SISTEM ENERGI SAAT LATIHAN OLAHRAGA _ SANDI_10 _

Document Sample
SISTEM ENERGI SAAT LATIHAN OLAHRAGA _ SANDI_10 _ Powered By Docstoc
					  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


                                              MAKALAH


                      SISTEM ENERGI SAAT LATIHAN OLAHRAGA


                                    ( MATA KULIAH FISIOLOGI OLAHRAGA)
                                                   DOSEN:
                                       1.PROF.DR.JAMES TANKUDUNG, M.PD
                                     2. PROF.DR.VIKTOR SIMANJUNTAK, M.KES




                                                 OLEH:
                                          NURSANDI MULATO
                                            REG.7216091748




                 PROGRAM PASCA SARJANA PENDIDIKAN OLAHRAGA
                                    UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
                                                    2010
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A




                                    KATA PENGANTAR


Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas Rahmat dan
Hidayah-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah ini .Adapun makalah ini penulis beri
judul “Sistem Energi Saat Latihan Olahraga “. Penulisan makalah ini bertujuan untuk
memenuhi tugas mata kuliah Fisiologi Olahraga pada Program Pasca Sarjana Universitas
Negeri Jakarta. Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi,
namun dengan semangat dan dibantu semua pihak akhirnya penyusunan makalah ini
terselesaikan.
Dalam kesempatan ini penyusun menyampaikan rasa terima kasih kepada Prof.Dr. James
Tankudung, M.Pd dan Prof.Dr. Viktor Simanjuntak, M.Kes selaku Dosen mata kuliah Fisiologi
Olahraga yang telah membantu mengarahkan dan membimbing penyusunan makalah ini, serta
terima kasih pula rekan-rekan mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta
yang turut memberikan informasinya.


Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih dari jauh dari
kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, penulis telah
berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai
dengan baik dan oleh karenanya, penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka
menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.


                                                         Pontianak, November 2010


                                                                     Penulis
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


                                                  BAB I


                                              PENDAHULUAN
      A. Latar Belakang
                        Perkembangan dan kemajuan olahraga sangat pesat, hal itu dapat kita lihat
            dengan adanya perubahan sistem dan cara melatih yang sudah modern dengan
            digunakannya perpaduan teknologi dan ilmu pengetahuan yang mengakibatkan
            kualitas tingkat prestasi atlet atau olahragawan semakin baik, dan secara ilmiah
            peningkatan prestasi dapat dilihat dan diukur dengan menerapakan teori ilmiah dan
            menggunakan alat ukur yang sesuai dengan cabang olahraga masing-masing, namun
            demikian di beberapa Negara atau cabang olahraga terkadang sugesti atau mitos
            tentang suatu olahraga masih saja ada, sebagai misal tentang masalah kekuatan atau
            daya tahan, seorang atlit tenaganya akan bertambah berlipat-lipat jika sebelum
            bertanding dia minum telur mentah di campur madu, dan ada juga yang masih
            mempercayai hal-hal mistik dalam olahraga, sebagai contoh hadirnya paranormal
            dalam suatu pertandingan olahraga.
            Kembali pada perkembangan ilmu pengetahuan , sekarang sudah bisa dihitung
            dengan rinci dan pasti berapa jumlah energy/kalori yang dibutuhkan dalam suatu
            cabang olahraga, sampai makanan apa saja sudah bias dihitung dengan tepat dengan
            ilmu gizi , dan sejauh mana latihan yang harus dilakukan juga sudah ditemukan alat
            untuk mengukur kemampaun kapasitas paru (VO2 max ), power, Balance, Agility,
            speed dan masih banyak lagi iptek yang dapat dimanfaatkan dalam perkembangan
            olahraga.
            Uraian dibawah akan membahas tentang latihan dan system energy yang digunakan
            dalam latihan olahraga.
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


                                                BAB II
                                            PEMBAHASAN


A.Latihan Dalam Olahraga
            Seperti kita ketahui bahwa makna latihan menurut beberapa para ahli adalah suatu
proses aktivitas tubuh untuk kebutuhan tertentu secara sistematis, berulang-ulang dengan
penambahan beban yang teratur periodik sesuai kaidah / norma. Latihan pada anak usia
sekolah (terutama Sekolah Dasar) harus lebih hati-hati, karena pada usia ini anak kurang
kontrol dalam setiap aktivitasnya.
Aspek-aspek latihan terdiri dari latihan Fisik, latihan Teknik, Latihan Taktik – Strategi, dan
latihan mental (psikis). Kita harus memahami latihan fisik apaya yang dibutuhkan dan harus
terjadi pada anak usia sekolah. (dibahas selanjutnya).       Selain itu, latihan teknik yang
bagaimana harus dipelajari oleh anak usia sekolah sesuai dengan fasenya masing-masing.
Pelatih harus memahami tentang jenis keterampilan apa yang sedang dipelajari / dibutuhkan,
apakah ketermapilan yang siklis, asiklis atau kombinasi asiklis. Sehingga metode yang
diterapkan menjadi efektif. Juga, kapan taktik dan strategi itu diberikan dalam prose latihan.
Untuk latihan psikis lebih menekankan pada menumbuhkan gejala-gejala psikis yang positif,
seperti disiplin, motivasi, daya konsentrasi, dan percaya diri, meskipun masih banyak gejala
psikologis lainnya.


Dalam melatih anak-anak usia sekolah (calon atlet) haruslah dengan seksama memperhatikan
dan memahami prinsip-prinsip latihan yang dikaji dalam ilmu faal, teori pertumbuhan dan
perkembangan anak, psikologi, nutrisi dan juga pedagogik agar prestasi puncak dapat dicapai
sesuai dengan rencana.


Berkaitan dengan prinsip-prinsip latihan secar umum, berikut berdasarkan tiga kajian disiplin
ilmu :


PRINSIP-PRINSIP LATIHAN OLAHRAGA
Dalam olahraga prestasi banyak hal yang harus diperhatikan dan dipahami oleh setiap pelatih.
Hal ini tentunya terkait dengan tugas dan fungsi (peran) seorang pelatih. Kita mengetahui
bahwa fungsi seorang pelatih antara lain : sebagai sahabat / teman atlet, sebagai peletak
dasar disiplin atlet, sebagai idola / figur / panutan, sebagai orang tua, sebagai siswa yang
harus terus belajar, sebagai manajer, sebagai instruktur, sebagai ilmuwan, sebagai analis,
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


sebagai administrator, sebagai agen promosi, sebagai guru, dan juga sebagai psikolog.
Sehingga pelatih dikenal sebagai orang yang harus senantiasa berlandaskan pada “ART AND
SCIENCE”
Kesuksesan seorang pelatih tergantung pada bagaimana ia memerankannya secara maksimal.
Banyak disiplin ilmu yang harus dipelajari, dikembangkan, dan kemudian diaplikasikan melalui
seni-seni kreasi yang menyebabkan proses latih melatih menjadi lebih efektif dan efesien.
Pada tulisan ini, menguraikan sedikit tentang bagian penting dalam kegiatan latih melatih yaitu
bagaimana seorang pelatih memahami dan mampu menerapkan Prinsip –prinsip Latihan
dalam pelatihan olahraga prestasi.
Tidak jarang pelatih yang belum mampu menerapkan hal ini. Mungkin, keterbatasan pehaman
atau kesulitan dalam bagaimana penerapannya. Mudah-mudahan tulisan ini dapat sedikitnya
membantu akan pemahaman hal ini terutama bagi pelaku olahraga.
Banyak sistem yang mempengaruhi perencanaan latihan. Bagaimanapun seorang pelatih
dalam menggunakan program latihan untuk atletnya maka harus berpedoman pada prinsip-
prinsip latihan. Untuk memahami prinsip latihan ini maka kita coba kaji berdasar pada kajian
Ilmu Faal (Fisiologik), Ilmu Jiwa (Psikologik), dan Ilmu Kependidikan (Pedagogik). Secara
struktur prinsip ini tergambar seperti berikut :




