BRUCELLOSIS (DOC)

					                            [Brucellosis ]


                                         Brucellosis
Pendahuluan
       Brucellosis adalah penyakit pada beberapa jenis hewan yang           disebabkan oleh
brucellosis sp. Dan dapat menular pada manusia. Manusia merupakan hospes aksidental dan
tidak menularkan pada individu lain. Di indonesia brucellosis tersebar luas dipulau timur
(Nusa Tenggara Timur), Sulawesi, Jawa, Sumatra, dan Kalimatan. Pulau Bali sampai saat ini
masih tergolong sebagai daerah bebas brucellosis karena adanya larangan memasukkan sapi
jenis lain, berkaitan dengan kebijakan pemerintah untuk memurnikan sapi Bali. Kerugian
ekonomi pada peternakan akibat brucellosis sangat besar, terutama akibat terjadinya abortus.
       Penyakit brusellosis dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar, dan di
Indonesia penyakit tersebut pada sapi dimasukkan dalam daftar penyakit menular yang harus
dicegah dan diberantas sejak tahun 1959 (Subronto, 2003).


Etiologi
       Kingdom        : Bacteria
       Phylum         : Proteobacteria
       Class          : Alpha Proteobacteria
       Order          : Rhizobiales
       Family         : Brucellaceae
       Genus          : Brucella
       Penyebab brucellosis adalah bakteria berbentuk cocobasili, bersifat Gram negatif, dari
genus Brucella. Ada 5 (lima) jenis dari genus ini yang potensial menimbulkan penyakit pada
hewan dan manusia, yakni Br. Abortus pada sapi, Br. Suis pada babi, Br. Canis pada anjing,
Br. Ovis pada domba jantan, dan Br. Melitensis pada kambing dan domba. Sebenarnya, ada
lagi Br. Neotomae dengan tikus hutan sebagai reservoir, tetapi peran bakteri ini sebagai
zoonosis belum pernah dilaporkan
       Kuman Brucella yang berinduk semang sapi adalah Brucella abortus bang, berbentuk
batang, bersifat Gram negatif; sukar dibedakan dari Brucella suis, B. Melintensis atau B.
Canis. Semua brucella dapat menular ke hewan lain termasuk kemanusia: tetapi brucella sapi
jauh lebih ringan serangannya pada manusia dibanding dengan brucella yang lain. Brucellosis
ditemukan diseluruh dunia (Partodiharjo, 1982)

                                                                                                1
                            [Brucellosis ]

       Spesies Brucella diketahui memiliki 9 biotipe, yang rupanya semuanya menghasilkan
penyakit yang sama. Distribusi biotipe-biotipe tersebut di berbagai bagian dunia berbeda-beda,
misalnya biotipe yang yang telah dikenal di Ausrtalia adalah 1, 2 dan 4. kerbau di indonesia
biasanya terserang oleh kuman dari biotipe 3 (Subronto, 2003).
       Pada sapi buting, bakteri Br. Abortus berkembang dengan pesat karena plasenta sapi
tersebut menghasilkan suatu zat disebut erythritol yang diperlukan untuk perkembang biakan
Br. Abortus. Perkembangbiakan bakteri ini menyebabkan plasentitis dan nekrose kotiledon
yang mengakibatkan abortus. Berbeda dengan Br. Abortus patogen umumnya, Br. Abortus
strain 19 yang digunakan sebagai seed vaksin tidak memerlukan erythritol dalam proses
perkembangbiakan (Soeharsono, 2002).




Brucella abortus - coccobacillus prokaryote     Brucella spp. are gram-negative in their
(bacterium). (Courtesy of Dennis Kunkel         staining morphology. Brucella spp. are poorly
Microscopy, Inc)                                staining, small gram-negative coccobacilli
                                                (0.5-0.7 x 0.6-1.5 µm), and are seen mostly as
                                                single cells and appearing like “fine sand”.
Gejala klinis

       Hewan
       Pada sapi, gejala klinik yang mencolok terjadi abortus, terutama pada usia kebuntingan
lanjut (7-8 bulan). Umumnya, sapi hanya mengalami keguguran sekali saja pada kebuntingan
yang berurutan. meskipun demikian, induk sapi yang mengalami keguguran tersebut masih
dapat membawa Br. Abortus sampai dua tahun. Sapi yang terinfeksi secara kronik dapat



