Definisi State Chart Diagram

Document Sample
Definisi State Chart Diagram Powered By Docstoc
					                                          BAB II

                               LANDASAN TEORI


2.1. Pengembangan Sistem

2.1.1. Definisi Pengembangan Sistem

           Terdapat beberapa pendapat yang menjelaskan mengenai definisi dari

      pengembangan sistem, diantaranya :

      1. Pengembangan sistem merupakan suatu proyek yang harus melalui suatu proses

         pengevaluasian seperti pelaksanaan proyek lainnya. (Amsa, 2008)

      2. Pengembangan sistem dapat berarti menyusun sistem yang baru untuk

         menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau untuk memperbaiki

         sistem yang sudah ada (kami, 2008).

      3. Pengembangan sistem adalah metode/prosedur/konsep/aturan yang digunakan

         untuk mengembangkan suatu sistem informasi atau pedoman bagaimana dan

         apa yang harus dikerjakan selama pengembangan sistem (algorithm). Metode

         adalah suatu cara, teknik sistematik untuk mengerjakan sesuatu (dinu, 2008).



2.1.2. Hal Mendasar Dalam Pengembangan Sistem

           Dalam pengembangan dan perancangannya, penganalisa sistem merupakan

      bagian dari tim yang berfungsi mengembangkan sistem yang memiliki daya guna

      tinggi dan memenuhi kebutuhan pemakai akhir. Pengembangan dipengaruhi

      sejumlah hal (Okta, 2007), yaitu:

      a. Produktifitas

               Saat ini dibutuhkan sistem yang lebih banyak, lebih baik dan lebih cepat.

         Hal ini membutuhkan lebih banyak programmer dan penganalisa sistem yang
         berkualitas, kondisi kerja ekstra, kemampuan pemakai untuk mengembangkan

         sendiri, bahasa pemrograman yang lebih baik, perawatan sistem yang lebih baik

         (umumnya 50% s.d 70% sumber daya digunakan untuk perawatan sistem),

         disiplin teknis pemakaian perangkat lunak, dan perangkat pengembangan

         sistem yang terotomasi.

      b. Reliabilitas

               Waktu yang dihabiskan untuk testing sistem secara umum menghabiskan

         50% dari waktu total pengembangan sistem. Dalam kurun waktu 30 tahun

         sejumlah sistem yang digunakan diberbagai perusahaan mengalami kesalahan

         dan ironisnya tidak mungkin untuk diubah. Sebagai contoh kasus; untuk setiap

         program yang dihasilkan dari IBM‟s superprogramer project punya tiga sampai

         lima kesalahan untuk setiap kesalahan untuk setiap sepuluh statement

         pemrograman.


2.1.3. Siklus Hidup Pengembangan Sistem

           Dalam pengembangan sistem terdapat beberapa hal yang menjadi faktor

      utama (klas,2008) diantaranya :

      1. Perencanaan Sistem (System Planning)

               Beberapa hal yang termasuk kedalam tahap perencanaan sistem

         diantaranya yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan fisik yang digunakan

         untuk mendukung pengembangan sistem serta mendukung operasi setelah

         diterapkan.

                 Adapun proses-proses yang dilakukan dalam tahapan perencanaan

         sistem, diantaranya :

         1. Merencanakan proyek-proyek sistem yang dilakukan oleh staf perencana

             sistem. Dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :
   a. Mengkaji tujuan dan perencanaan strategi

   b. Mengidentifikasikan proyek-proyek sistem

   c. Menetapkan sasaran proyek-proyek sistem

   d. Menetapkan kendala proyek-proyek sistem

   e. Menentukan proyek-proyek sistem prioritas

   f. Membuat laporan perencanaan sistem

   g. Meminta persetujuan manajemen

2. Menentukan proyek-proyek sistem yang akan dikembangkan. Tahapan yang

   dilakukan diantaranya :

   a. Menunjukan team analis

   b. Mengumumkan proyek pengembangan sistem

3. Mendefinisikan proyek-proyek sistem dikembangkan dan dilakukan oleh

   analis sistem. Tahapannya sebagai berikut:

   a. Melakukan study kelayakan

   b. Menilai kelayakan proyek sistem

   c. Membuat usulan proyek sistem

   d. Meminta persetujuan manajemen

        Adapun tahapan utama dalam siklus pengembangan sistem, yaitu :

   1. Perencanaan Sistem ( Systems Planning)

   2. Analisis Sistem (System Analysis)

   3. Perancangan Sistem (Systems Design) Secara Umum

   4. Seleksi Sistem (System Selection)

   5. Perancangan Sistem (Systems Design) Secara Umum

   6. Implementasi dan Pemeliharaan Sistem (System Implementation &

   Maintenance)
                     Penggambaran dari siklus hidup pengembangan sisten dapat dilihat

              pada gambar berikut :




                   Gambar 2.1. Siklus Hidup Pengembangan Sistem



2.2. Konsep Dasar Sistem

2.2.1. Definisi Sistem

            Ada beberapa pendapat yang menjelaskan definisi sistem, yaitu :

       1. Menurut (wiki, 2008) “Pengertian sistem diambil dari asal mula sistem yang

          berasal dari bahasa Latin (systema) dan bahasa Yunani (sustema) yang memiliki

          pengertian bahwa sutatu sistem merupakan suatu kesatuan yang didalamnya

          terdiri dari komponen atau elemen yang berhubungan satu dengan yang lainnya,

          yang berfungsi untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Istilah

          ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang

          berinteraksi”.
      2. Menurut (Stoa, 2008) “Pengertian dari sistem merupakan gabungan dari

          keseluruhan langit dan bumi yang saling bekerja sama yang membentuk suatu

          keseluruhan dan apabila salah satu unsur tersebut hilang atau tidak berfungsi,

          maka gabungan keseluruhan tersebut tidak dapat lagi kita sebut suatu sistem”.

      3. Menurut (Kerz, 2008) “Sistem yaitu gabungan dari sekelompok komponen baik

          itu manusia dan/atau bukan manusia (non-human) yang saling mendukung satu

          sama lain serta diatur menjadi sebuah kesatuan yang utuh untuk mencapai suatu

          tujuan, sasaran bersama atau hasil akhir”.

