Proposal sarjana Masuk Desa by hilalul

VIEWS: 2,757 PAGES: 14

More Info
									Proposal


          PROGRAM
SARJANA MEMBANGUN DESA (SMD)

               Peningkatan Efisiensi Dan Efektifitas
                   Usaha Budidaya Sapi Potong




                                Pembina:
                             SAIFUDDIN




                           Kelompok Ternak




                               Sekretariat :
Desa Krueng Batu, Kec. Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, Kode Pos: 23771
                              KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmanirrahim

       Segala puji bagi Allah SWT kepada-Nya kami menghaturkan puji syukur dan

memohon pertolongan dan kepada-Nya kami memohon perlindungan dari kejahatan

diri kami dan keburukan perilaku. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada Rasul

kita yang mulia yaitu Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dan keluarga beliau

yang senantiasa mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

       Program Sarjana Membangun Desa (SMD) tahun 2008 yang merupakan

program dari Direktorat budidaya ternak ruminansia, Departemen Pertanian yang kita

ketahui bahwa Program Sarjana Membangun Desa (SMD) dinilai sangat baik dalam

mengembangkan kegiatan agribisnis masyarakat, sehingga dapat menumbuhkan jiwa

kewirausahaan usaha kelompok tani dalam pengembangan usaha ekonomi produktif

yang berbasis komoditi sapi potong.

       Dalam rangka ikut serta mendukung program tersebut, kami mengajukan

proposal usaha penggemukan dan pembibitan sapi potong. Program Sarjana

Membangun Desa (SMD) 2008 ini akan dilaksanakan di Desa Krueng Batu,

kecamatan Kluet Utara, kabupaten Aceh Selatan dengan nama Kelompok Usaha

“CEMPALA KUNENG” dengan jumlah anggota kelompok 15 orang.

       Proposal ini sebagai bahan pertimbangan dan gambaran pelaksanaan program

Sarjana Membangun Desa (SMD) 2008.

                                                         Penyusun




                                        ii
                                                    DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR ........................................................................................               ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................    iii
DAFTAR TABEL ...............................................................................................          iv
PENDAHULUAN ..............................................................................................             1
  A. LATAR BELAKANG ............................................................................                       1
  B. TUJUAN DAN MANFAAT ...................................................................                            2
  C. POTENSI DAN DAYA DUKUNG ........................................................                                  3
PELAKSANAAN KEGIATAN .........................................................................                         4
   A. KEGIATAN PENGGEMUKAN SAPI ..................................................                                     4
   B. USAHA PEMBIBITAN SAPI POTONG ...............................................                                     5
   C. BANGSA SAPI YANG AKAN DIKEMBANGKAN ...........................                                                   6
RENCANA ANGGARAN DAN ANALISA USAHA.......................................                                              7
  A. ANALISA USAHA PENGGEMUKAN.................................................                                        7
  B. ANALISA USAHA PEMBIBITAN SAPI POTONG ............................                                                 8
RENCANA ANGGARAN..................................................................................                     9
PENUTUP ...........................................................................................................   10




                                                             iii
                                           DAFTAR TABEL



Tabel 1. Rencana Alokasi Biaya .......................................................................   9




                                                      iv
                                PENDAHULUAN



A. LATAR BELAKANG

       Desa Krueng Batu adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Kluet Utara,

Kabupaten Aceh Selatan. Desa Krueng Batu memiliki topografi daratan yang

beragam meliputi lading, sawah dan perkembangan yang mayoritas penduduknya

bekerja sebagai petani dan peternak. Dengan kondisi tanah yang subur, sangat

mendukung sektor pertanian termasuk didalamnya adalah sub sektor peternakan

dengan luas persawahan 110 Ha dengan luas desa secara keseluruhan 1035 Ha dan

luas areal yang belum terpakai 5 Ha. Ketersediaan hijauan makanan ternak (HMT)

yang cukup melimpah dan didukung pula dengan pemanfaatan limbah pertanian

seperti (jerami padi/jagung) dan pemanfaatan bahan pakan lokal seperti sagu sebagai

konsentrat dalam pakan ternak potong.

