Tugas Kuliah by afiidol

VIEWS: 355 PAGES: 14

									                                    MANUSIA
                 SEBAGAI HAMBA DAN KHALIFAH

     A. PENGERTIAN MANUSIA
     1. Berbagai pandangan tentang manusia

       Telah lama manusia menjadi obyek pembahasan dan obyek pembicaraan di kalangan
para ahli, baik ilmuwan, filosof, sastrawan dan agamawan. Menurut Dr. Alexis Cariel dalam
buku Man The Unknown, ada tiga faktor yang menjadikan pengetahuan kita tentang
manusia menjadi terbatas dibandingkan dengan pengetahuan kita di bidang lain,
diantaranya:

 Pembahasan tentang manusia terlambat diadakan.

 Spesifikasi akal manusia yang lebih cenderung untuk memikirkan hal-hal yang tidak
  komplek

 Luasnya personal yang dihadapi manusia

        Filosof Yunani, Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai hewan yang berpikir
(thinking animal). Sebagai antropologi berpendapat, bahwa ciri khas manusia adalah
kesadaran dan kemauannya untuk berteknik, membuat sesuatu yang baru dari benda-benda
yang telah ada, kemudian mengolahnya menjadi barang-barang yang bermanfaat bagi
dirinya atau orang lain, kesimpulannya bahwa manusia adalah makhluk berteknik. Seorang
ahli filsafat Frederick Nietzsche berpendapat bahwa hakikat hidup manusia adalah
perjuangan untuk diri sendiri, suku atau bangsa, dengan mengabaikan bahkan menindas
bangsa-bangsa lain. Karl Mark mengatakan, bahwa manusia mempunuai tiga kebutuhan
pokok, yaitu sandang, pangan dan pemuasan kebutuhan sex.



     2. Pengertian manusia dalam al-Quran

      Manusia dalam al-Quran disebut dengan empat istilah dengan konteks yang
beragam, yaitu:

a.   Al-Insan, manusia mempunyai sifat pelupa, manusia sebagai makhluk yang diberi
     tanggung jawab oleh Allah karena sifat kekhususannya, yaitu mampu membedakan
     yang baik dan buruk, mempunyai akal, mampu berkomunikasi (mempunyai indra) dan
     makhluk yang diberi kebebasan berinisiatif. Hal itu dapat dijumpai dalam al-Quran
     diantaranya surat at-Thin ayat 4, surat al-Insan 1-2, dan adz-Dzariyat ayat 56.

b. Al-Basyar, manusia adalah sebagai makhluk biologis, seperti membutuhkan makan,
   minum dan lain-lain. Hal itu dapat dilihat dalam surat al-Khafi ayat 110
c.   An-Nas, kesetaraan manusia dihadapan Tuhan, yaitu memiliki tanggung jawab dan
     kewajiban yang sama untuk menjalankan amanat serta menyembah-Nya misal dalam
     surat al-Hujrat ayat 13

d. Bani Adam, bahwa manusia mempunyai asal usul dari jenis manusia bukan lainnya,
   yaitu Adam. Hal itu dapat dijumpai misalnya dalam al-Quran diantaranya surah Isra’ayat
   70.



     B. PENCIPTAAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN
     1. Awal mula manusia

        Asal-usul kejadian manusia tidak dicatatkan serta kronologis dalam al-Qur’an. Cerita
penciptaan banyak diketahui dari hadits, kisah-kisah Israiliyyat dan riwayat-riwayat yang
bersumber dari kitab Taurat (kitab suci Agama Yahudi), Injil, cerita-cerita yang bersumber
dari kitab Tamlud, yaitu kitab banyak memberi penafsiran terhadap kitab Taurat. Dalam
pandangan islam, Adam adalah asal usul menusia atau manusia pertama yang diciptakan
oleh Allah sebagai representasi maskulin (laki-laki) yang menurunkan manusia di dunia
sampai saat ini, hal itu berdasarkan firman Allah surah al-Baqarah ayat 31.

      Setelah Allah menciptakan Adam, kemudian diciptakan pasangan (zauj) yaitu dikenal
dengan Hawwa sebagai representasi feminim (perempuan). Salah satu ayat yang
mengisyaratkan asal usul kejadian perempuan (hawwa) ialah surah an-Nisa’ ayat 1.

