Docstoc

Power point - PowerPoint

Document Sample
Power point - PowerPoint Powered By Docstoc
					MEDIA BERBASIS IT
    MANUSIA
SEBAGAI HAMBA DAN
     KHALIFAH
    PENGERTIAN MANUSIA
    Berbagai pandangan tentang manusia
        Telah lama manusia menjadi obyek
    pembahasan dan obyek pembicaraan di
    kalangan para ahli, baik ilmuwan, filosof,
    sastrawan dan agamawan. Menurut Dr. Alexis
    Cariel dalam buku Man The Unknown, ada
    tiga faktor yang menjadikan pengetahuan kita
    tentang      manusia      menjadi     terbatas
    dibandingkan dengan pengetahuan kita di
    bidang lain, diantaranya:
   Pembahasan tentang manusia terlambat
    diadakan.
   Spesifikasi    akal   manusia    yang     lebih
    cenderung untuk memikirkan hal-hal yang
    tidak komplek
   Luasnya personal yang dihadapi manusia
    Filosof Yunani, Aristoteles mendefinisikan
manusia sebagai hewan yang berpikir (thinking
animal). Sebagai antropologi berpendapat,
bahwa ciri khas manusia adalah kesadaran dan
kemauannya untuk berteknik, membuat sesuatu
yang baru dari benda-benda yang telah ada,
kemudian mengolahnya menjadi barang-barang
yang bermanfaat bagi dirinya atau orang lain,
kesimpulannya bahwa manusia adalah makhluk
berteknik. Seorang ahli filsafat Frederick
Nietzsche berpendapat bahwa hakikat hidup
manusia adalah perjuangan untuk diri sendiri,
suku atau bangsa, dengan mengabaikan
bahkan menindas bangsa-bangsa lain. Karl
Mark mengatakan, bahwa manusia mempunuai
tiga kebutuhan pokok, yaitu sandang, pangan
dan pemuasan kebutuhan sex.
    Pengertian manusia dalam al-Quran
         Manusia dalam al-Quran disebut dengan empat
    istilah dengan konteks yang beragam, yaitu:
   Al-Insan, manusia mempunyai sifat pelupa,
    manusia sebagai makhluk yang diberi tanggung
    jawab oleh Allah karena sifat kekhususannya, yaitu
    mampu membedakan yang baik dan buruk,
    mempunyai         akal,   mampu        berkomunikasi
    (mempunyai indra) dan makhluk yang diberi
    kebebasan berinisiatif. Hal itu dapat dijumpai dalam
    al-Quran diantaranya surat at-Thin ayat 4, surat al-
    Insan 1-2, dan adz-Dzariyat ayat 56.
   Al-Basyar, manusia adalah sebagai makhluk
    biologis, seperti membutuhkan makan, minum dan
    lain-lain. Hal itu dapat dilihat dalam surat al-Khafi
    ayat 110
 An-Nas, kesetaraan manusia dihadapan
  Tuhan, yaitu memiliki tanggung jawab dan
  kewajiban yang sama untuk menjalankan
  amanat serta menyembah-Nya misal dalam
  surat al-Hujrat ayat 13
 Bani Adam, bahwa manusia mempunyai asal
  usul dari jenis manusia bukan lainnya, yaitu
  Adam. Hal itu dapat dijumpai misalnya dalam
  al-Quran diantaranya surah Isra’ayat 70.
PENCIPTAAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN
Awal mula manusia
     Asal-usul kejadian manusia tidak dicatatkan serta
kronologis dalam al-Qur’an. Cerita penciptaan banyak
diketahui dari hadits, kisah-kisah Israiliyyat dan riwayat-
riwayat yang bersumber dari kitab Taurat (kitab suci
Agama Yahudi), Injil, cerita-cerita yang bersumber dari
kitab Tamlud, yaitu kitab banyak memberi penafsiran
terhadap kitab Taurat. Dalam pandangan islam, Adam
adalah asal usul menusia atau manusia pertama yang
diciptakan oleh Allah sebagai representasi maskulin (laki-
laki) yang menurunkan manusia di dunia sampai saat ini,
hal itu berdasarkan firman Allah surah al-Baqarah ayat 31.
     Setelah Allah menciptakan Adam, kemudian diciptakan
pasangan (zauj) yaitu dikenal dengan Hawwa sebagai
representasi feminim (perempuan). Salah satu ayat yang
mengisyaratkan asal usul kejadian perempuan (hawwa)
ialah surah an-Nisa’ ayat 1.
