahwa setiap pihak
       yang menggunakan air irigasi, baik perorangan maupun badan hukum, dan badan
       sosial harus menjadi anggota P3A.
       5.1.1. Pengertian Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)
              P3A adalah wadah perkumpulan para petani atau kelompok tani yang
              mengelola air irigasi dalam satu petak tersier atau daerah irigasi
              perdesaan (Pasal 1 huruf k Lampiran Inpres No. 2 tahun 1984).
       5.1.2. P3A Sebagai Pengelola Jaringan Irigasi
              Jika di desa atau Cluster yang akan termasuk dalam program
              pembangunan irigasi perdesaan ternyata belum ada organisasi P3A maka
              perlu dibentuk lebih dulu. Selanjutnya organisasi yang telah terbentuk itu
              dibina dan dikembangkan sehingga aktif dan mampu dibidang organisasi,
              finansial, dan teknis (baik dalam teknis pengoperasian dan pemeliharaan
              jaringan irigasi maupun teknis bercocok tanam, dan lain-lain).
              Jika di Desa atau Perdesaan tersebut organisasi P3Anya telah terbentuk,
              maka tinggal melanjutkan dengan mengaktifkan agar kemampuannya
              meningkat seperti tersebut di atas.
       5.1.3. Fungsi P3A Dalam Pelaksanaan Program Irigasi Perdesaan
              Dalam tahap persiapan pelaksanaan prgoram irigasi perdesaan, P3A
              mempunyai fungsi untuk turut aktif dalam penyampaian keinginan
              masyarakat petani di desa atau cluster setempat, serta pemberian saran-
              saran yang konstruktif guna terselenggaranya program tersebut sebaik-
              sebaiknya. P3A perlu secara detail memberikan informasi kepada Tim
              teknis terkait bagian-bagian jaringan irigasi yang harus diperbaiki atau
              direhabilitasi.
              Selama tahap pelaksanaan phisik, P3A harus turut aktif mengatur
              anggotanya agar ikut bekerja di bidang irigasi, dibawah koordinasi LKMD.
              Jika hal ini dilakukan, maka P3A akan mendapat dua keuntungan.
              -   Tambahan pendapatan finansial baik bagi organisasi maupun bagi
                  individu anggotanya
              -   Tambahan pengalaman bagi para anggotanya tentang cara
                  memperbaiki atau merehabilitasi jaringan irigasi yang secara teknis
                  dapat dipertanggung jawabkan. Pengalaman ini akan sangat berguna
                  bagi kemampuan teknis mereka jika kelak harus memperbaiki atau
                  merehabilitasi sendiri.

              Selanjutnya setelah pekerjaan selesai (tahap operasi dan pemeliharaan),
              kegiatan sepenuhnya menjadi kewajiban dan tanggung jawab P3A yang
              bersangkutan, Di tahap inilah P3A mempunyai peranan yang sangat
              menentukan untuk memanfaatkan jaringan irigasi agar dapat sebesar
              mungkin menguntungkan bagi para anggotanya.




                                                                                      24
5.2.   Organisasi
       5.2.1. Peraturan Perundang-Undangan
             Secara Nasional Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang
             P3A dapat dikemukakan sebagai beriktu :
             a. Undang-Undang No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan
             b. Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1982 tentang Irigasi
             c. Instruksi Presiden No, 2 Tahun 1984 tentang Pembinaan P3A
             d. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 12 tahun 1992 tentang
                Pembentukkan dan Pembinaan P3A
             e. Keputusan Gubernur Kdh Tk I di Propinsi masing-masing
             Peraturan perundang-undangan tersebut diatas secara formal masih
             berlaku semuanya. Sejalan dengan jiwa dan semangat “Reformasi” ada
             kesan bahwa peraturan perudang-undangan tersebut di atas lebih bersifat
             “top down”, maka sekarang sedang diproses suatu peraturan perudang-
             undangan baru yang jiwanya sesuai dengan “semangat Reformasi” yaitu
             lebih memberikan desentralisasi kepada masyarakat petani. Namun
             hingga tulisan ini disusun, proses penyusunannya produk baru tersebut
             belum selesai.
       5.2.3. Struktur Organisasi
             Susunan Organisasi P3A terdiri dari:
             -  Rapat Anggota
             -  Pengurus
             -  Anggota
             Rapat Anggota merupakan kekuasaan tertinggi dalam organisasi
             Pengurus P3A terdiri dari:
             -  Ketua dan Wakil Ketua
             -  Sekretaris
             -  Bendahara
             -  Pelaksana Teknis (Ulu-ulu P3A)
             -  Beberapa Ketua Blok / Petak kuarter
             Anggota P3A adalah semua petani yang mendapat nikmat dan manfaat
             dari irigasi:
             -    Pemilik awal
             -    Pemilik penggarap swah
             -    Penggarap/penyekap
             -    Pemilik kolam/tambak ikan yang mendapat air irigasi
             -    Kepala Desa dan Perangkat Desa lainnya yang memperoleh sawah
                  bengkok (Sawah milik Desa, hasilnya sebagai imbalan gaji)
             -    Badan Usaha yang memiliki atau mengusahakan sawah atau kolam
                  ikan
             -    Pemakai air irigasi lainnya
       5.2.3. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
             Setiap organisasi selalu dilengkapi dengan Anggaran Dasar (AD) dan
             Anggaran Rumah Tangga (ART). Anggaran Dasar pengatur hal-hal yang
             mendasar atau yang pokok-pokok bagi organisasi, termasuk hubungannya
             dengan pihak lain diluar organisasi. Sedangkan Anggaran Rumah Tangga
             mengatur penjabaran lebih lanjut dari Anggaran Dasar serta hal-hal yang
             belum diatur dalam Anggaran Dasar, terdapat yang menyangkut masalah
             internal organisasi.
       5.2.4. Pengurus P3A
             Pengurus P3A dipilih dari dan oleh anggota, umumnya terdiri atas:
             a. Ketua di bantu oleh Wakil Ketua, yang bertindak memimpin seluruh

