; AKHLAK
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

AKHLAK

VIEWS: 2,858 PAGES: 25

  • pg 1
									 Disusun Oleh :
DWI HARTANTO
Ajaran agama Islam tak hanya membahas hal yang
besar bagi manusia, hal yang kecil seperti
perjalanan, bertamu dan menerima tamu dianggap
hal yang kecil bagi sebagian besar manusia untuk
dipelajari. Kesadaran akan pentingnya aturan yang
telah ada didalam Al – Qur‟an terkadang terlupakan
bagi kita. Mengabaikan hal – hal kecil yang ujungnya
akan berakibat bagi kehidupan sehari – sehari.
Melewatkan hal – hal yang kecil secara terus
menerus membuat kita membentuk sebuah
kebiasaan yang buruk sepanjang kita lupa akan
aturan.
 Mengetahui pengertian dan pentingnya akhlak
  berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan
  menerima tamu
 Mengidentifikasi bentuk akhlak berpakaian
  berhias, perjalanan, bertamu dan menerima
  tamu
 Menunjukkan nilai – nilai positif dari akhlak
  berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan
  menerima tamu dalam fenomena kehidupan
  sehari – hari
 Dapat Membiasakan akhlak berpakaian, berhias,
  perjalanan, bertamu, dan menerima tamu
 Jelaskan pengertian dan pentingnya akhlak
  berpakaian, berhias, perjalanan, betamu dan
  menerima tamu
 Sebutkan serta Jelaskan bentuk akhlak
  berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan
  menerima tamu
 Apa saja nilai positif dari akhlak berpakaian,
  berhias, perjalanan, bertamu dan menerima
  tamu
 Bagaimana cara membiasakan akhlak
  berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan
  menerima tamu
 Mengetahui pengertian dan pentingnya akhlak
  berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan
  menerima tamu
 Dapat mengetahui bentuk – bentuk akhlak
  berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan
  menerima tamu
 Dapat mengetahui nilai – nilai positif dari akhlak
  berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan
  menerima tamu
 Dapat membiasakan akhlak berpakaian, berhias,
  perjalanan, bertamu dan menerima tamu dalam
  kehidupan sehari – hari
Pakaian adalah salah satu alat pelindung
fisik manusia. Tentunya pakaian tak lepas
dari kehidupan manusia. Semua kehidupan
manusia haruslah sesuai syari‟at Islam, yang
mana telah diatur oleh Al – Qur‟an. Maka
dari itu, manusia haruslah berpakaian
sesuai dengan yang telah diatur oleh Allah
SWT. Berpakaian sesuai dengan syari‟at
Islam, akan membuat kita merasa itu adalah
sebuah kewajiban untuk menjaganya agar
tetap dengan aturan yang ada.
Islam memiliki etika berbusana yang telah diatur oleh Allah
SWT didalam Al – Qur‟an dan Hadits. Didalam Islam, kita
sebagai umat Allah tidak diperbolehkan memakai pakaian
yang melanggar aturan Islam, tetap harus mengikuti aturan
itu sampai kita meninggal. Jika kita melanggar, dan tidak
mau mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Allah,
maka sama saja kita orang munafiq. Zaman semakin
berkembang bukan berarti kita harus mengikuti
perkembangan yang ada secara keseluruhan. Pakaian
merupakan pengaruh yang besar bagi perkembangan
zaman. Karena, akibat dari perkembangan zaman yang
datangnya dari Dunia Barat, sangat mempengaruhi mode
pakaian kita sebagai umat muslim. Maka dari itu
biasakanlah berpakaian sesuai syari‟at Islam, agar tidak
terpengaruh oleh pengaruh – pengaruh negatif, yang
membuat kita lupa akan Allah serta aturanNya
Berhias adalah naluri yang dimiliki oleh manusia. Berhias
sudah menjadi kebutuhan bagi sebagian besar manusia,
agar dapat memperindah diri baik di lingkungan sekitar
maupun diluar. Berhias adalah salah satu alat untuk
mengekspresikan diri, yang menunjukkan identitas serta jati
diri seseorang. Berhias dapat memberikan kesan indah
tersendiri bagi orang lain yang melihatnya, baik dari segi
pakaian, maupun make up wajah mereka. Maka dari itu
berhias dikategorikan sebagai akhlak terpuji. Tetapi berhias
juga terdapat aturannya agar tidak melanggar syari‟ay
Islam. Dalam sebuah hadits Nabi SAW bersabda:
Artinya: Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai
keindahan (HR. Muslim)
    Perhiasan kita juga termasuk salah satu alat untuk berhias. Arloji,
    kalung, gelang, cincin dsb. Parfum juga termasuk, tapi kita tidak
    boleh lupa. Jika kita ingin berhias tersapat rambu – rambu, agar
    tidak melanggar Syari‟at yang sudah ditetapkan oleh Allah:
   Niat yang lurus, berhias hanya untuk beribadah yang
    diorientasikan sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah Allah
    berikan.
