Docstoc
EXCLUSIVE OFFER FOR DOCSTOC USERS
Try the all-new QuickBooks Online for FREE.  No credit card required.

Kayu Putih

Document Sample
Kayu Putih Powered By Docstoc
					Kayu putih

          Kayu putih (Melaleuca cajuputi sub sp. cajuputi) merupakan pohon anggota suku jambu-
jambuan (Myrtaceae) yang dimanfaatkan sebagai sumber minyak kayu putih (cajuput oil).
Minyak diekstrak (biasanya disuling dengan uap) terutama dari daun dan rantingnya. Namanya
diambil dari warna batangnya yang memang putih. Tumbuhan ini terutama tumbuh baik di
Indonesia bagian timur dan Australia bagian utara, namun demikian dapat pula diusahakan di
daerah-daerah lain yang memiliki musim kemarau yang jelas.




          Gambar 1. Kayu putih


Kerajaan            : Plantae
Divisio             : Spermatophyta
Subdivisio          : Angiospermae
Sub kelas           : Archichlamideae
Kelas               : Dicotyledonae
Ordo                : Myrtales
Famili              : Myrtaceae
Genus               : Melaleuca
Spesies             : Melaleuca cajuputi

          Tanaman ini mempunyai banyak nama di daerah daerah yang ad di Indonesia seperti,
Gelam (Sunda, Jawa), ghelam (Madura), inggolom (Batak); Gelam, kayu gelang, kayu putih
(Melayu), bru galang,; Waru gelang (Sulawesi), nggielak, ngelak (Roti), ; lren, sakelan (Piru),
irano (Amahai), ai kelane (Hila),; irono (Haruku), ilano (Nusa Laut Saparuna), elan (Buru).; Bai
qian ceng (China). (Setiawan Dalimartha : 2008)

       Jenis ini telah berkembang luas di Indonesia, terutama di pulau Jawa dan Maluku dengan
memanfaatkan daunnya untuk disuling secara tradisional oleh masyarakat maupun secara
komersial menjadi minyak atsiri yang bernilai ekonomi tinggi. Jenis tanaman ini mempunyai
daur biologis yang panjang, cepat tumbuh, dapat tumbuh baik pada tanah yang berdrainase baik
maupun jelek dengan kadar garam tinggi maupun asam dan toleran ditempat terbuka serta tahan
terhadap kebakaran. Tanaman kayu putih termasuk jenis tumbuhan kormus karena tubuh
tanaman secara nyata memperlihatkan diferensiasi dalam tiga bagian pokok, yaitu akar (radix),
batang (caulis), dan daun (folium). Daun kayu putih terdiri atas dua bagian, yaitu tangkai daun
(petiolus) dan helaian daun (lamina).

       Kayu putih tumbuh di tanah yang tandus, tahan panas, dan bertunas kembali setelah
terjadi kebakaran. Lokasi tumbuhnya adalah di dekat pantai di belakang hutan bakau, di tanah
berawa, atau membentuk hutan kecil di tanah kering sampai basah. Tanaman ini asli asia
tenggara dan ditemukan di dataran rendah sampai 400 m di atas permukaan laut. Pohon,
mempunyai tinggi antara 10-20 m, kulit batang berlapis-lapis, berwarna putih keabu-abuan
dengan permukaan kulit yang terkelupas tidak beraturan. Batang pohon tidak terlalu besar
dengan percabangan yang menggantung ke bawah. Daun tunggal, agak tebal seperti kulit,
bertangkai pendek, dan letak berseling. Helaian daun berbentuk jorong atau lanset, ujung dan
pangkal runcing, tepinya rata, tulang daunnya hampir sejajar, permukaan daunnya berambut,
berwrna hijau kelabu sampai kecoklatan, panjang 4.5-1.5 cm, lebar 0.75-4 cm.

