Docstoc

Ocha Fraktur colum femur BAB II

Document Sample
Ocha Fraktur colum femur BAB II Powered By Docstoc
					                                     BAB II


                               TINJAUAN TEORI


A. Anatomi

        Kaput femur mendapat aliran darah dari tiga sumber utama, yaitu arteri

   sirkumfleksia femoralis medialis, arteri sirkumfleksa femoralis lateralis, dan

   arteri abturator. Pada usia dewasa, arteri abturator menyuplai sedikit aliran

   darah ke kaput femur melalui ligamentum teres. Arteri sirkumfleksa femoralis

   lateralis menghidupi arteri metafisis inferior melalui cabang ascendens dan

   menyuplai sebagian besar aspek inferoanterior kaput femur (FKUI-RSCM,

   2008).




                                  Gambar 1. Tulang femur



            Konstributor terbesar aliran darah ke kaput femur, khususnya di aspek

   superolateral adalah arteri sirkumfleksa femoralis medialis. Kompleks arteri

   epifiseal lateralis berasal dari arteri sirkumfleksa femoralis medialis dan



                                        6
   berjalan sepanjang aspek posteorosuperior kolum femur sebelum menyuplai

   kaput femur. Cabang – cabang terminal ini terletak intrakapsuler sehingga

   disrupsi atau distorsinya akibat pergeseran fraktur kolum femur berperan

   terhadap terjadinya osteonekrosis (FKUI-RSCM, 2008 ).




                           Gambar 2. Tulang kolum femur

B. Pengertian

        Fraktur kolum femur adalah fraktur intrakapsuler yang terjadi di femur

   proksimal pada daerah yang berawal dari distal permukaan artikuler caput

   femur hingga berakhir di proksimal daerah intertrokanter (FKUI-RSCM,

   2008).




                        Gambar 3. Fraktur kolum femur




                                     7
C. Epidimiologi

        Berdasarkan survei pada tahun 1994 insiden fraktur kolum femur

   berdasarkan usia di Amerika Serikat adalah 63, 3 per 100.000 orang per

   tahun pada wanita dan 27, 7 pada laki – laki. Namun fraktur ini pada dewasa

   muda relatif jarang terjadi. Sedangkan insidennya tahun 2007 di RSCM pada

   wanita di atas 50 tahun adalah 0,13 % atau 127 per 100.000 orang dan laki –

   laki 0,21 % atau per 100.000 orang. Frekuensi terjadinya fraktur kolum femur

   setara dengan fraktur intertrokanter (FKUI-RSCM, 2008).



D. Mekanisme cedera

        Fraktur kolum femur dapat disebabkan baik karena energi rendah

   maupun energi tinggi. Fraktur ini pada umumnya terjadi pada pasien usia

   lanut akibat trauma energi rendah, seperti jatuh pada saat berdiri. Menurut

   frankel, fraktur kolum femur terjadi akibat gaya asial melebihi gaya bending.

   Gangguan dinamika otot dapat meningkatkan risiko fraktur kolum femur

   pada usia lanut. Energi akibat jatuh akan terserap oleh otot pada pasien usia

   muda, namun tidak adapat diserap dengan baik oleh otot yang lemah pada

   psien usia lanjut. Mekanisme lainnya adalah akibat gaya yang berlebihan

   kontraksi otot pada tulang saat upaya mendapatkan kestabilan setelah jatuh.

   Mekanisme lain yang juga bisa menyebabkan fraktur adalah akibat jatuh

   mengenai panggul sehingga gaya langsung mengenai trokanter mayor

   menimbulkan gaya aksial sepanjang kolum femur dan menyebabkan fraktur

   impaksi (FKUI-RSCM, 2008 )

        Beberapa peneliti menduga bahwa ekstremitas bawah dalam posisi

   rotasi eksterna saat jatuh. Saat rotasi eksterna yang ekstrim kolum femur




                                      8
   menekan bibir acetabulum posterior, dan berlaku seperti fulcrum sehingga

   konsentrasi tekanan terjadi pada daerah ini. Kombinasi gaya aksial dan

   rotasi menimbulkan fraktur. Mekanisme ini dapat menerangkan bahwa

   kominusi kolum femur posterior pada fraktur ini (Swiontkowski, 2008 ).



E. Klasifikasi

         Klasifikasi kolum femur menurut anatomis dapat dibagi tiga. Fraktur

   kolum femur terbagi menjadi tiga tipe yaitu subkapital, trans atau mid-

   servikal, dan basicervikal. Tipe yang paling sering adalah subkapital pada

   pasien lanjut usia dan basicervikal pada pasien dewasa muda (Greenspan,

   2000).

         Klasifikasi fraktur femur menurut Garden berdasarkan pengerasan

   fraktur dapat dibagi menjadi empat derajat yaitu (Greenspan, 2000) :

            -    Derajat 1 : Fraktur inkomplit impaksi kolum femur.

