Docstoc

Kehamilan

Document Sample
Kehamilan Powered By Docstoc
					Kehamilan
Kehamilan adalah masa di mana seorang wanita membawa embrio atau fetus di dalam tubuhnya. Dalam kehamilan dapat terjadi banyak gestasi (misalnya, dalam kasus kembar, atau triplet).

Latar Belakang
Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah medis untuk wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (minggu-minggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran). Seorang wanita yang hamil untuk pertama kalinya disebut primigravida atau gravida 1: seorang wanita yang belum pernah hamil dikenal sebagai gravida 0. Dalam banyak masyarakat definisi medis dan legal kehamilan manusia dibagi menjadi tiga periode triwulan, sebagai cara memudahkan tahap berbeda dari perkembangan janin. Triwulan pertama membawa resiko tertinggi keguguran (kematian alami embrio atau janin), sedangkan pada masa triwulan ke-2 perkembangan janin dapat dimonitor dan didiagnosa. Triwulan ke-3 menandakan awal 'viabilitas', yang berarti janin dapat tetap hidup bila terjadi kelahiran awal alami atau kelahiran dipaksakan. Karena kemungkinan viabilitas janin yang telah berkembang, definisi budaya dan legal dari hidup seringkali menganggap janin dalam triwulan ke-3 adalah sebuah pribadi hid==Latar Belakang== Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah medis untuk wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (minggu-minggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran). Seorang wanita yang hamil untuk pertama kalinya disebut primigravida atau gravida 1: seorang wanita yang belum pernah hamil dikenal sebagai gravida 0. Dalam banyak masyarakat definisi medis dan legal kehamilan manusia dibagi menjadi tiga periode triwulan, sebagai cara memudahkan tahap berbeda dari perkembangan janin. Triwulan pertama membawa resiko tertinggi keguguran (kematian alami embrio atau janin), sedangkan pada masa triwulan ke-2 perkembangan janin dapat dimonitor dan didiagnosa. Triwulan ke-3 menandakan awal 'viabilitas', yang berarti janin dapat tetap hidup bila terjadi kelahiran awal alami atau kelahiran dipaksakan. Karena kemungkinan viabilitas janin yang telah berkembang, definisi budaya dan legal dari hidup seringkali menganggap janin dalam triwulan ke-3 adalah sebuah [[pribadiup yang baru.

Masa Kehamilan
Triwulan I
Minggu Ke-1


Calon Ibu

Idealnya calon ibu berada dalam kondisi sehat optimal. Kebiasaan seperti merokok, minum beralkohol dan obat-obatan yang tidak perlu sudah seharusnya dihentikan pada masa ini. Suhu tubuh basal akan sedikit meningkat pada masa ovulasi dan berkisar antara 36,6 C dan berangsur angsur akan meningkat. Konsultasi genetik bisa dilakukan dengan dokter kandungan untuk mengetahui apakah adanya riwayat penyakit menurun dalam keluarga seperti hemofili, fibrosis kistik atau berbeda tipe golongan darah Rhesus. Minggu Ke-2


Calon Ibu

Masa fertilisasi atau pembuahan dimana berjuta-juta sperma pasangan akan masuk ke vagina dan mencapai tuba falopi. Beberapa ratus sperma akan menuju sel telur sambil mengeluarkan enzim yang membuat salah satu sperma berhasil menembus lapisan pelindung sel telur yang matang. Pada saat ini terjadi perubahan kimiawi yang mencegah sperma lain memasuki sel telur. Tubuh sperma yang berhasil masuk sel telur akan terurai dan inti sel yang membawa kode genetik akan menyatu dengan kode genetik sel telur yang telah dibuahi.


Janin Bayi

Jenis kelamin bayi pada masa ini ditentukan oleh 46 kromosom yang menyusun karakteristik genetik-nya. Sel sperma dan sel telur membawa kode genetiknya masing-masing. Sel telur hanya memiliki kromosom X, namun sel sperma membawa kromosom X atau Y. Bila sperma yang membuahi sel telur membawa kromosom X maka akan membentuk seorang bayi perempuan. Lain halnya bila yang membuahi sel telur adalah sel sperma yang membawa kromosom Y, maka bayi laki-laki-lah yang akan terbentuk. Pada hal ini, calon ayah-lah yang sebenarnya menentukan jenis kelamin bayi. Sel telur yang telah dibuahi akan mebelah dua menjadi 2 sel, kemudian 4 sel dan kemudian terus membelah sambil bergerak meninggalkan tuba falopi menuju rahim. Saat ini, dengan perkiraan kasar terdapat 30 sel hasil pembelahan. Kumpulan sel tersebut dinamakan morula, dari bahasa Latin yang berarti anggur. Minggu Ke-3