                                    THE PRINCIPLES OF TRANING




       PHYSIOLOGICAL                    PSYCHOLOGICAL                  PEDAGOGICAL

      Law of Overload                   Active, Conscientious         Planning and Use
       o Individualization              Participation                 System
       o Multilateral                   Awareness                     Periodization
         Development                    Variety                       Visual Presentation
      Law of Specificity                Psychological Rest
       o Specialization
       o Modeling the
         training process
      Law of Reversibility
       o Increasing
         Demands
       o Continuous Load
         Demend
       o Feasibility
       o Restoration                                        - William H. Freeman; 1989 -
       o Active Rest
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


HUKUM FISIOLOGIK
Semua sistem latihan dipengaruhi oleh tiga hukum fisiologik, yaitu : hukum OVERLOAD,
hukum KEKHUSUSAN (Specificity), dan hukum REVERSIBILITAS (Reversibility).             Prinsip-
prinsip lainnya disebutkan oleh para pelatih sebagai aspek-aspek yang terkandung dalam tiga
prinsip tersebut.
Hukum Overload (Law of Overload)
Hukum ini adalah yang banyak memperbaiki dalam kebugaran seorang atlet, sehingga
membutuhkan suatu peningkatan beban latihan yang akan menantang keadaan kebugaran
atlet.
Bahwa beban latihan berfungsi sebagai suatu stimulus dan mendatangkan suatu respon dari
tubuh atlet. Apabila beban latihan lebih berat daripada beban normal pada tubuh maka tubuh
akan mengalami kelelahan sehingga tingkat kebugaran akan menjadi lebih rendah dari tingkat
kebugaran normal. Hal ini akan membutuhkan masa pemulihan yang lebih lama. Artinya,
pembebanan akan menyebabkan kelelahan, dan ketika pembebanan berakhir, maka
pemulihan berlangsung. Jika pembebanan optimal (tidak terlalu ringan dan juga tidak terlalu
berat) maka setelah pemilihan penuh tingkat kebugaran akan meningkat lebih tinggi daripada
tingkat sebelumnya.




                                             Efek Latihan / Overkompensasi
                      Beban Latihan




          Kelelahan /                 Pemulihan
           Adaptasi




Efek latihan (overcompensation) pada tubuh adalah semua yang terjadi dalam latihan.
Bagaimanapuun, jika pembebanan latihan terlalu ringan, efek latihan setelah pemulihan akan
menjadi kurang dari yang diharapkan. Jika pembebanan latihan terlalu besar / berat maka
kondisi akan kembali seperti semula.
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


Prinsip Pengembangan Multilateral
Pengembangan menyeluruh ini berkaitan dengan keterampilan gerak secara umum (general
motor ability) dan pengembangan kebugaran sebagai tujuan utama yang terjadi pada bagian
awal dari perencanaan latihan tahunan.
Prinsip ini harus menjadi focus utama dalam melatih anak-anak dan atleet junior. Hal ini
adalah merupakan langkah pertama dari rangkaian pendekatan untuk latihan olahraga
(prestasi).


Hukum Kekhususan (Law of Specificity)
Hukum kekhususan adalah bahwa beban latihan yang alami menentukan efek latihan. Latihan
harus secara khusus untuk efek yang diinginkan. Metode latihan yang diterapkan harus sesuai
dengan kebutuhan latihan. Beban latihan menjadi spesifik ketika itu memiliki rasio latihan
(beban terhadap latihan) dan struktur pembebanan (intensitas terhadap beban latihan) yang
tepat.
Intensitas latihan             adalah kualitas atau kesulitan beban latihan.            Mengukur intensitas
tergantung pada atribut khusus yang dikembangkan atau diteskan. Kecepatan berlari diukur
dalam meter per detik (m/dtk) atau langkah per detik (m/sec). kekuatan diukur dalam pound,
kilogram, atau ton. Lompat dan lempar diukur oleh tinggi, jarak, atau jumlah usaha. Intensitas
usaha berdasarkan pada persentase usaha terbaik seseorang, seperti tergambar pada table
berikut (menurut Freeman) :


                                                      PERSENTASE
                                                                               ENDURANCE
                              INTENSITAS                           DENYUT
                                            KERJA     KEKUATAN                  VO2 Max.
                                                                    NADI*
                              Maksimal     95 - 100     90 - 100    190 +         100
                            Sub Maksimal    85 - 95      80 - 90   180 - 190      90
                                Tinggi      75 - 85                  165          75
                               Sedang       65 - 75     70 - 80      150          60
                               Ringan       50 - 65     50 - 70
                               Rendah       30 - 50     30 - 50      130          50




*berdasarkan pada persentase denyut nadi maksimal atlet, tergantung individu.


Volume latihan yaitu jumlah seluruh latihan (dalam istilah) waktu, jarak, akumulasi berat dan
sebagainya ketika durasi beban adalah porsi beban yang disediakan untuk satu unit atau tipe
latihan. Contoh : Seorang pelari menyelesaikan program latihannya untuk untuk satu unit
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


selama 60 menit, maka volume latihannya adalah 60 menit. Atau ia berlari sejauh 10 km, maka
volume latihannya adalah 10 km. Seorang lifter mampu berlatih dalam satu unit latihan dengan
Squat 150 kg x 5 rep x 3 set ; Bench Press 50 kg x 8 rep x 3 set ; Heel Raise 100 kg x 6 rep x 3
set ; dan Pull Down 60 kg x 5 rep x 3 set. Maka volume latihannya adalah Squat = 2250 kg ;
Bench Press = 1200 kg ; Heel Raise = 1800 kg ; Pull Down = 900 kg. Menjadi 2250 + 1200 +
1800 + 900 = 6150 kg (6.15 ton).


Prinsip Spesialisasi
Prinsip ini melatih kapasitas dan teknik yang dibutuhkan untuk aktivitas khusus atau nomor
khusus. Contoh, dalam atletik seorang pelempar membutuhkan latihan kekuatan khusus dan
juga teknik khusus pada masiing-masing nomor lempar. Seoorang perenang membutuhkan
kecepatan dan daya tahan kecepatan serta daya tahan kekuatan sesuai dengan nomornya,
begitu pula teknik yang dibutuhkannya.
Semuanya itu harus dilatuhkan secara khusus setelah melewati fase latihan yang menyeluruh
(multilateral).


Prinsip Model Proses Latihan
Model ini dimanfaatkan untuk mengembangkan pola-pola latihan yang erat dengan kaitannya
dengan kebutuhan kompetisi. Pola yang paling sulit membutuhkan waktu yang cukup lama
(tahunan) agar menjadi sempurna. Hal iini tentunya harus diawali dengan kemampuan pelatih
dalam menganalisa setiap kompetisi. Contoh dalam olahraga permainan, bagaimana pola-
pola permainan itu harus berjalan sesuai dengan kebutuhan setiap kompetisi (saat
menghadapi lawan berat atau lawan yang lebih ringan), bagaimana pola pertahanan dan
penyerangan yang baik dan harmonis..


Hukum Reversibilitas (Law of Reversibility)
Hukum ini adalah bahwa tingkat kebugaran akan menurun jika pembebanan latihan tidak
dilanjutkan (continued). Ada istilah bahwa “if you don‟t use it, you lose it“.


Prinsip Meningkatkan Tuntutan
Dalam pembebanan latihan, tuntutan ini adalah bahwa beban latihan harus berkelanjutan jika
kebugaran umum dan khusus atlet terus ditingkatkan, beban latihan harus ditingkatkan secara
regular (progressive overload).
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


Rasio latihan adalah kritis.                   Seorang pelatih harus menentukan berapa lama pemulihan
dibutuhkan dalam suatu sesi dan antar sesi.




                               Beban Latihan                                 Kebugaran

                                                         SIKLUS MIKRO




Prinsip Melanjutkan Tuntutan Beban
Prinsip ini mengungkapkan bahwa atlet jangan terlalu lama berhenti berlatih.                        ketika
pemuncakan sedang berlangsung dan beban latihan dikurangi maka hasilnya akan
menurunkan kondisi. Oleh karena itu, hati-hati pada fase „tapering‟ dan „tapering off‟. Kapan
dan bagaimana fase itu harus berlangsung?