                                                                                                 2
                              [Brucellosis ]

mengalami higroma (pembesaran kantong persendian karena berisi cairan bening atau
fibrinopurulen). Pembesaran kantong persendian karpus atau tarsus cukup mencolok, sehinga
dapat dilihat dari jauh. Cairan higroma mengandung banyak sekali bakteri Br. Abortus dan
merupakan spesimen yang baik untuk isolasi Br. Abortus.
       Pada babi, Br. Suis menimbulkan artristis, osteomielitis, bursitis, dan spondilitis.
Kadang-kadang ditemukan pula posteriol paralisis yang disebabkan oleh nekrosis discus
intervertebrales. Pada babi jantan dapat ditemukan orchitis, tetapi Br. Suis tidak ditemukan
pada semen atau urin. Dibandingkan dengan sapi, abortus relatif jarang terjadi pada babi.
Anak babi yang lahir dari induk tertular umumnya kecil, lemah, dan mati tidak lama setelah
dilahirkan.
       Pada anjing, Br. Canis merupakan penyebab utama sterilitas pada pejantan dan abortus
pada induk, terutama terjadi di kennel (pembiak) anjing di Amerika. Fetus tertular in utero,
kemudian terjadi abortus pada usia kebuntingan 45-59 hari. Anjing yang menderita brucellosis
akut mengalami kebengkakan kelenjar limfe prefemoralis dan submandibularis. Pada anjing
jantan, brucellosis menyebabkan orchitis sehingga testis terlihat membengkak beberapa lama,
kemudian diikuti dengan atrofi, testis terlihat mengecil karena sel pembentuk spermatozoa
mengalami kerusakan. (Soeharsono, 2002).


       Manusia
       Pada manusia, masa inkubasi bervariasi dari 5 hari sampai beberapa bulan, dengan
rata-rata dua minggu. Gejala yang mula-mula dirasakan adalah demam, merasa kedinginan
dan berkeringat pada malam hari. Kelemahan tubuh dan kelelahan merupakan gejala yang
umum dirasakan. Demam umumnya bersifat intermittent. Kesakitan umum, sakit kepala, nyeri
otot leher, anoreksia, konstipasi, gelisah dan depresi mental sering di manifestasikan.
Terkadang ditemukan pula batuk yang non-produktif dan pneumonitis. Jarang ditemukan
orchitis atau osteomyelitis vertebralis pada penderita brocellosis.
       Pemeriksaan fisik umumnya hanya ditemukan kelainan kecil atau tidak ada kelainan
sama sekali, namun dapat ditemukan splenomegali, hepatomegali, dan limfadenopati.
Umumnya, infeksi Br. Abortus lebih ringan dibandingkan dengan infeksi Br. Melitensis dan
Br. Suis. Kesembuhan terjadi dalam waktu 3-6 bulan. Pada beberapa kasus, kesembuhan baru
terjadi setelah satu tahun atau lebih. Pengobatan dengan antibiotika yang sesuai dengan


                                                                                               3
                               [Brucellosis ]

memperpendek masa sakit dan menghidari kambuh. Kematian akibat infeksi Br. Abortus tidak
lazim terjadi (Soeharsono, 2002).


Diagnosa
     Primary Test :
    Serum aglutination Test
    Pemeriksaan bakteriologik
    Card test
    Milk Ring Test
    Plate Aglutination Test
    Rose Bengal Test
    Complement Fixation Test
     Dalam Field Trial and Testing Resuls For Validation of FP (Fluorescense Polarization)
Test Oleh Cooperative National Brucellosis Program, melakukan program perbandingan
validitas diagnosis assay antara FP test dengan berbagai test convensional serologis seperti:
Rapid Agglutination Plate (RAP) Test, Particle Concentration Fluorescence Immunoassay
(PCFIA) Test, Complement Fixation (CF) Test, Bufferd Acidified Plate Antigen (BAPA)
Test, Card Test, Indirect dan Competitive Enzyme Immunoassay (IELISA dan CELISA) pada
sapi, bison dan babi pada beberapa Negara Bagian di Amerika.
       Dari data yang ditunjukkan pada hasil program, dengan jelas menunjukkan bahwa FP
test menunjukkan performa yang baik bahkan lebih daripada beberapa tes convensional assay
lainnya. Bahkan FP lebih cepat dan jauh dari faktor-faktor human error. Akan tetapi, hasil dari
FP test harus tetap dikonfirmasikan dengan tinjauan epidemiologi dari daerah terkait.
(Cooperative National Brucellosis Program, 2008).
     Pada hewan, ada beberapa tahapan pemeriksaan serologik yang digunakan.
    Uji rose digunakan untuk screening, bengal atau rapid agglutination test. Uji ini mudah,
       murah, dan cepat tetapi spesifitasnya kurang tinggi. Serum yang positif terhadap uji
       Rose Bengal perlu dilanjutkan dengan ujireaksi pengikatan komplomen (complamen
       fixation test) atau ELISA. Untuk daerah baru, pengukuhan diagnosis harus dilanjutkan
       dengan isolasi Br. Abortus.