                                                                                  25
                  kegiatan dan usaha organisasi.
             b.   Sekretaris, bertugas membantu Ketua dalam pekerjaan ketatausahaan
                  (surat-menyurat, pencatatan hasil-hasil rapat, dsb).
             c.   Bendahara, bertugas menyimpan dan mengeluarkan uang,
                  membukukan semua transaksi dalam Buku Kas Umum, dan menyusun
                  pertanggung jawaban keuangan yang akan disampaikan oleh
                  Pengurus dalam Rapat Anggora.
             d.   Pelaksana Teknis (Ulu-ulu P3A), betugas memimpin pelaksanaan
                  kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, serta menyusun
                  Laporan Pemanfaatan Irigasi.
             e.   Ketua Blok Kuarter, bertugas membantu Ulu-ulu P3A dalam
                  melaksanakan O&P jaringan irigasi diwilayahnya masing-masing.
       5.2.5. Administrasi (Ketatausahaan)
             Administrasi yang dimaksud disini adalah administrasi dalam pengertian
             sempit atau sering disebut Tata Usaha, yaitu pelaksanaan catat-mencatat,
             surat-menyurat, dan lain-lain yang sejenis dengan itu. Karena umumnya
             pengetahuan para petani tentang Administrasi masih lemah, maka perlu
             dibina bagaimana pengadministrasian yang baik.
             Secara umum kita mengenal tiga macam administrasi:
             -  Administrasi Teknis: yang mengyangkut hal-hal yang bersifat teknis
                seperti pengoperasian, pemeliharaan, tata tanam, dsb. Administrasi
                Teknis diselenggarakan oleh Ulu-ulu P3A dan para Ketua Blok.
             -  Administrasi Keuangan: yang menyangkut masalah keuangan seperti
                pembukuan keluar masuknya uang, pertanggung jawaban keuangan,
                dsb. Administrasi Keuangan diselenggarakan oleh bendahara.
             -  Administrasi Umum: ini menyangkut semua jenis ketatausahaan yang
                tidak termasuk dalam administrasi umum dilakukan oleh sekretaris.
             Antara ketiga administrasi tersebut harus ada koordinasi, agar tidak terjadi
             tumpang tindih atau terlepas dari ketiga-tiganya.

