PANJI SEMIRANG by Kravzhenko

VIEWS: 6,306 PAGES: 3

paper ini mengisahkan cerita rakyat tentang panji semirang

More Info
									                                      CERITA PANJI SEMIRANG

Cerita Panjimerupakan cerita Jawa asli. Cerita ini timbul pada zaman Kerajaan Kediri

dan Jonggala. Tetapi menurut Prof. Poerbatjaraka baru dibukukan (disalin) pada zaman
Kerajaan Mojopahit. Cerita Panji dianggap bersumber dari Kakawin Smaradahana yang
ditulis oleh Mpu Dharmaja. Jadi ditulis dari bahasa Jawa kuno.

Hingga sekarang Cerita Panji ini banyak macamnya. Tetapi pokok ceritanya sama, yaitu
tentangPan ji Semirang. Nama-nama lainnya ialah: Hikayat Panji Kuda Semirang,
Hikayat Dalang Indera Kusuma, Mesa Lara Kusuma Cabut Tunggal, Mesa Urip Panji

Jayalelana, Undakan Panurat,Pan ji Jayang Tilam, Dewa Asmara, Endang Malat, Mesa
Taman Wilakusuma,Pan ji Wilakusuma, Cekel Waneng Pati, Jaran Kinanti
Asmarandana, atauHik ayat Noyokusumo.

Di Palembangcerita ini dikenal dengan nama Anggreni. Di Bali dikenal dengan nama
Malat. Dalam bentuk syair dikenal dengan nama Syair Ken Tambuhan dan SyairPan ji
Semirang.

Secara ringkas, cerita panji ini adalah sebagai berikut.

Raja Daha mempunyai dua orang putri. Dengan permaisurinya ia berputra seorang
bernama Galuh Candra Kirana, seorang putri yang cantik, dan lemah-lembut tutur
katanya membuat orang tertarik kepadanya. Seorang putri lagi bernama Galuh Ajeng,
keturunan yang diperoleh atas perkawinan dengan selirnya bernama Paduka Liku. Tabiat
Galuh Ajeng tidak baik dan selalu iri hati terhadap kakak tirinya, Galuh Candra Kirana.
Dayang-dayang dan orang-orang istana tidak senang kepadanya.

Baginda raja mempunyai beberapa orang saudara. Seorang menjadi raja di Kahuripan dan
seorang menjadi raja Gagelang, seorang lagi wanita, menjadi pertapa di Gunung Wilis
dengan gelar Gandasan.

Raja Kahuripan mempunyai seorang putra yang tampan dan baik perangainya, bernama
Raden Inu Kertapati. Raja Kahuripan ingin supaya putranya menikah dengan putri
layaknya sebagai menantu raja. Pilihan jatuh kepada putrid saudaranya yang cantik, yaitu
Galuh Candra Kirana. Dikirimlah utusan ke Daha untuk meminang, dan dengan, senang
hati raja dan rakyat menerima pinangan itu. Paduka Liku sajalah yang tidak senang.
Timbul maksud jahatnya menyingkirkan permaisuri serta Galuh Candra Kirana, agar ia
dapat menggantikan kedudukan sebagai permaisuri dan galuh Ajeng dapat dijodohkan
dengan Raden Inu Kertapati.
                                     DAMARWULAN

Sandhyakala ning Majapahit merupakan sebuah drama yang ditulis berdasarkan cerita karya
sejarah (tentang Kerajaan Majapahit) . Pada bagian awal, yaitu bagian „Kata Bermula‟
diungkapkan bahwa cerita tersebut ditulis berdasarkan berita dalam Serat Kanda, Damar Wulan,
Pararaton, dan Nagarakrtagama. diterbitkan untuk pertama kalinya oleh Pustaka Jaya, Yayasan
Jaya                        Raya,                           tahun                        1971.
Cerita drama SNM ini terdiri atas pengantar cerita (Kata Bermula) dan lima bagian (babak).
Kata bermula berisi tentang doa kepada Syiwabudha, agar lakon yang dipersembahkan itu
berjalan dengan selamat. Selain itu, diceritakan pula asal (sumber) cerita, siapa tokoh Damar
Wulan itu, dan harapan pujangga kepada generasi berikutnya untuk membuat naskah drama yang
lebih baik.

