FONOLOGI

Document Sample
FONOLOGI Powered By Docstoc
					             LINGUISTIK II




                 Oleh :

           ANDI ISMAH AZIS

              055 404 017




JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ASING/JERMAN

     FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA

     UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

                 2010

              FONOLOGI
       Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtunan bunyi-
bunyi bahasa disebut fonologi, yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, dan
logi yaitu ilmu. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan
menjadi dua dua yaitu :

   1. FONETIK
               Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa
       memperhatikan apakah bunyi bahasa tersebut mempunyai fungsi sebagai pembela
       makna atau tidak. Simbol dari fonetis yaitu [ ].
               Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan adanya tiga jenis
       fonetik, yaitu :
               a. Fonetik Artikulatoris
                    Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologi,
                    mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam
                    menghasilkan      bunyi    bahasa,    serta     bagaimana      bunyi-bunyi    itu
                    diklasifikasikan. Contohnya bibir, pita suara dan lidah
               b. Fonetik Akustik
                    Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau
                    fenomena      alam.   Bunyi-bunyi     itu     diselidiki   frekunsi   getarannya,
                    amplitudonya, intensitasnya, dan timbernya.
               c. Fonetik Auditoris
                    Fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi
                    bahasa itu oleh telinga kita.
   2. FONEMIK
               Fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan
       memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna. Simbol dari fonemis
       yaitu / /.
       Contohnya :        Wir – Dir
                          Heute – Leute




                                              FONEM
       Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat dibedakan makna
katanya. Fonem merupakan objek kajian dari fonemik. Fonem yang berwujud bunyi atau fonem
yang bisa dibagi disebut fonem segmental. Contohnya, ketika kita mengucapkan “Bahasa”, bisa
dibagi menjadi tiga suku : ba-ha-sa. Atau dibagi menjadi lebih kecil lagi sehingga menjadi : b-a-
h-a-s-a. Sedangkan fonem dapat pula tidak berwujud bunyi, tetapi merupakan tambahan
terhadap bunyi yaitu tekanan, jangka dan nada disebut fonem suprasegmental. Jadi perbedaan
antara segmental dan suprasegmental adalah kalau yang pertama dia hanya menghasilkan
tekstual (sesuai makna nomina yang diucapkan), sedangkan yang kedua mampu menghasilkan
makna kontekstual (karena makna tekstualnya sudah bercampur dengan keadaan dan kondisi si
pengucap yang diketahui lewat intonasi dan getaran-getaran yang mengiringi fonem tersebut).
   a. Fonem Vokal
               Bunyi disebut vokal, bila terjadi tidak ada hambatan pada alat bicara, jadi tidak
       ada artikulasinya.
               Modifisaki vokal yang fonemis merupakan modifikasi yang menyebabkan fonem
       vokal tertentu berubah menjadi fonem vokal yang lain.
                                                Artikulationsort
                             Vorn                 Zentral                Hinten
                            Ungerundet                       Gerundet
               noch       i : bieten            y : fühlen              u : Ruhm
                          I : bitten            Y : füllen          U : Rum
                          e : beten             ø : öl              O : rot
               mittel     Ƹ : betten                                o : Rotte
                            ƹ : bӓ tten
                                                е : Uhr
               tief                       ǝ : Ratte                ǝ : Rat



              Umlaut adalah perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah
       menjadi vokal yang lebih tinggi. Dalam bahasa jerman umlaut merupakan strografi yaitu
       2 titik diatas vokal tertentu.


   b. Konsonan
       Bunyi konsonan dibedakan berdasarkan tiga patokan atau kriteria :
1. Posisi pita suara
   -   Bunyi bersuara terjadi apabila pita suara hanya terbuka sedikit sehingga
       terjadilah getaran pada pita suara.
       Contohnya : bunyi b, d, g dan c
       Bauer, Donner, Geschwister, Clown
   -   Bunyi tidak bersuara terjadi apabila pita suara terbuka agak lebar, sehingga tidak
       ada getaran pada pita suara itu.
       Contohnya : bunyi s, k, p dan t
       Schrank, Komponist, Portal, treffen
2. Tempat artikulasi
   -   Bilabial
       Bilabial adalah konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah
       merapat pada bibir atas.
       Yang termasuk konsonan bilabial yaitu p, b dan m
       Bunyi p dan b adalah bunyi oral yaitu bunyi yang dikeluarkan melalui rongga
       mulut.
       Bunyi m adalah bunyi nasal yaitu bunyi yang dikeluarkan melalui rongga hidung.
       Contohnya: die Lippen, bei, Name dan Himmel
   -   Labiodental
       Labiodental adalah konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi
       bawah merapat pada bibir atas.
       Yang termasuk konsonan labiodental adalah f dan v
       Contohnya : Fahl, Fade, Vase dan Ventil
   -   Laminoalveolar
       Laminoalveolar adalah konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi. Daun
       lidah menempel pada gusi.
   -   Yang termasuk konsonan Laminoalveolar adalah t dan d
       Contohnya : tanken – danken           boten – boden
                       Leiter – Leider       orten – orden
      -   Dorsovelar
          Dorsovelar adalah konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau
          langit – langit lunak.
          Yang termasuk konsonan dorsovelar adalah k dan g
          Contohnya : Kern – Gern               Krippe - Grippe
   3. Cara artikulasi
       a. Hambat (letupan, plosive, stop)
           Bunyi [p], [b], [t], [d], dan [g]
       b. Geseran
           Bunyi [f], [s], dan [z]
       c. Paduan atau frikatif
           Bunyi [c] dan [j]
       d. Sengauan atau nasal
           Bunyi [m], [n], dan [ŋ]
       e. Getaran atau trill
           Bunyi [r]
       f. Sampingan atau lateral
           Bunyi [l]
       g. Hampiran atau aproksiman
           Bunyi [w] dan [y]
c. Diftong
             Diftong adalah vokal ganda. Misalkan dalam bahasa Indonesia ada diftong /ay/
   (santai), /aw/ (kerbau), dan /oy/ (koboi). Sedangkan adalam bahasa Jerman /oi/
   (Gebeude, neu). Karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya
   dan bagian akhirnya tidak sama. Berdasarkan letak atau posisi unsur – unsurnya, diftong
   dibedakan menjadi :
   1. Diftong naik, karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi yang
     kedua.
   2. Diftong turun, karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.
                                  PRODUKSI BUNYI