        Semenjak awal, agama telah mengajarkan kebenaran penciptaan, yang dapat
dipahami semua orang melalui penggunaan akal dan pengamatan pribadi. Semua agama
samawi telah mengajarkan bahwa Allah menciptakan alam semesta dengan berfirman
“Jadilah!”, dan bahwa bekerjanya alam semesta secara sempurna tanpa cela merupakan
bukti daya ciptaNya yang agung. Banyak ayat Al Qur’an juga mengungkapkan kebenaran
ini. Misalnya, Allah mengungkapkan bagaimana Dia secara ajaib menciptakan alam
semesta dari ketiadaan:

      Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan)
sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah”. Lalu jadilah ia.
(QS. Al Baqarah, 2: 117)

      Allah juga mengungkapkan yang berikut:
      Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah
perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-
lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang
nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)


     Ilmu pengetahuan mutakhir membuktikan ketidak-absahan pernyataan materialis-
evolusionis, dan menegaskan kebenaran penciptaan. Berlawanan dengan teori evolusi,
semua bukti penciptaan yang mengelilingi kita menunjukkan bahwa faktor kebetulan tidak
berperan dalam terwujudnya alam semesta. Setiap rincian yang tampak saat kita
mengamati langit, bumi, dan semua makhluk hidup dimaksudkan sebagai bukti
kebijaksanaan dan kekuasaan Allah yang agung.
      Perbedaan mendasar antara agama dan paham ateisme adalah, yang pertama
mempercayai Allah, sedangkan yang terakhir mempercayai materialisme. Ketika Allah
bertanya kepada mereka yang ingkar, Dia menarik perhatian terhadap pernyataan yang
mereka ajukan untuk menolak penciptaan: Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun
ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (QS. Ath Thuur, 52: 35)

     Sejak zaman bermula, mereka yang mengingkari penciptaan senantiasa menyatakan
bahwa manusia dan alam semesta tidaklah diciptakan, dan selalu berusaha membenarkan
pernyataan tak masuk akal itu. Dukungan yang terbesar bagi mereka tiba di abad ke-19,
berkat teori Darwin.
     Kaum muslimin tidak boleh mengadakan jalan tengah dalam masalah ini. Memang,
orang boleh berpikir sesukanya, dan boleh percaya apa pun yang ingin dipercayainya.
Akan tetapi, tidak ada jalan tengah bagi teori yang mengingkari Allah dan ciptaanNya,
sebab hal itu berarti tawar-menawar dalam unsur dasar agama. Tentu, berbuat demikian
sama sekali tak bisa diterima.
     Para evolusionis, karena sadar betapa jalan tengah seperti itu akan merusak agama,
mendorong orang-orang beriman agar berusaha memperolehnya.


     2. Asal Usul Spesies Manusia

       Menurut D.Bakker dalam disertasinya Man in the Qur’an, menyatakan behwa
masalah penciptaan al-Quran menyinggung kurang lebih 34 ayat dan tersebar dalam 16
surat. Di antaranya ayat-ayat yang membicarakan penciptaan manusia berasal dari tanah
adalah ;

a.   Firman Allah Surat Nuh [7] ayat 17

b. Firman Allah Surat ar-Rohman [55] ayat 14

c.   Firman Allah Surat al-Hijr [15] ayat 26

d. Firman Allah Surat al-Mukminun [23] ayat 12

       Dalam pandangan sains modern, semua jenis mahluk biologis membutuhkan air bagi
kehidupannya. Manusia sebagai mekhluk biologis juga membutuhkan air bagi
kehidupannya. Manusia sebagai mekhluk biologis juga menjadikan air sebagi sumber vital
dalam kehidupan. Pertanyaan tersebut senada dengan ayat-ayat al-Quran seperti :

 Firman Allah Surat al-Anbiya’ *21+ ayat 30

 Firman Allah Surat al-An’am *6+ ayat 99

 Firman Allah Surat an-Nur [24] ayat 45
    3. Reproduksi dan Tahapan Embrio

        Semua makhluk hidup mempunyai masa hidup yang terbatas, tidak terkecuali
manusia. Mekanisme yang digunakan oleh Allah agar makhluk hidup tetap survive adalah
dengan sistem reproduksi. Dengan reproduksi akan muncul generasi baru keturunan dari
jenis yang sama. Dalam membicarakan masalah ini, al-Qur’an memberikan porsi lebih luas
dan rinci dibandingkan pembicaraan tentang substansi manusia seperti roh atau nyawa.
Kesimpulannya adalah ternyata jauh sebelumnya telah disinggung oleh al-Qur’an
diantaranya;

