Contoh Surat Pengantar Pinjaman Dana Bank - DOC - DOC

W
Description

Contoh Surat Pengantar Pinjaman Dana Bank document sample

Document Sample
scope of work template
							SEEP Network




Standar Minimum untuk
Pemulihan Ekonomi setelah Krisis




Edisi Pertama
Februari 2009
2 - Standar Minimum untuk Pemulihan Ekonomi setelah Krisis
Daftar Isi
Struktur Keseluruhan Standar ......................................................................................................... 5
Pengantar......................................................................................................................................... 6
Standar yang Umum bagi Semua Kategori ................................................................................... 16
Standar Pengkajian dan Analisis ................................................................................................... 31
Standar Jasa Keuangan ................................................................................................................. 38
Standar Akses ke Aset .................................................................................................................. 49
Standar Penciptaan Pekerjaan ....................................................................................................... 59
Standar Pengembangan Usaha ...................................................................................................... 63
Apendiks 1 .................................................................................................................................... 72
Apendiks 2 .................................................................................................................................... 82
4 - Standar Minimum untuk Pemulihan Ekonomi setelah Krisis




Cara Membaca Standar
Standar minimum menyatakan taraf minimum bantuan teknis dan lainnya yang harus diberikan dalam
mempromosikan pemulihan ekonomi dan sumber nafkah yang terpengaruh oleh krisis. Setiap standar
disajikan sebagai berikut:
 Standar Minimum bersifat kualitatif dan merinci tingkat minimum yang harus dicapai.
 Indikator Kunci adalah tanda yang menunjukkan apakah standar tercapai. Indikator ini mengukur dan
  menyampaikan dampak (atau hasil) progam, serta proses dan metode yang digunakan.
 Catatan Pedoman mencakup beberapa butir khusus untuk dipertimbangkan ketika menerapkan
  berbagai standar dan indikator dalam situasi yang berbeda, pedoman menangani kesulitan praktis,
  dan saran tentang persoalan yang menjadi prioritas. Catatan itu dapat mencakup persoalan kritis
  menyangkut standar dan indikator, dan menjelaskan dilema, kontroversi, atau kesenjangan dalam
  pengetahuan kini.

Catatan untuk Pembaca
Standar Minimum disajikan dalam enam kategori. Dua kategori pertama, Standar yang Umum bagi
semua Intervensi Pemulihan Ekonomi dan Standar Pengkajian dan Analisis, amat penting untuk dibaca
sebelum beralih ke masing-masing bagian teknis yang terkait. Semua standar yang diuraikan dalam dua
bagian ini menghasilkan sistem menyeluruh yang di bawahnya semua standar minimum bekerja.
Struktur Keseluruhan Standar

                Pemulihan Ekonomi Setelah Krisis




   Standar Umum Bagi Semua           Pengkajian dan Analisis
            Sektor




    Jasa             Akses      Penciptaan      Pengembangan
  Keuangan          ke Aset     Pekerjaan           Usaha
Pengantar
Pengantar dan Fokus Standar Pemulihan Ekonomi Minimum
Sphere Project ini didasarkan pada dua keyakinan. Pertama, semua langkah yang mungkin harus diambil
untuk menghindari penderitaan manusia yang timbul dari bencana dan konflik. Kedua, semua individu
memiliki hak hidup yang bermartabat.1 Kesempatan memperoleh pendapatan lewat pemekerjaan atau
operasi bisnis adalah hal mendasar bagi martabat seseorang dan membantunya pulih dari krisis.
Keahlian dan kemampuan mempraktikkannya secara menguntungkan memberdayakan individu dan
komunitas yang terdampak bencana untuk meraih kembali daya hidup dengan memenuhi sendiri
kebutuhan sebagaimana yang dipandangnya paling cocok. Hak itu dinyatakan dalam banyak konvensi
dan dokumen internasional, meliputi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (1948), Deklarasi
Philadelphia oleh Organisasi Buruh Internasional ILO (1944); Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa (1945);
Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (1966), dan yang terbaru dalam
mukadimah Sasaran Pembangunan Milenium PBB (2005).

Semakin hari, para praktisi dan donor yang menanggapi bencana mengakui kebutuhan dukungan yang
cepat dan sistematis bagi sumber nafkah, usaha, dan ekonomi yang terpengaruh setelah krisis. Hal ini
dilakukan bersamaan dengan upaya darurat memenuhi kebutuhan mendasar manusia akan naungan,
pangan, dan layanan kesehatan. Pada masa lalu, bantuan pemulihan dipandang sebagai kegiatan
belakangan. Namun, bencana—seperti tsunami Samudra Hindia dan konflik berkepanjangan di Haiti—
menggambarkan bahwa perekonomian terus bekerja selama krisis, meskipun pada tingkat pertumbuhan
yang berkurang atau menyusut. Populasi yang terpengaruh membutuhkan sumber pendapatan, untuk
minimal bertahan hidup dan maksimal berkembang kembali.

Pendekatan “bertahap” merujuk kepada kegiatan pertolongan/darurat yang dilangsungkan selama masa
yang tertentu, sebelum kegiatan pembangunan dimulai. Namun, banyak krisis terjebak di tahap
pertolongan, dan program pembangungan ekonomi tidak diterapkan cukup cepat. Selain itu, riset
memperlihatkan bahwa di lingkungan konflik, pendekatan bertahap menghambat rekonstruksi ekonomi
dan bahkan dapat memperburuk risiko timbulnya ketegangan baru.2 Pendekatan bertahap juga bisa
mendorong kebergantungan yang lebih tinggi dari pihak penerima bantuan.

Pemrograman ekonomi dalam lingkungan seperti itu dapat mencakup penyaluran pertolongan dasar
lewat bisnis lokal, dengan pengadaan barang lokal dan bantuan berbasis uang tunai. Pemrograman
ekonomi itu juga dapat mencakup kegiatan yang mendukung pemulihan ekonomi yang lebih cepat atas
usaha yang terpengaruh dengan memungkinkan usaha itu membangun kembali kegiatan ekonomi yang
dapat bertahan dan/atau meningkatkan produktivitasnya.

Dewasa ini, tidak semua bantuan untuk mendukung pemulihan sumber nafkah dan usaha seefektif yang
seharusnya. Upaya bantuan sering mengabaikan dinamika pasar dan mendukung kegiatan ekonomi yang

1
 Sphere Project. Situs web: http://www.sphereproject.org/. “Sphere adalah tiga hal: buku pegangan (Humanitarian Charter and
Minimum Standards in Disaster Response), proses kolaborasi yang luas, dan ungkapan komitmen kepada mutu dan
pertanggungjawaban. Proyek ini telah mengembangkan beberapa alat, yang utama adalah buku pegangan.”

2
 Stephen Lewarne dan David Snelbecker, “Economic Governance in War-Torn Economies: Lessons Learned from the Marshall
Plan to the Reconstruction of Iraq—Long Report,” disiapkan untuk USAID Bureau for Policyand Program Coordination
(Washington, DC: USAID, 2004); Paul Collier, Anke Hoeffler, dan Mans Söderbom, Post-Conflict Risks (Oxford: University of
Oxford, Department of Economics, Center for the Study of African Economies, 2007).
                                                                                           Pengantar - 7


tidak mampu bertahan atau mendukung kegiatan yang menyingkirkan usaha lokal. Hal ini memunculkan
bantuan dengan dampak bersifat sementara atau bahkan membahayakan. Insentif bagi orang-orang
untuk berinvestasi dalam dan menjalankan bisnis yang mampu bertahan mengalami gangguan sehingga
laju pemulihan ekonomi secara keseluruhan menjadi lambat.

Kurangnya tanggapan yang efektif ini disebabkan oleh banyak faktor. Jika bertujuan menemukan
berbagai praktik yang berdampak lebih kuat dan lebih terukur, bidang pemulihan ekonomi itu harus
mengembangkan konsensus di antara komunitas praktisi dan donor tentang standar bagi praktik
pemulihan ekonomi. Hal ini membutuhkan penelitian atas unsur-unsur program yang kritis, seperti
pengkajian, rancangan program, pemantauan dan penilaian, koordinasi, dan praktik teknis terbaik.

Fokus program Standar Pemulihan Ekonomi Minimum (SPE Minimum) adalah strategi dan intervensi
yang dirancang untuk memajukan usaha, penciptaan pekerjaan, serta arus kas dan pengelolaan aset
di antara usaha dan sumber nafkah yang terpengaruh. Strategi dan intervensi ini mencakup empat
wilayah program teknis: jasa keuangan, intervensi aset, penciptaan pekerjaan, dan pengembangan
usaha. Fokus program itu menekankan kegiatan mempromosikan usaha dan sumber nafkah untuk
memulai kembali atau memperbaiki pasar.

Standar yang ditetapkan di sini tidak berupaya mencakup bidang yang relevan namun terpisah
pertolongan terpadu dengan pasar, yaitu praktik bekerja melalui pasar untuk memberikan layanan
pertolongan dan dasar. Pada tingkat tertentu, pertolongan terpadu dengan pasar dan pemulihan
ekonomi dapat bertumpang tindih dalam hal sarana dan kegiatan yang dilakukan. Namun, program
pertolongan terpadu dengan pasar tidak selalu mendorong pemulihan ekonomi yang berbasis luas.
Selain itu, intervensi atas sumber nafkah dan usaha memiliki populasi target yang berbeda. Intervensi
berfokus pada sektor ekonomi yang berdampak terbesar pada pendapatan dan penciptaan pekerjaan
dan menjangkau sebanyak mungkin usaha dan rumahtangga yang disasar.

Semua standar ini tidak membahas intervensi makroekonomi untuk mendorong pemulihan ekonomi,
seperti kebijakan fiskal dan moneter atau kebijakan dan lembaga perdagangan. Intervensi ini berada di
luar wewenang sebagian besar badan kemanusian internasional dan cenderung dilakukan oleh
pemerintah dan organisasi bilateral atau multilateral.

Pembaca Standar Pemulihan Ekonomi Minimum
Dalam lingkungan krisis, banyak praktisi yang terlibat langsung atau tak langsung dalam strategi untuk
mempromosikan pemulihan ekonomi. Oleh karena itu, segenap standar ini dikembangkan dengan
menimbang tiga kelompok berikut ini:

 Praktisi yang berpengalaman dalam keadaan darurat, tetapi kurang akrab dengan prakarsa
  pemulihan ekonomi
 Praktisi yang berpengalaman dalam pengembangan ekonomi, namun tidak terbiasa dengan
  lingkungan krisis
 Praktisi dan program yang bekerja dalam berbagai intervensi atau sektor di lingkungan krisis
  (misalnya, kesehatan, pendidikan, infrastruktur, atau HIV/AIDS).
8 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum



Latar Belakang dan Pengembangan Standar Pemulihan Ekonomi Minimum
Asal mula Standar Pemulihan Ekonomi Minimum berakar pada berbagai krisis masa lalu, misalnya
tsunami Samudra Hindia, dan makin seringnya bencana dan konflik berkepanjangan, semisal di Etiopia
dan Afghanistan. Krisis-krisis ini menekankan kebutuhan akan berbagai strategi yang mendukung 1)
stabilisasi dan/atau kemunculan kembali usaha sebagai sumber pendapatan dan pekerjaan untuk
populasi yang terpengaruh, dan 2) pengembangan dan penguatan lembaga untuk mendukung
mekanisme stabilisasi dan penanggulangan rumahtangga untuk melewati krisis.

Organisasi-organisasi anggota SEEP Network, seperti praktisi yang lebih terlibat dalam komunitas
bantuan kemanusiaan, mencatat kecenderungan yang sama. Seringkali terlalu sedikit dan terlalu lambat
dilakukan dalam tanggapan LSM (lembaga swadaya masyarakat) untuk mendukung kemunculan kembali
sektor swasta lokal. Para anggota SEEP merasa frustasi atas berbagai peluang yang terlewatkan dan
prihatin bahwa tanggapan yang diterapkan dengan buruk berisiko meningkatkan kebergantungan di
antara populasi yang terpengaruh. Mereka juga merasa prihatin bahwa populasi yang terpengaruh
memilih kegiatan ekonomi dan investasi berdasarkan jumlah bantuan kemanusiaan yang tersedia alih-
alih tingkat imbal.

Menanggapi semua keprihatinan ini, selama enam tahun terakhir SEEP Network mewadahi upaya
anggota untuk menggali berbagai tantangan dan praktik pemulihan ekonomi yang muncul di lingkungan
krisis. Para anggota berkali-kali mengenali kebutuhan akan intervensi yang lebih konsisten dan lebih
mantap secara teknis dan akan pengembangan basis pengetahuan di lapangan.

SEEP meminta dan menerima pendanaan dari USAID lewat mekanisme FIELD-Support LWA (Leader with
Associates) untuk mengumpulkan gugus tugas praktisi untuk mengembangkan naskah pertama standar
pemulihan ekonomi. Di bulan September 2007, SEEP menyelenggarakan lokakarya di Washington DC
untuk meluncurkan proses Standar Minimum. Suatu konsorsium luas yang terdiri atas 38 praktisi dari 30
badan kemanusiaan internasional membahas persoalan pokok di bidang itu dan bersama-sama
menetapkan fokus teknis dan struktur Standar3. Di bulan-bulan berikutnya, enam kelompok kerja (pokja)
yang dikepalai oleh praktisi berkolaborasi untuk mengembangkan standar, indikator kunci, dan catatan
pedoman yang dapat ditemukan di dokumen ini. Setiap pokja terdiri atas campuran praktisi, yang
mewakili kedalaman pengalaman di lingkungan pertolongan dan pengembangan dan aneka wilayah
teknis yang dicakup oleh standar.

