Docstoc

OBSERVASI materi dari web

Document Sample
OBSERVASI materi dari web Powered By Docstoc
					http://www.psikologimania.co.cc/2010/05/psikodiagnostik-ii-metode-observasi.html

PENGERTIAN OBSERVASI

Observasi barangkali menjadi metode paling dasar dan paling tua dalam sebuah penelitian,
karena dalam cara-cara tertentu kita selalu terlibat dalam proses mengamati. Beberapa penelitian
baik itu kualitatif maupun kuantitif mengandung observasi di dalamnya.

Istilah observasi berasal dari bahasa Latin yang berarti „MELIHAT‟ dan „MEMPERHATIKAN‟.
Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatatat fenomena
yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut.
Observasi seringkali menjadi bagian dalam penelitian dalam berbagai disiplin ilmu baik ilmu
eksakta maupun ilmu-ilmu sosial, dapat berlangsung dalam konteks laboratorium (eksperiental)
maupun alamiah.

Observasi yang berarti mengamati bertujuan untuk mendapat data tentang suatu masalah
sehingga diperoleh pemahaman atau sebagai alat rechecking, atau pembuktian terhadap
informasi/keterangan yang diperoleh sebelumnya.

Justru karena observasi selalu terlibat dalam proses pengambilan data, observasi kadang
dianggap dapat dilakukan oleh siapapun, tidak perlu dibahas secara khusus. Karena
kedapatannya dengan suasana kehidupan sehari-hari (selama masih hidup, sadar maupun tidak,
semua orang melakukan observasi), observasi terkadang diangap sebagi metode yang kurang
ilmiah. Setiap individu dapat memiliki persepsi yang sangat berbeda mengenaisuatu fenomena
yang sama. Apa yang dilihat seseorang sangat tergantung pada minat, bias-bias dan latar
belakang mereka. Oleh karena itu, menurut Patton Bahwa persepsi selektif pada manusia
menyebabkan munculnya keragu-raguan terhadap validitas dan reliabilitas observasi sebagai
suatu metode pengumpulan data yang ilmiah. Menanggapi keragu-raguan tersebut Patton
mengingatkan bahwa persepsi selektif yang mewarnai bias-bias dan minat pribadi tersebut
sesungguhnya terjadi pada kebanyakan orang awam yang memang tidak terlatih. Agar
memberikan data yang akurat dan bermanfaat, observasi sebagai metode ilmiah harus dilakukan
oleh peneliti yang sudah melewati latihan-latihan memadai, serta telah mengadakan persiapan
yang teliti dan lengkap.

Latihan observasi mencakup belajar mengadakan observasi secara umum pada konteks atau
subjek yang dipilih, maupun mengadakan observasi dengan fokus-fokus khusus. Peneliti juga
perlu berlatih begaimana menuliskan hasil observasi secara deskriptif, dan mengembangkan
kedisiplinan mencatatat kejadian lapangan secara lengkap dan menditail. Peneliti seyogyanya
dapat menentukan kapan perlu dan harus menulis secara detail, dan membedakannya dari upaya
mencatat semua hal yang tidak perlu secara berlebihan. Tanpa keterampilan demikian, peneliti
akan mengalami kebingungan, terbebani oleh banyaknya hal yang terlibat dalam proses
observasi tanpa dapat memilih secara tepat apa yang harus dilaporkan.

Sebagai metode ilmiah observasi bisa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan
sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam arti yang luas observasi sebanarnya tidak
hanya terbatas kepada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Pengamatan yang tidak langsung misalnya melalui quesionere dan tes.

Menurut Jehoda, observasi dapat menjadi alat penyelidikan ilmiah, apabila:

1. Mengabdi kepada tujuan-tujuan penelitian yang telah dirumuskan.

2. Direncanakan secara sistematik, bukan terjadi secara tidak teratur.

3. Dicatat dan dihubungkan secara sistematik dengan proporsi-proporsi yang lebih umum, tidak
    hanya dilakukan untuk memenuhi rasa ingin tahu semata-mata.

4. Dapat di cek dan dikontrol validitas, relibilitas, dan ketelitiannya sebagaimana data ilmiah
   lainnya.




TUJUAN OBSERVASI

Pada dasarnya observasi bertujuan untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-
aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian
dilihat dari perspektif mereka terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut. Deskripsi harus
kuat, faktual sekaligus teliti tanpa harus dipenuhi berbagai hal yang tidak relevan.

Patton (1990) mengatakan bahwa data hasil observasi menjadi penting, karena :

   1. Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam hal yang diteliti
      ada atau terjadi.
   2. Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan
      daripada pembuktian, dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara
      induktif. Dengan berada dalam situasi lapangan yang nyata, kecenderungan untuk
      dipengaruhi berbagai konseptualis (yang ada sebelumnya) tentang topic yang diamati
      akan berkurang.
   3. Mengingat individu yang telah sepenuhnya terlibat dalam konteks hidupnya seringkali
      mengalami kesulitan merefleksikan pemikiran mereka tentang pengalamannya, observasi
      memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh pertisipan atau subjek peneliti sendiri
      kurang disadari.
   4. Observasi memungkinkan penelitian memperoleh data tentang hal-hal yang karena
      berbagai sebab tidak diungkap oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara.
   5. Jawaban terhadap pertanyaan akan diwarnai oleh persepsi selektif individu yang
      diwawancara. Berbeda dengan wawancara, observasi memungkinkan peneliti bergerak
      lebih jauh dari persepsi selektif yang ditampilkan subjek penelitian atau pihak-pihak lain.
        Observasi memungkinkan peneliti merefleksi dan bersikap introspektif terhadap
penelitian yang dilakukannya. Impresi dan perasaan pengamat akan menjadi bagian dari data
yang pada gilirannya dapat dimafaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti.

       Bagi psikolog, observasi perlu dilakukan karena bebarapa alasan:

   1. Memungkinkan mengukur banyak perilaku yang tidak dapat diukur dengan
      menggunakan alat ukur psikologi yang lain (alat tes). Hal ini banyak terjadi pada anak-
      anak.
   2. Prosedur testing formal seringkali tidak ditangapi serius oleh anak-anak sebagaimana
      orang dewasa, sehingga sering observasi menjadi metode pengukur utama.
   3. Observasi dirasakan lebih tidak mengancam dibandingkan cara pengumpulan data yang
      lain. Pada anak-anak observasi menghasilkan informasi yang lebih akurat dibandingkan
      orang dewasa sebab orang dewasa akan memperlihatkan perilaku yang dibuat-buat bila
      merasa sedang diobservasi.

       Oleh karena itu, tujuan observasi seorang psikolog pada dasarnya adalah:

   1. Untuk keperluan asesmen awal. Dilakukan di luar ruang konseling, misalnya: ruang
      tunggu, halaman, ruang kelas, ruang bermain.
   2. Untuk menentukan kelebihan dan kelemahan observe dan menggunakan kelebihan
      tersebut untuk meningkatkan kelemahan klien.
   3. Untuk merancang rencana individual (individual plan) bagi klien berdasarkan kebutuhan.
   4. Sebagai dasar/titik awal dari kemajuan klien. Dari beberapa kali pertemuan psikolog tahu
      kemajuan yang dicapai klien.
   5. Bagi anak-anak. Untuk mengethui perkembangan anak pada tahap tertentu.
   6. Untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan klien.
   7. Digunakan dalam memberi laporan pada orang tua, guru, dokter, dll.
   8. Sebagai informasi status anak/remaja (di sekolah) untuk keperluan bimbingan dan
      konseling.



