Docstoc

1 BAB I PENDAHULUAN 1 1 Latar Belakang

Document Sample
1 BAB I PENDAHULUAN 1 1 Latar Belakang Powered By Docstoc
					                                                                         1




                                   BAB I

                                PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang


      Kecoa adalah insekta dari ordo Blattodea yang kurang lebih

terdiri dari 3.500 spesies dalam 6 famili. Kecoa termasuk dalam

kerajaan    Animalia,   filum    Arthropoda,   kelas   Insecta,   subkelas

Pterygota, infrakelas Neoptera dan superordo Dictyoptera. Kecoa

merupakan salah satu hewan yang dianggap sebagai pengganggu. Namun,

ia memiliki banyak keunggulan yang membuatnya tetap eksis sejak 300

juta tahun lalu, terutama sistem senso-motorik kecoa, selain itu

kemampuan adaptasi kecoa, dalam lingkungan amat mengagumkan

(Gandahusada, 2007).


        Kebanyakan kecoa hidup di daerah tropis yang kemudian

menyebar ke daerah sub tropis, bahkan sampai ke daerah dingin.

Serangga yang hidupnya mengalami metamorfosis tidak sempurna ini

memang sangat menyukai tempat-tempat yang kotor dan bau. Bergelut

dengan kotoran dan bau tidak menjadikan kecoa rentan terhadap

penyakit. Sebaliknya, serangga ini justru termasuk serangga yang

mampu      bertahan     hidup    dalam   kondisi   ekstrem,   kemampuan

beradaptasinya tidak perlu diragukan lagi (Anonimus, 2006).


      Tidak banyak orang awam yang tahu, bahwa serangga besar ini,

sudah ada di muka bumi sejak 300 juta tahun lalu. Yang menarik pada

kecoa adalah Sistem senso-motoris yang berada di bagian kepala



                                    1
                                                                   2




dengan dua antena yang berfungsi sebagai penyala getaran dan yang

kedua di bagian kaki belakang yang menerus ke bagian perut, dengan

rambut-rambut halus, yang juga berfungsi seperti antena (Anonimus

2008b).


      Sistem saraf pada hewan berfungsi mengkoordinasikan aktivitas

otot, memonitor organ, membentuk dan juga menghentikan masukan

dari indra, dan mengaktifkan aksi. Sistem saraf merupakan sistem yang

terdapat   dalam   tubuh   dan   berfungsi   sebagai   media   untuk

berkomunikasi antar sel dan organ dimana sebagai pengendali berbagai

sistem organ lain, serta dapat pula memproduksi hormon. Berdasarkan

struktur dan fungsinya, sistem saraf secara garis besar dapat dibagi

dalam sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat

terdiri atas otak dan Medulla spinalis yang mempunyai beragam pusat

dengan fungsi yang berbeda-beda (Anonimus, 2007a).


      Dalam sistem saraf pusat, terjadi berbagai proses analisis

informasi yang masuk serta proses sintesis dan mengintegrasikannya.

Pada dasarnya proses tersebut bertujuan untuk mengendalikan

berbagai sistem organ yang lain sehingga terbentuk keluaran berupa

perilaku makhluk hidup. Sistem saraf tepi terdiri dari saraf afferen

dan saraf efferen, saraf efferen disebut juga saraf sensoris,

berfungsi menyalurkan informasi yang berasal dari organ reseptor

(Adyatma, 2007).
                                                                   3




      Mekanisme penghantaran informasi antara reseptor dengan

sistem saraf pusat terjadi melelui proses penghantaran impuls dengan

kode irama dan frekuensi tertentu. Saraf efferen yang disebut juga

saraf motoris terdiri dari dua bagian yaitu saraf motoris-somatik dan

saraf motoris-autonom (Anonimus, 2008a).