Hasil proses ini adalah draf konsultasi yang ditampilkan pada situs SEEP Network untuk mendapatkan
tinjauan dan umpan balik dari pemangku kepentingan pada bulan Juli 2008. Naskah hasil revisi disajikan
di bulan November 2008 untuk menerima umpan balik tahap kedua, dan hasilnya adalah edisi pertama
ini. Ada berbagai rencana untuk uji lapangan dan mendapatkan konsultasi lebih lanjut tentang Standar
pada tahun 2009 dan 2010, serta revisi pada akhir 2010.

SEEP Network, didirikan pada tahun 1985 dan berkantor pusat di Washington DC adalah himpunan 70
LSM internasional yang mendukung program pengembangan usaha mikro dan kecil di seluruh dunia.
Misi SEEP adalah menghubungkan praktisi usaha mikro dalam komunitas pembelajaran global. Dengan
demikian, SEEP menyatukan praktisi untuk menghasilkan solusi yang praktis dan inovatif bagi berbagai


3
    Lihat Lampiran 2 untuk mengetahui daftar badan peserta dan stafnya.
                                                                                          Pengantar - 9


tantangan pokok dalam industri tersebut. SEEP kemudian menyebarkan solusi itu lewat acara
pembelajaran, penerbitan, dan bantuan teknis.4

Kerangka dan Perangkaian dalam Merancang Strategi untuk Pemulihan
Ekonomi
Standar Pemulihan Ekonomi Minimum dibuat berdasarkan pemahaman bahwa deretan strategi dan
intervensi yang membahas kebutuhan yang berbeda dan jadwal yang berbeda dibutuhkan di lingkungan
krisis. Namun, dalam praktik, para donor dan praktisi sering tidak mengetahui bagaimana strategi segera
jangka pendek berdampak pada pemulihan jangka panjang. Hal ini disebabkan berbagai tekanan dan
evolusi cepat dalam lingkungan itu, siklus pendanaan, dan informasi terbatas yang tersedia.

Dalam lingkungan krisis, tujuan-tujuan jangka pendek pasti berfokus pada menstabilkan rumahtangga
dan menyediakan kebutuhan dasar. Namun, filosofi Standar Minimum menyatakan bahwa
pemrograman segera setelah krisis dapat, dan nyatanya harus, mendukung pemulihan jangka panjang
pada pasar dan lembaga. Hal ini membutuhkan komitmen menyeluruh untuk menimbang dan, jika
tepat, memperkuat lembaga dan pasar lokal pada tahap awal proses pemulihan, untuk meletakkan
landasan bagi kegiatan kemudian. Para praktisi dan donor harus juga menyadari atas siklus pertalian dan
kebutuhan sosial dan ekonomi. Hal ini akan membantu memahami ”efek riak” intervensi dan
mengelolanya dengan berkoordinasi dengan program-program lain dan lembaga lain.

Pada masa lalu, praktisi dan donor telah berupaya mengenali rangkaian yang benar untuk intervensi
pemulihan dan pembangunan di lingkungan krisis. Sayangnya, langkah-langkah pemulihan ekonomi
tidak dapat disederhanakan menjadi satu rangkaian, atau bahkan satu daftar intervensi, karena luasnya
deretan lingkungan yang terpengaruh krisis. Sebaliknya, ketika menyeleksi strategi yang tepat, Standar-
standar itu menekankan pertimbangan atas sejumlah faktor, seperti ekonomi (misalnya tanah, modal
manusia), keadaan lembaga yang ada, jenis krisis dan akar sebab akibatnya.

Sekarang ini tidak ada konsensus tentang kerangka pasti untuk program-program pemulihan ekonomi di
lingkungan krisis. Oleh karena itu, Standar Minimum ini tidak didasarkan pada kerangka tunggal apapun
untuk pemrograman ekonomi atau sumber nafkah. Mungkin akan selalu ada berbagai kerangka yang
digunakan dalam program-program ini, karena program-program pembangunan ekonomi menampilkan
deretan luas metodologi penilaian, tujuan, populasi target, dan sarana yang tersedia. Untuk membahas
persoalan ini, Standar Umum menawarkan rekomendasi untuk membuat struktur strategi program,
operasi, dan pembuatan keputusan.

Gambar 1 di bawah menampilkan sekumpulan penentu dan dampak aneka jenis krisis pada berbagai
tingkat ekonomi. Kerangka ini dapat menjadi alat analisis untuk mengenali strategi dan intervensi yang
tepat, bergantung pada dampak krisis serta ekonomi dan lingkungan tempat krisis terjadi.




4
    Untuk informasi lebih lanjut tentang SEEP, kunjungi www.seepnetwork.org.
10 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


Gambar 1 Dampak Krisis pada Tingkat Rumahtangga, Pasar, dan Makro

                                                                                                           Tingkat
                                                                              Rumahtangga                  Pasar                Makro
                                                                                                                                                     Negara/
                                                                            Hilangnya aset         Jaringan                                        kawasan yang
                                                                                                      pemasaran yang




                                                                                                                                                                     Tingkat Pengembangan (menentukan kemampuan penanggulangan dan kecepatan pemulihan)
                                                                            Hilangnya                                                               paling kurang
                                                               Bencana                                lemah karena                                   maju
                                                               bergulir      kecakapan akibat         migrasi               Penurunan
                                                                             migrasi                                           lokal untuk           Negara/
                                                               lambat                               Kerusakan atau            menegakkan
                                                                            Kemerosotan              hilangnya sumber
                                                                                                                                                     kawasan yang
                                                                             produktivitas                                     hukum dan             cukup maju
                                                                                                      daya alam                memberikan
  Jenis Krisis (Menentukan jenis dampak pada setiap tingkat)




                                                                                                                               layanan
                                                               Bencana      Hilangnya aset                                    dasar
                                                                                                    Infrastruktur rusak
                                                               bergulir     Pasar terganggu
                                                               cepat                                  atau hancur
                                                                            Trauma
                                                                            Hilangnya aset
                                                                            Hilangnya
                                                                             kecakapan akibat                               Penurunan               Negara/
                                                                             migrasi pendidikan     Infrastruktur rusak       kapasitas             kawasan yang
                                                                             yang tidak efektif       atau hancur              nasional              amat maju
                                                                            Ketidakstabilan atau  Jaringan yang sah
                                                                                                                               untuk
                                                               Konflik                                terganggu;               menegakkan
                                                                             hilangnya jaringan
                                                                                                      jaringan yang liar       hukum dan
                                                                            Naiknya biaya            menguat                  memberikan
                                                                             operasi yang                                      layanan
                                                                             membatasi cakupan                                 dasar

                                                                                                                                             
                                                                             pasar
                                                                            Trauma
                                                                                                             
                                                                           Terbatas                       Moderat                            Ekstrem
                                                                    Kawasan terbatas yang          Kawasan terbatas yang           Wilayah luas yang terpengaruh
                                                                 terpengaruh dengan dampak           terpengaruh dengan           dengan kehancuran tingkat tinggi
                                                                        tingkat rendah            kehancuran tingkat tinggi,
                                                                                                   atau kawasan luas yang
                                                                                                     terpengaruh dengan
                                                                                                   dampak tingkat rendah


                                                                            Tingkat Keparahan (Menentukan kedalaman dampak di setiap tingkat)
Diadaptasi dari Tim Nourse, Tracy Gerstle, Alex Snelgrove, David Rinck, dan Mary McVay, “Market Development in Crisis
Environments: Emerging Lessons for Achieving Pro-Poor Economic Reconstruction” (Washington DC: The SEEP Network,
2007).



Cara Menggunakan Standar Minimum
Standar Minimum meliputi siklus program dari pengkajian awal atas pasar, usaha, dan rumahtangga
yang terpengaruh; lewat pengembangan dan penerapan program; hingga pemantauan dampak dan
pengelolaan pengetahuan. Standar itu menawarkan seperangkat standar minimum, indikator kunci, dan
catatan pedoman yang menyampaikan tindakan kemanusiaan dan upaya pemulihan ekonomi di
lingkungan yang terpengaruh oleh krisis.
                                                                                        Pengantar - 11


Seperti Buku Pegangan Sphere yang menjadi landasannya, dokumen ini tidak dimaksudkan menjadi
buku manual ”cara melakukan” dan oleh karena itu tidak menghasilkan strategi dan sumber daya yang
rinci untuk mengkaji, merancang, dan menerapkan program pemulihan ekonomi di lapangan.
Sebaliknya, bagi pembaca yang menginginkan manual yang lebih mengenai ”cara melakukan”, ada
sejumlah manual dan perkakas yang berasal dari beberapa organisasi internasional yang menghasilkan
pedoman praktis di bidang pemulihan ekonomi di berbagai lingkungan krisis untuk beragam jenis
intervensi. Pada akhir standar untuk setiap bagian teknis, tercantum daftar sumber daya yang
memberikan informasi lebih banyak di bidang tersebut.

Cara Membaca Standar Minimum

Standar Minimum menekankan tingkat minimum bantuan teknis dan lainnya yang harus diberikan untuk
mendukung pemulihan ekonomi dan sumber nafkah yang terpengaruh oleh krisis. Setiap standar
disjikan sebagai berikut:

● Standar Minimum bersifat kualitatif dan merinci tingkat minimum yang harus dicapai.

● Indikator Kunci adalah tanda yang menunjukkan apakah Standar Minimum tercapai. Indikator ini
  mengukur dan dan menyampaikan dampak (atau hasil) progam, serta proses dan metode yang
  digunakan.

● Catatan Pedoman mencakup beberapa butir khusus untuk dipertimbangkan ketika menerapkan
  berbagai standar dan indikator dalam situasi yang berbeda, pedoman menangani kesulitan praktis,
  dan saran tentang persoalan yang menjadi prioritas. Catatan itu dapat mencakup persoalan kritis
  menyangkut standar dan indikator, dan menjelaskan dilema, kontroversi, atau kesenjangan dalam
  pengetahuan kini.

Standar Minimum disajikan dalam enam kategori. Dua kategori pertama —Standar yang Umum bagi
semua Intervensi Pemulihan Ekonomi dan Standar Pengkajian dan Analisis— amat penting untuk
dibaca sebelum beralih ke masing-masing bagian teknis yang terkait. Semua standar yang diuraikan
dalam dua bagian ini menghasilkan sistem menyeluruh yang di bawahnya semua standar minimum
bekerja.

Program pemulihan ekonomi yang efektif harus didasarkan pada pemahaman yang jelas atas
konteksnya. Selain itu, dalam lingkungan yang mudah berubah, program bermutu membutuhkan
mekanisme dan sumber daya untuk memantau perubahan kondisi dan menyesuaikan strategi dan
kegiatannya. Keluwesan untuk menghasilkan analisis dan penerapan program bermutu tinggi
memerlukan staf yang cakap secara teknis serta kemauan dan kemampuan bermitra dengan berbagai
organisasi dan pelaku pasar, baik lokal maupun internasional. Budaya dan sistem pembelajaran dan
pembagian pengetahuan, di dalam dan di antara semua organisasi yang terlibat dalam tanggapan, juga
amat penting. Kedua kumpulan standar itu menyediakan indikator dan pedoman tentang apa yang
dibutuhkan untuk menjamin tingkat tanggapan ini. Empat kumpulan standar lainnya kemudian
membahas wilayah teknis khusus yang sering digunakan oleh praktisi pemulihan ekonomi untuk
mempromosikan pengelolaan sumber daya pendapatan, pemekerjaan, dan rumahtangga di kalangan
populasi yang terpengaruh oleh bencana.

Enam Kategori Standar Minimum
12 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


● Standar yang Umum bagi semua Intervensi Pemulihan Ekonomi. Bagian ini berfokus pada
  karakteristik penting program untuk memastikan penerapan efektif dan dampak terukur pada semua
  jenis intervensi pemulihan ekonomi. Bagian ini membahas persoalan yang amat pokok seperti
  keamanan staf dan pembangunan kapasitas, koordinasi strategi dan intervensi dengan badan
  penanggap lainnya dan pemerintah; memastikan orientasi berbasis pasar pada pemrograman ; serta
  dokumentasi, pemanfaatan, dan penyebaran pembelajaran programatis untuk meningkatkan hasil.
● Standar untuk Pengkajian dan Analisis dalam Lingkungan Krisis. Bagian ini berfokus pada
  penggunaan penilaian dan analisis untuk membingkai strategi programatis dengan menggunakan
  informasi yang tepat untuk menyampaikan intervensi agar tepat waktu dan relevan, di samping tetap
  tanggap ketika kebutuhan berubah mengikuti perkembangan lingkungan krisis.
● Standar untuk Akses ke Aset. Bagian ini berfokus pada intervensi yang digunakan untuk melindungi,
  menggantikan, dan meningkatkan aset yang hilang bagi rumahtangga dan usaha selama krisis, lewat
  sarana yang melengkapi strategi pemulihan ekonomi yang digunakan dalam jangka menengah dan
  panjang.
● Standar untuk Jasa Keuangan. Bagian ini berfokus pada intervensi yang digunakan untuk
  membangun landasan bagi pemulaian dan/atau perluasan jasa keuangan bagi usaha dan
  rumahtangga, melalui koordinasi dengan intervensi pelengkap yang mencakup pengumpulan aset.
● Standar untuk Penciptaan Pekerjaan. Bagian ini berfokus pada intervensi yang menunjang peluang
  pemekerjaan dengan pengupahan wajar yang tidak mengacaukan sumberdaya yang menjadi basis
  sumber nafkah.
● Standar untuk Pengembangan Usaha. Bagian ini berfokus pada cara memperkuat usaha yang ada
  dan baru.


Kerangka Waktu
Kerangka waktu yang digunakan Standar Minimum bergantung terutama kepada konteks. Standar
Minimum dapat diterapkan di berbagai lingkungan krisis, dari tanggapan dini terhadap keadaan darurat
hingga rekonstruksi awal dan pembangungan jangka panjang. Yang penting, semua standar ini dirancang
untuk mempromosikan strategi dan intervensi yang memikirkan jangka panjang—yakni, menyadari
pentingnya pasar efektif yang akan bertahan tahunan, jauh setelah tahap pemulihan hingga tahap non-
darurat.

