Temper Tantrum

Document Sample
Temper Tantrum Powered By Docstoc
					Temper Tantrum
Andi menangis, menjerit-jerit dan berguling-guling di lantai karena menuntut ibunya
untuk membelikan mainan mobil-mobilan di sebuah hypermarket? Ibunya sudah
berusaha membujuk Andi dan mengatakan bahwa sudah banyak mobil-mobilan di
rumahnya. Namun Andi malah semakin menjadi-jadi. Ibunya menjadi serba salah, malu
dan tidak berdaya menghadapi anaknya. Di satu sisi, ibunya tidak ingin membelikan
mainan tersebut karena masih ada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Namun disisi
lain, kalau tidak dibelikan maka si ibu takut nanti Andi akan menjerit-jerit semakin lama
dan keras, sehingga menarik perhatian semua orang dan orang bisa saja menyangka si
ibu adalah orangtua yang kejam. Ibunya menjadi bingung....., lalu akhirnya si ibu
terpaksa membelikan mainan yang diinginkan Andi. Benarkah tindakan si Ibu?

Temper Tantrum
Kejadian di atas merupakan suatu kejadian yang disebut sebagai Temper Tantrums
atau suatu luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Temper Tantrum
(untuk selanjutnya disebut sebagai Tantrum) seringkali muncul pada anak usia 15 (lima
belas) bulan sampai 6 (enam) tahun.

Perilaku ini seringkali disertai dengan tingkah yang akan membuat Anda sebagai
orangtua semakin jengkel, seperti menangis dengan keras, berguling-guling di lantai,
menjerit, melempar barang, memukul-mukul, menendang-nendang, dan sebagainya.
Bahkan pada sebagian anak, diiringi pula dengan muntah atau kencing di celana.

Mengapa Temper Tantrum ini bisa terjadi?
Hal ini disebabkan karena anak belum mampu mengontrol emosi mereka dan
mengungkapkan amarah mereka secara tepat. Tentu saja hal ini akan bertambah parah
jika orang tua tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada anak, dan orangtua tidak
bisa mengendalikan emosi karena malu, jengkel, dan sebagainya.

Tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum juga
lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap "sulit", dengan ciri-ciri sebagai
berikut:

1. Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur.
2. Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.
3. Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
4. Mood (suasana hati) anak lebih sering negatif.
5. Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal.
6. Perhatian anak sulit dialihkan .


Tantrum termanifestasi dalam berbagai perilaku. Di bawah ini adalah beberapa contoh
perilaku Tantrum, menurut tingkatan usia:

1. Di bawah usia 3 tahun:
· Menangis
· Menggigit
· Memukul
· Menendang
· Menjerit
· Memekik-mekik
· Melengkungkan punggung
· Melempar badan ke lantai
· Memukul-mukulkan tangan
· Menahan nafas
· Membentur-benturkan kepala
· Melempar-lempar barang

2. Usia 3 - 4 tahun:
· Perilaku-perilaku tersebut diatas
· Menghentak-hentakan kaki
· Berteriak-teriak
· Meninju
· Membanting pintu
· Mengkritik
· Merengek

3. Usia 5 tahun ke atas
· Perilaku- perilaku tersebut pada 2 (dua) kategori usia di atas
· Memaki
· Menyumpah
· Memukul kakak/adik atau temannya
· Mengkritik diri sendiri
· Memecahkan barang dengan sengaja
· Mengancam


Faktor Penyebab
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Tantrum. Diantaranya adalah
sebagai berikut:

1. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu. Setelah tidak berhasil
meminta sesuatu dan tetap menginginkan sesuatu tersebut, anak mungkin saja
memakai cara Tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang mereka
inginkan, seperti pada contoh kasus di atas.

2. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri. Anak-anak punya keterbatasan
bahasa, ada saatnya mereka ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan
orangtua pun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan oleh anak. Kondisi ini dapat
memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk Tantrum.
3. Tidak terpenuhinya kebutuhan. Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang
cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Kalau suatu
saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang dengan mobil (dan berarti
untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak bebas), si anak akan merasa stres.
Salah satu kemungkinan cara pelepasan stres si anak adalah Tantrum. Contoh lain:
anak butuh kesempatan untuk mencoba kemampuan baru yang mereka miliki. Misalnya
anak umur 3 tahun yang ingin mencoba makan sendiri, atau umur anak 4 tahun ingin
mengambil minuman yang memakai wadah gelas kaca, tapi tidak diperbolehkan oleh
orangtua atau pengasuh. Maka untuk melampiaskan rasa marah atau kesal karena
tidak diperbolehkan, si anak memakai cara Tantrum agar diperbolehkan.

4. Pola asuh orangtua. Cara orangtua mengasuh anak juga berperan untuk
menyebabkan Tantrum. Anak-anak yang terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan
apa yang diinginkan, bisa Tantrum ketika suatu saat permintaan mereka ditolak. Bagi
anak-anak yang terlalu dilindungi dan didominasi oleh orangtua mereka, sekali waktu
anak bisa jadi bereaksi menentang dominasi orangtua dengan perilaku Tantrum.
Orangtua yang mengasuh secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak
Tantrum. Misalnya, orangtua yang tidak punya pola jelas kapan ingin melarang atau
kapan ingin mengizinkan anak berbuat sesuatu, dan orangtua yang seringkali
mengancam untuk menghukum tapi tidak pernah menghukum. Anak akan dibingungkan
oleh sikap orangtua dan menjadi Tantrum ketika orangtua benar-benar menghukum.
Atau pada ayah-ibu yang tidak sependapat satu sama lain, yang satu memperbolehkan
anak, yang lain melarang. Anak bisa jadi akan Tantrum agar mendapatkan keinginan
dan persetujuan dari kedua orangtua mereka.

5. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit, sehingga mudah kesal dan
tidak bisa mengendalikan emosi mereka.

6. Anak sedang stres (akibat tugas sekolah, dan lain-lain) dan karena merasa tidak
aman (insecure).

7. Anak gagal melakukan sesuatu, sehingga anak menjadi emosi dan tidak mampu
mengendalikan emosi mereka. Hal ini akan semakin parah jika anak merasakan bahwa
orangtua selalu membandingkan mereka dengan orang lain, atau orang tua memiliki
tuntutan yang terlalu tinggi pada anak.

8. Jika anak menginginkan sesuatu, selalu ditolak dan dimarahi. Sementara orang
tua selalu memaksa anak untuk melakukan sesuatu di saat anak sedang asyik bermain,
misalnya untuk makan. Mungkin orang tua tidak mengira bahwa hal ini akan menjadi
masalah pada si anak di kemudian hari. Si anak akan merasa bahwa mereka tidak akan
mampu dan tidak berani melawan kehendak orang tua, sementara mereka sendiri
harus selalu menuruti perintah orang tua. Ini konflik yang akan merusak emosi si anak.
Yang berakibat emosi anak meledak.

9. Yang paling sering terjadi adalah karena "anak mencontoh tindakan penyaluran
amarah yang salah pada ayah atau ibunya." Jika Anda peduli dengan perkembangan
anak Anda, periksalah kembali sikap dan sifat-sifat kita sebagai orangtua.


Tindakan terbaik menyikapi Tantrum pada anak
Banyak ahli perkembangan anak menilai bahwa Tantrum adalah suatu perilaku yang
masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu
periode dalam perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak. Sebagai bagian dari
proses perkembangan, episode Tantrum pasti berakhir. Beberapa hal positif yang bisa
dilihat dari perilaku Tantrum adalah bahwa dengan Tantrum anak ingin menunjukkan
independensi mereka, mengekpresikan individualitas mereka, mengemukakan
pendapat mereka, mengeluarkan rasa marah dan frustrasi mereka, dan membuat orang
dewasa mengerti kalau mereka "bingung, lelah, atau sakit."