    Semenjak awal, agama telah mengajarkan
kebenaran penciptaan, yang dapat dipahami semua
orang melalui penggunaan akal dan pengamatan
pribadi. Semua agama samawi telah mengajarkan
bahwa Allah menciptakan alam semesta dengan
berfirman “Jadilah!”, dan bahwa bekerjanya alam
semesta secara sempurna tanpa cela merupakan
bukti daya ciptaNya yang agung. Banyak ayat Al
Qur’an juga mengungkapkan kebenaran ini.
Misalnya, Allah mengungkapkan bagaimana Dia
secara ajaib menciptakan alam semesta dari
ketiadaan:
    Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia
berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu,
maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan
kepadanya: "Jadilah”. Lalu jadilah ia. (QS. Al
Baqarah, 2: 117)
Allah juga mengungkapkan yang berikut:
   Dan Dialah yang menciptakan langit
dan bumi dengan benar. Dan benarlah
perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan:
"Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-
Nya-lah segala kekuasaan di waktu
sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang
ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang
Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
(QS. Al An’aam, 6: 73)
   Ilmu pengetahuan mutakhir membuktikan
ketidak-absahan     pernyataan     materialis-
evolusionis, dan menegaskan kebenaran
penciptaan. Berlawanan dengan teori
evolusi, semua bukti penciptaan yang
mengelilingi kita menunjukkan bahwa faktor
kebetulan tidak berperan dalam terwujudnya
alam semesta. Setiap rincian yang tampak
saat kita mengamati langit, bumi, dan semua
makhluk hidup dimaksudkan sebagai bukti
kebijaksanaan dan kekuasaan Allah yang
agung.
    Perbedaan mendasar antara agama dan
paham ateisme adalah, yang pertama
mempercayai Allah, sedangkan yang terakhir
mempercayai materialisme. Ketika Allah
bertanya kepada mereka yang ingkar, Dia
menarik perhatian terhadap pernyataan yang
mereka ajukan untuk menolak penciptaan:
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu
pun ataukah mereka yang menciptakan (diri
mereka sendiri)? (QS. Ath Thuur, 52: 35)
    Sejak zaman bermula, mereka yang
mengingkari        penciptaan     senantiasa
menyatakan bahwa manusia dan alam semesta
tidaklah diciptakan, dan selalu berusaha
membenarkan pernyataan tak masuk akal itu.
Dukungan yang terbesar bagi mereka tiba di
abad ke-19, berkat teori Darwin.
    Kaum muslimin tidak boleh mengadakan
jalan tengah dalam masalah ini. Memang,
orang boleh berpikir sesukanya, dan boleh
percaya apa pun yang ingin dipercayainya.
Akan tetapi, tidak ada jalan tengah bagi teori
yang mengingkari Allah dan ciptaanNya,
sebab hal itu berarti tawar-menawar dalam
unsur dasar agama. Tentu, berbuat demikian
sama sekali tak bisa diterima.
    Para evolusionis, karena sadar betapa
jalan tengah seperti itu akan merusak
agama, mendorong orang-orang beriman
agar berusaha memperolehnya.
  Asal Usul Spesies Manusia
     Menurut D.Bakker dalam disertasinya Man
  in the Qur‟an, menyatakan behwa masalah
  penciptaan al-Quran menyinggung kurang
  lebih 34 ayat dan tersebar dalam 16 surat. Di
  antaranya ayat-ayat yang membicarakan
  penciptaan manusia berasal dari tanah adalah
  ;
 Firman Allah Surat Nuh [7] ayat 17
 Firman Allah Surat ar-Rohman [55] ayat 14
 Firman Allah Surat al-Hijr [15] ayat 26
 Firman Allah Surat al-Mukminun [23] ayat 12
      Dalam pandangan sains modern, semua
  jenis mahluk biologis membutuhkan air bagi
  kehidupannya. Manusia sebagai mekhluk
  biologis juga membutuhkan air bagi
  kehidupannya. Manusia sebagai mekhluk
  biologis juga menjadikan air sebagi sumber
  vital dalam kehidupan. Pertanyaan tersebut
  senada dengan ayat-ayat al-Quran seperti :
 Firman Allah Surat al-Anbiya’ [21] ayat 30
 Firman Allah Surat al-An’am [6] ayat 99
 Firman Allah Surat an-Nur [24] ayat 45
    Reproduksi dan Tahapan Embrio
        Semua makhluk hidup mempunyai masa hidup
    yang terbatas, tidak terkecuali manusia. Mekanisme
    yang digunakan oleh Allah agar makhluk hidup
    tetap survive adalah dengan sistem reproduksi.
    Dengan reproduksi akan muncul generasi baru
    keturunan dari jenis yang sama. Dalam
    membicarakan masalah ini, al-Qur’an memberikan
    porsi lebih luas dan rinci dibandingkan pembicaraan
    tentang substansi manusia seperti roh atau nyawa.