       Peluang untuk mengembangkan sapi potong dan pembibitan untuk belakan

dan usaha pembibitan sapi potong di Desa Krueng Batu cukup besar dan sekaligus

mengintensifkan semua sektor usaha tani masih terbuka lebar, khususnya dalam

rangka pencapaian kemandirian swasembada daging. Berdasarkan pada ketersediaan

bahan pakan dan luas lahan yang masih belum terpakai serta beragam sumber bahan

pakan yang mudah didapat seperti jerami, bungkil kelapa, batang pisang, dan sagu

yang belum diolah oleh masyarakat Desa Krueng Batu masih sangat besar

peluangnya untuk pengembangan usaha sapi potong.

       Secara   garis   besar   ada     beberapa   aspek   yang   melatarbelakangi

dikembangkannya sapi potong di Desa Krueng Batu, antara lain:



                                          1
   1. Lahan yang tidak terpakai masih sangat luas untuk pengembangan usaha

      ternak.

   2. Sumber daya manusia (SDM) yang tidak terpakai.

   3. Tingginya permintaan daging untuk konsumsi harian masyarakat khususnya

      saat menjelang hari-hari besar Islam seperti Meugang.

   4. Sektor peternakan merupakan salah satu sumber mata pencaharian yang telah

      lama digeluti masyarakat tetapi belum memiliki usaha yang intensif.


B. TUJUAN DAN MANFAAT

1. Tujuan Umum

   a. Untuk mempercepat pencapaian swasembada daging pada tahun 2010 sesuai

      dengan program pemerintah melalui Dirjen Peternakan Sub Bidang

      Ruminansia Besar.

   b. Memaksimalkan peranan sarjana peternakan dan dokter hewan dalam

      membangun peternakan dan pengembangan sapi potong di Desa Krueng Batu.

2. Tujuan Khusus

   a. Meningkatkan produktifitas ternak sapi potong di Desa.

   b. Meningkatkan kesejahteraan petani peternakan di Desa.

   c. Memberi kesempatan kerja bagi sarjana domisili dan masyarakat desa.

3. Manfaat

   a. Meningkatkan pendapatan dan tingkat kesejahteraan peternak.

   b. Membantu mengurangi tingkat penggunaan.

   c. Memperluas kesempatan berusaha bagi masyarakat.

   d. Meningkatkan kesempatan dan keterampilan petani dalam beternak dalam

      usaha ekonomi produktif.


                                        2
C. POTENSI DAN DAYA DUKUNG

       Sebagaimana diutarakan di depan bahwa topografi Desa Krueng Batu

sebagian merupakan daerah ladang/perkebunan dan persawahan dengan kondisi iklim

sedang. Dengan potensi alam yang demikian sangat menunjang pengembangan ternak

khususnya sapi potong. Di samping itu, semangat para petani peterriak akan semakin

bangkit dengan tersedianya daya dukung yang ada.

1. Potensi

   a) Mayoritas penduduk sebagai petani sekaligus peternak, dimana minat usaha di

       bidang peternakan semakin digemari masyarakat.

   b) Cukup tersedianya lahan sebagai sumber tersedianya hijauan makanan ternak

       jenis unggul.

   c) Cukup tersedianya bahan pakan lokal seperti sagu, dedak, dan bungkil kelapa

       sebagai sumber pakan penguat.

   d) Tersedianya limbah pertanian berupa jerami padi maupun jerami jagung.


2. Daya Dukung

   A. Potensi sumber bahan pakan ternak potong

       1) Jumlah produksi jerami per tahun 80 ton jerami kering

       2) Rata-rata anggota kelompok mempunyai lahan 1 Ha untuk penanaman

             HMT (Hijauan Makanan Temak).