Calon Ibu

Kira-kira 7 hari setelah fertilisasi, morula akan tertanam di lapisan dalam rahim (endometrium). Secara formal hal ini dapat dikatakan sebagai suatu kehamilan. Kelompok sel tersebut akan semakin matang dan menjadi blastokista, substansi yang akan men-stimulasi terjadinya perubahan dalam tubuh calon ibu termasuk terhentinya siklus menstruasi.


Janin Bayi

Selama minggu-minggu awal kehamilan, bayi akan berkembang pesat. Setiap hari pasti akan terjadi perubahan besar. Hanya dalam waktu 7 hari, sebuah sel akan menjadi suatu kelompok berisi ratusan sel. Walau secara kasat mata bahkan dengan bantuan mikroskop tetap sulit dilihat, sel-sel ini telah mengatur dirinya sendiri dengan benar. Sebagian membentuk embrio, sedangkan yang lain menjadi struktur penyokong yang memberi nutrisi kepada embrio. Bagaimana hal ini terjadi masih menjadi misteri bagi para ahli.

Referensi


^ Mittendorf R, Williams MA, Berkey CS, Cotter PF. The length of uncomplicated human gestation. Obstet Gynecol 1990;75:929-32. PMID 2342739.

Plasenta adalah suatu organ dalam rahim pada masa kehamilan yang memberikan nutrisi dan melindungi janin sewaktu dalam kandungan.

Plasenta dalam botani merupakan analogi plasenta. Ia merupakan bagian dari buah dan melindungi saluran pembawa hara yang diperlukan biji untuk perkembangannya. Plasenta biasanya memanjang dari pangkal buah (terhubung pada tangkai buah) dan biji-biji terhubung padanya).

Penampang lintang buah kakao. Plasenta berada di tengah, diapit oleh karangan biji.

Gambar diagramatik posisi janin. Plasenta ditunjukkan di bagian bawah. Blastokista merupakan sel bulat berongga, berisi cairan yang dapat diamati secara kasat mata. Biasanya terletak di bagian atas rahim pada sisi yang sama dengan tempat ovarium melepaskan sel telur. Hal ini terjadi antara hari ke-4 sampai ke-7 fertilisasi, namun blastokista baru benarbenar tertanam dalam rahim pada hari ke-10. Sedangkan kumpulan sel di lapisan terluar blastokista disebut dengan sel-sel villi. Setelah sel-sel villi ini terbentuk sempurna menjadi plasenta maka lapisan rahim akan tumbuh di sekitar blastokista dan menutupinya.

Sel punca
Sel punca atau sel induk (bahasa Inggris: stem cell) merupakan sel yang belum berdiferensiasi dan mempunyai potensi untuk dapat berdiferensiasi menjadi jenis sel lain. Kemampuan tersebut memungkinkan sel induk menjadi sistem perbaikan tubuh dengan menyediakan sel-sel baru selama organisme bersangkutan hidup. Peneliti medis meyakini bahwa penelitian sel induk berpotensi untuk mengubah keadaan penyakit manusia dengan cara digunakan memperbaiki jaringan atau organ tubuh tertentu. Namun demikian, hal ini tampaknya belum dapat benar-benar diwujudkan dewasa ini. Penelitian sel induk dapat dikatakan dimulai pada tahun 1960-an setelah dilakukannya penelitian oleh ilmuwan Kanada, Ernest A. McCulloch dan James E. Till.

Ragam sel induk
Sel-sel induk dapat digolongkan berdasarkan potensi yang dimiliki oleh sel tersebut maupun berdasarkan asalnya.

Berdasarkan potensi


  

Sel induk ber-totipotensi (toti=total) adalah sel induk yang memiliki potensi untuk berdiferensiasi menjadi semua jenis sel. Sel induk bertotipotensi diperoleh dari sel induk embrio, hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma. Sel induk ber-pluripotensi (pluri=jamak) Sel induk ber-multipotensi Sel induk ber-unipotensi (uni=tunggal) adalah sel induk yang hanya dapat menghasilkan satu jenis sel tertentu, tetapi memiliki kemampuan memperbarui diri yang tidak dimiliki oleh sel yang bukan sel induk.