Prinsip Kemungkinan dapat terjadi dengan mudah (Feasibility)
Prinsip ini menyatakan bahwa beban latihan yang telah direncanakan haruslah realistic.
Tujuan latihan tidak boleh mengakibatkan rusaknya atau hancurnya prestasi atlet yang
disebabkan oleh tujuan yang tidak realistic. Hal ini bukan saja merusak secara fisik, akan
tetapi juga akan berakibat pada kondisi psikologik. Tujuan latihan haruslah sesuai dengan
kemampuan seseorang (atlet) yang tentunya berdasar pada hasil tes parameter yang
direncanakan dan dilaksanakan secara periodik sesuai kebutuhan setiap tahapan sehingga
prestasi menjadi berkembang, tidak mengecilkan hati atau gagal.


Istirahat (Restoration)
Restorasi adalah pemulihan dari suatu beban latihan yang tinggi. Masa istirahat (interval)
sama pentingnya dengan latihan. Latihan yang berat atau latihan dengan intensitas yang
tinggi maka harus diikuti dengan proses pemulihan yang cukup lama, jika latihan dilakukan
dengan intensitas yang rendah maka pemulihan berlangsung cukup singkat.
Setiap atlet akan memiliki kemampuan pemulihan yang berbeda.                             Pemulihan sangat
tergantung pada kemampuan fitness seseorang.                            Semakin tinggi kemampuan fitness
(terutama) kemampuan daya tahan jantung dan otot, maka ia akan memiliki kemampuan
pemulihan yang relatif lebih singkat/pendek (cepat pulih).
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


                                             Masa Istirahat dalam
                     Komponen Latihan                                            Keterangan
                                                Unit Latihan
                            Kelenturan              Singkat         Berlangsung kurang dari 2'
                                                                    Bervariasi untuk setiap pengulangannya,
                                                                    karena harus melakukan dalam keadaan
                     Kecepatan Gerak (SAQ)      Singkat - Sedang
                                                                    'fresh'

                       Kekuatan Maksimal          Cukup Lama        Berlangsung antara 3' - 5' per set

                      Kekuatan Yang Cepat        Sedang - lama      Berlangsung antara 2' - 3' per set

                      Daya Tahan Kekuatan       Singkat - Sedang    Berlangsung antara 1' - 2' per set
                                                                    Tergantung metode lathan yang
                        Daya Tahan Aerob            Singkat
                                                                    digunakan, DNL 120 - 150
                       Daya Tahan Anaerob                           Tergantung metode lathan yang
                                                  Cukup Lama
                      (Anaerobe Threshold)                          digunakan, DNL 170 <




Istirahat Aktif (Active Rest)
Istirahat aktif adalah bentuk istirahat (juga digunakan dalam fase transisi) yang berupa aktifitas
fisik secara ringan, seperti jogging atau aktifvitas olahraga yang lain selain spesialisasi
kecabangannya. Hal ini akan membantu pemulihan dan menjaga / memelihara kebugaran fisik
atlet.


HUKUM PSIKOLOGIK
Prinsip Aktif, Partisipasi Sungguh-sungguh (Active, Conscientious Participation)
Prinsip ini mengandung makna bahwa untuk menghasilkan prestasi yang maksimal atlet harus
terlibat secara aktif dalam proses latihan yang telah dipilihnya.
Prinsip ini sering luput dari perhatian atlet dan juga pelatih. Atlet berpartisipasi secara pasif,
hanya mengikuti saja apa yang diperintahkan atau menunggu pemberian motivasi dari pelatih
tanpa didasari atas kesungguhan untuk melakukan latihan bahwa latihan adalah suatu
kebutuhan.
Latihan adalah suatu bentuk kerja sama antara atlet dan pelatih yang mengandung resiko.
Atlet harus memahami tujuan latihan dan rencana yang telah dsusun oleh pelatih. Idealnya,
atlet harus membantu dalam merencanakan program latihan (menentukan tujuan latihan dan
target prestasi).
Tidak ada pelatih yang selalu mengetahui bagaimana reaksi tubuh dan pikiran atlet terhadap
rangsangan latihan yang diterimanya. Atlet harus memberikan kualitas umpan balik dan
bekerja sama dengan pelatih untuk mencapai efek latihan yang optimal.
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


Prinsip Kesadaran (Awareness)
Prinsip ini menunjuk pada kebutuhan bahwa pelatih menjelaskan pada atlet apa yang terlibat
dalam program latihan, apa yang menjadi tujuan latihan, da bagaimana mencapainya. Dalam
hal ni juga atlet harus menyadari akan posisinya sebagai orang yang juga harus berpartisipasi
aktif dalam perencanaan dan evaluasi latihan.


Prinsip Variasi (Variety)
Kompleksnya latihan dan tingginya tingkat pembebanan dalam latihan untuk sukses
membutuhkan variasi bentuk latihan dan metode latihan agar tidak terjadi kejenuhan /
kebosanan (boredom) atau basi (staleness). Faktor kebosanan ini akan menjadi kritis apabila
kurang bervariasi seperti pada gerakan (hanya) lari saja yang secara teknik tidak begitu
kompleks (terbatas) dan membutuhkan faktor fisiologik.


Prinsip Istirahat Psikologik (Psychological Rest)
Saat kelelahan terjadi seorang atlet akan mengalami ketegangan mental atau ketegangan
psikologis (psychological strain), bukan hanya kelelahan fisik saja. Oleh karena itu, selain
harus meningkatkan kemampuan fisik menjadi istimewa, harus pula mampu mengalihkan
situasi yang akan mengakibatkan munculnya tekanan-tekanan (stress) seperti pada kompetisi
atau latihan. Bagian ini penting untuk membantu proses istirahat psikologis.


HUKUM PEDAGOGIK
Prinsip-prinsip yang ada dalam hukum ini akan membantu atlet dan pelatih untuk lebih
memaknai proses pembelajaran / pelatihan melalui pendidikan.
Prinsip Perencanaan dan Pemanfaatan system (Planning and Use of System)
Prinsip ini membutuhkan apa yang disebut dengan disain program latihan yang sistematis dan
efesien, dari program jangka panjang sampai dengan unit latihan yang dibutuhkan oleh setiap
atlet secara individu.
Prinsip ini membutuhkan ketelitian, kehati-hatian, dan mempertemukan semua kebutuhan
latihan secara efektif.
Melalui prinsip ini, atlet dan pelatih mengalami proses pembelajaran yang selalu sistematis dan
terencana.
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


Prinsip Periodisasi (Periodization)
Prinsip periodisasi adalah mengembangkan program latihan melalui seri-seri dari setiap siklus
atau tahapan berdasarkan pada standar prestasi setiap cabang olahraga. Prinsip ini terkait
dengan perencanaan program latihan yang akan disusun.
Tahapan latihan yang lazim dimanfaatkan adalah Tahap Persiapan (Persiapan Umum dan
Persiapan Khusus), Tahap Kompetisi (Pra Kompetisi dan Kompetisi Utama), dan Tahap
Transisi.
Prinsip ini mengajak pelatih untuk senantiasa manjalani proses melalui tahapan yang jelas dan
teratur.


Prinsip Presentasi Visual (Visual Presentation)
Prinsip ini mencoba untuk memberikan informasi latihan yang sejelas mungkin kepada atlet,
sewaktu-waktu, audio-visual dapat diimanfaatkan untuk membantu atlet dalam memahami
materi latihan yang telah, sedang, dan atau akan diberikan dalam proses latihannya.
Proses pembelajaran/pendidikan seperti ini penting bagi atlet untuk bias lebih memahami apa
yang seharusnya dilakukan dan yang cukup penting adalah bagaimana seoarang atlet mampu
mengoreksi sendiri (self correction) apa yang menjadi hal penting dalam meningkatkan
prestasinya.


Prinsip-prinsip latihan yang dikaji berdasarkan tiga disiplin ilmu itu penting sekali bagi
pegangan para pelatih untuk lebih memahami tuntutan dan kebutuhan latihan agar menjadi
lebih efektif dan efesien.




