Docstoc

Kecil

Document Sample
Kecil Powered By Docstoc
					                                          KECIL
                                 Oleh: Mohammad Aniq KHB.
==================================================================


          Pagi itu, Mbak Yus, pedagang sayur, mendorong gerobak melewati jalan pedesaan.
Gerobak kecil induk dari segala aktifitas dagangnya. Tanpa basa-basi, tanpa malu-malu, dan
tanpa ragu, ia mendorong, menawarkan sayurannya dari rumah ke rumah. Walaupun bersaing
dengan pedagang besar yang memiliki tempat dan modal yang besar, ia tetap berusaha keras
untuk mendapatkan rejeki dari yang ia peroleh itu.
          Mbak Yus sudah memiliki manajemen usaha sendiri. Dengan kepandaian olah bicara
dan lobi pemasaran, ia telah melakukan prinsip manajemen. Apalagi usaha kecil bisa menjadi
re-konstruksi usaha besar. Terbukti Mbak Yus sudah memiliki warung kelontong sendiri dan
mampu membiayai dan menyekolahkan lima anaknya sampai dengan perguruan tinggi.
          Dua belas tahun yang lalu, saya melihat ia masih mendorong gerobaknya dengan kuat
dan ulet. Sekarang ia sudah duduk santai di warung melayani pelanggannya. Bahkan, ia
mampu meminjami modal kepada orang lain membuka bisnis.
          Perubahan itu justru berawal dari hal kecil yang harus dipraktekkan. Itulah
pengalaman yang berharga. Dalam pepatah inggris disebutkan “An experience is the best
teacher”. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Dengan kata lain, pengalaman tak bisa
dijualbelikan, tetapi bisa diajarkan.
          Ada sesuatu yang menyenangkan melihat orang yang mempraktikan keuletan
usahanya. Hanya dimulai dengan gerobak, berubah menjadi warung. Sungguh luar biasa.
Kecil berubah menjadi besar. Bila dibandingkan dengan jumlah pengangguran dari kuantitas
lulusan sarjana ekonomi dan manajemen di desanya, Mbak Yus yang paling berhasil. Jika
dibukukan, barangkali itu buku yang dapat memotivasi pembaca yang memuat manajemen
bisnis.
          Saat mendengar manajemen dan guru manajemen, kita diingatkan akan sosok orang
bernama Tom Peters. Ia bersama Robert Waterman menulis buku “In Search of Excellence”
dan berhasil menjadi buku cetakan pertama yang terlaris pada tahun 1982.
          Buku itu muncul bulan Oktober 1982, tepat bulan dimana pengangguran di Amerika
mencapai 10 persen dan pertama kali menembus batasan dua digit sejak depresi besar. In
Search of Excellence juga terbit setelah munculnya buku-buku mengenai keajaiban
menajemen Jepang. Amerika pada saat itu merasa bertanggung jawab atas keadaan buruk
yang menimpa. Sehingga buku tersebut berisi solusi manajemen untuk mengatasi
permasalahan yang kemudian dikenal dengan “fenomena peters”, yaitu suatu kemampuan
yang luar biasa untuk memanfaatkan suasana saat itu, ketrampilan memberikan nasihat yang
kedengarannya praktis, dan bakat pemasaran yang mengagumkan.
       Keadaan yang sama terjadi di Indonesia pasca era reformasi. Banyak pengangguran
sarjana yang duduk diam dan bahkan hanya menunggu bantuan dari pemerintah. Tetapi,
melalui beberapa program penanggulangan kemiskinan, pengangguran semakin lama
semakin berkurang. Bahkan banyak diantaranya membuka usaha-usaha kecil.
       Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kecil bisa berarti kurang besar, tidak
besar, sedikit, muda, sempit, dan tidak penting. Tetapi kecil bisa menjadi lebih besar, sangat
besar, banyak, luas dan penting. Kita mengenal banyak artis di kancah dunia perfilman,
musik, dan sinetron. Mereka berhasil sesuai bidang-bidangnya. Bahkan beberapa stasiun
televisi sekarang berlomba-lomba menyelenggarakan acara entertainment yang berusaha
membesarkan nama-nama. Seperti, acara Indonesia Got talent, Indonesia Mencari Bakat,
Aksi Anak Bangsa, Dangdut Mania, Indonesian Idol, dan lain-lain. Masyarakat sering