   Firman Allah Surat adz-Dzariyat [51] ayat 49

   Firman Allah Surat an-Nahl [16] ayat 72



    4. Proses Penciptaan Manusia

Secara umum al-Qur’an mengambarkan bahwa seluruh proses penciptaan (creative proses)
manusia melalui tiga tahap, yaitu;

    Permulaan penciptaan

    Pembentukan atau penyempurnaan

    Pemberian kehidupan

       Pembagian tahapan tersebut berdasarkan surah Shad (38:71:72). Istilah penciptaan
yang digunakan dalam al-Qur’an adalah kata khalaqa yang berarti menciptakan atau
mengadakan sesuatu dari tiada. Istilah tersebut digunakan al-Qur’an untuk mengambarkan
proses penciptaan terhadap pertama dan kedua. Disamping kata khalaqa al-Qur’an
menggunakan istilah yang lebih spesifik yaitu shawwara untuk proses menggambarkan
proses penciptaan tahap kedua. Hal itu tertulis dalam surat at-Tin (95:4) dan surat al-
Mu’min (40:64)



    C. MANUSIA SEBAGAI HAMBA
    1. Pengertian Hamba

       Kata hamba dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dari bahasa Arab, yaitu abada-
ya’budu-‘ibadatan berarti menyembah. Istilah hamba dalam masyarakat juga dipahami
sebagai hamba sahaya atau budak. Kata abd dalam al-Qur’an disebut 27 kali dengan
berbagai bentuk makna. Dalam bentuk fi’il (kata kerja) menunjukan arti penghambaan
manusia kepada Allah sebagai pencipta.

        Manusia sebagai hamba sebagaimana tujuan utama Allah menciptakannya, adalah
utusan menyembahNya tidak pantas untuk menyembah kepada apapun dan siapapun selain
Allah. Kewajiban untuk beribadah, telah banyak disinggung dalam al-Qur’an diantaranya
(QS. Al-Hijr, 15:56), (QS. Al-Hijr, 15 :99), (QS. Al-A’raf, 7:59), (QS. An-Nahl, 16:36)
     2. Pengertian dan Hakekat Ibadah

         Kata ibadah adalah bentuk masdar (naon) dari kata abada, artinya penyembahan
(noun) dari kata abada, artinya penyembahan (worship), pemujaan (adoration) dan
pengabdian pada illahi (divine service). Dalam Al Qur’an kata ini disebut sebanyak sembilan
kali dengan tiga arti, yaitu patuh (tha’ah), tunduk (khudlu’) dan do’a (du’a’). Ibadah dalam
istilah syar’i terdapat beberapa pendapatulama,di antaranya:

 Ibnu Katsir mengatakan “ibadah ialah himpunan cinta, ketundukan, dan rasa takut yang
  sempurna”.

 Al-Jurjani mengatakan “ibadah ialah perbuatan yang dilakukan oleh mukallaf, tidak
  menurut hawa nafsunya untuk memuliakan Tuhanya”.

 Menurut ibnu Taimiyyah “ibadah ialah keterpaduan antara sikap merendahkan diri dan
  cinta yang mendalam pada seorang hamba”.

       Sedangkan arti ibadah menurut rumusan Majelis Tarjih Muhammadiyah ialah
bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah , dengan jalan mentaati segala perintah-
perintah-nya menjauhi segala laralgan-laranga-nya dan mengamalkan segalayang diizinkan
Allah, baik yang khusus maupun yang umum. Dalam pengertian yang lebih luas ibadah
meliputi segala yang dicintai Allah dan diridahi-nya, baik perkataan maupun perbuatan
secara lahir maupun batin. Dalam ilmu fiqh, ibadah terbagi menjadi dua, yaitu ibadah
mahdhah dan ibadah ghairul mahdhah. Ibadah mahdhah adalah ibadah yang sudah jelas
pelaksanaanya seerta telah dituntunkan oleh Rasullulah, sedang ibadah ghairul mahadhah
adalah ibadah yang tidak jelas secara terperinci dalam al-Qur’an maupun al-Hadits.