      4. Menurut (Hart, 2005) “Sistem mengandung dua pengertian utama yaitu: (a)

          Pengertian sistem yang menekankan pada komponen atau elemennya yaitu

          sistem merupkan komponen-komponen atau subsistem-subsistem yang saling

          berinteraksi satu sama lain, dimana masing-masing bagian tersebut dapat

          bekerja secara sendiri-sendiri (independent) atau bersama-sama serta saling

          berhubungan membentuk satu kesatuan sehingga tujuan atau sasaran sistem

          tersebut dapat tercapai secara keseluruhan (b) Definisi yang menekankan pada

          prosedurnya yaitu merupakan suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang

          saling berhubungan, berkumpul bersama untuk melakukan suatu kegiatan atau

          untuk menyelasaikan suatu sasaran tertentu”.

            Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan diatas dapat ditarik

      kesimpulan bahwa “Sistem adalah kumpulan bagian-bagian atau subsistem-

      subsistem yang disatukan dan dirancang untuk mencapai suatu tujuan”.



2.3. Konsep Dasar Informasi

2.3.1. Definisi Data
            Sumber informasi adalah data. Data merupakan bentuk jamak dari bentuk

       tunggal datum atau data item.

       1. Data merupakan deskripsi dari suatu kejadian yang kita hadapi serta

          menggambarkan kesatuan nyata yang terjadi pada saat tertentu (Prabu, 2006).

       2. Data merupakan kumpulan objek-objek beserta atributnya yang menunjukan

          karakteristik dari objek tersebut (Phil, 2006).

            Informasi tanpa adanya data maka informasi tersebut tidak akan terbentuk.

       Begitu pentingnya peranan data dalam terjadinya suatu informasi yang berkualitas.

       Keakuratan data sangat mempengaruhi terhadap keluaran informasi yang akan

       terbentuk.


2.3.2. Definisi Informasi

            Informasi ibarat darah yang mengalir di dalam tubuh suatu organisasi,

       sehingga informasi ini sangat penting di dalam suatu organisasi. Informasi

       (information) dapat didefinisikan sebagai berikut:

       1. Informasi (Information) adalah data yang telah dibentuk menjadi sesuatu yang

          memiliki arti dan berguna bagi manusia (kent, 2008).

       2. Menurut Leitel dan Davis dalam bukunya “Accounting Information System”

          menjelaskan bahwa Informasi merupakan data yang diolah menjadi bentuk

          yang lebih berguna dan serta lebih berarti bagi yang menerimanya (kami,

          2008).

            Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan diatas dapat ditarik

       kesimpulan bahwa “Informasi adalah sebagai data yang sudah diolah, dibentuk,

       atau dimanipulasi sesuai dengan keperluan tertentu”.
2.3.3. Kualitas Informasi

           Kualitas informasi (quality of information) (Prabu, 2006) diantaranya

      ditentukan oleh beberapa hal, yaitu :

      1. Relevan (Relevancy), dalam hal ini informasi yang diterima harus memberikan

          manfaat bagi pemakainya. Kadar relevancy informasi antara orang satu dengan

          yang lainnya berbeda-beda tergantung kepada kebutuhan masing-masing

          pengguna informasi tersebut. How is the message used for problem solving

          (decision masking)?

      2. Akurat (Accurate), yaitu berarti informasi harus bebas dari kesalahan-

          kesalahan. Selain itu informasi yang didapatkan tidak boleh bias atau

          menyesatkan bagi penggunanya, serta harus dapat mencerminkan dengan jelas

          maksud dari informasi tersebut. Ketidak akuratan data terjadi karena sumber

          dari informasi tersebut mengalami gangguan dalam penyampaiannya baik hal

          itu dilakukan secara sengaja maupun tidak sehingga menyebabkan data asli

          tersebut berubah atau rusak.

           Komponen keakuratan suatu informasi diantaranya:

      a. Completeness ; Are necessary message items present ? Hal ini dapat berarti

          bahwa informasi yang dihasilkan atau dibutuhkan harus memiliki kelengkapan

          yang baik, karena bila informasi yang dihasilkan sebagian-sebagian tentunya

          akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan atau menentukan tindakan

          secara keseluruhan, sehingga akan berpengaruh terhadap kemampuannya untuk

          mengontrol atau memecahkan suatu masalah yang terjadi dalam suatu

          organisasi tersebut.
b. Correctness ; Are message items correct ? maksudnya bahwa informasi yang

     diterima kebenarannya tidak perlu diragukan lagi. Kebenaran dari informasi

     tersebut harus dapat dipertanggung jawabkan.

c. Security ; Did the message reach all or only the intended systems users?

     Informasi yang diterima harus terjamin keamanan datanya.

d. Time Lines (Tepat waktu); Informasi yang dibutuhkan oleh si pemakai tidak

     dalam hal penyampaiannya tidak boleh terlambat (usang) karena informasi

     yang usang maka informasi tersebut tidak mempunyai nilai yang baik dan

     kualitasnya pun menjadi buruk sehingga tidak berguna lagi. Jika informasi

     tersebut digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan maka akan berakibat

     fatal sehingga salah dalam pengambilan keputusan tersebut. Kondisi tersebut

     mengakibatkan mahalnya nilai suatu informasi, sehingga kecepatan untuk

     mendapatkan, mengolah serta mengirimnya memerlukan teknologi terbaru.

e. Economy (Ekonomis); What level of resources is needed to move information

     through the problem-solving cycle ?. Kualitas dari Informasi yang digunakan

     dalam pengambilan keputusan juga bergantung pada nilai ekonomi yang

     terdapat didalamnya.

f. Efficiency (Efisien); What level of resources is required for each unit of

     information output ?

g.   Reliability (Dapat dipercaya); Informasi yang didapatkan oleh pemakai harus

     dapat dipercaya, hal ini menentukan terhadap kualitas informasi serta dalam hal

     pengambilan keputusan setiap tingkatan manajemen.
2.3.4. Nilai Informasi

            Fungsi informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan terkadang

      diperlukan dengan proses yang cepat dan tidak terduga. Hal itu mengakibatkan

      penggunaan informasi hanya berdasarkan perkiraan-perkiraan serta informasi yang

      apa adanya. Dengan perlakukan seperti ini mengakibatkan keputusan yang diambil

      tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu untuk memperbaiki

      keputusan yang telah diambil maka pencarian informasi yang lebih tepat perlu

      dilakukan. Suatu Informasi memiliki nilai karena informasi tersebut dapat

      menjadikan keputusan yang baik serta menguntungkan (memiliki nilai informasi

      yang tepat). Besarnya nilai informasi yang tepat dapat didapatkan dari perbedaan

      hsil yang didapat dari keputusan yang baru dengan hasil keputusan yang lama

      dikurangi dengan biaya untuk mendapatkan informasi tersebut. Penghitungan atas

      informasi    yang    tepat   memberikan   banyak    manfaat      diantaranya   untuk

      menghilangkan pemborosan biaya yang dilakukan untuk mendapatkan informasi

      yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan tersebut (Sofa, 2008).

