Docstoc

Forced to Eat, Children Can Trauma

Document Sample
Forced to Eat, Children Can Trauma Powered By Docstoc
					Dipaksa Makan, Anak Bisa Trauma
Selera makan pada anak sebenarnya sama dengan orang dewasa. Kadang turun,
kadang naik. Hati-hati, memaksa anak menghabiskan makanannya saat sedang tak
berselera. Bisa-bisa anak menjadi semakin trauma dan semakin sulit makan.

Zyfa (4 tahun) sangat sulit makan. Setiap kali melihat ibunya membawa mangkok dan
sendok, ia sudah menangis menjerit-jerit. "Tidak mau, aku tidak mau makan",
teriaknya. Sang Ibu bingung menghadapi keadaan ini. Apalagi, Zyfa sulit minum susu.
Badan Zyfa juga kurus. Zyfa hanya mau makan-makanan kesukaannya saja, yaitu telur
mata sapi dan kerupuk.

Trauma karena terpaksa
Menurut Fitriani, Psi, MPsi, Direktur Lentera Insan-Child Development Education
Center, "pemaksaan makan di masa "bayi sampai usia lima tahun" akan berakibat tidak
baik bagi perkembangan anak. Anak akan mengalami ketakutan yang sangat tinggi
dalam proses pemaksaan makan. Apalagi bila sampai dijejali sendok, dicekoki, atau
ditakut-takuti hantu dan sebagainya. Ketakutan itu bisa menimbulkan trauma", tegas
psikolog yang hobi menganalisa dan membaca sunatullah ini.

Anak yang trauma terhadap makanan dan hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan
makan justru akan lebih sulit makan karena ia cenderung menghindari penyebab
trauma yang dihadapinya. Repotnya, trauma ini bisa berlanjut sampai dewasa. Bahkan
juga bisa memunculkan perilaku jijik atau tidak suka pada jenis-jenis makanan tertentu.

Asosiasi yang bikin jijik
Penyebab lain trauma makan adalah karena anak mengasosiasikannya dengan hal
lain yang menyebabkannya tidak suka makanan tertentu. Misalnya, seorang anak
muntah dan merasakan tidak enaknya muntah. Anak melihat bentuk muntahnya sama
seperti bubur. Atau, saat sedang batuk pilek, ia melihat bentuk ingusnya seperti jus
alpukat. Bisa jadi, kedua anak itu mengasosiasikan muntah dengan bubur atau ingus
dengan jus alpukat. Penginderaan anak tentang lunak menghubungkan makanan lunak
dengan benda yang membuatnya jijik. Akibatnya, saat ditawarkan bubur atau jus
alpukat anak langsung menolak.

Selain berbentuk benda, trauma juga dapat terjadi bila saat ia sedang makan dengan
nasi dan telur dadar, misalnya, sang ayah memarahinya. Sebenarnya penyebab
kemarahan sang ayah bukan karena anak makan nasi dan telur dadar. Namun, anak
bisa mengasosiakan nasi dan telor dadar sebagai penyebab kemarahan ayah.
Akbatnya, anak trauma memakan nasi dan telur dadar karena takut sang ayah akan
memarahinya lagi. Setiap kali makan telur, anak akan teringat pada peristiwa yang
membuatnya merasa tidak nyaman.

"Bayi sampai usia lima tahun" masa kritis
Menurut Fitriani, "saat anak berusia 2-5 tahun, adalah masa yang rawan bagi anak.
Pada masa itu anak sedang sulit-sulitnya makan. Artinya, bila anak sulit makan pada
usia itu sebenarnya masih bisa dikategorikan wajar. Namun, tentu saja orangtua tidak
boleh berdiam diri saat anak tidak mau makan. Karena kalau ditolerir anak akan
semakin kurus, kurang gizi dan semakin tidak bergairah untuk melakukan aktifitas. Bila
keadaan itu berlanjut, anak bisa malas-malas terus karena fisiknya tidak sehat." urai
Ibu dari tiga anak ini menjelaskan.