        Dari hakekat ibadah yang telah diuraikan diatas, maka dapat disebutkan hikmah atau
tujuan ibadah, yaitu :

a.   Ibadah merupakan manifestasi rasa syukur keharibaab Allah SWT (khaliq) dari hamba
     (makhluk) atas segala anugrah yang telah diterimanya.

b. Suatu pengakuan dari hamba, bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah dan hina
   dihadapanNya.

c.   Memenuhi kewajiban yang telah diperintakan oleh Allah.

d. Menghidupkan kesadaran tauhid yang telah diikrarkan sejak manusia dalam alam
   rahim.

e.   Menghapus kepercayaan kepada sesuatu yang sering disembah oleh orang-orang
     musyrik dan melepaskan ketergantungan yang lebih kepada harta, pangkat dan
     kekuasaan, sehingga ia akan menjadi manusia yang sebenarnya yaitu manusia yang
     memiliki kemerdekaan (hurriyah)
     D. MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH
     1. Pengertian Khalifah

      Istilah khalifah yang berkembang dalam masyarakat muslim saat ini terdapat 2
pengertian. Pertama, istilah khalifah yang dipahami sebagai kepala negara dalam
pemerintahan dan raja dalam kerajaan atau sama dengan sultan. Kedua, istilah khalifah
dipahami sebagai predikat bagi manusia menjadi wakil tuhan dimuka bumi ini.

     2. Khalifah Dalam Al-Qur’an

        Dalam al-Qur’an, kata khalifah yang bersal dari kata fa, la,qha disebut sebanyak 127
kali dalam 12 kata jadian. Dalam kata kerja berarti mengantikan, meningalkan, dalam kata
benda berarti pengantian atau pewaris, tapi ada arti yang menyimpang seperti berselisih,
menyalahi janji atau beraneka ragam. Adapun kata yang berkaitan dengan istilah khalifah
disebut sebanyak 10 kali dalam pertama, ketika Allah ingin menjadikan khalifah dan
ternyata Adam adalah manusia yang diciptakan pertama maka manusia sebagai khalifah
dalam kehidupan. Kedua, khalifah sebagai generasi penerus atau generasi penganti. Ketiga,
khalifa adalah kepala negara atau pemerintahan.

      Untuk dapat mendukung tugas-tugas sebagai khalifah              dimuka bumi Allah
melengkapi potensi-potensi tertentu, antara lain :

a.   Manusia tekah didesain dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Hal itu dinyatakan dalam al-
     Quran surat at-Athin ayat 4.

b. Kemampuan untuk mengetahui sifat-sifat, fungsi, dan kegunaan segala macam benda,
   hal itu digambarkan dalam firman allah surat al-Baqarah ayat 31 sebagai mana telah
   disebutkan diatas.

c.   Ditundukkan bumi dan langit dan segala isinya, bintang-bintang, planet-planet dan lain
     sebagainya. Hal itu dijelaskan firmann Allah dalam surat al-Jasyiyah ayat 12.

d. Allah menganugerahkan akal pikiran dan penginderaan. Hal itu tercermin dalam al-
   Qur’an surat al-Mulk ayat 3.

e.   Allah menganugerahkan potensi-potensi kreatif untuk mampu membangun peradaban
     dimuka bumi ini. Hal itu digambarkan surat ar-Ra’d ayat 11.
                        IMAN KEPADA MALAIKAT

    A. PENGERTIAN MALAIKAT
        Kata malaikat berasal dari bahasa Arab dan merupakan bentuk jamak dari kata
tunggal malak. Sebagian ulama berpendapat kata Malaikat berasal dari kata la’aka yang
berarti menyampaikan sesuatu. Malak atau malaikat adalah makhluk yang menyampaikan
sesuatu dari Allah swt. Secara terminologi malaikat ialah, makhluk halus yang diciptakan
Allah dari cahaya yang dapat berbentuk dengan aneka macam bentuk, selalu taat
mematuhi Allah dan tidak pernah sedikitpun membangkang. Pengertian tersebut didukung
oleh firman Allah surat at-Tahrim ayat 6.



    B. IMAN KEPADA MALAIKAT
       Iman artiya percaya dan yakin. Iman kepada malaikat berarti percaya kepada
malaikat. Ingatkah kalian pada rukun Iman? Sebagai seorang muslim yang baik dan beriman,
kita wajib mempercayai adanya malaikat yang termasuk salah satu dari enam rukun iman,
maka menjadi sempurnalah iman dan Islam kita. Malaikat tergolong makhluk yang suci.
Mereka sangat setia terhadap tugas-tugas yang diberi oleh Allah, tidak pernah ingkar, tidakk
pernah berbuat dosa besar maupun dosa kecil. Malaikat tidak berjenis kelamin, tidak
makan, dan tidak tidur. Setiap saat dan kapan pun, malaikat siap melaksanakan perintah
Allah, dengan tidak menunda-nunda atau mengulur-ulur waktu. Seperti yang telah
difirmankan didalam Al-Quran At-Tahrim ayat 6 dan QS. An-Nahl 50.