            Menurut Gordon B. Davis nilai informasi dikatakan sempurna apabila

      perbedaan antara kebijakan optimal, tanpa informasi yang sempurna dan kebijakan

      optimal menggunakan informasi yang sempurna dapat dinyatakan dengan jelas.

            Nilai suatu informasi dapat ditentukan berdasarkan sifatnya. Tentang 10 sifat

      yang dapat menentukan nilai informasi, yaitu sebagai berikut :

      1. Kemudahan dalam memperoleh

                Informasi memperoleh nilai yang lebih sempurna apabila dapat diperoleh

          secara mudah. Informasi yang penting dan sangat dibutuhkan menjadi tidak

          bernilai jika sulit diperoleh.

      2. Sifat luas dan kelengkapannya
         Informasi mempunyai nilai yang lebih sempurna apabila mempunyai

   lingkup/ cakupan yang luas dan lengkap. Informasi sepotong dan tidak lengkap

   menjadi tidak bernilai, karena tidak dapat digunakan secara baik.

3. Ketelitian (accuracy)

         Informasi mempunyai nilai yang lebih sempurna apabila mempunyai

   ketelitian yang tinggi/akurat. Informasi menjadi tidak bernilai jika tidak akurat,

   karena akan mengakibatkan kesalahan pengambilan keputusan.

4. Kecocokan dengan pengguna (relevance)

         Informasi mempunyai nilai yang lebih sempurna apabila sesuai dengan

   kebutuhan penggunanya. Informasi berharga dan penting menjadi tidak bernilai

   jika tidak sesuai dengan kebutuhan penggunanya, karena tidak dapat

   dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan.

5. Ketepatan waktu

         Informasi mempunyai nilai yang lebih sempurna apabila dapat diterima

   oleh pengguna pada saat yang tepat. Informasi berharga dan penting menjadi

   tidak bernilai jika terlambat diterima/ usang, karena tidak dapat dimanfaatkan

   pada saat pengambilan keputusan.

6. Kejelasan (clarity)

         Informasi yang jelas akan meningkatkan kesempurnaan nilai informasi.

   Kejelasan informasi dipengaruhi oleh bentuk dan format informasi.

7. Fleksibilitas/ keluwesannya
                 Nilai informasi semakin sempurna apabila memiliki fleksibilitas tinggi.

            Fleksibilitas informasi diperlukan oleh para manajer/pimpinan pada saat

            pengambilan keputusan.

      8. Dapat dibuktikan

                 Nilai informasi semakin sempurna apabila informasi tersebut dapat

            dibuktikan kebenarannya. Kebenaran informasi bergantung pada validitas data

            sumber yang diolah.

      9. Tidak ada prasangka

                 Nilai informasi semakin sempurna apabila informasi tersebut tidak

            menimbulkan prasangka dan keraguan adanya kesalahan informasi.

      10.      Dapat diukur

                 Informasi untuk pengambilan keputusan seharusnya dapat diukur agar

            dapat mencapai nilai yang sempurna.



2.3.5. Mutu Informasi

             Menurut Gordon B. Davis, kesalahan informasi adalah antara lain disebabkan

      oleh hal-hal sebagai berikut :

      1. Metode pengumpulan dan pengukuran data yang tidak tepat.

      2. Tidak dapat mengikuti prosedur pengolahan yang benar.

      3. Hilang/tidak terolahnya sebagian data.

      4. Pemeriksaan/pencatatan data yang salah.

      5. Dokumen induk yang salah.

      6. Kesalahan dalam prosedur pengolahan (contoh: kesalahan program aplikasi

            komputer yang digunakan).
      7. Kesalahan yang dilakukan secara sengaja.

             Penyebab kesalahan tersebut dapat diatasi dengan cara-cara sebagai berikut:

      1. Kontrol sistem untuk menemukan kesalahan.

      2. Pemeriksaan internal dan eksternal.

      3. Penambahan batas ketelitian data.

      4. Instruksi dari pemakai yang terprogram secara baik dan dapat menilai adanya

          kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi.



2.4. Konsep Dasar Sistem Informasi

2.4.1. Definisi Sistem Informasi

            Terdapat berbagai macam pengertian Sistem Informasi menurut beberapa

      ahli, diantaranya :

      1. Sistem informasi (Information System) adalah sekumpulan komponen yang

          saling   berhubungan,    mengumpulkan       atau   mendapatkan,   memproses,

          menyimpan dan mendistribusikan informasi untuk menunjang pengambilan

          keputusan dan pengawasan dalam suatu organisasi serta membantu manajer

          dalam mengambil keputusan (Kent, 2008).

      2. Pengertian dari sistem informasi menurut Komunitas Mahasiswa Sistem

          Informasi di Yogykarta memaparkan bahawa Sistem informasi adalah sebuah

          aplikasi komputer yang digunakan untuk mendukung operasi dari suatu

          organisasi serta merupakan aransemen dari orang, data dan proses yang terjadi

          di dalamnya yang berinteraksi satu sama lain dalam menudukung dan

          memperbaiki organisasi serta mendukung dalam pemecahan masalah dan

          kebutuhan pembuat keputusan (KAMI, 2008).
2.6. Unified Modeling Language (UML)


2.6.1. Definisi Unified Modeling Language (UML)

           Berikut ini definisi Unified Modeling Language (UML) menurut para ahli:

      1. Menurut (Hend, 2006) “Unified Modeling Language (UML) adalah bahasa

         yang telah menjadi standard untuk visualisasi, menetapkan, membangun dan

         mendokumentasikan artifak suatu sistem perangkat lunak”.

      2. Menurut (Adi Nugroho : 2005). “Unified Modeling Language (UML) adalah

         alat bantu analisis serta perancangan perangkat lunak berbasis objek”.