                                                           Top
                                    FISIOLOGI            Prestasi            PSIKOLOGI




                                                     Latihan Spesialis


                              NUTRISI                                            PEDAGOGI


                                                Pengembangan Multilateral




                                                PERTUMBUHAN – PERKEMBANGAN
                                                          GERAK
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A




Aspek latihan yang perlu dikembangkan pada anak usia muda adalah terutama keterampilan
(teknik) gerak dasar yang benar dengan kemampuan fisik dasar yang baik. Oleh karena itu,
setiap pelatih dituntut untuk memahami tahapan-tahap latihan dari aspek-aspek latihan
tersebut sehingga mengetahui kapan dan berapa besar porsi latihan untuk multilateral dan
spesialisasi.




                                             6    8   10   12   14    16   18   20   22   24   26   28
                                                                     U S I A
                                    Ket. :       Multilateral
                                                 Spesialisasi




TAHAP PERMULAAN DAN PEMBENTUKAN
Pada tahap ini penekanan aktivitas pada pengembangan kemampuan dasar secara
menyeluruh dan menyenangkan (Foundation) yang tentunya dengan intensitas latihan yang
rendah melalui konsep bermain (games). Materi yang diberikan dapat berupa kemampuan
keterampilan gerak dasar dan kemampuan fisik dasar.


Latihan kemampuan Keterampilan Gerak
Pelatihan kemampuan keterampilan banyak diperkenalkan pada gerak dasar seperti running,
jumping, catching, throwing, batting, balancing, dan rolling yang dilakukan dengan teknik yang
benar. Sehingga tercapai tujuan untuk memberikan pengalaman keterampilan yang lengkap
dan dilakukan secara benar.                           Juga mengembangkan kelenturan, koordinasi dan
keseimbangan. Dan, yang tidak kalah pentingnya menanamkan sikap dan sifat disiplin diri dan
komit terhadap segala aturan dan tata tertib.
Sebagai dukungan pada tahap ini, pelatih harus dapat menciptakan alat bantu yang sesuai dan
tepat sehingga hasilnya menjadi efektif, seperti memodifikasi bola agar tidak menjadi beban
atau ketinggian basket yang direndahkan sehingga dapat melakukan gerakan teknik dengan
benar. Selain itu, pelatih merancang program yang lebih bervariasi agar anak mempunyai
kesempatan melakukan (partisipasi) secara maksimal dan memberi kesempatan untuk
berkreasi dan berimajinasi dalam setiap gerakan yang dilakukan.                                          Merancang regulasi
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


permainan agar mudah dipahami serta menciptakan situasi permainan yang dapat
menumbuhkan sifat inisiatif untuk saling bekerja sama.
Model latihan tersebut masih dilakukan dengan pola yang sederhana dan mudah dilakukan
serta tidak melakukan dalam kondisi kelelahan, karena dikhawatirkan akan terjadi gerakan
yang salah. Harus selalu dalam pengawasan dan (jika perlu dan harus) dibantu, hindari
handicaping habit.
Selain latihan kemampuan keterampilan juga perlu diberikan latihan fisik. Pelatihan fisik yang
dapat diberikan pada tahap permulaan ini berupa latihan-latihan fisik dasar yang sudah
dianugrahkan Tuhan kepada makhluknya, seperti kemampuan kelenturan pada persendian
dan persambungan (flexibility), kemampuan kecepatan gerak (Speed – Agility – Quickness),
kemampuan kekuatan (strength), dan kemampuan daya tahan (endurance).
Yang paling penting untuk dicermati oleh setiap pelatih adalah bagaimana menerapkan metode
dan bentuk latihan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak usia
permulaan (6 – 10 tahun) dan pembentukan (11 – 14 tahun). Harus diingat bahwa ‘Children
are not just little adults, but have complex, distinct physiological characteristics that must be
taken into account’.
Latihan Fleksibilitas
Hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan latihan fleksibilitas pada tahap ini adalah :
           Rencanakan program latihan yang akan diterapkan
           Persiapkan (seandanya ada) fasilitas yang akan digunakan untuk membantu proses
            dan memperhatikan kenyamanan dan keamanannya
           Yakinkan bahwa kondisi anak baik untuk melakukan aktivitas latihan
           Apabila anak dalam jumlah yang cukup banyak maka pengaturan situasi perlu
            diperhatikan agar tetap ada dalam pengawasan
           Memberikan contoh gerakan yang benar dan dengan ketentuan yang jelas dan mudah
            dipahami (tugas gerak yang jelas dan mudah) oleh anak
           Perhatikan sistematika gerakan demi gerakan
           Gerakan yang salah harus sesegera mungkin diperbaiki malalui pendekatan yang
            tepat
           Untuk mendapatkan retensi yang baik lakukan dengan pengulangan yang cukup dan
            tidak terlalu banyak gerakan
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


Latihan Kecepatan Gerak
Kecepatan gerak merupakan kemampuan yang terpenting dalam olahraga prestasi. Hampir
semua hasil ditentukan oleh kemampuan ini apakah itu jenis olahraga permainan, olahraga
beladiri, olahraga siklis, atau olahraga jenis akurasi sekali pun. Karena mayoritas atlet dituntut
untuk melakukan lari (run), gerak (move), bereaksi (react), atau merubah arah (change
direction) dengan cepat.
Kemampuan ini merupakan kemampuan yang telah dilahirkan (genetic) dan keturunan
(herediter) tergantung pada komposisi tipe otot. Kontraksi otot yang cepat terjadi karena
proporsi serabut otot cepat (fast twitch fibers) lebih banyak dibandingkan dengan serabut otot
lambat (slow twitch fibers).
Pada anak usia tahap permulaan, pelatihan kemampuan ini lebih diarahkan pada bentuk
permainan untuk mendapatkan speed, agility dan quickness-nya.
           Speed games
           Agility games
           Reaction games
           Quickness games
           Relays
Bentuk latihan tersebut dapat dilakukan secara terpisah dan atau kombinasi (gabungan):
Latihan Kekuatan dan Stabilisasi
Kemampuan ini harus dilakukan secara hati-hati karena secara fisiologik kemampuan anak-
anak usia ini masih sangat lemah. Oleh karena itu, latihan kemampuan ini dilakukan dengan
menggunakan beban sendiri atau dengan alat yang ringan sehingga tidak mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan fungsionalnya.
Kemampuan kekuatan yang dituju lebih kepada daya tahan kekuatan yang berarti lebih
memperhatikan volume karena pengulangannya dibandingkan dengan intensitas bebannya,
serta irama gerakan yang tidak cepat.
Harus diperhatikan apabila kita akan memberikan latihan kekuatan lompatan hendaknya
dilakukan dengan low impact.
Latihan penguatan (strengthening) yang juga akan membantu tingkat stabilitas saat bergerak
pada anak usia ini adalah dengan latihan stabilisasi. Latihan ini boleh dikatakan dengan resiko
cedera yang sangat minim dan bahkan untuk orang dewasa (atlet) latihan ini menjadi bagian
dari latihan rehabilitasi atau penyembuhan dari cedera. Latihan ini akan lebih baik apabila
sudah diperkenalkan pada anak-anak usia sekolah. Yang perlu diperhatikan dari latihan
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