    Kesimpulannya adalah ternyata jauh sebelumnya
    telah disinggung oleh al-Qur’an diantaranya;
   Firman Allah Surat adz-Dzariyat [51] ayat 49
   Firman Allah Surat an-Nahl [16] ayat 72
  Proses Penciptaan Manusia
     Secara umum al-Qur’an mengambarkan
  bahwa seluruh proses penciptaan (creative
  proses) manusia melalui tiga tahap, yaitu;
 Permulaan penciptaan
 Pembentukan atau penyempurnaan
 Pemberian kehidupan
   Pembagian tahapan tersebut berdasarkan
surah Shad (38:71:72). Istilah penciptaan
yang digunakan dalam al-Qur’an adalah kata
khalaqa yang berarti menciptakan atau
mengadakan sesuatu dari tiada. Istilah
tersebut    digunakan     al-Qur’an  untuk
mengambarkan proses penciptaan terhadap
pertama dan kedua. Disamping kata khalaqa
al-Qur’an menggunakan istilah yang lebih
spesifik yaitu shawwara untuk proses
menggambarkan proses penciptaan tahap
kedua. Hal itu tertulis dalam surat at-Tin
(95:4) dan surat al-Mu’min (40:64)
MANUSIA SEBAGAI HAMBA
 Pengertian Hamba
    Kata hamba dalam Bahasa Indonesia
 diterjemahkan dari bahasa Arab, yaitu
 abada-ya‟budu-„ibadatan               berarti
 menyembah.       Istilah  hamba       dalam
 masyarakat juga dipahami sebagai hamba
 sahaya atau budak. Kata abd dalam al-
 Qur’an disebut 27 kali dengan berbagai
 bentuk makna. Dalam bentuk fi‟il (kata kerja)
 menunjukan arti penghambaan manusia
 kepada Allah sebagai pencipta.
   Manusia sebagai hamba sebagaimana
tujuan utama Allah menciptakannya, adalah
utusan menyembahNya tidak pantas untuk
menyembah kepada apapun dan siapapun
selain Allah. Kewajiban untuk beribadah,
telah banyak disinggung dalam al-Qur’an
diantaranya (QS. Al-Hijr, 15:56), (QS. Al-Hijr,
15 :99), (QS. Al-A’raf, 7:59), (QS. An-Nahl,
16:36)
    Pengertian dan Hakekat Ibadah
         Kata ibadah adalah bentuk masdar (naon) dari
    kata abada, artinya penyembahan (noun) dari kata
    abada, artinya penyembahan (worship), pemujaan
    (adoration) dan pengabdian pada illahi (divine
    service). Dalam Al Qur’an kata ini disebut sebanyak
    sembilan kali dengan tiga arti, yaitu patuh (tha‟ah),
    tunduk (khudlu‟) dan do’a (du‟a‟). Ibadah dalam
    istilah syar’i terdapat beberapa pendapatulama,di
    antaranya:
   Ibnu Katsir mengatakan “ibadah ialah himpunan
    cinta, ketundukan, dan rasa takut yang sempurna”.
   Al-Jurjani mengatakan “ibadah ialah perbuatan
    yang dilakukan oleh mukallaf, tidak menurut hawa
    nafsunya untuk memuliakan Tuhanya”.
   Menurut ibnu Taimiyyah “ibadah ialah keterpaduan
    antara sikap merendahkan diri dan cinta yang
    mendalam pada seorang hamba”.
    Sedangkan arti ibadah menurut rumusan
Majelis Tarjih Muhammadiyah ialah bertaqarrub
(mendekatkan diri) kepada Allah , dengan jalan
mentaati segala perintah-perintah-nya menjauhi
segala laralgan-laranga-nya dan mengamalkan
segalayang diizinkan Allah, baik yang khusus
maupun yang umum. Dalam pengertian yang
lebih luas ibadah meliputi segala yang dicintai
Allah dan diridahi-nya, baik perkataan maupun
perbuatan secara lahir maupun batin. Dalam
ilmu fiqh, ibadah terbagi menjadi dua, yaitu
ibadah mahdhah dan ibadah ghairul mahdhah.
Ibadah mahdhah adalah ibadah yang sudah
jelas pelaksanaanya seerta telah dituntunkan
oleh Rasullulah, sedang ibadah ghairul
mahadhah adalah ibadah yang tidak jelas
secara terperinci dalam al-Qur’an maupun al-
Hadits.