Namun demikian bukan berarti bahwa anak yang Tantrum sebaiknya harus dipuji dan
disemangati (encourage). Jika orangtua membiarkan Tantrum berkuasa (dengan
memperbolehkan anak mendapatkan yang mereka inginkan setelah mereka Tantrum,
seperti ilustrasi di atas)

Atau bereaksi dengan hukuman-hukuman yang keras dan paksaan-paksaan, maka
berarti orangtua sudah menyemangati dan memberi contoh pada anak untuk bertindak
kasar dan agresif (padahal sebenarnya tentu orangtua tidak setuju dan tidak
menginginkan hal tersebut).

Dengan bertindak keliru dalam menyikapi Tantrum, orangtua bisa kehilangan satu
kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang bagaimana cara mereka bereaksi
terhadap emosi-emosi yang normal (marah, frustrasi, takut, jengkel, dan lain-lain)
secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat sehingga tidak
menyakiti diri mereka sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut.

Pertanyaan sebagian besar orangtua adalah bagaimana cara terbaik dalam menyikapi
anak yang mengalami Tantrum. Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya mencoba
untuk memberikan beberapa saran tentang tindakan-tindakan yang sebaiknya
dilakukan oleh para orangtua untuk mengatasi hal tersebut.

Tindakan-tindakan ini terbagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu:
1. Mencegah terjadinya Tantrum.
2. Menangani Anak yang sedang mengalami Tantrum.
3. Menangani anak pasca Tantrum.


1. Pencegahan
Langkah pertama, untuk mencegah terjadinya Tantrum adalah dengan mengenali
kebiasaan-kebiasaan anak, dan mengetahui secara pasti pada kondisi-kondisi seperti
apa muncul Tantrum pada si anak. Misalnya, kalau orangtua tahu bahwa si anak
merupakan anak yang aktif bergerak dan gampang stres jika terlalu lama diam dalam
mobil di perjalanan yang cukup panjang. Maka supaya si anak tidak Tantrum, orangtua
perlu mengatur agar selama perjalanan diusahakan sering-sering beristirahat di jalan,
untuk memberikan waktu bagi anak berlari-lari di luar mobil.

Tantrum juga dapat dipicu karena stres akibat tugas-tugas sekolah yang harus
dikerjakan anak. Dalam hal ini mendampingi anak pada saat mereka mengerjakan
tugas-tugas dari sekolah (bukan membuatkan tugas-tugas mereka ya!) dan
mengajarkan hal-hal yang dianggap sulit, akan membantu mengurangi stres pada anak
karena beban sekolah tersebut.

Mendampingi anak bahkan tidak terbatas pada tugas-tugas sekolah, tapi juga pada
permainan-permainan, sebaiknya anak pun didampingi orangtua, sehingga ketika anak
mengalami kesulitan, maka orangtua dapat membantu dengan memberikan petunjuk
kepada mereka.

Langkah kedua, dalam mencegah Tantrum adalah dengan melihat bagaimana cara
orangtua mengasuh anak, antara lain:

Apakah anak terlalu dimanjakan?
Apakah orangtua bertindak terlalu melindungi (over protective), dan terlalu suka
melarang?
Apakah kedua orangtua selalu seia-sekata dalam mengasuh anak?
Apakah orangtua menunjukkan konsistensi dalam perkataan dan perbuatan?

Jika anda merasa terlalu memanjakan anak, terlalu melindungi dan seringkali melarang
anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh anak, jangan
heran jika anak akan mudah tantrum jika kemauan mereka tidak dituruti. Konsistensi
dan kesamaan persepsi dalam mengasuh anak juga sangat berperan. Jika ada
ketidaksepakatan, orangtua sebaiknya jangan berdebat dan beragumentasi satu sama
lain di depan anak, agar tidak menimbulkan kebingungan dan rasa tidak aman pada
anak. Orangtua hendaknya menjaga agar anak selalu melihat bahwa orangtua mereka
selalu sepakat dan rukun.