Indikator dalam buku pedoman ini tidak dapat diterapkan secara universal ke semua situasi atau semua
pengguna potensial. Bergantung kepada konteksnya, mungkin diperlukan waktu berminggu-minggu,
berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun untuk mencapai sebagian dari standar dan indikator yang
ditandai di sini. Jika relevan, catatan pedoman menganjurkan jadwal ideal untuk penerapan indikator.
Dalam beberapa kejadian, Standar Minimum dan Indikator Kunci dapat dicapai tanpa bantuan dari luar.
Namun, di banyak kejadian lainnya, badan bantuan mungkin perlu berkoordinasi dengan satu sama lain
dan pihak lain untuk mencapainya. Untuk semua konteks, strategi program dan intervensi tidak boleh
merusak, tetapi harus mendukung dan/atau melengkapi layanan, pasar, dan lembaga lokal yang ada
guna mempromosikan peralihan ke ketahanan jangka panjang.

Perbedaan antara Standar Minimum dan Indikator Kunci
                                                                                           Pengantar - 13


Standar Minimum didasarkan pada prinsip bahwa populasi yang terpengaruh bencana memiliki hak
hidup yang bermartabat. Hal ini mencakup peluang memperoleh pendapatan lewat pemekerjaan atau
operasi bisnis. Standar itu mengungkapkan tingkat minimum bantuan teknis dan lainnya yang harus
diberikan dalam mempromosikan pemulihan ekonomi dan sumber nafkah yang terpengaruh oleh krisis.
Standar Minimum bersifat kualitatif dan dimaksudkan agar bersifat universal dan dapat diterapkan di
sebarang lingkungan operasional.

Indikator kunci bagi setiap standar adalah tanda yang memperlihatkan apakah standar itu tercapai.
Indikator berfungsi sebagai alat mengukur dan menyampaikan dampak (atau hasil) program, serta
proses (atau metode) yang digunakan. Tanpa indikator kunci, Standar Minimum tidak lebih daripada
pernyataan niat baik—sulit dipraktikkan.

Catatan pedoman di setiap bagian berkaitan dengan butir-butir tertentu yang patut dipertimbangkan
ketika menerapkan standar untuk aneka situasi. Catatan ini memberikan saran tentang persoalan
prioritas dan cara menangani kesulitan di lapangan. Catatan pedoman ini juga dapat menjelaskan
dilema, kontroversi, atau kesenjangan dalam pengetahuan kini. Catatan pedoman berkaitan dengan
indikator kunci dan kaitan itu diisyaratkan dalam teks. Indikator kunci harus selalu dibaca bersama
dengan catatan pedoman yang terkait.

Persoalan Lintas Kepentingan, Mencakup Bekerja dengan Kelompok Rentan
Dalam pembuatan Standar Pemulihan Ekonomi Minimum, perhatian telah diberikan untuk membahas
beberapa persoalan penting di dalam standar yang relevan alih-alih menanganinya dalam bagian
tersendiri. Persoalan itu mencakup bekerja dengan kelompok rentan, gender, dan lingkungan. Standar
Minimum tidak dapat membahas semua persoalan lintas kepentingan ini secara menyeluruh, tetapi
mengakui pentingnya persoalan.

Istilah “kelompok rentan” merujuk ke kelompok individu yang paling berisiko dalam berbagai bencana:
kaum perempuan, anak-anak, orang tua, orang cacat, dan orang dengan HIV/AIDS. Dalam konteks
tertentu, orang dapat juga menjadi rentan karena alasan asal etnik, afiliasi agama atau politik, atau
ketersingkiran. Ini bukan daftar lengkap, tetapi mencakup mereka yang paling sering dikenali.
Kerentanan khusus mencakup kemampuan menghadapi dan tetap selamat dalam konflik atau bencana,
dan risiko dieksploitasi selama pemulihan. Sesuai dengan strategi dan intervensi yang sedang dilakukan,
mereka yang paling berisiko harus ditandai.

Cakupan dan Batasan
Tidak pelak lagi, ada ketegangan antara rumusan standar universal dan kemampuan mempraktikkannya.
Setiap konteks itu unik. Dalam beberapa contoh, kondisi setempat dapat menyebabkan pencapaian
semua standar dan indikator tidak berhasil. Jika hal ini terjadi, kesenjangan antara standar dan indikator
yang dikemukakan di sini dan hasil sebenarnya harus dijelaskan, demikian juga alasan bagi perbedaan
itu dan apa yang harus diubah.

Standar Minimum untuk enam wilayah teknis tidak berdiri sendiri; keenamnya saling bergantung.
Standar yang dijelaskan dalam satu bagian sering perlu dibahas bersama dengan yang djelaskan di
bagian lain. Jika layak, catatan pedoman merujuk silang ke standar, indikator, dan catatan pedoman lain
yang relevan.
14 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


Standar Minimum Pemulihan Ekonomi dan “Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum dalam
Tanggapan Bencana” dari Sphere tidak menyelesaikan semua masalah dalam menanggapi lingkungan
krisis. Namun, keduanya sungguh-sungguh memberikan alat bagi badan kemanusiaan, pemerintah, dan
masyarakat setempat untuk meningkatkan keefektifan dan mutu bantuan ekonomi, sehingga
menghasilkan perbedaan nyata dalam kehidupan mereka yang terpengaruh oleh krisis.

Sejarah Sphere Project dan Penggunaannya
“Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum dalam Tanggapan Bencana” (selanjutnya disebut dengan
Buku Pegangan Sphere) dari Sphere Project yang diluncurkan pada tahun 1997 oleh sekelompok LSM
kemanusiaan dan gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, menyatakan bahwa masyarakat yang
terpengaruh oleh bencana memiliki hak mengharapkan bantuan kemanusiaan. Buku Pegangan Sphere
ini mencakup Piagam Kemanusiaan dan standar minimum untuk sektor inti air dan kebersihan,
keamanan pangan, gizi, dan bantuan pangan, pengelolaan naungan dan lokasi, dan layanan kesehatan.
Dewasa ini, Buku Pegangan Sphere terutama dilihat sebagai standar bagi bantuan kemanusiaan dalam
semua sektor itu dan banyak badan kemanusiaan, donor, dan pemerintah memakainya sebagai
pedoman bagi intervensi dan tanggapan.

Buku Pegangan ini adalah dokumen hidup, dikelola oleh Sphere Project dan Dewan Sphere, yang terdiri
atas 16 badan kemanusiaan internasional. Buku Pegangan dikembangkan dengan masukan dari ribuan
orang dari lebih dari 400 organisasi yang mewakili 80 negara. Adopsi dan penggunaannya dilantamkan
secara teratur lewat acara kawasan berbasis global, bersama dengan sumber-sumber lain untuk
meningkatkan pemahaman atas standar.

Sebagai pelengkap bagi standar inti yang disajikan dalam Buku Pegangan Sphere, ada upaya yang
sedang berjalan untuk mengembangkan modul pendamping di wilayah lain yang amat penting bagi
upaya pertolongan dan pemulihan di lingkungan krisis, seperti pendidikan dan pengelolaan ternak.
Standar Pemulihan Ekonomi Minimum yang disajikan di sini dikembangkan lewat koordinasi dengan
Sphere Project, dengan tujuan jangka panjang diterima sebagai modul pendamping. Harapannya adalah
bahwa dengan mengoordinasikan pengembangan dan format standar ini dengan Sphere Project,
standar itu akan dapat diakses dengan mudah oleh komunitas pekerja dan badan kemanusiaan seluas
mungkin.
                                  Standar yang Umum bagi
                                      Semua Kategori



        Standar Umum 1                                    Standar Umum 2
Tanggapan terhadap Kegagalan Pasar                    Pemrograman Berbasis Pasar




        Standar Umum 3                                      Standar Umum 4
Mendukung Pemulihan Jangka Panjang                Rancangan dan Implementasi Program
                                                      yang Inklusif dan Transparan



           Standar Umum 5                                 Standar Umum 6
  Menggunakan Mekanisme Langsung dan Tak             Mengoordinasikan Upaya demi
   Langsung untuk Mewujudkan Dampak di
             Masyarakat Target                         Dampak yang Lebih Besar



       Standar Umum 7                                     Standar Umum 8
 Membangun Tim yang Cakap Secara                    Mengumpulkan dan Menerapkan
             Teknis                                           Pelajaran


                       Lampiran 1: Bacaan Lebih Lanjut
Standar yang Umum bagi Semua Kategori
Standar Umum 1: Tanggapan terhadap Kegagalan Pasar
          Pemulihan ekonomi adalah tanggapan terhadap bukti bahwa kegagalan pasar merusak
          secara nyata usaha yang menjadi sumber nafkah rumahtangga yang terpengaruh.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
      Program memiliki bukti kegagalan pasar, yaitu kemampuan masyarakat yang terpengaruh untuk
       terlibat dalam sumber nafkah yang berkelanjutan telah terganggu (lihat catatan pedoman 1)
      Ada penggunaan luas strategi penanggulangan oleh rumahtangga (lihat catatan pedoman 2)
      Kelompok rentan berada dalam risiko ekonomi yang lebih besar daripada biasanya lewat
       penggunaan praktik penanggulangan yang berbahaya (lihat catatan pedoman 3).

Catatan Pedoman
1.     Mengkaji kegagalan pasar: Ketika menilai wilayah yang terpengaruh, tim harus menyelidiki
       keumuman indikator berdasarkan lokasi geografis dan persentase populasi yang terpengaruh untuk
       menentukan apakah terjadi kegagalan pasar. Indikator kegagalan dapat mencakup terganggunya
       kegiatan bisnis; merosotnya produktivitas usaha atau bertambahnya kegagalan bisnis; kenaikan
       harga yang cepat untuk, atau kurangnya, komoditas dasar;dan menurunnya ketersediaan uang
       tunai. Gangguan bisnis didefinisikan sebagai kondisi yang menyebabkan bisnis tutup atau
       membatasi kegiatan. Kondisi itu dapat mencakup konflik terbuka atau ancaman kekerasan;
       ketakmampuan mengakses barang dan layanan pokok yang dibutuhkan untuk beroperasi
       (mencakup informasi), dan bertambahnya ketakimbangan daya dalam pasar yang terkait dengan
       krisis, seperti pengaruh terlalu kuat kelompok tertentu atau kerusakan infrastruktur perniagaan.
       Kelangkaan komoditas dasar, atau lonjakan harganya, dapat menunjukan bahwa terjadi kelangkaan
       pasokan yang berkaitan dengan sifat kedaruratan. Hal ini dapat memaksa pedagang dan pemilik
       bisnis untuk menaikkan harga demi mencapai margin laba, atau menutup bisnis. Berkurangnya uang
       tunai secara keseluruhan di pasar juga dapat mengisyaratkan bahwa daya beli populasi berkurang,
       dengan kemungkinan bahwa banyak orang berutang untuk membeli barang pokok dengan
       kemampuan terbatas atau tidak ada untuk membayarnya.5
2.     Strategi penanganan: Strategi ini merujuk ke cara rumahtangga mencoba memenuhi kebutuhan
       ketika sumber pendapatan terganggu. Strategi penanganan umum mencakup mengurangi asupan
       pangan harian, mengonsumsi pangan yang lebih murah, mengurangi belanja rumahtangga pada hal-
       hal seperti sandang, perawatan kesehatan, dan pendidikan, serta mengurangi jumlah orang yang
       ditanggung rumahtangga (misalnya, lewat migrasi atau menitipkan anggota keluarga kepada
       kerabat). Praktik-praktik ini berdampak berbeda pada setiap segmen populasi (lihat catatan
       pedoman 3) sehingga harus dipantau menurut gender, umur, etnis, dan lokasi geografi, jika
       mungkin.
       Di lingkungan krisis, gangguan ini adalah peristiwa yang tak diharapkan atau tak dapat diramalkan
       yang berpengaruh buruk pada perekonomian—suatu kejut ekonomi. Dampak kejut itu akan
5
    Untuk informasi lebih lanjut, lihat Standar Pengkajian dan Analisis.
                                                                   Standar yang Umum bagi Semua Kategori - 17


     berbeda-beda di antara rumahtangga, bergantung kepada kemampuan masing-masing untuk
     mendapatkan pendapatan dengan cara biasa. Misalnya, gangguan dalam angkutan umum karena
     pertikaian politik dapat memengaruhi buru lepas dan pedagang/pemilik usaha informal, sementara
     bencana alam dapat berpengaruh lebih cepat pada petani penggarap atau peternak.
3.   Kelompok rentan: Kelompok rentan amat mudah terdampak oleh kejut ekonomi karena memiliki
     strategi penanganan yang lebih sedikit di waktu krisis.6 Risiko dalam strategi penanganan yang
     berbahaya, seperti menjual aset produktif (ternak, peralatan, logam mulia); perdagangan manusia;
     pelacuran; bentuk buruk pekerja anak; dan migrasi untuk mencari pekerjaan, adalah jauh lebih
     tinggi di kalangan kelompok ini. Perawatan dan bantuan khusus harus disediakan untuk mencoba
     mengurangi insentif bagi kelompok rentan untuk berpaling ke praktik-praktik penanganan yang
     berbahaya itu.


