Docstoc

AUDIT LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN _LIMBAH B3_

Document Sample
AUDIT LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN _LIMBAH B3_ Powered By Docstoc
					PENGELOLAAN B3 & LIMBAH B3




       Materi PDIL: Setyo S. Moersidik

       Program Studi Ilmu Lingkungan
       Program Pascasarjana - Universitas Indonesia
       12 Mei 2009
BAGIAN I: PRINSIP SML



1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   2
DEFINISI SML
 Pendekatan pengorganisasian untuk
  pengelolaan lingkungan
 Target dan obyektif dari pengelolaan
  dilaksanakan sebagai bagian dari
  operasi/kegiatan sehari-hari
 SML dilaksanakan dalam struktur dan
  kebijakan yang dilembagakan dan
  merupakan bagian dalam sistim
  perbaikan lingkungan yang berlanjut

1/25/2011    S. S. Moersidik: SML Limbah B3   3
KEBERHASILAN SML
 Efektif dalam pembiayaan
 Ekonomis/murah
 Selaras dengan peraturan
 Berlandaskan sistim dan kinerja
 Dapat dilaksanakan, praktis dan
  terpakai
 Fokus pada perbaikan secara terus-
  menerus (continuous improvement)
1/25/2011    S. S. Moersidik: SML Limbah B3   4
PRINSIP UMUM
 SML membantu/mendukung lembaga/institusi
  dalam menjalankan misinya – bukan
  sebaliknya
 SML adalah sebuah proses – bukan hasil akhir
 SML adalah orang dengan kegiatannya – bukan
  aspirasi/ gagasan atau kata-kata yang tidak
  terimplementasikan
 Perbaikan lingkungan tercermin pada
  perubahan sikap dan perilaku pada lingkungan
 Berawal dari komitmen atasan dan yang
  dilaksanakan pada seluruh jajaran
  institusi/lembaga
1/25/2011      S. S. Moersidik: SML Limbah B3   5
KOMPONEN BESAR SML




1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   6
SIKLUS PDCA




1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   7
P: PLANNING (Perencanaan)




1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   8
P: PLANNING (Perencanaan)
 Identifikasi sumber kegiatan penghasil
  Limbah B3
 Identifikasikan peraturan dan perundangan
  terkait
 Identifikasi aspek lingkungan dan
  dampaknya
 Tetapkan dampak yang harus dikelola
  sebagai prioritas
 Susun obyektif dan target pengelolaannya
 Buat program pengelolaan lingkungannya !

1/25/2011      S. S. Moersidik: SML Limbah B3   9
D: DO (Implementasi)




1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   10
D: DO (Implementasi)
 Pengorganisasian dengan struktur yang
  dilembagakan
 Training tentang keperdulian dan
  kompetensi yang terkait
 Komunikasikan pada seluruh jajaran
  manajemen
 Kontrol:
           Dokumentasi SML
           Dokumen kontrol
           Dokumen pengoperasian
           Dokumen Sistim Tanggap Darurat (STD)


1/25/2011              S. S. Moersidik: SML Limbah B3   11
C: Check (Kontrol & Awasi)




1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   12
C: Check (Kontrol & Awasi)
 Pengukuran dan monitoring dari
  kegiatan yang sedang berjalan
 Audit internal SML secara periodik
 Koreksi dan pencegahan pada
  penyimpangan yang ada
 Rekam seluruh kejadian



1/25/2011    S. S. Moersidik: SML Limbah B3   13
A: ACTION (Kaji dan Kelola)




1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   14
A: ACTION (Kaji dan Kelola)
 Perhitungkan:
   Hasil temuan audit
   Rekaman kemajuan dan obyektif perubahan pada
      fasilitas yang ada
   Perubahan pada aktivitas, produk dan jasa yang ada
   Perubahan teknologi
   Concern pada fihak terkait
   Informasi lain yang relevan
 Kaji: kelayakan, kepantasan, dan kinerja SML
 Tetapkan dan putuskan hal terkait:kebijakan
  lingkungan secara umum, kebijakan dan target SML
  yang dibuat, elemen lain dari SML yang diperlukan


1/25/2011         S. S. Moersidik: SML Limbah B3     15
KETERKAITAN DALAM SML




1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   16
            BAGIAN II:
PENGELOLAAN LIMBAH B3