      3. Menurut (Joomla dari http://soetrasoft.com : 2007). “Unified Modeling

         Language (UML) merupakan standard modeling language yang terdiri dari

         kumpulan-kumpulan      diagram,      dikembangkan    untuk   membantu    para

         pengembang sistem dan software agar bisa menyelesaikan tugas-tugas seperti:

         Spesifikasi, Visualisasi, Desain Arsitektur, Konstruksi, Simulasi dan testing

         serta Dokumentasi”.

           Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan diatas dapat ditarik

      kesimpulan bahwa “Unified Modeling Language (UML) adalah sebuah bahasa

      yang berdasarkan grafik atau gambar untuk menvisualisasikan, menspesifikasikan,

      membangun dan pendokumentasian dari sebuah sistem pengembangan perangkat

      lunak berbasis OO (Object Oriented)”.


2.6.2. Langkah-langkah Penggunaan Unified Modeling Language (UML)

           Menurut (Afif Amrullah:2002). “Langkah-langkah penggunaan Unified

      Modeling Language (UML) sebagai berikut:

      1. Buatlah daftar business process dari level tertinggi untuk mendefinisikan

         aktivitas dan proses yang mungkin muncul.
2. Petakan use case untuk setiap business process untuk mendefinisikan dengan

   tepat fungsional yang harus disediakan oleh sistem, kemudian perhalus use case

   diagram dan lengkapi dengan requirement, constraints dan catatan-catatan lain.

3. Buatlah deployment diagram secara kasar untuk mendefinisikan arsitektur fisik

   sistem.

4. Definisikan requirement lain non fungsional, security dan sebagainya yang juga

   harus disediakan oleh sistem.

5. Berdasarkan use case diagram, mulailah membuat activity diagram.

6. Definisikan obyek-obyek level atas package atau domain dan buatlah sequence

   dan/atau collaboration utuk tiap alir pekerjaan, jika sebuah use case memiliki

   kemungkinan alir normal dan error, buat lagi satu diagram untuk masing-

   masing alir.

7. Buatlah rancangan user interface model yang menyediakan antamuka bagi

   pengguna untuk menjalankan skenario use case.

8. Berdasarkan model-model yang sudah ada, buatlah class diagram. Setiap

   package atau domian dipecah menjadi hirarki class lengkap dengan atribut dan

   metodenya. Akan lebih baik jika untuk setiap class dibuat unit test untuk

   menguji fungsionalitas class dan interaksi dengan class lain.

9. Setelah class diagram dibuat, kita dapat melihat kemungkinan pengelompokkan

   class menjadi komponen-komponen karena itu buatlah component diagram

   pada tahap ini. Juga, definisikan test integrasi untuk setiap komponen

   meyakinkan ia bereaksi dengan baik.

10. Perhalus deployment diagram yang sudah dibuat. Detilkan kemampuan dan

   requirement piranti lunak, sistem operasi, jaringan dan sebagainya. Petakan

   komponen ke dalam node.
      11. Mulailah membangun sistem. Ada dua pendekatan yang tepat digunakan:

         a. Pendekatan use case dengan mengassign setiap use case kepada tim

             pengembang tertentu untuk mengembangkan unit kode yang lengkap

             dengan test.

         b. Pendekatan komponen yaitu mengassign setiap komponen kepada tim

             pengembang tertentu.

      12. Lakukan uji modul dan uji integrasi serta perbaiki model beserta codenya.

         Model harus selalu sesuai dengan code yang aktual.

      13. Perangkat lunak siap dirilis”.


2.6.3. Fokus Unified Modeling Language (UML)

           Menurut (Adi Nugroho : 2005). “Dalam kerangka spesifikasi, Unified

      Modeling Language (UML) menyediakan model-model yang tepat, tidak mendua

      arti (ambigu) serta lengkap. Secara khusus, Unified Modeling Language (uml

      menspesifikasikan langkah-langkah penting dalam pengambilan keputusan analisis,

      perancangan serta implementasi dalam sistem yang sangat bernuansa perangkat

      lunak (software intensive system). Dalam hal ini, Unified Modeling Language

      (UML) bukanlah merupakan bahasa pemprograman tetapi model-model yang

      tercipta berhubungan langsung dengan berbagai macam bahasa pemprograman,

      sehingga adalah mungkin melakukan pemetaan (mapping) langsung dari model-

      model yang dibuat dengan Unified Modeling Language (UML) dengan bahasa-

      bahasa pemprograman berorientasi obyek, seperti Java, Borland Delphi, Visual

      Basic, C++, dan lain-lain.

      Pemetaan (mapping) Unified Modeling Language (UML) bersifat dua arah yaitu :

      a. Generasi kode bahasa pemprograman tertentu dari Unified Modeling Language

         (UML) forward engineering.
      b. Generasi kode belum sesuai dengan kebutuhan dan harapan pengguna,

         pengembang dapat melakukan langkah balik bersifat iterative dari implementasi

         ke Unified Modeling Language (UML) hingga didapat sistem/peranti lunak

         yang sesuai dengan harapan pengguna dan pengembang”.


2.6.4. Bangunan Dasar Metodologi Unified Modeling Language (UML)

           Menurut (Adi Nugroho : 2005). “Bangunan dasar metodologi Unified

      Modeling   Language       (UML)   menggunakan    tiga   bangunan   dasar   untuk

      mendeskripsikan sistem/perangkat lunak yang akan dikembangkan yaitu :

      1. Sesuatu (things)

              Ada 4 (empat) things dalam Unified Modeling Language (UML), yaitu:

         a. Structural things

                  Merupakan bagian yang relatif statis dalam model Unified Modeling

             Language (UML). Bagian yang relatif statis dapat berupa elemen-elemen

             yang bersifat fisik maupun konseptual.

         b. Behavioral things

                  Merupakan bagian yang dinamis pada model Unified Modeling

             Language (UML), biasanya merupakan kata kerja dari model Unified

             Modeling Language (UML), yang mencerminkan perilaku sepanjang ruang

             dan waktu.

         c. Grouping things

                  Merupakan bagian pengorganisasi dalam Unified Modeling Language

             (UML). Dalam penggambaran model yang rumit kadang diperlukan

             penggambaran paket yang menyederhanakan model. Paket-paket ini

             kemudian dapat      didekomposisi   lebih lanjut.   Paket   berguna bagi

             pengelompokkan sesuatu, misalnya model-model dan subsistem-subsistem.
   d.   Annotational things

             Merupakan bagian yang memperjelas model Unified Modeling

        Language (UML) dan dapat berupa komentar-komentar yang menjelaskan

        fungsi serta ciri-ciri setiap elemen dalam model Unified Modeling

        Language (UML).