Standar Umum 2: Pemrograman Berbasis Pasar
       Keputusan rancangan dan implementasi program mencerminkan realitas pasar. Ada
       pemahaman menyeluruh atas pasokan dan permintaan atas barang dan jasa, dan cara
       organisasi pasar menentukan kekuatan dan tata kelola di antara para pelakunya. Program
       bersifat luwes, sehingga memungkinkan pengelolanya merevisi asumsi dan operasi
       programatis berdasarkan perubahan kondisi pasar.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Program berinvestasi hanya dalam kegiatan yang menargetkan pasar mampu bertahan (lihat catatan
     pedoman 1)
    Selama tahap rancangan dan implementasi, program menimbang kegiatan di semua tingkat masing-
     masing pasar (lihat catatan pedoman 2)
    Perubahan pasar dipantau secara rutin, sehingga program dapat menyesuaikan diri untuk
     memenuhi kondisi pasar dengan cara terbaik (lihat catatan pedoman 3)
    Intervensi berfokus pada pelaku yang berorientasi komersial (lihat catatan pedoman 4)
    Program mendukung hubungan di dalam pasar dengan fokus khusus pada membangun kepercayaan
     di antara para pelaku (lihat catatan pedoman 5)

Catatan Pedoman
1.   Mengenali peluang pasar: Memahami pasar yang di dalamnya berbagai usaha dan rumahtangga
     bekerja adalah amat penting untuk memilih kegiatan program yang tepat. Program pemulihan
     ekonomi harus menargetkan usaha dan rumahtangga dalam pasar yang tumbuh, stabil, atau dengan
     kebutuhan yang belum dipenuhi, memberikan peluang bagi kenaikan pendapatan. Pasar yang
     menyusut tidak akan menghasilkan insentif (isyarat) untuk mendorong petani dan pemilik bisnis
     guna berinvestasi, mengadopsi teknologi baru, atau meraih laba dari kegiatan program, sehingga
     harus tidak dijadikan target


6
 Lihat Persoalan Lintas Kepentingan, Mencakup Bekerja dengan Kelompok Rentan, di bagian pengantar, untuk mengetahui
definisi kerentanan menurut Sphere.
18 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


     Contoh: Investasi untuk menghidupkan industri tekstil lokal mungkin sia-sia, jika industri itu tidak
     dapat bersaing dengan produk impor dalam segi biaya atau mutu di pasar lokal dan regional
2.   Bekerja di berbagai sistem pasar: Pelaku ekonomi dalam sistem pasar saling bergantung. Oleh
     karena itu, upaya pemulihan ekonomi harus memperhatikan pendekatan menyeluruh dan
     melakukan serangkaian intervensi di berbagai pasar—dari pemasok masukan, produsen, pasar akhir,
     hingga pembuat kebijakan eksternal. Program yang bekerja hanya pada satu tingkat dan tidak
     mengenali kesalingkaitan berisiko menciptakan gangguan pasar akibat pertumbuhan yang tak
     imbang. Kegagalan pasar mungkin memerlukan rentang solusi yang luas, mulai dari berbagai jasa
     keuangan, peningkatan teknologi, hingga pembentukan jaringan dan layanan lain. Jika tidak memiliki
     kapasitas untuk menerapkan kegiatan serentak, sebaiknya program menimbang-nimbang
     kemitraan. (Lihat Standar Umum 6)
     Contoh: Investasi besar dalam produksi pertanian dapat menyebabkan kemerosotan harga hasil
     pertanian (karena naiknya pasokan) atau terhalang oleh kurangnya kapasitas fasilitas pengolahan
     atau penyimpanan. Di sisi lain, suatu program dapat mendukung perusahaan dalam menemukan
     pasar baru bagi produknya, serta mendukung pemasok bahan mentahnya untuk memenuhi
     kebutuhan pasar yang baru, sehingga membantu menghindari gangguan pasar.
3.   Menanggapi kebutuhan pasar: Pasar bersifat dinamis, khususnya di lingkungan krisis, sehingga
     membutuhkan pemantauan sinambung atas sistem pasar, serta usaha atau rumahtangga yang
     ditargetkan, untuk mengenali peluang atau kendala yang muncul. Pemantauan berkala akan
     menentukan cara terbaik menyesuaikan investasi demi menghasilkan dampak terbesar.
     Mengembangkan strategi pemantauan dan penilaian (monitoring and evaluation, monev) (lihat
     Standar Umum 3 dan 5) untuk mencapai tujuan ini harus diselesaikan pada tahap rancangan
     implementasi program. Strategi efektif dapat berkisar dari pemantauan sederhana harga lokal dan
     pertemuan dengan pengusaha grosir regioal sampai pelacakan harga dan kecenderungan komoditas
     yang lebih rumit. (Lihat Standar Pengkajian dan Analisis 1 dan catatan pedoman 2)
     Contoh: Koperasi pertanian mungkin tidak mampu memanfaatkan harga yang lebih tinggi untuk
     hasil panen tertentu di daerah perkotaan, jika tidak menyadari perubahan harga atau jenis panen
     atau pengolahan yang dibutuhkan. Demikian juga, pemantauan yang cermat dapat memperlihatkan
     bahwa investasi pada varietas baru dan produksi bibit dapat berdampak yang lebih besar daripada
     investasi lanjutan pada pupuk atau pengendalian hama.
4.   Pelaku yang beriorientasi komersial: Bantuan pemulihan ekonomi harus diarahkan ke pelaku yang
     berorientasi komersial (baik dari kelompok rentan maupun bukan) yang mampu menghasilkan
     dampak terbesar dalam menghidupkan kembali sektor pasar strategis dalam perekonomian.
     Misalnya, investasi dalam jaringan pemasok masukan pertanian kecil dapat menyumbang lebih
     banyak bagi pemulihan ekonomi, lewat penciptaan pekerjaan dan peningkatan akses ke bibit dan
     masukan lain bagi petani kecil yang lebih banyak—daripada menargetkan bantuan bagi badan usaha
     besar milik negara pesaing mereka.
5.   Membangun kepercayaan dan hubungan: Pasar dalam kawasan yang terpengaruh konflik sering
     dicirikan oleh tingkat ketidakpercayaan yang tinggi di antara pelakunya karena pasar yang tidak
     diregulasi, ketegangan yang berlarut-larut di antara kelompok yang bertikai dan korupsi berskala
     luas. Semua ketegangan ini harus diselidiki lewat berbagai alat, seperti peta konflik, untuk
     memahami situasi lokal dan menghindari peningkatan ketegangan. Intervensi program dapat juga
     mendorong pembangunan hubungan di antara pelaku pasar dengan memudahkan kontrak antara
     pembeli dan penjual dan bentuk pertalian lainnya. Badan yang terlibat dalam kegiatan ini harus
     bekerja lewat pelaku lokal jika mungkin dan merencanakan jalar keluar sendiri sejak awal.
                                                         Standar yang Umum bagi Semua Kategori - 19


Standar Umum 3: Mendukung Pemulihan Jangka Panjang
       Program pemulihan ekonomi, bahkan yang berjangka pendek atau menengah
       bersumbangsih bagi pemulihan jangka panjang dengan berupaya memperkuat pasar,
       lembaga, dan usaha lokal dan memastikan bahwa semua kegiatan program mencakup
       strategi keluar bagi pelaku luar sejak awal.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Dukungan intervensi atau melengkapi struktur, layanan, dan lembaga yang ada untuk memperkuat
     kapasitas lokal (lihat catatan pedoman 1 dan 3).
    Semua program yang dijalankan oleh LSM internasional dan pelaku luar atau pelaku jangka pendek
     lainnya mencakup strategi keluar, dengan strategi peralihan ke berbagai prakarsa pembangunan
     jangka panjang selayaknya (lihat catatan pedoman 3).
    Rancangan program merinci cara intervensi program akan memasok berbagai prakarsa
     pembangunan ekonomi jangka panjang (lihat catatan pedoman 4).
    Rancangan program menganalisis apakah dan bagaimana kegiatan pemulihan ekonomi dapat
     membahayakan lingkungan atau orang, dan mencakup tindakan untuk meminimalkan bahaya.
Catatan Pedoman
1.   Mendukung kapasitas lokal: Di seluruh lingkungan krisis, pasar dan struktur sosial-ekonomi
     bertahan dan terus bekerja, meskipun terganggu. Menimbang semua struktur ini dan peran para
     pelaku pasar, lembaga lokal, dan norma sosial-ekonomi ketika merancang intervensi itu penting.
     Juga penting adalah menimbang cara pergeseran dalam berbagai struktur sosial-ekonomi
     berdampak pada berbagai peluang ekonomi, khususnya bagi kelompok rentan, seperti kaum
     perempuan dan pemuda. Jika lembaga, struktur, dan layanan lokal ada, program harus menangani
     hambatan dan kegagalan pasar yang dihadapi oleh lembaga itu lebih dulu, sebelum berupaya
     membentuk sistem atau lembaga baru.
     Contoh: Program yang meningkatkan pelatihan kecakapan kejuruan bagi pemuda mendukung
     program sekolah dan magang yang sudah ada secara lebih baik daripada mengembangkan pusat
     pelatihan yang baru.
2.   Penetapan harga secara tepat: Sebanyak mungkin, produk dan layanan harus diberi harga yang
     mencakup semua biaya yang berkaitan untuk mencerminkan ongkos sebenarnya penyampaian dan
     menghindari gangguan pasar lewat penghargaan yang terlalu rendah atau tinggi. Semua ongkos
     harus harus dirinci dengan jelas dan didokumentasikan dalam anggaran program. Ongkos-ongkos
     harus mencakup tenaga kerja (meliputi pengerahan staf pada harga pasar), masukan, sewa dan
     utititas, dan angkutan, serta ongkos pemeliharaan atau penggantian untuk peralatan dan taksiran
     harga nyata (bayangan) untuk subsidi. Meskipun awalnya mungkin dibutuhkan untuk mendorong
     keikutsertaan kelompok tertentu, subsidi harus terus ditekan untuk akhirnya dihapuskan. Penetapan
     ongkos yang terlalu rendah dapat menyebabkan kemerosotan layanan atau keluarnya penyedia lain
     dari pasar.
     Contoh: Suatu program rekonstruksi mengadakan pasokan, yang diproduksi secara lokal, pada harga
     pasar; jika hal itu tidak mungkin, maka program itu membeli lewat usaha lokal.
20 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


     Suatu lembaga jasa keuangan yang menawarkan pinjaman harus menerapkan suku bunga berbasis
     pasar sejak awal untuk memastikan ketahanan operasi dan keuangan jangka panjangnya.
3.   Strategi keluar: Rancangan program harus menjelaskan cara LSM internasional atau pelaku luar
     lainya bekerja dengan penguasa dan organisasi lokal sejak awal atau mencoba membangun
     kapasitas penyedia seperti itu untuk menyediakan layanan pada akhir intervensi atau dalam
     peralihan ke pemrograman jangka panjang. Menyingkirkan penyedia lokal dapat tampak bijaksana
     dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang, membangun kapasitas dan legitimasi pelaku
     lokal (pemerintah, bisnis, atau LSM) membawa manfaat yang bertahan lebih lama untuk masyarakat
     target. Strategi keluar harus merinci cara biaya operasional akan ditutup di luar masa awal
     pendanaan program, selayaknya, dengan menimbang bahwa pemulihan ongkos di lingkungan krisis
     dapat membutuhkan waktu yang lebih lama daripada masa hibah. Langkah menuju proses keluar
     atau peralihan ke pemrograman jangka panjang harus dipadukan ke rancangan menyeluruh dan
     dinyatakan sebagai salah satu tujuan program. Langkah ini mencakup mengenali kegiatan, jadwal,
     dan serahan (deliverable) proyek dari komponen untuk memastikan waktu yang cukup untuk
     membangun kapasitas pelaku lokal saat mereka akan mengambil alih beberapa kegiatan. Jika
     intervensi itu diharapkan berakhir sepenuhnya, rancangan program harus menjelaskan cara
     mempertahankan manfaat bagi populasi target.
4.   Menuju ke pemrograman jangka panjang: Banyak pembangunan ekonomi saling bertalian. Dengan
     demikian, perancang program harus memahami dan membangun berdasarkan pemrograman yang
     sebelumnya dan kini oleh LSM internasional, donor multilateral, dan pelaku lainnya. Program itu
     harus menuju ke, atau dikoordinasikan dengan, pemrograman masa depan, dengan rangkaian logis
     ke berbagai kegiatan ekonomi. Juga penting bahwa program itu tidak merusak pemrograman jangka
     panjang yang ada atau mendatang.
     Contoh: Program pemulaian bisnis hibah kecil jangka pendek harus berupaya mengaitkan diri
     dengan program jasa keuangan jangka panjang. Sebaliknya, suatu program harus tidak menyediakan
     pelatihan kejuruan secara gratis, ketika prakarsa lain berupaya menghasilkan pelatihan serupa ke
     kelompok yang sama dan mengenakan biaya untuk menutupi ongkosnya.


Standar Umum 4: Rancangan dan Implementasi Program yang Inklusif dan
Transparan
       Rancangan program menimbang untuk bekerja dengan semua pelaku pasar sebagai
       sarana untuk memperbaiki sumber nafkah rumahtangga yang rentan. Program
       menyampaikan secara efektif tujuan, sarana pemilihan, dan hasil program kepada semua
       pemangku kepentingan.7


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Rancangan proyek menilai peran pelaku saat ini dan sebelumny, dan menimbang berbagai masukan
     dari semua kategori pelaku pasar (lihat catatan pedoman 1).


