Data Investasi Asing Di Indonesia PERKEMBANGAN KERJASAMA BILATERAL

Document Sample
Data Investasi Asing Di Indonesia PERKEMBANGAN KERJASAMA BILATERAL Powered By Docstoc
					PERKEMBANGAN KERJASAMA BILATERAL INDONESIA-INDIA
DI BIDANG PERTANIAN



I. LATAR BELAKANG

  Dasar hubungan kerjasama teknik bidang pertanian antara Republik Indonei-India
  adalah :

  Memorandum of Understanding on Agricultural Cooperation (MOU), yang
  ditandatangani oleh Menteri Muda Pertanian Dr. Syarifuddin Baharsyah dan Minister of
  State in the Minister of Agriculture H.E. Mr. Rama Chandran tanggal 201 Februari
  1992. Catatan MOU, berdasarkan artikel IX MOU, maka perjanjian tersebut sudah
  berakhir pada tanggal 20 Februari 1999 (5 tahun secara otomatis perpanjangan).

  Sebagai tindak lanjut dari MOU tersebut telah diadakan SOM (Senior Official Meeting)
  ke I di Jakarta tanggal 19-21 Januari 1995. Dimana komponen-komponen kerjasama
  yang tertuang dalam MOU article I antara lain pertukaran tenaga ahli, kerjasama
  penelitian, study visit, joint venture, pertukaran germ plasm dan lain-lain yang
  dituangkan dalam action plan.

  Dalam kerjasama tersebut disepakati mekanisasi pelaksanaan mengacu kepada
  struktur :

  "Working Group" (antara lain : fisheries, horticulture, dll)
  "Senior Official Meeting"
  "Ministrial Meeting (bersidang 1 X dalam setahun bergantian di Indonesia dan India)



II. REALISASI KERJASAMA DAN HAMBATAN-HAMBATANNYA

  Dalam mewujudkan pelaksanaan kerjasama bilateral bidang pertanian Indonesia-
  India masih mengalami beberapa kendala, antara lain :

  1.   Berdasarkan Article IV MOU menyebutkan bahwa "Sending Party" akan
       membayarkan sendiri ticket dan transportasi, sedangkan "Receiving Party"
       menanggung semua biaya yang dikeluarkan selama program kerjasama
       berlangsung. Hal ini tergantung dari ketersediaan dana masing-masing pihak

  2.   Dilihat dari struktur penganggaran di Indonesia hal tersebut belum pernah
       disetujui "BAPPENAS" dan Departemen Keuangan" dalam penyediaan
       anggaran rutin (APBN) untuk "Roundtrip Ticket" bagi pejabat Indonesia maupun
       menyiapkan anggaran bagi penerimaan tamu dari luar negeri.

  3.   Mengingat periode waktu MOU telah berakhir pada tanggal 20 Februari 1995 (5
       tahun + 2 tahun) maka diusulkan perlu amandement MOU khususnya article IV
       dan pembatasan ruang kerjasama article I.




                                                                                        1
4.   Peluang Pembahasan Kerjasama dan Solusii Pemecahannya adalah:

     a. Sesuai resipokal pelaksanaan kerjasama bilateral, maka SOM ke I
        dilaksanakan di Indonesia pada tanggal 19-21 Januari 1995, dan sesuai
        dengan kesepakatan SOM, maka sidang Ministerial Meeting akan dilaksanakan
        di India.
     b. Mengingat point 4 tersebut diatas, yang secara teknis cukup berat bagi
        Indonesia sehingga sampai saat ini Ministerial Meeting belum terlaksana.
     c. Untuk itu kemungkinan melakukan amandement dan addendum dari MOU
        1992 dapat saja diusulkan.

     Mengingat keuangan kedua negara sangat terbatas dalam mendanai program ini,
     maka satu-satunya solusi adalah mencarikan sumber pendanaan pihak ke II
     (donor).

     Untuk merealisasikan kerjasama bilateral Indonesia-India di bidang pertanian,
     pada tanggal 11 Januari 2001, di Jakarta, telah ditandatangani "Work Plan Under
     Memorandum of Understanding Between The Government of the Republic of
     Indonesia and the Government of the Republic of India on Agricultural
     Cooperation", yang masing-masing dilakukan oleh Mr. Nelson P. Hutabarat,
     Sekretaris Jenderal Dep. Pertanian (mewakili pihak Indonesia) dan Mr. Bhaskar
     Barua, Sekretaris Departemen Kerjasama Pertanian (mewakili pihak India).