2. Relasi (Relationship)

         Ada 4 (empat) macam relationship dalam Unified Modeling Language

   (UML), yaitu :

   a. Kebergantungan

             Merupakan hubungan dimana perubahan yang terjadi pada suatu

        elemen mandiri (independent) akan mempengaruhi elemen yang bergantung

        padanya elemen yang tidak mandiri (independent).

   b. Asosiasi

             Merupakan apa yang menghubungkan antara objek satu dengan objek

        lainnya, bagaimana hubungan suatu objek dengan objek lainnya. Suatu

        bentuk asosiasi adalah agregasi yang menampilkan hubungan suatu objek

        dengan bagian-bagiannya.

   c. Generalisasi

             Merupakan hubungan dimana objek anak (descendent) berbagi

        perilaku dan struktur data dari objek yang ada diatasnya objek induk

        (ancestor). Arah dari atas kebawah dari objek induk ke objek anak

        dinamakan spesialisasi, sedangkan arah berlawanan sebaliknya dari arah

        bawah keatas dinamakan generalisasi.

   d. Realisasi

             Merupakan operasi yang benar-benar dilakukan oleh suatu objek.
3. Diagram

        Ada 5 (empat) macam diagram dalam Unified Modeling Language

   (UML), yaitu :

   a. Use Case Diagram

             Diagram ini memperihatkan himpunan use case dan aktor-aktor (suatu

      jenis khusus dari kelas). Diagram ini terutama sangat penting untuk

      mengorganisasi dan memodelkan perilaku dari suatu sistem yang

      dibutuhkan serta diharapkan pengguna.

   b. Class Diagram

             Diagram ini memperlihatkan himpunan kelas-kelas, antarmuka-

      antarmuka, kolaborasi-kolaborasi dan relasi-relasi antar objek.

   c. Sequence Diagram

             Diagram ini memperlihatkan interaksi yang menekankan pada

      pengiriman pesan (message) dalam suatu waktu tertentu.

   d. State Chart Diagram

             Diagram ini memperlihatkan state-state pada sistem, memuat state,

      transisi, event, dan aktifitas. Diagram ini terutama penting untuk

      memperlihatkan sifat dinamis dari antarmuka, kelas, kolaborasi dan

      terutama penting pada pemodelan sistem-sistem yang reaktif.

   e. Activity Diagram

             Diagram ini memperlihatkan aliaran dari suatu aktifitas ke aktifitas

      lainnya dalam suatu sistem. Diagram ini terutama penting dalam pemodelan

      fungsi-fungsi dalam suatu sistem dan memberi tekanan pada aliran kendali

      antar objek.
2.7. Teori – Teori Khusus yang Berhubungan dengan Topik yang Dibahas

2.7.1. Elisitasi

             Elisitasi berisi usulan rancangan sistem baru yang diinginkan oleh pihak

       manajemen terkait dan disanggupi oleh penulis untuk dieksekusi. Elisitasi didapat

       melalui metode wawancara dan dilakukan melalui tiga tahap (Hida, 2006), yaitu

       sebagai berikut:


2.7.1.1. Elisitasi Tahap I

             Berisi seluruh rancangan sistem baru yang diusulkan oleh pihak manajemen

       terkait melalui proses wawancara.


2.7.1.2. Elisitasi Tahap II

             Merupakan hasil pengklasifikasian dari elisitasi tahap I berdasarkan metode

       MDI. Metode MDI ini bertujuan untuk memisahkan antara rancangan sistem yang

       penting dan harus ada pada sistem baru dengan rancangan yang disanggupi oleh

       penulis untuk dieksekusi.

       1. M pada MDI itu artinya Mandatory (penting). Maksudnya requirement tersebut

           harus ada dan tidak boleh dihilangkan pada saat membuat sistem baru.

       2. D pada MDI itu artinya Desirable. Maksudnya requirement tersebut tidak

           terlalu penting dan boleh dihilangkan. Tetapi jika requirement tersebut

           digunakan dalam pembentukan sistem, akan membuat sistem tersebut lebih

           sempurna.

       3. I pada MDI itu artinya Inessential. Maksudnya bahwa requirement tersebut

           bukanlah bagian dari sistem yang dibahas dan merupakan bagian dari luar

           sistem.
2.7.1.3. Elisitasi tahap III

             Merupakan hasil penyusutan dari elisitasi tahap II dengan cara mengeliminasi

       semua requirement yang optionnya I pada metode MDI. Selanjutnya semua

       requirement yang tersisa diklasifikasikan kembali melalui metode TOE, yaitu

       sebagai berikut:

       1. T artinya Technical, maksudnya bagaimana tata cara/teknik pembuatan

           requirement tersebut dalam sistem yang diusulkan.

       2. O artinya Operational, maksudnya bagaimana tata cara penggunaan

           requirement tersebut dalam sistem yang akan dikembangkan.

       3. E artinya Economy, maksudnya berapakah biaya yang diperlukan guna

           membangun requirement tersebut didalam sistem.

             Metode TOE tersebut dibagi kembali menjadi beberapa option, yaitu:

       1. High (H): Sulit untuk dikerjakan, karena tehnik pembuatan dan pemakaiannya

           sulit serta biayanya mahal. Sehingga requirement tersebut harus dieliminasi.

       2. Middle (M) : Mampu untuk dikerjakan

       3. Low (L) : Mudah untuk dikerjakan


2.7.1.4. Final Draft Elisitasi

             Merupakan hasil akhir yang dicapai dari suatu proses elisitasi yang dapat

       digunakan sebagai dasar pembuatan suatu sistem yang akan dikembangkan.


2.7.2. Microsoft SQL Server

             Microsoft SQL Server merupakan produk RDBMS (Relational Database

       Management System) yang dibuat oleh Microsoft. Orang sering menyebutnya

       dengan SQL Server saja. Microsoft SQL Server juga mendukung SQL sebagai

       bahasa untuk memproses query ke dalam database. Mirosoft SQL Server banyak
digunakan pada dunia bisnis, pendidikan atau juga pemerintahan sebagai solusi

database atau penyimpanan data.