7
  Lihatlah Buku Pedoman Sphere, “Common Standard 1: participation”
(http://www.sphereproject.org/content/view/32/84/lang,english/), untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
                                                          Standar yang Umum bagi Semua Kategori - 21


    Program menilai dan menjelaskan dampak gender, asal etnis, kecacatan, generasi muda, dan faktor-
     faktor lain pada akses dan peluang ekonomi masyarakat (lihat catatan pedoman 2).
    Kegiatan proyek yang menargetkan kelompok rentan bertujuan untuk memungkinkan mereka
     berkontribusi pada, dan menarik manfaat dari, kegiatan pasar, alih-alih berupaya menyebarkan
     ulang laba yang ada (lihat catatan pedoman 3).
    Kegiatan proyek yang menargetkan kelompok rentan menyampaikan niat dan rencana tindakan ke
     semua kelompok pelaku pasar (lihat catatan pedoman 3 dan 4).
    Sasaran dan kegiatan program disampaikan ke semua pemangku kepentingan untuk membedakan
     proyek pemulihan ekonomi dengan kegiatan bantuan lainnya (lihat catatan pedoman 5)..
    Program mengkaji risiko korupsi dan menanganinya dengan memantau kegiatan/mekanisme
     program untuk mendukung akuntabilitas (lihat catatan pedoman 6).
Catatan Pedoman
1.   Peran pelaku pasar: Program akan berdampak lebih besar dalam masa yang lebih panjang jika
     strategi pemulihan melibatkan dengan cepat pelaku pasar sebelum ke dalam proyek. Program harus
     didasarkan pada sistem yang dipahami secara luas tentang cara pasar yang terpengaruh bencana
     beroperasi—baik dari segi hubungan kekuasaan dan tata kelola, serta peran setiap pelaku pasar
     sebelum dan sesudah krisis. Hal ini dapat dipastikan dengan mencari masukan dan kerjasama secara
     aktif dari semua pelaku pasar untuk memetakan hubungan dan kegiatan mereka, sambil mengenali
     berbagai kendala dan peluang bagi pemulihan.
     Badan bantuan mungkin enggan bekerja dengan perantara pasar tertentu, mungkin akibat
     pandangan bahwa mereka mendapatkan keuntungan dari situasi krisis atau kekhawatiran tentang
     kelompok yang mereka wakili. Hal ini menjadi perhatian khusus dalam lingkungan konflik. Namun,
     jika pelaku pasar diabaikan atau dikesampingkan, rehabilitasi mungkin tertunda karena badan
     bantuan tidak akan mampu membentuk hubungan dengan pasar lokal, regional, dan nasional atau
     menarik manfaat dari peluang meningkatkan sumber daya dan keahlian.
2.   Faktor gender dan lainnya: Konteks dan budaya lokal berperan penting dalam mendefinisikan cara
     orang berinteraksi di pasar berdasarkan gender, etnis, status kemampuan, dan umur. Struktur
     kekuasaan dalam keluarga dan masyarakat menciptakan berbagai peluang dan pembatasan
     terhadap akses dan peluang seseorang di pasar. Dampak struktur ini harus dipahami, dan proyek
     harus menanggapi secara tepat dengan memperhitungkan aneka peran dan mengupayakan atau
     memperkukuh perubahan berangsur.
     Contoh: Di sebagian budaya, perempuan biasanya menjual barang di pasar lokal dan regional,
     sementara di sebagian budaya lain, perempuan pada dasarnya dibatasi hanya pada kegiatan di
     seputar rumah. Jika suatu program mengabaikan peran mereka sebelumnya dalam kegiatan
     ekonomi keluarga dan berupaya menyusun ulang peran tradisional ini, proyek itu dapat
     mengundang penentangan, dari baik laki-laki maupun perempuan.
3.   Menyokong pemulihan inklusif secara transparan: Meskipun tidak semua pelaku pasar akan
     terlibat langsung di dalam proyek, informasi menyebar dengan cepat di pasar. Informasi yang tidak
     lengkap atau gosip dapat menyebabkan sebagian pelaku merasa terancam. Program harus
     bertujuan untuk memungkinkan kelompok target meraih manfaat dari kegiatan ekonomi alih-alih
     berupaya membagikan ulang laba yang sudah ada, yang menciptakan jiwa ”kita versus mereka”.
     Proyek dapat mengurangi sikap menentang yang mungkin muncul dan mendukung kolaborasi
     dengan menyampaikan dengan jelas maksudnya untuk melayani kelompok rentan dan memperluas
22 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


       pasar yang ada sambil menghormati persaingan yang sehat. Dengan demikian, operasi proyek harus
       menghindari untuk memberi subsidi tanpa perlu kepada sektor atau pelaku pasar, terutama jika itu
       mengancam bisnis pelaku yang sudah ada. Akhirnya, pemilihan mitra harus transparan dan
       disampaikan dengan jelas, untuk menjaga kepercayaan dan koordinasi di antara pelaku pasar, baik
       yang ikut di dalam proyek maupun tidak.
4.     Mengenali saluran komunikasi pasar: Terlepas dari kekacauan yang terlihat nyata di lingkungan
       bencana, pasar biasanya terorganisasi hingga tingkat tertentu. Dengan mengenali para pemimpin
       pasar, perwakilan sektor perdagangan, dan investor bisnis yang penting, tim implementasi dapat
       menyebarkan dengan lebih efisien informasi proyek dan mengenali mitra potensial. Misalnya,
       hampir semua pasar memiliki ketua atau pimpinan perwakilan yang berhubungan secara rutin
       dengan perwakilan sektor perdagangan yang ada di pasar. Saluran komunikasi yang mapan ini
       menyediakan sarana efisien untuk menyebarkan dan menangkap informasi yang dibutuhkan.
5.     Membedakan pemulihan ekonomi dengan kerja pertolongan: Sasaran programatis harus
       didefinisikan dengan jelas dan disampaikan kepada semua pemangku kepentingan program untuk
       membentuk harapan yang tepat. Usaha pertolongan dan pemulihan mungkin berlangsung pada
       waktu dan untuk komunitas yang sama, meskipun kebutuhan dan pewaktuan untuk bagian-bagian
       populasi yang terpengaruh bencana dapat berbeda. Mengingat rumitnya kebutuhan suatu populasi,
       program yang melakukan intervensi dengan tujuan menyediakan bantuan pertolongan atau
       menyokong pemulihan ekonomi harus memiliki pemahaman yang jelas tentang konteks lokal untuk
       memastikan pemrograman yang tepat dan transparansi dalam kegiatan.
6.     Mengurangi risiko korupsi: Korupsi adalah penyalahgunaan amanah kekuasaan untuk keuntungan
       pribadi.8 Program pemulihan ekonomi perlu menilai dan memahami risiko korupsi potensial,
       terutama dalam intervensi yang melibatkan pemindahan uang atau aset, tetapi juga dalam kegiatan
       berprofil rendah, seperti keterlibatan dalam ekonomi abu-abu atau hubungan kekuasaan dalam
       aneka kegiatan perekonomian yang mungkin didorong. Misalnya, pertalian keluarga dan jaringan
       sosial dapat berperan lebih besar dalam interaksi bisnis daripada di Barat, yang di dalamnya ”uang
       komisi” (kickback) dan merekrut atau melakukan pengadaan lewat kerabat dianggap praktik
       normal—bahkan hal yang memastikan mutu barang dan jasa. Penanggap krisis perlu menimbang
       aneka pandangan saat menandi risiko korupsi. Sedapat mungkin, kesiapan terhadap krisis harus
       menimbang risiko korupsi, dengan mengembangkan berbagai kebijakan dan prosedur, terutama
       yang berkaitan dengan pemindahan dana atau barang—karena pada tahap awal tanggapan hanya
       akan ada sedikit waktu untuk mengembangkan kebijakan. Dalam perjalanan tanggapan,
       pemantauan menjadi kunci untuk memverifikasikan manfaat sistem yang mendeteksi dan mencegah
       korupsi—dan biasanya memastikan mutu dan akuntabilitas program.

Standar Umum 5: Menggunakan Mekanisme Langsung dan Tak Langsung untuk
Mewujudkan Dampak di Masyarakat Target
          Program menganalisis dampak dan keefektifan biaya dari menyediakan layanan langsung
          kepada kelompok target dibandingkan dengan kegiatan tak langsung yang memperbaiki
          kondisi pasar bagi semua populasi.9


8
    Sebagaimana yang didefinisikan oleh International (http://www.transparency.org/about_us).

9
  Lihatlah Buku Pedoman Sphere, “Common Standard 4: targeting”
(http://www.sphereproject.org/content/view/32/84/lang,english/), untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
                                                                         Standar yang Umum bagi Semua Kategori - 23


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
      Rancangan program menimbang baik kegiatan langsung maupun tak langsung untuk memberi
       manfaat kepada populasi target (lihat catatan pedoman 1).
      Rancangan program mengenali risiko potensial penargetan eksklusif dan merinci cara
       mempertahankan manfaat bagi populasi target (lihat catatan pedoman 2).
      Semua program mengembangkan model sebab-akibat yang menjelaskan cara populasi target akan
       menarik manfaat dari kegiatan program (lihat catatan pedoman 3).
      Alat pemantauan dikembangkan untuk melacak dampak pada populasi target.10
Catatan Pedoman
1.     Penargetan: Maksud penargetan adalah memastikan bahwa program menguntungkan populasi atau
       segmen populasi yang dimaksudkan. Dalam mengembangkan kriteria penargetan, kriteria yang
       digunakan harus cukup luas untuk mencakup berbagai intervensi yang bekerja baik secara langsung
       maupun tak langsung kepada populasi yang ditargetkan, atau dalam kombinasi, sehingga tidak
       menghalangi jenis-jenis kegiatan tertentu.
       Bantuan untuk populasi target sering disalurkan secara lebih efektif lewat sarana tak langsung.
       Contoh bantuan tak langsung yang berpotensi efektif mencakup mengembangkan akses ke layanan
       komersial yang terjangkau dan dapat diakses yang mendukung sumber nafkah populasi target
       (misalnya jasa keuangan, layanan kesehatan hewan, akses ke pasar baru); memperbaiki lingkungan
       operasional di pasar yang paling kritis bagi pendapatan populasi; dan memperluas permintaan
       produk dan layanan yang dihasilkan oleh populasi target.
       Contoh: Bibit dapat dibagikan ke rumahtangga yang rentan oleh pedagang lokal lewat ”pekan raya
       bibit.” Penggunaan mekanisme pasar yang sudah ada ini memperkuat pertalian antara rumahtangga
       yang rentan dan pelaku pasar yang ada, dan mencegah penciptaan sistem penyebaran sejajar yang
       akan mengecewakan pelaku pasar yang lain pada jangka pendek. Demikian juga, membantu
       menciptakan sektor kesehatan hewan dapat berdampak lebih kuat pada rumahtangga yang memiliki
       ternak daripada membantu langsung keluarga itu. (Lihat Standar Umum 4, “Rancangan dan
       Implementasi yang Inklusif dan Transparan,” untuk mengetahui rincian lebih lanjut.)
       Penilaian yang baik atas tingkat kemiskinan populasi target, usaha khusus tempat mereka bekerja,
       dan sistem pasar yang tempat usaha beroperasi akan mengenali strategi terbaik untuk memberikan
       dampak kepada kelompok target. Populasi target yang aktif di pasar yang hanya sedikit terpengaruh
       oleh konflik atau bencana dapat meraih keuntungan terbesar dari bantuan ke bisnis lain di pasar
       sama yang merangsang permintaan atas barang dan layanan dari populasi target. Sebaliknya,
       populasi yang memiliki sedikit aset dan berupaya memulai kembali kegiatan atau memasuki
       kegiatan baru mungkin paling baik dilayani dengan kombinasi bantuan langsung dan bantuan tak
       langsung ke populasi yang dapat menyediakan pasar akhir bagi barang dan layanan mereka.
       Contoh: Perempuan nelayan yang bekerja di suatu wilayah yang terpengaruh oleh banjir berupaya
       membangun kembali bisnis mengeringkan ikan untuk konsumsi lokal dan regional. Sebelum
       bencana, mereka mengeringkan ikan di atas kain terpal di atas tanah, sehingga menyebabkan
       kontaminasi pada produknya dan kandungan kelembaban tinggi, yang membatasi mereka untuk
       menjual di pasar bernilai rendah. Suatu perusahaan pengolahan ikan tertarik mencari sumber ikan

10
     Lihat Standar Pengkajian dan Analisis serta catatan pedoman untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
24 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


     yang dikeringkan secara lokal dan memiliki staf dengan pengalaman dalam teknik efektif dan
     berbiaya rendah yang dapat meningkatkan nilai ikan. Namun, perusahaan itu tidak melihat
     perempuan sebagai mitra bisnis yang berharga. Bantuan langsung diberikan kepada para
     perempuan untuk meningkatkan mutu dan penjualan ikan kering mereka, sehingga memungkinkan
     mereka berhubungan dengan perusahaan itu dan mengakses teknologinya. Pada saat yang sama,
     bantuan tak langsung diberikan kepada suatu bank lokal untuk mengembangkan produk pinjaman
     bagi nelayan berskala kecil, yang memberikan para perempuan itu dan orang-orang lainnya akses
     untuk mendapatkan modal kerja guna meningkatkan skala bisnis.
2.   Penargetan eksklusif dapat merusak: Penyediaan layanan secara eksklusif kepada satu populasi
     dapat merusak penyediaan jangka panjang yang bertahan atas layanan itu atau mengurangi
     keefektifan bantuan. Misalnya, jika suatu program pinjaman hanya diarahkan ke populasi target
     yang didefinisikan secara sempit, hal itu mengurangi jumlah klien potensial, sehingga
     membahayakan ketahanan lembaga bersangkutan. Menargetkan layanan tanpa menyertakan
     kelompok lain dapat meningkatkan ketegangan, terutama di lingkungan yang terpengaruh oleh
     konflik, dan memperlemah hubungan pasar penting yang amat diperlukan bagi keberhasilan
     populasi target.
     Contoh: Rumah tangga yang bergerak di bidang pertanian menerima benih dan pupuk yang
     mutunya ditingkatkan, tetapi tidak mendapatkan manfaat dari hal ini tanpa perbaikan tambahan
     pada infrastruktur atau peningkatan kapasitas pengolahan di antara pengolah pertanian tempat
     rumahtangga itu menjual produknya.
3.   Model sebab-akibat: Semua intervensi, baik langsung maupun tak langsung, mengharuskan model
     sebab-akibat yang menguraikan cara populasi target akan terpengaruh dan mencatat asumsi pokok
     yang mendasari model. Persyaratan ini dapat amat penting khususnya terkait dengan penargetan
     tak langsung, yang di dalamnya mungkin tidak jelas cara bantuan kepada satu kelompok
     menguntungkan kelompok target. (Lihat Standar Pengkajian dan Analisis dan catatan pedoman 2,
     untuk mendapatkan informasi lebih lanjut).
     Contoh: Program yang bertujuan mendukung produsen kerajinan tangan dengan menyediakan
     bantuan pasar kepada agen di ibukota daerah harus memperlihatkan cara aneka kegiatan akan
     menyebabkan naiknya pendapatan para produsen itu.


