Docstoc

Makalah Pendidikan

Document Sample
Makalah Pendidikan Powered By Docstoc
					           PEMBERDAYAAN SDM PENDIDIKAN
Di Susun Sebagai Salah Satu Tugas Pada UAS Semester VII Di STAI SUKABUMI




                             Di Susun Oleh :
                                 Mamin




                     STAI SUKABUMI
                KELOMPOK STUDY CIKERTEG
    Jl. Pancawati KM 1,2 Kp. Anyar Ds. Ciderum Caringin – Bogor 16730



                                  2010
                                      KATA PENGANTAR




    Puji syukur mari kita sama – sama panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah mengangerahkan
kita semua hal yang kita rasakan saat ini. Shlawat salam kita sama – sama senandungkan kepada Nabi
Muhammad SAW, sebagai manusia terakhir yang diberi wahyu dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

    Sukur Alhamdulillah saya ucapkan tiada terkira atas terselesaikannya tugas ini, walau memang
penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dari makalah yang telah tersusun ini. Untuk itu
dengan besar hati penulis pun menerima semua kritik dan saran yang kiranya memotivasi penulis untuk
terus mengembangkan dan memperbaiki setiap hal yang bisa menjadikan kita semakin baik.

    Dari hal ini penulis menyimpan harapan besar, selain makalah ini bisa menjadi pemenuh tugas dan
penambah wawasan bagi penulis sendiri. Penulis pun berharap makalah ini bisa menjadi kahzanah
pengetahuan baru bagi segenap pembaca.

    Akhirnya penulis mempersilahka setiap individu yangberminat membaca dan mengkritik makalah
ini. Semoga harapan kita tercapai serta semuanya mendapat hal yang bermanfaat dari makalah ini.




                                                                             Penulis




                                                   i
DAFTAR ISI




KATA PENGANTAR .................................................................................................                  i

DAFTAR ISI ................................................................................................................       ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................                    1

     A. Latar Belakang Masalah ....................................................................................               1
     B. Metode Penelitian .............................................................................................           1
     C. Tujuan Penelitian ..............................................................................................          1

BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................                   2

     1. Pengertian ..........................................................................................................     2
     2. Pemberdayaan SDM .........................................................................................                3
     3. Penguatan Pendidikan Agama/Budi Pekerti .....................................................                             5
     4. Strategi Pemberdayaan ......................................................................................              6
           a. Konsepsional ...............................................................................................        6
           b. Komprehensif ..............................................................................................         7
           c. Sinergis ........................................................................................................   7

Simpulan ......................................................................................................................   8

Daftar Pustaka .............................................................................................................      9




                                                                               ii
                                                BAB I

                                         PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

       Pendidikan merupakan tatanan terpenting dalam pembentukan kehidupan manusia.
   Terbentuknya kehidupan manusia sehingga menjadi satu daerah yang disebut dengan Bangsa, tidak
   lepas dari peran pendidikan dalam memajukan dan mengembangkan setiap karakter yang terdapat
   pada tiap individu atau pun komunitas. Peran pendidikan itu berkembang dengan adanya sarana
   prasarana metode serta system yang terkandung di dalamnya.

       Salah satu yang paling penting dari pendidikan itu sendiri adalah SDM yang mengembangkan
   pendidikan. Yaitu sumber daya – sumber daya yang berkutat dalam pendidikan itu sendiri. SDM
   (Sumber daya manusia) ini banyak hal dan jenisnya, dari mulai para pemikir pendidikan atau
   disebut dengan ahli atau pun penggerakan pendidikan yang bisa disebut guru. Inilah yang berperan
   penting memajukan pendidikan sehingga pendidikan menjadi disiplin penting yang berperan dalam
   mengembangkan zaman.

       Semakin berkembangnya pendidikan yang ada maka semakin tinggi kualitas pendidik (SDM)
   yang tersedia. Dan begitu pun sebaliknya.