       Ada beberapa varietas pohon kayu putih. Ada yang kayunya berwarna merah dan putih.
Rumphius membedakan kayu putih dalam varietas daun besar dan kecil. Varietas berdaun kecil
digunakan untuk membuat minyak kayu putih. Jika diremas atau dimemarkan, daun berbau
minyak kayu putih. Melalui proses penyulingan, daun akan menghasilkan minyak atsiri yang
disebut minyak kayu putih yang berwarna kekuning-kuningan sampai kehijau-hijauan. Buahnya
sebagai obat tradisional yang disebut merica bolong. Perbanyakan tanaman ini biasanya
menggunakan biji atau tunas akar. (Setiawan Dalimartha : 2008)
Rasa kulit kayu tanaman ini tawar dan bersifat netral. Mempunyai khasiat sebagai penenang
(sedatif). Rasa daunnya pedas, kelat, dan bersifat hangat. Berkhasiat sebagai antisepik,
meredakan rasa nyeri (analgesik), meluruhkan keringat (diaforetik), antirematik, meluruhkan
kentut (karminatif), dan meredakan kolik (spasmolitik). Rasa buahnya pedas dan berbau
aromatik. Berkhasiat meningkatkan nafsu makan, karminatif, dan obat sakit perut. Tanaman
kayu putih ini mempunyai kandungan kimia di beberapa bagian tanamannya dan dapat
dimanfaatkan untuk pengobatan. Kulit kayu mengandung lignin dan resinol bernama melaleucin.
Daunnya mengandung minyak atsiri yang terdiri atas metileugenol, 1.8- cineol, terpinol, α-
pinene, benzaldehid, butilaldehid, pentanal, asam propionat, dan betulin. Cineol merupakan
antiseptik yang kuat. (Setiawan Dalimartha: 2008) Dalam daun kayu putih kandungan ceniol
cukup besra yaitu 50%-65% (http://www.iptek.net.id). Penelitian awal menunjukkan bahwa buah
mempunyai efek antivirus.

         Bagian-bagian tanaman yang dapat digunakan antara lain, bagian daun, kulit kayu,
minyak esensial, ranting, dan buah. Bagian daun dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk
mengobati berbagai macam penyakit seperti, rematik, neuralgia, radang usus, diare, perut
kembung, radang kulit, dan sebagainya. Bagian kulit kayu (bai qian ceng) digunakan sebagai
pengobatan neurasthenia dan susah tidur. (Setiawan Dalimartha : 2008)

Minyak Kayu Putih

         Minyak kayu putih merupakan salah satu produk kehutanan yang telah dikenal luas oleh
masyarakat. Minyak kayu putih (eucalypt oil atau kadang disebut oleum cajuputi, cajeput
essential oil atau cajuput or cajeput oil) sudah menjadi kebutuhan yang penting dalam banyak
rumah tangga di Indonesia. Minyak ini digunakan sejak jaman dulu sebagai antiseptik, obat sakit
perut, obat flu atau digunakan untuk pijatan (urut) ringan dan sebagainya. Di bidang industri,
minyak      kayu putih adalah salah satu bahan baku industri obat-obatan maupun di industri
kosmetik.

         Minyak kayu putih tergolong sebagai minyak atsiri yaitu minyak yang mudah menguap,
dan dihasilkan dari tanaman melalui penyulingan daun. Tanaman penghasil minyak kayu putih
yaitu Melaleuca leucadendron dan Eucalyptus spp. Namun yang paling populer di Indonesia
umumnya minyak kayu putih yang berasal dari Melaleuca leucadendron atau Melaleuca
cajuputi. Melaleuca ini dikenal dengan nama yang berbeda-beda di Indonesia dan di
mancanegara. Pohon ini juga mampu tumbuh di daerah dengan curah hujan rendah maupun
curah hujan tinggi. Namun pohon yang menghasilkan rendemen minyak kayu putih yang tinggi
umumnya berasal dari daerah kering seperti Gunung Kidul (Yogyakarta), Pulau Buru di Maluku,
Pulau Timor, NTT, dan Rote serta daerah kering lainnya di Maluku dan Papua.

       Budidaya Kayu Putih di Indonesia berasal dari hutan alam dan hutan buatan. Hutan alam
kayu putih terdapat di daerah Sumatera Selatan, Sulawesi tenggara, Maluku (P.Buru, P. Seram,
Nusa Laut, Ambon), Bali, NTT, dan rian Jaya. Sedangkan hutan buatan dapat ditemukan di
wilayah Jawa Timur (Ponorogo, Kediri, Madiun), Jawa tengah (Gala, Gundih, Grobogan,
Purwodadi), DIY (Gunung Kidul, Bantul), dan Jawa Barat (Banten, Bogor, Sukabumi,
Indramayu, Majalengka). (Eko Nopianto : 2010)