kekuatan dan stabilisasi ini adalah porsi / takaran latihan dan bentuk latihan yang sesuai dan
tepat.
Latihan Daya Tahan
Kemampuan daya tahan adalah kemampuan yang paling jelas dimiliki oleh anak-anak. Pada
usia anak-anak tingkat kesadaran akan kelalahan sangatlah kecil. Aktivitas sehari-hari yang
dilakukan sangat padat akan tetapi jarang (bahkan tidak pernah) mengeluh kelelahan.
Pelatihan pada kemampuan ini adalah memberikan perlakuan terhadap anak-anak untuk
menyelesaikannya dalam waktu yang lama. Dalam latihan ini tingkat kejenuhan dan rasa
malas cukup tinggi sehingga dituntut pelatih untuk mampu menciptakan variasi latihan yang
banyak dengan menerapkan metode dan bentuk latihan yang tepat dan sesuai dengan
kebutuhan.
Bentuk latihannya lebih dominan permainan yang menuntut aktivitas setiap individu anak (tidak
pasif) yang berlangsung cukup lama (waktu yang lama atau pengulangan yang cukup banyak).
Untuk menarik perhatian dan minat bergerak maka penggunaan alat bantu yang tepat harus
dimaksimalkan.
Pada hakikatnya untuk mencapai prestasi tinggi setelah melewati masa pemula dan
pembentukan yang baik latihan akan menjadi efektif dan efesien apabila prinsip-prinsip latihan
dan norma / kaidah latihan diterapkan dengan baik.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pelatihan fisik pada tahap spesialisasi diantaranya :
     Latihan Kelenturan
      Dengan kemampuan yang telah terbentuk pada masa sebelumnya maka pelatihan yang
      dilakukan mengarah pada bagian terpenting, terutama kesiapan otot dalam berkontraksi
      untuk melakukan gerakan (eksplosif) sehingga terhindar dari cedera dan gerakannya
      menjadi lebih efesien.
     Latihan Kecepatan Gerak
      Setelah mencapai kesempurnaan gerak (teknik) maka gerakan tersebut harus dilakukan
      dengan usaha maksimal yang berbentuk ‘speed’, ‘agility’, atau ‘quickness’, dengan istirahat
      yang cukup sehingga tidak melakukan gerakan dalam keadaan lelah serta dapat dilakukan
      dengan jumlah pengulangan yang cukup banyak.
      Hal yang tidak kalah penting adalah memilih bentuk latihan yang spesial dibutuhkan oleh
      cabang olahraga sehingga hasilnya menjadi lebih efektif.
     Latihan Kekuatan
      Sama seperti kebutuhan pada kemampuan kecepatan, latihan kekuatan pun harus
      diarahkan spesial pada kebutuhan cabang olahraga. Apakah cabang olahraga yang
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


      tergolong ‘sport speed’, sport endurance’ atau ‘sport strength’. Hal ini tentunya akan terkait
      dengan pemberian latihan yang disesuaikan dengan periodisasi kekuatan untuk „kekuatan
      maksimal‟, kekuatan yang cepat‟, atau „daya tahan kekuatan‟.
     Latihan Daya Tahan
      Kemampuan ini pada tahap spesialisasi juga disesuaikan dengan kebutuhan cabang
      olahraga. Apabila tergolong dalam „sport speed‟ maka latihannya lebih dominan pada
      pencapaian daya tahan anaerob (daya tahan kecepatan) yang pengembangan latihannya
      dapat berupa bentuk latihan gerak cepat maksimal ke depan yang konsisten (speed
      endurance) atau gerak cepat maksimal merubah arah (agility endurance) yang dapat
      dipertahankan dalam waktu yang cukup lama (sesuaikan dengan kebutuhan cabor).
Kemampuan lain yang juga perlu kita perhatikan adalah kemampuan psikologis atlet karena
dalam suatu kompetisi peran psikis sangat menonjol. Oleh karena itu, atlet dituntut untuk
memiliki dalam mengatasi gejala psikis dan mampu membangun.
            o Motivasi
            o Daya Konsentrasi
            o Disiplin
            o Percaya Diri
            o dan yang lainnya


            A. Sistem Energi Dalam Latihan Olahraga


            Di dalam berbagai jenis olahraga baik olahraga dengan gerakan-gerakan yang bersifat
konstan seperti jogging, marathon dan bersepeda atau juga pada olahraga yang melibatkan
gerakan-gerakan yang explosif seperti menendang bola atau gerakan smash dalam olahraga
tenis atau bulutangkis, jaringan otot hanya akan memperoleh energi dari pemecahan molekul
adenosine triphospate atau yang biasa disingkat sebagai ATP. Melaui simpanan energi yang
terdapat di dalam tubuh yaitu simpanan phosphocreatine (PCr), karbohidrat, lemak dan protein,
molekul ATP ini akan dihasilkan melalui metabolisme energi yang akan melibatkan beberapa
reaksi kimia yang kompleks. Pengunaan simpanan-simpanan energi tersebut beserta jalur
metabolisme energi yang akan digunakan untuk menghasilkan molekul ATP ini juga akan
bergantung terhadap jenis aktivitas serta intensitas yang dilakukan saat berolahraga.
            Energi adalah daya untuk melakukan kerja. Energi umumnya diukur dengan satuan
panas kilokalori (kkal). Satu kkal adalah banyaknya panas yang dibutuhkan untuk menaikkan
temperatur 1 liter air 10 Celcius. (Pate, 1984 :235). Energi adalah syarat penting untuk aktivitas
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


fisik selama berlatih atau bertanding. Energi berasal dari makanan yang kita makan sehari-hari
dan tujuan makan selain untuk menghilangkan rasa lapar adalah untuk pertumbuhan dan
mengganti sel-sel yang rusak. Namun demikian sebenarnya semua energi itu berasal dari
matahari, dimana energi matahari tersebut diubah oleh tumbuh-tumbuhan hijau menjadi
sumber energi kimia
            Bahan-bahan makanan yang kita makan di dalam tubuh diubah menjadi ikatan energi
tinggi yang disebut Adenosin Triphosphat (ATP) dan disimpan di dalam otot (Guyton & Hall,
1996).
Penyediaan Energi
            Penyediaan energi dalam otot dapat dilakukan melalui 3 sistem penyediaan energi.
Adapun sistem penyediaan energi di dalam otot tergantung pada jenis aktivitas fisik yang
dilakukan. Tiga sistem penyediaan energi tersebut adalah sebagai berikut: 1) sistem ATP-PC
(Sistem Phosphagen), sistem asam laktat (Lactic Acid Sistem/Glicolisis Anaerobik), dan sistem
aerobik (Sistem Oksigen/Glikolisis Aerobik).
            Sistem ATP-PC dan sistem Asam Laktat adalah sistem penyediaan energi yang tidak
membutuhkan oksigen, sehingga sistem ini disebut sebagai sistem penyediaan energi
anaerobik. Sedangkan sistem energi yang ketiga adalah sistem penyediaan energi yang
membutuhkan oksigen, sehingga disebut sebagai sistem penyediaan energi aerobik.
            Semua aktivitas fisik memerlukan energi, jumlah kebutuhan energi tergantung pada
berat dan ringannnya latihan yang dikerjakannya. Latihan yang berat dan lama pengadaan
energinya diperoleh dari beberapa sumber energi di dalam sel, antara lain dari long term
energy sistem. Latihan yang dilakukan dengan frekuensi yang teratur merupakan aktivitas fisik
yang menggunakan long term energy sistem. Pada latihan yang menggunakan long term
energy sistem dan dilakukan secara berkesinambungan akan menyebabkan terjadinya
adaptasi pada mitokondria sehingga metabolisme energi menjadi lebih baik.
            Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa pengadaan energi di dalam sel dapat
berlangsung melalui fenomena sebagai berikut, yaitu:
a. Energi yang siap pakai dan proses pengubahan keratin fosfat menjadi ATP melalui proses
      fosfrilasi ADP oleh kreatin fosfat dengan bantuan enzim keratin kinase. Prosesnya
      berlangsung sangat cepat melalui reaksi enzimatik dan terjadi saat persiapan kerja akan
      dimulai.
b. Energi yang diperoleh dari proses glikolisis, yaitu pemecahan glukosa atau glikogen.
      Fenomena pengadaan energi ini dikenal sebagai short term energy sistem.
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