Yang paling utama adalah orangtua harus menjadi contoh yang baik bagi anak. Jika
Anda marah, salurkan itu secara tepat. Anda harus ingat, bahwa anak merekam setiap
kejadian yang positif maupun negatif yang terjadi di sekitar mereka. Jika tanpa Anda
sadari anak Anda sudah merekam sifat-sifat Anda yang buruk, atau dia melihat si Ayah
memukul Ibu mereka, bisa dipastikan peristiwa itu akan membawa pengaruh buruk
dalam hidup mereka kelak.

Jika anak ingin bermain dan tidak ingin diganggu, berilah kesempatan secara bijaksana
kepada si anak. Jangan terlalu mengekang, namun berilah kepercayaan bahwa si anak
bisa bermain dan bergaul dengan baik.


2. Ketika Tantrum Terjadi
Jika Tantrum tidak bisa dicegah dan tetap terjadi, maka beberapa tindakan yang
sebaiknya dilakukan oleh orangtua adalah:
- Memastikan segalanya aman. Jika Tantrum terjadi di muka umum, pindahkan anak
ke tempat yang aman untuk melampiaskan emosi mereka. Selama Tantrum (di rumah
maupun di luar rumah), jauhkan anak dari benda-benda, baik benda-benda yang bisa
membahayakan diri mereka atau justru jika diri mereka yang bisa membahayakan
keberadaan benda-benda tersebut. Atau jika selama Tantrum anak jadi menyakiti
teman maupun orangtua mereka sendiri, jauhkan anak dari teman mereka tersebut dan
jauhkan diri Anda dari mereka.
- Orangtua harus tetap tenang, berusaha menjaga emosi diri sendiri agar tetap
tenang. Jaga emosi jangan sampai memukul dan berteriak-teriak marah pada anak.
- Tidak mengacuhkan Tantrum anak (ignore). Selama Tantrum berlangsung,
sebaiknya tidak membujuk-bujuk, tidak berargumen, tidak memberikan nasehat nasehat
moral agar anak menghentikan Tantrum mereka, karena si anak tidak akan
menanggapi/mendengarkan hal-hal tersebut. Usaha menghentikan Tantrum seperti itu
malah biasanya seperti menyiram bensin dalam api, anak akan semakin lama Tantrum
dan meningkat intensitas tantrum mereka. Yang terbaik adalah membiarkan si anak.
Tantrum justru lebih cepat berakhir jika orangtua tidak berusaha menghentikan tantrum
si anak dengan bujuk rayu atau paksaan.
- Jika perilaku Tantrum dari menit ke menit malahan bertambah buruk dan tidak
akan pernah selesai, selama anak tidak memukul-mukul Anda, peluk anak dengan
rasa cinta. Tapi jika rasanya tidak bisa memeluk anak dengan cinta (karena Anda
sendiri rasanya malu dan jengkel dengan kelakuan anak), minimal Anda duduk
atau berdiri berada dekat dengan anak anda tersebut. Selama melakukan hal inipun
tidak perlu sambil menasehati atau complaint (dengan berkata: "kamu kok begitu, bikin
ayah dan ibu sedih"; "kamu ini sudah besar, jangan seperti anak kecil lagi yah"), kalau
ingin mengatakan sesuatu, cukup misalnya dengan mengatakan "Ayah/ibu sayang
kamu", "Ibu ada di sini sampai kamu selesai". Yang penting di sini adalah memastikan
bahwa anak merasa aman dan tahu bahwa orangtua mereka ada dan tidak menolak
mereka.
- Jika Anda terpaksa harus berseberangan pendapat dengan si anak saat dia
mengamuk, kemukakan pendapat Anda secara tegas, tetapi lembut. Jangan
membentak si anak, apalagi sampai mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Atur
emosi Anda, karena anak tidak sedang bermusuhan dengan Anda, dan anak bukan
musuh Anda. Abaikan tangisan dan ajaklah anak berbicara dengan lembut. Jelaskan
kepada anak anda mengapa Anda tidak memberi mainan yang mereka inginkan
dengan alasan yang jujur dan tidak dibuat-buat. Jelaskan dengan sabar sampai anak
mengerti maksud Anda yang sebenarnya, karena saat itu adalah konflik yang sedang
dialami oleh si anak. Pastikan bahwa anak bisa mengerti maksud Anda dengan baik,
karena konflik yang berakhir menggantung, akan muncul di kemudian hari dengan
bentuk yang tidak pernah Anda duga sebelumnya. Sekali lagi, atur emosi Anda.
Mungkin Anda malu dilihat banyak orang di supermarket. Tapi ingatlah akan
perkembangan emosi anak Anda. Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi jika Anda
terbawa emosi dan rasa malu, dan Anda bersikap keras kepada anak Anda.