TEKNIK OBSERVASI

A. DIMENSI OBSERVASI

Secara umum setiap observasi yang dilakukan tercakup dalam tiga dimensi, yaitu:

   1. Partisipan dan Non partisipan.
   2. Overt dan Covert.
   3. Alamiah dan Buatan.

        Dalam setiap observasi yang dilakukan selalu tercakup ketiga dimensi diatas, dengan
berbagai kombinasi. Bisa Psrtisipan-Overt-Alamiah (poa), Non partisipan-Overt-Alamniah (noa),
Partisipan-Covert-Buatan (pcb), dan lain sebagainya.
        Patton menjelaskan berbagai alternatif cakupan dalam pendekatran observasi yang perlu
dipertimbangkan dengan baik, yaitu:

1. Apakah pengamat berpartisipasi aktif dalam setting yang diamatinya ataukah ia menjadi
   pengamat pasif, dalam arti tidak terlibat dalam aktivitas yang diamatinya tersebut
   (partisipasi atau non partisipasi).

       Pengamat yang partisipatif akan menggunakan strategi pendekatan lapangan yang
beragam secara stimulant mengkombinasikan analisis dokumen, mewawancara responden dan
informan, berpatisipasi langsung sekaligus mengamati, dan melakukan instrospeksi. Hal-hal
tersebut tidak dilakukan peneliti yang melakukan observasi tidak terlibat (tidak partisipatif).
Keputusan sejauh mana peneliti perlu terlibat dalam aktivitas yang diteliti tergantung pada
banyak hal, antara lain sifat fenonema yang diteliti, konteks politis, maupun pertanyaan-
pertanyaan penelitian.

        Bila sebagian peneliti menyatakan keterlibatan aktif dalam konteks yang diamati
merupakan cara paling ideal, Patton menganjurkan agar kita tidak perlu berpikir demikian. Yang
paling penting adalah negosiasikan dan menyesuaikan derajat pertisipasi aktif peneliti dengan
karekteristik subjek atau objek penelitian, sifat interaksi peneliti-subjek penelitian, maupun
konteks sosial politik yang melingkupi fenomena yang diteliti. Dalam kasus-kasus tertentu,
keterlibatan dan partisipasi aktif pengemat justru dapat memunculkan masalah dan mengganggu
langkah-langkah pengumpulan data.

2.     Apakah peneliti melakukan observasinya           secara    terbuka,   ataukah    secara
     tertutup/terselubung? (overt atau covert)

       Diyakini bahwa manusia pada umumnya akan bertingkah laku berbeda bila tahu bahwa
mereka diaamti. Sebaliknya, individu yang tidak menyadari bahwa ia sedang diamati akan
bertingkah laku biasa (tidak dibuat-buat atau disesuaikan dengan harapan sosial). Karenanya
sebagian peneliti berpendapat observasi yang tidak terbuka (covert) akan meyakinkan peneliti
menangkap kejadian yang sesungguhnya daripada observasi terbuka.

      Walaupun demikian, tinjauan etis mengungkapkan problema berbeda: apakah etis
melakukan observasi sistematis tanpa memberi tahu dan meminta izin?

3. Apakah observasi perlu dilakukan dalam jangka waktu lama, atau cukup dalam waktu yang
    terbatas?

       Dalam tradisi studi antropologi, observasi dapat berlangsung sangat lama, dilakukan
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dengan maksud agar peneliti dapat memeperoleh
pemahaman holistic mengenai budaya kelompok yang ditelitinya.

       Sementara, dalam studi ilmu sosial pada umumnya tujuan digunakannya observasi adalah
untuk mengungkap kompleksitas dan pola-pola realitas sosial.
        Untuk studi yang lebih praktis, waktu observasi yang terlalu lama tidak diperlukan,
apalagi bila fenomena yang diteliti adalah fenomena spesifik yang berlangsung pada saat-saat
tertentu saja. Dalam situasi yang demikian, yang penting adalah keberhasilan peneliti melakukan
observasi terhadap fenomena khusus yang jarang terjadi tersebut.

4. Variasi berkenaan dengan focus observasi: fenomena utuh aspek-aspek khusus?

        Ada observasi yang difokuskan pada fenomena utuh, dalam situasi seperti ini dibutuhkan
pelatihan meluas pada semua aspek yang terlibat. Ada pula observasi yang sempit, misalnya
dengan memfokuskan pada aspek-aspek atau elemen-elemen tertentu saja dari keseluruhan yang
kompleks.

        Sedangkan Banister menambahkan          beberapa    variasi   pendekatan   yang   perlu
dipertimbangkan lebih lanjut, yaitu:

      Variasi dalam struktur observasi

       Dapat bervariasi mulai dari observasi yang dilakukan secara sangat terstruktur dan
       mendetai sampai pada observasi yang tidak terstruktur.

      Variasi dalam fokus observasi

       Dapat bervariasi mulai dari dikonsentrasikan secara sempit pada aspek-aspek tertentu saja
       (missal: bentuk komunikasi nonverbal tertentu saja) atau diarahkan secara luas pada
       berbagai aspek yang dianggap relevan.

      Variasi dalam metode dan sarana/instrument yang dilakukan untuk melakukan dan
       mencatat observasi.

       Mulai dari tulisan tangan, penggunaan computer (note book), dipakainya lembar
       pengecek, stop watch, atau alat-alat yang lebih canggih seperti perekam suara dan
       gambar.

      Pemberian umpan balik.

       Apakah umpan balik (perlu) diberikan kepada orang-orang yang diamati? Bila umpan
       balik dismapaikan, sejauh mana informasi akan disampaikan dan mengapa?

B. TEKNIK OBSERVASI

Ada tidak jenis pokok dalam observasi yang masing-masing umumnya cocok untuk keadaan-
keadaan tertentu, yaitu: Observasi Partisipan-Observasi Nonpartisipan, Observasi Sistematik-
Obserbasi Nonsistematik dan Observasi Eksperimental- Observasi Noneksperimental.

1. Observasi Partisipasi
Jenis teknik observasi partisipan umumnya digunakan orang untuk penelitian yang sifatnya
eksploratif. Untuk menyelidiki satuan-satuan sosial yang besar seperti masyarakat suku bangsa
kerap kali diperlukan observasi partisipan ini.

Suatu observasi disebut observasi partisipan jika orang yang mengadakan observasi (observer)
turut ambil bagian dalam kehidupan observee.

Pengamatan partisipatif memungkinkan peneliti dapat berkomusikasi secara akrab dan leluasa
dengan observee dan memungkinkan untuk bertanya secara lebih rinci dan getail terhadap hal-
hal yang tidak akan dikemukakan dalam tida jenis observasi, yaitu:

   a. Berpatisipasi secara lengkap.

       Peneliti menjadi anggota penuh dari kelompok yang diamati sehingga peneliti
       mengetahui dan menghayati secara utuh dan mendalam sebagaimana yang dialami subjek
       yang diteliti lainnya.

   b. Berpartisipasi secara fungsional.

       Maksudnya peneliti sebenarnya bukan anggota asli kelompom yang diteliti melainkan
       dalam peristiwa-peristiwa tertentu bergabung dan berpartisipasi dengan subjek yang
       diteliti dalam kapasitas sebagai pengamat.

   c. Berpartisipasi sebagai pengamat.

       Maksudnya peneliti ikut berpartisipasi dengan kelompom subjek yang diteliti, tetapi
       hubungan antara peneliti dan subjek yang diteliti bersifat terbuka, tahu sama tahu, akrab,
       bahkan subjek yang diteliti sebagai sponsor penelitian itu sendiri, yang kepentingan
       penelitian tidak hanya bagi peneliti, melainkan juga subjek yang diteliti.

Beberapa persoalan pokok yang perlu mendapat perhatian secukupnya dari seorang partisipan
observer adalah:

a. Materi Observasi

        Persoalan tentang materi observasi sama sekali tidak dapat dilepaskan dari scope dan
tujuan penelitian yang hendak diselenggarakan. Adalah perlu sekali observer memusatkan
perhatiannya pada apa yang sudah dikerangkakan dalam pedoman observasi (observation guide)
dan tidak terlalu insidental dalam observasi-observasinya.