       Dewasa ini pendidikan menjadi primadona dunia, semua orang melirik pendidikan sebagai satu
   symbol penting yang tidak bisa diabaikan keadaannya. Memperhatikan pendidikan adalah
   memperhatikan pendidik. Karena merekalah yang menjadi ujung tombak perkembangan itu.
   Indonesia sebagai salah satu Negara yang sedang berkembang saat ini mulai memperhatikan lebih
   mengenai perkembangan SDM pendidikan, hal itu dilakukan mengingat tertinggalnya Indonesia
   dari Negara – Negara lain di dunia, bahkan di ASIA Tenggara sendiri. Untuk itulah banyak hal
   yang dilakukan pemerintah dalam rangka meningkatkan dan memberdayakan SDM pendidikan.
   Pertanyaannya saat ini, langkah apa yang harus diambil untuk memperdayakan SDM pendidikan
   itu, dan dari mana kita harus memulai pemberdayaan itu. Itulah hal yang menjadi akar masalah.
   Dan adakah hasil yang di dapat nantinya ketika proses itu selesai.

B. Metode Penelitian

       Hal yang dilakukan dalam mencari fakta dan data untuk tersusunya karya ini dengan cara
   penelitian pustaka, yaitu bagaimana kita mencari data dari sumber – sumber yang terdapat dalam
   buku yang bersifat elektronik.

C. Tujuan Penelitian

       Semua yang dilakukan sehingga tersusunnya karya ini, ditujuka untuk pengembangan
   kompeten diri secara pribadi, serta sebagi salah satu tugas yang diberikan oleh STAI Sukabumi
   untuk menyelsaikan program SKS pada semester VII ini. Selain itu harapan besar tentunya hal ini
   bisa menjadi barometer, bagaimana SDM pendidikan kita dapat dikembangkan dan diberdayakan
   sehingga memberikan dampak fositif yang lebih signifikan.

                                                    1
                                           BAB II

                                      PEMBAHASAN



1. Pengertian

       Pendidikan secara singkat adalah proses pembentukan karakter. Pendidikan memiliki
   banyak makna dan banyak persepsi dalam pemahamannya. Kita tidak bisa megartikan
   pendidikan sebagai satu hal yang baku. Karena pendidikan itu sendiri relative sifatnya.

       Banyak golongan menyebutkan arti dari pendidikan. Dan inilah berbagai ungkapan dari
   golongan-golongan itu.

       Golongan I

       Pendidikan adalah proses belajar mengajar antara pengajar dengan yang diajar untuk
   mendapatkan suatu pengetahuan yang diharapkan dan akan menjadi sebuah bekal untuk masa
   depannya.

       Golongan II

       Pendidikan adalah kegiatan belajar mengajar di sekolah antara guru dengan muridnya
   untuk mencerdaskan pada murid yang akan menjadi penerus bangsa.

       Golongan III

       Proses pembelajaran secara langsung maupun tidak langsung antara seseorang maupun
   golongan yang dengan sengaja atau tidak disengaja melakukan kegiatan pembelajaran baik di
   sesuatu ruangan maupun secara terbuka untuk menambahkan ilmu pengetahuan kepada
   seseorang yang belum faham akan pendidikan itu.

       Dari berbagai prespektif di atas, ungkapan dari golongan III adalah ungkapan yang sangat
   kuat. Karena

       1)Pendidikan dilakukan secara langsung maupun tak langsung 2)Perseorangan atau
   golongan 3)Di dalam ruangan maupun terbuka 4)Untuk menambahkan wawasan kepada yang
   belum mengetahui akan wawasan itu.

       Jadi, pendidikan bukanlah sekadar hanya dalam sekolah saja. Kita bermain juga termasuk
   belajar. Karena tujuan dari itu adalah untuk menambahkan wawasan. Kita ketika kecil dibantu
   untuk berjalan oleh orang tua atau orang lain, dan itu juga termasuk pendidikan. Karena tanpa
   sadar kita dilatih untuk menambahkan wawasan dalam mengetahui cara belajar berjalan.

       Lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi di Indonesia harus lebih meningkatkan
   pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) terkait dibatalkannya undang-undang Badan
   Hukum Pendidikan (BHP) oleh Mahkamah Konstitusi (MA).

       Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Jambi Prof Dr H Muchtar Latief yang juga Rektor
   Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi saat ditanya
                                                2
  mengatakan, esensi diterbitkannya UU BHP untuk membentuk lembaga pendidikan di
  Indonesia yang mandiri. Namun demikian, pada kenyataannya beberapa perguruan tinggi justru
  memilih mengkomersilkan biaya pendidikan atau bahkan ada yang menjual beberapa prodi di
  perguruan tinggi hingga ratusan juta rupiah. "Atas dasar inilah MK membatalkan BHP tersebut
  karena dinilai bertentangan dengan undang-undang dasar," ujarnya.

      Menurut dia, anggaran pendidikan yang dinilai sangat besar, apalagi kuota 20 persen untuk
  pendidikan tidak tercapai mengindikasikan adanya keinginan pemerintah untuk mengurangi
  kewajibannya pada pos pendidikan. Alasan utamanya adalah anggaran keuangan negara yang
  terbatas, karena itu perlu adanya sistem agar lembaga pendidikan bisa lebih maju dan mandiri.

      Dengan dibatalkannya BHP, pemerintah mulai sekarang perlu memikirkan membuat aturan
  lain yang di dalamnya tidak memberikan keleluasaan bagi lembaga pendidikan untuk
  mengkomersilkan aset pendidikan yang ada.         "Acuannya tetap pada kemandirian lembaga
  pendidikan, namun jangan lagi diberikan peluang bagi pemberdayaan masyarakat. Namun lebih
  pada pemberdayaan SDM di dalam lembaga pendidikan itu sendiri," katanya. Salah satu upaya
  peningkatan kemandirian lembaga pendidikan adalah dengan cara melakukan berbagai kerja
  sama dengan instansi pemerintahan, seminar, lembaga pendidikan di luar negeri maupun
  dengan berbagai penelitian dan riset. Dari kegiatan tersebut bisa mendatangkan "income" atau
  pendapatan bagi lembaga pendidikan sehingga bisa lebih mandiri dan tidak tergantung pada
  anggaran pemerintah. "Peningkatan SDM juga perlu adanya dukungan dan aturan yang jelas
  oleh pemerintah. Jangan sampai hak setiap warga negara untuk menikmati pendidikan hanya
  berlaku bagi masyarakat yang mampu," tambah Muchtar Latief.

2. Pemberdayaan SDM (Sumber Daya Manusia)

  SDM merupakan unsur paling penting dalam pemberdayaan hannirmil, karena SDM menjadi
  subyek dan faktor penentu (dominant factor) atas penggunaan unsur sumber daya lainnya. Ada
  dua hal pokok yang menjadi tujuan pember-dayaan SDM, yaitu kecerdasan intelektual (IQ) dan
  kecerdasan emosional-spiritual (ESQ). Pember-dayaan dua hal tersebut harus berjalan seimbang
  untuk membentuk karakter bangsa yang berkualitas. Kecerdasan intelektual meliputi
  kemampuan dari yang paling sederhana: membaca, menulis, berhitung sampai dengan
  kemampuan analisis dan sintesis. Sedangkan kecerdasan emosional-spiritual meliputi hal-hal
  yang berhubungan dengan aspek moral, seperti: kesabaran, kemarahan, kejujuran, keramahan,
  kearifan, keadilan, kedermawanan, kasih sayang, dan tanggung jawab. Untuk membentuk
  masyarakat Indonesia yang cerdas harus diupayakan melalui pendidikan dengan pendekatan
  secara konsepsional, komprehensif dan integral.