      Pada kecoa, kedua sistem tersebut sangat menarik dipelajari

yang dikarenakan pada sistem saraf kecoa dapat berjalan bersamaan

atau bila satu saraf yang terganggu maka sistem saraf yang lain masih

dapat menjalankan fungsinya. Dapat kita lihat bahwa kecoa memilki

sistem saraf yang lengkap dan sederhana dan kecoa memiliki kecepatan

reaksi atau rangsangan mengagumkan yang mana untuk meloloskan diri

dari bahaya, dan rahasianya terletak pada sistem saraf dan sistem

gerak motorik kecoa (Adyatama, 2007).
                                                                 4




1.2   Rumusan Masalah

      Kecoa memiliki sistem senso-motoris yang sangat baik dalam

menerima rangsangan dari luar dibandingkan dengan hewan lain.


1.3   Tujuan

      Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui sistem kerja

saraf eferen dan senso-motorik pada kecoa yang dinilai baik dari

hewan lain


1.4   Manfaat

      Memberikan informasi dan masukan wawasan kepada mahasiswa

tentang sistem kerja saraf eferen dan senso-motorik yang ada pada

hewan pengerat yaitu kecoa
                                                                      5




                                Bab II

                        TINJAUAN PUSTAKA

2.1   Siklus Hidup Kecoa


      Siklus hidup kecoa melalui stadium telur, nimfa, kecoa dewasa.

Telur kecoa menetas menjadi nimfa yang menyerupai kecoa dewasa,

tetapi tidak bersayap. Nimfa tumbuh menjadi besar dan selama

pertumbuhannya beberapa kalibertukar kulit, setelah pertukaran kulit

terakhir munculkecoa deasa yang bersayap. Seluruh siklus hidup kecoa

berlangsung dalam jangka waktu yang berbeda-beda menurut jenis

kecoa, yaitu antar 6-1000 haripada suhu kamar, kecoa dewasa bisa

hidup selama 3 bulan sampai 1 tahun (Adyatma, 2007).


2.2   Sistem Saraf


      Komponen utama sistem saraf adalah neuron dan saraf, yang

memiliki peranan penting dalam koordinasi. Pada makhluk yang tidak

memiliki otak, sistem saraf tidak menghasilkan atau menjalankan

pikiran, gerakan dan emosi atau lumpuh. Sistem syaraf dibagi menjadi

tiga, yaitu saraf otak, saraf sumsum tulang belakang (Medulla spinalis),

dan saraf tepi. Saraf otak dan saraf sumsum tulang belakang adalah

saraf pusat. Pada saraf tepi, saraf menghubungkan antara saraf pusat

dengan indera dan otot. Saraf otak ibarat chip dalam komputer.

Sistem saraf sendiri merupakan cabang dari sistem koordinasi selain

sistem hormon dan sistem otot (Wikipedia, 2008).


                                     5
                                                                   6




      Sistem saraf tersusun dari berjuta-juta sel saraf yang

mempunyai bentuk bervariasi, sistem ini meliputi sistem saraf pusat

dan sistem saraf tepi. Dalam kegiatannya, saraf mempunyai hubungan

kerja seperti mata rantai atau berurutan antara reseptor dan efektor.

Sistem saraf terdiri dari jutaan sel saraf atau neuron, dimana fungsi

sel saraf adalah mengirimkan pesan atau impuls yang berupa rangsang

atau tanggapan. Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di

dalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel, dari badan sel keluar dua

macam serabut saraf, yaitu dendrit dan akson (Indrawati, 2006).


2.3   Susunan Saraf


      Pada setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu

dendrit, kedua serabut saraf ini berisi plasma sel. Pada bagian luar

akson terdapat lapisan lemak disebut mielin yang merupakan kumpulan

sel Schwann yang menempel pada akson. Sel Schwann adalah sel glia

yang membentuk selubung lemak di seluruh serabut saraf mielin.

Membran plasma sel Schwann disebut neurilemma. Mielin berguna

melindungi akson dan memberi nutrisi, bagian dari akson yang tidak

terbungkus mielin disebut nodus Ranvier, yang berfungsi mempercepat

penghantaran impuls, sel saraf dapat dibagi menjadi 3 kelompok

menurut fungsi dan strukturnya, yaitu sel saraf sensoris, sel saraf

motoris, dan sel saraf intermediet (Anonimus,2007).