1/25/2011    S. S. Moersidik: SML Limbah B3   17
LATAR BELAKANG
PENGELOLAAN B3-LIMBAH B3
     meningkatnya penggunaan bahan berbahaya dan beracun
      pada berbagai kegiatan, antara lain pada kegiatan
      perindustrian, pertambangan, kesehatan dan juga
      kegiatan rumah tangga
     adanya kebutuhan industri penghasil limbah B3 - terutama
      sekitar Jakarta - terhadap kesediaan fasilitas pengolahan
      dan penimbunan limbah B3 yang berwawasan lingkungan
     meningkatnya upaya pengendalan pencemaran udara dan
      pengendalian pencemaran air yang akan menghasilkan
      lumpur atau abu yang berbahaya dan beracun
     Indonesia merupakan salah satu negara tujuan tempat
      pembuangan limbah




1/25/2011             S. S. Moersidik: SML Limbah B3         18
MENGAPA LIMBAH HARUS
DIOLAH/KELOLA ?
   Limbah harus dikelola dengan alasan lingkungan, bahwa
    limbah dapat (berpotensi) mencemari lingkungan
    kehidupan manusia.
   Limbah harus dikelola dengan proses dan pendekatan
    untuk memperkecil dampak melalui upaya memperpanjang
    nilai tambah sebagai produk/produk sampingan sebelum
    nantinya limbah diolah
   Upaya yang dilakukan adalah melalui pendekatan reduce
    dengan 3R (reuse, recycle dan recovery)
   Dengan bertambahnya nilai manfaat limbah maka
    pemakaian sumberdaya dapat diefesiensikan
    pemanfaatannya
   Pengolahan limbah sendiri harus menggunakan proses dan
    pendekatan teknologi yang akrab lingkungan


1/25/2011           S. S. Moersidik: SML Limbah B3      19
APA ITU LIMBAH
 Limbah adalah sisa dari suatu
  usaha/kegiatan (UU 23/1997 PLH)
 Limbah dihasilkan dari suatu proses
  transformasi dari bahan menjadi
  produk
 Dalam proses dan transformasi yang
  terjadi terdapat perubahan
  karakteristik dan sifat dari bahan
  yang berpotensi merusak/mencemari
  lingkungan
1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   20
PRINSIP PENGKAJIAN LIMBAH


  Aliran
  Bahan
            Proses Produksi                      Produk
  Baku &
 Penolong



                  Pengelolaan limbah                 Pengelolaan limbah
                 Pada proses produksi                   Pasca produk




1/25/2011       S. S. Moersidik: SML Limbah B3                     21
                                                                 Persepsi atas nilai
    Pengembangan                                                Dan manfaat barang
Produk (sbg.kebutuhan)                                          (pengaruh budaya)




                             Sales Transportation
Manufacturing    Packaging                          Consumers          Final Dispositions
                                & Distributions




                                   Limbah



                         Dampak Pada Lingkungan
SIFAT DAN KARAKTERISTIK
LIMBAH
 Kegiatan     Jenis            Sifat           Potensi          Media
             Limbah                           Pencemar         Tercemar
Domestik     Padat, cair,   Non B3           Pencemaran      Air, tanah, pantai
(rumah                                       ringan-sedang
tangga
Pertanian/   Padat, cair,   Non B3           Pencemaran      Air, tanah, pantai
perikanan                                    ringan-sedang
Industri     Padat, cair    Non B3 dan       Pencemaran      Air, tanah, pantai
wisata                      Limbah B3        sedang-berat


Industri     Padat, cair,   Non B3 dan       Pencemaran      Air, tanah, pantai
rumah        gas            Limbah B3        sedang-berat
(kerajinan
dsb)


1/25/2011              S. S. Moersidik: SML Limbah B3                       23
MATRIKS TEKNOLOGI
PENGELOLAAN LIMBAH
Input              Proses   Pengel.                          Pasca
Proses             Produksi Limbah                           Produksi
 (Teknologi)       Jenis dan           Pengolahan          Recovery bahan
bahan yang         karakteristik        Limbah padat dari    dari produk pasca
terkait dengan     teknik unit-proses   proses dan           penggunaan
proses                                  pendukung kegiatan   (limbah)
 Pewadahan dan     Unit pendukung      Pengolahan          Pengolahan dan
Transportasi       proses untuk         limbah cair dari     pemusnahan bahan
bahan baku         air,udara,energy     proses dan           off-spec dan
                   system               pendukung kegiatan   kadaluawarsa
 Storage: stock    Flow process:       Pengendalian        Pengelolaan
system, layout     system, layout       pencemaran udara     kemasan
dan flow           dan flow             dan kebisingan

                                         Pengelolaan
                                        sludge dan limbah
                                        B3