  Penguatan di Bidang Pendidikan Umum. Seseorang yang cerdas intelektual tetapi tidak
  diimbangi dengan moral yang baik, dia potensial menjadi orang yang sombong, egois, dan
  berbuat sesuatu yang lebih menguntungkan dirinya dan merugikan orang lain. Sebaliknya,
  seseorang yang bermoral namun bodoh, cenderung apatis introvert dan pengalah. Berdasarkan
  hasil survey kemampuan SDM, peringkat indeks pengembangan SDM (IPSM/HDI) Indonesia
                                              3
di lingkungan regional Asia menempati peringkat 117 jauh di bawah negara tetangga Malaysia,
Brunei, dan Singapura. Peringkat yang paling dekat dengan Indonesia adalah Filipina (66) dan
Vietnam (60). Demikian pula dalam persaingan dunia (World Competitiveness) 2003 ekonomi
negara-negara Asia Tenggara menunjukkan tingkat persaingan yang baik (10 besar) kecuali
Indonesia dan Filipina. Malaysia peringkat 4, Thailand peringkat 10, Singapura peringkat 3,
Filipina peringkat 22 dan paling belakang Indonesia peringkat 28 (Herman Hidayat, 2004). Hal
tersebut menunjukkan bahwa pembangunan SDM kita selama ini kurang berhasil. Mengapa
demikian, padahal mission mencerdaskan bangsa merupakan salah satu tujuan negara
sebagaimana diamanatkan sejak NKRI dibentuk (dalam Pembukaan UUD 1945). Hal ini
disebabkan -salah satunya- oleh tidak adanya tujuan, sasaran dan strategi serta roadmaps
pendidikan nasional jangka panjang yang jelas dan terarah sehingga setiap ganti pemerintahan
terjadi “bongkar pasang” kurikulum yang sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat
(lingkungan). Program pembangunan lima tahunan di era Orba yang lebih diarahkan pada
target-target yang bersifat materiil juga berpengaruh terhadap lemahnya kepekaan hati nurani
bangsa.
Degradasi dalam muatan pendidikan moral dan agama lebih terasa, selama lebih dari 3 dekade
yang lalu pendidikan budi pekerti tidak ada lagi. Sementara itu pendidikan agama sekalipun
masih ada tetapi lebih bersifat pengajaran semata-mata (penyampaian materi ajaran agama)
dengan jumlah jam pengajaran yang terbatas. Sebagian besar guru tidak lagi menjadi figur yang
berwibawa karena guru tidak lagi menampilkan sosok teladan dalam perilakunya di hadapan
anak didik. Mengapa demikian, karena gaji guru yang rendah sehingga tidak menjamin
kesejahteraannya. Untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya guru
banyak yang nyambi mengajar di sekolah lain atau pekerjaan lain seperti ngojeg, menjual jasa
tulisan, jual beli buku dll. Rendahnya kesejahteraan guru tidak memungkinkan mereka dapat
berkonsentrasi dalam menunaikan tugasnya. Tidak mungkin guru dapat menerapkan ilmu
mendidik yang notabene menjadi ilmu dasar seorang guru. Padahal justru hasil terapan ilmu
mendidik (paedagogic) inilah yang akan mewarnai karakter bangsa sebagaimana yang dicita-
citakan.
Masalah guru bukan satu-satunya di bidang pendidikan, sarana dan prasarana (bangunan
sekolah, alat peraga, buku, dll.) yang terbatas (kualitas dan kuantitas) sistem, metoda, dan
proses pembelajaran yang dirasakan belum sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Semua itu terjadi
karena dukungan anggaran pendidikan yang sangat rendah sebagai cermin rendahnya kesadaran
kita terhadap betapa pentingnya pendidikan untuk suatu bangsa. Permasalahan di bidang
pendidikan merupakan hal yang mendasar yang harus mendapat prioritas penanganannya,
karena hanya pendidikan yang bermutu yang akan menghasilkan generasi yang cerdas yang
akan mampu menghadapi derasnya tantangan di era globalisasi dan liberalisasi ekonomi di
masa yang akan datang.

Langkah pemerintah yang akan menaikkan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN dan
pendapatan guru secara signifikan sudah tepat. Tetapi hendaknya diikuti dengan pembenahan
                                           4
   kembali sistem pendidikan dan kurikulum agar pendidikan dapat menciptakan SDM yang
   kreatif,   inovatif,   memiliki   kepedulian       sosial/lingkungan,   mampu   menyerap   dan
   mengembangkan Iptek modern namun tetap berkepribadian Indonesia yang santun. Dari studi
   World Bank pada 2002 menempatkan Indonesia pada peringkat 12 dari 12 negara yang
   dijadikan sampel sistem pendidikan nasionalnya (Vincent DWA, 2005). Pemberdayaan pertama
   dimulai dari kompetensi guru. Dari 1,6 juta anggota PGRI, kurang lebih 50% belum memiliki
   kompetensi mengajar yang memadai (hanya tamatan SPG dan PGSD). Guru yang kurang
   kompeten wawasan pendidikannya kurang, sehingga dalam mengajar cenderung dangkal dan
   otoriter. Sementara itu, orang tua cenderung melimpahkan pengasuhan dan pendidikan anaknya
   kepada guru karena mereka sibuk bekerja. Setelah pendapatan guru naik dan memiliki
   kompetensi diharapkan guru dapat bekerja betul-betul profesional (M. Surya, 2005).