   Dalam berhias tidak diperbolehkan menggunakan bahan – bahan
    yang dilarang agama
   Tidak boleh menggunakan hiasan yang menggunakan simbol non
    muslim
   Tidak berlebih – lebihan
   Tidak Boleh berhias seperti orang jahiliah
   Berhias menurut kelaziman dan kepatutan dengan memperhatikan
    jenis kelamin
   Berhias bukan untuk berfoya – foya
Perjalanan dalam bahasa Arab disebut dengan kata “Rihlah atau – Safar” dalam
kamus besar Bahasa Indonesia perjalanan diartikan ; “perihal” (cara, gerakan, dsb)
Berjalan atau berpergian dari suatu tempat menuju tempat untuk suatu tujuan”.
Secara istilah, perjalanan sebagai aktifitas seseorang untuk keluar ataupun
meninggalkan rumah dengan berjalan kaki ataupun menggunakan berbagai
sarana transportasi yang mengantarkan sampai pada tempat tujuan dengan
maksud ataupun tujuan tertentu.
       Pada zaman Rasulullah, melakukan perjalanan telah menjadi tradisi
masyarakat Arab. Dalam Al Qur‟an Surah Al Quraisy yang disebut diatas, Allah
mengabadikan tradisi masyarakat Arab yang suka melakukan perjalananpada
musim tertentu untuk berbagai keperluan. Karena itu tidak heran jika Islam sebagai
satu – satunya agama yang mengatur kegiatan manusia dalam melakukan
perjalanan, mulai dari masa persiapan perjalanan, ketika masih berada dirumah,
selanjutnya pada saat dalam perjalanan dan ketika sudah kembali pulang dari
suatu perjalanan. (Roli A. Rahman, dan M. Khamzah, 2008: 37)
Islam mengajarkan agar setiap perjalanan yang dilakukan bertujuan untuk
mencari Ridho Allah. Diantara jenis perjalanan (Safar) yang dianjurkan dalam Islam
yaitu pergi Haji, Umroh, menyambung silaturahmi , menuntut Ilmu, berdakwah,
berperan di jalan Allah, mencari karunia Allah dll. Perjalanan (Safar) juga
berfungsi untuk menyehatkan dan merefreshing kondisi jasmani dan rohani dari
kelelahan dan kepenatan dalam menjalani suatu aktifitas.