1/25/2011                 S. S. Moersidik: SML Limbah B3                     24
DEFINISI B3
 bahan yang karena sifat dan atau
  konsentrasinya dan/atau
  jumlahnya, baik secara langsung
  maupun tidak langsung dapat
  mencemarkan dan/atau merusakkan
  lingkungan hidup dan/atau
  membahayakan lingkungan hidup,
  kesehatan, kelangsungan hidup
  manusia serta mahluk hidup lain.
1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   25
B3 – LIMBAH B3

          Penggunaan/
          Pemanfaatan




                         Limbah
   B3      Penanganan
             Bahan         B3



             Off spec
            Sisa Bahan

                                  26
DEFINISI B3 (PP74/2001)
 Sisa suatu usaha atau kegiatan yang
  mengandung bahan berbahaya
  dan/atau beracun yang karena sifat
  dan atau konsentrasinya dan/atau
  jumlahnya, baik secara langsung
  maupun tidak langsung dapat
  mencemarkan dan/atau merusakkan
  lingkungan hidup dan/atau
  membahayakan lingkungan hidup,
  kesehatan, kelangsungan hidup
  manusia serta mahluk hidup lain.


1/25/2011    S. S. Moersidik: SML Limbah B3   27
PENGELOLAAN B3
   Penghasil
   Pengangkut
   Pengedar
   Penyimpan
   Pengguna
   Pembuangan


1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   28
KLASIFIKASI B3
 Mudah meledak               Berbahaya
 Pengoksidasi                Korosif
 Sangat mudah                Bersifat iritasi
  menyala                     Berbahaya bg
 Mudah menyala                lingkungan
 Amat sangat                 Karsinogenik
  beracun                     Teratogenik
 Beracun                     Mutagenik


1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3        29
TINGKATAN RACUN B3
Urutan               Kelompok                         LD 50 (mg/kg)

            1 Amat sangat beracun                         <1
            2 Sangat beracun                             1 – 50
            3 Beracun                                   51 – 500
            4 Agak beracun                             501 – 5000
            5 Praktis tidak beracun                   5001 – 15000
            6 Relatif tidak berbahaya                   > 15000
1/25/2011            S. S. Moersidik: SML Limbah B3               30
KLASIFIKASI B3
(PP 74/2001)
 B3 yang dapat dipergunakan (209
  bahan: Ammoniak, Asam khlorida …)
 B3 yang dilarang dipergunakan: jenis
  B3 yg dilarang digunakan, diproduksi,
  diedarkan dan atau diimpor (10 bahan:
  Aldrin, Endrin, DDT …)
 B3 yang terbatas dipergunakan: B3 yg
  dibatasi penggunaan, impor, dean atau
  produksinya (45 bahan: Mercury, CFC
  …)

1/25/2011    S. S. Moersidik: SML Limbah B3   31
TATALAKSANA
PENGELOLAAN B3
 Registrasi oleh penghasil dan pengimpor
 Prosedur notifikasi bagi impor B3 yg
  terbatas dipergunakan dan atau pertama
  kali
 Produsen wajib membuat MSDS
 Pengangkutan menggunakan sarana yang
  memenuhi syarat dari instansi yang
  berwenang
 Penggunaan simbol dan label
 Tempat penyimpanan sesuai syarat teknis
  dan mempunyai STD

1/25/2011     S. S. Moersidik: SML Limbah B3   32
NOTIFIKASI B3
 Notifikasi ekspor: pemberitahuan terlebih
  dahulu dari otoritas negara penerima dan
  negara transit apabila akan dilaksanakan
  perpindahan lintas batas untuk B3 yg
  terbatas dipergunakan
 Notifikasi impor: pemberitahuan terlebih
  dahulu dari otoritas negara pengekspor dan
  negara transit apabila akan dilaksanakan
  perpindahan lintas batas untuk B3 yg
  terbatas dipergunakan dan atau yg
  pertama kali diimpor


1/25/2011      S. S. Moersidik: SML Limbah B3   33
PENGGUNAAN/
PEMANFAATAN B3
 Kaidah penggunaan bahan
  berdasarkan prinsip K3
 Prosedur penggunaan peralatan kerja
 Kaidah penggunaan bahan
  berdasarkan MSDS (merek dagang,
  rumus kimia B3, jenis B3, klasifikasi
  b3, teknik penyimpanan, tata cara
  bila terjadi kecelakaan)


1/25/2011    S. S. Moersidik: SML Limbah B3   34
PENANGANAN B3
 Faktor-faktor dalam penyimpanan B3
  (temperatur, kelembaban, interaksi
  dengan wadah, interaksi antar bahan)
 Persyaratan teknis penyimpanan
 Sarana dan prasarana penyimpanan
  (pencahayaan, sirkulasi udara -
  exhaust fan, pendingin, termometer,
  higrometer..)