   Dalam masa transisi, dimana kemampuan finansial pemerintah untuk meningkatkan anggaran
   pendidikan dan gaji guru belum mampu, langkah terobosan yang dapat ditempuh adalah
   pember-dayaan partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam membantu pendidikan dasar dan
   menengah. Salah satu cara adalah membuka/memperluas kesempatan bagi siswa SMK untuk
   “magang” di perusahaan. Selain itu, pembangunan/perbaikan ruang belajar, alat peraga,
   penyediaan buku dan membuka lapangan kerja serta pemberian beasiswa untuk anak cerdas
   yang kurang mampu.

3. Penguatan Pendidikan Agama/Budi Pekerti.

   Perlu ada upaya penguatan pendidikan agama secara mendasar, yakni melalui perbaikan
   kurikulum dari hasil evaluasi dan pengkajian sistem dan metoda pendidikan. Pendidikan agama
   yang diberikan di sekolah-sekolah sekarang ini cenderung hanya bersifat pengajaran materi
   ajaran agama sehingga hanya dapat memenuhi ranah kognitif (cognitive domain) yang bersifat
   hafalan. Seharusnya pendidikan juga dapat memenuhi kebutuhan ranah afektif (affective
   domain) yang berhubungan dengan perasaan (sikap,apresiasi/ penghargaan, penerimaan, dan
   penghayatan); ranah psikomotorik (psychomotor domain) yang berhubungan dengan perilaku
   sebagai implementasi ajaran agama yang nampak dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran
   yang meliputi ketiga ranah tersebut berlaku juga pada sekolah umum.

   Pendidikan agama yang meliputi ketiga ranah tersebut di atas sangat penting mengingat hanya
   sebagian kecil peserta didik (murid/siswa) di sekolah yang memiliki kesempatan sekolah
   agama. Bahkan di kalangan rakyat miskin jarang sekali anak-anak sekolah agama secara
   khusus, bagi mereka untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah umum saja sangat dirasakan
   berat. Padahal pendidikan agama secara dini yang memadai sangat penting untuk memberikan
   fondasi sikap mental dan moral serta budi pekerti dalam menghadapi persaingan di era
   globalisasi. Kekerasan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat serta fenomena bunuh diri
   karena putus asa dalam menghadapi kesulitan hidup yang semakin marak, diharapkan akan
   berkurang bilamana sejak dini anak-anak mendapat bekal pendidikan agama dan budi pekerti
   yang memadai. Pendidikan yang benar tentang agama juga akan memperkuat kesadaran warga

                                                  5
   bangsa akan jati diri kemanusiaannya (insan kamil), sehingga tidak mudah terhanyut dengan
   kehidupan hedonistik yang mengutamakan kenikmatan duniawi dan merupakan tugas serta
   tanggung    jawab    kemanusiaannya     selaku   khalifah   (pemimpin)     di   muka   bumi.
   Indikasi minimnya pendidikan agama dan budi pekerti dapat kita saksikan dalam peristiwa:
   tawuran pelajar/mahasiswa/antar kelompok masyarakat, kriminalitas (pembunuhan, minuman
   keras, narkoba, pencurian dll.) yang semakin marak serta adanya gejala bunuh diri yang
   dilakukan oleh anak-anak. Indikasi lain, ketika bangsa ini menghadapi banyak masalah seperti:
   banyak rakyat mengalami kelaparan, pengangguran/PHK, banyak perusahaan yang bangkrut,
   bencana alam terjadi di mana-mana, justru banyak pejabat (birokrat dan parlemen) meminta
   gajinya yang sudah besar dinaikkan sampai puluhan juta rupiah. Bilamana kita melihat
   panorama hutan di sepanjang zona perbatasan Kalimantan-Serawak/Kuching (Malaysia), betapa
   porak porandanya hutan kita, sangat kontras berbeda dengan hutan negara tetangga. Itulah
   bukti-bukti -yang menurut Nurcholish Madjid- disebut “kebangkrutan moral dan spiritual” yang
   menyebabkan hati para pelakunya tidak memiliki kepekaan membedakan perbuatan baik dan
   buruk (Nurcholish M.,2002). Semua itu merupakan bukti adanya degradasi moral bangsa yang
   sangat memprihatikan.

