Docstoc

SENI DAN BUDAYA PERSPEKTIF NUHAMMADIYAH

Document Sample
SENI DAN BUDAYA PERSPEKTIF NUHAMMADIYAH Powered By Docstoc
					                      PERSPEKTIF MUHAMMADIYAH
                 TERHADAP KEBUDAYAAN DAN SENI
    _______________________________________________________________________________________________
                                    NAMA : Muhammad Saleh

                                       NPM : 20090720056

                   MATA KULIAH : APRESIASI SENI DAN BUDAYA ISLAMI

____________________________________________________________________________________________________



Definisi

        Sebelum memaparkan pandangan muhammadiyah mengenai kebudayaan dan
seni, terlebih dahulu akan disajikan definisi kebudayan dan seni agar jelas dalam
memahaminya.

        Kalua mencari definisi tentang kebudayaan, kita akan mendapatkan banyak
sekali makna yang diberikan oleh para tokoh sesuai dengan kapasitas ilmu yang mereka
kuasai. Melville J. Herkovitas menyebutkan 160 definisi kebudayaan. Ini sebagai bukti
bahwa ta’rif atau definisi kebudayaan sangat beragam dan ada yang saling
bertentangan. (Endang, 2004: 101)

        Di indonesia khususnya, sering terjadi kesalahpahaman dan kesimpangsiuran
dalam memaknai dan memahami kebudayaan ini. Oleh karena itu, berikut kami
cantumkan beberapa pengertian kebudayaan sebagai acuan dalam memahami
kebudayaan.

        Endang dalam bukunya “Wawasan Islam” mendefinisikan kebudayaan adalah
hasil karya, cipta, pengolahan, pengerahan dan pengarahan manusia terhadap alam
dengan kekuatan jiwa, pikiran, perasaan, kemauan, intuisi, imajinasi, raga, dan fakultas-
fakultas rohaniah lainnya, yang menyatakan diri dalam pelbagai kehidupan
rohaniahdan kehidupan lahiriah manusia.

        Soenardjo Kolopaking mengatakan, kebudayaan atau kultur adalah totalitas dari
milik dan hasil usaha (prestatie) manusia yang diciptakan oleh jiwanya dan oleh proses
saling mempengaruhi antara kekuatan-kekuatan jiwa tadi dan antara jiwa manusia yang
satu dengan yang lainnya.

      Edward Burnett Taylor, seorang ahli kebudayaan Inggris pada abad ke-19,
mengatakan: kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks dari kehidupan, meliputi
ilmu atau pengetahuan, dogma-dogma teologi, nilai-nilai moral, hukum adat istiadat
masyarakat dan semua kemampuan yang diperoleh seseorang dalam kedudukannya
sebagai anggota masyarakat.

      Dari definisi di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa kebudayaan atau kultur
adalah hasil karya manusia yang lahir dari kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh
manusia. Karya yang dihasilkan manusia tersebut mencakup banyak aspek. Endang
membagi ruang lingkup kebudayaan secara garis besar kepada dua bagian besar, yaitu:
kebudayaan immateri yang terdiri dari filsafat, ilmu pengetahuan, kesenian, kaidah-
kaidah budaya, bahasa, Agama budaya, teknik, ekonomi dan pencarian hidup, politik,
dan pendidikan. Sedangkan yang kedua adalah kebudayaan material, seperti alat-alat
penguasaan alam, alat-alat perlengkapan hidup, pakaian, perumahan, dll.

      Kebudayaan ini lahir sebagai jawaban atas segala tantangan, tuntutan, dan
dorongan intradiri manusia dan ekstradirinya, untuk menuju terwujudnya kebahagiaan
dan kesejahteraan spiritual dan material. Dan ini bisa terjadi pada individu dan
kelompok serta dapat diwariskan secara turun temurun sebagaimana yang kita
saksikan pada masyarakat Indonesia.

      Seni atau kesenian adalah merupakan manifestasi budaya (priksa, rasa, karsa,
intuisi, dan karya) manusia yang memenuhi syarat-syarat estetik. Jenis-jenis kesenian
antara lain: seni sastra dan kesusastraan, seni musik, seni tari, seni rupa, dan seni
drama atau teater.




Pandangan Muhammadiyah

      Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dari yang tradisional sampai
dengan yang modern. Hampir setiap propinsi mempunyai budaya, mulai dari budaya
tarian daerah, teater rakyat atau pertunjukan, lagu-lagu daerah, rumah adat dll. Dari
sekian banyak cultur yang berkembang dan eksis banyak pula yang bertentangan
dengan norma-norma agama Islam.