        Dari hakekat ibadah yang telah diuraikan diatas, maka
    dapat disebutkan hikmah atau tujuan ibadah, yaitu :
   Ibadah merupakan manifestasi rasa syukur keharibaab
    Allah SWT (khaliq) dari hamba (makhluk) atas segala
    anugrah yang telah diterimanya.
   Suatu pengakuan dari hamba, bahwa dirinya adalah
    makhluk yang lemah dan hina dihadapanNya.
   Memenuhi kewajiban yang telah diperintakan oleh Allah.
   Menghidupkan kesadaran tauhid yang telah diikrarkan
    sejak manusia dalam alam rahim.
   Menghapus kepercayaan kepada sesuatu yang sering
    disembah oleh orang-orang musyrik dan melepaskan
    ketergantungan yang lebih kepada harta, pangkat dan
    kekuasaan, sehingga ia akan menjadi manusia yang
    sebenarnya yaitu manusia yang memiliki kemerdekaan
    (hurriyah)
MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH
 Pengertian Khalifah
    Istilah khalifah yang berkembang dalam
 masyarakat muslim saat ini terdapat 2
 pengertian. Pertama, istilah khalifah yang
 dipahami sebagai kepala negara dalam
 pemerintahan dan raja dalam kerajaan atau
 sama dengan sultan. Kedua, istilah khalifah
 dipahami sebagai predikat bagi manusia
 menjadi wakil tuhan dimuka bumi ini.
Khalifah Dalam Al-Qur’an
   Dalam al-Qur’an, kata khalifah yang bersal
dari kata fa, la,qha disebut sebanyak 127 kali
dalam 12 kata jadian. Dalam kata kerja berarti
mengantikan, meningalkan, dalam kata benda
berarti pengantian atau pewaris, tapi ada arti
yang menyimpang seperti berselisih, menyalahi
janji atau beraneka ragam. Adapun kata yang
berkaitan dengan istilah khalifah disebut
sebanyak 10 kali dalam pertama, ketika Allah
ingin menjadikan khalifah dan ternyata Adam
adalah manusia yang diciptakan pertama maka
manusia sebagai khalifah dalam kehidupan.
Kedua, khalifah sebagai generasi penerus atau
generasi penganti. Ketiga, khalifa adalah kepala
negara atau pemerintahan.
         Untuk dapat mendukung tugas-tugas sebagai khalifah
    dimuka bumi Allah melengkapi potensi-potensi tertentu,
    antara lain :
   Manusia tekah didesain dalam bentuk yang sebaik-
    baiknya. Hal itu dinyatakan dalam al-Quran surat at-Athin
    ayat 4.
   Kemampuan untuk mengetahui sifat-sifat, fungsi, dan
    kegunaan segala macam benda, hal itu digambarkan
    dalam firman allah surat al-Baqarah ayat 31 sebagai mana
    telah disebutkan diatas.
   Ditundukkan bumi dan langit dan segala isinya, bintang-
    bintang, planet-planet dan lain sebagainya. Hal itu
    dijelaskan firmann Allah dalam surat al-Jasyiyah ayat 12.
   Allah menganugerahkan akal pikiran dan penginderaan.
    Hal itu tercermin dalam al-Qur’an surat al-Mulk ayat 3.
   Allah menganugerahkan potensi-potensi kreatif untuk
    mampu membangun peradaban dimuka bumi ini. Hal itu
    digambarkan surat ar-Ra’d ayat 11.
IMAN KEPADA MALAIKAT
 PENGERTIAN MALAIKAT
     Kata malaikat berasal dari bahasa Arab dan
 merupakan bentuk jamak dari kata tunggal malak.
 Sebagian ulama berpendapat kata Malaikat berasal
 dari kata la‟aka yang berarti menyampaikan sesuatu.
 Malak atau malaikat adalah makhluk yang
 menyampaikan sesuatu dari Allah swt. Secara
 terminologi malaikat ialah, makhluk halus yang
 diciptakan Allah dari cahaya yang dapat berbentuk
 dengan aneka macam bentuk, selalu taat mematuhi
 Allah dan tidak pernah sedikitpun membangkang.
 Pengertian tersebut didukung oleh firman Allah surat
 at-Tahrim ayat 6.
IMAN KEPADA MALAIKAT
    Iman artiya percaya dan yakin. Iman kepada
malaikat berarti percaya kepada malaikat. Ingatkah
kalian pada rukun Iman? Sebagai seorang muslim
yang baik dan beriman, kita wajib mempercayai
adanya malaikat yang termasuk salah satu dari
enam rukun iman, maka menjadi sempurnalah iman
dan Islam kita. Malaikat tergolong makhluk yang
suci. Mereka sangat setia terhadap tugas-tugas
yang diberi oleh Allah, tidak pernah ingkar, tidakk
pernah berbuat dosa besar maupun dosa kecil.