   Keseimbangan pendidikan umum (Iptek) dan pendidikan agama/ moral spiritual akan
   melahirkan insan berkepribadian baik dan arif-bijaksana dalam menyikapi serta menghadapi
   setiap permasalahan dan kreatif mencari solusi terbaik dalam menghadapi masalah yang terjadi
   di lingkungan sekitarnya. Orang-orang seperti itu yang diprediksikan mampu menghadapi
   persaingan global dalam perang ekonomi berbasis informasi (economic information warfare)
   dan perang isu/propaganda (psychologic warfare) yang dikembangkan negara-negara maju,
   peka serta peduli terhadap kejahatan/kerusakan lingkungan (alam dan sosial).

4. Strategi Pemberdayaan : Konsepsi-onal-Komprehensif-Sinergis

   a. Konsepsional.

   Pemberdayaan SDM dalam mengha-dapi tantangan dan ancaman tersebut di atas yang begitu
   berat harus dilakukan secara akseleratif dengan metode, sistem dan langkah-langkah
   konsepsional. Ada kebijakan, tujuan dan sasaran yang jelas. Bagaimana suatu kebijakan disusun
   secara cermat sehingga mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk masyarakat, dan
   dampak negatif sekecil mungkin, tidak tumpang tindih dan bisa diimplemen-tasikan dengan
   mudah dan lancar (efektif, efisien). Bagaimana strategi untuk melaksanakan kebijakan itu dan
   bagaimana penjabarannya pada langkah-langkah operasional yang tepat guna mencapai sasaran.
   Sekalipun pemberdayaan SDM tersebut tidak dibatasi waktu, tetapi tetap harus dibuat kerangka
   waktu jangka pendek, jangka sedang dan jangka panjang. Sasaran ditentukan secara bertingkat
   mulai sasaran antara (sasan) satu, sasan dua, dst. menuju pencapaian tujuan akhir yakni
   terciptanya SDM Indonesia yang mampu berkompetisi dalam persaingan global dan
   meniadakan segala ancaman Nirmiliter baik dari dalam maupun dari luar negeri. Ada suatu
   pertanyaan terkait dengan hal kebijakan ini: “Indonesia sebagai negara agraris yang

                                               6
penduduknya +70% bergerak di bidang pertanian, tanahnya luas dan subur, curah hujan dan
sinar matahari mendukung, tetapi mengapa menjadi importir beras terbesar di dunia ?”
“Mengapa puluhan juta orang menganggur sementara ribuan hektar lahan kosong tidak
dimanfaatkan padahal di sisi lain diantara para penganggur itu adalah sarjana pertanian ?”

b. Komprehensif.

Pemberdayaan SDM tidak hanya menyangkut aspek intelektual tetapi juga emosional dan
spiritual (moral, motivasi dan budi pekerti). Tidak hanya menciptakan orang-orang yang
menguasai teori, tetapi juga orang-orang yang mahir dalam praktek (teknokrat dan praktisi).
Tidak hanya menyangkut profesi tetentu, tetapi semua profesi dan bidang kehidupan. Namun
demikian, tetap perlu memperhatikan skala prioritas sesuai ancaman nyata dan intensitas serta
urgensi tantangan. Dari segi urgensinya; masalah pendidikan, penegakan hukum, dan
pemberantasan KKN patut menempati prioritas utama karena ketiga masalah itulah yang telah
membuat bangsa ini terpuruk dan sulit bergerak maju.

c. Sinergis.