Berdasarkan asalnya
Sel induk embrio (embryonal stem cells) Sel induk ini diambil dari embrio pada fase blastosit (5-7 hari setelah pembuahan). Massa sel bagian dalam mengelompok dan mengandung sel-sel induk embrionik. Sel-sel diisolasi dari massa sel bagian dalam dan dikultur secara in vitro. Sel induk embrional dapat diarahkan menjadi semua jenis sel yang dijumpai pada organisme dewasa, seperti sel-sel darah, sel-sel otot, sel-sel hati, sel-sel ginjal, dan sel-sel lainnya. Sel induk dewasa (adult stem cells) Sel induk dewasa mempunyai dua karakteristik. Karakteristik pertama adalah sel-sel tersebut dapat berproliferasi untuk periode yang panjang untuk memperbarui diri. Karakteristik kedua,

sel-sel tersebut dapat berdiferensiasi untuk menghasilkan sel-sel khusus yang mempunyai karakteristik morfologi dan fungsi yang spesial. Salah satu macam sel induk dewasa adalah sel induk hematopoietik (hematopoietic stem cells), yaitu sel induk pembentuk darah yang mampu membentuk sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah yang sehat. Sumber sel induk hematopoietik adalah sumsum tulang, darah tepi, dan darah tali pusar.

Transplantasi sel induk
Transplantasi sel induk dapat berupa:
  

Transplantasi autologus (menggunakan sel induk pasien sendiri, yang dikumpulkan sebelum pemberian kemoterapi dosis tinggi) Transplantasi alogenik (menggunakan sel induk dari donor yang cocok, baik dengan hubungan keluarga atau tanpa hubungan keluarga), atau transplantasi singenik(menggunakan sel induk dari saudara kembar identik.

Jenis-jenis transplantasi sel induk
Menurut sumbernya transplantasi sel induk dapat dibagi menjadi: Transplantasi sel induk dari sumsum tulang (bone marrow transplantation) Sumsum tulang adalah jaringan spons yang terdapat dalam tulang-tulang besar seperti tulang pinggang, tulang dada, tulang punggung, dan tulang rusuk. Sumsum tulang merupakan sumber yang kaya akan sel induk hematopoietik. Sejak dilakukan pertama kali kira-kira 30 tahun yang lalu, transplantasi sumsum tulang digunakan sebagai bagian dari pengobatan leukemia, limfoma jenis tertentu, dan anemia aplastik. Karena teknik dan angka keberhasilannya semakin meningkat, maka pemakaian transplantasi sumsum tulang sekarang ini semakin meluas. Pada transplantasi ini prosedur yang dilakukan cukup sederhana, yaitu biasanya dalam keadaan teranestesi total. Sumsum tulang (sekitar 600 cc) diambil dari tulang panggul donor dengan bantuan sebuah jarum suntik khusus, kemudian sumsum tulang itu disuntikkan ke dalam vena resipien. Sumsum tulang donor berpindah dan menyatu di dalam tulang resipien dan sel-selnya mulai berproliferasi. Pada akhirnya, jika semua berjalan lancar, seluruh sumsum tulang resipien akan tergantikan dengan sumsum tulang yang baru. Namun, prosedur transplantasi sumsum tulang memiliki kelemahan karena sel darah putih resipien telah dihancurkan oleh terapi radiasi dan kemoterapi. Sumsum tulang yang baru memerlukan waktu sekitar 2-3 minggu untuk menghasilkan sejumlah sel darah putih yang diperlukan guna melindungi resipien terhadap infeksi. Transplantasi sumsum tulang memerlukan kecocokan HLA 6/6 atau paling tidak 5/6.