     Didalam "Work Plan" tersebut telah disepakati kerjasama di bidang pertanian kedua
     negara (Indonesia-India), secara lengkap masing-masing sebagai berikut :

     i. Government of India to offer to Government of Indonesia :

     (A). Wheat (Gandum)

          1. Supply of varieties by the Directorate of Wheat Research (DWR)
             fortesting in Indonesia for their suitability;
          2. Training of two Experts of Indonesia for 10 days in India by the DWR in
             variety testing & evaluation;
          3. Training on Seed Production techniques by DWR and State Farms
             Corporation of India (SFCI) for two Indonesians for two months in India
             during crop flowering period;
          4. Production technology in Wheat by sending two Indian Experts for 5-6
             months to Indonesia for raising/testing wheat crop under their
             conditions;

     (B). Soybean (Kedele)

          1. Supply of Soybean varieties to Indonesia for their suitability by National
             Research Center for Soybean (NRCS);
          2. Training to two Indonesians in India for two months in the production of
             seed by NRCS/SFCI;
          1. Exchange of experts from India to Indonesia and vice-versa for 10 days
             on the study for production technology;

                                                                                     2
(C). Sugarcane (Gula tebu)

       1. Supply of varieties to Indonesia for their suitability;
       2. Training on variety testing, clean seed production through tissue culture
          by Sugarcane Breeding Institute to two experts from Indonesia in India for
          two months;
       3. Exchange of experts on production technology, machinery etc. by sending
          two experts from India to Indonesia and vice-versa is for 10 days;
       4. Training on harvesting and processing of sugarcane in sugar mills
          including functioning of co-operative mills and use of by-products by the
          Central Institute of Sugarcane Research and Directorate of Sugarcane
          Development to two Indonesians for 10 days;


(D).    Pond, Reservoir and Ground Water Recharge
        3. Training on watershed development in India including visit to model
           watershed for 15 days by Central Soil and Water Conservation
           Research and Training Institute;
        4. Training of four Indonesians in India for 10 days on the efficient
           utilization of water through micro-irrigation system like sprinkler, drip
           irrigation;
        5. Consultancy in implementation og minor irrigation projects in Indonesia;


(E).   Agriculture Management
        Training of two Indonesian experts for 10 days in India on Agriculture
        Management by National Institute of Agricultural Extention Management
        (NAARM);
(F).   Production and use of Hybrid Seeds of Rice and Maize

        On the request made by the Government of Indonesia for specific
        information about availability of hybrids and maize both in public and private
        sector, the required information will be collected and communicated;


ii. Government of Indonesia to offer to Government of India :

       1.   Supply of varieties of paddy, maize, soybean and sugarcane for their
            suitability;
       2.   OIL PALM TECHNOLOGY AND COCONUT PROCESSING,Training
            of two Indian experts in Indonesia each for Oil Palm technology and
            Coconut Processing for 10 days;
       3.   RICE CULTIVATION INCLUDING INTEGRATED PEST
            MANAGEMENT (IPM), Training of two Indian experts in Indonesia for
            three months;
       4.   ACID SOIL MANAGEMENT. Exchange visit of two experts from India to
            Indonesia and vice-versa for 10 days on acid-soil management and
            suggest remedial measures for the management of acid-soil;



                                                                                    3
             5.   EXCHANGE OF            EXPERTS          MENTIONED AGAINST SERIAL
                  NUMBER 1 OF THE WORK PLAN, The items mentioned against Serial
                  Number B (iii) and C (iii), in respect of para 1 of the Work Plan;


     iii.   The Contracting Parties         may      by mutual consent, add to, amend or
            delete any provision of the Work Plan;
     iv.    The sending Contracting Party will bear the cost of air transport and the
            receiving Contracting Party will provide local hospitality for persons deputed
            under the Work Plan as per the financial arrangements indicated in Article IV of
            the MOU;
     v.     For accomplishing the exchange of visits, the sending Contracting Party
            shall inform the receiving Contracting Party at least 90 days in advance of the
            proposed visits. The receiving Contarcting Party shall inform the sending
            Contracting Party not later than 60 days after receipt of notice of the visit, its
            decision on acceptance of the nominees;
     vi.    The Work Plan shall take effect upon signing and shall remain in force up
            to December 31, 2002 unless sooner terminated, modified or extended by
            mutual agreement;


III. PELUANG KERJASAMA

  India memiliki pasar yang besar, sumber alam yang kaya, sumber daya manusia
  yang memiliki keahlian, teknologi yang maju dan kelas menengah yang cukup besar.

  3.1.      Kerjasama Teknik
            Sejak ditandatanganinya Memorandum of Understanding on Agricultural
            Cooperation tanggal 20 Pebruari 1992 telah diadakan Senior Official Meeting
            (SOM) ke-1 di Jakarta pada tanggal 19 – 21 Januari 1995. Pertemuan ini
            merupakan upaya untuk melakukan pertukaran tenaga ahli, kerjasama
            penelitian, study visit, joint venture dan pertukaran plasma nutfah (germ
            plasm).

            Kerjasama teknik ini diperkuat dengan penandatanganan “Work Plan” di
            bawah MOU tersebut pada tanggal 11 Januari 2001 untuk tahun 2001/2002.

            Dasar kerjasama teknik di atas, menunjukkan keseriusan dan keinginan
            kedua belah pihak untuk saling mengambil manfaat. Indonesia sangat
            berpeluang untuk lebih mengupayakan terjadinya transfer teknologi dan
            informasi dalam budidaya tanaman tropik (khususnya lahan kering), farming
            system, community development, water management, data base system dan
            genetic engineering. Hal ini mengingat India memiliki banyak tenaga ahli
            yang bekerja profesional di bidang pertanian pada organisasi-organisasi
            internasional.