3. Ketika Tantrum Telah Berlalu
Saat Tantrum anak sudah berhenti, seberapapun parahnya ledakan emosi yang telah
terjadi tersebut, janganlah diikuti dengan hukuman, nasehat-nasehat, teguran, maupun
sindiran. Juga jangan diberikan hadiah apapun, dan anak tetap tidak boleh
mendapatkan apa yang diinginkan (jika Tantrum terjadi karena menginginkan sesuatu).
Dengan tetap tidak memberikan apa yang diinginkan si anak, orangtua akan terlihat
konsisten dan anak akan belajar bahwa mereka tidak bisa memanipulasi orangtuanya.

Berikanlah rasa cinta dan rasa aman Anda kepada anak. Ajak anak, membaca buku
atau bermain sepeda bersama. Tunjukkan kepada anak, sekalipun mereka telah
berbuat salah, sebagai orangtua Anda tetap mengasihi mereka.

Setelah Tantrum berakhir, orangtua perlu mengevaluasi mengapa sampai terjadi
Tantrum. Apakah benar-benar anak yang berbuat salah atau orangtua yang salah
merespon perbuatan/keinginan anak? Atau karena anak merasa lelah, frustrasi, lapar,
atau sakit? Berpikir ulang tentang hal ini perlu, agar orangtua bisa mencegah Tantrum
berikutnya.

Jika anak yang dianggap salah, orangtua perlu berpikir untuk mengajarkan kepada
anak nilai-nilai atau cara-cara baru agar anak tidak mengulangi kesalahan mereka.
Kalau memang ingin mengajar dan memberi nasehat, jangan dilakukan setelah
Tantrum berakhir, tapi lakukanlah ketika keadaan sedang tenang dan nyaman bagi
orangtua dan anak. Waktu yang tenang dan nyaman adalah ketika Tantrum belum
dimulai, bahkan ketika tidak ada tanda-tanda akan terjadi Tantrum. Saat orangtua dan
anak sedang gembira, tidak merasa frustrasi, lelah dan lapar merupakan saat yang
ideal.

Ajarlah anak Anda untuk berlatih menguasai dan mengendalikan emosi mereka. Anda
bisa mengajak anak bermain musik, melukis, bermain bola, atau permainan lainnya.
Lewat permainan-permainan tersebut, anak belajar untuk menerima kekalahan, belajar
untuk tidak sombong jika menang, bersikap sportif, dan belajar bersaing secara sehat.
Tapi ingat, jangan sekali-kali Anda bermain curang. Mungkin Anda pikir ini hanya
sekedar permainan. Tapi anak akan berpikir dan menerapkan pada dirinya, bahwa
berlaku curang itu sah-sah saja.

Dari uraian diatas dapat terlihat bahwa kalau orangtua memiliki anak yang "sulit" dan
mudah menjadi Tantrum, tentu tidak adil jika dikatakan semua adalah kesalahan
orangtua. Namun harus diakui bahwa orangtua memang yang punya peranan untuk
membimbing anak dalam mengatur emosi anak dan mempermudah kehidupan anak
agar Tantrum tidak terus-menerus meletup. Beberapa saran di atas mungkin dapat
berguna bagi anda terutama bagi para ibu/ayah muda yang belum memiliki pengalaman
mengasuh anak. Semoga bermanfaat....!