                                                                                                  4
                             [Brucellosis ]

     Uji serum aglutinasi pada manusia sering ditemukan negatif palsu, meskipun sebenarnya
menpunyai titer yang tinggi. Untuk mengatasi hal ini digunakan uji Coombs atau anti-human
globulin test, disamping uji serum agglutinasi dan uji pengikatan komplomem. Isolasi Br.
Abortus pada sapi dilakukan dengan mengirimkan cairan higroma, membran fetus, susu
kelenjar limfe supramamaria dalam keadaan segar dan dinding ke laboratorium (Saoeharsono,
2002).


Pencegahan dan pengobatan
     Tidak ada obat        yang mujarab untuk       Brucellosis.   Oleh karena itu hanya
penanggulangannya yang dapat dilakukan. Dianjurkan untuk mempergunakan vaksin hidup
untuk anak sapi perah umur 3 sampai 8 bulan; dengan jalan ini, nanti pada saat
     Sapi ini menghasilkan susu, titer serumnya telah jauh turun dibawah 1:200 atau sudah
hilang sama sekali. Untuk sapi daging dianjurkan memvaksin anak sapi pada umur 3 atau 10
bulan atau lebih, dengan harapan pada waktu potong, serologik mereka telah negatif. Strain 19
hingga kini masih terus bertahan kebaikannya, dapat disuntik subkutan atau intradermal.
Vaksinasi subkutan dengan dosis 4 sampai 6x106 kuman dalam 5 cc, sedangkan vaksinasi
intradermal dengan dosis kuman hampir sama tetapi volume menjadi 0,2-0,5 cc.             Baik
intradermal maupun subkutan tempat suntikannya yang terbaik adalah dibawah pangkal ekor
atau kulit leher. Reaksi badan yang timbul setelah vaksinasi lebih ringan pada vaksinasi
intradermal (Partodiharjo, 1982).

         Pencegahan pada manusia

    Susu atau bahan makanan dimasak sebelum dikonsumsi
    Dihindari kontak langsung dengan janin atau plasenta yang mengandung kuman
    Petugas harus menggunakan sarung tangan (plastic glofis) pada saat palpasi rektal

         Pemberantasan pada hewan

    Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 828/Kpts/OT.210/10/98
         tentang Pedoman Pemberantasan Penyakit Hewan Keluron Menular (Brucellosis) pada
         ternak, metode pemberantasan dilaksanakan dengan cara test dan slaughter.




                                                                                                5
                            [Brucellosis ]

    Pengujian Brucellosis secara teratur pertahun melalui pemeriksaan susu (Milk Ring
       Test) dan darah (Rose bengl test Complement Fixation Test) terhadap seluruh populasi
       sapi perah, umur 1 tahun ke atas
    · Pengawasan lalu lintas ternak. Ternak yan gmasuk ke dalam wilayah                harus
       dilengkapi dengan Surat Keterangan Negatif Brucellosis yang berlaku selama satu
       tahun.

Penanganan ternak tertular Brucellosis

    Ternak penderita Brucellosis ditempatkan terpisah (diisolasi) dari ternak sehat.
    Untuk pencegahan penularan pada ternak sehat maka ternak penderita Brucellosis
       harus secepatnya disembelih bersyarat (1x24 jam)
    Seluruh organ perut, kelenjar getah bening, ambing dan tulang harus dimusnakan.
    Daging dilayukan sekurang-kurangnya 24 jam dari waktu pemotongan (Dinas
       Peternakan Provinsi Jawa Barat, 2008).

       Pada manusia (dewasa), treatment yang direkomendsaikan oleh World Health
Organization (WHO) untuk acute Brucellosis adalah rifampicin 600 - 900 mg dan doxycycline
200 mg daily selama minimal 6 minggu (World Health Organization, 1986).

                                      Daftar Pustaka

Cooperative National Brucellosis Program. (2008). http://en.wikipedia.org/wiki/Image
    :Brucella_melitensis.jpg

Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat. (2008). www.disnak.jabarprov.go.id/index.php?mod=
     manageMenu&idMenuKiri=554&idMenu=597 - 38k

Partodiharjo S. (1982). Ilmu Reproduksi Hewan. Penerbit Mutiara. Jakarta.

Soeharsono. (2002). Zoonosis Penyakit Menular dari Hewan Kemanusian. Penerbit kanisius.

Subronto. (2003). Ilmu Penyakit Ternak. Gadjah Mada Universiti Press.Yogyakarta.

World Health Organization. (1986). Joint FAO / WHO Expert Committee on Brucellosis.
    Sixth Report. World Health Organ Tech Rep Ser No. 740. Geneva.




                                                                                                6

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:1261
posted:1/23/2011
language:Indonesian
pages:6
Description: penyakit pada beberapa jenis hewan yang disebabkan oleh brucellosis sp Dan dapat menular pada manusia