Dalam mengejar ketertinggalan dan mengatasi tantangan serta ancaman yang multi dimensi
tidak mungkin dapat diatasi sendiri-sendiri, tetapi harus dengan kebersamaan. Pada jaman pra-
kemerdekaan, Indonesia berhasil mencapai tujuan karena terjalinnya persatuan dan kesatuan
(gotong   royong).   Tetapi   setelah   merdeka,    istilah   gotong   royong   sangat   langka
diucapkan/kedengaran, karena masyarakat cenderung berubah menjadi individualis dan
komersil. Seyogianya ada sinergitas dalam mengatasi suatu masalah, siapa berbuat apa. Semua
sumberdaya dikerahkan dan dikonsentrasikan guna mencapai penyelesaian masalah. Setiap
strata sosial harus memiliki fungsi dan peran sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Dengan demikian, kebersamaan akan terjalin, kesenjangan sosial yang kini semakin melebar
akan dapat dipersempit dan tidak ada satu kelompok masyarakat pun yang merasa
dimarginalkan.




                                             7
Simpulan

SDM merupakan sumberdaya prima causa dalam pemberdayaan Sumdanas karena memiliki
fungsi ganda sebagai subyek dan obyek. Sebagai subyek, SDM agar mampu berperan optimal
harus dibekali dengan pendidikan moral/spiritual/budi pekerti (pendidikan agama) dan
intelektual (pendidikan umum) untuk mempersiapkan SDM yang menguasai iptek namun juga
beriman dan bertaqwa (Imtaq) kepada Tuhan YME.

Untuk menghadapi tantangan dan ancaman Nirmiliter yang bersifat multi dimensi, harus
dihadapi dengan upaya yang serius, konsepsional, komprehensif dan sinergis sehingga terjadi
akselerasi pemberdayaan semua aspek Sumdanas yang berpengaruh positif terhadap
kesejahteraan rakyat dan ketahanan nasional (Tannas). Kesejahteraan rakyat dan Tannas yang
tinggi akan membentuk pertahanan nirmiliter yang tangguh.

Dua hal tersebut di atas hanya mungkin terjadi bilamana ada komitmen dan akselerasi
pemberdayaan SDM yang diarahkan untuk memberantas KKN dan penegakkan hukum secara
konsisten.




                                           8
Daftar Pustaka

- Akbar, Ieva B.,(2000) Manusia, Kesehatan dan Lingkungan, Puslitkes Unpad, Bandung

- Bell, A. Paul, CS., Environmental Psychology, Chicago, USA.

- Daradjat, Zakiah,(1994), Peranan Agama & Kesehatan Mental, Jakarta, Haji Masagung.

- Diane, P. & Sally, W.,(1992), Human Development, Fifth Edition, Tokyo, Mc Graw Hill Inc.

- Hidayat, Edi.,(SK Kompas, Agustus 2005), Dalam Kepungan Liberalisasi, Jakarta.

- Hidayat, Herman.,(SK Kompas, Maret 2004), Profil Negara-Negara Asia Tenggara, Jakarta.

- Sarnata (editor),(2003), TNI Dalam Sorotan, Dian Satria, Jakarta.

- Soewardi, Herman.,(2000), Roda Berputar Dunia Bergulir : Kognisi Baru tentang Timbul
Tenggelamnya Sivilisasi, Bandung.

- Supriadi, Dedi.,(1999), Isu dan Agenda Pendidikan Tinggi di Indonesia, Rosda Jayaputra, Jakarta.

- Suryabrata, Sumardi.,(2004), Psikologi Pendidikan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

- Vincent, Didiek W.A.,(SK Kompas, Agustus 2005), Liberalisasi Pendidikan Nasional, Jakarta.
- Widodo, Tri.,(SK Kompas, Februari 2003), Otonom dan Ancaman Otoritariarisme Daerah, Jakarta.

- Depdiknas, Jakarta Undang-Undang No. 3 (2002), tentang Pertahanan Negara, Dephan Jakarta.

- Undang-Undang Nomor 32, (2004) tentang Pemerintahan Daerah, Depdagri, Jakarta.

- Undang-Undang Nomor 25, (2005) tentang Sistem Pendidikan Nasional




                                                    9

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2716
posted:1/23/2011
language:Indonesian
pages:12