Untuk mengatasi keadaan seperti itu, maka orangtua perlu membujuk dengan berbagai
cara dengan membuat suasana makan jadi menyenangkan. Luangkan waktu untuk
menyusun menu dan mengajak anak untuk melihat-lihat gambar dalam buku resep.
Pada saat-saat tertentu, buatkanlah menu-menu kesukaan anak. Namun, jangan
hanya menuruti keinginan anak saja hingga gizinya tidak berimbang karena tidak
bervariasi. Pada masa kritis ini, yang perlu dihindari orangtua adalah menjaga jangan
sampai kehilangan kesabaran dengan memarahi atau melakukan tindakan fisik kepada
anak.

Bila berbagai upaya telah dilakukan, namun anak belum juga mau makan. Apalagi bila
berat badannya di bawah normal, maka sebaiknya anak dibawa ke dokter spesialis
anak, spesialis gizi atau spesialis pencernaan anak. Dokter perlu melakukan
pemeriksaan apakah anak tidak mau makan karena ada enzim-enzim yang belum
bekerja atau sedang menderita sakit infeksi tertentu. Apabila setelah dilakukan
pemeriksaan ternyata tidak ada masalah, barulah kemungkinan adanya trauma makan
pada anak dapat disimpulkan.

Namun, menurut Fitriani, "adanya peristiwa trautamis karena makanan pada anak
sebenarnya sangat jarang. Cara lain yang dapat membuat anak senang makan adalah
dengan memberikan kesibukan yang cukup banyak menghabiskan energi. Misalnya,
dengan memasukkan anak ke klub renang atau klub olahraga lainnya. Dengan
mengajak anak berolahraga, anak dibuat lapar. Sehingga, kebutuhannya untuk makan
menjadi meningkat."


Makan dengan bahagia
Langkah terbaik untuk mencegah trauma tidak mau makan adalah dengan
pengetahuan, sikap dan perilaku yang benar tentang pemberian makanan pada bayi.
Orangtua perlu belajar tahapan pemberian makan yang benar. Belum saatnya anak
makan nasi, sudah diberi nasi. Atau, sebaliknya yang harusnya sudah bisa makan
nasi, masih diberi bubur atau makanan yang masih diblender. Akhirnya si anak dengan
nasi menjadi trauma.

Selain jenis dan bentuk makanannya, pemberian makanan tidak menggunakan
cara-cara yang sangat negatif, agresif, atau penyiksaan. Bila ibu atau pengasuh sering
marah-marah sambil menyuapi anak, maka anak akan mengidentikkan acara makan
dengan kegiatan yang tidak menyenangkan. Sebagaimana prinsip dalam TK bermain
sambil belajar yang membuat suasana menyenangkan dalam belajar, maka suasana
yang menyenangkan juga perlu diciptakan dalam suasana makan.

"Namun, perlu diingat juga bahwa dalam mengajarkan perilaku ini orangtua tidak boleh
melupakan adab-adab makan, seperti membaca doa, mengambil dengan tangan
kanan, duduk. Jangan biasakan makan sambil jalan-jalan karena tidak sesuai dengan
akhlak islami", tutur Fitriani, Master Psikologi Perkembangan Anak ini.

Menciptakan suasana nyaman saat makan bukan berarti mengalokasikan waktu
berjam-jam untuk makan. Orangtua tetap perlu mengingatkan anak bila ia melanggar
aturan. misalnya "maaf, makannya tidak boleh sambil lari-lari". atau "maaf, makannya
harus pakai tangan kanan sayangku", dan sebagainya. Terakhir, jangan lupa berikan
penghargaan setelah anak selesai menghabiskan makanannya. Misalnya, "Ibu senang
karena Zyfa pintar makannya. Insya Allah badan Zyfa akan sehat dengan
makan-makanan yang sehat dan bergizi".