Standar Umum 6: Mengoordinasikan Upaya demi Dampak yang Lebih Besar
       Dengan menyadari bahwa pemulihan ekonomi melibatkan banyak pemangku
       kepentingan, kapasitas, dan sumber daya, program mengoordinasikan kegiatan mereka
       dengan prakarsa lain yang dipimpin oleh sektor swasta, pemerintah, atau pelaku non-
       pemerintah.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Rancangan program meneliti upaya tanggapan krisis yang ada dan tidak menggandakannya.
     Intervensi dikoordinasikan dengan tanggapan penguasa lokal dan nasional serta pelaku dan badan
     yang lain (lihat catatan pedoman 1).
                                                                         Standar yang Umum bagi Semua Kategori - 25


      Program bertukar informasi dengan donor, badan pelaksana, penerima bantuan, dan pelaku
       kemanusiaan yang lain (lihat catatan pedoman 2 dan 3).11
      Organisasi, program, dan proyek yang tidak dapat menangani kebutuhan yang telah ditandai atau
       tidak mampu mencapai Standar Minimum menyampaikan kesenjangan dalam pelaksanaan program
       yang berkaitan dengan kebutuhan pembangunan ekonomi yang lebih luas, sehingga pihak-pihak lain
       dapat membantu.(lihat catatan pedoman 4).
Catatan Pedoman
1.     Menjalin hubungan dengan pelaku yang relevan: Lewat konsultasi dan mekanisme koordinasi
       formal atau informal yang mencakup semua pihak yang menanggapi suatu krisis, seperti pertemuan
       kelompok PBB atau konsultasi sektoral lainnya, program harus dirancang untuk mencerminkan
       pemahaman atas upaya yang ada dan sedang berlangsung oleh penguasa nasional dan lokal dan
       badan internasional lainnya yang terkait. Penggunaan kapasitas yang ada sebagai basis
       pemrograman akan mendukung penciptaan program yang melengkapi alih-alih menggandakan.
2.     Berbagi informasi dengan pihak yang terpengaruh oleh krisis: Ketegangan dapat tinggi di dalam
       krisis dan situasi setelahnya, dan berbagai upaya harus dilakukan untuk berkomunikasi secara efektif
       dan terbuka dengan semua pemangku kepentingan. Semua organisasi harus berbagi informasi
       dengan mereka yang terpengaruh oleh krisis. Hal ini dapat dilakukan lewat mekanisme yang
       transparan, seperti pertemuan komunitas atau komite setempat untuk menyebarkan informasi
       tentang program, keputusan, dan peran serta kepada semua pihak yang terpengaruh oleh krisis.
       Tindakan berbagi informasi ini membantu mengurangi kesalahpahaman, terutama jika program itu
       memberikan sumber daya hanya ke satu kelompok atau menyediakan layanan yang baru bagi
       komunitas, dan membangun dukungan komunitas bagi pelaksanaan program.
       Contoh: Suatu program jasa keuangan adalah baru di suatu komunitas dengan pengaruh Islam yang
       kuat. Program itu mengenakan bunga, suatu praktik yang diharamkan oleh Islam, sehingga
       koordinator program bertemu dengan pemerintah dan pemimpin agama setempat untuk
       membahas maksud program.
3.     Berbagi informasi dengan pihak yang terlibat dalam tanggapan krisis: Berbagi informasi dengan
       semua sektor secepat mungkin akan memungkinkan semua badan penanggap untuk menjawab
       kebutuhan masyarakat yang terpengaruh oleh bencana dengan lebih cepat dan efektif. Forum bagi
       LSM internasional untuk berbagi informasi seperti itu mencakup kelompok yang dipimpin oleh PBB,
       seperti Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), Humanitarian Information
       Center (HIC), dan untuk keadaan darurat yang dideklarasi oleh PBB, pertemuan kelompok PBB (jika
       sudah aktif). Mekanisme koordinasi lain mungkin mencakup pertemuan bulanan atau triwulanan,
       milis, atau forum LSM.
4.     Menyampaikan kesenjangan: Ketika kesenjangan dikenali dan disampaikan kepada badan
       penanggap lainnya, pihak dengan kekhususan teknis atau kapasitas berlebih dapat mengatasi
       kesenjangan itu. Pemberian informasi yang tepat waktu tentang lokasi implementasi proyek,
       keterlibatan mitra lokal, dan kebutuhan yang muncul harus disampaikan segera kepada badan
       koordinasi yang tepat.
       Contoh: Suatu badan pertolongan kemanusiaan mengamati adanya kebutuhan yang tinggi atas
       kredit dan tabungan di antara masyarakat target, tetapi tidak memiliki kapasitas teknis untuk

11
     Lihat Standar Pengkajian dan Analisis serta catatan pedoman 8 untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
26 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


     menyediakan kedua layanan. Oleh karena itu, badan itu menyampaikannya kepada badan-badan
     lain di wilayah itu dan salah satu organisasi yang mengkhususkan diri dalam jasa keuangan mampu
     menjawab kebutuhan tersebut.


Standar Umum 7: Membangun Tim yang Cakap Secara Teknis
       Program diawaki oleh orang-orang yang berpengalaman luas dalam prinsip pemulihan
       ekonomi dan/atau memiliki akses ke penasihat teknis; program juga mencakup
       komponen pembangun kapasitas untuk meningkatkan kecakapan staf lapangan.12


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Tim pemulihan ekonomi memiliki staf dengan kualifikasi teknis yang relevan, pengetahuan tentang
     kegiatan ekonomi, budaya, adat istiadat, dan dinamika konflik lokal, dan/atau pengalaman
     pemulihan ekonomi sebelumnya (lihat catatan pedoman 1 and 2).
    Staf teknis dan pengelola mendapatkan pelatihan, sumber daya, dan dukungan logistik untuk
     melaksanakan tanggungjawabnya. (lihat catatan pedoman 3).
    Program memiliki kebijakan mendukung keragaman dalam memberikan pekerjaan kepada berbagai
     tingkat tim pemulihan ekonomi (lihat catatan pedoman 4)
    Manajer bertanggungjawab mencapai sasaran program dan mengikuti pedoman pemulihan
     ekonomi Sphere dan badan tempatnya bekerja.
Catatan Pedoman
1.   Perekrutan staf jangka panjang dan pendek: Manajer program prakarsa pemulihan ekonomi harus
     berpengalaman sebelumnya dalam merancang dan menerapkan program pemulihan ekonomi yang
     terpacu pasar (market driven) di lingkungan desa atau kota. Pengalaman ini dapat diperoleh lewat
     sejumlah lingkungan, meliputi pengalaman sebelumnya dalam mengalihkan program keamanan
     pangan dan sumber nafkah ke pengembangan ekonomi mandiri, atau pengalaman menjalankan
     program pengembangan ekonomi tradisional di wilayah yang tidak stabil.
     Tim pemulihan ekonomi harus juga memiliki akses ke konsultan jangka pendek yang mampu
     menghasilkan solusi teknologi tepat yang memanfaatkan sumber daya dan kapasitas lokal.
     Konsultan jangka pendek harus diperoleh pada tingkat nasional dan regional jika mungkin untuk
     memperkuat penyedia layanan lokal dan mengurangi ongkos konsultasi dan pengerahan. Gambaran
     daftar spesialis teknis jangka pendek dapat mencakup pakar agronomi, pakar ternak, konsultan
     layanan pengembangan bisnis, pakar rantai nilai, dan pakar jasa keuangan.
     Di lingkungan konflik, pemimpin tim atau staf senior harus berpengalaman sebelumnya dalam
     menganalisis dan mengelola upaya yang mencoba meredakan dan mengelola konflik. Jika
     pengalaman ini tidak tersedia dalam jangka panjang, seorang spesialis konflik harus dimasukkan ke
     titik-titik kritis dalam program, mencakup selama pengkajian dan perancangan program dan untuk
     pemantauan berkala.

12
  Lihatlah Buku Pegangan Sphere, “Common Standard 7: aid worker competencies and responsibilities”
(http://www.sphereproject.org/content/view/35/84/lang,english/), dan “Common Standard 8: supervision, management, and
support of personnel” (http://www.sphereproject.org/content/view/36/84/lang,english/), untuk informasi lebih lanjut.
                                                                         Standar yang Umum bagi Semua Kategori - 27


2.     Perekrutan staf lokal: Tim pemulihan ekonomi harus merekrut staf nasional ketika kapasitas lokal
       ada. Setidaknya, staf program harus dilatih untuk memahami intervensi teknis. Staf pemulihan
       ekonomi lokal idealnya akan dilatih berkontribusi untuk studi pasar, perancangan program, dan
       pemantauan dan penilaian kegiatan proyek.
3.     Pelatihan dan pembangunan kapasitas staf: Staf harus menerima pelatihan dasar tentang jenis
       metode yang diterapkan oleh program pemulihan ekonomi, serta pelatihan pendahuluan umum di
       sektor target. Staf senior harus mendapatkan pelatihan kerja, bimbingan, akses ke sumber daya, dan
       peluang menghadiri lokakarya pengembangan ekonomi pada tingkat yang lebih tinggi untuk
       membangun kumpulan kecakapan pengembangan dan pengelolaan program. Staf lokal sering akan
       beralih dari proyek penyebaran atau pertolongan dan pelatihan khusus harus menguatkan
       pentingnya keberlanjutan, strategi keluar, biaya untuk pembayaran layanan, dan praktik pemulihan
       ekonomi lainnya.
4.     Keragaman staf: Upaya harus dilakukan untuk mempekerjakan berbagai kelompok etnis dan agama,
       serta mencapai keseimbangan gender di antara staf program. Penting bagi pembangunan ekonomi,
       staf yang beragam mampu memahami secara lebih baik aneka kondisi pasar dan memudahkan
       hubungan di antara pelaku pasar.


Standar Umum 8: Mengumpulkan dan Menerapkan Pelajaran
          Program mengatasi konteks yang berubah cepat dan pergantian cepat yang sering yang
          bersifat melekat di lingkungan darurat dengan melembagakan sistem yang
          mengumpulkan, menyebarkan, dan menerapkan pembelajaran untuk menilai dan
          memperbaiki kinerja.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
      Proses dan sistem pengumpulan data digunakan untuk mengumpulkan data tentang apakah target
       intervensi dipenuhi (lihat catatan pedoman 1).13
      Pengalaman program disebarkan dalam setidaknya satu forum internal dan satu eksternal. (lihat
       catatan pedoman 2).
      Hasil pemantauan dan evaluasi program digunakan untuk menyampaikan intervensi masa depan.
       (lihat catatan pedoman 3).
Catatan Pedoman
1.     Pemantauan program: Memantau program pemulihan ekonomi adalah amat penting untuk
       memastikan bahwa program itu mencapai dampak yang diinginkan dan menerapkan layanan yang
       paling tepat. Pemantauan program harus dipikirkan dengan baik dalam tahap perancangan dari segi
       indikator, metode, dan sumber daya yang dibutuhkan dan mencakup campuran alat kuantitatif dan
       kualitatif. Karena baik populasi maupun perekonomian lokal terus berubah dalam keadaan darurat,
       bertemu secara teratur dengan penerima bantuan dan memastikan bahwa program tetap relevan
       dengan realitas pasar lokal akan menjamin jadwal dan ketepatan intervensi (atau dalam beberapa
       kejadian, pengubahan intervensi untuk melayani perubahan berbagai kebutuhan). Pengumpulan

13
     Lihat Standar Pengkajian dan Analisis untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
28 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


     data pemantauan secara teratur harus menunjukkan cara program menanggapi kebutuhan yang
     ditandai.
2.   Penyebaran: Program harus menyebarkan penemuan dan hasil secara aktif baik secara internal
     maupun eksternal. Secara internal, program harus menyebarkan data dan temuan ke sektor teknis,
     terutama jika ada intervensi serentak yang berlangsung di satu wilayah georafis. Misalnya,
     pertemuan mingguan di kalangan kepala sektor teknis harus diadakan untuk membahas capaian
     program, tantangan, dan rencana mendatang yang utama. Program harus menyampaikan berbagai
     temuan secara rutin kepada semua organisasi yang bekerja di wilayah yang sama untuk menghindari
     tumpang tindih atau mungkin bertabrakan di wilayah itu.
3.   Evaluasi program: Evaluasi program harus ditulis dan disebarkan, secara internal dan eksternal,
     sebagai cara membangun khazanah pengetahuan yang melandasi pemrograman pemulihan
     ekonomi yang baik dalam keadaan darurat. Informasi dan komunikasi tentang program dan
     intervensi itu harus disebarkan dengan cara yang mudah diakses dan diterapkan di masa
     mendatang.
                                                          Standar yang Umum bagi Semua Kategori - 29


Lampiran 1
Bacaan Lebih Lanjut
Harvey, Paul, dan Jeremy Lind, Dependency and Humanitarian Relief: A Critical Analisis, HGP Report 19.
   London: Overseas Development Institute, Humanitarian Policy Group, 2005.