Temper Tantrum
Andi crying, screaming and rolling on the floor because her mother demanded to buy
toy cars in a hypermarket? His mother had tried to persuade Andi and said that already
many cars on house. But Andi instead became increasingly. His mother go awry,
embarrassed and helpless to face his son. On the one hand, her mother did not want to
buy a toy because there are other more urgent needs. On the other hand, if the mother
did not buy the fear of later Andi would scream longer and harder, so that everyone's
attention and one might think the mother is a cruel parent. His mother became confused
....., then finally the mother was forced to buy the desired toy Andi. Is it true that the
actions of the mother?


Temper Tantrum

The above events is an event called Temper Tantrums or a surge of emotion explosive
and uncontrolled. Temper Tantrum (hereinafter referred to as Tantrum) often appears in
children aged 15 (fifteen) months up to 6 (six) years.

This behavior is often accompanied by behavior that will make you as a parent getting
upset, like crying with a loud, rolling on the floor, screaming, throwing things, banging,
kicking, and so forth. Even in some children, accompanied by vomiting or urinating in
their pants.


Temper Tantrum Why did this happen?

This is because children are not able to control their emotions and express their anger
appropriately. Of course this will worsen if parents do not understand what was
happening in children, and parents can not control the emotions of shame, resentment,
and so forth.

Tantrums usually occur in children who are active with abundant energy. Tantrum also
more apt to occur in children who are considered "difficult", with the following
characteristics:

1. Have a habit of sleeping, eating and bowel movements irregular.
2. Difficult love situations, food and new people.
3. Slow to adapt to change.
4. Mood (mood) of the children more often negative.
5. Easily provoked, it's easy to feel angry / upset.
6. Diverted the attention of children difficult.


Tantrum is manifested in various behaviors. Below are some examples Tantrum
behavior, according to age level:

1. Under age 3 years:
· Crying
· Biting
· Spanking
· Kicking
· Screaming
· Squeal-mekik
· Arched back
· Throwing the body to the floor
· Banging hands
· Holding breath
· Banging heads
· Throwing throwing stuff

2. Age 3-4 years:
· The above behaviors
· Beat of foot-stomping
· Yelling and shouting
· Punching
· Slammed the door
· Criticizing
· Whining

3. Ages 5 years and over:
· These behaviors in 2 (two) categories, age above
· Cursing
· Swear
· Beating brother / sister or friend
· Criticize yourself
· Solve goods deliberately
· Threatening


Causes

There are several factors that could cause Tantrum. Among them are as follows:

1. Obstruction of the wishes of children get something. Having failed to ask for
something and still want something, the child may only wear Tantrum way to pressure
parents to get what they want, as in the example case above.

2. The inability of children to express themselves. The children have a language barrier,
there are times when they want to express something but can not, and parents could
not understand what is desired by the child. This condition can lead children to become
frustrated and expressed in the form of Tantrum.

3. Unmet needs. Active Children need space and time to always be moving and can not
be silent for a long time. If one day the child should be a long journey by car (, and
means for a long time she could not move freely), the child will feel stress. One possible
way of releasing stress the child is Tantrum. Another example: a child needs a chance
to try out new skills they have. For example, 3 years olds who want to try to feed
themselves, or 4-year old son wants to take a drink that uses a glass container glass,
but not allowed by parents or caregivers. So to vent their anger or upset because it is
not allowed, the child is wearing way for Tantrum allowed.

4. Parenting the parent. How to care for the child's parents also contribute to cause
Tantrum. Children who are too spoiled and always get what you want, can Tantrum
when one day their request was rejected. For children who are too protected and
dominated by their parents, once upon a time the child may be reacting against the
dominance of parents with Tantrum behavior. Parents who are inconsistent parenting
can also cause children Tantrum. For example, parents who have no clear pattern when
want to prohibit or when want to allow the child to do something, and parents who often
threatened to punish but never punished. Children will be confused by the attitude of
parents and become Tantrum when a parent is really punishing. Or the father-mother
who disagreed with one another, which allow one child, others prohibit. Children could
be going Tantrum in order to obtain the wishes and consent of their parents.

5. Children feel tired, hungry, or in a state of pain, so easily upset and can not control
their emotions.

6. Children under stress (due to school work, etc.) and because they feel unsafe
(insecure).

7. Children failed to do something, so that children become emotionally and unable to
control their emotions. This will get worse if the child feels that parents are always
comparing them with other people, or parents have too high demands on the child.