            -    Derajat 2 : Fraktur komplit tidak bergeser.

            -    Derajat 3 : Fraktur komplit dengan pergeseran moderat.

            -    Derajat 4 : Fraktur bergeser total.

   Staging Garden fraktur kolum femur subkapital adalah :

       1. Stage I : imkomplit (abduksi atau impaksi). Sudut trabekula medial

            antara kaput femur dan kolum femur > 180 derajat.

       2. Stage II : komplit tampa pergeseran. Sudut trabekula medial antara

            kaput femur dan kolum femur – 180 derajat.

       3. Stage III: komplit dengan pergeseran parsial. Trabekula medial

            kaput femur tidak segaris dengan trabekula pelvis.




                                          9
         4. Stage IV : komplit, pergeseran total. Trabekula medial kaput segaris

             dengan trabekula pelvis.

          Meskipun klasifikasi ini memiliki keterbatasan, namun sering dipakai

     untuk fraktur kolum femur pada pasien lanut usia.



F.   Pemeriksaan klinis

          Status umum pada pasien fraktur kolum femur bisanya tidak dapat

     berdiri atau berjalan pada saat bari cidera. Pada pasien usia lanjut yang

     hidup sendiri, mungkin sudah menderita frakturnya beberapa jam atau

     beberapa hari sebelum mereka mendapat evaluasi medis, sehingga dapat

     jatuh pada kondisi dehidrasi, kekurangan nutrisi, dan kesadaran yang

     menurun (Koval et. All, 2004 ).

          Status lokalis pada spek inspeksi (look) tergantung pada derajat

     pergeseran dan kominusi fraktur. Fraktur yang tidak bergeser secara klinis

     tidak menunjukkan deformitas. Sebaliknya, fraktur yang kominutif dan

     bergeser menunjukkan ekstremitas bawah memendek dan rotasi eksterna.

     Bila pasienny alnjut usia, penilaian adanya dekubitus pada sakrum atau

     tumit. Aspek raba (feel) biasanya jarang terjadi cidera neorovaskular. Namun

     evalusi menyeluruh harus dilakukan. Sebagai contoh, bila pasien menderita

     penyakit vaskuler perifer atau neoropati perifer, maka memerlukan

     pemntauan kulit dan menghindari tekanan yang berlebihan pada saat

     melakukan reduksi. Aspek pemeriksaan gerak (move) menunjukan limitasi

     gerakan pada sendi panggul (Koval et. All, 2004).




                                        10
G. Pemeriksaan Penunjang.

         Pemeriksaan sinar – X yang diminta adalah pelvis dan panggul AP dan

   femur proksimal cross-table lateral. Jika fraktur tidak terlihat jelas, proyeksi

   panggul AP dilakukan dengan traksi aksial dan internal rotasi panggul. Jika

   penilaian dengan sinar – X tidak menunjukkan abnormalitas, namun terdapat

   kecurigaan fraktur kolum femur (nyeri panggul pada saat pergerakan atau

   diberi gaya aksial), maka dapat dimintakan pemeriksaan MRI. Pemeriksaan

   ini untuk mengetahui adanya fraktur kolum femur yang occult. Pemeriksaan

   sinar – X lain juga perlu dilakukan pada derah yang ekimosis, nyeri atau

   bengkak untuk menyingkirkan cidera penyerta. Radigrafi dada diminta bila

   terapi pembedahan direncanakan (Koval et. all, 2004).

         Evalusi diagnostik lainnya meliputi elektrokardiogram, urinalisis dan

   pemeriksaan darah, seperti darah lengkap, kadar elektrolit, dan profil

   koagulasi (masa protrombin dan tromboplastin parsial). Pemeriksaan

   skrining juga sebagai antisipasi tindakan operasi. Adanya dehidrasi dan

   anemia akibat perdarahan fraktur intrakapsuler atau asupan nutrisi tidak

   adekuat dapat dikomfirmasi dengan pemeriksaan darah tersebut. Pada

   pasien dengan penyakit kardiopulmoner, debilitasi fungsional atau demensia,

   analisi gas darah perlu dilakukan,. Pada pasien usia lanjut, penyakit

   kardiopulmoner merupakan determinan utama apakah pasien mampu tirah

   baring lama, menjalani operasi dan mengikuti program rehabilitasi (Koval et.

   all, 2004).




                                       11
H. Hemiarthroplasti

         Berdasarkan kesepakatan umum, terapi terbaik fraktur kolum femur

   adalah pembedahan diikuti dengan mobilisasi dini. Pada kondisi tertentu,

   pendekatan konservatif dipilih karena pembedahan tidak dapat dilakukan

   karena beresiko meninggal akibat pembiusan dan pembedahan (pasien baru

   dapat infark miokard) dan pasien sedang mendapat terapi antikoagulan yang

   belum aman dalam waktu 72 jam priode perioperatif. Tatalaksana

   nonoperatif juga lebih teapat untuk pasien usia lanut yang sudah dimensia

   dan non-ambulator sebelum fraktur dan pasien yang hanya mengalami

   sedikit ketidaknyamanan akibat cedera tersebut (Miyamoto et. all, 2008).