Maxwell, Daniel, Peter Walker, Cheyanne Church, Paul Harvey, Kevin Savage, Sarah Bailey, Roslyn Hees,
   dan Marie-Luise Ahlendorf, “Preventing Corruption in Humanitarian Assistance: Final Research
   Report.” Berlin: Transparency International, 2008.
                                  Pengkajian
                                  dan Analisis




  Standar 1      Standar 2          Standar 3          Standar 4      Standar 5

  Pewaktuan       Lingkup           Data dan               Analisis   Penyebaran
Pengkajian dan   Pengkajian         Metode                            Pengkajian
   Analisis                        Pengkajian



                 Apendiks 2: Bibliografi Alat Pengkajian
Standar Pengkajian dan Analisis
Standar Pengkajian dan Analisis 1: Pewaktuan Pengkajian dan Analisis
       Pengkajian dimulai sesegera mungkin dengan memasukkan proses berjalan yang
       berperan bagi pemantauan program.14


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Pengkajian dimulai sesegera mungkin selama atau setelah krisis.
    Analisis bersifat sinambung dan diintegrasikan ke operasi program guna memungkinkan
     pemantauan sambil lingkungan politik dan pasar berkembang (lihat catatan pedoman).
Catatan Pedoman
1.   Pengkajian yang sinambung: Lingkungan konflik dan krisis bersifat dinamis. Pengumpulan dan
     analisis data perlu berkelanjutan agar tetap responsif terhadap lingkungan yang berubah cepat. Ini
     paling mudah dicapai melalui pemantauan teratur dan sistematis yang melacak keluaran, hasil, dan
     faktor kritis program di lingkungan eksternal, dan terkait dengan hasil yang baik dan dampak yang
     diharapkan.

Standar Pengkajian dan Analisis 2: Lingkup Pengkajian
       Pengkajian menyintesis informasi relevan tentang sumber nafkah rumahtangga yang
       terpengaruh, sistem pasar, dan faktor sosial-politis.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Pengkajian menyediakan gambaran menyeluruh tentang rumahtangga serta aset dan kecakapan
     usaha yang terpengaruh; hubungan sosial dan ekonomi utama; serta akses ke dan pemanfaatan
     pasar dari segi penciptaan pekerjaan, jasa, keluaran dan masukan (lihat catatan pedoman 1).
    Pengkajian menggunakan pendekatan dinamis. Pengkajian menimbang cara pasar, rumahtangga,
     dan usaha yang terpengaruh beroperasi sebelum krisis; cara mereka terdampak oleh krisis; dan cara
     mereka menghadapinya sekarang.
    Pengkajian menggunakan pendekatan sistematis. Pengkajian menempatkan strategi pemulihan
     ekonomi dalam konteks sistem pasar, tren ekonomi, dan lembaga politik dan sosial-ekonomi yang
     lebih luas (catatan pedoman 2).
    Pengkajian mudah terpengaruh oleh keragaman etnis, gender, dan kemakmuran dalam masyarakat.
     Pengkajian mengukur perbedaan dalam peluang ekonomi di antara kelompok dan menandai
     penyebab penting yang nyata atau mungkin bagi konflik atau penyisihan (marginalisasi).
Catatan Pedoman

14
   Untuk semua Standar Pengkajian dan Analisis, lihat Buku Pegangan Sphere, “Common Standar 2: initial assessment”
(http://www.sphereproject.org/content/view/30/84/ lang,english/ ), “Common Standar 5: monitoring”
(http://www.sphereproject.org/content/view/33/84/lang,english/), dan “Common Standar 6: evaluation”
(http://www.sphereproject.org/content/view/34/84/lang,english/), untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
32 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


1.   Pendekatan menyeluruh: Pada tingkat rumahtangga, strategi sumber nafkah bergantung pada
     integrasi efektif aset dan kecakapan, hubungan sosial dan ekonomi, dan akses ke pasar konsumsi
     dan keluaran. Rumahtangga mungkin memiliki beberapa sumber pendapatan yang beragam, dan
     memahami keseimbangan dan tukar-manfaat (trade off) di antara sumber-sumber itu adalah
     penting. Demikian juga, keberhasilan perusahaan melewati masa krisis bergantung pada
     serangkaian faktor internal, seperti kapasitas dan modal sumber daya manusia dan teknis, serta
     interaksi keduanya di dalam sistem pasar yang lebih besar bersama pelanggan, pembiayaan,
     layanan, dan produk. Pengkajian harus mengenali kerumitan ini, dan menandai serta menganalisis
     kesalingbergantungan yang terjadi.
2.   Pendekatan sistemik: Strategi ekonomi bagi rumahtangga dan perusahaan tertanam di dalam
     konteks ekonomi, politik, dan kelembagaan yang lebih besar. Tim penilai harus berupaya
     menyertakan konteks itu di dalam pengkajian atau menyertakan kepakaran dari luar untuk konteks
     politik dan budaya.

Standar Pengkajian dan Analisis 3: Data dan Metode Pengkajian
       Data pengkajian dikumpulkan menggunakan metode yang memastikan mutu data dan
       keamanan peserta.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Sumber data beragam, akurat, dan bermutu tinggi, serta proses pengumpulan informasi bersifat
     kolaboratif jika mungkin (lihat catatan pedoman 1).
    Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data peka terhadap bias informan dan kelompok
     kepentingan, sambil tetap mengingat potensi memperdalam konflik (lihat catatan pedoman 2).
    Metode yang digunakan tidak membahayakan mereka yang menyurvei dan disurvei. (lihat catatan
     pedoman 3).
Catatan Pedoman
1.   Sumber informasi: Pengkajian harus menggunakan riset dan informasi yang ada tentang sumber
     nafkah dan kegiatan ekonomi sebelum konflik. Pengkajian harus mengandalkan sumber dan pelaku
     setempat, seperti kepala rumahtangga, pelayan toko, dan pedagang, serta sumber-sumber makro-
     ekonomi, politik, dan internasional. Metode informasi harus cukup peka untuk mengenali sumber
     informasi tersembunyi, seperti kelompok tersisih serta kegiatan ekonomi informal dan pasar gelap.
     Pengkajian harus menyegitiga data dari aneka sumber, yang mencakup pengkajian dari organisasi
     lain, dan jika mungkin, menggunakan baik sumber data primer maupun sekunder. Namun, dalam
     situasi berisiko tinggi atau bahaya yang mudah meletup, program mungkin tidak mampu terlibat
     dalam proses kolaboratif penuh atau memiliki akses purna ke data primer.
2.   Bias dan kelompok kepentingan: Pengkajian harus peka terhadap aneka kelompok kepentingan dan
     bias di antara informan. Peneliti harus menggunakan pertanyaan yang tidak mengarah,
     penyegitigaan, dan “uji koherensi” dasar untuk menilai apakah data akurat.
3.   Keamanan penilai dan informan: Tempat atau waktu wawancara pengkajian dapat menimbulkan
     bahaya bagi tim penilai dan/atau mereka yang disurvei. Tim penilai harus menimbang kebiasaan
     setempat dan keamanan fisik lokasi wawancara dalam menentukan tempat dan waktu yang layak
     untuk menyelenggarakan wawancara. Tidak sekalipun wawancara pengkajian boleh menempatkan
     pewawancara atau terwawancara dalam bahaya fisik yang tidak sepantasnya.
                                                                      Standar Pengkajian dan Analisis - 33


Standar Pengkajian dan Analisis 4: Analisis
       Analisis data pengkajian tepat waktu, transparan, dan relevan bagi kebutuhan
       pemantauan dan pengambilan keputusan program.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Analisis data bersifat koheren, tepat waktu, dan dijalankan secara transparan (lihat catatan
     pedoman 1).
    Analisis mencoba menjawab pertanyaan yang paling relevan dan terkait pengambil keputusan yang
     bertanggungjawab atas rancangan dan pengelolaan program (lihat catatan pedoman 2).
    Program menggunakan hasil pengkajian dari pemantauan dan penilaian untuk menguji asumsi
     utama, memeriksa dampak yang diharapkan, dan membuat revisi seperlunya, berdasarkan
     perubahan asumsi (lihat catatan pedoman 3).
Catatan Pedoman
1.   Analisis yang transparan: Di dalam bidang pemulihan ekonomi, para praktisi mungkin menggunakan
     banyak sekali kerangka kerja analitis. Peneliti harus menyatakan secara tegas asumsi dan
     pendekatan metodologis yang diterapkan guna memberi pengguna akhir sebuah basis untuk menilai
     kesahihan hasilnya.
2.   Relevansi: Pengkajian harus dibangun di atas pemahaman yang jelas tentang yang perlu diketahui
     pengambil keputusan dan cara keputusan diambil. Lingkup pengkajian harus memberikan gambaran
     secara jelas tujuan pengkajian dan cara informasi dan analisis yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai
     uji relevansi.
3.   Pemantauan dan Penilaian: Pemantauan dan penilaian program harus melacak baik kegiatan
     proyek maupun keluarannya, serta memeriksa terus-menerus asumsi yang menjadi dasar kegiatan
     program dan dampak yang dibayangkan—dengan menjaga hubungan yang jelas dan tercatat di
     antara kegiatan program dan dampak yang diinginkan. Ini membuat program tetap responsif
     terhadap kondisi yang berubah-ubah sehingga, jika perlu, indikator kegiatan, kemajuan dan
     kinerjanya dapat disesuaikan.
     Contoh: Sebuah program menjalankan proyek yang dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan
     perempuan lewat kredit pembelian bibit ternak setelah suatu krisis. Sasarannya adalah para
     perempuan akan membayar pinjaman dalam dua tahun, dengan dampak yang diharapkan adalah
     mereka menggandakan pendapatan dasarnya dalam tiga tahun. Asumsi yang mendasari adalah
     bahwa 1) harga kambing akan tetap stabil atau naik selama tiga tahun ke depan; 2) ada cukup
     padang gembalaan bagi kambing; 3) kaum perempuan akan memiliki akses ke, dan mampu
     membayar, jasa dokter hewan bagi peliharaan mereka; dan 4) kaum perempuan tidak akan dipaksa
     menjual kambingnya untuk membeli makanan. Maka, menyiapkan sebuah program pemantauan
     yang melacak faktor-faktor itu sepanjang program menjadi penting: ketersediaan dan akses ke
     padang gembalaan; akses dan keterjangkauan layanan kedokteran hewan; kecukupan makanan
     rumahtangga.
     Dalam dua tahun terakhir program, ketika kaum perempuan mulai menjual kambing, memantau
     harga ternak menjadi penting.
34 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


Standar Pengkajian dan Analisis 5: Penyebaran Pengkajian
       Kajian disebarkan untuk menyediakan panduan yang mudah dipahami kepada pengambil
       keputusan yang tepat.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Hasil pengkajian disampaikan dalam bahasa dan format yang jelas dan mudah dipahami oleh
     pembaca non-teknis (lihat catatan pedoman 1).
    Hasil pengkajian diterbitkan dan disebarkan langsung, baik kepada organisasi pelaksana, maupun
     masyarakat terdampak, guna memaksimalkan pengaruhnya pada proses pengambilan keputusan
     (lihat catatan pedoman 2).
Catatan Pedoman
1.   Format yang tepat: Hasil pengkajian harus memenuhi kebutuhan khusus dan tingkat pemahaman
     beragam pembaca. Pengambil keputusan dalam krisis sering kali memiliki jadwal yang padat dan
     kendala waktu yang ketat. Jenis dan panjang produk informasi dan tingkat rincian teknis harus
     disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Misalnya, manajer utama program mungkin memerlukan
     taklimat 1-2 halaman, mitra kolaborasi mungkin menginginkan pemaparan, dan laporan teknis yang
     lebih panjang cocok untuk spesialis pemantauan dan penilaian. Kajian dan temuan yang panjang dan
     lengkap khususnya dapat disebarkan dalam lebih dari satu format.
2.   Penyebaran: Menyebarkan hasil pengkajian mendorong kolaborasi yang perlu dalam pemrograman
     pemulihan ekonomi. Melibatkan pengambil keputusan, mitra kolaborasi, dan penguasa lokal
     sepanjang proses pengkajian menarik perhatian setiap orang kepada hasilnya segera setelah
     disusun, dan mempromosikan saling percaya dan kerjasama. Ketika sebuah pengkajian
     mengisyaratkan bahwa tindakan diperlukan, hal itu dapat dicapai secara efektif lewat pemaparan
     bersama kepada pengambil keputusan (donor, LSM, pemerintah), yang membangun momentum
                                                  15
     dan rasa tanggungjawab dan memiliki bersama. Hasil pengkajian dan keputusan yang diambil
     harus disampaikan dengan jelas kepada para pelaku yang terpengaruh.




15
  Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang kolaborasi, lihat Standar Umum 6 “Mengoordinasikan Upaya demi Dampak
yang Lebih Besar.”
                                                                              Standar Pengkajian dan Analisis - 35


Lampiran 2
Bibliografi Alat Kaji
Ini sekadar daftar gambaran, bukan lengkap, dan tidak dimaksudkan sebagai menyokong salah satu alat
atau metodologi pengkajian.16

Anderson, Mary, ed. Options for Aid in Conflict: Lessons from Field Experience. Cambridge, MA, USA:
   Collaborative for Development Action, 2000.
   http://www.cdainc.com/publications/dnh/options/OptionsManual.pdf

Conflict Sensitivity. Situs web. http://www.conflictsensitivity.org/.