Sungguhpun observer pertisipan mengikuti dan turut serta dalam kegiatan-kegiatan observee,
namun masih perlu dibedakan mana persoalan yang penting dan tidak penting.

b. Waktu dan Bentuk Pencatatan
       Masalah kapan dan bagaimana mengadakan pencatatan adalah masalah yang pelik dan
penting bagi observasi partisipan. Sudah dapat dipastikan bahwa pencacatan dengan segera
terhadap kejadian-kejadian dalam situasi interaksi adalah yang terbaik.

       Pencatatan on the spot, akan mencegah pemalsuan ingatan karena terbatasnya ingatan.
Sungguh pun begitu ada saat dimana pencatatan on the spot tidak dapat dilakukan, misalnya
ketika situasi yang normal terganggu, ketika timbul rasa curiga pada observee, dan ketika
observer kesulitan karena harus mencegah perhatiaannya untuk parisipasi, mengobservasi, dan
mencatat secara bersama-sama.

       Jika pencatatan on the spot tidak dilakukan, sedang kelangsungan situasi cukup lama,
maka perlu dijalankan pencatatan dengan kata-kata kunci. Akan tetapi, pencatatan semacam ini
pun harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak menarik perhatian dan tidak menimbulkan
kecurigaan. Pencatatan dapat dilakukan misalnya pada kertas-kertas kecil atau pada kertas apapu
yang kelihatannya tidak berarti.

       Tiap-tiap pencatatan dapat mengambil dua bentuk:

   a. Bentuk Kronologis, menurut urut-urutan kejadiannya.
   b. Bentuk sistematik, yaitu memasukkan tiap-tiap kejadian dalam kategori-kategorinya
      masing-masing tanpa memperhatikan urutan kejadiannya.

      Maisng-masing bentuk itu mempunyai kebaikan dan kelemahannya sendiri-sendiri.
Kebaikan bentuk yang pertama adalah bahwa konteks observasi masih dapat dipertahankan.
Sedangkan kebaikan bentuk yang kedua adalah sekali jalan penyelidik sudah mempersiapkan
penganalisaan data yang dicatat.

        Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah memisahkan antara pendataan yang
faktual dengan pencatatan yang interpretatif. Tidak jarang penyelidik secara tidak sadar mencatat
suatu kejadian sebagai fakta, padahal sebenarnya adalah interpretasi. Ini dapat diketahui dengan
mudah bila dua orang observer dari latar belakang yang berlainan mengkonfrontasikan
pencatatan-pencatatan mereka. Oleh sebab itu ada baiknya jika pencatat memberikan kode-kode
tertentu untuk dua jenis pencatatan itu, misalnya kode (1) untuk pencatatan jenis faktual dan
kode (2) untuk pencatatan jenis interpretatif.

       Pemisahan itu penting karena:

   1. Untuk membedakan mana data yang otentik dan mana yang tidak.
   2. Jika observasi dilakukan oleh suatu team, dalam penganalisaan data tidak banyak timbul
      kesulitan atau perselisihan paham.

       Bagaimana mengusahakan, mengatur, dan memelihara hubungan antara observer dan
observee selalu merupakan persoalan yang sangat pelik dalam observasi partisipan.

       Pedoman minimal yang perlu dipegang teguh oleh penyelidik dalam hal ini adalah:
   1. Mencegah adanya kecurigaan.
   2. Mengadakan good rapport, dan
   3. Menjaga agar situasi dalam masyarakat yang diselidiki tetap wajar.

        Good rapport, yaitu hubungan antar pribadi yang ditandai oleh semangat kerjasama,
saling mempercayai, saling tenggang rasa, sama derajad dan saling membantu secara harmonik
antara observer dan observee, perlu diusahakan bukan saja dengan tokoh-tokoh kunci, tetapi juga
dengan seluruh lapisan masyarakat ajang observasi.

        Masalah lain yang juga perlu mendapat perhatian penyelidik yang menggunakan teknik
observasi partisipan adalah memberikan “alasan” tentang kehadirannya yang dapat dimengerti
dan diterima oleh anggota-anggota masyarakat yang bersangkutan.

   a. Intensi dan Ekstensi Partisipasi

        Dalam hal luasnya partisiapasi tidaklah sama untuk semua penyelidikan dengan observasi
partisipan ini. Penyelidik dapat mengambil partisipasi hanya pada beberapa kagiatan sosial
(partial participation), dan dapat juga pada semua kegiatan (full participation). Dan dalam tiap-
tiap kegiatan itu dia dapat turut serta sedalam-dalamnya (intensive participation) atau secara
minimal (surface participation). Hal ini tergantung pada situasinya.

         Dalam observasi partisipan observer berperan ganda yaitu sebagai pengamat sekaligus
menjadi bagian dari yang diamati, sedangkan dalam observasi norpartisipan observer hanya
memerankan diri sebagai pengamat. Perhatian peneliti terfokus pada bagaimana mengamati,
merekam, memotret, mempelajari, dan mencatat tingkah laku atau fenomena yang teliti.
Observasi nonpartisipan dapat bersifat tertutup dalam arti tidak diketahui oleh subyek yang
diteliti ataupun terbuka yakni diketahui oleh subyek yang diteliti.

2. Obsevasi Sistematik

       Observasi sistematik biasa disebut juga observasi berkerangka atau structured
observation. Ciri pokok dari observasi ini adalah kerangka yang memuat faktor-faktor yang telah
diatur kategorisasinya lebih dulu, dan ciri-ciri khusus dari tiap-tiap faktor dalam kategori-
kategori itu.

   a. Materi Observasi

        Isi dan luas situasi yang akan diobservasi dalam observasi sistematik umumnya lebih
terbatas. Sebagai alat untuk penyelidikan deskriptif, dia berlandaskan pada perumusan-
perumusan yang lebih khusus. Wilayah atau scope observasinya sendiri telah lebih dahulu
dibatasi dengan tegas sesuai dengan tujuan dari penelitian, bukan situasi kehidupan masyarakat
seperti pada observasi partisipan yang umumnya digunakan dalam penelitian eksploratif.

      Parumusan-perumusan masalah yang hendak diselidiki pun sudah dikhususkan, misalnya
hubungan antara pengikut, kerjasama dan persaingan prestasi belajar, dan sebagainya. Dengan
begitu kebebasan untuk memilih apa yang diselidiki adalah sangat terbatas. Ini kadang-kadang
dijadikan ciri yang membedakan observasi sistematik dari observasi partisipan.

   b. Cara-cara Pencatatan

        Persoalan-persoalan yang telah dirumuskan secara teliti memungkinkan jawaban-
jawaban, respon, atau reaksi yang dapat dicatat secara teliti pula. Ketelitian yang tinggi pada
prosedur observasi inilah yang memberikan kemungkinan pada penyelidik untuk mengadakan
„kuantifikasi‟ terhadap hasil-hasil penyelidikannya.Jenis-jenis gejala atau tingkah laku tertentu
yang timbuk dapat dihitung dan ditabulasikan. Ini akan sangat memudahkan pekerjaan analisa
hasilnya nanti.

   c. Hubungan antara Observer dan Observee

        Dalam observasi sistematik hubungan observer dan observee mengajukan suatu persoalan
yang pelik. Jika tidak dilakukan dibelakang „one way screen‟. Observasi jenis ini menimbulkan
masalah yang sama dengan observasi partisipasi untuk mengusahakan rapport yang baik.
Pertama-tama situasinya harus disiapkan sedemikian rupa sehingga para observee tidak
berkeberatan menerima observer. Dengan kesibukannya mengadakan pencatatan, menggunakan
alat-alat, dan kesibukan-kesibukan lainnya, seorang observer tidak akan dapat menyembunyikan
kenyataan-kenyataan sedang mengadakan penyelidikan. Kerena itu, mendapatkan kerjasama
yang sebaik-baiknya dengan observee adalah syarat mutlak dalam observasi sistematik.