8. If a child wants something, always rejected and reproved. While parents always force
the child to do something at the time the child is engrossed in play, for example, to eat.
Maybe parents do not think that this will be a problem on the child in the future. The
child will feel that they can not and dare not resist the will of their parents, while they
themselves must always obey their parents. This conflict that would damage the child's
emotions. Which result in children's emotions exploded.

9. The most frequently occurs is that "children imitate the act of channeling the anger
that one of the father or mother." If you care about your child's development, check back
attitudes and traits we as parents.


The best action to face child Tantrum

Many child development experts assess that Tantrum is a behavior that is still relatively
normal, which is part of the process of development, a period in the development of
physical, cognitive and emotional child. As part of the process of development, Tantrum
episode would end. Some positive things that can be seen from the behavior of the
Tantrum Tantrum is that children want to show their independence, to express their
individuality, their expression, release their anger and frustration, and make adults
understand that they were "confused, tired, or sick."

However, it does not mean that children who Tantrum should be commended and
encouraged (encourage). If parents let Tantrum in power (by allowing children to get
what they want after they Tantrum, as illustrated above)

Or react with harsh punishments and coercion-coercion, it means that parents are
encouraging and give examples for children to act rude and aggressive (when in fact
parents do not agree and certainly did not want it).

By acting wrongly in dealing with Tantrum, parents may lose a good opportunity to
teach children about how they react to the normal emotions (anger, frustration, fear,
annoyance, etc.) are fair and how to act in a proper way so as not to hurt themselves
and others while feeling the emotion.

The question most parents is how the best way in dealing with children who have
Tantrum. To answer these questions I try to give some suggestions on actions that
should be done by parents to overcome it.

These actions are divided into 3 (three) parts, namely:
1. Prevent the occurrence of Tantrum.
2. Dealing with Children who are experiencing Tantrum.
3. Dealing with post-Tantrum child.


1. Prevention

The first step, to prevent Tantrum is to recognize the habits of children, and know
exactly on what those conditions appear Tantrum on the child. For example, if parents
knew that the child is a child who actively and easily stressed if too long silent in the car
on long trips. And so the child does not Tantrum, parents need to arrange for a trip
arranged for them often rest on the road, to allow time for the kids run around outside
the car.

Tantrum also be triggered by the stress of school work to be done son. In this case,
accompany the child when they do the tasks of the school (rather than make their tasks
yes!) And teaching things that are considered difficult, will help reduce stress on the
child because the burden of the school.

Accompanying children are not even limited to school work, but also on the games,
should the child was accompanied by a parent, so that when children have difficulties,
then parents can help by giving instructions to them.
The second step, in preventing the Tantrum is to see how the parents care for children,
among others:

Are kids too pampered?
Are parents too protective action (over protective), and too much like the ban?
Are both parents are always unanimous-one word in parenting?
Are parents showed consistency in words and deeds?

If you feel too spoiled child, over protective and often forbid children to do activities that
actually is needed by children, do not be surprised if your child will be easy to tantrums
if they are not obeyed. Consistency and common perception in child-rearing is also a
very important role. If there is disagreement, parents should not argue and argue with
each other in front of children, so as not to cause confusion and insecurity in children.
Parents should keep children always see that their parents were always agree and get
along.

The most important is that parents should be a good example for children. If you're
angry, salurkanlah it appropriately. You must remember, that the child record any
positive or negative events happening around them. If not you realize your child has
been recording the properties you are bad, or he saw the father hit their mother, can be
sure the event will bring bad influences in their lives later.

If the child wants to play and do not want to be disturbed, give opportunity to the child
wisely. Do not be too much rein, but give confidence that the child can play and mix
well.