a. Alat – Alat Ucap
   Nama – nama alat ucap yang terlibat dalam produksi bunyi bunyi bahasa adalah :
   1. Paru – paru (Lung)
   2. Batang tenggorok (trachea)
   3. Pangkal tenggorok (larynx)
   4. Pita suara (vocal cord)
   5. Krikoid (cricoid)
   6. Tiroid (thyroid) atau lekum
   7. Aritenoid
   8. Dinding rongga kerongkongan
   9. Epiglotis
   10. Akar lidah
   11. Pangkal lidah
   12. Tengah lidah
   13. Daun lidah
   14. Ujung lidah
   15. Anak tekak
   16. Langit – langit lunak
   17. Langit – langit keras
   18. Gusi, lengkung kaki gigi
   19. Gigi atas
   20. Gigi bawah
   21. Bibir atas
   22. Bibir bawah
   23. Mulut
   24. Rongga mulut
   25. Rongga hidung
b. Proses Fonasi
          Terjadinya bunyi bahasa dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari
   paru – paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat
   pita suara yang harus berada dalam posisi terbuka, melalui rongga mulut atau rongga
   hidung, udara diteruskan ke udara bebas.
                                       MORFOLOGI


A. Pengertian Morfologi
          Morfologi berasal dari kata morf yaitu seluk beluk, dan logos yaitu ilmu. Morfologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk kata, dan bentuk kata serta pengaruh
perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Morfologi mengkaji seluk-
beluk morfem, bagaimana mengenali sebuah morfem, dan bagaimana morfem berproses
membentuk kata.
          Morfologi atau tata bentuk (Ingg. morphology; ada pula yang menyebutnya
morphemics) adalah bidang linguistic yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara
gramatikal (Verhaar, 1984 : 52). Dengan perkataan lain, morfologi mempelajari dan
menganalisis struktur, bentuk, dan klasifikasi kata-kata. Dalam linguistik bahasa Arab,
morfologi ini disebut tasrif, yaitu perubahan suatu bentuk (asal) kata menjadi bermacam-macam
bentuk untuk mendapatkan makna yang berbeda (baru). Tanpa perubahan bentuk ini, maka yang
berbeda tidak akan terbentuk (Alwasilah, 1983 : 101).
B. Objek Kajian
       Jika fonologi mengidentifikasi satuan dasar bahasa sebagai bunyi, morfologi
mengidentifikasi satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Bagian dari kompetensi
linguistik seseorang termasuk pengetahuan mengenai morfologi bahasa, yang meliputi kata,
pengucapan kata tersebut, maknanya, dan bagaimana unsur-unsur tersebut digabungkan
(Fromkin & Rodman, 1998:96). Morfologi mempelajari struktur internal kata-kata. Jika pada
umumnya kata-kata dianggap sebagai unit terkecil dalam sintaksis, jelas bahwa dalam
kebanyakan bahasa, suatu kata dapat dihubungkan dengan kata lain melalui aturan. Misalnya,
penutur bahasa Inggris mengetahui kata dog, dogs, dan dog-catcher memiliki hubungan yang
erat. Penutur bahasa Inggris mengetahui hubungan ini dari pengetahuan mereka mengenai
aturan pembentukan kata dalam bahasa Inggris.
       Aturan yang dipahami penutur mencerminkan pola-pola tertentu (atau keteraturan)
mengenai bagaimana kata dibentuk dari satuan yang lebih kecil dan bagaimana satuan-satuan
tersebut digunakan dalam wicara. Jadi dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah cabang
linguistik yang mempelajari pola pembentukan kata dalam bahasa, dan berusaha merumuskan
aturan yang menjadi acuan pengetahuan penutur bahasa tersebut. Dalam hubungannya dengan
sintaksis, beberapa relasi gramatikal dapat diekspresikan baik secara infleksional (morfologis)
atau secara sintaksis (sebagai bagian dari struktur kalimat), misalnya pada kalimat He loves
books dan He is a lover of books. Apa yang di dalam suatu bahasa ditandai dengan afiks
infleksional, dalam bahasa lain ditandai dengan urutan kata dan dalam bahasa yang lain lagi
dengan kata fungsi. Misalnya dalam bahasa Inggris, kalimat Maxim defends Victor (Maxim
mengalahkan Victor) memiliki makna yang berbeda dengan kalimat Victor defends Maxim
(Victor mengalahkan Maxim). Urutan kata sangat penting. Demikian halnya jika bahasa Inggris
memiliki penanda have dan be, bahasa Indonesia menggunakan afiksasi untuk mengungkapkan
hal yang sama, misalnya: Dokter memeriksa saya. The doctor examinesme. Saya diperiksa
dokter. I was examined by the doctor. Selain itu, semua morfem memiliki struktur gramatikal
yang dilekatkan padanya. Terkadang, makna gramatikal hanya tampak jika morfem tersebut
digabungkan dengan morfem lain (seperti pada afiks yang dapat mengubah makna gramatikal).
Morfem infleksional adalah morfem yang tidak memiliki makna di luar makna gramatikal,
seperti penanda jamak ―s― dalam bahasa Inggris. Tetapi morfem lain memiliki
pengecualian, seperti pada kata hit – hit (present – past), atau sheep – sheep (tunggal –
jamak).
                                         MORFEM

A. Pengertian Morfem
   -   Morfem adalah satuan gramatik yang paling kecil yang tidak mempunyai satuan lain
       selain unsurnya.
   -   Morfem adalah kesatuan gramatik yang terkecil yang mempunyai arti, yang tidak
       mempunyai kesamaan baik dalam bentuk maupun dalam arti dengan bentuk – bentuk
       yang lain.

       Pada dasarnya morfem merupakan satuan gramatik terkecil baik bebas maupun terikat
yang memiliki arti, baik secara leksikal maupun gramatikal. Untuk menentukan bahwa sebuah
satuan bentuk merupakan morfem atau bukan kita harus membandingkan bentuk tersebut di
dalam bentuk lain. Bila satuan bentuk tersebut dapat hadir secara berulang dan punya makna
sama, maka bentuk tersebut merupakan morfem. Dalam studi morfologi satuan bentuk yang
merupakan morfem diapit dengan kurung kurawal ({ }). Misalnya, kata Indonesia mesjid
dilambangkan sebagai {mesjid}; kata kedua dilambangkan menjadi {ke} + {dua}. Selama
morfem itu berupa morfem segmental hal itu mudah dilakukan. Dalam bahasa Jerman bentuk
jamak dari Schuler bisa dilambangkan {Schuler} + {n}.