Jadi, antara memberikan kenyamanan dan kedisiplinan harus pas takarannya, agar
makan menjadi menyenangkan, namun tetap menegakkan disiplin agar dilakukan
sesuai dengan perilaku yang baik.

Meningkatkan Selera Makan Anak
Beberapa tips berikut adalah cara untuk membangkitkan selera makan anak. Bila
seleranya meningkat, maka orangtua tak perlu memaksa anak untuk makan.
1. Biasakanlah untuk memberi makan anak secara teratur. Sehingga, setiap tiba jam
makan sudah terbentuk refleks makan pada anak yang dapat mengeluarkan air liur dan
getah lambung yang sangat berguna bagi proses pencernaan yang sempurna.
Keteraturan juga membuat perut anak lapar karena berselang 3-4 jam anak tidak
makan apa-apa.
2. Variasikan menu makanan dan aturlah suasana makan yang menyenangkan.
3. Jangan berikan camilan yang manis-manis, seperti permen atau coklat diantara
jam-jam makan. Makanan tersebut dapat menurunkan rangsangan pada pusat makan
di otak. Akibatnya, selera makan anak jadi menurun.
4. Jangan memarahi, membentak, apalagi sampai memukul anak gara-gara tidak mau
makan. Jelaskan konsekuensi yang akan terjadi bila tidak mau makan. Atau hanya
mau makan makanan tertentu saja.
5. Bila selera anak tidak bangkit juga, maka bawalah ke dokter untuk pemeriksaan
lebih lanjut. Pastikan tidak ada penyakit infeksi atau gangguan lainnya yang sedang
dialami anak.

Anda setuju dengan isi artikel ini? Bagaimana komentar Anda?



Forced to Eat, Children Can Trauma
Appetite in children is the same with adults. Sometimes down, sometimes ride. Be
careful, forcing children to spend their food when it is not tasteful. Can-can the child
become more traumatized and more difficult to eat.

Zyfa (4 years) is very difficult to eat. Every time she saw her mother bring bowls and
spoons, she was screaming. "No way, I do not want to eat", he shouted. Mother
confused face this situation. Moreover, Zyfa difficult to drink milk. Zyfa Agency is also
thin. Zyfa-just want to eat her favorite foods, namely egg and crackers.

Trauma due to forced
According Fitriani, Psi, MPsi, Director of Insan-Lantern Child Development Education
Center, "force feeding in infancy until the age of five years will result in not good for child
development. Children will experience a very high fear of coercion in the process of
eating. Especially when it comes stuffed spoon, fed, or scared of ghosts and so on. fear
it could lead to trauma ", said psychologist who like to analyze and read this sunatullah.

Children with trauma to the food and things related to the activities of eating it will be
more difficult to eat because she tends to avoid causing trauma to the face. Fuss, this
trauma can continue into adulthood. Even behavior can arouse disgust or dislike of
certain food types.

Association of disgust that makes
Another cause is that the child ate trauma associate it with other things that cause it do
not like certain foods. For example, a child vomited and felt unpleasant vomiting.
Children see the form of vomit just as mush. Or, while cough and cold, his nose like he
saw the form of avocado juice. Could be, two children had vomiting associated with
slurry or runny nose with avocado juice. Sensing the child about the software connects
with the bland food that made him the object of disgust. As a result, when offered
porridge or avocado juice direct child refused.

Besides shaped objects, trauma also can occur when when he was eating with rice and
scrambled eggs, for example, his father scolded him. The real cause of anger is not the
father because the child ate rice and scrambled eggs. However, children can
mengasosiakan rice and scrambled eggs as a cause of anger father. Akbatnya,
traumatized children eat rice and scrambled eggs for fear his father would scold him
again. Each time you eat eggs, children will be reminded of events that made him feel
uncomfortable.