Malaikat tidak berjenis kelamin, tidak makan, dan
tidak tidur. Setiap saat dan kapan pun, malaikat
siap melaksanakan perintah Allah, dengan tidak
menunda-nunda atau mengulur-ulur waktu. Seperti
yang telah difirmankan didalam Al-Quran At-Tahrim
ayat 6 dan QS. An-Nahl 50.
KEDUDUKAN MANUSIA DAN MALAIKAT
   Manusia dan malaikat adalah sama-sama
makhluk Allah yang berkewajiban untuk taat
dan beribadah kepada Allah. Malaikat
diciptakan khusus untuk membantu Allah
SWT. Berkaitan dengan urusan manusia dan
alam. Sedangkan manusia diciptakan untuk
menjadi khalifah (wakil) Allah dalam rangka
memakmurkan bumi ini, seperti dijelaskan
dalam surat al-Baqarah ayat 34.
    SIFAT MALAIKAT
         Dalam al-Qur’an dan as-Sunnah ditemukan banyak
    keterangan tentang ciri, sifat dan kemampuan malaikat,
    diantaranya ialah :
   Mampu berbentuk manusia, hal itu sebagaimana
    dijelaskan dalam surat Maryam, 19:17
   Tidak berjenis kelamin, hal tersebut dijelaskan dalam surat
    as-Syaffaat ayat 149-152
   Tidak mekan dan minum, hal itu sebagaimana dijelaskan
    dalam surat Hud ayat 70
   Tidak jemu beribadah dan tidak letih, hal itu sebagaimana
    dijelaskan dalam surat at-Tahrim (66:6)
   Berpenampilan menarik dan gagah
   Memiliki sayap yang jumlahnya ada yang dua, tiga dan
    empat, keterangan tersebut dapat dibaca dalam surat
    Fathir ayat 1
   Tidak pernah melakukan perbuatan maksiat dan dosa, hal
    itu sebagaimana dijelaskan dalam surat an-Nahl, 16:50
FUNGSI, TUGAS DAN NAMA-
NAMA MALAIKAT
 Fungsi dan Tugasnya
    Fungsi pokok para malaikat adalah
 menyampaikan pesan Allah SWT kepada
 manusia, agar manusia mendapatkan
 kebaikan-kebaikan       Tuhan        melalui
 perantaranya. Dengan demikian, malaikat
 juga disebut Rasul (utusan) Allah didamping
 manusia sebagaimana dijelaskan dalam
 surat al-Hajj ayat 75.
      Adapun tugas-tugas secara terperinci sebagaimana
  diinformasikan al-Qur’an dapat dijelaskan sebagai
  berikut:
 Menyampaikan wahyu kepada Rasulullah Muhammad
  dan Rasul-Rasul sebelumnya, tugas tersebut dijelaskan
  dalam al-Qur’an surat al-Mursalat ayat 1-5.
 Menyampaikan kabar gembira dan menabahkan hati
  orang-orang yang beriman, ssebagaimana dijelaskan
  dalam surat Fushilat ayat 30.
 Mendatangi      orang-orang    selain     Nabi    untuk
  menyampaikan pesan Allah, seperti kepada Maryam
  sebagaimana tercermin dalam surat Ali’Imran ayat 42
 Membantu     orang-orang beriman dalam musuh-
  musuhnya, hal itu pernah terjadi dalam perang Badr
  dimana tentara umat islam sangat sedikit dibandingkan
  musuhnya       tetapi     memperoleh        kemenangan
 Mendoakan kepada Nabi Muhammad, orang-
  orang yang beriman serta memintakan
  ampunan bagi semua manusia, baik mukmin
  maupun kafir sebagaimana dijelaskan dalam
  surat asy-Syura ayat 5.
 Mencabut      nyawa     manusia  yang     telah
  ditentukan batasan kehidupannya oleh Allah,
  hal itu dijelaskan dalam surat as-Sajdah ayat
  11.
 Mencatat perbuatan baik dan buruk manusia di
  dunia sebagai mana dijelaskan dalam surat Qaf
  ayat 18.
 Memelihara      kehidupan   manusia    didunia
  sebagaimana dijelaskan dalam surat ar-Ra’d
  ayat 11.
Nama-Nama Malaikat
    Tidak ada sumber yang pasti mengenai
 jumlah malaikat kecuali Allah sendiri, tetapi
 dalam al-Qur’an maupun Hadist ada
 beberapa nama yang disebutkan besarta
 tugasnya, ada yang disebut namanya saja
 dan ada pula yang hanya disebutkan tugas
 dan fungsinya tetapi namanya terdapat
 dalam Hadits atau hanya penafsiran ulama.