      Mamalia memiliki sistem saraf yang      lengkap dan kompleks,

dimana rata-rata setiap neuron memiliki sekurang-kurangnya seribu

hubungan dengan neuron lain, yang membentuk suatu sistem komunikasi
                                                                      7




yang kompleks. Neuron mengadakan komunikasi yang cepat antara

kelompok-kelompok     sel,   sehingga   memungkinkan      penghantaran

informasi yang cepat melewati jarak yang jauh, jaringan saraf tersebar

di seluruh tubuh berupa jalinan komunikasi terpadu (Brotowidjoyo,

2008).


      Secara anatomis, susunan saraf dibagi dalam susunan saraf

pusat yang terdiri atas otak dan medulla spinalis dan susunan saraf

tepi yang terdiri atas serat saraf dan kumpulan kecil sel-sel saraf yang

disebut ganglion saraf. Secara struktural, jaringan saraf terdiri atas

dua golongan sel saraf atau neuron, yang biasanya memiliki juluran-

juluran panjang dan beberapa jenis sel glia, yang memiliki juluran-

juluran pendek, yang menunjang dan melindungi neuron dan berperan

serta dalam aktivitas neural, nutrisi neural, dan proses pertahanan dari

susunan saraf pusat dan ketika sistem saraf terganggu maka kerja

tubuh untuk melakukan kegiatan juga terganggu dan mempengaruhi

sistem organ tubuh yang lain (Anonimus, 2006).
                                                                      8




                                Bab III

                              PEMBAHASAN



      Pada sistem saraf dan sistem gerak motorik kecoa, ada dua

sistem senso-motorik yang sangat baik, yang mana keduanya dapat

berfungsi   bersama    atau    juga   berfungsi   masing-masing   tanpa

tergantung sistem yang lain, sistem senso-motorik yang pertama

berada di bagian kepala, dengan dua antena sebagai penala getaran dan

yang kedua di bagian kaki belakang menerus ke bagian perut, dengan

rambut-rambut halus berfungsi serupa antena.


      Sistem saraf merupakan suatu tingkatan tertinggi dari sistem

saraf pada hewan yang dikarenakan kelengkapan dan ketelitian baik

dilihat dari struktur selnya maupun dari fungsi tiap sel yang menyusun

sistem saraf, dimana Saraf itu sendiri merupakan serat-serat yang

menghubungkan organ-organ tubuh dengan sistem saraf pusat yakni

otak dan sumsum tulang belakang dan antar bagian sistem saraf dengan

lainnya. Sel saraf atau sel neuron terdiri atas badan sel dengan

tonjolan-tonjolan sitoplasmik yang panjang sebagai serabut saraf.

Berdasarkan jumlah tonjolannya, neuron terbagi atas pseudounipolar,

unipolar dan multipolar.
                                                                     9




Gambar I. Gambar bentuk sel saraf dikelompokkan dalam berbagai
           fungsi

      Saraf adalah bagian dari sistem saraf perifer, Saraf membawa

impuls dari dan ke otak atau pusat saraf. Saraf aferen membawa sinyal

sensoris ke sistem saraf pusat, sedangkan saraf eferen membawa

sinyal dari sistem saraf pusat ke otot-otot dan kelenjar-kelanjar.

Sinyal tersebut seringkali disebut impuls saraf, atau disebut potensial

akson. Sedangkan neuron adalah sel-sel saraf yang menyusun sistem

saraf sendiri. Sel saraf atau neuron berfungsi mengirimkan pesan atau

impuls yang berupa rangsang. Jutaan sel saraf membentuk suatu sistem

saraf. Sel saraf mempunyai kemampuan iritabilitas dan konduktivitas,

Dimana iritabilitas memiliki kemampuan untuk bereaksi terhadap

perubahan lingkungan. Sedangkan konduktivitas memiliki kemampuan

dalam membawa impuls-impuls saraf.


      Neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat

sitoplasma dan inti sel, dari badan sel keluar dua macam serabut saraf,
                                                                   10




yaitu dendrit dan akson. Dendrit berfungsi mengirimkan impuls ke

badan sel saraf, sedangkan akson berfungsi mengirimkan impuls dari

badan sel ke jaringan lain. Akson biasanya sangat panjang, sebaliknya,

dendrit pendek, setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal

satu dendrit karena kedua serabut saraf ini berisi plasma sel. Pada

bagian luar akson terdapat lapisan lemak disebut mielin yang

merupakan kumpulan sel Schwann yang menempel pada akson, sel

Schwann adalah sel glia yang membentuk selubung lemak di seluruh

serabut saraf mielin, membran plasma sel Schwann disebut neurilemma

dan fungsi mielin adalah melindungi akson dan memberi nutrisi. Bagian

dari akson yang tidak terbungkus mielin disebut nodus Ranvier.




Gambar II. Bagian-bagian dari sel neuron yang ujung-ujungnya berakhir
          pada motorendplate


Penghantaran Impuls Melalui Sel Saraf


      Fungsi saraf yaitu untuk membawa pesan-pesan secara cepat

dari dan ke sistem saraf pusat, merupakan contoh sebuah lengkung
                                                                    11




refleks yang paling sederhana yaitu terdiri dari lintasan afferen yang

masuk ke dalam medulla spinalis melalui cornua posterior dan

melanjutkan diri dalam substansia grisea untuk mengadakan kontak

dengan sel neuron lain melalui alat penghubung yang dinamakan sinapsis

pada ujung cornua anterior.




Gambar III. Gambar transmisi implus saraf pada lengkung sederhana


       Dari ujung cornua anterior tersebut, tampak serabut axon

meninggalkan medulla spinalis menuju otot. Penghantaran impuls baik

yang berupa rangsangan ataupun tanggapan melalui serabut saraf atau

akson dapat terjadi karena adanya perbedaan potensial listrik antara

bagian luar dan bagian dalam sel. Pada waktu sel saraf beristirahat,

kutub positif terdapat di bagian luar dan kutub negatif terdapat di

bagian dalam sel saraf.
                                                                    12




      Diperkirakan bahwa rangsangan atau stimulus pada indra

menyebabkan terjadinya pembalikan perbedaan potensial listrik sesaat.

Perubahan potensial ini terjadi berurutan sepanjang serabut saraf.

Kecepatan perjalanan gelombang perbedaan potensial bervariasi antara

1 sampai dengart 120 m per detik, tergantung pada diameter akson dan

ada atau tidaknya selubung mielin. Bila impuls telah lewat maka untuk

sementara serabut saraf tidak dapat dilalui oleh impuls, karena terjadi

perubahan potensial kembali seperti semula atau potensial istirahat,

untuk dapat berfungsi kembali diperlukan waktu 1/500 sampai 1/1000

detik. Energi yang digunakan berasal dari hasil pemapasan sel yang

dilakukan oleh mitokondria dalam sel saraf.


      Stimulasi yang kurang kuat atau di bawah ambang threshold

tidak akan menghasilkan impuls yang dapat merubah potensial listrik,

tetapi bila kekuatannya di atas ambang maka impuls akan dihantarkan

sampai ke ujung akson. Stimulasi yang kuat dapat menimbulkan jumlah

impuls yang lebih besar pada periode waktu tertentu daripada impuls

yang lemah.


Penghantaran Impuls Melalui Sinapsis


      Titik temu antara terminal akson salah satu neuron dengan

neuron lain dinamakan sinapsis, dan setiap terminal akson membengkak

membentuk tonjolan sinapsis. Pada sitoplasma, tonjolan sinapsis

terdapat struktur kumpulan membran kecil berisi neurotransmitter,

yang disebut vesikula sinapsis. Neuron yang berakhir pada tonjolan

sinapsis disebut neuron pra-sinapsis, dan membran ujung dendrit dari
                                                                              13




sel berikutnya yang membentuk sinapsis disebut post-sinapsis. Bila

impuls sampai pada ujung neuron, maka vesikula bergerak dan melebur

dengan membran pra-sinapsis, kemudian vesikula akan melepaskan

neurotransmitter berupa asetilkolin.