2. When Tantrum Happen

If Tantrum not be prevented and continue to occur, then some action should be
performed by parents were:
- Ensuring that everything is safe. If Tantrum occurred in public, move the child to a safe
place to vent their emotions. During Tantrum (at home or outside the home), keep the
child from the objects, both objects that could endanger themselves or even if they
themselves could endanger the existence of these objects. Or if during Tantrum child so
hurt their own friends and parents, keep children from their friends and remove yourself
from them.
- Parents should stay calm, trying to keep emotions myself to stay calm. Keep the
emotions do not get hit and shouted angrily at the child.
- Do not ignore the child's Tantrum (ignore). Tantrum During the call, should not
persuade persuade, not argue, do not give advice on moral advice for children Tantrum
stop them, because the child will not respond / listen to these things. Tantrum stop
business as usual even as it poured gasoline on the fire, the child will stay longer
Tantrum and increased the intensity of their tantrums. The best thing is to let the child.
Tantrum was more rapid end if parents do not try to stop the tantrums of the child with
gentle persuasion or coercion.
- If the behavior Tantrum from minute to minute even get worse and will never be
finished, as long as the child does not beat you, hug a child with a sense of love. But if it
was not able to hug a child with love (because you yourself feel embarrassed and
annoyed with the behavior of children), at least you sit or stand close to your child is.
During even this did not need her counsel or complaint (by saying: "you really so, make
a sad father and mother"; "you it has been great, do not be like a kid again yah"), if you
want to say something, just for example by saying "My father / mother love you",
"Mother is here until you finish." The important thing here is to ensure that children feel
safe and know that their parents there and not reject them.
- If you had to have the opposite opinion with the boy as he raged, put forward your
opinion in a firm, but gentle. Do not snap the child, let alone to utter the words that do
not deserve. Manage your emotions, because children are not being hostile to you, and
children are not your enemy. Ignore the cries and ask children to talk softly. Explain to
your child why you do not give the toy they want for reasons that honest and not
contrived. Explain patiently until the child actually understand what you mean, because
it is a conflict being experienced by the child. Make sure that children can understand
what you mean well, because the conflict ended hanging, will appear at a later date with
a shape that you never thought before. Once again, set your emotions. Maybe you
embarrassed seen many people in the supermarket. But remember your child's
emotional development. Can you imagine what would happen if you carry emotions and
shame, and you're being loud to your child.


3. When Tantrum has Passes

Tantrum When the child is stopped, no matter how severe emotional explosion that has
happened is, not followed by punishment, advice, reprimand, or innuendo. Also do not
be awarded any prize, and the child still can not get what it wants (if Tantrum happen
because it wanted something.) With still not provide what they want the child, parents
will look consistent and the child will learn that they can not manipulate her parents.

Give your love and your sense of security to the child. Encourage the child, reading a
book or play a bike together. Demonstrate to children, even if they have done wrong, as
a parent you still love them.

After Tantrum end, parents need to evaluate why it happened Tantrum. Is it really the
child that parents do wrong or the wrong response to actions / wishes of children? Or
because the children feel tired, frustrated, hungry, or sick? Re-think this is necessary,
so that parents can prevent the next Tantrum.

If a child is considered to be wrong, parents need to teach our children to think of values
or new ways so that children do not repeat their mistakes. If you really want to teach
and advise, do not do after Tantrum over, but do it when things are calm and
comfortable for parents and children. When a quiet and comfortable is when Tantrum
has not yet begun, even when there are no signs of going Tantrum. When parents and
kids are happy, do not feel frustrated, tired and hungry is an ideal time.
Teach your child to practice to master and control their emotions. You can invite
children to play music, painting, playing ball, or other games. Through these games,
children learn to accept defeat, learn to not arrogant if you win, act sportsmanship, and
learn to compete fairly. But remember, you do not ever play dirty. Maybe you think this
is just a game. But the children will think and apply to him, that cheating is legitimate.

From the description above can be seen that if parents have children that "hard" and
easily become Tantrum, would not be fair to say all is the parents fault. But it must be
recognized that parents do have a role to guide the child in regulating children's
emotions and facilitate the child's life for Tantrum not constantly popping. Some of the
above suggestions may be useful for you especially for mothers / young father who has
no experience caring for children. Hopefully useful ....!

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:773
posted:1/13/2011
language:Indonesian
pages:14