   B. Potensi Sumber Daya Manusia

       1. Sarjana peternakan

       2. Peternak




                                        3
                         PELAKSANAAN KEGIATAN



       Sesuai dengan program pemerintah, dalam pencapaian swasembada daging

2010, maka Pengembangan Sapi Potong di Desa Krueng Batu Kecamatan Kluet

Utara dikembangkan pada usaha penggemukan dan pembibitan sapi potong.

Pelaksanaannya dilakukan oleh para peternak dalam wadah kelompok Ternak

“Cempala Kuneng” dibawah binaan Karnimah Sarjana Kedokteran Hewan Unsyiah

dan bersama-sama anggota kelompok melakukan usaha pengembangan sampai

dengan pemasaran hasil produksi ternak.


A. KEGIATAN PENGEMUKAN SAPI

       Pengembangan usaha sapi potong memiliki beberapa manfaat. Pertama,

mendorong masyarakat peternak untuk dapat menahan diri dalam penjualan pedet

jantan yang belum lepas sapih, sehingga dengan sistem pengemukan/kereman akan

diperoleh nilai tambah yang memadai bagi peningkatan pendapatan peternak. Kedua,

menyediakan temak sapi siap potong dengan kualitas daging yang baik. Ketiga,

menekan angka pemotongan ternak sapi dengan kuantitas karkas/daging yang

diperoleh rendah. Dengan demikian akan berpengaruh pula terhadap penurunan

angka populasi sapi potong.

       Dalam pemeliharaan sapi keremen ini, petani/peternak akan menggemukkan

ternak dalam kandang kelompok didalam satu areal yang diusahakan oleh kelompok.

Pemeliharaan dilakukan secara intensif, artinya ternak sapi di kandangkan dengan

pemberian pakan hijauan secara cukup dan makanan tambahan/konsentrat dengan

pemanfaatan sagu yang dapat diolah lansung oleh peternak dengan harga yang murah.


                                          4
Diharapkan akan memperoleh keuntungan yang optimal dari usaha yang

dikemb;;ngkan. Perhitungan keuntungan adalah selisih jual ternak saat panen di

kurangi nilai pokok ternak. Pembagian keuntungan dari usaha pengemukan dibagi

rata dengan seluruh anggota setelah disisihkan 10% dari total keuntungan untuk

perbaikan kandang tahap berikutnya, biaya sewa lahan dan sebagai dana pinjaman

anggota tanpa bunga untuk kebutuhan mendadak anggota yaitu untuk kesehatan dan

pendidikan anggota keluarga peternak.


B. USAHA PEMBIBITAN SAPI POTONG

       Usaha pembibitan sapi potong bertujuan untuk menjaga kelarliungan usaha

kelompok dan ketersedia(Rij bakalan untuk penggemukan serta peningkatan populasi

sapi potong secara umum. Pembibitan dilakukan dengan pemilihan calon induk yang

memiliki tingkat kelahiran tinggi dan produktif. Metode pembibitan yang dilakukan

yaitu induk berjumlah 8 ekor dan sapi jantan (bakalan) berjumlah 25 ekor.

       Dalam usaha pembibitan sapi potong ini, peternak memelihara sapi induk

dalam satu lahan yang telah dibuat bak pakan untuk tempat pemberi an pakan dan

shelter sebagai tempat berteduh bagi induk yang dipelihara. Pemeliharaan dilakukan

dengan sistem lepas dan dilakukan secara intensif, artinya induk sapi akan diberikan

pakan secara cukup berdasarkan kebutuhan pakan per ekor induk dan makanan

tambahan/konsentrat. Anak-anak sapi jantan yang lahir akan dijadikan bakalan untuk

pengemukan selanjutnya setelah dihitung harga beli sebagai keuntungan peternak.

Perhitungan keuntungan adalah harga beli bakalan ternak pada saat anak akan

digemUKkan. Pembagian keuntungan dari usaha pengemukan dibagi rata, dengan

seluruh anggota setelah disisihkan 10 % dari total keuntungan untuk honor petugas

113, sewa lahan dan pembelian pupuk untuk penanaman hijauan makanan ternak


                                         5
tahap berikutnya serta sebagai dana pinjaman anggota tanpa bunga, untuk kebutuhan

mendadak anggota yaitu untuk kesehatan dan pendidikan anggota keluarga peternak.