       Morf dan Alomorf

       Morf dan alomorf adalah dua buah nama pada bentuk yang sama. Morf adalah nama
untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya. Alomorf adalah nama untuk bentuk yang
sudah diketahui status morfemnya.

       Ada dua macam prefiks nasal dalam bahasa Indonesia yaitu {meN-} dan {peN-}. Prefiks
{meN-} mempunyai 6 (enam) alomorf yaitu mem-, men-, meG-, meGe-, meY-, dan me-.

B. Jenis – Jenis Morfem
    a. Morfem Bebas
       Morfem Bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam
       pertuturan.
    b. Morfem Terikat
       Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak
       dapat muncul dalam pertututran.
        Berkenaan dengan morfem terikat ada beberapa hal yang perlu dikemukakan. Pertama
bentuk-bentuk seperti : juang, henti, gaul, dan , baur termasuk morfem terikat. Sebab meskipun
bukan afiks, tidak dapat muncul dalam petuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses
morfologi. Bentuk lazim tersebut disebut prakategorial. Kedua, bentuk seperti baca, tulis, dan
tendang juga termasuk prakategorial karena bentuk tersebut merupakan pangkal kata, sehingga
baru muncul dalam petuturan sesudah mengalami proses morfologi. Ketiga bentuk seperti : tua
(tua renta), kerontang (kering kerontang), hanya dapat muncul dalam pasangan tertentu juga,
termasuk morfem terikat. Keempat, bentuk seperti ke, daripada, dan kalau secara morfologis
termasuk morfem bebas. Tetapi secara sintaksis merupakan bentuk terikat. Kelima disebut
klitika. Klitka adalah bentuk singkat, biasanya satu silabel, secara fonologis tidak mendapat
tekanan, kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat tetapi tidak dipisahkan .
                                   DERIVASI DAN INFLEKSI


A. Pengertian Derivasi dan Infleksi
     - Derivasi
           Derivasi adalah konstruksi yang berbeda distribusinya dari pada dasarnya, derivasi
menghasilkan kata baru dari suatu kata dasar, yang kadang-kadang mengubah kelas seperti
perubahan nomen menjadi verb.
           Derivasi dibagi kedalam dua kategori yaitu derivasi mempertahankan kelas dan
derivasi perubahan kelas. Derivasi mempertahankan kelas adalah leksem baru yang sama
kelasnya dengan basis dari mana leksem itu dibentuk, sedangkan derivasi perubahan kelas
menghasilkan leksem yang kelasnya berbeda dengan basisnya.
     - Infleksi
           Infleksi atau morfologi infleksional adalam proses morfemis yang diterapkan pada kata
sebagai unsur leksikal yang sama.
           Infleksi dapat berupa segmental atau nonsegmental. Bila segmental, infleksi berupa
afiksasional atau reduplikatif. Bila nonsegmental, infleksi dapat berupa modifikasi vocal, dapat
juga berupa suprasegmental. Infleksi afiksasional adalah infleksi dengan afiks, yaitu dengan
prefiks (awalan) contohnya an-, auf-, be-, aus-, ein-, mit-, sufiks (sisipan) –er-, -em-, -el-, infiks
atau konfiks (akhiran) –en, -lich, -heit, -los, -ung. Contohnya prefiks: anführen, aufhalten,
bekommen, ausgeben, einholen, mitkommen. Sufiks: . Infiks: nehmen, freundlich, neuheit,
sorglos.
B. Perbedaan Derivasi dan Infleksi
   1. Infleksi
             -   Cenderung merupakan formasi luar muncul lebih jauh dari sistem ketimbang
                 afiks derivational.
             -   Cenderung kurang bervariasi, namun dengan distribusi yang luas.
             -   Digunakan untuk mencocokkan kata-kata bagi pemakaian dalam sintaksis,
                 namun tidak pernah mengubah kelas kata.
             -   Kata-kata yang dibentuk melalui infleksi tidak termasuk kelas distribusi yang
                 sama dengan anggota-anggota yang tidak diinfleksikan dari kelas yang sama.
                 Infleksi relevan sama sintaksis.
             -   Paradigma infleksional cenderung dibatasi dengan baik, homogen dan
                 menentukan kelas-kelas bentuk mayor
2. Derivasi
      -   Cenderung merupakan formasi dalam, muncul lebih dekat ke stem ketimbang
          afiks infleksional.
      -   Cenderung lebih bervariasi, namun dengan distribusi yang terbatas.
      -   Digunakan untuk menetapkan kata-kata dalam satu kelas dan umumnya
          mengubah kelas kata.
      -   Kata-kata yang dibentuk melalui derivasi termasuk kelas distribusi yang sama
          dengan anggota-anggota yang tidak diturunkan. Perubahan yang diakibatkan oleh
          derivasi relevan secara morfologis.
      -   Paradigma derivasional cenderung tidak dibatasi dengan baik, heterogen, dan
          hanya menentukan kata-kata tunggal.
                                            KATA


A. Klasifikasi Kata
       Istilah lain yang biasa dipakai untuk klasifikasi kata adalah penggolongan kata atau
penjenisan kata.
   1. Kata Benda

       Benda –benda digolongkan menjadi tiga jenis:

        1. Jenis maskulin (jantan)
        2. Jenis feminin(betina)
        3. Jenis neutral( banci)

   Kata benda yang digolongkan ke dalam jenis maskulin dengan artikel (kata sandang) ‘der’

   Kata benda yang digolongkan ke dalam jenis feminin dengan artikel (kata sandang) ‘die’

   Kata benda yang digolongkan ke dalam jenis neutral dengan artikel (kata sandang) ‘das’

        Benda-benda yang yang mempunyai jenis kelamin laki-laki, pada umumnya
digolongkan ke dalam jenis maskulin, benda-benda yang mempunyai jenis kelamin betina pada
umumnya digolongkan kedalam jenis feminin. Tetapi benda-benda mati yang tidak mempunyai
jenis kelamin, ada yang digolongkan ke dalam jenis maskulin, feminin dan neutral.