c. Energi yang diperoleh dari proses fosforilasi oksidasi. Prosesnya berlangsung di dalam
      mitokondria. Sumber materi yang diproses berasal dari glukosa darah melalui glikolisis
      terlebih dahulu, asam lemak, dan asam amino. Prosesnya memerlukan banyak oksigen
      untuk membakar asam laktat, asam lemak, dan kalau mungkin juga asam amino yang
      berasal dari protein. Fenomena ini dikenal sebagai long term energy sistem. Pada fase
      selanjutnya pengadaan energi dan pembakaran asam lemak lebih banyak, sedangkan
      proses glikolisis meningkat bersamaan dengan meningkatnya jumlah enzim untuk proses
      glikolisis (Mas‟ud, 2000: 81).
            Tipe energi yang dipergunakan sel otot untuk menghasilkan tenaga kontraktil adalah
bahan-bahan kimia, dalam hal ini energi yang tersimpan di dalam molekul-molekul untuk itu
menghasilkan suatu pekerjaan di dalam sel. Molekul tertentu yang disimpan di sekuruh sel-sel
otot dan dipergunakan di dalam sel otot sebagai sumber energi potensial untuk kontraksi otot
yang cepat, atau dipergunakan dengan tiba-tiba adalah adenosine triphosphat (ATP). (Junusul
Hairy, 1989 : 71).
            Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, apapun bentuknya tubuh pasti memerlukan
energi. Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja. Berdasarkan sistem energi
predominan (predominan energy sistem), maka latihan dibagi menjadi dua bentuk, yaitu latihan
anaerobik dan latihan aerobik (Fox 1993). Latihan anaerobik adalah latihan yang
menggunakan energi dengan sistem ATP-PC (phosphgen sistem) dan glikolisis anaerobik
(lactic acid sistem). Dan latihan aerobik adalah latihan yang menggunakan sistem energi
glikolisis aerobik (aerobik glicolysis).




Gambar 2.3. Sistem metabolisme energi yang penting untuk kontraksi otot.(Guyton ang Hall;
               2006: 1057).
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


a. Sistem ATP-PC (Phosphagen Sistem)
            Aktivitas yang dilakukan berulang-ulang akan menyebabkan persediaan ATP di dalam
otot menjadi berkurang. ATP adalah simpanan energi di dalam otot yang siap digunakan untuk
aktivitas fisik. Namun, simpanan ATP ini tidak bertahan lama, karena jumlah ATP yang tersedia
di dalam otot sangat terbatas. McArdle (1986) mengemukakan bahwa ATP yang tersedia di
dalam otot hanya dapat melakukan aktivitas maksimal selama 20-30 detik saja. Oleh sebab itu,
sistem ini hanya berguna untuk aktivitas fisik yang sangat cepat dan dalam waktu yang singkat,
seperti: melompat, meloncat, memukul bola dan lain sebagainya.
            Apabila ATP di dalam otot berkurang selama melakukan aktivitas, maka perlu adanya
resintesa ATP kembali untuk aktivitas berikutnya. Sistem penyediaan energi pertama yang
digunakan untuk meresintesis ATP yang telah digunakan untuk aktivitas adalah sistem ATP-
PC. Sistem ATP-PC adalah bentuk penyediaan energi yang paling cepat dibandingkan dengan
sistem penyediaan energi lain. Namun, sistem ATP-PC ini tidak bertahan lama, karena jumlah
PC (phosphocreatin/kreatine phosphate) yang tersedia di dalam otot sangat terbatas, yaitu
kira-kira 4 kali banyaknya ATP di dalam otot.
            Terdapat 3 proses yang dapat menghasilkan ATP : (1) ATP-PC atau sistem
phospatagen. Pada sistem ini energi disintesis dari ATP yang berasal dari Posfokreatin, (2)
Anarobik Glikolisis, atau sistem asam laktat, menyediakan ATP dari degradasi parsial dari
glikogen atau glukosa. (3) Sistem oksigen. dari proses oksidasi karbohidrat dan beta oksidasi
dari asam lemak dan protein. Pada sistem oksigen mengalami reaksi oksidasi melalui siklus
krebs. Energi yang berasal dari pemecahan makanan dan energi pemecahan PC digunakan
untuk mensitesis ATP dari ADP. ( Fox, 1993 ).
            Apabila PC dipecah, maka akan mengeluarkan energi. Pemecahan tersebut tidak
memerlukan oksigen. Sewaktu ATP digunakan, maka PC segera dipecah dan akan
membebaskan energi. Energi yang dihasilkan dari pemecahan PC digunakan untuk
meresintesa ADP+Pi menjadi ATP. ATP yang terbentuk ini dapat digunakan untuk aktivitas
kembali (Fox, 1993). Setiap individu memiliki cadangan PC berbeda-beda. Hal ini tergantung
kepada faktor genetik, terlatih atau tidaknya individu, dan bentuk serta intensitas latihan
(Janssen, 1989; Fox, 1993). Soekarman (1991) mengemukakan bahwa keuntungan dari
sistem ATP-PC dapat digunakakan untuk olahraga yang memerlukan kecepatan dan kekuatan.
Alasan yang menunjang dari sistem ATP-PC adalah: (1) tidak tergantung pada reaksi kimia
yang panjang, (2) tidak membutuhkan oksigen, dan (3) ATP-PC tertimbun dalam mekanisme
kontraktil dalam otot. Jumlah energi yang dapat dihasilkan dari sistem ATP-PC dapat dilihat
pada tabel di bawah ini:
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


               OTOT                        ATP                  PC                 TOTAL ATP-PC
MM/kg otot                                 4-6                 15-17                  19-23


MM dalam seluruh otot                    120-180              450-510                570-690



Energi yang dipakai Kcl/kg               0,04-0,06           0,15-0,17               0,19-0,23
otot


                    Tabel.2.2. Jumlah energi yang dihasilkan dari ATP-PC (Fox, 1993)
            Fosfokreatin dan ATP sama-sama disimpan di dalam sel otot. Karena ATP dan PC
terdiri dari kelompok fosfat, maka mereka secara bersama-sama disebut sebagai sistem
fosfagen. Kesamaan antara ATP dan PC adalah kelompok fosfat ini pecah, maka sejumlah
besar energi dikeluarkan. Hasil akhir dari pemecahan PC ini adalah keratin (C = creatin) dan
fosfat inorganic (Pi). Energi ini dipergunakan untuk resistensi ATP. ATP dipecah pada saat
kontraksi otot berlangsung, kemudian dibentuk kembali dari ADP + P i oleh adanya energi yang
berasal dari pemecahan simpanan PC. (Junusul Hairy, 1989 : 75).
            Fosfat kreatin adalah suatu zat seperti ATP berisi fosfat energi tinggi. Tidak seperti
ATP, fosfat kreatin tidak dapat digunakan secara langsung untuk menggerakkan kontraksi otot,
tetapi fosfat kreatin digunakan untuk memperbaharui ATP, seperti dalam gambar di bawah ini.


                       Creatine Kinase
               CP                         C + Pi + energi ( 13000 kalori )

        Energi dan gugusan fosfat digunakan kembali untuk membentuk ATP dari ADP

               ADP + Pi + energi ( 12000 kalori )                            ATP

            Gambar.2.5. Fosfat Kreatin. (Pate, Rusell R. 1984 : 238).
            Kecepatan penyedian energi ATP lewat sistem ini karena : (1) tidak bergantung pada
reaksi kimia yang panjang, (2) Tidak tergantung pada transport oksigen dalam otot (tidak
memerlukan oksigen), (3) ATP-PC tertimbun dalam mekanisme kontraksi otot. (Fox, 1991).
b. Glikolisis Anaerobik (Sisten asam laktat)
            Dua dari tiga metabolisme yang terlibat dalam resintesis rngkaian rATP, yaitu ATP-PC
(sistem fosfagen) dan Glikolisis Anaerobik (sistem asam laktat), kedua-duanya anaerobik.
Anaerobik artinya tanpa oksigen, termasuk metabolisme mengenai bermacam-macam reaksi
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