"Babies up to age five years of" critical period
According Fitriani, "when children aged 2-5 years, is vulnerable period for children. In
those days a child is difficult-difficult to eat. That is, if the child is difficult to eat at that
age could still be considered reasonable. But, of course parents do not may remain
silent when children refused to eat. Because if tolerated child will be more skinny,
malnourished and even less excited to do the activity. If the situation continues, the
child may seem lazy to continue because it is not physically healthy. " explained mother
of three children explained.

To overcome such circumstances, then the parents need to persuade a number of ways
to create a pleasant dining atmosphere. Take time to prepare the menu and invite
children to look at pictures in recipe books. At certain moments, buatkanlah child's
favorite menus. However, not only to the wishes of the child only until the nutrients are
not balanced because it does not vary. At this critical period, which needs to be avoided
is to keep parents not to lose patience with a reprimand or physical action to the child.

If the various efforts have been made, but the children do not also want to eat.
Moreover, when below normal weight, then the child should be brought to a pediatrician,
a specialist in child nutrition or gastrointestinal specialist. Physicians need to inquire
whether the child would not eat because there are enzymes that have not worked or are
currently suffering from a particular infection. If after an inspection found no problems,
then the possibility of trauma to the child's meal can be concluded.

However, according to Fitriani, "the event trautamis because the food is actually very
rare in children. Another way to make children happy is to give busy eating a lot of spent
energy. For example, by entering the child into the club swimming or other sports clubs.
By invite children to exercise, children made hungry. Thus, the need to eat to be
increased. "


Eating happily
The best way to prevent trauma do not want to eat is with the knowledge, attitude and
behavior that is true about infant feeding. Parents need to learn proper feeding stages.
Not yet time for the child eat rice, rice has been given. Or, conversely that should
already be eating rice, still be mashed or blended food still. Eventually the child with a
trauma rice.

In addition to the type and form of food, feeding does not use in ways that are very
negative, aggressive, or torture. When mothers or caregivers often angry while feeding
the child, the child will identify with the meal unpleasant activity. As the principles in the
kindergarten play while learning what makes a pleasant atmosphere of learning, the fun
atmosphere also needs to be created in the dining atmosphere.

"However, keep in mind also that in teaching this behavior parents should not forget
adab-adab eat, like read a prayer, take the right hand seat. Do not get used to eating on
the streets because it is not in accordance with Islamic morals," said Fitriani, Master
This Child Development Psychology.

Creating a cozy atmosphere while eating does not mean to allocate hours to eat.
Parents still need to remind my child when he was breaking the rules. eg "sorry, can not
eat while running." or "sorry, but eating the right hand should wear my darling", and so
forth. Finally, do not forget to give the award after the children finished their food
spending. For example, "Mom happy because Zyfa smart eating. Insha Allah Zyfa body
will be healthy by eating healthy, and nutritious food."

So, between providing comfort and discipline must fit measuring, for food to be fun, but
still uphold the discipline to be done in accordance with good behavior.

Increasing Appetite Eat Children
Some of these tips are a way to awaken the child's appetite. If her taste increases, the
parents do not have to force children to eat.
1. Get used to feed the children on a regular basis. Thus, each arriving at feeding has
been formed reflex meals to children who can remove saliva and gastric juice are
extremely useful for the digestive process is perfect. Regularity also makes children
hungry stomach for 3-4 hours later the child does not eat anything.
2. Vary the food menu and arrange for a pleasant dining atmosphere.
3. Do not give snacks sweets, like candy or chocolate between the hours eating. These
foods can reduce the stimulation of the central dining in the brain. As a result, a child's
appetite decreases.
4. Do not scold, shout, let alone to beat the child because of not eating. Explain the
consequences that would occur if they do not want to eat. Or just want to eat certain
foods.
5. If the tastes of children did not rise as well, then take it to the doctor for further
examination. Make sure that no infectious diseases or other disorders that are
experienced by children.

You agree with the contents of this article? What is your comment?

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:291
posted:1/13/2011
language:Indonesian
pages:6