Gambar IV. Badan sel saraf dan dendritnya yang dikerumuni oleh

ujung-ujung    percabangan      axon     yang   berbentuk   sebagai       tombol

membentuk sinaps.


      Neurontransmitter         adalah    suatu   zat   kimia      yang    dapat

menyeberangkan impuls dari neuron pra-sinapsis ke post-sinapsis.

Neurontransmitter ada bermacam-macam misalnya asetilkolin yang

terdapat di seluruh tubuh, noradrenalin terdapat di sistem saraf

simpatik, dan dopamin serta serotonin yang terdapat di otak.

Asetilkolin kemudian berdifusi melewati celah sinapsis dan menempel

pada reseptor yang terdapat pada membran post-sinapsis. Penempelan

asetilkolin   pada   reseptor     menimbulkan     impuls    pada    sel    saraf
                                                                     14




berikutnya. Bila asetilkolin sudah melaksanakan tugasnya maka akan

diuraikan oleh enzim asetilkolinesterase yang dihasilkan oleh membran

post-sinapsis.




Gambar V : lokasi, anatomi, dan cara kerja synaps


      Gerakan motoris adalah suatu istilah yang digunakan untuk

menggambarkan     perilaku   gerakan   yang   dilakukan   oleh   tubuh.

Pengendalian motoris biasanya digunakan dalam bidang ilmu psikologi,

fisiologi, dan neurofisiologi. Pengendalian motoris mempelajari struktur

dan gerakan serta mekanisme yang menyebabkannya,terdapat berbagai

jenis gerakan motoris, yaitu gerakan refleks dan gerakan terprogram.
                                                                    15




                               BAB IV

                              PENUTUP

4.1   Kesimpulan


Dari hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa :


   o Sistem saraf pada kecoa memiliki kemampuan hampir sama

      dengan sistem saraf pada manusia.

   o Ada dua sistem saraf dan sitem senso-motorik pada kecoa yang

      mana sistem tersebut dapat bekerja secara bersama-sama dan

      dapat juga berfungsi masing-masing tanpa tergantung sistem

      yang lain yaitu pada berada di bagian kepala, dengan dua antena

      sebagai penala getaran dan yang kedua di bagian kaki belakang

      menerus ke bagian perut, dengan rambut-rambut halus berfungsi

      serupa antena.

   o Sistem saraf hewan merupakan suatu sistem terpenting dalam

      kelangsungan hewan.

   o Ganguan pada sistem saraf dapat menyebabkan berbagai

      penyakit pada organismenya.

   o Ganguan sistem saraf dapat disebabkan oleh zat-zat kimia

      berbahaya.

   o Sistem saraf mempunyai 3 fungsi yang saling tumpang tindih

      yaitu sistem input sensoris, integrasi, dan output motoris.
                                                                16




4.2   Saran

      Dapat disarankan bahwa ada banyak lagi hewan-hewan lainnya

yang memiliki sistem saraf dan sistem senso-motorik yang akan

membuat kita terkagum-kagum bila kita mempelajarinya lebih dalam

lagi, karena banyak dari sistem saraf motorik hewan yang diterapkan

dalam pengembangan ilmu pengetahuan dimana bisa diambil contoh

dibidang kesehatan pembuatan obat untuk memperlambat proses

menurunyan kemampuan otak dan mempertahankan kemampuan gerak

motorik pada manula dan dibidang teknologi juga dikembangkan robot

yang memilki dua sistem saraf sensorik yang sama seperti kecoa atau

hewan lain, maka dari itu sangat baik bagi kita mahasiswa dalam

mempelajari sistem saraf pada hewan dimana nantinya sebagai

pengembangan ilmu kedokteran hewan khususnya, dan masyarakat

umumnya.
                                                                    17




                              Bab V

                       DAFTAR PUSTAKA

Adyatma, (2007). Serangga Berkemampuan Luar Biasa. http://www
     web.vet.cornell. edu/public/FHC/htm

Anonimus,(2008a). Gerak Senso-motoriks kecoa. http://www.Research
      institut of.PAMK.htm Agustus 2008

Anonimus, (2008b). Sistem Saraf Pada Mamalia. Fisiologi Hewan II.
      Cermin Dunia Kedokteran. 1-4.