            Kerjasama teknik ini juga diharapkan dapat membantu meningkatkan
            promosi dan pemasaran produk pertanian Indonesia ke India, khususnya
            kacang mete, buah-buahan, kopi, the, cokelat dan rempah-rempah


                                                                                            4
   (khususnya lada). Selain itu diharapkan kerjasama ini dapat dimanfaatkan
   dalam membangun industri alat mekanisasi pertanian di Indonesia;
   mengingat India mempunyai kelebihan dalam penguasaan teknologi logam
   dan peralatan berat. India diharapkan juga dapat membantu “reconditioning”
   industri gula Indonesia, dan dalam tahap berikutnya untuk komoditas kedelai
   dan kapas.

3.2. Kerjasama Perdagangan dan Investasi

   Neraca perdagangan kedua negara menunjukkan peningkatan dan surplus
   bagi Indonesia dalam lima tahun terakhir (1995 – 2000). Komoditas pertanian
   Indonesia yang memanfaatkan pasar India adalah buah-buahan dan
   kacang-kacangan (US $ 39,631,993), kopi (US $ 1,929,472), teh (US $
   6,557,033), lada (US $9,261,541) dan makanan ternak (US $3,629,310).

   Ekspor Indonesia diharapkan terus mengalami peningkatan pada masa
   mendatang, mengingat India merupakan pasar baru untuk produk pertanian.
   Indonesia perlu meningkatkan promosi dagang, kunjungan dagang,
   mendorong terjadinya “joint venture” dan menarik investasi teknologi dari
   India. Selain itu perlu dibangun sistem perdagangan kedua negara dengan
   “counter trade”. Indonesia dapat memanfaatkan keunggulan India dalam
   komoditas kedelai dan beras.

   Kedua negara merupakan penghasil dan pengekspor komoditas pertanian
   yang sama. Kerjasama bilateral kedua negara diarahkan untuk membangun
   promosi dan pasar perdagangan internasional bersama agar didapat
   keuntungan yang maksimal. Sebagai contoh adanya arah kebijakan yang
   sama dalam mempertahankan harga pasar kopi dunia.

   Guna mengatasi keengganan (reluctant) di kalangan pengusaha Indonesia
   untuk mengadakan kontak dagang/investasi dengan pengusaha India, pihak
   pemerintah kedua negara perlu memfasilitasi swasta dalam bentuk jaminan
   pemerintah kedua negara, menyertakannya dalam pertemuan-pertemuan
   bilateral, menyelenggarakan pameran dagang bersama dan adanya
   memorandum kesepakatan bersama (MOU) antar KADIN Indonesia dan
   India. Selain itu kedua negara perlu menetapkan kemudahan peraturan
   ekspor-impor pada berbagai komoditas.
   Dalam membangun kerjasama bilateral, Indonesia diupayakan dapat
   memanfaatkan peluang kerjasama untuk menarik investasi bidang pertanian
   dari negara partner. Investasi asing di Indonesia dijamin dengan Undang-
   Undang No. 1 Tahun 1967 dan investasi sektor pertanian diatur dengan
   Keputusan Presiden No. 118 Tahun 2000.
   Investasi asing sektor pertanian dan industri makanan yang telah disetujui
   Pemerintah Indonesia secara umum mengalami peningkatan dan berfluktuasi
   dari tahun 1996 s/d 2000. Besarnya perkembangan investasi yang telah
   disetujui BKPM dapat dilihat pada Tabel berikut:




                                                                            5
       Tabel 1. Perkembangan Investasi Sektor Pertanian dan Industri Makanan Tahun
                1996-2000 Yang Telah Disetujui BKPM.

                                                                      (US$ Million)
        Tahun                  Sektor Pertanian                           Industri
                                                                         Makanan
                Tanaman    Peternakan    Perkebunan       Perikanan
                 Pangan
        1996        52,2         86,0        1.168,1           79,8           691,4
        1997       234,4           1,8            200,4        27,1           572,8
        1998       224,4         15,4             725,4        33,0           342,0
        1999        80,6         48,3             283,8        69,7           680,9
        2000       311,3         18,4              59,1        49,5           701,0

       Kerjasama bilateral bidang pertanian pada masa mendatang diharapkan dapat
       memanfaatkan peluang investasi asing di Indonesia, baik untuk tanaman
       pangan, hortikultura, peternakan dan perkebunan. Adapun jenis komoditas,
       bidang investasi dan lokasi yang dapat dipromosikan secara bilateral dalam
       menarik investasi asing tersebut dapat dilihat pada Tabel Lampiran 3.



3.3.   Pembukaan Kantor Atase Pertanian
       Pengaruh India dalam forum internasional bidang pertanian, besarnya peluang
       pasar produk pertanian dan kedekatan akses terhadap negara-negara Asia
       Selatan dan Tengah, perlu dimanfaatkan Indonesia untuk membangun
       kerjasama internasional bidang pertanian dan pasar produk pertanian sekaligus
       menempatkan posisi tawar diplomasi Indonesia lebih baik di mata negara lain.

       Guna meningkatkan meningkatkan transfer teknologi, promosi perdagangan,
       investasi dan hubungan diplomasi internasional bidang pertanian perlu adanya
       Kantor Perwakilan/Atase Pertanian di New Delhi-India.