Drama ini berkisah tentang tokoh Damar Wulan yang bergelar Raden Gajah, seorang pahlawan
di Kerajaan Majapahit, yang kemudian dihukum mati karena dituduh ingin menguasai kerajaan.
Ia adalah putra dari Patih Udara dan Nawangsasi, dan keponakan dari Patih Majapahit. Di dalam
diri Damar Wulan mengalir dua bakat, yaitu bakat seorang pendita dan bakat seorang kesatria.
Kedua bakat itulah yang membuat tokoh utama dalam SNM ini menjadi seakan berputus asa,
seakan menjadi seorang yang bimbang. Kedua bakat itu pula, akhirnya, membawa Damar Wulan
pada situasi yang sulit dan membingungkan, ketika Majapahit membutuhkan tenaganya untuk
menghadapi Adipati Wirabumi, Menak Jingga, yang berkhianat kepada kerajaan. Dia berada
dalam dilema antara kewajiban menjadi seorang kesatria dan keinginan untuk menjadi seorang
pendita. Kedua pilihan tersebut sama-sama sulit atau tidak menguntungkan untuk saat itu di
Majapahit. Namun kemudian, dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran yang sulit serta
berkat dorongan kekasihnya, Anjasmara, dia memutuskan untuk berangkat ke Wirabumi sebagai
kesatria, guna menjatuhkan Menak Jingga.

Sebagai seorang keturunan kesatria, sejak kecil Damar Wulan telah dipersiapkan untuk menjadi
seorang kesatria. Ke-kesatria-an ini telah dibuktikannya dengan ikut membantu Adipati Tuban
berperang melawan Menak Jingga, di Wirabumi. Dalam perang itu, Damar Wulan
memperlihatkan kehandalannya sebagai prajurit perang. Oleh karena itu pula, dia direkomendasi
oleh Adipati Tuban untuk mengantikannya sebagai pemimpin pasukan perang ke Wirabumi.
Hanya saja, setelah kembali ke Paluh Amba, setelah ikut berperang membantu Adipati Amba,
dia menjadi bimbang. Dia menyadari, bahwa “ketika perang masih berlaku hanya kuingat maju
ke muka, memusnahkan segala yang menghambat daku” . Akan tetapi, setelah itu, dia senantiasa
teringat orang yang telah dibunuhnya. Dia tidak sampai hati melihat anak dan ibunya menunggu
bapak dan suaminya di pintu gerbang. Tangisan anak dan ibu tadi sangat memilukan hatinya dan
membuat jiwanya menderita, dan perasaan berdosa selalu membebaninya.

Sementara itu, Damar Wulan juga melihat dan berpikir bahwa Majapahit tidak perlu ditolong
lagi. Sebenarnya, tanpa serangan Menak Jingga pun, Majapahit telah runtuh. Hal itu disebabkan
oleh „bobrok‟nya moral para pendita dan para bangsawan. Agama tidak lagi diperlukan untuk
meninggikan budi, tetapi diperlukan untuk memperkukuh kekuasaan. Pendita hanya berguna
untuk menambah kebodohan, karena agama dijadikan takhyul dan arca disembah seperti dewa.
Para kesatria sudah berlaku sebagai perampok, sementara rakyat semakin kurus dan sengsara.

Kedua kondisi di atas mendorong Damar Wulan untuk berpikir memilih menjadi seorang
pendita. Oleh karena itu pula, dia cukup lama berdiam diri dan tidak menghiraukan Majapahit
yang „nyaris‟ dikuasai oleh Menak Jingga. Barangkali, hal itu dilakukan oleh Damar Wulan
adalah untuk menebus perasaan berdosanya tadi. Dengan demikian, dia juga berharap akan dapat
menyadarkan para pendita dan para bangsawan dan mengembalikan agama kepada fungsi dan
posisinya yang semula. Akan tetapi, jauh dilubuk hatinya, Damar Wulan merasakan panggilan
yang sangat kuat untuk menjadi seorang kesatria. Di samping itu, dia sadar betul bahwa
Majapahit berada dalam kondisi yang sangat menjemaskan. Tentu saja, keinginannya itu menjadi
tidak tepat untuk kondisi negara yang seperti itu. Dalam keadaan negara yang kacau, dia tidak
akan dapat melakukan perbaikan di bidang agama dan moral tadi. Itulah dilema yang dihadapi
oleh Damar Wulan. Namun, akhirnya, dia memutuskan untuk pergi berperang melawan Menak
Jingga ke Wirabumi.

Pilihan akhir dari Damar Wulan membuat keinginannya menjadi kenyataan. Dia menang
melawan Menak Jingga dan diangkat menjadi Ratu Angabaya. Dia berhasil mengembalikan
moral dan agama pada posisinya semula di kalangan rakyat, tetapi dia dimusuhi oleh para
pendita dan para bangsawan, yang takut kekuasaannya akan menjadi hilang. Akhirnya, Damar
Wulan dihukum mati, karena dituduh akan merebut kekuasaan Majapahit oleh kedua kaum tadi.
Meskipun, Damar Wulan mati, namun dia telah berhasil menyadarkan rakyatnya. Hal itu
dibuktikan oleh kemarahan rakyat mendengar Damar Wulan dihukum mati. Mereka menyerang
Majapahit dan untuk kemudian Majapahit runtuh dan digantikan oleh Kerajaan Islam. ***

								
To top