    C. KEDUDUKAN MANUSIA DAN MALAIKAT
        Manusia dan malaikat adalah sama-sama makhluk Allah yang berkewajiban untuk
taat dan beribadah kepada Allah. Malaikat diciptakan khusus untuk membantu Allah SWT.
Berkaitan dengan urusan manusia dan alam. Sedangkan manusia diciptakan untuk menjadi
khalifah (wakil) Allah dalam rangka memakmurkan bumi ini, seperti dijelaskan dalam surat
al-Baqarah ayat 34.



    D. SIFAT MALAIKAT
     Dalam al-Qur’an dan as-Sunnah ditemukan banyak keterangan tentang ciri, sifat dan
kemampuan malaikat, diantaranya ialah :

   Mampu berbentuk manusia, hal itu sebagaimana dijelaskan dalam surat Maryam, 19:17

   Tidak berjenis kelamin, hal tersebut dijelaskan dalam surat as-Syaffaat ayat 149-152
    Tidak mekan dan minum, hal itu sebagaimana dijelaskan dalam surat Hud ayat 70

    Tidak jemu beribadah dan tidak letih, hal itu sebagaimana dijelaskan dalam surat at-
     Tahrim (66:6)

    Berpenampilan menarik dan gagah

    Memiliki sayap yang jumlahnya ada yang dua, tiga dan empat, keterangan tersebut
     dapat dibaca dalam surat Fathir ayat 1

    Tidak pernah melakukan perbuatan maksiat dan dosa, hal itu sebagaimana dijelaskan
     dalam surat an-Nahl, 16:50



     E. FUNGSI, TUGAS DAN NAMA-NAMA MALAIKAT
     1. Fungsi dan Tugasnya

        Fungsi pokok para malaikat adalah menyampaikan pesan Allah SWT kepada manusia,
agar manusia mendapatkan kebaikan-kebaikan Tuhan melalui perantaranya. Dengan
demikian, malaikat juga disebut Rasul (utusan) Allah didamping manusia sebagaimana
dijelaskan dalam surat al-Hajj ayat 75.

        Adapun tugas-tugas secara terperinci sebagaimana diinformasikan al-Qur’an dapat
dijelaskan sebagai berikut:

a.   Menyampaikan wahyu kepada Rasulullah Muhammad dan Rasul-Rasul sebelumnya,
     tugas tersebut dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Mursalat ayat 1-5.

b. Menyampaikan kabar gembira dan menabahkan hati orang-orang yang beriman,
   ssebagaimana dijelaskan dalam surat Fushilat ayat 30.

c.   Mendatangi orang-orang selain Nabi untuk menyampaikan pesan Allah, seperti kepada
     Maryam sebagaimana tercermin dalam surat Ali’Imran ayat 42

d. Membantu orang-orang beriman dalam musuh-musuhnya, hal itu pernah terjadi dalam
   perang Badr dimana tentara umat islam sangat sedikit dibandingkan musuhnya tetapi
   memperoleh kemenangan sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Anafal ayat 9.

e.   Mendoakan kepada Nabi Muhammad, orang-orang yang beriman serta memintakan
     ampunan bagi semua manusia, baik mukmin maupun kafir sebagaimana dijelaskan
     dalam surat asy-Syura ayat 5.

f.   Mencabut nyawa manusia yang telah ditentukan batasan kehidupannya oleh Allah, hal
     itu dijelaskan dalam surat as-Sajdah ayat 11.

g.   Mencatat perbuatan baik dan buruk manusia di dunia sebagai mana dijelaskan dalam
     surat Qaf ayat 18.

h. Memelihara kehidupan manusia didunia sebagaimana dijelaskan dalam surat ar-Ra’d
   ayat 11.
     2. Nama-Nama Malaikat

       Tidak ada sumber yang pasti mengenai jumlah malaikat kecuali Allah sendiri, tetapi
dalam al-Qur’an maupun Hadist ada beberapa nama yang disebutkan besarta tugasnya, ada
yang disebut namanya saja dan ada pula yang hanya disebutkan tugas dan fungsinya tetapi
namanya terdapat dalam Hadits atau hanya penafsiran ulama. Adapun nama-nama malaikat
dan tugasnya adalah :

a) Malaikat Mikail, malaikat ini tidak mempunyai tugas secara jelas dalam al-Qur’an tetapi
   menurut beberapa Hadits berfungsi menurunkan hujan dan membagi rizki. Nama
   tersebut dapat dilihat dalam surat al-Baqarah ayat 98.