       Yogyakarta, sebagai tempat lahirnya Muhammadiyah juga sangat kental dengan
budaya kratonnya yang tidak sedikit dari budaya-budaya tersebut yang bertentangan
dengan ajaran Islam yang didakwahkan K.H. Ahmad Dahlan. Seperti slametan,
menempatkan sesaji di tempat-tempat tertentu, meyakini akan adanya makhluk yang
disebut sebagai Nyai Roro Kidul dan sebagainya.

       Jauh sebelumnya Islam masuk ke Indonesia, penduduknya telah menganut
agama Hindu dan Budha dengan segala amalan dan tradisi yang ada di dalamnya.
Kemudian setelah sekian abad, Islam masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, wajar kalau
umat Islam masa itu masih mengamalkan ajaran Islam bercampur dengan kultur agama
yang dianut sebelumnya dan dalam perspektif akidah Islam (tauhidullah) jelas
kontradiksi dan terjebak dalam perbuatan bid’ah yang pelakunya diancam oleh Nabi
dengan ancaman Neraka. Cultur tersebut seperti percaya kepada benda-benda keramat
seperti keris, tombak, batu aji, pergi ketempat-tempat yang dianggap keramat, adanya
hari baik dan hari buruk dan sebagainya.

       Kondisi-kondisi tersebut mendorong K.H. Ahmad Dahlan untuk melakukan
pemurnian ajaran Islam dari pengaruh-pengaruh budaya atau kultur agama atau
keyakinan lain. Lalu dikemudian hari Muhammadiyah dikenal dengan gerakan tajdid
(pembaruan), yaitu pemurnian ajaran Islam dari berbagai kotoran yang menempel
dalam tubuhnya. (Musthafa Kamal Pasha dkk., 2003: 83). Pemurnian dalam hal ini
dikenal dengan istilah purifikasi.

       Sifat tajdid (pembaruan) yang menjadi jati diri Muhammadiyah tersebut tidak
melulu bermakna purifikasi akan tetapi juga tajdid bermakna reformasi atau dinamisasi
yang berarti pembaruan dalam cara-cara pelaksanaan ajaran Islam dalam kehidupan
masyarakat    semacam      memperbarui     cara   penyelenggaraan   pendidikan,   cara
pengelolaan rumah sakit dll.

       Lantas, dengan semangat tajdidnya, apakah Muhammadiyah mengharamkan
semua budaya (termasuk di dalamnya seni karena seni merupakan produk budaya) ?
untuk menjawabnya, terkait sikap Muhammadiyah terhadap kebudayaan dan seni
berikut saya cantumkan keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-44 tahun 2002 di
Jakarta yang sekarang telah dicantumkan dalam PHIWM (Pedoman Hidup Islami Warga
Muhammadiyah), hal.: 92)

       1. Islam adalah agama fitrah, yaitu agama yang berisi ajaran yang tidak
          bertentangan dengan fitrah manusia, Islam bahkan menyalurkan, mengatur,
          dan mengarahkan fitrah manusia itu untuk kemuliaan dan kehormatan
          manusia.

       2. Rasa seni sebagai penjelmaan rasa keindahan dalam diri manusia merupakan
          salah satu fitrah yang dianugerahkan Allah swt yang harus dipelihara dan
          disalurkan dengan baik dan benar sesuai dengan jiwa ajaran Islam.

       3. Berdasarkan keputusan Munas Tarjih ke-22 tahun 1995 bahwa karya seni
          hukumnya mubah (boleh) selama tidak mengarah atau mengakibatkan fasad
          (kerusakan), dharar (bahaya), ‘ishyan (kedurhakaan), dan ba’id anillah
          (terjauhkan dari Allah); maka pengembangan kehidupan seni dan budaya
          dikalangan Muhammadiyah harus sejalan dengan etika atau norma-norma
          Islam sebagaimana dituntunkan tarjih tersebut.

       4. Seni rupa yang obyeknya makhluk bernyawa seperti patung hukumnya
          mubah bila untuk kepentingan sarana pengajaran, ilmu pengetahuan, dan
          sejarah; serta menjadi haram bila mengandung unsur yang membawa ‘ishyan
          (kedurhakaan) dan kemusrikan.

       5. Seni suara baik seni vokal maupun instrumental, seni sastra dan seni
          pertunjukan pada dasarnya mubah (boleh), serta menjadi terlarang
          manakala seni dan ekspresinya baik dalam wujud penandaan tektual maupun
          visual tersebut menjurus pada pelanggaran norma-norma agama.

       6. Setiap warga Muhammadiyah baik dalam menciptakan maupun menikmati
          seni dan budaya, selain dapat menumbuhkan perasaan halus dan keindahan
          juga menjadikan seni dan budaya sebagai sarana mendekatkan diri kepada
          Allah, dan sebagai media atau sarana dakwah untuk membangun kehidupan
          yang berkeadaban.