        Dalam pada itu pengalaman-pengalaman menunjukkan bahwa jika sebelum penyelidikan
yang sebenarnya observer sudah pernah hadir dalam situasi sekali atau beberapa kali umumnya,
kehadirannya di sudut kamar tidak banyak mempengaruhi kegiatan-kegiatan grup yang sedang
berjalan.

3. Observasi Eksperimental

       Observasi dapat dilakukan dalam lingkup alamiah/natural ataupun dalam lingkup
eksperimental.

       Dalam observasi alamiah observer mengamati kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa, dan
perilaku-perilaku observee dalam lingkup natural, yaitu kejadian, peristiwa, atau perilaku apa
adanya tanpa adanya usaha untuk mengontrolnya.

       Observasi eksperimental dipandang sebagai cara penyelidikan yang relatif murni
menyelidiki pengaruh kondisi-kondisi tertentu terhadap tingkah laku manusia. Sebab faktor-
faktor lain yang mempengaruhi tingkah laku observee telah dikontrol secermat-cermatnya
sehingga tinggal satu-dua faktor untuk diamati bagaimana pengaruhnya terhadap dimensi-
dimensi tertentu terhadap tingkah laku.

       Ciri-ciri penting bagi observasi eksperimental adalah sebagai berikut :
      Observer dihadapkan pada situasi perangsang yang dibuat seseragam mungkin untuk
       semua observee.
      Situasi dibuat sedemikian rupa untuk memungkinkan variasi timbulnya tingkah laku yang
       akan diamati oleh observer.
      Situasi sedemikian rupa sehingga observee tidak tahu maksud yang sebenarnya dari
       observasi.
      Observer atau alat pencatat membuat catatan-catatan dengan teliti mengenai cara-cara
       observee mengadakan aksi reaksi, bukan hanya jumlah reaksi semata-mata.



PROSES OBSERVASI

A. ALAT OBSERVASI

        Ada bebarapa alat observasi yang digunakan dalam situasi-situasi yang berbeda-beda,
antara lain :

1. Anekdotal

Observer mencatat hal-hal yang penting. Pencatatan dilakukan sesegera mungkin pada tingkah
laku yang istimewa. Observer harus mencatat secara teliti apa dan bagaimana kejadian, bukan
bagaimana menurut pendapatnya. Akan tetapi, kerugian dari bentuk seperti ini adalah memakan
waktu yang agak lama.

2. Catatan Berkala

Dalam catatan berkala penyelidik yang mencacat macam-macam kejadian khusus sebagimana
pada observasi anecdotal, melainkan hanya pada waktu-waktu tertentu. Apa yang dia lakukan
adalah mengadakan observasi cara-cara orang bertindak dalam jangka waktu tertentu, kemudian
menuliskan kesan-kesan umumnya. Setelah dia menghentikan penyelidikannya dan mengadakan
penyelidikan lagi pada saat ini dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

3. Check List

Check list adalah suatu daftar yang berisi nama-nama subyek dan faktor-faktor yang hendak
diselidiki. Check list dimaksudkan untuk mensistematikan catatan observasi. Dengan check list
ini lebih dapat dijamin bahwa penyelidik mencatat tiap-tiap kejadian yang telah ditetapkan
hendak diselidiki.

Ada bermacam-macam aspek perbuatan yang biasanya dicantumkan dalam check list, dan
observer tinggal memberi tanda check secara cepat tentang ada tidaknya aspek perbuatan yang
tercantum dalam list.

4. Rating Scale
Rating scale adalah pencatatan gejala menurut tingkat-tingkatnya. Rating scale ini sangat populer
karena pencatatanya sangat mudah, dan relatif menunjukkan keseragaman antara pencatat dan
sangat mudah untuk dianalisis secara statistik.

Rating scale umumnya terdiri dari suatu daftar yang berisi ciri-ciri tingkah laku yang harus
dicatat secara bertingkat observasi diminta mencatat pada tingkat yang bagaimana suatu gejala
atau ciri tingkah laku timbul.

Rating scale mempunyai kesamaan dengan ckeck list. Observer tinggal member tanda-tanda
tertentu dan mengecek pada tingkat-tingkat tingkah laku tertantu. Dengan cara ini deskripsi yang
panjang lebar tidak diperlukan, dan waktu sangat dihemat oleh karenanya.

Namun, demikian ada beberapa sumber kesesatan yang perlu mendapat perhatian dari observer,
yaitu:

a. Hallo Effects

          Kesesatan „halo‟ terjadi jika observer dalam pencatatan terpikat oleh kesan-kesan
   umum yang baik pada observe, sedang observer tidak menyelidiki kesan-kesan umum itu.
   Jadi, misalnya seorang observer mungkin terpikat oleh tingkah laku yang sopan dari orang
   yang diamati, dan memberikan penilaian yang tinggi pada observe tanpa memperhatikan
   pada aspek yang sebenarnya hendak diamati. Dan sebaliknya seorang observer dapat
   memberi nilai yang lebih rendah daripada semestinya tentang suatu hal yang oleh karena
   observe berpakaian yang kurang rapi, sedang observer sendiri adalah orang yang biasa
   berpakaian rapi.

b. Generosity Effects

         Kesesatan dapat terjadi karena keinginan untuk berbuat baik. Dalam keadaan-keadaan
   yang meragukan seorang observer mempunyai kecenderungan seorang observer mempunyai
   kecenderungan untuk menilai yang menguntungkan (atau merugikan) observee.

c. Carry Over Effects

           Carry over effects terjadi jika pencatat tidak dapat memisahkan satu gejala dari yang
   lain dan jika gejala yang satu kelihatan timbul dalam keadaan yang baik, gejala yang lainnya
   juga dicatat dalam keadaan baik, sungguhpun kenyataannya tidak begitu. Pencatatan gejala
   yang satu dan dibawa-bawa dalam pencatatan gejalan lainnya ini pasti tidak akan
   menghasilkan fakta-fakta yang sesuai dengan keadaannya. Sehingga hal ini perlu
   diperhatikan oleh seorang peneliti yang hendak meneliti suatu gejala.

5. Mechanical Devices

Perkembangan alat-alat optika yang maju memungkinkan seorang observer menggunakan alat
pencatat mesin seperti kamera video untuk menyelidiki tingkah laku orang. Biaya untuk ini
sangat mahal tetapi pada kesempatan-kesempatan tertentu diperlukan juga.
Keuntungan dari observasi yang menggunakan alat ini adalah:

      Dapat diputar kembali setiap dibutuhkan.
      Dapat diputar lambat-lambat untuk memungkinkan analisa yang diteliti tentang tingkah
       laku manusia, yang belum tentu dapat dilakukan dalam kegiatan normal.
      Untuk seorang perancang reseach memberikan bahan-bahan yang berharga untuk
       mengembangkan problema-problema penelitian.
      Sebagai alat untuk melatih observer untuk memperbaiki kecermatan dan ketelitian
       observasinya.

B. OBSERVER

Spradley (1980) menyebutkan bahwa peran observer dalam metode observasi adalah:

1. Observer tidak berperan sama sekali

Dalam Observasi observer tidak berperan, kehadiran dalam area penelitian hanya untuk
melakukan observasi tetapi tidak diketahui oleh subyek yang diamati.

Observasi jenis ini bisa dilakukan, misalnya dengan menggunakan kaca “one way mirror“ seperti
pengamatan pada sekelompok anak-anak dengan perilaku di dalam kelas dalam suatu ruangan
atau kelas, atau menggunakan teropong jarak jauh untuk mengamati perilaku seorang atau
sekelompok orang. Pengamatan semacam itu juga bisa dilakukan dengan cara menggunakan
rekaman video sehingga peneliti benar-benar tidak melakukan peran sama sekali.