Risiko lainnya adalah timbulnya penyakit GvHD, di mana sumsum tulang yang baru menghasilkan sel-sel aktif yang secara imunologi menyerang sel-sel resipien. Selain itu, risiko kontaminasi virus lebih tinggi dan prosedur pencarian donor yang memakan waktu lama. Transplantasi sel induk darah tepi (peripheral blood stem cell transplantation) Seperti halnya sumsum tulang, peredaran darah tepi merupakan sumber sel induk walaupun jumlah sel induk yang dikandung tidak sebanyak pada sumsum tulang. Untuk mendapatkan jumlah sel induk yang jumlahnya mencukupi untuk suatu transplantasi, biasanya pada donor diberikan granulocyte-colony stimulating factor (G-CSF) untuk menstimulasi sel induk hematopoietik bergerak dari sumsum tulang ke peredaran darah. Transplantasi ini dilakukan dengan proses yang disebut aferesis. Jika resipien membutuhkan sel induk hematopoietik, pada proses ini darah lengkap diambil dari donor dan sebuah mesin akan memisahkan darah menjadi komponen-komponennya, secara selektif memisahkan sel induk dan mengembalikan sisa darah ke donor. Transplantasi sel induk darah tepi pertama kali berhasil dilakukan pada tahun 1986. Keuntungan transplantasi sel induk darah tepi adalah lebih mudah didapat. Selain itu, pengambilan sel induk darah tepi tidak menyakitkan dan hanya perlu sekitar 100 cc. Keuntungan lain, sel induk darah tepi lebih mudah tumbuh. Namun, sel induk darah tepi lebih rentan, tidak setahan sumsum tulang. Sumsum tulang juga lebih lengkap, selain mengandung sel induk juga ada jaringan penunjang untuk pertumbuhan sel. Karena itu, transplantasi sel induk darah tepi tetap perlu dicampur dengan sumsum tulang. [sunting] Transplantasi sel induk darah tali pusat Pada tahun 1970-an, para peneliti menemukan bahwa darah tali pusat manusia mengandung sel induk yang sama dengan sel induk yang ditemukan dalam sumsum tulang. Karena sel induk dari sumsum tulang telah berhasil mengobati pasien-pasien dengan penyakit-penyakit kelainan darah yang mengancam jiwa seperti leukemia dan gangguan-gangguan sistem kekebalan tubuh, maka para peneliti percaya bahwa mereka juga dapat menggunakan sel induk dari darah tali pusat untuk menyelamatkan jiwa pasien mereka. Darah tali pusat mengandung sejumlah sel induk yang bermakna dan memiliki keunggulan di atas transplantasi sel induk dari sumsum tulang atau dari darah tepi bagi pasien-pasien tertentu. Transplantasi sel induk dari darah tali pusat telah mengubah bahan sisa dari proses kelahiran menjadi sebuah sumber yang dapat menyelamatkan jiwa. Transplantasi sel induk darah tali pusat pertama kali dilakukan di Perancis pada penderita anemia Fanconi tahun 1988. Pada tahun 1991, darah tali pusat ditransplantasikan pada penderita Chronic Myelogenous Leukemia. Kedua transplantasi ini berhasil dengan baik. Sampai saat ini telah dilakukan kira-kira 3.000 transplantasi darah tali pusat.

Referensi

 

(en) www.stemcells.nih.gov (id) Arifin, P. Potensi Transplantasi Sel Induk, Kompas, 27 September 2004