       Bagian dari tanaman kayu putih yang dimanfaatkan untuk menghasilkan minyak kayu
putih adalah daunnya. Daun kayu putih ini mengandung minyak atsiri yang terdiri dari sineol
50%-65%, alfa-terpineol, valeraldehida, dan benzaldehida. Daun ini kemudian akan melalui
proses destilasi atau penyulingan hingga nantinya akan menjadi minyak kayu putih yang
berwarna kekuning-kuningan sampai kehijau-hijauan. (http://drosalina.blogspot.com/)

       Dahulu Indonesia telah mengekspor minyak kayu putih. Minyak kayu putih dari Pulau
Buru di Sulawesi termasuk mutu terbaik. Namun kebutuhan domestik jauh lebih besar dari
produksinya, kira-kira sebesar 1.500 ton/tahun dengan produksi < 500 ton/tahun sehingga pada
saat ini kebutuhan minyak kayu putih dalam negeri diimpor dari China dan Vietnam. Total nilai
impor minyak kayu putih dari luar negeri bisa mencapai enam juta US Dollar (US$ 6 million)
atau setara dengan hampir Rp.60 milyar setiap tahun.
                     Tabel 6.9 Data perdagangan domestik oleh Perhutani (1995-1999)


             Area Pohon      Produksi       Produk       Rendemen      Volume           Value
 Tahun
              KP (ha)       daun (MT)      MKP (kg)         (%)         (kg)          (Rp.1000)
  1995           16.093        29.651          233.412        0,79       243.167        3.452.730
  1996           11.460        30.806          265.600        0,86       265.583        4.497.725
  1997           10.461        33.262          293.885        0,88       248.589        2.980.533
  1998           14.677        27.055          200.131        0,74       204.340        4.446.037
  1999           17.505        42.560          312.700        0,73       231.134        7.858.362
  Total          70.195       163.334        1.305.698         4,0     1.192.903       23.353.387
Rata-rata     14.039,02      32.668,8        261.139,6        0.80     238.580,6      4.647.077,4
 Sumber : Perum Perhutani (2000)

        Bahan baku dapat mempengaruhi mutu minyak yang dihasilkan. Bahan baku yang
 bermutu tinggi dapat menghasilkan minyak dengan mutu yang tinggi. Tanaman kayu putih tidak
 memerlukan syarat tumbuh spesifik (5-450 dpl). Bagian daun kayu putih merupakan bagian
 yang paling baik untuk menghasilkan minyak. Pemanenan dilakukan setelah tanaman berumur
 5 tahun, dan setiap kali panen dapat dihasilkan 50-100 kg daun & ranting. Pemanenan sebaiknya
 dilakukan pada pagi atau sore hari, karena pada waktu tersebut kandungan minyak cukup tinggi.

        Pada tahap pasca panen, dilakukan pengecilan ukuran, pelayuan, dan pengeringan.
 Pengecilan ukuran dilakukan agar kelenjar minyak pada tanaman dapat terbuka sebanyak
 mungkin sehingga volume penyulingan lebih besar. Pelayuan & pengeringan bertujuan untuk
 mengeluarkan kadar uap air dalam bahan selama 3-5 hari (tergantung cuaca).

        Proses penyulingan atau hidrodestilasi dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh
 minyak dengan mutu baik. Hidrodestilasi adalah difusi minyak atsiri dan air panas melalui
 membran bahan yang disuling. Kemasan yang dipakai untuk wadah yaitu botol kaca, drum timah
 putih, drum lapis timah putih, atau kemasan besi galvanis.

        Proses penyimpanan dapat menyebabkan menurunkan rendemen, menurunkan kualitas
 minyak, terjadi hidrolisis atau resinifikasi tergantung kondisi penyimpanan. Minyak kayu putih
 memiliki beberapa komponen, yang dominan adalah sineol. Mutu minyak kayu putih ditentukan
 oleh kadar sineol. Kadar sineol tinggi maka mutu minyak tinggi. Mutu minyak kayu putih
dipengaruhi oleh cara penyimpanan daun, cara penyajian daun, cara pengisian daun ke ketel,
kondisi penyulingan, dan jenis atau varietas pohon. (Eko Nopianto : 2010)

       Karena penggunaan minyak kayu putih cukup luas, mutu minyak kayu putih yang dijual
di pasaran perlu mendapat perhatian. Untuk memenuhi tuntutan mutu tersebut, lahirlah standar
nasional kayu putih yang diusulkan oleh PT. Perhutani (persero) melalui Pantek 55S Kayu,
bukan kayu dan produk kehutanan, yaitu SNI 06-3954-2001. Standar tersebut menetapkan istilah
dan definisi, syarat mutu, cara uji, pengemasan dan penandaan minyak kayu putih yang
digunakan sebagai pedoman pengujian minyak kayu putih yang diproduksi di Indonesia.
(http://www.dephut.go.id/)