   Contoh kata benda maskulin

   der Vater          der Tisch

   der Onkel          der Schrank

   der Lehrer         der Stuhl

   Contoh kata benda feminin

   die Mutter         die Tafel

   die Tante          die Lampe

   die Lehrerin       Die Wand
Contoh kata benda neutral

das Mädchen       das Poster

das Kind          das Bild

das Haus          das Buch

2. Kata Kerja
      -    Kata kerja Trennbare dan untrennbare
           Kata kerja trennbar yaitu satu kata kerja yang apabila dipakai dalam kalimat
           dipisah, tetapi artinya tetap satu . Dalam kalimat letak kata kerja pada umumnya
           ada di tempat kedua dan dikonjugasikan sesuai subyeknya, sedangkan tambahan
           kata kerjanya terletak di bagian kalimat yang paling belakang.
           Contoh:
           1. ansprechen       - sprechen---- an = ich spreche Ratih nicht an.
           2. mitkommen        - kommen----mit = Am Samstag nachmittag kommen wir bei
           dem Geburtstagsfest mit
           3. einladen         - laden -- ein    = Meine Klassenfreunde lade ich bei dem
           Geburtstagsfest ein.
           4. vorschlagen - schlagen---- vor = ich lade sie ein.
           5. ansehen - sehen --- an = ich sehe Rita nicht an.
      -    Kata kerja Bantu (Modal Verben)
           Modal verben adalah kata kerja bantu dimana dalam kalimat letaknya berada
           setelah subjek dan dikonjugasikan sesuai subjek yang mengikutinya, dan kata
           kerja infinitivnya perada pada akhir kalimat tanpa perubahan konjugasi.
           Contoh :
           1. Wollen       : ich will hier gerne bleiben
           2. Können       : Können Sie mir helfen?
           3. Müssen       : ich muss jetzt gehen
           4. Sollen       : wir sollen auf die Verkehrsregeln achtgeben
           5. Dürfen       : er darf nict einreisen
           6. Mögen        : ich mag nicht lügen
-   Kata Kerja Refleksif (Refleksiv Verben)
    Refleksiv verben adalah kata kerja yang disertai dengan sich yang berarti “(diri)
    sendiri” tetapi kadang – kadang sich juga berarti perbuatan yang dilakukan
    berbalas-balasan.
    Contoh :
    a. Prӓ sens     : ich freue mich
    b. Prӓ teritum         : ich freute mich
    c. Perfect      : ich habe mich gefreut
-   Kata Kerja Tak Beraturan (Unregelmӓ ssige Verben)
    Unregelmӓ ssige verben adalah kata kerja yang menggunakan sein, haben dan
    werden.
    Contoh :
    a. Sein
       Prӓ sens                   Prӓ teritum                   Partizip Perfect
       Ich bin                    ich war                       ich bin gewessen
       Du bist                    du warst                      du bist gewessen
       Er/sie/es ist              er/sie/es war                 er/sie/es ist gewessen
       Wir sind                   wir waren                     wir sind gewessen
       Ihr seid                   ihr wart                      ihr seid gewessen
       Sie sind                   Sie waren                     Sie sind gewessen
    b. Haben
       Ich habe                   ich hatte                     ich habe gehabt
       Du hast                    du hattest                         gehabt
       Er/sie/es hat              er/sie/es hatte                    gehabt
       Wir haben                  wir hatten                         gehabt
       Ihr habt                   ihr hattet                         gehabt
       Sie haben                  Sie hatten                         gehabt
    c. Werden
       Ich werde                  wurde                         geworden
       Du wirst                   wurdest                       geworden
       Er/sie/es wird             wurde                         geworden
       Wir werden                 wurden                        geworden
       Ihr werdet                 wurdet                        geworden
       Sie werden                 wurden                        geworden
-   Kata Kerja Lemah (Schwache Verben)
    Schwache verben adalah kata kerja yang membentuk sebuah klasifikasi,
    mempunyai tugas menjelaskan sebuah tindakan, sebuah kejadian, atau sebuah
    keadaan.
    Bentuk kata kerja lemah :
    a. Prӓ sens : akar kata (stamm) dari sebuah kata kerja mendapat akhiran
        Ich         –e
        Du          – st
        Er/sie/es   –t
        Wir         – en
        Ihr         –t
        Sie         – en
    b. Prӓ teritum : stammnya mendapat akhiran
        Ich         – te
        Du          – test
        Er/sie/es   – te
        Wir         – ten
        Ihr         – tet
        Sie         – ten
    c. Perfect : stammnya mendapat awalan ge- dan –t pada akhir kata
-   Kata Kerja Kuat (Starke Verben)
    Pada kata kerja kuat huruf vokal dari stammnya berubah ke sebuah aturan
    tertentu, dalam bentuk Prӓ teritum dan Partizip Perfect; pada suatu kata kerja,
    konsonan pada akhir stammnya berubah dengan menambahkan tanda umlaut
    pada huruf a, u, atau o untuk orang kedua tunggal dan orang ketiga tunggal.
    Contoh :
    Ich rate
    Du rӓ tst
    Er rӓ t
       -   Kata Kerja dengan Kata Depan (Verben mit Prӓ position)
           Kata kerja dengan kata depan merupakan bagian dari kata depan, dimana kata
           kerja yang mempunyai Prӓ position itu sudah merupakan pasangannya.
           Contoh :
           Schreiben an : er schreibt an seinen Vater
           Warten auf : wir warten auf einen Brief
           Bitten um : ich bitte dich um dein Buch
3. Kata Sifat
           Kata sifat dapat berdisi sebagai lambang, sebagai keterangan bantu khusus dan
   sebagai keterangan Nominativ atau Akkusativ.
           Sebuah kata sifat akan dideklinasi jika ia sebagai lambang berdiri di depan
   sebuah kata benda atau berdiri sebagai keterangan Subjek atau jika kata sifat itu
   diperlukan seperti sebuah kata benda.
           Kata sifat mempunyai tiga macam deklinasi :
           a. Perubahan kata sifat yang tertentu (pasti)
                Kata sifat mengikuti artikel tertentu.
                Contoh : die alte Frau, das neue Haus
           b. Perubahan kata sifat yang tak tentu (tak pasti)
                Kata sifat mengikuti artikel tak tentu.
                Contoh : eine rote Blume, ein grosser Hund
           c. Perubahan artikel dari kata sifat
                Kata sifat berdiri tanpa artikel di depan kata benda.
                Contoh : lange Zeit, guter Wein
4. Kata Keterangan
   Kata keterangan digunakan untuk memberi keterangan pada kata kerja atau kata sifat.
   Contoh :
   Ich bin natürlich reich
   Wir sind morgens beschӓ ftigt