     Pada tahun 2000 Microsoft mengeluarkan SQL Server 2000 yang merupakan

versi yang banyak digunakan. Berikut ini adalah beberapa fitur yang dari sekian

banyak fitur yang ada pada SQL Server 2000 (Rado, 2005):

a. XML Support. Dengan fitur ini, Anda bisa menyimpan dokumen XML dalam

   suatu tabel, meng-query data ke dalam format XML melalui Transact-SQL dan

   lain sebagainya.

b. Multi-Instance Support. Fitur ini memungkinkan Anda untuk menjalankan

   beberapa database engine SQL Server pada mesin yang sama.

c. Data Warehousing and Business Intelligence (BI) Improvements. SQL Server

   dilengkapi dengan fungsi-fungsi untuk keperluan Business Intelligence melalui

   Analysis Services. Selain itu, SQL Server 2000 juga ditambahi dengan tools

   untuk keperluan data mining.

d. Performance and Scalability Improvements. SQL Server menerapkan

   distributed partitioned views yang memungkinkan untuk membagi workload ke

   beberapa server sekaligus. Peningkatan lainnya juga dicapai di sisi DBCC,

   indexed view, dan index reorganization.

e. Query Analyzer Improvements. Fitur yang dihadirkan antara lain: integrated

   debugger, object browser, dan fasilitas object search.

f. DTS Enhancement. Fasilitas ini sekarang sudah mampu untuk memperhatikan

   primary key dan foreign key constraints. Ini berguna pada saat migrasi tabel

   dari RDBMS lain.
      g. Transact-SQL Enhancements. Salah satu peningkatan disini adalah T-SQL

         sudah mendukung UDF (User-Definable Function). Ini memungkinkan Anda

         untuk menyimpan rutin-rutin ke dalam database enginen.


2.7.2.1. Tipe Data dalam SQL Server 2000

               Data dalam Microsoft SQL Server sangat berfariasi, dan setiap kolom dalam

      satu table harus memiliki data sesuai dengan jenis dan tipenya. Karena jika data

      yang dimasukan kedalam table tidak sesuai dan tipenya Microsoft Server akan.

                 Integer                          Keterangan

         Bit                   Integer dengan nilai 0 atau 1

                               Nilai   Integer   dengan    nilai   antara   -2^-3
         Int
                               (2.147.483.648) sampai 2^31-1 (2.147.384.647)

         Decimal atau          Angka antara -10^38-1 sampai 10^38-1

         Numeric

                               Nilai yang terhubung dengan mata uang dari -

         Money                 2^63 (-922.377.203.685.477,5808 sampai 2^63-1

                               (-922.377.203.685.477,5807)

         Float                 -214.748,3648 sampai 1.79E+308

         Real                  -3.40E+308 sampai 3.04E+38

         Datetime              1 Januari 1973 sampai 31 Desember 9999

                               1 Januari 1900 sampai 6 Juni 2079, dengan
         Smalldatetime
                               ketelitian hingga1 menit

                 String                           Keterangan

         Char                  Field tetap dengan ukuran maksimal 8000 byte

         Varchar               Field tetap dengan ukuran maksimal 8000 byte
                            Variabel     dengan     ukuran    hingga   2^31-1
         Text
                            (2.147.488.647) byte

          Unicode string                       Keterangan

                               Karakter Unicode dengan ukuran tetap hingga
         Nchar
                                                  4000 byte

                                   Variabel dengan ukuran sampai 2^31-1
         Ncarchar
                                           (2.147.483.647) byte

                            Karakter Unicode dengan ukuran bervariasi
         Ntext
                            hingga 4000 byte

          Binary String                        Keterangan

         Binary             Ukuran tetap hingga 8000 byte

         Varbinary          Ukuran bervariasi hingga 8000 byte

                            Ukuran bervariasi hingga 2^31-1 (2.147.483.647)
         Image
                            byte



                            Tabel 2.1. Type Data Sql Server 2000


2.7.2.2. Batasan SQL Server 2000

           Microsoft SQL Server mempunyai beberapa batasan dimana batasan tersebut

      memiliki prioritas diatas trigger, aturan dan nilai defaultnya. Sebagai gambaran

      table berikut akan menjelaskan batasan-batasan yang dimaksud.



                      Fungsi                             Keterangan

                                       Menentukan bahwa kolom tidak bias menentukan
                  NOT NULL
                                       nilai NULL
                                     Membatasi nilai yang bias diletakkan kedalan

                                     kolom dengan menentukan suatu kondisi. Misalnya

                  CHECH              nilai TRUE maka nilai yang diberikan dapat

                                     dimasukkan    kedalam    kolom     sedang     apabila

                                     FLASE

                                     Memasukkan      kolom-kolom        memiliki     nilai
                  UNIQUE
                                     eksklusif

                                     Membuat kata kunci primer atau kunci utama dari

                                     sebuah table, kolom atau kombinasi dari kolom
                  PRYMARY KEY
                                     dengan nilai yang harus bersifat eksekutif didalam

                                     table untuk mengenali baris

                  FOREIGN KEY        Menentukan hubungan antara table-tabel



                     Tabel 2.2. Batasan Dalam SQL Server 2000


2.7.2.3. Jenis – jenis Perintah SQL Server 2000

            Secara garis besar, SQL Server mempunyai 3 (Tiga) jenis Transact SQL yaitu

       (Yus05):

       a. Data Definition Language (DDL), merupakan bagian dari sistem manajemen

          database yang dipakai untuk mendefinisikan dan mengatur semua atribut dan

          properti dari sebuah database. Bentuk umum dari pernyataan – pernyataan

          DDL, yaitu :

           Create < nama objek >

              Contoh :

              Use Inventory

              Create Table Barang ( Kode Char (5), Nama Varchar (30))
    Alter < nama objek >

      Contoh :

      Use Inventory

      Alter Table Barang Add Disc Int

    Drop < nama objek >

      Contoh :

      Use Inventory

      Drop Table Barang

b. Data Manipulation Language (DML), merupakan perintah – perintah yang

   digunakan untuk menampilkan, menambah, mengubah, dan menghapus data di

   dalam obyek – obyek yang didefinisikan oleh DDL. Bentuk umum perintak

   DML yang sering digunakan, yaitu :

    Select

      Contoh :

      Use Inventory

      Select * From Barang

    Insert

      Contoh :