Anonimus, (2007). Rematik Serang Kecoa Tua. http://www.HCF%20
      Newsletter.htm. April 2007.

Anonimus, (2006a). Comparative Animal Behavior. http://www.sandi.
      Net/uchs/AP.Saraf sensorik/htm. Januari 2006

Gandahusada, (2007). Tingkah Laku Hewan Pengerat Kecoa. Media
     Sarana Press, Jakarta.

Indrawati, (2006). Mekanisme Kerja Saraf. Fisiologi Manusia Cermin
      Dunia Kedokteran. 1-7.

Wikipedia, (2008). Sistem Saraf dan Dendrit Hewan. http://www
      Web/hts/AP/net%letter/htm.
                                                                    18




                           KATA PENGANTAR



Assalammualaikum wr. wb



    Syukur alhamdulilah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang

telah memberikan taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan makalah ini yang berjudul Sistem Saraf Efferen pada

kecoa.

         Neurobiologi merupakan salah satu ilmu yang membahas ciri-ciri

khas struktur saraf makhluk hidup yang mencakup beberapa pokok

bahasan yaitu bagaimana sel berkomunikasi dan menerima rangsangan

sel saraf, transmisi implus, sinapsis, dan neurotransmitter.

         Semoga makalah ini nantinya dapat menambah wawasan dan ilmu

bagi kita tentang kerja sistem saraf senso-motoris pada hewan.

Demikianlah sedikit kata yang dapat penulis sampaikan, jika dalam

penulisan makalah ini terdapat kesalahan, sebelumnya penulis mohon

maaf.



Wassalammualaikum wr. wb




                                                     Banda Aceh,




                                                     Penyusun
                                                                                                  19




                             DAFTAR ISI




Halaman          KATA PENGANTAR                           ............................................

             i

DAFTAR ISI                       .............................................

ii

DAFTAR GAMBAR                    .............................................

iii

Bab I. PENDAHULUAN               .............................................

1

      1.1   Latar Belakang        ............................................

            1

      1.2   Rumusan Masalah      .............................................

            4

      1.3   Tujuan               .............................................

            4

      1.4    Manfaat             .............................................

            4

Bab II. TINJAUAN PUSTAKA          ............................................

5

      2.1   Siklus Hidup Kecoa    ...........................................

5

      2.2   Sistem Saraf          ............................................

5
                                                                                                20




      2.3    Susunan Saraf            ..........................................

6

Bab III. PEMBAHASAN                   ............................................

8

      3.1    Penghantaran Impuls Melalui Sel Saraf ...........

10

      3.2    Penghantar Implus Melalui Sinapsis ...................

12

Bab IV. PENUTUP                      .............................................

15    4.1    Kesimpulan               .............................................

15

      4.2    Saran                    .............................................

16

Bab V. DAFTAR PUSTAKA                 .............................................

17




                            DAFTAR GAMBAR




                                                                                      Halaman

I.   Gambar bentuk sel saraf dikelompokkan

     dalam fungsi                                                  .................... 9
                                                                                    21




II.   Gambar bagian-bagian dari sel-sel neuron

      yang ujungnya berakhir pada motorendplate            ................... 10



III. Gambar transmisi implus saraf pada lengkung

      Sederhana                                        ..................... 11



IV. Gambar bada sel saraf dan denritnya yang

      Dikerumuni oleh ujung percabangan axon yang

      Berbentuk sebagai tombolmembentuk sinaps          .................    13


V.    Gambar lokasi, anatomi, dan cara kerja synaps ............             14




                                 17

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:4521
posted:1/25/2011
language:Indonesian
pages:21