BAB III by poetri176

VIEWS: 510 PAGES: 9

									      BAB III
 MENDESKRIPSIKAN
   FUNGSI HADITS
TERHADAP AL-QUR’AN
      A. Kedudukan Hadits Sebagai
           Sumber Hukum Islam
     Dalil Al-Qur’an
     Banyak ayat Al Qur’an yang menjelaskan kewajiban
     mempercayai dan menerima perintah Rasul.
     Misalnya pada QS Ali Imran ayat 32 yang berbunyi:


َ‫فا ن تو لو ا فا نَّ ا هلل الَ يحِب قُلْ أَ طِ ْيعو ا هلل و ا لى سو ل‬
    ُْ ّ   َ        ُ              ُّ ُ َ             ِ َ ْ َّ َ َ ِ َ
                                                                ِ َ َّ
                                                           َ‫ا لكا فِر ْين‬
     Artinya:
     “Katakanlah! Taatlah kalian Allah dan Rasulnya; jika
     kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak
     menyukai orang-orang kafir”
Dari ayat Al Qur’an di
atas tergambar bahwa
setiap ada perintah taat
pada Allah selalu di ikuti
perintah taat pada
Rasul.
                Dalil Al-Hadits

     ‫تر كت فِ ْيكم أَ مر ْين لنْ تضِ لُّو ا ما تمسكتم بهما كتا‬
      َ ِ َ ِ ِ ْ ُ ْ َّ َ َ َ   َ َ ِ ََ ُْ ُ ْ ََ
                                        ِ ِّ ِ َ َ َّ ُ َ ِ
                                        ‫ب ا هلل و سنة نبيه‬  َ
Artinya: “Aku tinggalkan dua pusaka
    untukmu sekalian, yang kalian tidak
    akan              tersesat       selagi              kamu
    berbegang teguh paada keduanya,
    yaitu berupa kitab Allah dan Sunnah
    Rasul-Nya (HR Malik)
   Kesepakatan Ulama (Ijma’)

Seluruh     umat   Islam   telah    sepakat
menjadikan hadits sebagai salah satu
dasar hokum Syari’at Islam yang wajib
diikuti dan diamalkan, karena sesuai
dengan yang dikehendaki oleh Allah.
Penerimaan mereka terhadap hadits
seperti penerimaan mereka terhadap Al-
Qur’an, karena keduanya sama-sama
   dijadikan sebagai sumber Syariat Islam
 Sesuai dengan Petunjuk Akal

Nabi Muhammad dalam mengemban
misalnya kadang-kadang
menyampaikan apa adanya sesuai
yang beliau terima, kadang
menggunakan logika yang disertai
bimbingan wahyu dari Tuhan.
B. Fungsi Hadits Terhadap Al-
    Qur’an
  1. Bayan At-Taqrir
Disebut juga Bayan Al Ta’kid dan Bayan al-Itsbat. Adalah
mempekuat dan mengkokohkan apa yang telah diterangkan
dalam Al-Qur’an.
Contohnya:
Hadits yang diriwayatkan Muslim dari Ibnu Umar, yang
berbunyi;
                       ‫َا ذ ل َ اَ يتم ا لهال ل َ فصو مو ا و ا ز ا ر أَ ْيتمو هُ فأ َ فطِ ل ُ ا‬
                               ْ َ        ُُ          َ ِ َ     ُ ُ َ             ُ ُُ     َ ِ‫ف‬
Artinya: “Apabila kalian melihat (Ru’yah) itu berbukalah”.
(HR.Muslim)
Hadits diatas datang men-taqrir ayat Al-Qur’an:
                                                               ُ ْ ُ َ ْ َ ْ َّ ُُ ِ َِ َ ََ
                                                               ‫فمن شهر م ْنكم ا لشهل َ فليثمه‬
Artinya: “Maka barang siapa yang mempersaksikan pada waktu
itu Bulan, hendaklah ia berpuasa (Q.S. Al-Baqarah (2): 185)
         2. Bayan At-Tafsir

Berfungsi untuk memberikan
penjelasam, rincian dan tafsiran ayat-
ayat Al Qur’an yang bersifat umum.
Misalnya perintah melaksanakan
shalat, puasa, zakat yang masih
bersifat mujmal kemudian Rasulullah
menggunakan haditsnya memberikan
penjelasan dan memberikan contoh-
contohnya.
       3. Bayan At-Tasyri’

Adalah memunculkan suatu
hokum/ajaran-ajaran yang tidak didapati
dalam Al-Qur’an atau dalam Al Qur’an
hanya pokok-pokoknya saja.
Misalnya hadits tentang haramnya
mengumpulkan dua wanita bersaudara
(antara istri dengan bibinya), hokum
syuf’ah, hokum tentang hak waris bagi
seorang anak.

								
To top