 Adapun nama-nama malaikat dan tugasnya
 adalah :
   Malaikat Mikail, malaikat ini tidak mempunyai tugas secara
    jelas dalam al-Qur’an tetapi menurut beberapa Hadits
    berfungsi menurunkan hujan dan membagi rizki. Nama
    tersebut dapat dilihat dalam surat al-Baqarah ayat 98.
   Malaikat Jibril, yaitu malaikat pembawa wahyu
    sebagaimana disebut dalam surat al-Baqarah ayat 97.
   Malaikat Israfil, nama tersebut tidak disebut secara
    langsung dalam al-Qur’an, tetapi disinggung tentang
    tugasnya yaitu meniup sangkala atau tertompet
    sebagaiman dijelaskan dalam surat az-Zumar ayat 68.
   Malaikat Izrail, nama tersebut cukup populer tetapi tidak
    dijelaskan dalam al-Qur’an maupun Hadits yang shahih.
    Dalam al-Qur’an hanya menjelaskan bahwa terdapat
    utusan Allah yang bertugas mencabut nyawa manusia
    sebagaimana dijelaskan dalam surat al-An’am ayat 61.
   Malaikat Raqib dan Atid, adalah malaikat pencatat amal
    baik dan buruk manusia, sebagian ulama memahami
    istilah Raqib Atid bukan nama tetapi fungsi, yaitu
    pengawas yang selalu hadir sebagaimana dijelaskan
    dalam surat Qaf ayat 18
   Malaikat Malik, adalah malaikat yang bertugas menjaga
    neraka sebagai mana tertuang dalam surat az-Zuhuf ayat
PENGETAHUAN TENTANG MALAIKAT
     Manusia     tidak   dituntut   untuk    memiliki
 pengetahuan mengenai keberadaan malaikat,
 tetapi hanya dituntut untuk percaya akan
 keberadaannya        dan     tidak    diperbolehkan
 menggambarkan keberadaannya kecuali memang
 telah dijelaskan dalam al-Qur’an maupun Hadits.
 Pernyataan ini berdasarkan pada surat al-Isra’ ayat
 36. Berbeda dengan manusia pada umumnya, para
 nabi dan sebagai sahabat walaupun manusia
 mereka pernah melihat malaikat dalam bentuk
 manusia atau pun bentuk aslinya. Hal ini
 sebgaimana dialami oleh Nabi Ibrahim dan Nabi
 Muhammad yang dikisahkan dalam al-Qur’an surat
 an-Najm ayat 13-14.
HIKMAH BERIMAN KEPADA
MALAIKAT
   Mempertebal rasa iman karena semakin jelas akan
    keagungan dan kemulyaan Allah SWT, dengan
    menciptakan malaikat.
   Mempertebal rasa syukur kepada Allah kerena kita
    diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna
    dibandingkan makhluk-makhluk lain, termasuk
    malaikat.
   Membentuk sikap hati-hati dalam menjalankan
    kehidupan ini, karena Allah memiliki pembantu-
    pembantu berupa malaikat yang senantiasa
    mengawasi dan mencatat amal perbuatan kita di
    dunia
PERCAYA KEPADA JIN, IBLIS DAN
SETAN
 KEPERCAYAAN TERHADAP MAKHLUK HALUS
     Jin, iblis dan setan sebagai makhluk halus di
 mana dari penamaannya dapat dipahami, bahwa ia
 adalah makhluk yang tersembunyi, maka satu-
 satunya jalan untuk mengetahuinya adalah melalui
 kejadian terhadap wahyu. Cara tersebut akan lebih
 selamat, mengingat kepercayaan terhadap jin, iblis
 dan setan banyak didominasi oleh mitos-mitos
 debandingkan dengan kepercayaan terhadap
 malaikat. Dengan demikian harus disadari, bahwa
 kepercayaan terhadap makhluk halus tersebut
 bukan hanya monopoli penganut agama islam,
 tetapi merupakan keyakinan manusia sejak awal
 sejarahnya.
JIN
    Pengertian Jin
        Kata jin berasal dari bahasa Arab bersal
    dariakar     kata    jan‟na-yaj‟janna-jin‟na secara
    etimologisnberarti menutup. Menurut para pakar
    bahasa, semua kata jadian yang berasal dari kata
    tersebut mengandung makna ketertutupan atau
    ketersembunyian, misalnya:
   Jannah yang berarti surga, surga adalah tempat
    yang tersembunyi karena belum bisa disaksikan
    oleh mata sampai saat ini.
   Majnun yang berarti oran gila, oran gila adalah
    orang tertutup atau tersembunyi akalnya.