C. BANGSA SAPI YANG AKAN DIKEMBANGKAN

       Bangsa sapi yang akan dikembangkan adalah jeni sapi lokal yaitu sapi Bali

yang merupakan sapi potong asli Indonesia. Hal ini dilakukan untuk menambah

populasi ternak di Nanggroe Aceh Darussalam artinya ternak yang akan

dikembangkan berasal dari War daerah tidak hanya sebagai perpindahan tempat tapi

merupakan penambahan populasi yang sesungguhnya. Ditinjau dari sistematika

temak, sapi Bali masuk familia Bovidae, Genus bos dan Sub-Genus Bovine, yang

termasuk dalam sub-genus tersebut adalah; Bibos gaurus, Bibos frontalis dan Bibos

sondaicus (Hardjosubroto, 1994), sedang Williamson dan Payne (1978) menyatakan

bahwa sap) Bali (Bos-Bibos Banteng) yang spesies liarnya adalah bantpng termasuk

Famili bovidae, Genus bos dan sub-genus bibos. Sapi Bali mempunyai ciri-ciri

khusus antara lain; warna bulu merah bata, tetapi yang jantan dewasa berubah

menjadi hitam (Hardjosubroto, 1994).

       Persentase kelahiran sapi Bali 52,15% lebih tinggi di banding dengan sapi

Brahman 50,71%, Brahman cross 47,76% dan sapi Ongole 51,04% kecuali Lokal

cross (Lx) 62,47%, demikian pula calf crop sapi Bali 51,40% lebih tinggi dibanding

sapi Brahman 48,80%, Brahman cross 45,87% dan sapi Ongole 48,53% kecuali Lokal

cross sebesar 62,02 % serta persentase kematian yang rendah. Hal tersebut dapat

memberi gambaran bahwa produktivitas sapi Bali sebagai sapi asli Indonesia masih

tinggi, namun jika dibandingkan dengan sapi asal Australia masih tergolong rendah

yakni calf crop-nya dapat mencapai 85 % (Trikesowo et al., 1993).



                                         6
               RENCANA ANGGARAN DAN ANALISA USAHA



       Untuk pengembangan kelompok usaha tani “Cempala Kuneng”, dibutuhkan

anggaran sebesar Rp 223.000.000. Untuk pembelian sapi sebanyak 32 ekor dengan

umur rata-rata 2 tahun dan berat badan rata-rata 190 kg dengan perincian sebagai

berikut yaitu untuk pembelian sapi jantan (bekalan) sebanyak 25 ekor dengan harga

Rp 7.000.000 / per ekor (25 x 7.000.000 – 175.000.000) dan untuk pembelian sapi

betina (induk) sebanyak 8 ekor dengan harga Rp 6.000.000 per ekor (8 x 6.000.000 =

48.000.000).


A. ANALISA USAHA PENGGEMUKAN

       Analisa usaha yang dipaparkan dalam proposal ini dengan menggunakan

perhitungan yang sangat sederhana yakni hanya menampilkan keuntungan kotor,

yaitu keuntungan petani/peternak. Adapun batasannya adalah sebagai berikut:

1) Harga beli 25 ekor sapi jantan bekalan @ Rp 7.000.000 dengan berat badan awal

   lebih kurang 190 kg/ekor adalah : 25 ekor x Rp 7.000.000 – 175.000.000.

   Keterangan: harga per kg berat hidup sapi jantan bekalan lebih tinggi

   dibandingkan dengan harga per kg berat hidup sapi yang telah digemukkan.

2) Lama penggemukan 3 bulan (90 hari).

3) Pertambahan berat badan per hari 0,8 kg.

4) Pertambahan berat badan selama 3 bulan per ekor (90 x 0,8 kg = 72 kg).