IV.    UPAYA PENINGKATAN KERJASAMA BILATERAL DIBIDANG PERTANIAN.

       A. KUNJUNGAN DALAM RANGKA “BILATERAL TALK/MEETING”

       Kunjungan Menteri Pertanian RI ke New Delhi, India, tanggal 13 - 16 Mei
       2002

       Sebelum menghadiri Konferensi FAO Regional Wilayah Asia-Pasifik di
       Katmandu, Nepal, Menteri Pertanian melakukan kunjungan kerja ke India
       dengan mengikutsertakan pihak swasta untuk memenuhi undangan Mr. Ajit
       Singh, Menteri Pertanian India. Kunjungan kerja tersebut berlangsung pada
       tanggal 13 - 15 Mei 2002 dengan tujuan untuk meningkatkan kerjasama bilateral
       di bidang pertanian.

       Pada kesempatan tersebut, berlangsung pertemuan dengan Menteri Pertanian
       India, Mr. Ajit Singh dan Minister of State for Agriculture Mr. Hukumdeo Narayan
       Yadav. Acara lain adalah mengunjungi beberapa Lembaga Penelitian Pertanian


                                                                                      6
       yang merupakan salah satu kunci keberhasilan India dalam pembangunan
       pertaniannya.


V.   PROFIL NEGARA REPUBLIK INDIA.

        Negara Republik India merupakan negara UNI terbagi atas 28 negara
           bagian yang masing-masing diperintah oleh Chief Minister (dari Partai yang
           memenangkan Pemilu) dan Gubernur yang dipilih pemerintah pusat.
          Jumlah penduduk India, 1.027.015.247 (berdasarkan sensus penduduk Mei
           2001), selama 10 tahun (1991-2001). Penduduk India bertambah 181 juta.
           Rata-rata pertumbuhan 1,71 % per tahun. Tiga kota terpadat adalah
           Calcutta, Chenai dan Mumbai. Rata-rata harapan hidup 63 tahun.
          Indikator Ekonomi, pertumbuhan ekonomi 2001-2002 : 5,4% pertahun.
           Pendapatan per kapita sekitar US $ 450 (data Bank Dunia), pertumbuhan
           rata-rata per tahun sektor pertanian 2,1 %, Industri 4,5%. Cadangan devisa
           sampai dengan akhir tahun Januari 2002 : US $ 46,561 milyar, Nilai tukar
           terhadap US $ pada Januari 2002 adalah Rs.48,33 (Maret 2001 : Rs.
           46,62). FDI yang mendapat persetujuan 1991 s/d 2001 sekitar US $ 72,98
           milyar. FDI yang direalisir US $ 26,89 milyar (36,85 %), hutang luar negeri
           s/d akhir Maret 2001 mencapai US $ 100,3 milyar (akhir Maret 2000 : US $
           98,2 milyar) perbandingan dengan GDP 22,3 %; DSR : 17,1 %; dan jumlah
           hutang jangka pendek 3,5 %. Tahun 2000 – 2001 ekspor mencapai US $
           50,536 milyar (meningkat 9,2 %).
          Defisit perdagangan US $ 5,976 milyar (turun 53,49 %), data-data lainnya
           2001 – 2002 : Produksi pangan : 209,2 juta ton (2000 – 2001 : 195,9 juta
           ton).
          Upaya peningkatan hubungan Bilateral Indonesia – India ditandai dengan
           kunjungan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid ke India pada bulan Pebruari
           2000, kemudian kunjungan Perdana Menteri India A.B. Vajpayee pada
           bulan Januari 2001, beberapa kesepakatan Kerjasama Bilateral
           ditandatangani termasuk Work Plan kerjasama bidang pertanian tahun 2000
           – 2002. Peristiwa penting lain adalah kunjungan Presiden Wegawati
           Soekarno Putri ke India pada tanggal 1 – 5 April 2002. Peningkatan
           hubungan kedua negara ditandai pula dengan penandatanganan 12 (dua
           belas) MoU termasuk kerjasama antar swasta kedua negara. Presiden RI
           dan pejabat India selalu bicara keinginan untuk mengkongkritkan kerjasama
           bilateral berdasarkan kedekatan hubungan social budaya, sejarah, politik
           dan geografis.
          Selama tahun fiskal 2000 – 2001 India secara intensif melakukan reformasi
           ekonomi yang meliputi sektor jasa khususnya teknologi informasi;
           perdagangan luar dan dalam negeri; sektor keuangan; serta sektor
           pariwisata. Dalam sektor IT pemerintah membentuk pokja agar dapat
           menangani dengan cepat reformasi sektor IT. Pemerintah sangat
           memperhatikan aspirasi kelompok-kelopok dalam masyarakat yang tidak
           menghendaki liberalisasi ekonomi India terlalu cepat dan tanpa batas.
           Dengan demikian, kebijaksanaan liberalisasi ekonomi dilaksanakan dengan
           sangat hati-hati.




                                                                                    7
         Dalam bidang perdagangan Pemerintah India sering menuduh negara-
          negara berkembang (termasuk Indonesia) melakukan Dumping dalam
          usahanya melindungi industri dalam negeri. Demikian pula mekanisme
          penghitungan pajak impor masih berbelit-belit, sering berubah dan tidak
          seragam antara negara-negara bagian serta cenderung menghasilkan total
          bea masuk akhir yang tinggi.
         Kekuatan ekonomi India adalah pondasi ekonomi yang kuat, relatif terisolasi
          dari ekonomi dunia, sektor pertanian yang berdaya tahan tinggi dan
          mempunyai tenaga kerja yang terdidik dan terampil yang sangat banyak.
          Perekonomian India mempunyai kesempatan luas pada industri yang
          berbasiskan IPTEK, sektor jasa dan pertanian.