      Use Inventory

      Insert into Barang (Kode,Nama) Values („EL123‟, „Televisi‟)

    Update

      Contoh :

      Use Inventory

      Update Barang Set Nama = „ Televisi Berwarna‟ Where Kode = „EL123‟

    Delete
               Contoh :

               Use Inventory

               Delete Barang

       c. Data Control Language (DCL), digunakan untuk mengontrol hak – hak pada

           obyek – obyek database. Bentuk umum perintah yang sering digunakan, yaitu:

            Grant

               Contoh :

               Grant Insert, Update, Delete On authors To Dinda, Adelia, Yudha

            Revoke

               Contoh :

               Revoke Select On Barang to Public

            Deny

               Contoh :

               Use Inventory

               Deny Select On Barang To Public


2.7.3. Prototipe

             Prototipe memberikan ide bagi pembuat maupun pemakai potensial tentang

       cara sistem berfungsi dalam bentuk lengkapnya. Proses menghasilkan sebuah

       prototipe disebut prototyping. Menurut Jane M. Carey (McLe, 1996) ada dua jenis

       prototipe, yaitu:


2.7.3.1. Prototipe Jenis I

             Prototipe jenis I sesungguhnya akan menjadi sistem operasional. Pendekatan

       ini hanya mungkin jika peralatan prototyping memungkinkan prototipe memuat

       semua elemen penting dari sistem baru.
       Langkah-langkah pengembangan prototipe jenis I adalah sebagai berikut:

       1.   Mengidentifikasi kebutuhan pemakai.

       2.   Mengembangkan prototipe

       3.   Menentukan apakah prototipe dapat diterima

       4.   Menggunakan prototipe


2.7.3.2 Prototipe Jenis II

            Prototipe jenis II merupakan suatu model yang dapat dibuang yang berfungsi

       sebagai alat cetak biru bagi sistem operasional. Pendekatan ini dilakukan jika

       prototipe tersebut hanya dimaksudkan untuk tampilan seperti sistem operasional

       dan tidak dimaksudkan untuk memuat semua elemen penting.

            Tiga langkah pertama dalam pengembangan prototipe jenis II sama seperti

       untuk prototipe jenis I. Langkah-langkah selanjutnya adalah sebagai berikut:

       4. Mengkodekan sistem operasional

       5. Menguji sistem operasional

       6. Menentukan jika sistem operasional dapat diterima

       7. Menggunakan sistem operasional


2.7.4. Macromedia Dreamweaver MX 2004

            Macromedia Dreamweaver MX 2004 adalah suatu editor HTML profesional

       untuk perancangan, pengkodean, pengembangan website, halaman web, dan

       aplikasi web. Dreamweaver juga menyediakan tools yang sangat membantu

       meningkatkan pengalaman dalam pembuatan web yang powerfull. Berbagai fitur

       visual editing pada Dreamweaver mengizinkan Anda membuat halaman web

       dengan cepat tanpa harus menuliskan satu baris kode (Sima, 2006).
2.7.5. Active Server Pages (ASP)

             Active Sever pages (ASP) merupakan salah satu implementasi middleware

       yang bertugas untuk menterjemahkan skrip yang tersimpan dalam berkas dengan

       ekstensi (.asp) sehingga menghasilkan keadaan web yang dinamis (Abdl, 2005).

             ASP bukanlah sebuah program yang dijual terpisah, akan tetapi ASP

       merupakan bagian dari sekelompok besar program yang secara otomatis akan

       terintstall dengan program setup dari sistem operasi Windows baik itu Windows 95,

       Windows 98, Windows NT Workstation, Microsoft Windows XP Profesional,

       Windows Server 2000 (Wiki, 2007).

             File ASP sebenarnya merupakan sekumpulan script ASP yang digabung

       dengan HTML. Jadi, file ASP terdiri dari beberapa struktur yang saling

       berhubungan dan membentuk suatu fungsi agar memberikan hasil tertentu. Struktur

       dalam file ASP terdiri atas: teks, tag HTML, dan script ASP (Ekow, 2005).

             Seperti script yang lain, script ASP bisa ditempatkan di mana saja sesuai

       fungsi masing-masing. Namun ada juga script yang harus ditempatkan paling atas

       agar tidak terjadi kesalahan dalam aksesnya. Dengan adanya penggabungan script

       maka diperlukan sebuah karakter untuk membedakan antar script tersebut. Pada

       script ASP dibedakan dengan <% sebagai awal penulisan dan %> sebagai akhir

       penulisan. (Ekow, 2005).



2.7.5. Definisi Online

             Secara umum, sesuatu dikatakan online adalah bila ia terkoneksi/terhubung

       dalam suatu jaringan ataupun sistem yang lebih besar. Beberapa arti kata lainnya

       yang lebih spesifik adalah sebagai berikut:
      1. Dalam percakapan umum, jaringan/network yang lebih besar dalam konteks ini

         biasanya lebih mengarah pada Internet, sehingga „online' menjelaskan status

         bahwa ia dapat diakses melalui internet.

      2. Secara lebih spesifik dalam sebuah sistem yang terkait pada ukuran dalam satu

         aktifitas tertentu, sebuah elemen dari sistem tersebut dikatakan online jika

         elemen tersebut beroperasional. Sebagai contoh, Sebuah instalasi pembangkit

         listrik dikatakan online jika ia dapat menyediakan listrik pada jaringan elektrik.

      3. Dalam telekomunikasi, istilah online memiliki arti lain yang lebih spesifik.

         Suatu alat diasosiasikan dalam sebuah sistem yang lebih besar dikatakan online

         bila berada dalam kontrol langsung dari sistem tersebut. Dalam arti jika ia

         tersedia saat akan digunakan oleh sistem (on-demand), tanpa membutuhkan

         intervensi manusia, namun tidak bisa beroperasi secara mandiri di luar sistem

         tersebut.



2.8. Pelayanan Mahasiswa

            Pelayanan merupakan suatu kegiatan yang terjadi dalam dalam interaksi

      langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik dan

      menyediakan kepuasan pelanggan (retn, 2007). Pelayanan terbaik yang diberikan

      dari seluruh staff perguruan tinggi raharja kepada mahasiswa merupakan salah satu

      tujuan yang harus dicapai.