1/25/2011    S. S. Moersidik: SML Limbah B3   35
PENANGANAN SISA
OFF-SPEC B3
 Prosedur pembuangan dan
  pemusnahan bahan
 Sarana dan prasarana pembuangan




1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   36
TEKNOLOGI PENGOLAHAN
1.    Proses Kimia-Fisik
2.    Metoda Thermal
3.    Kombinasi kimia-fisik dan thermal
4.    Stabilisasi dan Solidifikasi
5.    Land disposal (setelah stabilisasi)




1/25/2011        S. S. Moersidik: SML Limbah B3   37
PROSES KIMIA-FISIK
1.    Reaksi oksidasi-reduksi
2.    Netralisasi
3.    Stripping
4.    Presipitasi
5.    Evaporasi
6.    Destilasi


1/25/2011       S. S. Moersidik: SML Limbah B3   38
METODA THERMAL
(Incenerasi)
   Proses pembakaran
   Gas dan uap beracun
   Sistim injeksi
   Pengendalian gas pencemar
   Pengelolaan bottom ash dan fly ash




1/25/2011     S. S. Moersidik: SML Limbah B3   39
LAND DISPOSAL
(pasca stabilisasi)
   Stabilisasi bahan B3
   Solidifikasi
   Encapsulasi
   Landfill system
   Leachate management




1/25/2011     S. S. Moersidik: SML Limbah B3   40
1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   41
IDENTIFIKASI LIMBAH B3

Berdasarkan Sumber (PP 18/1999):
 Lampiran I, tabel 1: sumber tidak spesifik
 Lampiran I, tabel 2: sumber spesifik
 Lampiran I, tabel 3:
           bahan kimia kadaluarsa
           tumpahan,
           bekas kemasan,
           buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi




1/25/2011                  S. S. Moersidik: SML Limbah B3    42
IDENTIFIKASI LIMBAH B3

Berdasarkan Sumber (PP 18/1999):
 Lampiran I, tabel 1: sumber tidak spesifik
           Pelarut terhalogenasi (kode limbah D1xxxa)
           Pelarut yang tidak terhalogenasi (kode limbah D1xxxb)
           Asam/Basa (kode limbah D1xxxc)
           Yang tidak spesifik lainnya (D1xxxd)
               Contoh PCB (poly chlorinated Biphenyls) di trafo lama PLN
               Lead scrap
               Limbah minyak diesel industri
               Pelumas bekas




1/25/2011                      S. S. Moersidik: SML Limbah B3               43
IDENTIFIKASI LIMBAH B3

Berdasarkan Sumber (PP 18/1999):
 Lampiran I, tabel 2: sumber spesifik
           Jenis industri/kegiatan – sumber pencemaran dan
            pencemar utama
               Kode limbah D2xx
               Berasal dari mulai penyimpanan bahan, proses sampai dengan
                pemanfaatan bahan dan limbah
               Di lingkungan PLN:
                 Khas di pembangkit berbahan bakar batubara
                    (D223)
                 Semua jenis industri yang
                    menghasilkan/menggunakan listrik (proses
                    replacement, refilling, reconditioning, atau
                    retrofitting dari transformer dan capasitor (D249)



1/25/2011                   S. S. Moersidik: SML Limbah B3                   44
IDENTIFIKASI LIMBAH B3

Berdasarkan Sumber (PP 18/1999):
 Lampiran I, tabel 3:
           bahan kimia kadaluarsa
           tumpahan,
           bekas kemasan,
           buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi
 Kode (D3xxx)
 Terdapat 178 bahan pencemar dari asetaldehida s/d
  seng fosfit




1/25/2011                  S. S. Moersidik: SML Limbah B3    45
KARAKTERISASI LIMBAH B3
Berdasarkan Karakteristik (PP 85/1999):
 Mudah meledak
 Mudah terbakar
 Bersifat reaktif
 Bersifat racun
 Infeksius
 Korosif

 Bersifat toksik/racun (BMTCLP-Lampiran II)
 Bersifat kronis (daftar zat pencemar-Lampiran
  III)


1/25/2011       S. S. Moersidik: SML Limbah B3    46
KARAKTERISASI LIMBAH B3
 Bersifat toksik/racun (BMTCLP-Lampiran II)
           Kode limbah (D4xxx)
           Terdapat 53 jenis
           Dari Aldrin/dieldrin s/d Zinc
           Prosedur pengetesan TCLP, LD50 dan LC50
           Diperuntukkan dari kerangka penggunaan bahan sampai
            dengan pemanfaatan limbah B3