b) Malaikat Jibril, yaitu malaikat pembawa wahyu sebagaimana disebut dalam surat al-
   Baqarah ayat 97.

c)   Malaikat Israfil, nama tersebut tidak disebut secara langsung dalam al-Qur’an, tetapi
     disinggung tentang tugasnya yaitu meniup sangkala atau tertompet sebagaiman
     dijelaskan dalam surat az-Zumar ayat 68.

d) Malaikat Izrail, nama tersebut cukup populer tetapi tidak dijelaskan dalam al-Qur’an
   maupun Hadits yang shahih. Dalam al-Qur’an hanya menjelaskan bahwa terdapat
   utusan Allah yang bertugas mencabut nyawa manusia sebagaimana dijelaskan dalam
   surat al-An’am ayat 61.

e) Malaikat Raqib dan Atid, adalah malaikat pencatat amal baik dan buruk manusia,
   sebagian ulama memahami istilah Raqib Atid bukan nama tetapi fungsi, yaitu pengawas
   yang selalu hadir sebagaimana dijelaskan dalam surat Qaf ayat 18

f)   Malaikat Malik, adalah malaikat yang bertugas menjaga neraka sebagai mana tertuang
     dalam surat az-Zuhuf ayat 77



     F. PENGETAHUAN TENTANG MALAIKAT
       Manusia tidak dituntut untuk memiliki pengetahuan mengenai keberadaan malaikat,
tetapi hanya dituntut untuk percaya akan keberadaannya dan tidak diperbolehkan
menggambarkan keberadaannya kecuali memang telah dijelaskan dalam al-Qur’an maupun
Hadits. Pernyataan ini berdasarkan pada surat al-Isra’ ayat 36. Berbeda dengan manusia
pada umumnya, para nabi dan sebagai sahabat walaupun manusia mereka pernah melihat
malaikat dalam bentuk manusia atau pun bentuk aslinya. Hal ini sebgaimana dialami oleh
Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad yang dikisahkan dalam al-Qur’an surat an-Najm ayat 13-
14.



     G. HIKMAH BERIMAN KEPADA MALAIKAT
a.   Mempertebal rasa iman karena semakin jelas akan keagungan dan kemulyaan Allah
     SWT, dengan menciptakan malaikat.
b. Mempertebal rasa syukur kepada Allah kerena kita diciptakan sebagai makhluk yang
   paling sempurna dibandingkan makhluk-makhluk lain, termasuk malaikat.

c.   Membentuk sikap hati-hati dalam menjalankan kehidupan ini, karena Allah memiliki
     pembantu-pembantu berupa malaikat yang senantiasa mengawasi dan mencatat amal
     perbuatan kita di dunia
              PERCAYA KEPADA JIN, IBLIS DAN SETAN

     A. KEPERCAYAAN TERHADAP MAKHLUK HALUS
      Jin, iblis dan setan sebagai makhluk halus di mana dari penamaannya dapat
dipahami, bahwa ia adalah makhluk yang tersembunyi, maka satu-satunya jalan untuk
mengetahuinya adalah melalui kejadian terhadap wahyu. Cara tersebut akan lebih selamat,
mengingat kepercayaan terhadap jin, iblis dan setan banyak didominasi oleh mitos-mitos
debandingkan dengan kepercayaan terhadap malaikat. Dengan demikian harus disadari,
bahwa kepercayaan terhadap makhluk halus tersebut bukan hanya monopoli penganut
agama islam, tetapi merupakan keyakinan manusia sejak awal sejarahnya.



     B. JIN
     1. Pengertian Jin

        Kata jin berasal dari bahasa Arab bersal dariakar kata jan’na-yaj’janna-jin’na secara
etimologisnberarti menutup. Menurut para pakar bahasa, semua kata jadian yang berasal
dari kata tersebut mengandung makna ketertutupan atau ketersembunyian, misalnya:

a.   Jannah yang berarti surga, surga adalah tempat yang tersembunyi karena belum bisa
     disaksikan oleh mata sampai saat ini.

b. Majnun yang berarti oran gila, oran gila adalah orang tertutup atau tersembunyi
   akalnya.

c.   Janin (bayi), disebut demikian karena janin adalah sesuatu yang tertutup dalam perut
     seorang ibu.

d. Jannan yang berarti hati, disebut jannan karena isi hati tertutup dari pandangan
   pengetahuan.