   Bila terdapat lebih dari satu kata keterangan dalam suatu kalimat maka urutannya
   sebagai berikut : (1) waktu, (2) cara, (3) tempat
   Contoh :
   Sie ist jetzt leider draussen.
   Wir waren gestern wirklich drinnen.
B. Prose Pembentukan Kata
         Pembentukan kata mempunyai dua sifat, yaitu pertama membentuk kata-kata yang
bersifat inflektif dan kedua yang bersifat derivatif.
   1. Inflektif
       Alat yang digunakan untuk penyesuaian bentuk itu biasanya berupa afiks, yang mungkin
berupa prefiks, infiks dan sufiks, atau juga berupa modifikasi internal, yakni perubahan yang
terjadi di dalam bentuk dasar itu.
       Perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba disebut konjugasi dan perubahan pada
nomina dan ajektifa disebut deklinasi. Konjugasi pada verba biasanya berkenaan dengan kala
(tense), aspek, modus, persona, jumlah, dan jenis. Sedangkan deklinasi biasanya berkenaan
dengan jumlah, jenis dan kasus.
       Bentuk-bentuk kata yang berbeda sesungguhnya memiliki identitas leksikal yang sama.
Jadi berarti adalah sebuah kata yang sama. Hanya bentuknya saja yang berbeda, yang
disesuaikan dengan kategori gramatikalnya. Bentuk-bentuk tersebut disebut paradigma
infleksional.
       Ich              mache
       Du               machst
       Er,sie/es        macht
       Wir              machen
       Ihr              macht
       Sie/sie          machen
       Sekarang kita lihat contoh deklinasi ajektifa. Menurut jenisnya, ajektifa dalam bahasa
jerman mempunyai tiga macam konstruksi, yaitu :
       1. Konstruksi ajektifa + nomina, tanpa kata sandang atau pronomina apa-apa di
             depannya (yaitu “deklinasi kuat” dari ajektifa).
             Tunggal             Maskulin               Feminin         Neutral
             Nom.                guter Mann             gute Frau       gutes Kind
             Gen.                guten Mannes           guter Frau      guten Kindes
             Dat.                guten Manne            guter Frau      guten Kind
             Akk.                guten Mann             gute Frau       gutes Kind
             Jamak               Semua Jenis
             Nom.                gute Manner/Frauen/Kinder
             Gen.                gute Manner/Frauen/Kinder
             Dat.                guten Mannern/Frauen/Kindern
               Akk.               gute Manner/Frauen/Kinder
        2. Konstruksi kata sandang definit + ajektifa + nomina (yaitu “deklinasi lemah” dari
               ajektifa).
               Tunggal            Maskulin            Feminin              Neutral
               Nom.               der gute Mann       die gute Frau        das gute Kind
               Gen.               Des guten Mannes    der guten Frau       des guten Kindes
               Dat.               Des guten Manne     der guten Frau       das guten Kind
               Akk.               Des guten Mann      die gute Frau        das gute Kind
               Jamak              Semua Jenis
               Nom.               die guten Manner/Frauen/Kinder
               Gen.               Die guten Manner/Frauen/Kinder
               Dat.               Die guten Mannern/Frauen/Kindern
               Akk                die guten Manner/Frauen/Kinder
        3. Konstruksi kata sandang indefinit + ajektifa + nomina (yakni deklinasi campuran
               kuat dan lemah).
               Tunggal            Maskulin            Feminin              Neutral
               Nom.               ein guter Mann      eine gute Frau       ein gutes Kind
               Gen.               Eines guten Mannes einer guten Frau      eines guten Kindes
               Dat.               Einem guten Manne einer guter Frau       einem guten Kinder
               Akk.               Einen guten Mann    eine gute Frau       ein gutes Kind


    2. Derivatif
        Pembentukan kata secara inflektif, seperti dibicarakan diatas, tidak membentuk kata
baru, atau kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya. Hal ini berbeda
dengan pembentukan kata secara derivatif atau derivasional. Pembentukan kata secara derivatif
membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.
Contohnya malen „melukis‟ terbentuk kata maler „pelukis‟, kata singen „menyanyi‟ terbentuk
kata sӓ nger „penyanyi‟. Jelas antara kedua kata tersebut identitas leksikalnya. Contoh lain dari
adjektifa seperti kata gut „bagus‟ dan alt „tua‟ dibentuk menjadi besser „lebih bagus‟ dan ӓ lter
„lebih tua‟.
        Perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna, sebab meskipun
kelasnya sama, tetapi maknanya tidak sama.
                                          SINTAKSIS