Studi Histologi Sel Endokrin Ekstra Insular Pankreas Kambing dan Domba Lokal Emilliana Yani Rahayu, I Ketut Mudite Adnyane*, Savitri Novelina, Srihadi Agungpriyono Departemen Anatomi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor Jl. Agatis Wing 8, Lt.2 Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680. Koresponden* ABSTRAK Morfologi, distribusi dan frekuensi sel endokrin yang terdapat pada bagian eksokrin pankreas kambing dan domba lokal diteliti secara histologis dengan memanfatkan teknik pewarnaan khusus impregnasi perak Grimelius. Sel-sel endokrin tersebar di seluruh bagian eksokrin pankreas yang diamati yaitu bagian kanan atau kepala (head), bagian tengah atau badan (body) dan bagian kiri atau ekor (tail) dengan frekuensi terbanyak ditemukan pada bagian kiri. Sel ini mempunyai bentuk yang polimorfik, bulat, oval atau segitiga dengan inti sel bulat serta mempunyai butir sitoplasma yang terletak infra nuklear yang mengambil warna secara khas pada pewarnaan impregnasi perak Grimelius. Sel endokrin berdistribusi di asinar pankreas, di sekitar pulau Langerhans, di antara epitel duktus dan di sekitar duktus. Frekuensi terbanyak diamati pada daerah asinar pankreas. Hasil penelitian ini memperkuat pernyataan bahwa sel-sel endokrin yang terdapat dibagian eksokrin pankreas berperan dalam pengaturan fungsi bagian endokrin pankreas dan fungsi pengeluaran sekreta hormon melalui pembuluh darah dan beberapa enzim serta ion melalui duktus. Kata kunci: pankreas, pulau Langerhans, endokrin, Grimelius ABSTRACT The morphology, distribution and relative frequency of extra-insular endocrine cells in the pancreas of local goats and sheep were studied using specific Grimelius silver impregnation staining method. Endocrine cells were scattered in all part of exocrine pancreas, the head, body and tail of the pancreas, with the highest frequency was found in the tail. These cells were polymorph, rounded, oval or triangular in shapes, with round nucleus and the cytoplasm granules lied in the infra nuclear region. The endocrine cells were distributed in the acinar part of pancreas, surrounding the Langerhans islets and surrounding, between the epithelial ductal cells. The highest frequency was found in the acinar area. The result of the research indicated that extra-insular endocrine cells took measures in regulation function of endocrine part and secretion of hormone via vessels and enzymes via ducts. Key words: pancreas, Langerhans islet, endocrine, Grimelius PENDAHULUAN Pankreas merupakan organ pembantu dalam sistem pencernaan yang berfungsi ganda sebagai kelenjar eksokrin dan endokrin dan kedua bagian saling mempengaruhi (Lucini et al., 1998). Bagian eksokrin dari pankreas terdiri dari beberapa sel yang berbentuk piramid dengan bagian apikal mengarah ke lumen duktus yang kecil. Sel-sel bagian eksokrin pankreas ini bertipe

zimogenik, mempunyai inti yang terletak di basal dan dikelilingi oleh sitoplasma eosinofilik dengan butiran-butiran yang berisi enzim dalam bentuk inaktif (Guyton, 1976; Greenspan dan Forsham, 1983; Sundler dan Hakanson, 1988; Craigmyle, 1994; Ross et al., 1995). Bagian endokrin dari pankreas terdiri dari sel-sel endokrin yang membentuk kumpulan tersendiri disebut Pulau Langerhans. Pulau Langerhans mempunyai bentuk dan ukuran bervariasi, terletak di antara sell bagian eksokrin pankreas (Wheater et al., 1979). Pulau Langerhans mensekresikan berbagai hormon pankreas yaitu insulin, glukagon, somatostatin dan polipeptida pankreas (Guyton, 1976; Wheater et al.,1979; Greenspan dan Forsham, 1983; Sundler dan Hakanson, 1988; Craigmyle, 1994; Ross et al., 1995). Pada pankreas kambing dan domba, Pulau Langerhans lebih banyak berdistribusi pada bagian kanan (head) pankreas dibandingkan dengan pada bagian tengah (body) dan kiri (tail). Disamping itu, pankreas kambing mempunyai jumlah total pulau Langerhans lebih banyak dibandingkan dengan pankreas domba (Adnyane, 2001). Selain terdapat di dalam Pulau Langerhans, sel-sel endokrin dapat juga ditemukan di luar Pulau Langerhans dan disebut sel-sel ekstra-insular. Jumlah dan distribusi sel-sel ini bervariasi antara spesies satu dengan lainnya (Sundler et al., 1983). Sel-sel endokrin jenis ini tersebar di antara sel-sel parenkim eksokrin dan sel-sel epitel duktus. Sel-sel endokrin ini diduga berperan dalam pengaturan fungsi bagian endokrin pankreas dan fungsi pengeluaran sekreta hormon melalui pembuluh darah dan enzin-enzim serta ion melalui duktus. Penelitian ini memanfaatkan teknik pewarnaan histokimia khusus impregnasi perak Grimelius (Gremelius, 1968), untuk mengetahui morfologi dan distribusi dari sel-sel endokrin pada bagian eksokrin pankreas kambing dan domba lokal yang belum pernah dilaporkan sampai saat ini. MATERI DAN METODE Penelitian ini menggunakan masing-masing 10 ekor kambing dan domba dewasa jantan betina, berusia antara 1.5 - 2 tahun dengan berat badan bervariasi antara 20 - 35 kg. Hewan diperoleh dari pasar hewan di sekitar Kotamadya Bogor. Hewan dibunuh dengan cara eksanguinasi melalui A. Carotis communis setelah pemberian bius Chloral hydrat (10 mg/kg bb) secara intra vena. Sampel Jaringan diambil dari tiga bagian pankreas yaitu bagian kanan (head), tengah (body), kiri (tail). Segera setelah hewan mati jaringan dicuci dengan larutan PBS dan kemudian difiksasi dalam larutan Bouin selama 24 jam. Sampel jaringan kemudian dipindahkan dan disimpan di dalam alkohol 70% sampai proses selanjutnya. Sampel jaringan dipotong kecil dan didehidrasi di dalam seri larutan alkohol dengan konsentrasi bertingkat, dijernihkan dalam silol dan diembedding dalam parafin. Blok parafin dipotong serial pada ketebalan 5 µm dengan menggunakan mikrotom dan sayatan dilekatkan di atas gelas obyek (Humason, 1966). Pada sediaan dilakukan proses deparafinisasi dan rehidrasi. Sediaan kemudian diwarnai dengan teknik pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE) untuk pengamatan terhadap struktur umum jaringan dan dengan teknik impregnasi perak Grimelius (Grimelius, 1968) untuk pengamatan terhadap sel-sel endokrin. Pengamatan dilakukan dengan mikroskop cahaya yang dilengkapi dengan alat foto. Perhitungan jumlah sel dilakukan terhadap sel yang bereaksi positif dan mempunyai inti sel yang jelas pada pembesaran rendah. Tiap bagian sampel masing-masing diwakili oleh 5 sediaan serial, perhitungan dilakukan pada lima lapang pandang yang diambil secara acak.

HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini berhasil menggambarkan morfologi, distribusi dan frekuensi sel-sel endokrin yang terletak di luar pulau Langerhans pada pankreas kambing dan domba. Teknik pewarnaan impregnasi perak yang digunakan adalah teknik Grimelius (Grimelius, 1968), yang dapat mendeteksi sel-sel alfa (glukagon) pada Pulau Langerhans pancreas dan sel-sel endokrin lain pada saluran pencernaan. Dengan teknik ini, terlihat bahwa butir-butir sitoplasma pada sel-sel yang bereaksi positif mengambil warna coklat tua sampai dengan hitam. Jaringan sekitarnya mengambil warna kuning muda. Oleh karena itu, sel-sel ini menjadi mudah dikenali dan dibedakan dengan sel-sel bagian eksokrin maupun sel-sel Pulau Langerhans pankreas. Bentuk-bentuk sel yang dijumpai adalah segitiga, polimorfik, bulat dan oval (Gambar 1). Bentuk ini sama dengan bentuk sel endokrin usus yang dilaporkan pada mamalia pada umumnya (Polak, 1989) dan ruminansia seperti kancil (Agungpriyono et al., 1994; 1997), domba (Calingasan et al., 1984), maupun sapi (Kitamura et al., 1985). Diantara bentuk-bentuk ini bentuk yang paling sering dijumpai adalah bentuk segitiga. Butir-butir sitoplasmanya mengambil warna coklat tua pada pewarnaan impregnasi perak terletak di infranuklear. Letak subseluler dari butir-butir sitoplasma ini merupakan salah satu ciri khas yang dimiliki oleh sel-sel endokrin (Grimelius, 1968; Polak 1989).

Gambar 1. Fotomikrograf pankreas, memperlihatkan berbagai bentuk sel-sel endokrin ekstrainsular. Sel-sel endokrin ekstra insular berbentuk bulat, oval, segitiga atau polimorfik. (Pewarnaan impregnasi perak Grimelius; Bar = 5 µm) Sel-sel endokrin di luar Pulau Langerhans disebut sel-sel endokrin ekstra-insular. Grimelius (1968) mengemukakan adanya sel yang positif dengan pewarnaan impregnasi perak Grimelius pada pankreas manusia di dalam dan di sekitar perifer asinus dan basal epitelium duktus ekskretori. Sitoplasma sel-sel tersebut mengandung butir-butir perak yang sama dengan yang dimiliki oleh sel-sel yang positif dengan pewarnaan impregnasi perak Grimelius di dalam Pulau Langerhans (sel Glukagon). Pada masa sekarang, para peneliti umumnya telah menggunakan teknik imunohistokimia untuk sel-sel ini, seperti pada kelelawar (Desmodos rotundus) (Yamada et al., 1984), kambing (Calingasan et al ., 1984), echidna (Tachyglossus aculeatus) (Yamada et al., 1990), bebek (Lucini et al., 1996), dan kerbau (Lucini et al., 1998). Dari tiga bagian pankreas yang diamati maka keseluruhan jumlah sel-sel endokrin ekstra insular

terbanyak dijumpai pada bagian kiri (tail) pankreas sedangkan pada bagian tengah (body) dan kanan (head) jumlahnya relatif sama (Grafik 1). Tidak didapatkan perbedaan distribusi dan frekuensi antara domba dan kambing maupun antara kedua jenis kelamin.