VI.    Perdagangan dengan Indonesia.

       Dalam tahun 2000 (Januari - September) total perdagangan dari kedua negara
       tercatat sebesar US $ 1.072,35 juta, dalam periode yang sama tahun 2001 turun
       menjadi US $ 964,46 juta (turun sekitar 10.06%). Selanjutnya bila dilihat dari segi
       neraca perdagangan kedua negara, dalam periode 5 tahun terakhir terlihat defisit
       perdagangan selalu pada pihak India sebagai akibat terjadinya peningkatan
       impor yang selalu lebih besar dari peningkatan ekspor.

       Komoditi impor dari Indonesia ke India antara lain batubara, briket, CPO, karet
       mentah dan sintetis, barang-barang kayu dan produk kayu, kimia anorganik,
       kopi, teh, coklat, rempah-rempah, serat textil, pulp dan kertas serta minyak dan
       lemak nabati, dll.
       Komoditi ekspor utama India ke Indonesia terdiri dari grount nut, Oil Meal,
       inorganic/organic/agrochemical, pelastik, machinery instruments, transport
       equipment, iron & steel, cotton yarn, drugs, pharmaceutical, processed fruit &
       juices, dll.

VII.   Kebijakan Nasional di Sektor Pertanian

       Kebijakan Nasional Pertanian telah diumumkan Pemerintah India pada bulan Juli
       2000. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengaktualisasikan potensi besar yang
       belum tergarap dari sektor pertanian India. Kebijakan tersebut antara lain
       mengindikasikan situasi ketidakcukupan modal, kurangnya dukungan
       infrastruktur, pola pertumbuhan budidaya India yang belum merata dan
       gambaran pertanian sebagai suatu profesi yang tidak menjanjikan.

       Dalam konteks integrasi perdagangan produk pertanian dalam sistem global,
       tindakan korektif yang segera, perlu diambil dengan cara membentuk ekonomi
       pertanian untuk menjamin ketersediaan pangan dan nutrisi bagi jutaan penduduk
       India dan untuk memproduksi bahan-bahan mentah untuk mendukung perluasan
       industri dan surplus untuk ekspor.

       Suatu sistem penghargaan yang merata dan adil bagi masyarakat pertanian
       terhadap pelayanan yang mereka berikan akan menjadi suatu reformasi yang
       paling penting dalam sektor pertanian.




                                                                                        8
        Dalam kurun waktu dua dekade yang akan datang, pencapaian yang
        diharapkan dari kebijakan tersebut adalah :

        1. Laju pertumbuhan pertahun sektor pertanian diatas 4 %.
        2. Pertumbuhan yang didasarkan atas efisiensi dalam pemakaian
           sumber daya serta kelestarian tanah, air dan keragaman biologi.
        3. Pemerataan pertumbuhan.
        4. Pertumbuhan yang dikendalikan oleh permintaan.
        5. Pertumbuhan yang berkelanjutan secara teknologi, lingkungan dan ekonomi.

        Untuk mencapai tujuan-tujuan diatas, diharapkan bahwa kebijakan tersebut akan
        memperoleh dukungan penuh dari semua komponen masyarakat dan
        diharapkan akan membawa pada perkembangan sektor pertanian yang
        berkelanjutan.

        Dalam Kebijakan Nasional untuk Pertanian dicakup dan diuraikan pula :

        i.      Sustainable Agriculture
        ii.     Food and Nutritional Security
        iii.    Generation and Transfer of Technology
        iv.     Inputs Management
        v.      Incentives for Agriculture
        vi.     Investments in Agriculture
        vii.    Institutional Structure
        viii.   Risk Management
        ix.     Management Reforms


VIII.   SKILAS MENGENAI STRUKTUR KEMENTERIAN PERTANIAN INDIA

        Sebagai gambaran struktur organisasi Kementrian Pertanian adalah sebagai
        berikut :

        Dibawah Kementrian Pertanian di tingkat pusat (Ministry of Agriculture,
        Government of India) terdapat 3 (tiga) departemen yang masing-masing
        dikepalai oleh seorang Secretary, yaitu Department of Agriculture and
        Cooperation; Department of Agricultural Research and Education; dan
        Department of Animal Husbandry and Dairying.

        Secretary Department of Agricultural Research and Education juga merangkap
        sebagai Director General of Indian Council of Agricultural Research (ICAR) yang
        merupakan umbrella seluruh lembaga litbang pertanian lembaga pendidikan
        pertanian pemerintah.

        Secretary Department of Agriculture and Cooperation bertindak pula sebagai
        Principal Adviser Menteri Pertanian dalam semua hal yang berkaitan dengan
        kebijakan dan administrasi. Dibawah departemen ini terdapat pula suatu komisi
        yang berperan penting yaitu Commission for Agricultural Cost and Prices
        (CACP).