A. Pengertian Sintaksis
       Secara etimologi, sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti dengan
dan tattein yang berarti menempatkan. Jadi, sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata-
kata menjadi kelompok kata atau kalimat.
       Dalam setiap bahasa ada seperangkat kaidah yang sangat menentukan apakah kata-kata
yang ditempatkan bersama-sama tersebut akan berterima atau tidak. Perangkat kaidah ini sering
disebut sebagai alat-alat sintaksis, yaitu urutan kata, bentuk kata, intonasi, dan konektor yang
biasanya berupa konjungsi.
       Keunikan setiap bahasa berhubungan dengan alat-alat sintaksis ini. Ada bahasa yang
lebih mementingkan urutan kata daripada bentuk kata. Ada pula bahasa yang lebih
mementingkan intonasi daripada bentuk kata. Bahasa Latin sangat mementingkan bentuk kata
daripada urutan kata. Sebaliknya, bahasa Indonesia lebih mementingkan urutan kata.
B. Satuan – Satuan Sintaksis
       Sintaksis memiliki unsur-unsur pembentuk yang disebut dengan istilah satuan sintaksis.
Satuan tersebut adalah kata, frase, klausa, dan kalimat. Pembahasan kata dalam tataran sintaksis
berbeda dengan pembahasan kata pada tataran morfologi. Dalam tataran sintaksis, kata
merupakan satuan terkecil yang membentuk frase, klausa, dan kalimat. Oleh karena itu kata
sangat berperan penting dalam sintaksis, sebagai pengisi fungsi sintaksis, penanda kategori
sintaksis, dan sebagai perangkai satuan-satuan sintaksis. Kata dapat dibedakan atas dua
klasifikasi yaitu kata penuh dan kata tugas.
       Frase biasa didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih
dan tidak memiliki unsur predikat. Unsur-unsur yang membentuk frase adalah morfem bebas.
Berdasarkan bentuknya, frase dapat dibedakan atas frase eksosentrik, frase endosentrik, dan
frase koordinatif.
       Struktur kalimat dapat dianalisis dari tiga segi, yaitu segi fungsi, kategori, dan peran
semantis. Berdasarkan segi fungsi, struktur kalimat dapat terdiri atas unsur subjek, predikat,
objek, pelengkap, dan keterangan. Subjek biasanya didefinisikan sebagai sesuatu yang menjadi
pokok, dasar, atau hal yang ingin dikemukakan oleh pembicara atau penulis. Predikat adalah
pernyataan mengenai subjek atau hal yang berhubungan dengan subjek. Setelah predikat,
biasanya diletakkan objek. Keberadaan objek sangat tergantung pada predikatnya. Jika
predikatnya berbentuk verba transitif maka akan muncul objek. Namun, jika predikatnya
berbentuk verba intransitif maka yang akan muncul kemudian adalah pelengkap. Unsur
selanjutnya adalah keterangan, yaitu unsur kalimat yang berisi informasi tambahan. Informasi
tersebut biasanya berhubungan dengan tempat, waktu, cara, dan sebagainya.
       Kalimat dapat pula dianalisis berdasarkan kategorinya. Dalam tata bahasa tradisional,
istilah kategori sering disebut dengan istilah kelas kata. Dalam bahasa Indonesia ada empat
kategori sintaksis utama, yaitu: (a) Nomina atau kata benda, (b) Verba atau kata kerja, (c)
Ajektiva atau kata sifat, dan (d) Adverbia atau kata keterangan.
       Analisis yang ketiga adalah analisis sintaksis dari segi peran. Analisis ini berhubungan
dengan semantis. Suatu kata dalam konteks kalimat memiliki peran semantis tertentu. Beberapa
pakar linguistik menggunakan istilah yang berbeda untuk pembicaraan peran-peran dalam
sintaksis, namun sebenarnya substansinya sama.
                                            KLAUSA

       Klausa dalam tata bahasa, adalah sekumpulan kata yang terdiri dari subjek dan predikat
walau dalam beberapa bahasa dan beberapa jenis klausa, subjek dari klausa mungkin tidak
tampak secara eksplisit dan hal ini khususnya umum dalam Bahasa bersubyek nol. Sebuah
kalimat paling sederhana terdiri dari satu klausa sedangkan kalimat yang lebih rumit dapat
terdiri dari beberapa klausa dan satu klausa dapat juga terdiri dari beberapa klausa.

       Klausa sering kali di kontraskan dengan frasa. Sebuah kumpulan kata dikatakan sebagai
klausa apabila ia mempunyai Kata kerja finit dan subyeknya sementara sebuah frasa berisi kata
kerja finit namun tanpa subyeknya Frasa kata kerja, atau tidak berisi kata kerja. Sebagai contoh
kalimat "Aku tidak tahu kalau kau membuat lukisan itu", "kau membuat lukisan itu" adalah
klausa dan sebuah kalimat benuh sedangkan "lukisan itu" dan "membuat lukisan itu" adalah
sebuah frasa. Ahli Bahasa masa kini tidak membuat perbedaan seperti itu, mereka menerima ide
akan klausa non-finit, klausa yang di atur disekitar kata kerja non-finit.

Jenis Klausa

Jenis-jenis klausa dapat dibedakan berdasarkan 2 hal, yaitu:

Berdasarkan strukturnya, meliputi:

a. Klausa bebas : Klausa bebas adalah klausa yang mempunyai unsur kalimat yang lengkap,
    sekurang-kurangnya mempunyai subyek dan predikat. Contoh: Bapak sedang pergi, Ibu
    telah makan

    Hanya dengan memberi intonasi final pada klausa bebas, maka klausa tersebut berubah
    menjadi kalimat mayor. Ini berarti, klausa bebas berpotensi menjadi kalimat mayor.

    Klausa Bebas + Intonasi Final → Kalimat Mayor

    Contoh:

    Bila...

      Klausa bebas: Bapak sedang pergi
      Intonasi final: Intonasi tanya (?)
    Maka

      kalimat mayor: Bapak sedang pergi?

         Kalimat tersebut berasal dari proses sederhana:

         Bapak sedang pergi + ? → Bapak sedang pergi?

b. Klausa terikat

    Klausa terikat adalah klausa yang memiliki struktur yang tidak lengkap. Dengan kata lain,
klausa jenis ini tidak memiliki subyek sekaligus predikat. Karena itu, klausa jenis ini selalu
terikat dengan klausa yang lain dan tidak pernah bisa menjadi kalimat mayor.

    Klausa terikat biasanya berdiri sebagai jawaban atas suatu pertanyaan atau berdiri di dalam
anak kalimat. Klausa terikat yang berdiri di dalam anak kalimat relatif mudah dikenal karena di
bagian depan dari klausa terikat tersebut biasa ada konjungsi subordinatif semacam ketika,
apabila, kalau, dsj.

    Contoh:

    1. Besok sore. (Jawaban untuk kalimat "Kapan kamu berangkat?")
    2. Ketika hujan turun, bukit itu longsor.


Pada contoh nomer 2 di atas, klausa terikat "ketika hujan turun" ditandai dengan konjungsi
subordinatif "ketika", dan klausa tersebut membentuk anak kalimat "Ketika hujan turun".
Karena diawali dengan konjungsi subordinatif, maka klausa terikat disebut juga klausa
subordinatif (subordinative clause) atau klausa bawahan. Klausa lain yang menjadi tempat
klausa terikat itu mengikatkan diri dan hadir bersama-sama dengan kalimat terikat itu disebut
sebagai klausa utama (main clause, principal clause) atau klausa atasan. Eksistensi klausa
terikat dalam kalimat majemuk bertingkat bergantung pada klausa utama. Jenis klausa utama
selalu klausa bebas.