2.9. Mutu

            Goetsch dan Davis (1994) membuat definisi mengenai mutu yang lebih luas

      cakupannya. Definisi tersebut adalah: mutu merupakan suatu kondisi dinamis yang

      berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang

      memenuhi atau melebihi harapan.
     J.M. Juran mengatakan bahwa mutu adalah kesesuaian dengan tujuan atau

manfaatnya. Pendapat David L. Goetsch dan Stanley Davis bahwa mutu adalah

suatu kondisi dinamis yang berkaitan dengan produk, pelayanan, orang, proses, dan

lingkungan yang memenuhi atau melebihi apa yang diharapkan. Menurut

pembendaharaan istilah ISO 8402 dan standar nasional Indonesia (SNI 19-8402-

1991), mutu adalah keseluruhan ciri dan karakteristik produk atau jasa yang

kemampuannya dapat memuaskan kebutuhan, baik yang dinyatakan secara tegas

maupun tersamar. Istilah kebutuhan diartikan sebagai spesifikasi yang tercantum

dalam kontrak maupun kriteria-kriteria yang harus didefenisikan terlebih dahulu.

     Menurut Deming yang dikutip oleh M.N. Nasution bahwa mutu adalah:

kesesuaian dengan kebutuhan pasar. Perusahaan harus benar-benar memahami apa

yang di butuhkan konsumen atas produk yang dihasilkannya.”

     Philip crosby mendefinisikan mutu sebagai kesesuaian terhadap persyaratan.

Persyaratan adalah spesifikasi yang telah ditetapkan/ diminta/ diwajibkan/

disepakati dan dapat diukur. Dengan kaitannya dengan konsep fokus pelanggan,

persyaratan diartikan secara lebih luas, yakni mencakup kesesuaian terhadap

kebutuhan, persyaratan, harapan dan persepsi pelanggan. Suatu produk atau jasa

dikatakan bermutu bila memenuhi kebutuhan, persyaratan dan harapan pelanggan

serta dipersepsikan secara positif oleh pelanggan.

     Dalam pengertian yang lebih luas lagi, persyaratan mutu menurut aliran TQM

(Total Quality Management) mencakup konsep multi dimensi yang terdiri dari

tujuh aspek yang disingkat menjadi PQCDSME yang merupakan orientasi

pemikiran dalam manajemen mutu, yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai

berikut:
-   Productivity (P) : berorientasi pada peningkatan hasil produksi atau

    hasil kerja.

-   Quality (Q) : berorientasi pada penciptaan kesesuaian terhadap

    persyaratan spesifikasi produk/jasa yang telah ditetapkan.

-   Cost (C) : berorientasi pada pengendalian biaya untuk setiap proses

    yang menyerap biaya.

-   Delivery (D) : berorientasi pada upaya mengendalikan waktu yang

    dibutuhkan untuk mengirim produk ke pasar atau pelanggan.

-   Safety (S) : berorientasi pada penciptaan kondisi lingkungan kerja yang

    aman, nyaman dan sehat.

-   Morale (M) : berorientasi pada penciptaan kondisi lingkungan kerja

    yang kondusif dan dapat menimbulkan kepuasan dan kebanggaan.

-   Environment : berorientasi pada kepedulian terhadap lingkungan dalam

    pengertian yang lebih luas.

      Dari beberapa defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa mutu adalah usaha

memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. Suatu produk atau jasa dikatakan

bermutu/berkualitas apabila dapat memberikan kepuasan sepenuhnya kepada

pelanggan/pemakai. Mutu meliputi produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan

dimana mutu adalah suatu kondisi yang bersifat dinamis.

      Selain kesimpulan diatas ada beberapa dimensi atau atribut yang harus

diperhatikan dalam perbaikan mutu adalah:

-   Ketepatan waktu pelayanan, hal-hal yang perlu diperhatikan di sini

    berkaitan dengan waktu tunggu dan waktu proses.

-   Akurasi pelayanan, yang berkaitan dengan realibilitas pelayanan dan

    bebas kesalahan-kesalahan.
      -   Kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan.

      -   Tangggung jawab, berkaitan dengan penerimaan pesanan dan

          penanganan keluhan dari pelanggang eksternal.

      -   Kelengkapan, menyangkut lingkup pelayanan dan ketersediaan sarana

          pendukung, serta pelayanan komplementer lainnya.

      -   Variasi model pelayanan, berkaitan dengan inovasi untuk memberikan

          pola-pola baru dalam pelayanan, features dari pelayanan, dll.

      -   Pelayanan pribadi, berkaitan dengan penanganan permintaan khusus.

      -   Kemudahan mendapatkan pelayanan..

      -   Kenyamanan dalam memperoleh pelayanan, berkaitan dengan lokasi,

          ruang tempat     pelayanan,   kemudahan     menjangkau,     ketersediaan

          informasi dan bentuk-bentuk lain.

      -   Atribut pendukung pelayanan lainnya, seperti lingkungan, kebersihan,

          ruang tunggu, AC, dll.



2.10. IAC (Intelligence Access Card)

           IAC (Intelligence Access Card) adalah Suatu metode akses sistem dengan

      media kartu yang memiliki kecerdasan akses. IAC merupakan suatu perwujudan

      dari pelayana sistem terhadap user, yang menganut 4 prisip utama yaitu: Kecepatan

      (Speed), Ketepatan (Accuracy), Efisiensi waktu (Efficiency) dan Efektivitas

      (Effectiveness).

      -   Kecepatan (Speed): Kecepatan dalam mengakses Sistem informasi,

          membuat user merasa di manjakan oleh sistem dan meningkatkan

          kepuasan user dalam menggunakan sistem.
-   Ketepatan (Accuracy): Tepat dalam mengakses sehingga tepat dalam

    mendapatkan informasi yang diinginkan.

-   Efisiensi waktu (Efficiency): Waktu akses kedalam sistem lebih cepat

    sehingga lebih cepat dalam memperoleh informasi.

-   Efektivitas (Effectiveness): Efektif dalam segala akses sistem, dan multi

    fungsi.

     Dan IAC mempunyai potensi antara lain, sebagai berikut:

1. Sebagai Kartu Mahasiswa

2. Sebagai Kartu Absen

3. Sebagai Kartu Perpustakaan

4. Sebagai Kartu Parkir

5. Sebagai Kartu Transaksi.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2385
posted:1/18/2011
language:Malay
pages:33
Description: Definisi State Chart Diagram document sample