   Janin (bayi), disebut demikian karena janin adalah
    sesuatu yang tertutup dalam perut seorang ibu.
   Jannan yang berarti hati, disebut jannan karena isi
    hati tertutup dari pandangan pengetahuan.
   Secara terminologi, jin adalah semacam
roh yang berakal, berkeinginan dan dibebani
tugas ssebagaimana halnya manusia,
tertutup dari indera sehingga keasliannya
tidak terlihat dan mereka bisa menjelma
dengan suatu rupa dan bentuk makhluk lain
sebagaimana malaikat. Dalam pandangan
masyarakat jahiliyyah, jin adalah makhluk
yang mempunyai kekuatan tersembunyi
yang mampu mengakibatkan gangguan,
disamping dapat memberi manfaat.
Jin Dalam Al-Qur’an
   Kata jin dalam al-Qur’an disebut banyak 27
kali. Jin adalah makhluk Allah yang diciptakan
sebelum manusia dan diperintahkan (mukallaf)
untuk     menyembah        kepada     Allah   swt
sebagaimana difirmankan dalam surat adz--
Dzariyat ayat 56.
   Dalam al-Qur’an selain kata jin, ditemukan
empat istilahyang mengaju pada pengertian jin,
yaitu jaan, jinna, iblis dan syaithaan. Dalam al-
Qur’anjuga dijelaskan beberapa perbedaan
antara manusia dan jin beserta ciri-cirinya, yaitu
:
 Manusia diciptakan dari tanah sedangkan jin
  diciptakan dari api, sebagaimana dijelaskan
  dalam surat al-A’raf (7) ayat 12.
 Jin dapat melihat aktivitas manusia sedangkan
  manusia tidak dapat melihat aktivitas mereka,
  kecuali orang tertentu sebagaimana dijelaskan
  dalam surat al-A’raf (7) ayat 27.
 Makhluk jin dapat hidup di planet bumi, tetapi
  Allah tidak menjelaskan di mana tepatnya
  sebagaimana dijelaskan dalam surat al-
  Baqarah (2) ayat 36.
 Mereka mempunyai kemampuan melaksanakan
  pekerjaan berat, seperti apa yang mereka
  pernah lakukan untuk Nabi Sulaiman. Hal itu
  dijelaskan dalam al-Quran surat Saba’ (34) ayat
  12.
   Mereka juga mempunyai kemampua hidup berada
    di luar planet bumi berdasarkan ucapan mereka
    yang dibenarkan dan diabadikan dalam al-Qur’an
    sebagaimana dijelaskan dalam al-Jin (72) ayat 8-9.
   Tidak semua membengkang terhadap perintah
    Allah, sebagian taat kepada perintah Allah.
    Kelompok jin jahat diberi izin dan potensi oleh Allah
    untuk merayu manusia yang lemah iman sama
    seperti      kemampuan      kuman        menggerogoti
    kesehatan yang tidak memiliki kekebalan tubuh. Hal
    itu telah dijelaskan dalam surat al-Jin (72) ayat 13.
   Mereka mempunyai kemapuan memahami bahasa
    manusia, dengan bukti mereka mampu mendengar
    dan memahami isi al-Qur’an sedangkan al-Qur’an
    diturunkan dalam bahasa manusia sebagaimana
    dijelaskan dalam surat al-Jin (72) ayat 1-2.
IBLIS
 Pengertian Iblis
    Kata iblis berasak dari bahasa Arab, yaitu
 ab‟lasya yang berarti putus asa. Sebagai
 pakar bahasa yang berpendapat, bahwa iblis
 berasal dari kata balasya berarti tada
 kebaikannya. Nama iblis diberikan kepada jin
 yang enggan ketika diperintah Allah untuk
 sujud kepada Adam, Allah murka terhadap
 keengganannya.
Iblis Dalam Al-Qur’an
     Kata iblis dalam al-Qur’an dapat dijumpai
sebanyak 11 kali yang tersebar dalam 9 surat. Dari
sekian ayat yang menyebutkan iblis semuanya
dalam bentuk tunggal. Hal itu menunjukan bahwa
iblis hanyalah satu, berada dengan setan yang
benyak disebut dalam bentuk jamak (syayathin).
Berdasarkan fakta bahasa tersebut, sebagian
ulama berpendapat, bahwa iblis adalah golongan
jin dan ayahnya setan yang banyak sebagaimana
disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Khafi ayat 50.
Dari sini dapat dimengerti, dalam kesengsaraan
(dosa). Dugaan iblis, bahwa materi penciptaannya
lebih mulia dibandingkan dengan manusia dalam
perspektif nalar manusia dapat dibantah dengan
argumen sebagai berikut :
   Api sifatnya berkobar, labil dan sangat mudah diombang-
    ambingkan oleh hembusan angin, berbeda dengan tanah
    yang bersifat stabil dan kokoh.