5.3.   Tugas, Hak dan Kewajiban, serta Sanksi
       5.3.1. Tugas Pokok P3A
             Tugas pokok P3A adalah sebagai berikut :
             a. Mengelola air dan jaringan irigasi di daerah irigasi perdesaan air irigasi
                dapat dimanfaatkan oleh para anggotanya secara tepat guna dan
                berhasil guna dalam memenuhi kebutuhan pertanian dengan
                memperhatikan unsur pemerataan diantara sesama petani.
             b. Melakukan pemeliharaan jaringan irigasi perdesaan, sehigga jaringan
                irigasi tersebbut dapat tetap terjaga kelangsungan fungsinya.
             c. Menentukan dan mengatur iuran dari para anggota yang berupa uang,
                hasil panen atau tenaga untuk pendayagunaan air irigasi dan
                pemeliharaa jaringan irigasi          perdesaan serta usaha-usaha
                pengembangan perkumpulan sebagai suatu organisasi.
             d. Membimbing dan mengawasi para anggotanya agar memenuhi semua
                peraturan yang ada hubungannya dengan pemakaian air yang
                dikeluarkan oleh perkumpulan.
             Ringkasnya tugas pokok P3A adalah melaksanakan operasi dan
             pemeliharaan jaringan irigasi. Akhir-akhir ini ada ide untuk memperluas
             tugas P3A dengan tugas tambahan, yaitu melakukan usaha-usaha lain
             yang sah menurut hukum seperti penyewaan traktor, pompa air, saprotan
             dan sebagainya. Ditinjau dari maksudnya ide tersebut cukup baik, namun
             perlu diingat bahwa kegiatan O&P jaringan irigasi adalah kegiatan pokok,
             yang tak boleh terabaikan karena konsentrasinya beralih ke bidang lain
             tersebut.

                                                                                       26
5.3.2. Hak dan Kewajian Anggota
       Setiap anggota P3A berhak mendapat pelayanan air irigasi sesuai dengan
       ketentuan pembagian ari yang telah ditetapkan. Setiap anggota wajib turut
       melestarikan jaringan irigasi, membayar iuran, dan mematuhi ketentuan-
       ketentuan lain yang ditetapkan oelh Rapat Anggota.
5.3.3. Sanksi Terhadap Pelanggaran
       Sanksi atas pelanggaran baik yang dilakukan oleh anggota pengurus
       maupun anggota biasa harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang
       tercantum dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, atau
       ketentuan lain yang ditetapkan oleh Rapat Anggota.
5.4.   Pembiayaan dan Sumber Dana
       Segala pekerjaan yang dilakukan oleh P3A baik untuk keperluan operasi
       dan pemeliharaan, dan perbaikan jaringan irigasi maupun untuk kegiatan
       lainnya harus membiayai sendiri oleh P3A yang bersangkutan.
       Sumber biaya P3A terdiri dari :
       -  Iuran Anggota
       -  Sumbangan atau Bantuan
       -  Usaha-usaha lain yang sah menurut hukum
       Dalam hal P3A secara teknis dan dinansial tidak mampu, Pemerintah
       Daerah Tingkat II, Tingkat I, maupun Pusat dalam batas-batas tertentu
       dalam memberi bantuan pembiayaan pembangunan jaringan irigasi.
5.5.   Institusi Pembina P3A
       Dalam Inpres No. 2 Tahun 1984 yang dijabarkan lebih lanjut dalam
       Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 12 Tahun 1992 pembina P3A diatur
       sebagai berikut:
       a.   Pembina dari segi Keorganisasian P3A dilakukan oleh :
            1.   Gubernur KDH Tk I memberi petunjuk kepada Bupati / Walikota
                 madya KDH Tk II untuk pembinaan dan pengembangan P3A.
            2.   Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II bertanggung
                 jawab atas pelaksanaan pembinaan dan pengembangan P3A.
            3.   Camat melaksanakan koordinasi dan pengawasan atas
                 pelaksanaan dan pengembangan P3A.
            4.   Camat melaksanakan koordinasi dan pengawasan atas
                 pelaksanaan dan pengembangan P3A
            5.   Kepala Desa melaksanakan pembinaan dan pengembangan P3A
                 sesuai dengan tanggung jawab dan wewenangnya
       b.   Dari segi teknis, para pejabat tersebut diatas dibantu oleh instansi
            teknis sebagai berikut :
            1.   Bidang keteknikan irigasi oleh Dinas Pekerjaan Umum atau
                 instansi Pekerjaan Umum/Pengairan dengan tugas untuk
                 membina, membimbing serta penyuluhan kepada P3A dalam hal
                 yang berhubungan dengan survai dan disain, konstruksi serta
                 operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi perdesaan.
            2.   Bidang keteknikan pertanian oleh Dinas dalam lingkup Pertanian,
                 dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada P3A
                 dalam hal yang berhubungan dengan dengan pemanfaatan air
                 irigasi, yang meliputi rekomendasi kebutuhan air, penerapan pola
                 tanam dan teknik pemanfaatan air untuk pertanian dalam arti luas
                 sesuai dengan kondisi setempat serta peningkatan pengetahuan
                 dan keterampilan petani dalam hal tersebut.


                                                                               27

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:11867
posted:1/27/2011
language:Indonesian
pages:28