    Sebagai pedoman Islam mengajarkan adab dalam
    melakukan perjalanan yaitu :
   Bermusyawarah dan shalat Istikharah
   Mengembalikan hak dan amanat kepada pemiliknya
   Membawa 6 benda : gunting, siwak, tempat celak, tempat air
    minum, cebok dan wudhu. Hal tersebut disunnahkan
    Rasulullah
   Menyertakan Istri ataupun anggota keluarga
   Wanita menyertakan teman atau muhrimnya
   Memiliki kawan pendamping yang shalih dan shalihah
   Mengangkat pemimpin atau ketua rombongan
   Mohon pamitan pada keluarga dan handai taolan serta
    mohon do‟a
  Keuntungan melakukan perjalanan diantaranya yaitu:
 Safar dapat menghibur diri dari kesedihan
 Safar menjadi sarana bagi sesorang untuk
  memperoleh tambahan pengalaman
 Safar dapat mengantarkan seseorang untuk
  memperoleh pengalaman dan ilmu pengetahuan
 Dengan Safar maka seseorang akan lebih banyak
  mengenal adapt kesopanan yang berkembang pada
  suatu komunitas masyarakat.
 Perjalanan akan dapat menambah wawasan dan
  bahkan kawan yang baik dan mulia. (Roli A. Rahman,
  dan M. Khamzah, 2008: 37)
Bertamu dalam bahasa Arab disebut dengan kata “Ataa liziyaroti,
atau Iatadloofa-Yastadliifu”. Menurut kamus bahasa Indonesia,
bertamu diartikan ; “datang berkunjung kerumah seorang teman
ataupun kerabat untuk suatu tujuan ataupun maksud (melawat dan
sebagainya)”. Secara istilah bertamu merupakan kegiatan
mengunjungi rumah sahabat, kerabat ataupun orang lain, dalam
rangka menciptakan kebersamaan dan kemaslahatan bersama.
      Tujuan bertamu sudah barang tentu untuk menjalin
persaudaraan ataupun persahabatan. Sedangkan bertamu kepada
orang yang belum dikenal, memiliki tujuan untuk saling
memperkenalkan diri ataupun bermaksud lain yang belum
diketahui kedua belah pihak.
      Bertamu merupakan kebiasaan positif dalam kehidupan
bermasyarakat dari zaman tradisional sampai zaman modern.
Dengan melestarikan kebiasaan kunjung mengunjungi, maka
segala persoalan mudah dilestarikan, segala urusan mudah
dibereskan dan segala masalah mudah diatasi.
    Disamping meminta izin dan mengucapkan salam, hal lain
    yang perlu diperhatikan oleh setiap orang yang bertamu
    sebagai berikut:
   Jangan bertamu sembarangan waktu.
   Kalau diteima bertamu, jangan selalu lama sehingga
    merepotkan tuan rumah. Setelah urusan seleai segeralah
    pulang.
   Jangan melakukan kegiatang yang membuat tuan rumah
    terganggu.
   Kalau diuguhi minuman atau makanan hormatilah jamuan
    itu. Bahkan Rasulullah saw. Menganjurkan kepada orang
    yang berpuasa sunnah sebaiknya berbuka puasanya untuk
    menghormati jamuan.
   Hendaklah pamid pada waktu mau pulang.
Menurut ungkapan Al-Qu‟an, sebaiknya orang bertamu tidak
memaksa untuk pada saat tidak ada orang yang di rumuh.
      Allah berfirman:„Jika kamu tidak menemui seorangpun
didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu
mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja)lah,
maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. an-Nur/24:28).
      Al-Qur-an memberikan isyarat yang tegas, betapa
pentingnya setiap orang yang bertemu dapat nejaga diri agar
tetap menghormati tuan rumah. Setiap tamu haru berusaha
menahan segala keinginan dan kehendaknya baiknya sekalipun,
jika tuan rumah tidak berkenan menerimanya. Demikin pula
apabila kegiatan bertamu telah uai, maka seorang yang bertamu
telah usai, maka seorang yang bertamu harus meninggalkan
kesan yang beik dan menyenagkan bagi tuan rumah. Karena itu
haram hukumnya orang yang bertamu meninggalkan kekecewaan
ataupun kesusahan bagi tuan rumah.
Islam memberikan aturan yang jelas agar setiap muslim memuliakan setiap tamu
yang dating, kerena memuliakan tamu sebagai perwujudan keimanan kepada Allah
dan hari akhir.