                                  Gambar 4. Hemiarthroplasti

         Pilhan terapi operatif beragam antara lain fiksasi perkutaneus, reduksi

   tertutup dan internal fiksasi, reduksi terbuka dan internal fiksasi (ORIF), dan

   arthroplasti. Fraktur yang nondisplaced seharusnya diterapi dengan pin atau

   skrup multipel. Fraktur displaced terapi berdasarkan umur dan tingkatan

   aktivitas pasien. Pasien dewasa muda diterapi dengan reduksi tertutup dan

   internal   fiksasi   (ORIF).    Pad   apsien   lanjut   usia   diterapi   dengan

   hemiarthroplasti, baik uncemented atau cemented ataupun total hip

   arthroplasty (Miyamoto, 2008).



                                         12
I.   Spinal anestesi

     1. Anatomi

             Tulang punggung (kolumna vertebralis) terdiri dari 7 Vertebra

       servikal, 12 vertebra torakal, 5 vertebra lumbal, 5 vertebra sakral menyatu

       pada deawasa dan 4 – 5 vertebra koksigeal menyatu pada dewasa.

       Prosesus spinosus C2 teraba langsung di bawah oksipital. Prosesus

       spinosus C7 menonjol dan disebut sebagai vertebra prominens. Garis

       lurus yang menghubungkan kedua krista iliaka tertinggi akan memotong

       prosesus spinosus vertebra L4-L5. Perdarahan pada medula spinalais

       diperdarahi oleh arteri spinalis anterior dan arteri spinalis posterior. Untuk

       mencapai cairan serebro spinalis, maka jarum suntik akan menembus

       kulit, subkutis, ligamen supraspinosum, ligamen interspinosusm, ligamen

       flavum, ruang epdural, durameter dan ruang subarakhnoid (Latief, 2002).




                                   Gambar 5. Spinal cord




                                         13
        Medula spinalis berada dalam kanalis spinalis yang dikelilingi oleh

  cairan serebrospinalis dan dibungkus meningen (durameter, lemak dan

  pleksus venosus). Pada dewasa berakhir setinggi L1, pada anak L2 dan

  pada bayi L3 dan sakus duralis berakhir setinggi S2. Cairan

  serebrospinalis merupakan ultrafiltrasi dari plasma yang berasal dari

  pleksus arteria koroidalis yang terletak di ventrikel 3-4 dan lateral. Cairan

  ini jernih dan tak bewarna mengisi ruang subarakhnoid dengan jumlah

  total 100 – 150 ml, sedangkan nyeri punggung sekitar 25-24 ml (Latief,

  2002).




                        Gambar 6. Anatomi tulang belakang



2. Ketinggian segmental anatomik

   -   C3-C4                    Klavikula

   -   T2                       ruang interkostal kedua

   -   T4-5                     garis puting susu

   -   T7-9                     arkus subkostalis

   -   T10                      umbilikus




                                   14
   -   L1                       daerah inguinal

   -   S1-4                     perineum



3. Ketinggian segmental refleks spinal

   -   T7-8                     epigastrik

   -   T9-12                    abdominal

   -   L1-2                     kremaster

   -   L2-4                     lutut (knee jerk)

   -   S1-2                     plantar, pergelangan kaki (ankle jerk)

   -   S4-5                     sfingter anus, refleks kejut (wink refleks)



4. Ketinggian kulit pada pembedahan

   -   Tungkai bawah                     T12

   -   Panggul                           T10

   -   Uterus-vagina                     T10

   -   Buli-buli prostat                 T10

   -   Tungkai bawah dengan manset T8

   -   Testis ovarium                    T8

   -   Intra abdomen bawah               T6

   -   Intra abomen lain                 T4



5. Pengertian spinal anestesi

        Analgesia spinal (intratekal, intradural, subdural, subarakhnoid)

  ialah pemberian obat anastetik lokal ke dalam ruang subarakhnoid.

  Anasthesia spina diperoleh dengan cara menyuntikan anestetik lokal ke




                                  15
  dalam ruang subarakhnoid. Tekhnik ini sederhana, cukup efektif dan

  mudah dikerjakan (Latief, 2002).




                             Gambar 7. Spinal anestesi



         Blok subarakhnoid adalah blok regional yang dilakukan dengan

  jalan menyuntikan obat anestetik lokal ke dalam ruang sub arakhnoid

  melalui tindakan fungsi lumbal (Mangku, 2010).