 Bersifat kronis (daftar zat pencemar-Lampiran
  III)
           Kode limbah (D4xxx)
           Terdapat 491 jenis
           Dari Acetonitrile s/d Ziram



1/25/2011                 S. S. Moersidik: SML Limbah B3     47
DASAR PELAKSANAAN
PENGELOLAAN LIMBAH B3
 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997
  tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
 Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun
  1993, tentang Pengesahan Basel
  Convention on The Control of
  Transboundary Movement of Hazardous
  Wastes and Their Disposal
 Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun
  1999 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 85
  tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah
  Bahan Berbahaya dan Beracun
1/25/2011     S. S. Moersidik: SML Limbah B3   48
DASAR PELAKSANAAN
PENGELOLAAN LIMBAH B3
Surat Keputusan Kepala Bapedal
     No. Kep-68/Bapedal/05/1994 tentang Permohonan Ijin Pengelolaan
      Limbah B3
     No. Kep-01/Bapedal/09/1995 tentang tentang Tata Cara & Persyaratan
      Teknis Penyimpana dan Pengumpulan Limbah B3
     No. Kep-02/Bapedal/09/1995 tentang tentang Dokumen Limbah B3
     No. Kep-03/Bapedal/09/1995 tentang tentang Persyaratan Teknis
      Pengolahan Limbah B3
     No. Kep-04/Bapedal/09/1995 tentang tentang Tata Cara & Persyaratan
      Penimbunan Hasil Pengolahan, Persyaratan Lokasi bekas Pengolahan dan
      Lokasi bekas Penimbunan Limbah B3
     No. Kep-05/Bapedal/09/1995 tentang Simbol dan Label Limbah B3
     No. Kep-255/Bapedal/08/1996 tentang Tata Cara & Persyaratan
      Penyimpanan dan Pengumpulan Minyak Pelumas Bekas
     No. Kep-02/Bapedal/01/1998 tentang Tata Laksana Pengawasan
      Pengelolaan Limbah B3
     No. Kep-03/Bapedal/01/1998 tentang Program Kemitraan dalam
      Pengelolaan Limbah B3 (KENDALI)
     No. Kep-04/Bapedal/01/1998 tentang Penetapan Prioritas Daerah Tingkat I
      Program KENDALI B3




1/25/2011                 S. S. Moersidik: SML Limbah B3                   49
PP 18/1999 jo. PP 85/1999
mengatur tentang..
     Kewajiban bagi setiap penghasil limbah B3 untuk
      mengolah limbahnya. Jika tidak sanggup, maka tanggung
      jawab pengolahan dapat dialihkan kepada badan usaha
      pengolah limbah B3 yang telah mendapat ijin Bapedal.
      Pengaturan ini juga termasuk kewajiban untuk melakukan
      pengelolaan sebelum limbah diolah, speerti pengemasan,
      penyimpanan, pengangkutan dll.
     Kewajiban-kewajiban bagi badan usaha /kegaiatan
      pengelola limbah B3, seperti badan usaha yang
      melakukan pengumpulan, pengolahan, penimbunan,
      pemanfaatan dan usaha pengangkut limbah B3.
     Ketentuan mengenai pengawas dan pelaksanaan
      pengawasan dalam kegiatan pengelolaan limbah B3.
     Ketentuan teknis administratif dalam kegiatan pengelolaan
      limbah B3, termasuk sanksi-sanksi bagi pelanggarannya.
     Ketentuan dalam penetapan limbah B3.




1/25/2011             S. S. Moersidik: SML Limbah B3         50
PELAKU PENGELOLAAN
LIMBAH B3
     penghasil
     pengumpul
     pengangkut
     pengawas
     pengolah (penimbun dan pemanfaat)




1/25/2011      S. S. Moersidik: SML Limbah B3   51
KETENTUAN PENGHASIL
LIMBAH B3
     wajib mengolah limbah B3 atau menyerahkannya
      kepada Pengolah
     tempat penyimpanan sesuai dengan persyaratan
     melaporkan kegiatan
     dapat menjadi pengumpul, pengangkut, pemanfaat
      atau pengolah bila memenuhi persyaratan
     label pada kemasan
     mengisi dokumen limbah B3
     membantu pengawas
     memiliki sistim tanggap darurat




1/25/2011          S. S. Moersidik: SML Limbah B3      52
KETENTUAN PENGANGKUT
LIMBAH B3
 ijin dari Departemen Perhubungan dengan
  rekomendasi dari Bapedal
 alat angkut memenuhi ketentuan
 menyerahkan dokumen muatan dan
  dokumen limbah
 menyerahkan dokumen kepada
  penghasil/pengumpul
 membantu pengawas
 mempunyai sistm tanggap darurat