       Islam sebagai agama yang sangat serius dalam memberikan perhatian
orang yang sedang bertamu. Sesungguhnya orang yang bertau telah dijamun hak-
haknya dalam islam.karena itu menghormati tamu merupakan perhatian yang
mendatangkan kemuliaan di dunia dan akhirat. Setiap muslim wajib memuliakan
tamu, tanpa membeda-bedakan statu social ataupun maksud dan tujuan bertamu.
       Memuliakan tamu dilakukan antara lain dengan menyambut kedatangannya
dengan muka menis dan tutur kata yang lemah lembut, mempersilahkan duduk
ditempat yang baik. Kalau perlu, disediakan ruangan khusus untuk menerima tamu
yang selau dijaga kerapian dan kelestariannya.
       Kalau tamu datang dari tempat yang jauh dan ingin menginap, tuan rumah
wajib menerima dan menjamunya mekimal tiga hari tiga malam. Lebih dari tiga
hari terserah kepada tuan rumah untuk tetap menjamunyaatau tidak. Menurut
Rasulullah saw menjamu tamu lebih dari tiga hari nilainya sedekah, bukan lagi
kewajiban.
       Setiap orang islam telah diikat oleh suetu tata aturan supaya hidup
bertetangga dan bersahabat dengan orang lain, sekalipun berbeda agama atau
suku. Hak-hak mereka tidak boleh dikurangi dan tidak boleh dilanggar undang-
undang perjanjian yang mengikat di antara sesame manusia.
Menerima tamu sebagai perwujudan keimanan, artinya semakin kuat iman
seseorang, maka semakin ramah dan antun dalam menyambut tamunya karena
orang yang beriman meyakini bahwa menyambut tamu bagian dari perintah Allah.
Menyambut tamu dapat meningkatkan akhlak, mengembangkan kepribadian, dan
tamu juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendpatkan kemashalatan dunia
ataupun akhirat.
       Menerima tamu merupakan bagian dari aspek soial dalam ajaran Islam
yang harus terus dijaga. Menerima tamu dengan penyambutan yang baik
merupakan cermin diri dan menunjukkan kualitas kepribadian seorang muslim.
Setiap muslim harus membiasakan diri untuk menyambut setiap tamu yang datang
dengan penyambutan yang penuh suka cita.
       Agar dapat menyambut tamu dengan suka cita maka tuan rumah harua
menghadirkan pikiran yang positif (husnudon)terhadap tammu, jangan sampai
kehadiran tamu disertai dengan munculnya pikiran negative dari tuan rumah
(su‟udzon).
       Apabila suatu saat tuan rumah meraakan berat untuk menerima kehadirab
tamunya, maka tuan rumah haru tetap menunjukkan sikap yang arif dan bijak,
jngan sampai menyinggung perasaan tamu.
       Seyogyanya setiap muslim harus menunjukkan sikap yang baik terhadap
tamunya, mulai dari keramahan diri dalam menyambut tamu, menyediakan sarana
dan prasarana penyambutan yang memadai, serta memberikan jamuan makan
ataupun minuman yang memenui tamu.
    Hasud adalah membenci nikmat yang diberikan
    Allah kepada orang lain dan menginginkan
    hilangnya nikmat itu, sekalipun dengan cara
    memberi kuasa kepada orang lain untuk
    menghilangkan nikmat itu karena sulit. Seseorang
    yang memiliki jiwa hasud tidak akan merasa senang
    sebelum dapat membalas dan menghancurkan
    orang yang dihasudnya, bahkan dia dapat
    menghilangkan nikmat yang menjadi penyebab
    hasud. Oleh karena itu, hasud akan menimbulkan
    perbuatan yang merusak masyarakat dan akan
    menimbulkan kehancuran dan perpecahan.
.
 Keharuman hasud banyak disebut dalam al-Qur'an dan as-
     Sunnah.