6. Indikasi

         Indikasi untuk dilakukan spinal anestesi pada pasien yang akan

   dianestesi adalah (Latief, 2002) :

   a. Bedah ekstremitas bawah

   b. Bedah panggul.

   c. Tindakan sekitar rektum-perineum.

   d. Bedah obstetri-ginekologi.

   e. Bedah urologi.

   f.   Bedah abdomen bawah.

   g. Pada     bedah    abdomen      atas   dan   bedah   pediatri   biasanya

        dikombinasikan dengan anestesia umum ringan.




                                   16
7. Kontra indikasi

           Kontra indikasi pada pasien dengan spinal anestesi dapat diabagi

   menjadi 2 bagian yaitu kontra indikasi yang absolut dan kontra indikasi

   relatif (Latief, 2002) :

   a. Kontra indikasi absolut

       -     Pasien menolak.

       -     Infeksi pada tempat penusukan.

       -     Hipovolemia berat, syok.

       -     Koagulapati atau mendapat terapi antikoagulan.

       -     Tekanan intrakranial meninggi.

       -     Fasilitas resusitasi minimal.

       -     Kurang pengalaman/ tanpa didampingi konsultan anestesia.

   b. Kontra indikasi relatif

       -     Infeksi sistemik (sepsis, bakteremi).

       -     Infeksi sekitar tempat penyuntikan.

       -     Kelainan neurologis.

       -     Kelainan psikis.

       -     Bedah lama.

       -     Penyakit jantung.

       -     Hipovelimia ringan.

       -     Nyeri punggung kronis

             .

8. Persiapan spinal anetesia.

           Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan

   pada anestesia umum. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah




                                      17
   akan menimbulkan kesulitan, misalnya ada kelainan antomis tulang

   punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tak teraba tonjolan

   prosesus spinosus. Selain itu perlu diperhatikan hal – hal di bawah ini

   (Latief, 2002) :

   a. Informed consent (izin dari pasien), dimana kita tidak boleh memaksa

        pasien untuk menyetujui anestesia spinal.

   b. Pemeriksaan fisik, dimana tidak dijumpai kelainan spesifik seperti

        kelainan tulang punggung dan lain – lainnya.

   c. Pemeriksaan laboratorium anjuran seperti hemoglobin, hematokrit,

        PT(prothrombine time) dan PTT (partial thromboplastine time ).



9. Peralatan spinal anestesia.


         Menurut Mangku (2010), persiapan yang dilakukan pada pasien

   yang akan dilakukan tindakan spinal anestesi adalalah :


   a. Persiapan rutin.

   b. Alat pantau yang diperlukan.

   c. Kit emergency.

   d. Obat anestetik lokal hiperbarik lidokain 5 % atau bupivakain 0,5%.

   e. Berikan infus tetesan cepat (hidrasi akut) sebanyak 500 – 100 ml

        dengan kristaloid atau koloid.

   f.   Jarum khusus fungsi lumbal.

   g. Larutan efedrin yang mengandung 5mg/ ml.




                                    18
                              Gambar 8. Spinal needle


        Menurut Latief (2002), peralatan spinal anestesi yang perlu

   disiapkan pada pasien yang akan dilakukan tindakan spinalanestesia

   adalah :


   a. Peralatan monitor seperti tekanan darah, nadi, pulse oxymetri dan

       EKG.

   b. Peralatan resusitasi dan anestesi umum.

   c. Jarum spinal dengan ujung tajam (ujung bambu runcing, Quincke-

       Babcock) atau jarum spinal dengan ujung pinsil (pencil point,

       whitecare) dengan ukuran jarum yang biasa dipakai 25 atau 27.



10. Tekhnik spinal anastesi

        Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tususkan

   pada garis tengah ialah posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya

   dikerjakan di atas meja operasi tanpa dipindah lagi dan hanya diperlukan

   sedikit perubahan posisi pasien. Perubahan posisi berlebihan dalam 30

   menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat (Latief, 2002).

   a. Setelah dimonitor , tidurkan pasien misalnya dalam posisi dekubitus

       lateral. Beri bantal kepala, selain enak untuk pasien juga supaya

       tulang belakang stabil. Buat pasien membungkuk maksimal agar

       prosesus spinosus mudah teraba. Posisi lain ialah duduk.



                                   19
                 Gambar 9. Posisi miring spinal anestesi



b. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua krista iliaka

   dengan tulang punggung ialah L4-5. Tentukan tempat tusukan

   misalnya L2-3, L3-4 atau L4-5. Tusukan pada L1-2 atau dia atasnya

   beresiko trauma terhadap medula spinalis.




