pertumbuhan ekonomi by Aplusman

VIEWS: 534 PAGES: 5

More Info
									   Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2011, Sejumlah Permasalahan
                                        Menanti

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia Tahun 2011, diperkirakan tidak sebaik tahun 2010 yang
mencapai 4,5 sampai 5 persen. Berbagai persoalan yang terjadi tahun 2010 masih banyak
belum terselesaikan, seperti masih belum tersedianya infrastruktur, bahan baku yang tidak
tersedia, ketersediaan gas, Bahan Bakar Minyak (BBM) kurang, ditambah peraturan yang
dinilai bermasalah.

Persoalan lain yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi pihak birokrasi tidak respon
dengan mengeluarkan kebijakan yang justru menghambat pertumbuhan ekonomi. Misalnya,
dari laporan Asosiasi Pengusaha Indonesia ada 650 Surat Keterangan Asal (SKA) barang
yang belum ditandatangani kepala dinas. Akibatnya barang sudah dikirim menimbulkan
kendala yakni barang tidak bias dibongkar.

Masalah lain pengeluaran siluman sampai sekarang masih dirasakan pengusaha yang
dilakukan para oknum mengatasnamakan lembaga, organisasi bahkan jabatan. Sayangnya,
pengeluaran siluman yang dialami pengusaha tidak mampu ditindak tegas penegak hukum.

"Persoalan yang belum terselesaikan, sangat tidak masuk diakal bila Kepala Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Sumut tahun 2011 Sumatera Utara pertumbuhan ekonomi
mencapai 7,5 persen. Belum ada trobosan baru yang dilakukan pemerintah Sumatera Utara
mendongkrat pertumbuhan ekonomi daerah ini," ungkap Anggota Komisi B DPRD Sumut,
Brilian Muktar.

Indonesia, khususnya Sumatera Utara merupakan surga para investor untuk berinvestasi.
Sumatera Utara memiliki lahan yang luas, memiliki jumlah penduduk yang banyak, memiliki
kekayaan alam, memiliki laut yang luas dan sebagainya. Keinginan investor semula ingin
berinvestasi ke Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Ketika datang ke Indonesia, khususnya
Sumatera Utara berubah pikiran karena tidak didukung infrastruktur, birokrasi yang sulit dan
lain sebagainya. Pemerintah Sumatera Utara harus bisa melakukan trobosan untuk menarik
para investor tidak hanya bisa mengeksploitir keberuntungan yang diberikan Tuhan Yang
Maha Esa.


                                              1
Kebijakan Mengarah Inflasi

Belum lagi pemerintah mampu mengatasi persoalan yang menjadi penghambat pertumbuhan
ekonomi, muncul kebijakan yang menambah sulitnya pertumbuhan ekonomi meningkat.
Kebijakan yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah justru mengarah terjadi infalsi. Tahun
2011, pemerintah berencana menarik subsidi BBM untuk kenderaan roda empat pribadi dan
mewajibkan mempergunakan BBM Pertamax. Keinginan pemerintah menaikkan Tarif Dasar
Listrik. Memberlakukan pajak progresif yakni menaikkan pajak yang memiliki kenderaan
lebh dari satu.

"Kebijakan yang dilakukan pemerintah tahun 2011 justru memicu terjadinya infalsi. Dengan
ditariknya subsidi BBM, pajak progresif dan kenaikkan TDL meningkatkan pengeluaran.
Pemerintah harus menyadari bila pengeluaran meningkat juga berimbas pada masyarakat.
Secara tidak langsung pengeluaran masyarakat menengah kebawah akan meningkat. Sebelum
memberlakukan kebijakan yang dapat menimbulkan pengeluaran meningkat, pemerintah
terlebih dahulu harus meningkatkan pendapatan masyarakat," terangnya.

Beban yang ditanggung masyarakat dengan adanya kebijakan pemerintah yang menambah
pengeluaran masyarakat masih ditambah dengan kebijakan pemerintah daerah. Tahun 2011
ada delapan ranperda yang diusulkan pemerintah daerah. "Bukan tidak mungkin delapan
ranperda yang diusulkan menambah beban masyarakat," ujarnya.

Induk Ketahanan Pangan

Brilian mengingatkan, pemerintah pusat dan daerah jangan hanya mampu memberikan janji-
janji pertumbuhan ekonomi tahun 2011 semakin baik. Menumbuhkan perekonomian suatu
negara bukan pekerjaan mudah yang dapat dilakukan satu atau dua orang. Dibutuhkan
strategis yang matang dengan menyusun program jangka pendek, menengah dan panjang.
Keberhasilan program dibutuhkan sinergi yang melibatkan berbagai pihak. Selama ini
program yang disusun tidak dilaksanakan dengan baik. Selama ini program yang
dilaksanakan dipandang sebagai proyek untuk mencari keuntungan. Selama program
dipandang sebagai proyek, sulit untuk berhasil. Misalnya program satu juta hektar sawah
yang dicanangkan presiden SBY tidak memberi dampak pada ketahanan pangan. Sampai saat



                                             2
ini bangsa Indonesia masih mengimport beras.

"Pemerintah mengatakan bahwa persediaan beras dalam negeri terpenuhi. Pertanyaannya
terpenuhi apakah berasal dari dalam negeri atau dari luar negeri. Bila dari luar negeri, berarti
persediaan beras belum terpenuhi karena harus menunggu kesediaan negara lain menjual
beras kepada Indonesia," jelasnya.