  َ ‫ْ ُس ِ َ د ي‬                         ِ ‫َس‬          ‫َك ُّف‬              َ ِ ‫ّد ث س ِ َ م ْ ت ب ن َسّد ك‬
ٍَ‫َٔ َ كَ ِي ٌ يٍْ أْْ ِ انكِ َا ِ َْٕ ي ُ َُٔ ُىْ يٍْ بعْدِ إِيًَا ِ ُىْ ك َازًا ح َدًا يٍْ عُِْدِ أََّف ِِٓىْ يٍْ بعْ ِ َا َ َي‬
 ‫دس‬            ِ‫ك‬
               ‫م‬           ّ‫هّ َ ْ ٌِ ه‬                     ‫ّْفح ت‬                  ‫َٓ ُ َّق ف ّْف‬
ٌ ‫ن ُى انْح ُ َاع ُٕا َٔاص َ ُٕا حَ َى يَأَِْيَ انَ ُ بِأيسِ ِ إ َ انَ َ عَهَى ُ ّ شَيْءٍ قَ ِي‬
 Artinya: “Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar
     mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran
     setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari
     diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.
     Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah
     mendatangkan perintah-NyaSesungguhnya Allah Maha
     Kuasa atas segala sesuatu.
 Contoh hasud ada dalam surat Yusuf ayat 8-9 tentang
     kehasudan saudara Nabi Yusuf terhadap dirinya dan contoh
     lain adalah kisah anak Adam yang membunuh saudaranya
     karena hasud telah memakan hatinya
     Riya adalah perbuatan pura-pura. Orang yang melakukan riya tidak
      bertujuan mendapat ganjaran dari Allah. ia berbuat hanya sekedar untuk
      mendapat pujian dari orang lain. apa yang didapat dari perbuatannya itu
      lebih rendah dari yang semestinya dia dapatkan dari Allah.
 Riya timbul karena kurangnya kesadaran akan ganjaran dan pahala besar
      yang dijanjikan Allah. ia berusaha menutupi keburukan/kesalahan yang
      dilakukannya, seperti:
 - Untuk menghilangkan dirinya dari tuduhan tidak beragama atau tidak
      beribadah.
 - Untuk menarik perhatian, penghormatan dan pujian masyarakat.
 Agama memandang pelaku-pelaku riya tetap dinilai sebagai Muslim,
      hanya apa yang dilakukannya tidak diridhoi Allah.
 Firman Allah:
     َ ‫ْ ُس ٌ َ إ‬               ‫ٔ ق ي إن ّص ق ي كس ن ُس ء ٌ ُ س‬
‫ ْ َإِذَا َا ُٕا َِى ان َالةِ َا ُٕا ُ َاَى ي َا ُٔ َ ان َا َ َٔال يَرك ُٔ َ انهَّ ِال قهِيال‬
 Artinya: “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan
      malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan
      tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (QS. an-Nisa‟:
      142).
   Agama memandang pelaku-pelaku riya
   tetap dinilai sebagai Muslim, hanya apa
   yang dilakukannya tidak diridhoi Allah.
   Firman Allah:
َ ‫َ ُس ٌ ه‬             ُ ٌ ‫ّص ق ي كس ُس ء‬                             ‫ِ ي‬
َّ‫ْ َٔإذَا قَا ُٕا إِنَى ان َالةِ َا ُٕا ُ َانَى ي َا ُٔ َ ان َاسَ َٔال يرْك ُٔ َ ان‬
   ‫إ قه‬
‫ِال َِيال‬
   Artinya: “Dan apabila mereka berdiri untuk
   shalat mereka berdiri dengan malas.
   mereka bermaksud riya (dengan shalat) di
   hadapan manusia. dan tidaklah mereka
   menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (QS.
   an-Nisa‟: 142).
Aniaya atau zalim artinya melakukan perbuatan yang melewati
batas terhadap jiwa, harta atau kehormatan orang lain.