2. Observer berperan pasif

Dalam jenis ini observer mendatangi peristiwa, akan tetapi kehadirannya di lapangan
menunjukkan peran yang peling pasif. Kehadirannya sebagai orang asing diketahui oleh orang
yang diamati, dan bagaimanapun hal ini membawa pengaruh. Agar kehadiran peneliti tidak
mempengaruhi sifat alamiah subjek, sebaiknya peneliti tidak membuat catatan selama penelitian,
kecuali mungkin dengan menggunakan perekaman secara tersembunyi. Tetapi setelah selesai
melakukan pengamatan, peneliti harus segera membuat catatannya secepatnya sebelum
tertumpuk oleh informasi lainnya.

3. Observer berperan aktif

Dalam observasi ini peneliti dapat memainkan berbagai peran yang dimungkinkan dalam suatu
situasi sesuai dengan kondisi subjek yang diamati. Cara ini dilakukan semata untuk dapat
mengakses data yang diperlukan bagi penelitian. Keberadaan peneliti sebenarnya diketahui oleh
subjek yang diteliti, tetapi peneliti telah dianggap sebagai bagian dari mereka dan kehadirannya
tidak mengganggu atau mempengaruhi sifat naturalistik. Apa yang dilakukan tidak ubahnya
sebagaimana yang dilakukan subjek yang diteliti.

4. Observer berperan penuh
Pada observasi ini peneliti bisa jadi sebagai anggota resmi dari kelompok yang diamati atau
sebagai orang dalam atau orang luar tetapi telah dianggap sebagai orang dalam.

Peran peneliti dalam observasi terlibat penuh, bukan sekedar partisipasi aktif dalam kegiatan
subjek yang diteliti, tetapi juga bisa lebih menjadi pengarah acara sebuah peristiwa terarah
dengan skenario peneliti agar kedalaman dan keutuhan datanya tercapai.

Dalam melakukan observasi ada beberapa hal yang mempengaruhi kecermatan dalam observasi,
yaitu:

      Prasangka-prasangka dan keinginan-keinginan dari observer.
      Keterbatasan panca indra, kemampuan pengamatan, dan ingatan manusia.
      Keterbatasan wilayah pandang.
      Ketangkasan menggunakan alat-alat pencatatan.
      Ketelitian pencatatan hasil-hasil observasi
      Ketepatan alat dalam observasi. Pengertian observer tentang gejala yang diobservasi.
      Kemampuan menangkap hubungan sebab akibat tergantung pada keadaan mental, indra
       pada suatu waktu.

        Oleh karena itu untuk dapat menjadi seorang observer yang baik harus memiliki syarat-
syarat sebagai berikut :

1. Mengerti latar belakang tentang materi yang akan diobservasi

      Untuk mengobservasi tentang perkembangan anak maka seorang observer harus
mengusai teori tentang perkembangan yang harus dilalui oleh setiap anak.

2. Mampu memahami kode-kode / tanda-tanda tingkah laku untuk membedakan tingkah laku
yang satu dengan yang lain.

       Seorang observer hendaknya mempunyai kemampuan untuk membedakan tanda-tanda
tingkah laku agar dapat membedakan tingkah laku yang satu dengan yang lainnya. Juga perlu
mengetahui perbedaan mengekspresikan emosi ke dalam perilaku bagi masing-masing kelompok
masyarakat.

3. Membagi perhatian

       Seorang observer harus mampu membagi perhatiannya antara mengamati tindakan yang
dilakukan oleh observee dan mencatat perilaku tersebut.

4. Dapat melihat hal-hal yang detail

        Seorang observer harus mampu mengamati perilaku observee sampai pada perilaku yang
sekecil-kecilnya, karena bisa saja perilaku yang dianggap tidak penting justru merupakan
perilaku yang sangat penting.
5. Dapat mereaksi dengan cepat dan menerangkan contoh-contoh tingkah laku secara
verbal/non verbal.

       Seorang observer harus bisa memahami dengan cepat perilaku yang ditunjukkan oleh
observee dan bagaimana respon yang harus diberikan.

6. Menjaga hubungan antara observer dan observee

       Kemampuan menjalin hubungan baik dengan observe merupakan faktor yang sangat
penting dalam observasi.

C. HAL-HAL YANG DIOBSERVASI

       Banyak hal-hal, peristiwa-peristiwa, masalah-masalah, dan gejala-gejala yang dapat
diobservasi.

      Dalam melakukan observasi ada beberapa point yang biasanya perlu diperhatikan, yaitu:

   A. Penampilan fisik : yang meliputi kondisi fisik observe, misalnya tinggi badan, berat
      badan, warna kulit, dan lain-lain.
   B. Gerakan tubuh / penggunaan anggota tubuh. Misalnya: bagaimana postur tubuh observe,
      bagian tubuh mana yang sering digunakan dan bagian mana yang kurang banyak gerakan
      (misalnya observe selalu menggerak-gerakkan tengan ketika berbicara, dsb).
   C. Ekspresi wajah : Bagaimana ekspresi wajah observe ketika sedang berbicara.
   D. Pembicaraan : yaitu bagaimana isi pembicaraan yang dilakukan.
   E. Rekasi emosi : yaitu bagaimana reaksi emosi observe. Dalam penelitian seorang observer
      perlu memperhatikan bagaimana reaksi emosi observe terhadap suatu masalah yang ingin
      diteliti.
   F. Aktivitas yang dilakukan : Misalnya jenisnya, lamanya, dengan siapa, dimana dan
      sebagainya.
   G. Dan beberapa hal yang perlu diobservasi. Hal ini sesuai dengan tujuan dari penelitian
      yang akan dilakukan.

D. LANGKAH-LANGKAH DALAM OBSERVASI

      Rummel telah merumuskan petunjuk-petunjuk penting bagi mereka yang menggunakan
metode observasi untuk mengumpulkan fakta-fakta seperti berikut:

   1. Peroleh dahulu pengetahuan apa yang akan diobservasi. Penyelidik dapat mengobservasi
      dan mengingat-ingat lebih banyak sifat-sifat khusus dari sesuatu jika dia telah
      mempunyai pengetahuan lebih dahulu tentang apa yang akan diobservasi dan jenis
      fenomena-fenomena apa yang perlu dicatat. Sebab itu ketahui dan tentukan lebih dahulu
      apa-apa yang perlu diobservasi.
   2. Selidiki tujuan-tujuan yang umum maupun khusus dari masalah-masalah reseach untuk
      menentukan apa yang harus diobservasi. Perumusan masalah dan aspek-aspek khusus
      dari penyelidikan akan menentukan apa yang harus diobservasi. Selidiki secara
      mendalam dan gunakan penyelidikan-peyelidikan yang terdahulu yang mempunyai
      hubungan dengan problematik reseach yang akan dilakukan untuk memperoleh petunjuk-
      petunjuk tentang apa yang diobservasi dan dicatat.
   3. Buatlah suatu cara untuk mencatat hasil-hasil observasi. Adalah penting sekali untuk
      menetapkan lebih dahulu simbol-simbol statistik atau rumusan-rumusan deskriptif yang
      akan digunakan untuk mencatat hasil-hasil observasi. Cara ini akan menghemat waktu
      dan menyeragamkan tata kerja observasi yang dilakukan terhadap banyak peristiwa.
      Banyak orang merasa perlu mencatat-catat hasil observasi, tetapi tidak berhasil untuk
      melakukan itu karena ketiadaan cara pencatatn yang efisien.

        Untuk melaksanakan itu umumnya digunakan check list. Check list akan menghemat
        pencatatan sampai minimal dan jika dibuat secara cermat akan memungkinkan penyelidik
        mencatat secara teliti unsur-unsur khusus dari gejala yang akan diselidiki.