Ketahanan pangan tambahnya, kekuatan perekonomian suatu bangsa. Pemerintah harus
menyadari, pangan merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Indonesia sangat
memungkinkan menjadi negara kuat di bidang ketahanan pangan dengan mengacu pada luas
Indonesia.

"Saya mengusulkan Sumatera Utara membuat induk ketahanan pangan dengan melibatkan
berbagai pihak seperti kehutanan, perkebunan, pertanian, Badan Pertanahan Negara, Pusri
dan beberapa pihan lainnya. Kita menyambut baik rencana kehutanan yang akan memberikan
hutan untuk dijadikan sawah. Berapa luas hutan yang akan dijadikan sawah akan dibahas.
Saat ini masih sebatas usulan dan ini terus saya tindaklanjuti. Saya mengharapkan penegak
hukum mampu menjalankan UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang pertanian yang salah satu
pasal dengan tegas memberikan sangsi hukum 7 tahun kepada siapa yang melakukan
perubahan lahan persawahan ke bentuk lain," tegasnya.

Sumatera Utara sangat berpotensi sebagai daerah yang kuat di bidang ketahanan pangan.
Ketahanan pangan tidak saja untuk masyarakat Sumatera Utara juga mampu untuk kebutuhan
daerah lain dan bila perlu ekspor ke luar negeri. "Kita tidak cukup hanya mengandalkan
perkebunan kepala sawit (CPO) dan tenaga kerja ke luar negeri. Kedua primadona Sumatera
Utara belum menjadi kekuatan perekonomian," terangnya.

Tidak Sebaik 2010

Menurut Pengamat ekonomi, Polin R. Pospos, tidak bergeraknya pertumbuhan ekonomi
tahun 2011 mendatang disebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih ditopang dari
konsumsi domistik dan ekspor, sementara kehadiran investor ke negara ini masih sangat sulit
diharapkan. Ini disebabkan ketersediaan infratruktur yang kurang memadai.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang dari konsumsi domistik dan ekspor import tahun

                                                3
2011, sedikit terganggung. Konsumsi domistik terganggu dengan peningkatan biaya
pengeluaran, dipicu berbagai faktor salah satu kenaikkan harga beras beberapa bulan terus
meningkat. Faktor lain kebijakan pemerintah yang akan menaikkan gas, listrik dan lain-lain.

Eskport impor tahun 2010 cukup baik dan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi
Indonesia, tahun 2011 akan terganggu. Tahun 2010 ekspor impor harga CPO cukup bagus.
Tahun 2011 belum diketahui apakah harga ekspor impor CPO tetap bagus atau sebaliknya.
Pemerintah belum mampu meningkatkan volume CPO. Hambatan yang dapat menganggu
devisi Indonesia harus dapat diantisipasi pemerintah. Indonesia memiliki cadangan devisi
900.000 miliaran Dolar Amerika. Angka ini belum dikatakan aman bila infalsi yang terjadi di
Indonesia cukup besar.

Selama ini produksi barang ekspor yang dimiliki Indonesia belum ada penambahan, masih
tetap. Ini lagi-lagi karena minimnya investor yang mau menanamkan modalnya ke Indonesia.
Harusnya dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi global, Indonesia harus mampu
memacu produksi barang ekspor lebih banyak agar memberikan dampak positif yang lebih
besar untuk pertumbuhan perekonomia di dalam negeri.

Indonesia memiliki peluang yang sangat besar dalam bersaing menghasilkan barang ekspor
mengingat potensi yang dimiliki cukup besar. Misalnya di bidang pertanian, Indonesia masih
memiliki peluang besar untuk menjadi negara penghasil produksi pertanian seperti Jagung,
Ubi disamping Indonesia telah memiliki perkebunan seperti Sawit, Karet, Coklat.

"Sejak 15 tahun lalu saya sudah mengatakan, sektor pertanian sangat menjanjikan untuk
dikembangkan. Kenyataannya sampai sekarang pemerintah belum mampu mengembangkan
pertumbuhan ekonomi dari sektor pertanian," ungkapnya.

Selama ini, Indonesia puas sebagai negara penghasil CPO, Karet, karena harga CPO, Karet di
internasional mahal. Padahal hasil CPO, Karet yang dimiliki negara ini dapat dikembangkan
dengan menghasil produksi baru seperi barang tektil dan beberapa produksi lainnya. Begitu
juga Jangung, Ubi.

Potensi sektor pertanian dapat dikembangkan juga didukung dengan ketersediaan lahan yang
luas untuk dikembangkan. Namun kenyataannya, ketersediaan lahan yang luas tersebut tidak


                                             4
dapat dimanfaatkan menjadi lahan yang bernilai ekonomi karena disebabkan berbagai
kendala misalnya kepemilikan dan lain sebagainya.

Begitu juga dengan hasil laut. Indonesia memiliki laut yang sangat luas, bahkan lebih luas
lebih dari daratan. Namun kenyataannya potensi yang dimiliki laut Indonesia tidak dapat
dikembangkan dan mimimkanya fasilitas yang dimiliki, potensi laut yang dimiliki
dimanfaatkan negara lain untuk mengambil potensi dari laut Indonesia.




                                              5

								
To top