1/25/2011     S. S. Moersidik: SML Limbah B3   53
KETENTUAN PENGUMPUL
LIMBAH B3
 lokasi pengumpulan sesuai dengan
  persyaratan
 membuat catatan tentang kegiatan dan
  mel;aporka kepada Bapedal
 maksismum 90 hari penyimpanan sebelum
  diolah/diserahkan ke pengolah
 ijin operasi dari bapedal
 membantu pengawas
 memiliki sistim tanggap darurat


1/25/2011    S. S. Moersidik: SML Limbah B3   54
KETENTUAN PENGOLAH/
PENIMBUN LIMBAH B3
     memiliki dokumen Amdal
     badan hukum
     ijin Bapedal
     memiliki laboratorium
     minimum luas lahan 1 Ha dan memenuhi
      persyaratan
     permeablitas tanah minimum 10-7 cm/detik
     fasilitas pengolahan atau penimbunan sesuai
      ketentuan
     teknis kegiatan dan pemantauan sesuai ketentuan
     memiliki sistim tanggap darurat




1/25/2011           S. S. Moersidik: SML Limbah B3      55
PEDOMAN TEKNIS
PENGELOLAAN LIMBAH B3
Kep-01/Bapedal/09/1995 tentang Tata Cara dan
   Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan
   Limbah B3.
 Pengemasan: prakemas, kemasan, prinsip
   pengemasan, tata cara pengemasan
 Pewadahan dengan tangki dan penempatannya
 Persyaratan penyimpanan: palet, penumpukan, jarak
 bangunan penyimpanan: konstruksi, cuaca, limbah
   mudah terbakar, limbah mudah meledak dsb.
 Pengumpulan: lahan, syarat bangunan, lay out,
   fasilitas tambahan.



1/25/2011        S. S. Moersidik: SML Limbah B3   56
PEDOMAN TEKNIS
PENGELOLAAN LIMBAH B3
Kep-02/Bapedal/09/1995 tentang
  Dokumen Limbah B3.
 Chain of custody
 Jumlah lembar dokumen 7 atau 11
 Bagian diisi penghasil/pengumpul,
  pengangkut, pengumpul/pemanfaat/
  pengolah/penimbun.


1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   57
PEDOMAN TEKNIS
PENGELOLAAN LIMBAH B3
Kep-03/Bapedal/09/1995 tentang Persyaratan
   Teknis Pengolah Limbah B3.
 Syarat lokasi
 Syarat fasilitas keamanan (security,
   kebakaran, tumpahan, STD, pengujian,
   peralatan, pelatihan)
 Penanganan limbah sebelum pengolahan
 Pengolahan: fisika-kimia (pretreatment),
   pengolahan thermal, BMLC-PPLIB3


1/25/2011     S. S. Moersidik: SML Limbah B3   58
PEDOMAN TEKNIS
PENGELOLAAN LIMBAH B3
Kep-04/Bapedal/09/1995 tentang Tata Cara Penimbunan Hasil
    Pengolahan, Persyaratan Lokasi Bekas Pengolahan dan
    Lokasi Penimbunan Limbah B3.
   Lokasi: banjir, geologi lingkungan, hidrogeologi, hidrologi,
    iklim, flora-fauna
   Rancang bangun landfill
   Persyaratan prakonstruksi, konstruksi dan pasca
    konstruksi
   Fasilitas landfill
   Persyaratan sebelum penimbunan dan kualitas limbah
    untuk penimbunan
   Pengelolaan lindi: kontrol air, pengumpul, pengolahan,
    dan pembuangan
   Pemantauan kualitas air tanah/permukaan
   Persyaratan penutupan akhir


1/25/2011             S. S. Moersidik: SML Limbah B3           59
PEDOMAN TEKNIS
PENGELOLAAN LIMBAH B3
Kep-05/Bapedal/09/1995 tentang Simbol dan
   Label Limbah B3.
 Simbol: bentuk dasar, jenis (mudah
   meledak, mudah terbakar, reaktif,
   beracun, korosif, infeksius, campuran)
 Cara pemasangan pada: kemasan,
   kendaraan pengangkut, tempat
   penyimpanan
 Label: label identitas limbah, kemasan
   kososng, penunjuk tutup kemasan.