   4. Adakan dan batasai dengan tegas macam-macam tingkat kategori yang akan digunakan,
      kecuali mencatat jumlah frekuensi dari suatu jenis tingkah laku, kerapkali perlu sekali
      penyelidik mengetahui besar kecilnya jenis tingkah laku yang muncul.
   5. Adakan observasi secermat-cermatnya.
   6. Catatlah tiap-tiap gejala secara terpisah.
   7. Ketahuilah beik-baik alat-alat pencatatan dan data caranya mencatat sebelum melakukan
      observasi.

Secara singkat berikut langkah-langkah yang harus dilakukan dalam observasi :

   1.   Mengetahui/memperoleh pengetahuan yang akan diobservasi.
   2.   Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus.
   3.   Membuat tata cara observasi (metode apa, alatnya apa).
   4.   Membatasi dengan tegas hal-hal yang akan diobservasi.
   5.   Melakukan observasi dengan secermat-cermatnya.
   6.   Membuat hasil catatan-catatan/observasi.
   7.   Memahami pencatatan dan penggunaan alat.

E. PENCATATAN LAPANGAN

Catatan lapangan berisi tentang hal-hal yang diamati, apapun yang oleh peneliti dianggap
penting. Penulisan catatan lapangan dapat dilakukan dalam cara yang berbeda-beda. Yang
penting untuk diingat adalah catatan lapangan mutlak dibuat secara lengkap, dengan keterangan
tanggal dan waktu yang lengkap.

Untuk mampu menulis catatan lapangan yang lengkap dan informatif, peneliti perlu melatih
kedisiplinan untuk melakukan pencatatan secara kontinyu, dan menuliskannya langsung saat
melakukan observasi di lapangan. Bila pencatatan tidak mungkin dilakukan langsung di
lapangan, hal tersebut wajib dilakukan sesegera mungkin setelah peneliti meninggalkan
lapangan. Peneliti harus menyadari ia tidak dapat mengandalkan ingatanya saja, dan bila ia tidak
segera mencatat apa yang ia amati, sangat mungkin akan kehilangan nuansa yang diamati.
Catatan lapangan harus deskriptif, diberi tanggal dan waktu, dan dicatat dengan menyertakan
informasi-informasi dasar seperti dimana observasi dilakukan, siapa yang hadir di sana,
bagaimana setting fisik lingkungan, interaksi sosial dan aktifitas apa yang berlangsung dan
sebagainya.

Yang sangat penting untuk selalu diingat adalah peneliti yang baik akan melaporkan hasil
observasinya secara deskriptif, tidak interpratatif. Pengamat tidak mencatat kesimpulan atau
interpretasi, melainkan data kongrit berkenaan dengan fenomena yang diamati.

Deskripsi yang memadai dalam detil, dan ditulis sedemikian rupa untuk memungkinkan pembaca
menvisualisasikan setting yang diamati. Deskripsi interpretasi dengan menggunakan
penyimpulan-penyimpulan dari peneliti harus dihadari interpretasi dengan memberikan lebel
atau penjelasan sifat-sifat tidak ditunjukkan. Yang perlu dilakukan adalah menjabarkan situasi
yang diamati segera mengambil kesimpulan tentang hal tersebut.

Hasil interpretasi :

Contoh : Ruangan sangat nyaman dan indah. Mereka sangat membenci satu sama lain.

Kongrit, apa adanya dan mendatai :

Contoh :

Ruangan berukuran…, terdengar suara musik dari alat perekam, dan tembok yang berwarna
biru muda digantungi beberapa lukisan pemandangan……

Kedua tersebut saling memuku. Yang satu terjatuh dan lelaki yang lain kemudian menginjak
sampai yang terjatuh tersebut berteriak-teriak…….

Dengan uraian deskriptif sekaligus informatif demikian, pengamat meminimalkan biasnya,
sehingga dengan sendirinya dengan sendirinya juga dapat mengembangkan analisis yang lebih
akurat saat menginterpretasi seluruh data yang ada.

Bila relevan yang memungkinkan, catatan lapangan perlu juga diisi kutipan-kutipan langsung
apa yang dikatakan obyek yang diamati selama proses observasi. Hal itu akan membantu peneliti
dalam mengungkap prespektif orang yang diamati mengenai realitas yang alami.

Guba dan Lincoln telah memberikan pedoman dalam pembuatan catatan :

    1. Pembuatan catatan lapangan, yaitu gambaran umum peristiwa-peristiwa yang telah
       diamati oleh peneliti. Dalam hal ini pengamat bebas membuat catatan, dan biasanya
       dilakukan pada malam hari setelah melakukan observasi.
    2. Buku harian, yang dibuat dalam bentuk yang teratur dan ditulis setiap hari, yang isinya
       diambil dari catatan lapangan.
    3. Catatan tentang satuan-satuan sistematis, yaitu catatan rinci tentang tema yang muncul.
   4. Catatan kronologis, yang merupakan catatan rinci tentang urutan peristiwa dari waktu ke
       waktu.
   5. Peta konteks, yang dapat berbentuk peta, sketsa atau diagram. Dengan peta konteks ini
       dapat diperoleh gambaran umum tentang posisi subjek serta perkembangannya.
   6. Taksonomi dan ketegori yang dikembangkan selama analisa di lapangan.
   7. Jadwal observasi berisi dekripsi waktu secara rinci tentang apa yang dikerjakan, apa yang
       diamati, dimana, kapan dan lain-lain.
   8. Siometik merupakan diagram hubungan antara subjek yang sedang diamati.
   9. Panel yaitu pengamatan terhadap seseorang atau sekelompok orang secara periodik.
   10. Kuesioner yang diisi oleh pengamat untuk memberikan balikan kepada pengamat
       sehingga dapat lebih mengarahkan dan memperbaiki teknik pengamatannya.
   11. Balikan dari pengamat lainnya, juga dapat memperbaiki teknik pengamatan yang
       dipergunakannya.
   12. Daftar cek, dibuat untuk mengecek apakah semua aspek informasi yang diperlukan telah
       direkam.
   13. Piranti elektronik, misalnya kamera atau video yang disembunyikan.
   14. “Topeng Steno“ yaitu alat perekam suara yang diletakkan secara tersembunyi di tubuh
       peneliti.

        Banister (1994) mengemukakan hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu membuat
catatan observasi, yaitu:

   1.   Deskripsi konteks.
   2.   Deskripsi mengenai karakteristik orang-orang yang diamati.
   3.   Deskripsi tentang siapa yang melakukan observasi.
   4.   Deskripsi mengenai perilaku yang ditampilkan orang-orang yang diamati.
   5.   Interpretasi sementara peneliti terhadap kejadian yang diamati.
   6.   Pertimbangan mengenai alternatif interpretasi lain.
   7.   Eksplorasi perasaan dan penghayatan peneliti terhadap kejadian yang diamati.

F. SUMBER-SUMBER KESALAHAN DALAM OBSERVASI

Dalam melakukan observasi, terutama bagi observer pemula yang belum mahir melakukan
observasi kerap terjadi kesalahan dalam melakukannya oleh karena itu perlu diketahui masalah-
masalah yang sering menjadi sumber kesalahan dalam melakukan observasi.

Ada beberapa sumber kesalahan yang sering ditemukan dalam observasi, yaitu:

   1. Kesalahan yang bersumber pada kualitas personel observer. Hal ini berkaitan dengan
      penelitia, hello effect, usia, latar belakang pendidikan/budaya, personal value.
   2. Kesalahan yang berhubungan dengan setting, skala, atau alat-alat yang digunakan.
   3. Kesalahan yangbersumber pada subjek penelitian. Mungkin dikarenakan kesalahan atau
      manipulasi diri.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Observasi
Setiap metode pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk metode observasi. Seorang
peneliti harus mengetahui kelebihan dan kekurangan metode yang digunkan sebagai alat untuk
mengumpulkan data penelitian yang akan dilakukannya sehingga dapat membuat perencanaan
yang matang tentang metode yang akan dipilih untuk kepentingan penelitiannya.