    2. Berdasarkan kateori segmentalnya
            a. Klausa verbal
            b. Klausa nominal
            c. Klausa ajektifal
           d. Klausa adverbial
           e. Klausa preposisional
   3. Berdasarkan variasi subjek – predikat
           a. Klausa berpredikat kata kerja intransitif, yaitu klausa yang predikatnya berupa
               kata kerja yang tidak membutuhkan objek. Contoh : Frans sedang menari
           b. Klausa berpredikat kata kerja transitif, yaitu klausa yang predikatnya
               membutuhkan objek. Contoh : Yosito mengembalikan sapu

Ciri-ciri klausa yang berpredikat kata kerja transitif :

      Sebagian besar predikatnya berupa kata kerja barawalan me-
      Konstruksinya bersifat aktif
      Mempunyai objek
      Dapat dibalik menjadi konstruksi yang pasif dengan objek berubah menjadi subjeknya
       dan kata kerjanya menjadi berawalan di- , Contoh : melempar batu diubah menjadi batu
       dilempar

   1. Klausa berpredikat kata benda. Kata benda yang dapat dijadikan objek adalah kata
       benda yang berupa profesi/ pekerjaan. Contoh : Pamannya lurah
   2. Klausa berpredikat kata sifat. Ciri-ciri kata sifat adalah kata yang dapat diberi kata
       “amat/ sangat” di depannya atau diberi kata “sekali” di belakangnya, misal : tinggi,
       cantik, gemuk, dll. Contoh : Grace itu cantik
   3. Klausa berpredikat adverbial (frase preposisional). Mike ke STEMA kemarin
                                         KALIMAT

Dalam linguistik, kalimat adalah satuan dari bahasa, atau arus ujaran yang berisikan kata atau
kumpulan kata yang memiliki pesan atau tujuan dan diakhiri dengan intonasi final.

a. Kalimat tunggal
    Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya mempunyai satu pola kalimat.


b. Kalimat majemuk

    Kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Setiap
    kalimat majemuk mempunyai kata penghubung yang berbeda, sehingga jenis kalimat
    tersebut dapat diketahui dengan cara melihat kata penghubung yang digunakannya. Jenis-
    jenis kalimat majemuk adalah:

   1. Kalimat Majemuk Setara
   2. Kalimat Majemuk Bertingkat
   3. Kalimat Majemuk Campuran
   4. Kalimat Majemuk Rapatan

c. Kalimat majemuk setara

   Kalimat setara yaitu penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang
kedudukannya sejajar atau sederajat. Berdasarkan kata penghubungnya (konjungsi), kalimat
majemuk setara terdiri dari lima macam, yakni:

      Kalimat Majemuk Setara Penggabungan: Menggunakan kata penghubung `dan`
      Kalimat Majemuk Setara Penguatan: Menggunakan kata penghubung `bahkan`
      Kalimat Majemuk Setara Pemilihan: Menggunakan kata penghubung `atau`
      Kalimat Majemuk Setara Berlawanan: Menggunakan kata penghubung `tetapi`,
       `sedangkan`, `melainkan`
      Kalimat Majemuk Setara Urutan Waktu: Menggunakan kata penghubung `kemudian`,
       `lalu`, `lantas`
d. Kalimat majemuk bertingkat

    Kalimat majemuk bertingkat yaitu penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal
yang kedudukannya berbeda. Di dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat unsur induk
kalimat dan anak kalimat. Anak kalimat timbul akibat perluasan pola yang terdapat pada induk
kalimat. Contoh: Induk Kalimat: Kemarin ayah mencuci motor. Selanjutnya kata `kemarin`
yang menduduki pola keterangan, diperluas menjadi anak kalimat yang berbunyi: Ketika
matahari berada di ufuk timur. Maka penggabungan induk kalimat dan anak kalimat
berdasarkan kalimat di atas menjadi:

   1. Ketika matahari berada di ufuk timur, ayah mencuci motor, atau
   2. Ayah mencuci motor ketika matahari berada di ufuk timur.

e. Kalimat majemuk campuran
    Kalimat majemuk campuran yaitu gabungan antara kalimat majemuk setara dan kalimat
    majemuk bertingkat. Sekurang-kurangnya terdiri dari tiga kalimat.
    Contoh: Toni bermain dengan Kevin, dan Rina membaca buku di kamar, ketika aku datang
    ke rumahnya.
                                             SEMANTIK