Barangsiapa yang membunuh seseorang, memukul, mencaci,
melaknat, atau menyakitinya dengan sesuatu apapun termasuk
perbuatan zalim. Seseorang yang menguasakan perbuatan
zalimnya kepada orang lain, atau membantu orang lain berbuat
zalim termasuk orang yang zalim pula.
Bentuk perbuatan zalim bermacam-macam diantaranya
mengambil harta orang lain atau mencari alasan untuk mengambil
harta orang lain tanpa hak, baik harta itu kecil maupun besar.
Menciptakan aib bagi orang lain atau menuduhnya berbuat
fahssya (berbuat dosa), menuduh fasik, menuduh berzina atau
memandang buruk kenal bebas dari kejelekan dan tidak
memperlihatkan perbuatan-perbuatan dosa, menyuruh orang lain
berbuat dosa.
     Dalil mengenai haramnya zalim, balasan atau siksa
     Allah terhadap orang-orang zalim dan kisah orang-
     orang zalim banyak dikemukakan di dalam al-Qur'an
     dan hadits.
 ‫س‬             ِ ٍ ً‫ٔ ن ّظ ن‬
.ٍ ‫..... َيَا ِه َاِ ِي َ يٍْ َّصِي‬
     Artinya: ....Dan bagi orang-orang yang zalim sekali-
     kali tidak ada seorang penolongpun”. (QS. al-Hajj:
     71).
ٌِ ‫ز ِ َ ُ ع ّ ٌَ َس ْ َ هلل صه ُ ع َسَ ق ل ق ْ ّظ ْى‬                                    ََْ
َ ‫ٔعٍ جَابِسِ َضي اهلل َُْ ُ ا َ ز ُٕل ا ِ ََى اهلل َهَيِّْ ٔ َهىَ َا َ: اِ َ ُٕ ان ُه َ فَا‬
ِ َ ‫ان ُه َ ُُ َا ٌ َٕ َ ان ِيَا‬
‫ّظ ْى ظهً ت ي ْو ق ية‬
     Artinya: “Diterima dari Jabir ra bahwa Nabi SAW.
     bersabda: “Takutilah kezaliman itu sebab
     sesungguhnya kezaliman itu merupakan kegelapan
     pada hari kiamat”. (HR. Muslim).
 Diskriminasi adalah bersikap membeda-
  bedakan atau memisahkan antara sesama
  manusia, baik karena perbedaan derajat,
  suku, bangsa, warna kulit, jenis kelamin,
  usia, golongan, ideologi dan sebagainya.
 Diskriminasi memunculkan sikap apatis
  yang menumbuhkan kehancuran tatanan
  masyarakat, bisa dibayangkan kehancuran
  yang akan timbul jika ada segolongan
  orang yang tidak mau membebaskan diri
  dari sikap apatis dan kesukuan
   Sikap seperti ini sangat dilarang oleh agama,
   karena hal ini akan menjadikan manusia
   terkotak-kotak pada golongannya sendiri dan
   tidak mau bersatu untuk tolong menolong.
‫ْٓ َ ش ك ُ ح ب‬                        ‫ٔ ك َ ِ َ ُ ك ٍ ِ َ نر َ ف َق‬
ٍ ْ‫َال َ ُٕ ُٕا يٍ انًْشْسِ ِي َ . يٍ اَ ِيٍ َس ُٕا ّدِيَُ ُى َٔكَا ُٕا ِيَعًا ُم ِز‬
َ ُٕ ِ َ ‫بًَِا َ َيْ ِى‬
ٌ ‫ند ٓ ْ فسح‬
   Artinya: “Dan janganlah kamu Termasuk orang-
   orang yang mempersekutukan Allah, Yaitu
   orang-orang yang memecah-belah agama
   mereka dan mereka menjadi beberapa
   golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga
   dengan apa yang ada pada golongan mereka”.
   (QS. ar-Rum: 31-32).

								
To top