Grafik 1. Distribusi dan Frekuensi Relatif Sel-sel Endokrin Ekstra-Insular pada Pankreas Kambing dan Domba Lokal Keterangan : Rata-rata jumlah per satu lapang pandang, pengamatan dengan lensa obyektif 20x Sel-sel endokrin ekstra-insular ini berdistribusi pada asinar pankreas jauh dari pulau Langerhans, dekat dengan pulau Langerhans dan di antara sel-sel epitel duktus (Gambar 2). Jumlah sel terbanyak ditemukan pada daerah asinar pankreas (Grafik 2).

Grafik 2. Distribusi dan Frekuensi Relatif Sel-sel Endokrin Ekstra-Insular pada Asinar Pankreas Kambing dan Domba Lokal Keterangan : Rata-rata jumlah per satu lapang pandang, pengamatan dengan lensa obyektif 20x

Gambar 2. Fotomikrograf pankreas, memperlihatkan sel-sel endokrin ekstra-insular (tanda panah). Sel-sel endokrin ekstra insular yang berada jauh dari pulau Langerhans (A), dekat dengan pulau Langerhans dan di antara epitel duktus (C). (Pewarnaan impregnasi perak Grimelius; Bar = 50 µm) Sel-sel endokrin ekstra-insular ini diduga berperan dalam pengaturan fungsi-fungsi intrinsik pankreas. Sel-sel yang berada di sekitar Pulau Langerhans kemungkinan mengatur fungsi bagian endokrin dan pengeluaran sekreta hormon melalui pembuluh darah. Sel-sel endokrin yang berada di asinar diduga terlibat dalam pengaturan fungsi eksokrin pankreas yang mencakup sintesa maupun pengeluaran enzim-enzim serta ion melalui duktus, sedangkan yang berada diantara selsel epitel duktus dan di sekitar duktus diduga mengatur pengeluaran hormon dan sekreta serta menerima rangsangan dari sekreta eksokrin. Githens (1993) dan Bertelli (1994) dalam Lucini (1998), mengemukakan bahwa sel-sel endokrin pada dinding duktus hanya berperan dalam pengeluaran hormon-hormon pankreas dan sekreta pankreas yang lain (enzim atau ion bikarbonat) atau menerima rangsangan dari sekreta eksokrin pankreas dan menanggapinya melalui mekanisme endokrin atau parakrin. Sel-sel endokrin ektra-insular pada katak merah (Rana dalmatina) disebut sebagai komponen yang tidak jelas (diffuse component). Bagian ini jumlahnya banyak dan sebagian besar merupakan sel alfa atau sel PP (Putti et al., 1997). Sel-sel tersebut membentuk semacam jaring diantara sel-sel eksokrin yang hubungan antara keduanya mungkin terjadi melalui mekanisme parakrin (Putti et al., 1997). Secara imunohistokimia, sel-sel endokrin ekstra insular yang menunjukkan reaksi positif dengan pewarnaan impregnasi perak Grimelius adalah glukagon, glisentin, serotonin dan motilin (Grimelius dan Wilander, 1980). Dengan demikian sel-sel endokrin ekstra insular yang terdeteksi pada penelitian ini minimal adalah keempat sel-sel tersebut. Untuk mengetahui secara pasti jenis sel-sel endokrin ekstra insular tersebut perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan teknik pewarnaan imunohistokimia dengan memakai antibodi terhadap berbagai hormon pencernaan. KESIMPULAN Sel-sel endokrin ekstra insular berbentuk segitiga, polimorfik, bulat dan oval. Jumlah sel endokrin ekstra insular terbanyak dijumpai pada bagian kiri (tail) pankreas dan konsentrasi terbesar ditemukan di bagian asinar pankreas. Hal ini diduga berkaitan erat dengan fungsinya mengatur fungsi pengeluaran sekreta enzim-enzim serta ion melalui duktus. DAFTAR PUSTAKA Adnyane I.K.M., S. Novelina, D. K. Sari, T. Wresdiyati, S. Agungpriyono. 2001. Perbandingan antara mikroanatomi bagian endokrin pankreas pada kambing dan domba lokal dengan tinjauan khusus distribusi dan frekuensi sel-sel glukagon pada pankreas. Media Veteriner.2001. 8(1): 5-9. Agungpriyono S., J. Yamada, N. Kitamura, Y. Yamamoto, N. Said, K. Sigit, T. Yamashita. 1994. Immunohistochemical Study of The Distribution of Endocrine Cells in The Gastrointestinal Tract of the Lesser Mouse Deer (Tragulus javanicus). Acta Anat., 151 : 232-238. Agungpriyono S. 1997. Morphology of The Gut Endocrine Cells in The Gastrointestinal Tract of The Lesser Mouse Deer (Tragulus javanicus). Media Veteriner, 4(1) : 25-33. Calingasan N.Y., N. Kitamura, J. Yamada, Y. Oomori, T. Yamashita. 1984. Immunocytochemical Study of the Gastroenteropancreatic Endocrine Cells of the Sheep. Acta Anat., 118 : 171-180.