A. Pengertian Semantik
             Kata semantik dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani : sema (kata
benda) yang berarti “tanda atau lambang”. Yang dimaksud dengan tanda atau lambang di sini
adalah tanda linguistik (signe) seperti yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure, yaitu
yang terdiri dari (1) komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa
dan (2) komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama itu. Jadi, setiap
tanda linguistik terdiri dari unsur bunyi dan makna. Keduanya merupakan unsur dalam bahasa
(intralingual) yang merujuk pada hal-hal di luar bahasa (ekstralingual).
             Semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti. Semantik juga
merupakan cabang linguistik yang meneliti arti atau makna. Pada perkembangannya kemudian,
kata semantik ini disepakati sebagai istilah yang digunakan dalam bidang linguistik yang
mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Atau
dengan kata lain bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa.
(Chaer, 1995).
             Sebagai   studi   linguistik,   semantik   tidak   mempelajari   makna-makna      yang
berhubungan dengan tanda-tanda nonlinguistik seperti bahasa bunga, bahasa warna, morse, dan
bahasa perangko. Hal-hal itu menjadi persoalan semiotika yaitu bidang studi yang mempelajari
arti dari suatu tanda atau lambang pada umumnya. Sedangkan semantik hanyalah mempelajari
makna bahasa sebagai alat komunikasi verbal.
             Mengkaji makna bahasa (sebagai alat komunikasi verbal) tentu tidak dapat terlepas
dari para penggunanya. Pengguna bahasa adalah masyarakat. Oleh karena itu studi semantik
sangat erat kaitannya dengan ilmu sosial lain, seperti sosiologi, psikologi, antropologi, dan
filsafat.
B. Jenis – Jenis Semantik
     1. Semantik Gramatikal
            Makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi,
            komposisi atau kalimatisasi.
            Contoh :
              -   Afiksasi : prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal
                  mengenakan atau memakai baju.
              -   Komposis : dasar kata dengan dasar ejaan melahirkan makna gramatikal “asal”.
2. Semantik Leksikal
   Makna leksikal adalah makna yang memiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks
   apapun.
   Contoh :
   Leksem : kuda makna leksikalnya sejenis binatang berkaki empat yang bisa di kendali.
3. Semantik Kontekstual
   Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam suatu
   konteks.
   Contoh :
      -   Rambut di kepala mereka belum ada yang putih.
      -   Sebagai kepala sekolah dia harus menegur muridnya.
    Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya yaitu tempat, waktu dan
    lingkungan pengguna bahasa itu.
4. Semantik Kata dan Makna Istilah
   Setiap kata atau leksem memiliki makna. Namun dalam penggunaannya makna kata itu
   baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya atau konteks
   situasinya. Oleh karena itu, makna kata masih bersifat umum.
   Contoh :
      -   Dia jatuh dalam ujian yang lalu
      -   Ani jatuh cinta lagi
    Makna istilah mempunyai makna yang pasti, yang jelas tidak meragukan, meski hanya
    tanpa konteks kalimat.
    Contoh :
    Dalam ilmu kedokteran ; tangan , lengan
      -   Tangan : bagian dari pergelangan sampai jari-jari tangan.
      -   Lengan : bagian dari pergelengan sampai pangkal bahu.
5. Semantik Idiom dan Peribahasa
   Idiom adalah satuan ajaran yang maknanya dapat di rampungkan dari makna unsur-
   unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal.
   Contoh :
      -   Sudah beratap senja : sudah tua
      -   Membanting tulah : bekerja keras
    Peribahasa adalah satuan ajaran yang masih dapat ditelusuri atau di lacak dari makna
    unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai
    peribahasa.
    Contoh :
    Tong kosong nyaring bunyinya yang bermakna orang yang banyak cakapnya biasanya
    tidak berilmu.
6. Semantik Sintaktial
   Secara penyelidikannya tertumpuh pada hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis.
7. Semantik Maksud
   Berkenaan dengan pemakaran bentuk-bentuk gaya bahasa seperti metafora, ironi,
   litotes.
   Contoh :
      -       Metafora   : raja siang kembali keperaduannya.
      -       Ironi      : cantik benar tulisannya hingga tak terbaca.
      -       Litotes    : singgahlah di gubuk kami
8. Semantik Pragmatik
   Bidang studi semantik yang mempelajari makna ajaran yang sesuai dengan konteks
   situasinya.
                                            MAKNA

A. Pengertian Makna dan Jenis – Jenis Makna
   Makna adalah bunyi-bunyi yang dibentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan.
   Jenis – jenis makna :
   1. Makna leksikal : makna yang tertera pada kamus
      Contoh : Stuhl, Tisch
   2. Makna gramatikal : makna yang sesuai dengan tata bahasa.
      Contoh : angkat mendapat awalan ter- menjadi terangkat
   3. Makna Refrensial dan Non Refrensial
      Makna refrensial adalah makna kata atau leksem yang ada acuannya atau referensinya
      dalam dunia nyata.
      Contoh : sepatu, tas
      Makna non refrensial merupakan makna kata atau leksem yang tidak ada refrensinya.
      Contoh : akal, disana, tetapi
   4. Makna Denotatif dan Konotatif
      Makna denotatif adalah makna asli, makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah
      leksem.
      Contoh :
      Rombongan : sekumpulan orang yang mengelompokkan menjadi satu kesatuan.
      Makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif yang
      berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata
      tersebut.
      Contoh :
         -   Konotatif netral         : kurus
         -   Konotatif positif        : ramping
         -   Konotatif negatif        : kerempeng
   5. Makna konseptual dan Makna Asosiatif
      Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks
      atau asosiasi apapun.
      Contoh :
      Rumah : bangunan tempat tinggal manusia
      Makna assosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan
      dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang bernada luar biasa.
      Conroh : merah : berani
                Buaya : jahat/kejam


B. Relasi Makna
   Yang dimaksud dengan relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan
   bahasa lainnya. Hubungan ini dapat berupa kesamaan makna (sinonimi), kebalikan makna
   (antonimi), kegandaan makna (polisemi), kelainan makna (homonimi), ketercakupan makna
   (hiponimi), dan ambiguitas.
    Sinonim
     Sinonima adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan antara satu –
     satunya satuan ajaran dengan satuan ujaran lainnya.
     Contoh :
     Antara kata betul – benar, hamil – duduk perut
     Dalam sebuah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama, karena adanya
     faktor antara lain :
         -   Faktor waktu
         -   Tempat (wilayah)
         -   Sosial
         -   Nuansa makna
    Antonim
     Antonima adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya
     menyatakan kebalikan, pertentangan atau kontraks antara yang satu dengan yang lain.
     Contoh :
     Hidup – mati
     Baik – buruk
     Menjual – membeli
     Dilihat dari sifat hubungannya, makna dapat dibedakan menjadi beberapa jenis :
         -   Bersifat mutlak
         -   Relatif
         -   Relasional
         -   Hirarkial
 Polisemi
  Sebuah kata atau ujaran disebut polisemi kalau kata itu mempunyai makna lebih dari
  satu.
  Contoh :
      -   Kepalanya luka karena pecahan kaca.
      -   Kepala kantor itu adalah ayah saya.
      -   Kepala surat biasanya berisi nama dan alamat kantor.
 Himonim
  Himonim adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya kebetulan sama.
  Maknanya tentu saja berbeda karena masing- masing merupakan kata atau bentuk ujaran
  yang berlainan.
  Contoh :
  Pacar – tunai = kekasih – pacar
  Bisa – sanggup = racun ular – bisa
  Himonim terbagi atas 2 bagian :
  1. Homofoni : adanya kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan
      ejaannya.
  2. Homografi : bentuk ujaran yang sama ortografi ejaannya, tapi ucapan dan maknanya
      tidak sama.
 Hiponim
  Hiponim adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya
  tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.
  Contoh :
  Merpatih – burung
  Burung – merpati, perkutut, cendrawasih
 Ambiguti
  Ambiguti adalah belajar dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal
  yang berbeda misalnya :
  Buku sejarah ditafsirkan;
  Maknanya : buku sejarah itu baru
                  Buku itu memuat zaman baru
 Redundansi
  Biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam
  suatu bentuk ujaran.
  Contoh :
  Bola ditendang oleh Dika tidak ada bedanya bila bola itu ditendang Dika.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2989
posted:1/16/2011
language:Indonesian
pages:36