              Gambar 10. Letak penyuntikan spinal anestesi




                             20
c. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alkohol.

d. Beri anestetik lokal pada tempat tusukan, misalnya dengan lidokain

   1-2% 2-3 ml.

e. Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jrum spinal besar 22

   G, 23 G atau 25 G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk

   yang kecil 27 G atau 29 G, dianjurkan menggunakan penuntun jarum

   (introducer), yaitu jarum suntik biasa semprit 10 cc. Tsukan

   introducer sedalam kira – kira 2 cm agak sedikit ke arah sefal,

   kemudian masukan jarum spinal beserta mandrinnya kelubang jarum

   tersebut. Jika menggunakan jarum tajam irisan jarum (bevel) harus

   sejajar dengan serat durameter, yaitu pada posisi tidur miring bevel

   mengarah ke atas tau ke bawah, untuk menghindari kebocoran liuor

   yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala pasca spinal. Setelah

   resistensi menghilang, madrin jarum spinal dicabut dan keluar liquor,

   pasang spuit yang berisi obat.




                  Gambar 11. Penusukan spinal anestesi



   Kemudian di aspirasi sedikit sebelum obat dimasukan. Jika liquor

   positif dan ringan jika di aspirasi baru obat dimasukan secara



                              21
        perlahan – lahan (0,5 ml/ dtk) dan sebelum obat habis disarankan

        untuk dilakukan aspirasi kembali hanya untuk meyakinkan posisi

        jarum tetap baik. Kalau anda yakin ujung jarum spinal pada posisi

        yang benar dan likuor tidak keluar, putar arah jarum 90 derajad

        biasanya liquor keluar. Untuk analgesia spinal kontinyu dapat

        dimasukan kateter.

   f.   Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah

        hamoroid dengan anestetik hiperbarik yang biasa disebut dengan

        Sadle Block.



11. Jenis anestetik lokal untuk spinal anastesi

            Berat enis cairan serebrospinalis (CSS) pada suhu 37o ialah 1.003-

   1.008. anestetik lokal dengan berat jenis sama dengan CSS disebut

   dengan isobarik. Anestetik lokal denganberat jenis lebih besar dari CSS

   disebut hiperbarik. Anestetik lokal dengan berat jenis lebih kecil dari CSS

   disebut hipobarik (Latief, 2002).

            Anestetik lokal yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik

   diperoleh dengan mancampur anestetik lokal dengan dekstrosa. Untuk

   jenis     hipobarik   biasanya     digunakan    tetrakain   diperoleh   dengan

   mencampur dengan air injeksi. Penyebaran anestetik lokal biasanya

   tergantung pada faktor utama dan faktor tambahan. Faktor – faktor

   tersebut antara lain (Latief, 2002) :

   a. Faktor utama

        -     Berat enis anestetika lokal (barisistas).

        -     Posisi pasien (kecuali isobarik).




                                       22
        -     Dosis dan volum anestetika lokal (kecuali isobarik ).

   b. Faktor tambahan

        -     Ketinggian suntikan./

        -     Kecepatan suntikan/ barbotase.

        -     Ukuran jarum.

        -     Keadaan fisik pasien.

        -     Tekanan intraabdominal.


            Lama kerja anestetik lokal tergantung dari jenis anesteti lokal,

    besarnya dosis, ada tidaknya vasokonstriktor, dan besarnya penyebaran

    anestetika lokal.


12. Komplikasi spinal anastesi.

   Omplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan tindakan spinal

   anestesi adalah :

   a. Hipotensi berat dapat terjadi akibat blok simpatis, terjadi venous

        pooling. Pada dewasa dicegah dengan memberikan infus cairan

        elektrolit 1000 ml atau koloid 500 ml sebelum tindakan.

   b. Bradikardi, hal ini dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia,

        terjadi akibat blok asampai T-2.

   c. Hipoventilasi akibat terjadinya paralisi saraf frenikus atau hipoferfusi

        pusat kendali nafas.

   d. Trauma pembuluh darah.

   e. Trauma saraf.

   f.   Mual-muntah.

   g. Gangguan pendengaran.

   h. Blok spinal tinggi, atau spinal total.


                                      23
               Sedangkan komplikasi yang sering terjadi setelah tindakan spinal

        anestesi adalah :


        a. Nyeri tempat suntikan.

        b. Nyeri punggung.

        c. Nyeri kepala karena kebocoran likuor.

        d. Retensio urin.

        e. Meingitis.



J.   Tata laksana anestesia dan reanimasi pada reposisi/ operasi dislokasi

     dan patah tulang tungkai

     Batasan

           Tindakan anetesi yang dilakukan pada reposisi atau operasi fiksasi

     eksternal atau internal dan reduksi terbuka dislokasi, patah tulang paha,

     lutut, kruris dan tulang – tulang pada kaki.