       Mutu minyak kayu putih diklasifikasikan menjadi dua, yaitu mutu Utama (U) dan mutu
Pertama (P). Keduanya dibedakan oleh kadar cineol. Minyak kayu putih mutu U mempunyai
kadar cineol ≥ 55%, sedang mutu P kadar cineolnya kurang dari 55%. (http://www.dephut.go.id/)

       Secara umum, kayu putih dikatakan bermutu apabila mempunyai bau khas minyak kayu
putih, memiliki berat jenis yang diukur pada suhu 15oC sebesar 0,90 – 0,93, memiliki indeks bias
pada suhu 20oC berkisar antara 1,46 – 1,47 dan putaran optiknya pada suhu 27,5oC sebesar (-4)o
– 0o. Indeks bias adalah bilangan yang menunjukkan perbandingan antara sinus sudut datang
dengan sinus sudut bias cahaya, sedangkan yang dimaksud putaran optik adalah besarnya
pemutaran bidang polarisasi suatu zat. (http://www.dephut.go.id/)

       Disamping itu, minyak kayu putih yang bermutu akan tetap jernih bila dilakukan uji
kelarutan dalam alkohol 80%, yaitu dalam perbandingan 1 : 1, 1 : 2, dan seterusnya s.d. 1 : 10.
Dalam minyak kayu putih tidak diperkenankan adanya minyak lemak dan minyak pelican.
Minyak lemak merupakan minyak yang berasal dari hewan maupun tumbuhan, seperti lemak
sapi dan minyak kelapa, yang mungkin ditambahkan sebagai bahan pencampur dalam minyak
kayu putih. Demikian juga minyak pelican yang merupakan golongan minyak bumi seperti
minyak tanah (kerosene) dan bensin biasa digunakan sebagai bahan pencampur minyak kayu
putih, sehingga merusak mutu kayu putih tersebut. (http://www.dephut.go.id/)

       Bagian terpenting dalam standar tersebut, selain penetapan mutu di atas, adalah cara uji
untuk mengetahui mutu minyak kayu putih, baik yang tercantum di dalam dokumen maupun
kemasan. Pengujian dilakukan dengan dua cara, yaitu cara uji visual dan cara uji laboratorium.
       Cara uji visual dilakukan untuk uji bau, sedangkan uji laboratories dilaksanakan untuk
menguji kadar cineol, berat jenis, indeks bias, putaran optik, uji kelarutan dalam alkohol 80%,
kandungan minyak lemak dan kandungan minyak pelican.

                           Tabel 6.10 Standar mutu minyak kayu putih


               Variabel                 Kualitas Utama             Kualitas Pertama
     Bau                            Khas minyak kayu putih Khas minyak kayu putih
     Kadar Cineol                   ≥ 55%                      < 55%
     Minyak pelikan                 Tidak diperkenankan        Tidak diperkenankan
     Minyak lemak                   Tidak diperkenankan        Tidak diperkenankan
     Kelarutan dalam alcohol 80% 1:1 – 1:10 larut              1:1 – 1:10 larut
     BJ pada 15° C                  0,90-0,93                  0,90-0,93
     Indeks bias pada 20° C         1,46-1,47                  1,46-1,47
     Putaran optik 27° C            (-4)° - 0°                 (-4)° - 0°
Daftar Pustaka

Dalimartha, Setiawan. 2008. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 5. Jakarta : Pustaka Bunda

Nopianto, Eko. 2010. Komoditas Atsiri. Bogor http://www.scribd.com/doc/34047484/5-atsiri
published : 07 / 08 / 2010

Rosa. 2007. Kisah Kayu Putih. http://drosalina.blogspot.com/2007/08/kisah-kayu-putih.html

Budidaya Kayu Putih http://www.dephut.go.id/INFORMASI/BUKU2/Seri_SF/Ky_putih.htm


Dephut. Minyak Kayu Putih.
http://www.dephut.go.id/Halaman/STANDARDISASI_&_LINGKUNGAN_KEHUTANAN/inf
o_5_1_0604/isi_6.htm


http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=79

http://id.wikipedia.org/wiki/Kayu_putih

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3087
posted:1/21/2011
language:Malay
pages:8