5) Berat badan sapi siap jual per ekor (190 kg + 72 kg = 262 kg).

6) Harga per kg berat hidup sapi siap jual Rp 30.000,- / kg.




                                          7
7) Harga per ekor sapi siap jual setelah digemukkan (262 kg x Rp 30.000 =

   Rp 7.860.000).

8) Nilai total penjualan sapi (25 x Rp 7.860.000 = Rp 196.500.000).

9) Keuntungan kotor hasil penjualan 25 ekor sapi penggemukan selama 3 bulan (90

   hari = Rp 196.500.000 – Rp 175.000.000 = Rp 21.500.000).


       Dari usaha penggemukan sapi, peternak mendapatkan keuntungan kotor Rp

21.500.000, dikurangi biaya perbaikan kandang dan pinjaman untuk peternak sebesar

10%, dengan demikian masing-masing peternak mendapat keuntungan kotor selama 3

bulan yaitu Rp 1.290.000/orang selama 90/hari, dimana dalam 1 tahun peternak

menggemukkan tiga kali masa penggemukan.



B. ANALISA USAHA PEMBIBITAN SAPI POTONG

       Setiap tahun diharapkan akan lahir 1 ekor pedet dari 8 induk. Dengan calf

crop 75% maka jumlah pedet yang lahir adalah 3 anak sapi jantan dan 3 ekor anak

sapi betina. Anak-anak jantan akan digemukkan pada umur 13 bulan dengan taksiran

harga Rp 3.000.000 maka modal yang diperoleh dari anak jantan adalah Rp 3 x

3.000.000 = 9.000.000.




                                         8
                               RENCANA ANGGARAN



       Anggaran yang dibutuhkan untuk usaha penggemukan dan pembibitan sapi

potong di Desa Krueng Batu Kecamatan Kluet Utara Kabupaten Aceh Selatan adalah

sebagai berikut:


                                        Tabel 1
                                 Rencana Alokasi Biaya

 No.               Uraian            Volume       Harga Satuan          Sub Total
  1    Untuk pembelian ternak:
       - Bekalan sapi jantan.        25 ekor         7.000.000,-   Rp 175.000.000,-
       - Induk                        8 ekor         6.000.000,-   Rp 48.000.000,-
  2    Untuk kandang                    -                -         Rp    30.000.000,-
  3    Untuk administrasi               -                -         Rp     1.500.000,-
       kelompok
  4    Komputer                       1 unit         7.500.000,-   Rp     7.500.000,-
  5    Untuk komponen IB (alat          -                -         Rp     6.000.000,-
       dan bahan)
  6    Untuk pengembangan               -                -         Rp     6.000.000,-
       HMT
  7    Untuk obat-obatan                -                -         Rp     5.000.000,-
       vitamin dan peralatan
       veteriner
  8    Pengembangan usaha               -                -         Rp     6.000.000,-
       simpan pinjam
  9    Pengembangan                     -                -         Rp     6.000.000,-
       kelembagaan dan SDM
 10    Insentif SMD selama 6            -                -         Rp     9.000.000,-
       bulan
       Jumlah Total                                                Rp 300.000.000,-




                                            9
                                    PENUTUP



       Usaha pengembangan sapi potong dengan pemanfaatan Sumber Daya Alam

yang ada serta. Sumber Daya Manusia, yang dikelola secara optimal, intensif dan

profesional dapat meningkatkan pcndapatan dan kesejahteraan petani. Sistem

penggemukan    yang selama    ini   berjalan   tanpa   adanya   pengelolaan   yang

memanfaatkan sumber daya dan adanya usaha pembibitan untuk ketersedian bakalan

serta penggunaan konsentrat yang murah dan mudah diolah oleh masyarakat

diharapkan dapat memberi keuntungan yang lebih besar dan dapat meningkatkan

produksi daging yang maksimal untuk memenuhi kebutuhan akan daging khususnya

untuk wilayah Aceh Selatan.




                                       10

								
To top