                                                                                     9
      Masing-masing negara bagian (state) memiliki State Minister (dari partai yang
      menang) dengan struktur yang disesuaikan dengan state masing-masing.


IX.   Pokok-pokok hasil kunjungan kerja Menteri Pertanian

      Dalam acara kunjungan kerja ke India, Menteri Pertanian bertemu dengan
      Menteri Pertanian India, Mr. Ajit Singh, Perwakilan APEDA (Agricultural and
      Food Product Export Development Authority) dan berkesempatan melakukan
      kunjungan ke beberapa lembaga penelitian dan pengembangan pertanian India
      yaitu Lembaga Penelitian Pertanian India di New Delhi, Lembaga Penelitian
      Gandum dan Lembaga Penelitian Susu Nasional di Karnal. Lembaga-lembaga
      penelitian ini berada dibawah ICAR, Kementrian Pertanian India.

      Bahwa dalam rangka peningkatan produksi pertanian secara nasional, India
      terus berupaya memperluas areal tanam baik melalui pemanfaatan arel yang
      berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian maupun peningkatan intensitas
      tanam. Upaya tersebut merupakan salah satu bentuk “Politcal Will” pemerintah
      yang diimplementasikan dalam bentuk pembangunan sarana-sarana publik yang
      dapat mendukung produksi pertanian.

      Dalam rangka mendukung produksi berbagai komoditas pertanian, maka
      program pembibitan berperan penting dan dijadikan salah satu aspek utama
      dalam pembangunan pertanian di India. Program pembibitan tersebut meliputi
      dua aspek pokok, yaitu : (a) Identifikasi dan koleksi plasma nuftah baik yang
      berasal dari dalam maupun luar India, dan (b) Rekayasa genetika dan pemuliaan
      untuk menghasilkan bibit secara spesifik wilayah (agroekologi). Program ini
      menjadi agenda utama berbagai lembaga penelitian di India, khususnya yang
      berkaitan dengan komoditas pangan.

      Lembaga-lembaga penelitian di India bersifat sangat fleksibel baik dalam struktur
      organisasi maupun pola penelitian. Mereka membuat struktur organisasi
      penelitian atas dasar aspek apa yang perlu didukung untuk mensukseskan
      pembangunan pertanian India. Sebagai contoh, karena program pemenuhan
      kebutuhan pangan berupa gandum merupakan sasaran utama pembangunan
      pertanian, maka lembaga penelitian gandum menduduki hierarki yang cukup
      tinggi dalam struktur organisasi penelitian (setara eselon II di Indonesia).
      Demikian pula dengan lembaga penelitian susu.

      Dalam rangka menghadapi perdagangan bebas dunia, khususnya dalam
      perdagangan bahan pangan, India lebih memilih strategi pemenuhan kebutuhan
      pangan yang berasal dari dalam sendiri. Hal ini terlihat jelas dari program jangka
      panjang pertanian India (proyeksi 10 tahun ke depan) yang lebih terfokus pada
      pemenuhan kebutuhan pangan penduduknya. Target tersebut mendapat
      dukungan penuh pemerintah yang tercermin dari posisi penting kementerian
      pertanian dalam struktur kabinet di India.

      Dari peninjauan ke beberapa lembaga penelitian dan pengembangan pertanian
      India, diperoleh gambaran tentang kemajuan inovasi teknologi pertanian yang
      didukung oleh adanya investasi yang nyata dibidang perangkat lunak dan
      perangkat keras. Lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan pertanian


                                                                                     10
tersebut berada dalam manajemen dan pembinaan dari “Indian Council for
Agriculture Research (ICAR)” dalam lingkup Kementerian Pertanian India.

Keberhasilan India dalam pengorganisasian lembaga penelitian pertanian
merupakan bahan perbandingan bagi Indonesia. Keterkaitan antara riset,
edukasi dan penyuluhan yang kuat mempercepat proses adopsi teknologi oleh
para petani. Proses adopsi teknologi pertanian tersebut sangat difasilitasi oleh
pemerintah antara lain melalui penyediaan insentif bagi petani, penyediaan
sarana pertanian, pengembangan infrastruktur dan transpor serta penyediaan
sistem pergudangan bagi produk yang dihasilkan para petani.

Pemerintah India memberikan perhatian besar untuk pengembangan sub sektor
persusuan yang dikenal dengan “white revolution”. India adalah negara produsen
susu terbesar dunia, selama tahun 2000 – 2001 India menghasilkan 81 juta ton
susu. Pada kesempatan mengunjungi komplek lembaga penelitian dan
pendidikan pengembangan susu di Karnal, Menteri Pertanian terkesan dengan
fasilitas yang dimiliki lembaga tersebut dan biaya pendidikan yang relatif murah
sehingga dapat dijadikan salah satu alternatif tujuan dan tempat pendidikan bagi
Kepala Sekolah Pertanian dari Indonesia.

Berkaitan dengan kebijakan India mengenai biotechnology, diperoleh penjelasan
bahwa India telah mulai merancang pengembangan biotechnology sejak 14
tahun yang lalu. Kebijakan India terhadap biotek adalah terbuka untuk transgenic
dan mempelajarinya case-by-case, biotechnology berada dibawah Kementerian
Science dan Technology.