memberikan jargon lucu dengan istilah Indonesia gatelen.
       Semuanya itu berangkat dari kecil. Kecil pun dapat direlasikan dalam aspek
kewirausahaan. Dua tahun yang lalu, Pemilik Kem Chicks, Bob Sadino, menampar
pemerintah yang menyebut pengusaha yang sedang merintis bisnis kecil-kecilan. Ia tidak
setuju jika mereka dikategorikan dalam usaha mikro, kecil, dan menengah – sering disingkat
UMKM. Apalagi, jika dikatakan masih mengharap uluran tangan pemerintah atau beberapa
bantuan lain. Ia berkata “saya cenderung menyebut mereka UBB alias Usaha Bakal Besar”.
       Om Bob, begitu ia disapa, menyampaikan pemahaman yang jelas bahwa pengusaha
kelas teri tidak boleh mudah menyerah. Mereka harus bertekad menjadi pengusaha besar.
Sejarah mengungkap betapa banyak usahawan cekak modal memiliki daya tahan kuat dalam
menghadapi krisis finansial global pada akhir 2008. Pasca era reformasi pun, mereka tetap
mampu bertahan dengan usahanya di tengah bencana ekonomi regional. Sampai sekarang,
kemunculan pengusaha kecil tetap ber-prioritas turut menyumbangkan haknya demi
kemajuan Negara.
       Misalnya, Agung Nugroho, tukang cuci beromzet Rp 3 miliar, mampu
menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri. Ada juga Baedowy di Bekasi sukses dengan
mengubah tumpukan sampah menjadi berlembar-lembar yuan. Sehingga pakar linguistik
menganalisa kata “membuang” dalam konteks sampah diganti dengan menggunakan kata
“meletakkan”. Dengan asumsi makna bahwa sampah bukan lagi hal yang negatif, tetapi
mampu menghasilkan manfaat yang luar biasa. Dan masih berjuta-juta usahawan yang juga
menggeluti inovasi-inovasi bisnis lainnya.
       Ini berarti sebenarnya Indonesia adalah negara penghasil figur-figur top dalam bidang
kewirausahaan. Namun, bagaimana dengan permasalahan hukum yang selalu memperlakukan
diskrimanitif terhadap rakyat kecil? Itu pun salah satu produk yang dihasilkan Indonesia juga.
Masih teringat Minah dan tiga kakao itu sehingga divonis satu bulan 15 hari penjara dengan
masa percobaan tiga bulan. Kasus Minah adalah kasus diskrimasi peradilan dan kesewenang-
wenangan kekuasaan terhadap orang kecil. Lihatlah, bagaimana hukum memperlakukan
empat anggota DPRD Jawa Tengah yang didakwa menilap uang negara Rp 2,16 miliar. Tapi,
mereka hanya divonis hukuman setahun penjara.
       Aneh, kadangkala yang kecil bisa bernasib baik dan bisa bernasib buruk. Tetapi, kecil
sama-sama bisa menjadi besar dan penting. Bahkan, kalangan akademisi sering
membicarakan hal-hal yang kecil yang kemudian dianalisa secara empiris sehingga menjadi
pembicaraan yang menarik.
       Lalu, mengapa bangsa Indonesia selalu menganggap dirinya kecil? Bangsa Indonesia
ini memiliki kekuatan luar biasa yang tidak pernah dimiliki oleh bangsa lain. Mereka saja
yang belum tahu dan bahkan takut akan kekuatan kita ketika menjadi besar.
       Di Jawa Timur kita tahu istilah bonek. Hanya bermodal nekad, dia bisa sampai ke
Jakarta dari Surabaya dan bahkan sampai ke luar jawa. Luar biasa. Kalau kita berani
mengatakan, negara-negara lain seharusnya berguru pada Indonesia yang banyak nilai budaya
dan falsafah spiritualitas, bukan kita yang harus selalu berguru kepada mereka.
       Kita tidak usah menyesali timnas sepak bola Indonesia kalah dengan Malaysia dalam
ajang piala AFF 2010 kemarin. Belum saatnya Indonesia menyakiti negara lain. Bangsa
Indonesia adalah bangsa yang rendah hati dan suka bersedekah. Tidak melalui sepak bola
pun, Indonesia sudah menjadi negara besar dan pada saatnya nanti Indonesia mampu menjadi
mercusuar dunia. Wallahu a’lamu bishshowab***

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:149
posted:1/18/2011
language:Malay
pages:3
Description: Bangsa Indonesia bukan bangsa yang kecil. Mereka kuat dan tangguh baik dari segi spiritualitas dan kultural.