kimia yang terjadi di dalam tubuh (misalnya di dalam sel otot). Jadi metabolisme anaerobik
atau ATP yang dihasilkan melalui anaerobik, berarti resintesis ATP melalui reaksi kimia tanpa
adanya oksigen. (Junusul Hairy, 1989 : 75).
            Seluruh tenaga bagi kegiatan otot diberikan dengan proses aerobik metabolis. Tetapi,
beberapa bentuk kegiatan fisik menuntut bahwa sumber tenaga yang segera dibutuhkan untuk
memperbaharui ATP otot rangka harus anaerobik. Serabut otot mempunyai dua sistem
penghasil energi yang bekerja ketika tidak ada oksigen. (Pate, Rusell R. 1984 : 238).
            Metabolisme anaerobik adalah proses penyediaan energi yang tidak melibatkan
oksigen. Ada dua macam metabolisme anaerobik yaitu sistem ATP-PC dan glikolisis anaerobik
(Guyton and Hall, 1996).
            Glikolisis anaerobik memerlukan 12 macam reaksi kimiawi secara berurutan, sehingga
pembentukan energi melalui sistem ini berjalan lebih lambat dari pada sistem ATP-PC yang
hanya 2 reaksi saja. Jadi kontraksi otot yang dihasilkan oleh sistem energi ini berlangsung
cepat, lebih lambat dari sistem ATP-PC. Adapaun ciri-ciri sistem glikolisis anaerobik adalah :
(1) menyebabkan terbentuknya asam laktat yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan
kelelahan. (2) Tidak memerlukan oksigen, (3) hanya menggunakan karbohidrat (glukosa atau
glikogen otot), (4) memberikan energi untuk resintesis beberapa molekul saja.
            Apabila glukosa masuk dalam sel, maka molekul glukosa tersebut dengan serangkaian
reaksi kimia diproses menjadi energi, yang disebut peristiwa glikolisis. Energi yang dikeluarkan
digunakan untuk membentuk ATP kembali dan menghasilkan 3 ATP. Reaksi ini tidak efisien,
karena dari 1 mol (180 gr) glikogen hanya membentuk 3 ATP sedangkan bila dengan
pertolongan oksigen akan menghasilkan 39 mol ATP.               Asam laktat yang terbentuk dari
glikolisis akan menurunkan pH otot dan darah. Perubahan pH akan menghambat kerja enzim
atau reaksi kimia dala sel terutama dalam otot sendiri, sehingga menyebabkan kontraksi otot
bertambah lemah dan menyebabkan kelelahan. (Fox, 1991)
            Sistem glikolisis anaerobik ini diperlukan pada aktivitas fisik yang berlangsung cepat
dan berlangsung 1 sampai dengan 3 atau 4 menit. Daya maksimal 1,6 mol ATP permenit. Dan
kapasitas maksimalnya 1,2 mol ATP.
            Sistem anaerobik selain dari resisensis ATP di dalam otot, adalah glikolisis anaerobik,
yang melibatkan pemecahan tidak sempurna dari salah satu bahan makanan yaitu karbohidrat
(gula), menjadi asam laktat (karena itu dinamakan asam laktat). Di dalam tubuh, semua
karbohidrat dikonversi menjadi gula sederhana yaitu glucose, yang segera dapat dipergunakan
dalam bentuk glucose, disimpan di dalam hati dan otot sebagai glikogen untuk dipergunakan
kemudian. Asam laktat adalah hasil dari glikolisis anaerobik. (Junusul Hairy, 1989 : 77).
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


            Sistem glikolisis anaerobik atau sistem asam laktat ini lebih rumit dibandingkan dengan
sistem ATP-PC. Proses pembentukan energi melalui sistem asam laktat dan memerlukan 12
macam reaksi kimia yang berurutan, sehingga pembentukan energi berjalan lebih lambat jika
dibandingkan dengan sistem ATP-PC. Sistem asam laktat mengubah glukosa atau glikogen
pada sitoplasma sel otot menjadi energi dan asam laktat.
            Soekarman (1991) menjelaskan kembali bahwa proses glikolisis anaerobik
memerlukan 12 macam reaksi kimia secara berurutan, sehingga energi yang terbentuk melalui
sistem energi ini berlangsung lebih lambat dibandingkan dengan sistem ATP-PC yang hanya
membutuhkan 2 reaksi kimia saja. Jadi, untuk kontraksi otot yang sangat cepat digunakan
ATP-PC, sedangkan untuk kontraksi otot yang cepat digunakan sistem anaerobik. Proses ini
berlangsung tanpa adanya oksigen, sehingga asam laktat merupakan produk akhir dari
metabolisme glukosa dengan sistem metabolisme anaerobik (katz, 1986; Matter, 1988). Ciri-ciri
dari sistem glikolisis anaerobik adalah sebagai berikut: (1) menyebabkan terbentuknya asam
laktat yang dapat menyebabkan kelelahan, (2) tidak membutuhkan oksigen, (3) hanya
menggunakan sumber energi karbohidrat (glikogen dan glukosa), (4) energi yang dilepaskan
hanya cukup untuk resintesis ATP dalam jumlah yang sedikit (Fox, 1984).
            Seperti telah dijelaskan di atas bahwa produk akhir dari glikolisis anaerobik adalah
asam laktat. Asam laktat akan menurunkan pH dalam otot maupun darah. Selanjutnya,
penurunan pH ini akan menghambat kerja enzim-enzim glikolitik dan mengganggu reaksi kimia
di dalam sel otot. Keadaan ini akan mengakibatkan kontraksi otot bertambah lemah dan
akhirnya otot mengalami kelelahan (Fox, 1993).
            Dalam kegiatan berolahraga atlet seringkali diminta untuk terus menerus berlatih
dengan sungguh-sungguh dalam waktu yang cukup lama. Dalam keadaan demikian, lorong ini
menggunakan karbohidrat yang tersimpan, yakni glikogen sebagai bahan pokoknya. Glikolisis
anaerobik meliputi satu rangkaian reaksi kimia yang melapaskan energi dari molekul glikogen.
Energi ini digunaka untuk memperbaharui ATP, yang sebaliknya digunakan dalam kontraksi
otot.

                                               Glikogen


                                    Glukosa                         ADP + Pi

                                               Energi
                                    Asam                            ATP
                                    Piruvat
                                              Asam Laktat
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


                         Gambar 2.6. Glikolisi anaerobik. (Pate, Rusell R.,1984 : 238).
            Meskipun asam laktat merugikan, tapi asam laktat merupakan sumber energi untuk
metabolisme anaerobik. Pada saat jumlah oksigen mencukupi, maka asam laktat akan
diksidasi untuk menghasilkan energi melalui metabolisme aerobik. Asam laktat diubah kembali
menjadi asam piruvat. Asam piruvat ini masuk ke dalam mitokondria untuk mengalami suatu
rangkaian proses oksidasi siklus Kreb dan sistem transportasi elekton untuk menghasilkan
energi (untuk resintesa ADP+Pi), H2O, dan CO2.
            Pada latihan fisik dengan intensitas tinggi otot berkontraksi dalam keadaan anaerobik,
sehingga penyediaan ATP terjadi melalui proses glikolisis anaerobik. Hal ini mengakibatkan
meningkatnya kadar laktat dalam darah maupun otot (Katch, 1990). Tetapi, otot yang terlatih
tetap dapat berkontraksi dengan baik pada konsentrasi asam laktat yang cukup tinggi. Segera
setelah mendapat oksigen, asam laktat diubah kembali menjadi asam piruvat dan selanjutnya
diubah menjadi energi, karbondioksida dan air. Jadi, asam laktat merupakan sumber energi
yang dapat digunakan sebagai piruvat dan piruvat, lalu masuk ke dalam siklus Kreb‟s dan
sistem transport elektron sehingga menghasilkan energi, H2O dan CO2 (Soekarman, 1989).
            Konsentrasi maksimal asam laktat pada darah dan otot manusia setelah latihan belum
diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan mencapai di atas 20 mM/l darah da 25 mM.Kg-
1/berat otot basah. Asam laktat yang terbentuk pada saat latihan fisik berat akan masuk ke
dalam darah, dan banyaknya laktat yang masuk sebanding dengan tingginya kadar laktat
dalam otot.
            Penyingkiran asam laktat darah akan berlangsung lebih cepat apabila proses
pemulihan dilakukan dengan istirahat aktif, yaitu melakukan aktivitas ringan atau sedang.
Penyingkiran asam laktat pada individu yang tidak terlatih akan lebih optimal apabila dilakukan
dengan aktivitas fisik pada intensitas antara 30-45% VO2 maks, sedangkan bagi atlet atau
individual dilakukan dengan aktivitas fisik pada intensitas antara 50-65% VO2 maks (Fox,
1993).
c. Sistem Aerobik
            Sistem aerobik adalah suatu sitem penyediaan ATP yang berasal dari metabolisme
aerobik. Sistem aerobik meliputi oksidasi karbohidrat, oksidasi lemak, dan oksidasi protein
yang berlangsung di mitokondria melalui serangkaian proses glikolisis aerobik. Sistem aerobik
dapat digunakan untuk menyediakan ATP bila oksigen dalam otot mencukupi dan kerja otot
tidak berlangsung cepat dan bertahan lama. Sistem aerobik ini terjadi dalam mitokondria.
Proses penyediaan energi sistem ini merupakan suatu proses rangkaian yang panjang dan
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