       7. Menghidupkan sastra Islam sebagai bagian dari strategi membangun
          peradaban dan kebudayaan Muslim.



       Dari point-point keputusan Muktamar di atas, dapat diketahui dengan jelas
pandangan    Muhammadiyah       terhadap    kebudayaan     dan   seni.   Muhammadiyah
berpandangan bahwa berbudaya atau berseni merupakan fitrah manusia. Allah telah
memberikan fitrah tersebut kepada manusia dan karunia itu tidak boleh dihilangkan
dan dibiarkan liar dan bebas. Akan tetapi Islam telah memberikan arahan bagaimana
seharusnya menyalurkan fitrah itu sehingga tetap berada di atas koridor yang telah
ditetapkan Allah dan sesuai dengan jiwa ajaran Islam. (lihat point 1 dan 2)
       Endang Dalam bukunya “Wawasan Islam” mengatakan: “sepanjang pengetahuan
       penulis, Islam tidak memberikan teori atau ajaran yang terinci mengenai seni
       dan estetika (berbeda halnya dengan etika). Jika kesimpulan penulis tidak keliru,
       maka hal demikian barangkali termasuk kategori “dunya” dalam hadits
       Rasulullah saw, “antum a’lamu bi umuri dunyakum” (kalian lebih mengetahui
       urusan dunia kalian). (2004: 105)



       Penulis sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Endang bahwa kesenian itu
termasuk urusan dunia yang dalam Muhammadiyah dikenal dengan sebutan
“mu’amalah dunyawiyah”. Oleh karena itulah, Muhammadiyah berpandangan bahwa
pada dasarnya seni itu hukumnya mubah (boleh). Dalam kaidah fikih disebutkan bahwa
“al-ashlu fil mu’amalah al-ibahah” (pada dasarnya hukum yang kuat dalam perkara
mu’amalah adalah boleh). Akan tetapi manakala dalam seni tersebut ada hal-hal lain
yang mengarah atau menyebabkan pelanggaran terhadap norma-norma Islam baik
berupa kerusakan (fasad), kedurhakaan kepada Allah, maka hukumnya menjadi haram.
(lihat point 3 dan 5).

       Jadi, sebenarnya yang diharamkan bukan seninya, akan tetapi hal-hal lain yang di
luar seni tersebut. Seperti bernyanyi hukumnya boleh, akan tetapi karena dalam lirik
nyanyian itu mengandung kata-kata yang bertentangan dengan norma Islam, maka ia
menjadi haram. Begitu juga dengan budaya tari-tarian. Tari-tariannya asalnya boleh,
menjadi tidak boleh jika tari-tarian tersebut menggunakan pakaian yang tidak menutup
aurat, misalnya dan lain-lain.

       Dengan     demikian,      jelaslah    bahwa    Muhammadiyah      sangat   mendukung
berkembangnya seni dan budaya dengan tetap memerhatikan nila-nilai atau norma-
norma Islam supaya jangan sampai melampaui batas. Bahkan Muhammadiyah sekarang
membuat strategi dakwah yang disebut dengan dakwah kultural, yaitu: upaya
menanamkan       nilai-nilai   Islam        dalam   seluruh   dimensi   kehidupan   dengan
memperhatikan potensi dan kecendrungan manusia sebagai makhluk budaya secara
luas, dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. (Haidar,
2010: 277). Wallaahu ‘a’lamu bish shawaab.
        Referinsi:

        Ahmad Najib Burhani, Muhammadiyah Jawa, Jakarta: Al-Wasat Publishing House,
2010.

        Haedar Nashir, Muhammadiyah Gerakan Pembaruan, Yogyakarta: Suara
Muhammadiyah, 2010.

        H. Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam, Pokok-pokok Pikiran Tentang
Paradigma dan Sistem Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 2004.

        H. Musthafa Kamal Pasha, H. A. Rosyad Sholeh, dan H. Chusnan Jusuf,
Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid, Yogyakarta: Citra Karsa Mandiri, 2003.

        Keputusan Muktamar Ke-44 (Perh.), Cet. Edisi Revisi, Pedoman Hidup Islami
Warga Muhammadiyah, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2009.

        (http://www.anneahira.com/indonesia/budaya-indonesia.htm)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2519
posted:1/26/2011
language:Malay
pages:6
Description: Uraian tentang pandangan muhammadiyah tentang seni dan budaya. bagaimana muhammadiyah memandang perkembangan seni dan budaya di Tanah air ini???anda bisa membaca makalah ini...