     Masalah anestesi dan reanimasi :

     1. Posisi miring pada tulang paha.

     2. Perdarahan luka operasi (pada patah tulang multipel).

     3. Operasi berlangsung lama (pada patah tulang multipel).

     4. Kerusakan jaringan lunak.

     5. Nyeri yang hebat.

     6. Pada beberapa kasus operasinya bersifat darurat.

     7. Bahaya emboli lemak pada patah tulang panjang.




                                          24
Penatalaksanaan anestesi dan reanimasi


1. Evaluasi

   a. Penilaian status persen.

   b. Evaluasi status generalis dengan pemeriksaan fisik dan penunjang

       yang lain sesuai dengan indikasi serta waspadai trauma pada regio

       yang lain.

2. Persiapan operatif.

   a. Persiapan rutin.

   b. Persiapan khusus

       1) Koreksi gangguan fungsi organ yang mengancam.

       2) Penanggulangan nyeri.

       3) Donor.

3. Premedikasi sesuai dengan kebutuhan.

4. Pilihan anestesinya.

   a. Pasien dewasa atau orang tua tanpa gangguan fungsi organ Vital :

       diberikan analgesia subarakhnoid atau epidural kontinyu.

   b. Pada pasien dewasa atau orang tua yang disertai dengan kelainan

       atau gangguan fungsi organ vital : dilakukan anestesia umum inhalasi

       (imbang) PET nafas kendali.

   c. Pasien dewasa dan diperkirakan operasi kurang dari satu jam :

       anestesia umum inhalasi sungkup muka atau anestesia umum

       intravena diazepam-ketamin.

   d. Pada bayi atau anak : anestesia umum, sesuai dengan tata laksana

       anestesia pediatri.




                                  25
       e. Pasien rawat jalan: sesuai dengan tata laksana anesteia-analgesia

           rawat jalan.

   5. Pemantauan selama anestesi sesuai dengan standar pemantauan dasar

       intra operatif.

   6. Terapi cairan : pada perdarahan yang terjadi <20% dari perkiraan volume

       darah pasien, berikan cairan pengganti kristaloid atau koloid, tetapi

       apabila terjadi perdarahan >20% dari perkiraan volume darah pasien,

       berikan tranfusi darah.

   7. Pemulihan anestesia, sesuai dengan pilihan anesteia yang diberikan.

   8. Pasca anestesia.

       a. Pasien dirawat di ruang pulih sesuai dengan tata laksana pasca

           anestesia.

       b. Perhatian khusus ditujukan pada upaya penanggualangan nyeri

           pasca bedah.

       c. Pasien dikirim kembali ke ruangan, setelah memenuhi kriteria

           pemulihan.

       d. Pada kasus trauma multipel, pasien langsung dikirim keruang terapi

           intensif untuk perawatan dan terapi lebih lanjut.



K. Asuhan Keperawatan Pre – Intra – Post Anestesi.

         Diagnosa        keperawatan   yang   dapat    muncul    pada     tindakan

   pembedahan muskuloskeletal menurut Wilkimson (2007), meliputi tetapi

   tidak terbatas pada amputasi , artrotomi, bunio-nektomi, gips, plat pinggul,

   prostesis pinggul, reduksi teruka atau fiksasi internal untuk fraktur, perbaikan




                                       26
bahu, penggantian pergelangan kaki total, penggantian pinggul total,

penggantian lutut total, dan traksi.



Diagnosa keperawatan NIC dan NOC :

1. Intoleransi aktivitas faktor yang berhubungan dengan nyeri, kelemahan

   dan deprivasi tidur.

2. Ansietas faktor yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang

   pembedahan dan program pascaoperasi, ancaman terhadap konsep diri,

   ancaman terhadap atau perubahan dalam fungsi peran.

3. Gangguan citra tubuh faktor yang berhubungan dengan pembedahan,

   kehilangan fungsi kemmapuan dan respon ketakutan orang lain terhadap

   penampilan.

4. Konfusi, akut faktor yang berhubungan dengan hipoksemia, pengobatan,

   infeksi, dan impaksi.

5. Konstipasi faktor yang berhubungan dengan penurunan aktivitas,

   perubahan diet, pengobatan (opiat, anestesi).

6. Infeksi, resiko, faktor resiko yang berhubungan dengan pertahanan

   primer tidak adekuat akibat terpajannya sendi, kulit yang rusak.

7. Cedera (kontraktur), faktor resiko yang berhubungan dengan imobilitas

   akibat nyeri adan atau kelemahan.

8. Nyeri, faktor yang berhubungan dengan otot kejang, parestesia,

   imflamasi, prosedur pembedahan, destruksi sendi, dan nyeri fantom

   anggota gerak.




                                       27
 9. Disfungsi neurovaskuler perifer, resiko faktor yang berhubungan dengan

     fraktur, kompresi mekanik, pembedahan ortopedik, trauma, imobilisasi

     gips dan alat traksi.