Kelebihan Metode Observasi, antara lain:

   1. Pengamatan langsung atas perilaku memungkinkan peneliti untuk merekam perilaku
       sebagaimana adanya.
   2. Peneliti memperoleh data dari tangan pertama.
   3. Dapat melengkapi dan memferifikasi hasil wawancara.
   4. Dapat memahami situasi yang rumit.
   5. Dapat menghasilkan data yang tidak mungkin diperoleh dengan metode lainnya.
   6. Dapat diterapkan secara luas dalam ilmu-ilmu pengetahuan sosial.
   7. Informasi yang didapatkan lebih mendalam bila dibandingkan dengan metode penelitian
       lain.
   8. Lebih sedikit tuntutan bagi subjek yang diteliti.
   9. Memungkinkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya suatu gejala.
   10. Tidak tergantung pada self report.

       Selain kelebihan-kelebihan diatas, metode observasi juga memiliki beberapa kekurangan.

Kekurangan Metode Observasi

   1. Tidak sempurnanya organ-organ penginderaan manusia.
   2. Persepsi selektif. Orang cenderung memilih satu hal sebagai pusat pengamatan sehingga
       hal lain luput dari pengamatan.
   3. Indra kurang bisa membuat perbandingan karena indra cenderung menyesuaikan dengan
       kondisi-kondisi tertentu.
   4. Indra tidak bekerja bebas dari pengalaman masa lalu.
   5. Proses pengamatan dapat berpengaruh terhadap gejala-gejala yang diamati. Subjek
       memanupulasi diri dihadapan pengamat.
   6. Dibutuhkan pengetahuan yang lebih tentang persoalan pokok yang diamati dan
       pengalaman yang memadai.
   7. Banyak kejadian yang tidak dapat diungkap dengan observasi langsung, misalnya
       kehidupan pribadi yang sangat rahasia.
   8. Timulnya kejadian tidak selalu dapat diramalkan sehingga observer dapat hadir untuk
       mengamati kejadian tersebut.
   9. Tugas observasi dapat terganggu pada waktu ada peristiwa yang tidak terduga, misalnya
       cuaca.
   10. Terbatasi oleh berlangsungnya kejadian yang diamati.

     Untuk memaksimalkan metode observasi dan memaksimalkan kelebihan                     dan
memimalkan kelemahan metode observasi perlu dipenuhi hal-hal seperti :

   1. Peneliti harus memahami konteks dimana perilaku itu terjadi.
   2. Dapat menangkap makna dari tindakan penuh arti yang dialami para subjek.
   3. Dapat menangkap world view masyarakat yang diamati.
   4. Dapat menangkap perilaku yang berpola dari subjek yang dimati.

       Selain salah satu upaya untuk menghilangkan kelemahan-kelemahan tersebut adalah
dengan menggunkan metode triangulasi. Dengan prosedur tersebut, data pengamatan dilengakapi
dengan data yang diperoleh dengan cara lain seperti kuesioner dan sumber data sekunder lain.
ketepatan data dapat diperoleh dengan metode ganda.

       Selain cara-cara tersebut, cara yang juga sering dilakukan oleh seorang peneliti yang
menggunakan metode observasi dalam pengumpulan data adalah dengan cara memperbanyak
jumlah orang yang melakukan observasi (observer).



VALIDITAS DAN RELIABILITAS

A. VALIDITAS

Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur.
Bila seseorang ingin mengukur berat suatu benda, maka ia harus menggunakan timbangan.
Timbangan adalah alat ukur yang valid bila dipakai untuk mengukur berat. Bila panjang benda
yang ingin diukur, maka harus menggunakan meteran. Meteran adalah alat pengukur valid bila
digunakan untuk mengukur panjang. Tetapi, tibangan bukanlah alat pengukur yang valid jika
digunakan untuk mengukur panjang.

1. Jenis-Jenis Validitas

Validitas alat pengumpul data dapat digolongkan beberapa jenis, di bawah ini ada beberapa jenis
validitas yang perlu diperhatikan.

a. Face Validity

        Bagaimana kelihatannya suatu alat pengukur benar-benar mengukur apa yang akan
diukur. Misalnya mengukur kemampuan sebagai seorang sopir, seorang observee harus disuruh
mengendarai mobil. Tetapi bila pengukuran kemampuan mengendarai mobil dilakukan dengan
ujian tertulis tentang teknik mengendarai mobil, maka lat pengukur tersebut kurang memiliki
face validity.

b. Content Validity

       Content validity atau bisa disebut sebagai validitas isi adalah sejauh mana isi alat ukur
tersebut memiliki semua aspek yang dianggap sebagai aspek kerangka konsep. data yang
mencerminkan ciri-ciri yang telah ditentukan yaitu apa saja yang diungkap / diukur. Contohnya
bila seorang peneliti ingin mengukur keikutsertaan dalam program KB dengan menyatakan
metode kontrasepsi yang dipakai. Bila aspek yang diamati tidak mencakup semua metode
kontrasepsi, maka alat ukut tersebut tidak memiliki validitas isi.

c. Predicty Validity

        Alat pengukur yang dibuat oleh peneliti seringkali dimaksudkan untuk memprediksi apa
yang akan terjadi di masa yang akan datang. Contohnya adalah ujian seleksi masuk perguruan
tinggi. Ujian tersebut adalah upaya untuk memperedisi apa yang akan terjadi di masa yang akan
datang. Peserta yang lulus ujian dengan nilai baik diprediksikan akan dapat mengikuti pelajaran
di perguruan tinggi dengan sukses.

        Apakah soal ujian masuk tersebut memiliki validitas prediktif, sangat tergantung pada
apakah ada korelasi yang tinggi antara nilai ujian masuk dengan prestasi belajar setelah menjadi
mahasiswa. Bila ternyata ada korelasi yang tinggi antara nilai ujian seleksi dengan indeks
prestasi belajar mahasiswa, maka soal ujian selaksi tersebut memiliki validitas prediktif.

      Untuk mendapatkan validitas yang tinggi maka harus menyiapkan dengan sungguh-
sungguh materi yang akan diukur.

d. Construct validity

        Konstruk adalah kerangka dari suatu konsep. Misalkan seorang peneliti ingin mengukur
konsep religiusitas. Pertama-tama yang harus dilakukan oleh peneliti ialah mencari apa saja yang
merupakan kerangka dari konsep tersebut. Dengan diketahuinya kerangka tersebut, seorang
peneliti dapat menyusun tolak ukur operational konsep tersebut.

       Misalnya ingin mengukur status ekonomi responden dengan menggunakan lima
komponen status ekonomi, yakni 1. Penghasilan per bulan; 2. Pengeluaran per bulan; 3.
Pemilikan barang; 4. Porsi penghasilan yang digunakan untuk rekreasi; dan 5. Kualitas rumah.
Apabila ada konsosistensi antara komponen-komponen konstruk yang satu dengan yang lain,
maka konstruk tersebut memiliki validitas.

e. Concurent validity

       Mengobservasi perilaku dengan membandingkan perilaku lain. Contoh : perilaku di
sekolah = perilaku di luar kelas (menunjukkan agresivitas).

2. Teknik Menguji Validitas

Pekerjaan untuk mencari validitas suatu alat ukur disebut validation. Prinsip dari validation
adalah membandingkan hasil-hasil dari pengukuran faktor dengan suatu kriterium, suatu ukuran
yang telah dipandang valid untuk menunjukkan faktor yang dimaksud. Jadi misalnya suatu alat
pengukur handak menyelidiki faktor ketelitian kerja, maka harus diambil lebih dahulu suatu
kriterium yang dapat dipandang mencerminkan ketelitian kerja. Dari kriterium itulah kemudian
hasil dari pengukuran faktor ketelitian kerja disoroti. Jika hasil pengukuran menunjukkan besar
ketelitian kerja yang sesuai dengan hasil pengukuran itu, maka alat pengukur itu dipandang
valid.