        Secara terminologi, jin adalah semacam roh yang berakal, berkeinginan dan dibebani
tugas ssebagaimana halnya manusia, tertutup dari indera sehingga keasliannya tidak
terlihat dan mereka bisa menjelma dengan suatu rupa dan bentuk makhluk lain
sebagaimana malaikat. Dalam pandangan masyarakat jahiliyyah, jin adalah makhluk yang
mempunyai kekuatan tersembunyi yang mampu mengakibatkan gangguan, disamping dapat
memberi manfaat.



     2. Jin Dalam Al-Qur’an

        Kata jin dalam al-Qur’an disebut banyak 27 kali. Jin adalah makhluk Allah yang
diciptakan sebelum manusia dan diperintahkan (mukallaf) untuk menyembah kepada Allah
swt sebagaimana difirmankan dalam surat adz-Dzariyat ayat 56.
      Dalam al-Qur’an selain kata jin, ditemukan empat istilahyang mengaju pada
pengertian jin, yaitu jaan, jinna, iblis dan syaithaan. Dalam al-Qur’anjuga dijelaskan
beberapa perbedaan antara manusia dan jin beserta ciri-cirinya, yaitu :

a.   Manusia diciptakan dari tanah sedangkan jin diciptakan dari api, sebagaimana
     dijelaskan dalam surat al-A’raf (7) ayat 12.

b. Jin dapat melihat aktivitas manusia sedangkan manusia tidak dapat melihat aktivitas
   mereka, kecuali orang tertentu sebagaimana dijelaskan dalam surat al-A’raf (7) ayat 27.

c.   Makhluk jin dapat hidup di planet bumi, tetapi Allah tidak menjelaskan di mana
     tepatnya sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Baqarah (2) ayat 36.

d. Mereka mempunyai kemampuan melaksanakan pekerjaan berat, seperti apa yang
   mereka pernah lakukan untuk Nabi Sulaiman. Hal itu dijelaskan dalam al-Quran surat
   Saba’ (34) ayat 12.

e.   Mereka juga mempunyai kemampua hidup berada di luar planet bumi berdasarkan
     ucapan mereka yang dibenarkan dan diabadikan dalam al-Qur’an sebagaimana
     dijelaskan dalam al-Jin (72) ayat 8-9.

f.   Tidak semua membengkang terhadap perintah Allah, sebagian taat kepada perintah
     Allah. Kelompok jin jahat diberi izin dan potensi oleh Allah untuk merayu manusia yang
     lemah iman sama seperti kemampuan kuman menggerogoti kesehatan yang tidak
     memiliki kekebalan tubuh. Hal itu telah dijelaskan dalam surat al-Jin (72) ayat 13.

g.   Mereka mempunyai kemapuan memahami bahasa manusia, dengan bukti mereka
     mampu mendengar dan memahami isi al-Qur’an sedangkan al-Qur’an diturunkan dalam
     bahasa manusia sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Jin (72) ayat 1-2.



     C. IBLIS
     1. Pengertian Iblis

       Kata iblis berasak dari bahasa Arab, yaitu ab’lasya yang berarti putus asa. Sebagai
pakar bahasa yang berpendapat, bahwa iblis berasal dari kata balasya berarti tada
kebaikannya. Nama iblis diberikan kepada jin yang enggan ketika diperintah Allah untuk
sujud kepada Adam, Allah murka terhadap keengganannya.

     2. Iblis Dalam Al-Qur’an

       Kata iblis dalam al-Qur’an dapat dijumpai sebanyak 11 kali yang tersebar dalam 9
surat. Dari sekian ayat yang menyebutkan iblis semuanya dalam bentuk tunggal. Hal itu
menunjukan bahwa iblis hanyalah satu, berada dengan setan yang benyak disebut dalam
bentuk jamak (syayathin). Berdasarkan fakta bahasa tersebut, sebagian ulama berpendapat,
bahwa iblis adalah golongan jin dan ayahnya setan yang banyak sebagaimana disebutkan
dalam al-Qur’an surat al-Khafi ayat 50. Dari sini dapat dimengerti, dalam kesengsaraan
(dosa). Dugaan iblis, bahwa materi penciptaannya lebih mulia dibandingkan dengan
manusia dalam perspektif nalar manusia dapat dibantah dengan argumen sebagai berikut :
1.   Api sifatnya berkobar, labil dan sangat mudah diombang-ambingkan oleh hembusan
     angin, berbeda dengan tanah yang bersifat stabil dan kokoh.