 10. Integritas kulit, kerusakan faktor yang berhubungan dengan faktor

     mekanik, anjuran imobilisasi, kesrusakan sirkulasi.

 11. Perfusi jaringan perifer, perubahan faktor yang berubungan dengan

     penurunan aliran darah

        Sedangkan       dalam   keperawatan   anestesi   masalah    –   masalah

keperawatan yang dapat muncul selama pre, intra, dan post anestesi baik

general anestesi maupun regional anestesi adalah :

1.   Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan masalah pembiusan

     atau operasi.

     Tujuan :

            Setelah dilakukan keperawatan cemas berkurang atau hilang.

     Kriteria hasil :

            Pasien menyatakan tahu tentang proses kerja obat analgesi atau

             pembiusan.

            Pasien menyatakan siap dilakukan pembiusan.

            Pasien mengkomunikasikan persaan negatif secra tepat.

            Pasien tampak tenang dan kooperatif.

            Tanda – tanda vital dalam batas normal.

     Intervensi keperawatan :

            Kaji tingkat kecemasan.

            Orientasikan dengan tim anestesi atau kamar operasi.

            Jelaskan jenis prosedur tindakan anestesi yang akan dilakukan.



                                       28
            Beri dorongan pasien untuk mengungkapkan perasaan.

            Dampingi pasien untuk menurangi rasa kecemasan.

            Ajarkan tekhnik relaksasi.

            Kolaborasi untuk pemberian obat penenang.

2.   Risiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan

     dengan vasodilatasi pembuluh darah dampak obat anestesi.

     Tujuan :

            Setelah dlakukan keperawatan keseimbangan cairan dalam

             ruangan intrasel dan ekstrasel tubuh tercukupi.

     Kriteria hasil :

            Pasien menyatakan tidak haus atau tidak lemas.

            Akral kulit hangat.

            Haemodinamik normal.

            Masukan cairan dan keluaran cairan imbang.

            Urine output 1 – 2 cc/ Kg BB/ jam.

            Hasil lab elektrolit darah normal.

     Intervensi keperawatan :

            Kaji tingkat kekurangan volume cairan.

            Kolaborasi untuk pemeberian cairan dan elektrolit.

            Monitor masukan dan keluaran cairan dan elektrolit.

            Monitor haemodinamik.

            Monitor perdarahan.




                                       29
3.   Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuscular

     dampak sekunder obat pelumpuh otot pernafasan atau obat general

     anestesi.

     Tujuan :

            Setelah selesai tindakan anestesi atau pembiusan pola nafas

             pasien menjadi efektif atau normal.

     Kriteria hasil :

            Frekuensi nafas normal.

            Irama nafas sesuai dengan yang diharapkan.

            Ekspansi dada simetris.

            Bernafas mudah, tidak didapatkan nafas pendek.

            Tidak menggunakan obat tambahan.

            Tidak sianosis.

            Auskultasi vokal sesuai yang diharapkan.

     Intervensi keperawatan :

            Bersihkan sekret pada jalan nafas : hisung, oral, trakhea ( ETT ).

            Jaga jalan nafas.

            Pasang peralatan oksigen.

            Beri suplai oksigen 2 – 3 ltr/ mnt.

            Monitor aliran oksigen.

            Monitor ritme, irama, kedalaman dan usaha respirasi.

            Monitor pola nafas tachipneu, apneu.

            Monitor tanda hipoventilasi.




                                       30
4.   Hipotermi berhubungan dengan berada atau terpapar dilingkungan dingin.

     Tujuan :

            Setelah    dilakukan       keperawatan   pasien   menunjukkan

             termoregulasi.

     Kriteria hasil :

            Kulit hangat, suhu tubuh dalam batas normal.

            Perubahan warna kulit tidak ada.

            Keletihan dan mudah tersinggung tidak nampak.


     Intervensi keperawatan :


            Mempertahankan suhu tubuh selama pembiusan atau operasi

             sesuai yang diharapkan.

            Pantau tanda vital.

            Beri pehangat.



5.   Risiko aspirasi berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran.

     Tujuan :

            Setelah dilakukan keperawatan tidak akan terjadi aspirasi yang

             dibuktikan dengan kemampuan kognitif dan status neurologis yang

             tidak berbahaya.

     Kriteria hasil :

            Mampu menelan.

            Bunyi paru yang bersih.

            Tonus otot yang adekuat.




                                       31
     Intervensi keperawatan :

            Atur posisi pasien.

            Pantau tanda – tanda aspirasi.

            Pantau     tingkat    kesadaran,    reflek   batuk,   reflek   muntah,

             kamampuan menelan.

            Pantau status paru.

            Bersihan jalan nafas.

            Kolaborasi dengan dokter.



6.   Komplikasi potensial syok kardiogenik berhubungan dengan sekunder

     obat anestesi ( RA ).