1/25/2011     S. S. Moersidik: SML Limbah B3   60
PEDOMAN TEKNIS
PENGELOLAAN LIMBAH B3
Kep-68/Bapedal/05/1994 tentang Tata
  Cara Memperoleh Izin Penyimpanan,
  Pengumpulan, Pengoperasian Alat
  Pengolahan, Pengolahan dan
  Penimbunan Akhir Limbah B3.
 Persyaratan administratif
 Dokumen penunjang
 Berita acara pemeriksaan


1/25/2011   S. S. Moersidik: SML Limbah B3   61
EVALUASI INTERNAL
PENGELOLAAN LIMBAH B3
Menggunakan data pengelolaan yang sudah
   berjalan, maka observasi dan kaji:
        Layout dari fasilitas
        Process flow diagram
        Deskripsi dari sumber limbah B3 yang diketahui
        Peraturan perundangan yang berlaku termasuk
         perijinannya
        Perintah-perintah yang bersifat khusus dari pengadilan
         dan/atau badan administrasi yang terkait
        Kebijakan perusahaan yang diterapkan
        Fasilitas yang digunakan dalam menunjang kebijakan dan
         prosedur yang digunakannya
        SOP dan instruksi yang menunjang prosedur dalam
         penanganan limbah B3
        Cara pengelolaan limbah B3 (on site maupun off site),
         yang meliputi pengumpulan, transportasi, pengolahan,
         pembuangan akhir.
 1/25/2011            S. S. Moersidik: SML Limbah B3     62
EVALUASI INTERNAL
PENGELOLAAN LIMBAH B3
Dokumentasikan hasil temuan dan informasi yang
  diperoleh untuk memudahkan pengkategorian
  tanggungjawab dan langkah dalam pengelolaan
  limbah B3:
 Penanggungjawab dalam pengkategorian/penetapan
  limbah B3
 Labelling
 Penyimpanan
 Transportasi/pengangkutan
 Pengujian sample
 Pemelihara/penyimpan/pengolah manifest limbah
 Tindakan lain yang diperlukan




1/25/2011       S. S. Moersidik: SML Limbah B3   63
EVALUASI INTERNAL
PENGELOLAAN LIMBAH B3
Pada saat dilaksanakan audit dan evaluasi,
   ikuti process flow diagram untuk lebih
   mengikuti alur kegiatan dan
   kemanfaatannya untuk:
           Menetapkan titik pengahasil limbah B3 dengan
            tidak melewati untuk memperhitungkannya
           Menginspeksi cara pengumpulan, penanganan
            dan penimbunannya
           Menginspeksi fasilitas penannganan
           Menginspeksi tempat yang berpengaruh pada
            luasan dari pengelolaan limbah b3
           Menginspeksi tempat pembuangan yang tidak
            diketahui/disembunyikan
           Menginspeksi penggunaan bahan, alat dan
            sistim dsb.
1/25/2011              S. S. Moersidik: SML Limbah B3   64
EVALUASI INTERNAL
PENGELOLAAN LIMBAH B3
Pada Timbulan limbah:
     Catat pada titik teridentifikasi sebagai pengahasil dan
      titik yang tidak teridentifikasi sebelumnya
     Kaji bilamana limbah tersebut telah diujikan atau
      bahkan belum diujikan
     Tetapkan pada titik mana limbah tersebut telah
      diujikan dan diukur serta diberi tanda/label, runut
      siapa penanggung jawabnya
     Bilamana limbah diolah oleh fihal lain, runut siapa –
      kapan dan dengan apa mereka
      mengambil/mengelolaanya
     Catat dan kaji laporan mengenai mutu limbah yang
      dilaporkan serta jenis dan frekuensi pelaporan yang
      dilakukan
     Catat bilamana ada laporan lain seperti laporan
      tahunan yang berkenaan dengan timbulan limbah ini.


1/25/2011             S. S. Moersidik: SML Limbah B3            65
EVALUASI INTERNAL
PENGELOLAAN LIMBAH B3
 Pada saat melihat dan mengkaji
 fasilitas pengolahan yang
 berhubungan dengan limbah:
    Kaji sejarah penggunaan peralatan, jenis dan
     karakteristiknya
    Identifikasikan jenis dan fungsi masing-masing
     unit peralatan pengolahan serta hasil kinerjanya
    Catat bilamana ada temuan tentang
     penyimpangan alat/cara dalam mengolah
     limbah misalnya adanya saluran siluman dan
     atau proses lain


1/25/2011         S. S. Moersidik: SML Limbah B3   66
EVALUASI INTERNAL
PENGELOLAAN LIMBAH B3