Ada dua jenis kriterium yang digunakan untuk menguji kejituan alat pengukur, yaitu:

a. Kriterium luar atau eksternal criterion.

       Yaitu suatu kriterium yang diambil dari luar alat pengukur itu sendiri. Misalnya : suatu
tes tentang ketelitian kerja, diuji validitasnya dengan prestasi kerja yang sesungguhnya
sebagaimana ditunjukkan oleh catatan-catatan hasil kerja atau penilaian pimpinan unit.

b. Kriterium dalam alat atau internal criterion

        Yaitu suatu kriterium yang diambil dari dalam alat itu sendiri. Biasanya diambil hasil
keseluruhan pengukuran atau total score sebagai kriteriumnya. Misalnya : ingin mengukur
intelegensi yang terdiri dari faktor-faktor daya analisa, daya klasifikasi, daya ingatan, daya
pemahaman, daya kritik dsb. Maka untuk menguji apakah sekelompok item benar-benar
mengukur daya analisa, misalnya, jawaban-jawaban terhadap item daya analisa dicocokkan
dengan hasil tes karena secara keseluruhan atau total score. Antara nilai total harus terdapat
korelasi yang positif tinggi dan cukup meyakinkan.

Kecocokan antara hasil-hasil dari item yang disangka mengukur suatu faktor dengan suatu
kriterium yang dipandang telah valid disebut factorial validity atau validitas faktor. Besar
kecilnya validitas faktor tergantung kepada besar kecilnya kecocokan itu.

B. RELIBILITAS

Reliabilitas observasi adalah keajegan apa yang diobservasi. Suatu hasil observasi bila diuji
kembali oleh orang lain baik di lain waktu maupun sekarang maka hasilnya relatif sama.

1. Sumber-Sumber Kesesatan

Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai
proses biologik dan pspsikologik. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses-proses
pengamatan dan ingatan. Dalam masing-masing, proses ini tergantung sumber-sumber kesesatan
yang perlu mendapat perhatian yang sekasama.

   a. Pengamatan

       Dua indra yang sangat vital dalam pengamatan adalah mata dan telinga. Baik dalam
       penyelidikan di laboratorium maupun dalam penyelidikan lapangan dua-duanya selalu
       terpakai, sungguhpun dalam banyak hal mata memegang peranan yang lebih dominan.

       Terbatasnya penglihatan ditimbulkan terutama dari keadaan objek yang dihadapi.
       Kebanyakan objek-objek penyelidikan adalah objek-objek yang kompleks, mempunyai
       unsur-unsur yang banyak, segi-segi yang berliku-liku atau dimensi-dimensi yang
       majemuk. Pada suatu saat orang hanya mampu menangkap sebagian kecil saja dari objek
       yang kompleks itu. Karena itu jika objek yang kompleks tidak hanya akan dilihat salah
       satu seginya atau unsurnya, kelemahan atau keterbatasan itu perlu diatasi dengan cara-
       cara tertentu.

       Ada tiga cara mengatasi sifat itu, yaitu:

       1. Menyediakan waktu yang lebih banyak agar dapat melihat objek yang kompleks dari
          berbagai segi, dari berbagai jurusan secara berulang-ulang,

       2.   Menggunkan observer yang lebih banyak               untuk   melihat   objeknya   dan
            menginterpretasikan hasil-hasil penyelidikan itu.

       3. Mengambil lebih banyak objek yang sejenis agar dalam jangka waktu yang terbatas
          dapat disoroti objek-objek itu dari segi-segi yang berbeda-beda oleh penyelidik yang
          terbatas jumlahnya.

   b. Ingatan.

       Tidak semua orang memiliki ingatan yang setia dan luas. Kedua dimensi ingatan ini
       membuat batasan-batasan dalam reliabilitas pengamatan. Karena itu ada cara-cara yang
       perlu diperhatikan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut, yaitu antara lain :

       1. Mengadakan pencatatan biasa dan atau dengan check list.

       2. Menggunakan alat-alat mekanik (tape recorder, karema foto dll).

       3. Menggunakan lebih banyak observer.

       4. Memusatkan perhatian pada data yang relevan.

       5. Mengklarifikasi gejala dalam golongan-golongan yang tepat.

       6. Menambahkan bahan pengetahuan tentang objek yang akan diamati.

2. Teknik Untuk Menetapkan Reliabilitas

Prosedur yang lazim digunakan untuk menilai reliabilitas pengukuran adalah mencari petunjuk
atau indeks hubungan antara hasil-hasil pengukuran yang pertama dengan hasil-hasil pengukuran
ulangan. Indeks hubungan itu disebut koefisien korelasi.

Pada dasarnya ada dua pokok pikiran yang tersembunyi di balik penghitungan koefisien korelasi
itu :

   a. Bahwa gejala atau ciri gejala tetap bertahan dan tidak berubah dari pengukuran yang satu
      ke pengukuran yang lain.
    b. Bahwa pengukuran berikutnya adalah ekuivalen dalam pengukuran yang mendahuluinya.

Ada tida jenis teknik reliabilitas, yaitu:

a. Teknik Ulangan

Dalam teknik ulangan alat pengukur yang sama diberikan kepada sejumlah subjek yang sama
pada saat-saat yang berbeda, dalam kondisi-kondisi pengukuran yang relatif sama.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

1. Kenakan alat pengukur kepada sejumlah subjek.

2. Setelah beberapa waktu berselang, ulangi langkah yang pertama; alatnya sama, subjeknya juga
sama, prosedur pengukurannya juga sama dan kondisi-kondisi pengukuran harus relatif sama.

3. Selidiki korelasi antar hasil pengukuran yang pertama dengan pengukuran yang kedua.

Dalam teknik ulangan ini diambil asumsi bahwa gejala yang diukur tidak berubah dalam
tenggang waktu pengukuran pertama dan kedua. Jika jarak pengukurannya cukup lama asumsi
itu menjadi sangat kabur tanpa suatu pengetahuan bahwa memang dalam tenggang waktu sekian
lama itu gejalanya sama sekali tidak berubah.

b. Teknik Bentuk Pararel

Dalam teknik bentuk parerel ini sekelompok item disajikan kepada sejumlah subjek. Kelompok
item ini disebut bentuk I. Kepada subjek-subjek itu juga dengan atau tanpa tenggang waktu
diberikan sekelompok item lainnya yang dipandang seimbang dengan kelompok item yang
pertama. Kelompok item yang kedua ini disebut bentuk II. Hasil dari kedua bentuk itu kemudian
dikorelasikan untuk memperoleh koefisien korelasi.

Jadi langkah-langkah pokok dalam reliabilitas dengan teknik bentuk pararel adalah sebagai
berikut :

    1. Memberikan bentuk I kepada sejumlah subjek.
    2. Memberikan bentuk II kepada subjek-subjek itu juga, dengan atau tanpa tenggang waktu.
    3. Mencari korelasi antara hasil bantuk I dan hasil bentuk II.

c. Teknik Belah Dua

Dalam teknik belah dua suatu baterai alat pengukur diberikan kepada sejumlah subjek, kemudian
item dari baterei dibagi dua, dan score dari separuh baterei dikorelasikan dengan score dari
separuh item sisanya.

Jadi langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
   1. Berikan baterei kepada sejumlah subjek.
   2. Bagi dua item dalam baterei .
   3. Cari korelasi antar score dari separuh item yang pertama dengan score dari separuh item
      yang kedua.

        Prosedur yang lazim untuk membelah baterei menjadi dua kelompok item adalah
mengumpulkan item yang bernomor ganjil menjadi satu kelompok, dan item yang genap menjadi
satu kelompok yang lain (ganjil-genap). Kecuali bisa dengan jalan random.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1516
posted:1/18/2011
language:Indonesian
pages:24