     Tujuan :

            Setelah dilakukan keperawatan pompa jantung dan sirkulasi

             efektif.

     Kriteria hasil :

            Tekanan darah sistolik dan diastolik dalam batas normal.

            Denyut jantung dalam batas normal.

            Hipotensi aorta statis tidak ada.

            Distensi vena leher tidak ada.

            Pasien menyatakan tidak pusing.

            Denyut nadi perifer kuat dan teratur.

     Intervensi keperawatan :

            Atur posisi pasien.

            Kaji toleransi aktifitas : awal nafas pendek, nyeri, pusing, palpitasi.

            Kaji tekanan darah, adanya sianosis, status pernafasan.



                                        32
              Beri oksigen.

              Evaluasi respon pasien terhadap terapi oksigen.

              Kolaborasi dengan dokter.



7.   Gangguan rasa nyaman dan mual muntah b/ d sekunder obat anestesi

     ( RA ).

     Tujuan :

              Setelah dilakukan keperawatan mual munatah berkurang atau

               tidak terjadi.

     Kriteria hasil :

              Pasien menyatakan mual berkurang.

              Pasien tidak muntah.

              Pasien menyatakan bebas dari mual pusing.

              Haemodinamik stabil.

              Akral kulit hangat.

     Intervensi keperawatan :

              Atur posisi pasien.

              Meningkatkan keseimbangan cairan.

              Pencegahan komplikasi.

              Pantau tanda – tanda vital.

              Pantau gejala mual.

              Pantau gejala muntah.

              Panatau turgor kulit.

              Pantau masukan dan keluaran cairan.

              Kolaborasi dengan dokter anestesi.



                                        33
8.   Resiko kecelakaan cedera berhubungan dengan efek anestesi umum.

     Tujuan :

            Pasien aman selama dan setelah pembiusan.

     Kriteria hasil :

            Selama operasi tidak bangun dan tenang.

            Pasien sadar setelah anestesi selesai ( AS = 8 – 10 ).

            Kemampuan untuk melakukan gerakan yang bertujuan.

            Kemampuan untuk bergerak atau berkomunikasi.

            Pasien aman tidak jatuh.

     Intervensi keperawatan :

            Tingkatkan kemanan dan ketajaman.

            Jaga posisi imobil.

            Ubah tempat atau tubuh pasien untuk meningkatkan fungsi

             fisiologis dan psikologis.

            Cegah resiko injury jatuh.

            Pasang pengaman tempat tidur.

            Pantau penggunaan obat anetesi dan efek yang timbul.



9.   Hambatan mobilitas ekstremitas bawah berhubungan dengan pengaruh

     sekunder obat anestesi ( RA ).

     Tujuan :

            Setelah dilakukan perawatan selama 3 – 4 jam pasien mampu

             menggerakkan ekstremitas bawah ( sendi dan otot ).

     Kriteria hasil :

            Tidak ada neuropati.



                                          34
          Mampu menggerakkan ekstremitas bawah ( BS = 0 ).

   Intervensi keperawatan :

          Atur posisi pasien. Bantu pergerakkan ekstremitas bawah.

          Ajarkan proses pergerakan.

          Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan pergerakkan.

          Ajarkan tekhnik pergerakkan yang aman.

          Latihan angkat atau gerakan ekstremitas bawah.

          Lakukan penilaian Bromage Scale (BS).



10. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan mukus banyak

   tertahan efek dari general anestesi.

   Tujuan :

          Setelah pasien sadar dari efek anestesi umum bersihan jalan

           nafas efektif.

   Kriteria hasil :

          Pola nafas normal : frekuensi, kedalaman dan irama.

          Suara nafas bersih.

          Tidak sianosis.

   Intervensi keperawatan :

          Atur posisi pasien.

          Pantau tanda – tanda ketidak efektifan dan pola nafas.

          Aarkan batuk efektif.

          Pantau respirasi dan status oksigenasi.

          Buka jalan nafas.

          Bersihkan sekresi.



                                   35
           Beri hyperoksigenasi antar tinadakan suction.

           Ajarkan nafas dalam.

           Auskultasi suara nafas.

           Pantau status oksigenasi dan dinamik.



11. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik ( tindakan operasi ).

    Tujuan :

           Setelah dilakukan perawatan 1 X 24 jam nyeri berkurang atau

            hilang.

    Kriteria hasil :

           Pasien menyatakan nyeri berkurang atau hilang.

           Pasien mampu istirahat dan tidur.

           Ekspresi wajah nayaman atau tenang.

    Intervensi keperawatan :

           Kaji derajat, lokasi, durasi, frekuensi dan karakteristik nyeri.

           Gunakan tekhnik komunikasi terapeutik.

           Ajarkan tekhnik relaksasi.

           Kolaborasi dengan dokter.




                                      36

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5808
posted:1/20/2011
language:Indonesian
pages:31