 Identifikasi, karakterisasi dan analisis dari
   laporan bagian lingkungan yang diperoleh
   untuk mengetahui lebih lanjut atas:
  Status administrasi pelaporan
  Status kinerja dari pengelolaan limbah
  Status dari ketaatan terhadap hukum dan
   peraturan
  Perijinan dan rekomendasi yang dipunyai serta
   penyimpangan dan/atau kebenanrannya; termasuk
   masa berlakunya


1/25/2011       S. S. Moersidik: SML Limbah B3   67
EVALUASI INTERNAL
PENGELOLAAN LIMBAH B3

     Terhadap fasilitas pengelolaan limbah
     lakukan kajian yang rinci secara teknis
     dengan melihat persyaratannya,
     teknologi yang digunakannya,
     keandalan dan kinerjanya,
     pengoperasiannya termasuk SDMnya.




1/25/2011        S. S. Moersidik: SML Limbah B3   68
            BAGIAN III:
LIMBAH B3 KEGIATAN PLN


1/25/2011    S. S. Moersidik: SML Limbah B3   69
LIMBAH B3 – KEGIATAN PLN
   Limbah PLTD
           Limbah Cair
               Minyak pelumas ex penggantian
               Bahan bakar bekas pencucian
               Limabh reject purifier
               Ceceran limbah dari mesin
           Limbah Padat
               Filter-filter/saringan bekas
               Battery ex pakai
               Isolasi asbes/keramik
               Meterial non metal ex pemeliharaan
   Limbah PLTU
           Limbah Cair
               Minyak pelumas ex penggantian
               Bahan bakar bekas pencucian
               Limbah reject purifier/separator
               Ceceran limbah dari mesin
               Limbah water treatment plant dan limbah lab
               Blowdown dan drain steam water cycle
           Limbah Padat
               Filter-filter saringan bekas
               Battery ex pakai
               Isolasi asbes/keramik
               Material non metal ex pemeliharaan
               Unburn carbon, fly ash, bottom ash, reject mill

1/25/2011                          S. S. Moersidik: SML Limbah B3   70
LIMBAH B3 – KEGIATAN PLN
   Limbah PLTG/U
           Limbah Cair
             Minyak pelumas ex penggantian
             Bahan bakar bekas pencucian
             Limabah reject purifier
             Ceceran limbah dari mesin
             Limbah water treatment plant dan limbah lab
             Blowdown dan drain steam water cycle
           Limbah Padat
             Filter-filter/saringan bekas
             Battery ex pakai
             Isolasi asbes/keramik
             Meterial non metal ex pemeliharaan
             Unburn carbon
   Limbah PLTP
           Limbah Cair
             Minyak pelumas ex penggantian
             Bahan bakar bekas pencucian
             Limbah reject purifier/separator
             Ceceran limbah dari mesin

1/25/2011                     S. S. Moersidik: SML Limbah B3   71
LIMBAH B3 – KEGIATAN PLN
   Limbah PLTP
           Limbah Padat
             Filter-filter/saringan bekas
             Battery ex pakai
             Isolasi asbes/keramik
             Meterial non metal ex pemeliharaan
             Limbah ex water washing
             Limbah water treatment plant dan limbah lab

   Limbah PLTA
           Limbah Cair
             Minyak pelumas ex penggantian
             Limbah reject purifier/separator
           Limbah Padat
             Filter-filter saringan bekas
             Battery ex pakai
             Material non metal ex pemeliharaan




1/25/2011                    S. S. Moersidik: SML Limbah B3   72
PERMASALAHAN DI PLN
   Pengusaha pengumpul limbah padat B3 belum ada, sehingga
    sehingga limbah padat B3 bertumpuk di Pusat Pembangkit
   Tempat Penyimpanan Sementara limbah B3 semua Pusat
    Pembangkit memiliki tempat ijin
   Belum semua Pusat Pembangkit bersertifikat ISO 14001 & SMK3
   Pembangkit yang berbahan bakar MFO lebih banyak menghasilkan
    limbah dan lebih sulit penanganannya
   Belum ada pos anggaran khusus untuk pengelolaan limbah
   Tidak semua Pusat Pembangkit memiliki organisasi yang menangani
    lingkungan dan keselamatan kerja (selama ini ditangani Sup
    Operasi)
   Bukti penerimaan limbah/manifes oleh Pengelola diterimakan
    kepada PLN cukup lama (+ 4 bulan)
   Belum ada legalisasi masalah kompensasi penggantian drum




1/25/2011            S. S. Moersidik: SML Limbah B3          73
            Terima kasih



1/25/2011      S. S. Moersidik: SML Limbah B3   74

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:3108
posted:1/26/2011
language:Indonesian
pages:74