Craigmyle M.B.L. 1994. Atlas Berwarna Histologi. Edisi ke-2. Alih Bahasa: dr. Jan Tambajong. EGC. Jakarta. Fujita T., T. Kano dan S. Kobayashi. 1988. Gastroenteropancreatic Endocrine System. In Paraneuron. Springer-Verlag, Tokyo. Japan. Pp: 165-184. Green Span F.S. dan P.H. Forsham. 1983. Basic and Clinical Endocrinology. Large Mauzen Asia. Singapore. Grimelius L. 1968. A Silver Nitrate Stain for a-2 Cells in Human Pancreatic Islet. Acta Soc. Med. Upsal., 73 : 234-270. Grimelius L. dan E. Wilander. 1980. Silver Stains in The Study of Endocrine Cells of The Gut and Pancreas. Invest. Cell Pathol., 3 : 3-12. Guyton A. C. 1976. Textbook of Medical Physiology. WB Saunders Company. Philadelphia. London. Humason G.L. 1966. Animal Tissue Techniques. Wh Freemann and Company. San Francisco. Lucini C., L. Castaldo, O. Lai. 1996. An Immunohistochemistry Study of The Endocrine Pancreas of Ducks. Eur. J. Histochem., 40(1) : 45-52. Lucini C., L. Castaldo, O. Lai, G. DeVico. 1998. Ontogeny, Postnatal Development and Ageing of Endocrine Pancreas in Bubalus bubalis. J. Anat., 192 : 417-424. Polak J.M. 1989. Endocine Cells of The Gut. In Handbook of Physiology. A Critical, Comprehensive Presentation of Physiological Knowledge and Concept. Vol.II. Section 6 : The Gastrointestinal System. (Section Ed: S.G. Schultz). American Physiological Society, Bethesda, Maryland. Pp: 79-96. Ross M.H., L.J. Romrell, G.I. Kaye. 1995. Histology. A Text and Atlas. Third Edition. Williams and Wilkins. A Waverly Company. USA. Sundler J dan R. Hakanson. 1988. Peptide Hormone Producing Endocrine/ Paracrine Cell in the Gastro-Entero-Pancreatic Region. In Handbook of Chemical Neuroanatomy. Vol. 6 : The Peripheral Nervous System. A. Bjorklund, T. Hokfelt and C. Owman (eds). Elsevier Science Publishers BV. Pp: 219-278. Yamada J., V.J.M. Campos, N. Kitamura, A.C. Pacheco, T. Yamashita, U. Caramaschi. 1984. Immunocytochemical Study of Gastro-Entero-Pancreatic (GEP) Endocrine Cells in the Vampire Bat (Desmodos rotundus). Gegenbaurs Morph. Jahrb-Leipzig., 130(6) : 845-856. Yamada J., W.J. Krause, N. Edwin, T. Mochizuki, N. Yanaihara. 1990. A Survey of Endocrine Cells in The Pancreas of The Echidna (Tachyglossus aculeatus) with Special Reference to Pancreatic Motilin Cells. J. Anat., 170 : 223-231.


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3605
posted:6/6/2009
language:Indonesian
pages:13