Dalam pertemuan dengan Menteri Pertanian India diperoleh kesamaan
pandangan tentang perlunya peningkatan peran pihak swasta dalam kerjasama
bilateral di bidang pertanian. Langkah yang ditempuh adalah dengan
memberikan dukungan dalam peningkatan perdagangan yang selanjutnya
diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kegiatan kerjasama bilateral,
antara lain untuk pendidikan, pelatihan dan penelitian, dimana pada hakekatnya
akan mendukung kepentingan pihak swasta yang bersangkutan.

Berkaitan dengan kerjasama di forum multilateral, telah dibahas perlunya dijalin
kerjasama yang lebih erat diantara Indonesia, China dan India, yaitu mengingat
posisinya tidak hanya sebagai negara eksportir tetapi juga memiliki potensi pasar
yang sangat besar. Apalagi kerjasama tiga negara ini dapat ditingkatkan,
diharapkan mampu memperkuat posisi di forum multilateral.

Dalam kesempatan menerima pejabat dari APEDA diutarakan bahwa pihak
India berkeinginan untuk mengekspor daging ke Indonesia. Secara lugas Menteri
Pertanian mengatakan bahwa Indonesia konsisiten dan harus menjaga
statusnya sebagai negara yang bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Mengingat status India belum bebas PMK permintaan tersebut belum dapat
dipenuhi Indonesia. Dengan kendala tersebut, pihak Indonesia mengusulkan
agar India mengalihkan ke komoditas lain yang berpotensi di ekspor ke
Indonesia seperti gandum. Selanjutnya pihak Indonesia mengusulkan juga agar
India berupaya keras untuk memperoleh status sebagai negara bebas FMD dan
belajar dari pengalaman Indonesia.



                                                                              11
     Dalam kesempatan kunjungan kerja ini, Menteri Pertanian dan Duta Besar RI
     menyaksikan penandatanganan naskah kesepakatan antara swasta kedua
     negara yaitu P.T RUTAN dan Triveni Engineering & Industries Ltd dalam hal
     “Establishment Mutually Beneficial Long Term Relationship in the field of
     Steam/Gas Turbines and Sugar Plant and Machinery”.

     Disamping itu dilakukan pula penjajagan kerjasama mengenai aplikasi teknologi
     informasi dalam pengembangan agribisnis, antara National Institute for
     Information Technology (NIIT) India dengan DEL Foundation, suatu Lembaga
     Pendidikan Informatika di Sumatra Utara.

     Menteri Pertanian berkesempatan pula diwawancarai oleh media masa (cetak
     dan elektronik) pada waktu kunjungan ke Karnal. Menteri Pertanian menjelaskan
     kunjungan kerja tersebut antara lain adalah upaya peningkatan kerjasama
     bilateral di sektor pertanian sebagai tindak lanjut kunjungan kenegaraan
     Presiden RI ke India April 2002 yang lalu. Dalam wawancara ditanyakan pula
     antara lain kemungkinan pengembangan kelapa sawit di India yang dalam hal ini
     dijelaskan oleh Menteri Pertanian terbukanya peluang tersebut dimana Indonesia
     dapat mensuplai bibit, teknologi dan tenaga ahli.


X.   LANGKAH-LANGKAH TINDAK LANJUT

     Kunjungan Kerja Menteri Pertanian ke India dapat diartikan pula sebagai tindak
     lanjut setelah kunjungan kenegaraan Presiden RI ke India, April 2002. Acara
     yang diliput dalam kunjungan kerja Menteri Pertanian banyak ditekankan pada
     aspek penelitian dan pengembangan pertanian di India.

     Dari uraian laporan hasil kunjungan kerja Menteri Pertanian tersebut, diharapkan
     dapat memberikan masukan yang berarti terutama berkaitan dengan upaya
     peningkatan penelitian dan pengembangan pertanian Indonesia.

     Dengan keterbatasan pemerintah, misalnya dalam hal pembiayaan, sudah tiba
     waktunya untuk lebih meningkatkan peran swasta terkait, dimulai dengan upaya
     peningkatan perdagangan. Selanjutnya diharapkan dapat memberikan kontribusi
     terhadap kegiatan kerjasama bilateral, antara lain untuk pendidikan, pelatihan
     dan penelitian, dimana pada hakekatnya akan mendukung kepentingan pihak
     swasta yang bersangkutan.

     Beberapa hal yang potensial untuk dikerjasamakan dengan India antara lain : (a)
     penelitian, (b) training, (c) perdagangan, (e) investasi, dan (f) diplomatic
     internasional. Diharapkan pemerintah kedua negara terus mendorong peran
     swasta dalam mengisi beberapa hal yang potensial untuk dikerjasamakan
     tersebut.




                                                                                  12
PERKEMBANGAN KERJASAMA BILATERAL DI BIDANG PERTANIAN


Tindak lanjut dari “Work Plan” Kerjasama Bilateral Bidang Pertanian RI-India, yang
ditandatangani pada tanggal 11 Januari 2001.

Sebagai implementasi dari para 1 (B) dari “Work Plan”, pada tanggal 21 s/d. 30 Agustus
2002 telah datang seorang tenaga ahli India, yakni DR. O.P. Yoshi, Acting Director
National Research Center for Indore India.