sangat kompleks, sehingga sistem ini dapat digunakan untuk melakukan aktivitas dalam waktu
yang cukup lama.
            Bila oksigen cukup tersedia maka untuk penyediaan ATP digunakan glukosa
(glikogen) melalui proses glikolisis aerobik atau asam lemak melalui proses beta oksidasi.
Sistem aerobik merupakan sistem pembentukan kemabli ATP melalui fosforilasi oksidatif di
mitokondria. Pengikatan kembali Pi dengan menggunakan energi              yang dihasilkan oleh
oksidasi subtrat dari makanan penghasil energi ( karbohidrat, lemak, dan protein). (Patellongi
dkk, 2000)
            Untuk aktivitas ketahanan yang tidak memerlukan gerakan cepat, pembentukan ATP
terjadi dengan metabolisme aerobik. Bila cukup oksigen 1 mole glikogen dipecah sempurna
menjadi CO2, H2O dan sejumlah energi sebesar 39 mol ATP. Untuk reaksi tersebut diperlukan
beratur-ratus reaksi kimia dengan beratus-ratus enzim.
            Metabolisme aerobik ini meskipun terjadi di otot, tetapi letaknya agak jauh dengan
mekanisme kontraktil. Oleh karena itu pengaruhnya juga lebih lambat dan tidak dapat
digunakan secara cepat. Reaksi aerobik terjadi di dalam metokondria yang terbagi menjadi :
(1) glikolisis aerobik, (2) siklus kreb, (3) sistem transport elektron.
Sistem Energi Saat Latihan Fisik
            Pada saat latihan fisik energi yang diperlukan tentunya akan bertambah, karena
kebutuhan energi di samping untuk memeprtahankan fungsi-fungsi organ tubuh juga
diperlukan tambahan energi untuk latihan fisik itu sendiri. Penambahan energi tersebut dapat
dilaksanakan dengan menggunakan sistem energi aerobik maupun anaerobik. Bila sistem
penyediaan energi yang diperlukan adalah sistem aerobik, maka diperlukan penambahan
pasokan O2, namun penambahan O2 ini akan memerlukan waktu karena memerlukan adaptasi
sistem respirasi dan sistem kardiovaskuler. Bila latihan yang dilakukan dengan menggunakan
intensitas latihan yang tinggi dandilaksanakan dalam jangka waktu yang pendek maka
peningkatan pasokan O2 belum dapat dipenuhi sehingga terpaksa digunakan sistem
penyediaan energi anaerobik.
            Latihan berat dalam waktu singkat adalah latihan dengan intensitas tinggi yang
mendekati maksimal. Artinya latihan ini dilakukan dengan intensitas submaksimal hingga
maksimal dan berlangsung kurang dari tiga menit. Sistem energi yang berlangsung dalam
aktivitas ini adalah sistem anaerobik, dan energi yang dipakai adalah sistem fosfagen dan
sistem glikolisis anaerobik. Bower (1992) mengatakan bahwa cabang olahraga yang dilakukan
dengan intensitas tinggi dan durasi singkat menggunakan sistem energi predominan (energi
utama) yaitu sistem anaerobik.
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A




Penggunaan Asam Laktat Sebagai Energi
            Sejumlah besar asam laktat yang diproduksi oleh otot selama latihan dirubah menjadi
asam piruvat kemudian dipecah menjadi karbon dioksida dan air di dalam mitokondria.
Bagaimanapun juga, asam laktat dapat berdifusi keluar dari otot dan masuk ke dalam darah,
diambil kembali, dan digradasi untuk energi oleh otot yang lain. Cara lain tentang penggunaan
asam laktat sebagai energi adalah: asam laktat dikeluarkan oleh darah ke hati, di hati asam
laktat dirubah menjadi glikogen hati, melalui glikolisis. Glikogen hati kemudian dipecah menjadi
glukosa yang masuk ke dalam darah dan diangkut kembali ke otot untuk dipergunakan di
dalam glikolisis atau disimpan sebagai glikogen. Daur dari otot ke hati dan kembali lagi ke otot,
dinamakan Daur Cori. Daur Cori terutama berguna selama latihan yang lama dan pulih asal,
karena keduanya membantu untuk mengangkut asam laktat, sebagai zat yang mempercepat
kelelahan. Daur Cori mengisi glukosa darah untuk kontinuitas suplai energi ke otot, sehingga
latihan dapat diteruskan. (Junusul Hairy, 1989 : 84).
            Asam laktat yang masuk dalam darah akan digunakan untuk oksidasi dalam sel-sel
otot aerobik dalam tubuh, yaitu: sel otot yang kurang aktif, banyak mengandung mitokondria
dan banyak mengandung pembuluh darah kapiler. Contoh otot yang kurang aktif, misalnya otot
lengan pada saat bersepeda dan bermain sepak bola. Contoh otot yang banyak mengandung
mitokondria dan pembuluh darah kapiler adalah otot-otot yang tergolong dalam jenis slow
twicth. Pada otot yang kurang aktif atau banyak mengandung mitokondria dan pembuluh darah
kapiler,asam laktat akan dirubah menjadi asam piruvat danmasuk ke dalam siklus krebs untuk
dioksidasi secara aerobik. Selain dioksidasi, asam laktat juga digunakan untuk diresintesis
menjadi glukosa melalui proses enzimatik yang disebut glikoneogenesis terutama di dalam
hati.
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


                                                  BAB III
                                                 PENUTUP
                                             Saran dan Harapan


                              Demikian uraian singkat tentang sistem energi yang digunakan dalam
latihan olahraga mudah-mudahan menjadi tambahan pengetahuan untuk kita , khususnya bagi
kita selaku insan-insan yang dekat dengan dunia olahraga, sehingga kita bisa menerapkan
prinsip-prinsip latihan yang sesuai dengan kaidah berolahraga yang baik dan benar, dan kita
juga tahu sejauh mana sistem energi yang digunakan untuk cabang olahraga tertentu yang
tentunya juga kita gunakan sebagai acuan untuk memilih seorang atlit agar bisa maksimal
dalam berprestasi. Selain itu kita bisa tahu juga makanan-makanan apa saja yang kita berikan
kepada atlit atau anak didik kita untuk menggantikan energi yang sudah dikeluarkan saat
melakukan latihan olahraga.
                              Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah memberikan bantuannya sehingga makalah singkat ini bisa selesai, saran kritik sangat
kami tunggu untuk kesempurnaan tulis kami yang sederhana ini.
  UG AS S O O G O AHR AG A
TTUG AS FFIISIIOLLOGIIOLLAHR AG A


Referensi :
Harsono. Coaching dan spek-aspek psikologis dalam Coaching. Bandung : Tambak Kusuma,
1988
William H. Freeman. Peak When It Count. Los Altos : Tafnews Press. 1989.
Tudor O. Bompa. Total training For Young Champion. Canada : Human Kinetics. 2000
Wikipedia Indonesia.
Junusul Hairy.Fisiologi Olahraga Jilid 1 .Jakarta: IKIP Padang : 1989
Prof.Drs.dr.H.Y.S Santoso Giriwijoyo. Ilmu Faal Olahraga .Fakultas Pendidikan Olahraga dan
Kesehatan UPI .Bandung : 2004

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5818
posted:1/24/2011
language:Indonesian
pages:28