2.   Api bersifat membakar dan memusnahkan, berbeda dengan tanah yang sifatnya
     memakmurkan dan menjadi pelambang sumber rizki dengan tumbuhnya pepohonan
     dan lain-lain.

3.   Tanah dibutuhkan oleh manusia dan binatang, sedangkan api tidak dibutuhkan oleh
     binatang, bahkan manusia dapat hidup sekian lam tanpa adanya api.

4.   Di dalam tanah banyak terdapat barang yang berharga, seperti tambang, sungai, mata
     air pemandangan indah dan lain-lain. Berbeda halnya dengan api yang menyimbolkan
     kebencian, emosi dan lain-lain.



     D. SETAN
     1. Pengertian Setan

        Kata setan berasal dari kata Bahasa Arab, yaitu syatha atau syathana yang berarti
jauh, sesat dan berkorban. Menurut Ahmad bin Muhammad Ali al-Ffayyuni (w. 1368 H)
dalam kamus al-Misbah al-Munir menyebutkan, bahwa setan berasal dari syathana berarti
jauh, karena setan menjauh dari kebenaran atau menjauh dari rahmad Allah dalam kamus
besar Bahasa Indonesia disebutkan, setan adalah roh jahat yang selalu mempengaruhi
manusia melakukan perbuatan jahat. Sebagai disinggung dalam pembahasan iblis, setan
adalah makhlik ciptaan Allah dari golongan jin yang membangkang dan merupakan anak
keturunan iblis penggoda Adam da Hawwa di surga. Anggapan tersebut merujuk pada
firman Allah dalam surat Shad ayat 41, yang mengisahkan tentang penderitaan Nabi Ayyub
ketika ditimpa penyakit sangat payah, hal ini disebutkan dalam surat Shad, 38:41.



     2. Setan Dalam Al-Qur’an

      Kata setan dalam bentuk tunggal atau jamak (syaithaan / syayaathin) dalam al-
Qur’an disebutkan sebanyak 28 kali. Semua ayat yang membicarakan tentang setan
menunjukan sifat keburukan, yang diantaranya:

1.   Menakut-nakuti manusia dan memerintahkan perbuatan yang keji sebagaimana
     tercantum dalam surat al-Baqarah ayat 268.

2.   Menggelincirkan manusia melalui amal perbuatan mereka, hal itu dilukiskan dalam
     surat Ali Imran ayat 155

3.   Menciptakan permusuhan dan kedengkian sebagaimana tersurat dalam surat al-Maidah
     91.

4.   Menghasut dan berbuat maksiat sebagaimana tesurat dalam surat Maryam ayat 83.

5.   Mengingkari janji sebagaiman difirmankan dalam surat Ibrahim ayat 22.
       Di samping sifat-sifat tersebut diatas, al-Qur’an juga menjelaskan tentang kekuatan-
kekuatan yang dimiliki oleh setan, diantaranya:

a.   Ketersembunyian, sebagaimana disinggung diatas bahwa setan adalah termasuk jenis
     jin yang merupakan makhluk yang tersembunyi. Sebagaiana dikisahkan dalam surat al-
     A’raf (7) ayat 127.

b. Masuk dalam diri manusia dan selalu menyertai dalam segala langkahnya sebagaiman
   difirmankan dalam surat az-Zuhuf ayat 36.

c.   Mampu berubah dengan berbagai bentuk.

d. Gigih dan sabar untuk menyesatkan manusia.

       Dengan berbagai kemampuannya untuk menggoda manusia tersebut, maka manusia
dianjurkan untuk berhati-hati dengan melakukan amalan dalam bentuk bacaan yang
dianjurkan, diantaranya:

a.   Membaca ta’awudz sebagaimana ditegaskan dalam surat al-A’raf (7) ayat 200.

b. Membaca al-muawidzatain, yaitu membaca surat an-Nas dan al-Falaq

c.   Membaca surat al-Baqarah

d. Membaca ayat al-Kursi, yaitu surat al-Baqarah (2) ayat 255.



     E. Hikmah Di Ciptakannya Iblis Dan Setan
      Hikmah terbesar diciptakannya jin, iblis dan setan adalah menambah keyakinan
bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Sempurna dan memunculkan sikap hati-hati agar
manusia tidak mendapatkan murka seperti mereka.

								
To top