Program kunjungan telah diatur oleh Direktorat Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian,
Ditjen. BP. Tanaman Pangan, antara lain :

Melakukan kunjungan dan diskusi dengan beberapa Institusi Pemerintah, swasta serta
petani yang terkait dalam pengembangan kedele di Indonesia .

Pada akhir kunjungannya di Indonesia, Dr. O.P. Joshi telah melakukan kegiatan seminar
“Hasil Kunjungan selama di Indonesia dan Pengembangan Kedele di India”          yang
dipimpin oleh Dr. Tahlim Sudaryanto, Sekditjen BP. Tanaman Pangan, dan dihadiri oleh
+ 35 orang dari berbagai instansi pemerintah dan swasta terkait.


Dari hasil kunjungan dan diskusi-diskusi serta seminar, dapat dismpulkan sebagai
berikut :

1      Pengembangan Kedele di India.

       Dimulai pada tahun 1970 dengan areal 300.000 ha dan produktivitas 430 kg/ha,
       pada saat ini setelah 30 tahun luas areal kedele telah mencapai 6 juta ha dengan
       produktivitas 1,1 ton/ha, sehingga menjadikan India sebagai produsen terbesar
       ke 5 di dunia setelah Amerika Serikat (75 juta ton/thn), Brazil (31 juta ton/thn),
       Argentina (18,5 juta ton/thn), dan RRC (13,8 juta ton/thn) serta India (6,6 juta
       tin/thn).

       Keberhasilah India dalam mengembangkan kedele adalah terutama karena
       dukungan “political will” dari Pemerintah India yang sangat besar, antara lain :
       subsidi agro input (benih, pupuk dan obat-obatan), peralatan mekanisasi dan
       subsidi harga dengan penetapan harga jual. (support price) dimana bila harga
       pasar lebih rendah pemerintah wajib membeli produksi petani. Hal ini
       diberlakukan pula untuk seluruh komoditi pertanian.

       Untuk mendukung pengebangan kedele, Pemerintah India juga menetapkan
       kebijakan penegnaan tariff impor sebesar 45 % untuk minyak kedele, sehingga
       produk domestik tetap dapat bersaing.

       Kedele di India tidak digunakan sebagai bahan makanan, namun diolah menjadi
       minyak kedele yang permintaannya sangat besar, ampas dari olahan minyak
       kedele diekspor dalam bentuk soya meal (bungkil kedele).

       Tingkat penerapan teknologi pemupukan di India hampir sama dengan di
       Indonesia, namun pengaturan pola tanam dan mekanisasi di India lebih baik,


                                                                                      13
     sebagian besar pertanaman kedele di India telah menerapkan mekanisasi
     secara penuh.

     Sistim pengadaan dan penyaluran benih atau alur benih dari pemulia hingga ke
     petani di India lebih sederhana dari pada di Indonesia. Petani di India
     diberdayakan untuk memproduksi secara baik dengan pola jabalsim, disamping
     itu petani juga diberdayakan untuk menerapkan PHT secara tepat.

2.   Masukan / saran Dr. O.P. Joshi untuk pengembangan kedele
     di Indonesia.

     a.   Tahap pertama harus dilakukan perlindungan terhadap petanikedele antara
          lain pemberlakuan tariff impor, cara lain untuk pembatasan impor, atau
          penciptaan iklim berusaha yang kondusif.

     b.   Memperbaiki organisasi pemasaran.

     c.   Dukungan harga kedele dari Pemerintah (support price).

     d.   Melakukan demonstrasi pada tingkat petani skala kecil dan dilanjutkan
          dalam skala luas di berbagai lokasi.

     e.   Mengadopsi mekanisasi.

     f.   Pemupukan berimbang dan pengguanaan bio-teknologi.

     g.   Meningkatkan kegiatan pemuliaan guna memperoleh varietas baru yang
          lebih unggul.

3.   Sesuai dengan para 1 (B) butir iii dari “Work Plan” bahwa sebagai balasan
     kunjungan ekspert India tersebut, maka Pemerintah Indonesia dapat
     mengirimkan      tenaga ahli ke India untuk melakukan studi banding
     pengembangan teknologi kedele, selama 10 hari dengan biaya sendiri. Sebagai
     langkah persiapan disarankan agar Badan Litbang Pertanian dan Ditjen BP
     Tanaman Pangan dapat menganggarkan kegiatan tersebut dapat tertampung
     pada tahun 2003.


4.   Sebagai tindak lanjut para 2 (B) dari Work Plan tersebut juga direncanakan
     dalam akhir tahun 2002 akan dating tenaga ahli India ke Indonesia dalam rangka
     studi banding dan pelatihan dalam bidang “Oil Palm Tecnology and Coconut
     Processing” . Persiapan telah dilakukan, antara lain komunikasi dengan Ditjen
     BP. Perkebunan berkaitan dengan program kunjungan dimaksud, dan telah
     dilkakukan komunikasi dengan pihak Pemerintah India melalui Kedubesnya di
     Jakarta.


                                                      Jakarta, 18 September 2002
                                                      DEPARTEMEN PERTANIAN
                                                       Biro Kerjasama Luar Negeri



                                                                                14

				
DOCUMENT INFO
Description: Data Investasi Asing Di Indonesia document sample