   Api bersifat membakar dan memusnahkan, berbeda
    dengan tanah yang sifatnya memakmurkan dan menjadi
    pelambang sumber rizki dengan tumbuhnya pepohonan
    dan lain-lain.
   Tanah dibutuhkan oleh manusia dan binatang, sedangkan
    api tidak dibutuhkan oleh binatang, bahkan manusia dapat
    hidup sekian lam tanpa adanya api.
   Di dalam tanah banyak terdapat barang yang berharga,
    seperti tambang, sungai, mata air pemandangan indah
    dan lain-lain. Berbeda halnya dengan api yang
    menyimbolkan kebencian, emosi dan lain-lain.
SETAN
 Pengertian Setan
     Kata setan berasal dari kata Bahasa Arab, yaitu syatha
 atau syathana yang berarti jauh, sesat dan berkorban.
 Menurut Ahmad bin Muhammad Ali al-Ffayyuni (w. 1368 H)
 dalam kamus al-Misbah al-Munir menyebutkan, bahwa
 setan berasal dari syathana berarti jauh, karena setan
 menjauh dari kebenaran atau menjauh dari rahmad Allah
 dalam kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan, setan
 adalah roh jahat yang selalu mempengaruhi manusia
 melakukan perbuatan jahat. Sebagai disinggung dalam
 pembahasan iblis, setan adalah makhlik ciptaan Allah dari
 golongan jin yang membangkang dan merupakan anak
 keturunan iblis penggoda Adam da Hawwa di surga.
 Anggapan tersebut merujuk pada firman Allah dalam surat
 Shad ayat 41, yang mengisahkan tentang penderitaan
 Nabi Ayyub ketika ditimpa penyakit sangat payah, hal ini
 disebutkan dalam surat Shad, 38:41.
    Setan Dalam Al-Qur’an
       Kata setan dalam bentuk tunggal atau jamak
    (syaithaan    /   syayaathin)  dalam    al-Qur’an
    disebutkan sebanyak 28 kali. Semua ayat yang
    membicarakan tentang setan menunjukan sifat
    keburukan, yang diantaranya:
   Menakut-nakuti manusia dan memerintahkan
    perbuatan yang keji sebagaimana tercantum dalam
    surat al-Baqarah ayat 268.
   Menggelincirkan manusia melalui amal perbuatan
    mereka, hal itu dilukiskan dalam surat Ali Imran
    ayat 155
   Menciptakan     permusuhan     dan    kedengkian
    sebagaimana tersurat dalam surat al-Maidah 91.
   Menghasut dan berbuat maksiat sebagaimana
    tesurat dalam surat Maryam ayat 83.
   Mengingkari janji sebagaiman difirmankan dalam
    surat Ibrahim ayat 22.
        Di samping sifat-sifat tersebut diatas, al-
    Qur’an juga menjelaskan tentang kekuatan-
    kekuatan yang dimiliki oleh setan, diantaranya:
   Ketersembunyian, sebagaimana disinggung
    diatas bahwa setan adalah termasuk jenis jin
    yang merupakan makhluk yang tersembunyi.
    Sebagaiana dikisahkan dalam surat al-A’raf (7)
    ayat 127.
   Masuk dalam diri manusia dan selalu menyertai
    dalam     segala    langkahnya       sebagaiman
    difirmankan dalam surat az-Zuhuf ayat 36.
   Mampu berubah dengan berbagai bentuk.
   Gigih dan sabar untuk menyesatkan manusia.
     Dengan berbagai kemampuannya untuk
  menggoda manusia tersebut, maka manusia
  dianjurkan   untuk      berhati-hati dengan
  melakukan amalan dalam bentuk bacaan
  yang dianjurkan, diantaranya:
 Membaca ta‟awudz sebagaimana ditegaskan
  dalam surat al-A’raf (7) ayat 200.
 Membaca al-muawidzatain, yaitu membaca
  surat an-Nas dan al-Falaq
 Membaca surat al-Baqarah
 Membaca ayat al-Kursi, yaitu surat al-
  Baqarah (2) ayat 255.
Hikmah Di Ciptakannya Iblis Dan
Setan

    Hikmah terbesar diciptakannya jin, iblis
  dan setan adalah menambah keyakinan
  bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha
  Sempurna dan memunculkan sikap hati-hati
  agar manusia tidak mendapatkan murka
  seperti mereka.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5312
posted:1/22/2011
language:Indonesian
pages:50