De Luca, L. Business and Decent Work in Conflict Zones: A “Why?” and “How?” Guide. Geneva:
    International Labor Organization, 2003.
    http://www.ilo.org/public/english/employment/crisis/download/busguide.pdf

FEG Consulting dan Save the Children UK. Dokumen daring. The Practitioner’s Guide to Household
   Economy Approach. FEG Consulting dan Save the Children UK: Regional Hunger and Vulnerability
   Program, 2008. http://feg-consulting.com/resource/practitioners-guide-to-hea/practitioners-guide-
   to-hea

FEWER, International Alert, and Saferworld. Dokumen daring. Conflict-Sensitive Approaches to
   Development, Humanitarian Assistance, and Peace Building: Tools for Peace and Conflict Impact
   Assistance. Fewer, International Alert, and Saferworld, 2004.
   http://www.conflictsensitivity.org/resource_pack.html. Diakses 19 Februari 2009.
   Dokumen rujukan, mencakup daftar alat analisis konflik yang ada

International Alert. Dokumen daring. Conflict-Sensitive Business Practice: Guidance for Extractive
    Industries. London: International Alert, 2005. Panduan analisis dan implementasi langkah demi
    langkah untuk investasi bisnis.
    http://www.iisd.org/pdf/2005/security_conflict_sensitive_business.pdf. Diakses 19 Februari 2009.

International Labor Organization. Crisis Response: Rapid Needs Assessment Manual. Geneva: ILO. 2002.

———. ILO’s Generic Crisis Response Modules. InFocus Program on Crisis Response and Reconstruction.
  Geneva: ILO, Recovery and Reconstruction Department, 2001.
  http://www.ilo.org/public/english/employment/crisis/download/modules.pdf. Diakses 19 Februari
  2009.

———. Manual of Training and Employment Options for Ex-combatants. ILO, 1997.
  http://www.ilo.org/public/english/employment/crisis/download/excombe.pdf. Diakses 19 Februari
  2009.



16
   Untuk gagasan lainnya, lihat microLINKS, “Database of Tools” (www.microlinks.org/conflict); dan USAID-AMAP, “Tools
for Economic Recovery: A Brief Literature Review,” microNOTE, no. 34
(http://www.bdsknowledge.org/dyn/bds/docs/632/USAID%20Tools%20Economic%20Recovery%2007.pdf).
36 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


OECD (Organization for Economic Cooperation Development). “Guidance on Evaluating Conflict
   Prevention and Peace-Building Activities.” Working draft. Paris: OECD, 2008.
   http://www.oecd.org/secure/pdfDocument/0,2834,fr_21571361_21570391_39774574_1_1_1_1,00
   .pdf. Diakses 19 Februari 2009.

OxfamGreat Britain, International Rescue Committee, InterAction, and Practical Action Consulting with
   support from US Office for Foreign Disaster Assistance. Emergency Market Mapping and Analisis
   (EMMA) Toolkit. Mendatang di 2009.

U.K. Department for International Development. Conducting Conflict Assessment: Guidance Notes.
    London: UK DFID, 2002. http://www.dfid.gov.uk/pubs/files/conflictassessmentguidance.pdf. Diakses
    19 Februari 2009.

United Nations Global Compact. Dokumen daring. Global Compact Business Guide for Conflict Impact
    Assessment and Risk Management. UN Global Compact, 2002.
    http://www.unglobalcompact.org/docs/issues_doc/7.2.3/BusinessGuide.pdf. Diakses 19 Februari
    2009.

U.S. Agency for International Development. Conducting a Conflict Assessment: A Framework for Strategy
    and Program Development. Washington DC: USAID, Office of Conflict Management and Mitigation,
    2005. http://www.usaid.gov/our_work/cross-
    cutting_programs/conflict/publications/docs/CMM_ConflAssessFrmwrk_8-17-04.pdf. Diakses 19
    Februari 2009.

World Bank. The Conflict Analisis Framework: Identifying Conflict-related Obstacles to Development.
   Dissemination Notes, no. 5. Washington DC: World Bank, Conflict Prevention and Reconstruction
   Unit, 2002. http://siteresources.worldbank.org/INTCPR/214578-
   1111751313696/20480168/CPR+5+final+legal.pdf. Diakses 19 Februari 2009.
                          Standar Jasa Keuangan



       Standar 1                                      Standar 2
   Pewaktuan Intervensi                       Jasa Keuangan yang Tepat




         Standar 3                                      Standar 4
    Perlindungan Klien                      Praktik Jasa Keuangan yang Baik




        Standar 5                                       Standar 6
Koordinasi dan Transparansi                       Penurunan Risiko Krisis




      Lampiran 3: Bacaan Lanjutan tentang Jasa Keuangan
Standar Jasa Keuangan
Standar Jasa Keuangan 1: Pewaktuan Intervensi
       Jasa keuangan diawali dan dibangun kembali sesegera mungkin, dan diselaraskan dengan
       tujuan dan kerangka waktu organisasi pelaksana.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Intervensi dimulai sesegera mungkin selama atau setelah krisis (lihat catatan pedoman 1).
    Tujuan keberhasilan jangka panjang dan pendek didefinisikan, berdasarkan kebutuhan masyarakat
     yang terpengaruh (lihat catatan pedoman 2).
    Penyedia meletakkan landasan untuk lembaga keuangan formal jangka panjang jika mungkin.
Catatan Pedoman
1.   Perencanaan dan operasi dini: Perencanaan—dan pemulaian atau pelanjutan—jasa keuangan di
     area terpengaruh krisis harus mulai sejak dini demi mendorong kembalinya kegiatan ekonomi
     sesegera mungkin. Di daerah konflik, waktu terbaik adalah ketika tanda-tanda pasar awal yang
     berfungsi dengan beberapa bukti kegiatan pasar yang sah muncul di daerah terpengaruh. Di daerah
     terpengaruh bencana,waktunya adalah sesegera staf dapat dikerahkan untuk menanggapi.
2.   Tujuan jangka pendek dan panjang: Dalam jangka pendek, “keberhasilan”dalam pemulihan
     ekonomi didefinisikan dengan perbaikan segera kesejahteraan orang dan rumahtangga. Dalam
     jangka pendek, baik hibah maupun pinjaman dapat menjadi mekanisme yang patut, bergantung
     pada tujuan dan konteks. Namun, setelah kebutuhan mendesak kesejahteraan terjawab,
     rumahtangga dan usaha yang terpengaruh memiliki kebutuhan jangka panjang bagi akses andal dan
     teratur ke jasa keuangan. Ini memerlukan lembaga keuangan yang dapat bertahan atau mekanisme
     pembiayaan masyarakat. Pemulihan ekonomi yang berhasil memerlukan kesadaran sedari awal dan
     proaktif akan perlunya untuk memasukkan tujuan dampak jangka pendek dalam konteks tujuan
     jangka panjang membangun dan memperkuat lembaga keuangan lokal yang dapat bertahan.
     Kesadaran kebutuhan dan kait ekonomi dan sosial jangka panjang akan membantu memahami “efek
     ombak” intervensi tertentu, dan cara intervensi dapat dikelola secara konstruktif melalui koordinasi
     dini.
     Contoh: Segera setelah sebuah bencana alam di suatu masyarakat pertanian, kegiatan pemulihan
     ekonomi jangka pendek dapat mencakup menyediakan hibah tunai atau bentuk pemindahan lain
     untuk memenuhi kebutuhan keamanan pangan. Intervensi jasa keuangan satu kali mungkin
     berbentuk menyediakan pinjaman untuk membantu produsen pertanian membeli benih dan alat
     yang hilang selama bencana. Tetapi, karena sifa siklus produksi pertanian, dalam jangka panjang,
     masyarakat akan memerlukan lembaga keuangan yang permanen dan stabil secara finansial untuk
     memberikan sumber pinjaman yang andal dengan masa beban dan syarat pembayaran yang pas
     dengan siklus produksi.

Standar Jasa Keuangan 2: Jasa Keuangan yang Tepat
       Intervensi jasa keuangan didasarkan pada kapasitas organisasi keuangan dan kebutuhan
       masyarakat target.
                                                                                             Standar Jasa Keuangan - 39




Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
      Intervensi jasa keuangan dipacu pasar, berdasarkan pengkajian kebutuhan dan kapasitas saat ini dan
       yang sedang tumbuh untuk menggunakan pembiayaan oleh rumahtangga dan usaha (lihat catatan
       pedoman 1).17
      Intervensi jasa keuangan bersifat wajar, dengan mengingat kapasitas organisasi keuangan (lihat
       catatan pedoman 2).
Catatan Pedoman
1.     Layanan yang terpacu pasar: Rumahtangga dan usaha yang terpengaruh krisis memerlukan
       serangkaian jasa keuangan, mencakup tabungan, kredit, transfer dana (kiriman uang, mekanisme
       pembayaran), dan pendidikan keuangan. Sebagaimana di lingkungan lain, penyedia jasa keuangan
       harus menawarkan produk yang diminta, sehingga memastikan bahwa produk yang ditawarkan
       dapat bertahan secara finansial. Di lingkungan krisis, ini mensyaratkan bahwa penyedia jasa
       keuangan terus responsif dalam menyediakan produk dan jasa yang memenuhi permintaan yang
       berubah cepat, yang mungkin mencakup jaringan sosial yang terganggu, kurangnya jaminan, dan
       lemahnya lingkungan hukum dan peraturan. Penyedia jasa keuangan harus berkomunikasi secara
       teratur dengan kliennya dan memindai pasar,khususnya selama krisis berkepanjangan, untuk
       mengenali kebutuhan guna dipakai di dalam menyesuaikan produk dan kemitraan komersial baru
       yang berkembang demi memenuhi kebutuhan itu.
       Contoh: Selama awal 1990-an, penyedia jasa keuangan berhati-hati dan enggan untuk melayani
       orang-orang yang kembali dari kam pengungsi di Thailand ke Provinse Sisphon di Kamboja.
       Kebimbangan lembaga pembiayaan mikro timbul dari kurangnya jaminan yang umum di kalangan
       pengungsi pulang itu dan ketakmampuan membentuk kelompok bagi pinjaman kelompok. Kreditur
       informal, seperti pedagang dan tengkulak, di sisi lain, menggunakan kehadiran kebun sayur sebagai
       tanda komitmen pengungsi pulang itu untuk bermukim di komunitasnya. Berdasarkan hal ini,
       mereka memberikan pinjaman kecil jangka pendek sehingga pengungsi pulang dapat, misalnya,
       membeli kapak untuk menebang pohon. Hubungan antara kreditur informal dan pengutang masih
       digunakan sebagai satu-satunya bentuk jaminan. Sumber kredit informal tetap menjadi sumber
       utama keuangan di daerah itu, walaupun sudah tersedia pinjaman lebih murah dan berjangka lebih
       panjang dari lembaga pembiayaan mikro yang mensyaratkan jaminan kelompok.
       Sumber: T. Wilson, “Financial Services during and after Armed Conflict: Lessons from Angola, Cambodia, Mozambique, and
       Rwanda” (Dublin: Concern Worldwide dan Springfield Center for Business in Development, 2001).

2.     Pemilihan intervensi keuangan yang wajar: Organisasi keuangan yang mengintervensi harus
       mengkaji dulu apakah lembaga keuangan lokal tersedia sebagai mitra. Jika tidak ada lembaga lokal,
       organisasi keuangan harus mengkaji kapasitas untuk menyediakan jasa keuangan dan alternatif lain,
       semisal tabungan yang dikelola komunitas dan kelompok kredit, tabungan desa dan perkumpulan
       pinjaman atau arisan dan perkumpulan kredit (Lihat Standar Jasa Keuangan 5: Koordinasi dan
       Transparansi.) Jika tindakan terbaik adalah mendirikan lembaga jasa keuangan, organisasi
       menentukan apakah lembaga itu dapat membuat komitmen jangka panjang yang dibutuhkan,
       mencakup investasi besar dana, waktu, dan kepakaran khusus. Jika tidak dapat membuat komitmen
       ini, organisasi harus mencari mitra yang bisa, dan mengejar alternatif layanan yang dikelola
       komunitas sementara itu.

17
     Lihat juga Standar Umum 2, “Pembuatan Program Berbasis Pasar.”
40 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


Standar Jasa Keuangan 3: Perlindungan Klien
       Penyedia jasa keuangan mematuhi norma yang diterima untuk perlindungan klien.18


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Penyedia jasa keuangan mengambil langkah yang masuk akal untuk memastikan bahwa pinjaman
     diulurkan hanya kepada peminjam yang dapat membayar utangnya dan tidak berutang berlebihan
     (lihat catatan pedoman).
    Harga, biaya, dan syarat semua produk keuangan dijelaskan kepada klien dengan cara yang
     transparan dan mudah dipahami.
    Praktik penagihan utang tidak mengancam dan melecehkan.
    Ada kebijakan etika untuk memerangi korupsi atau penyalahgunaan klien.
    Keluhan klien ditanggapi dan diatasi tepat waktu.
    Penyedia jasa keuangan menghormati privasi klien dan tidak menggunakan data pribadinya tanpa
     izin.
Catatan Pedoman
Mencegah utang berlebihan: Menilai kelaikan kredit dan kemampuan membayar adalah penting bagi
                                                19
kesejahteraan keuangan penyedia dan kliennya. Penyedia harus menyampaikan secara hormat dan
transparan mengapa ia menolak meminjamkan. Par penyedia harus berbagai peringkat kredit,
metodologi, dan riwayat kredit klien satu sama lain, jika hal itu sah dilakukan, demi transparansi dan
efisien.

Standar Jasa Keuangan 4: Praktik Jasa Keuangan yang Baik
       Semua penyedia jasa keuangan mematuhi praktik jasa keuangan yang diterima dan baik.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Program memiliki strategi yang jelas untuk menawarkan hibah versus pinjaman (lihat catatan
     pedoman 1).
    Prodik keuangan ditawarkan pada harga pasar tanpa subsidi bunga (lihat catatan pedoman 2).
    Standar dan praktik baik untuk jasa keuangan yang efektif sama dengan di lingkungan yang tak
                                                  20
     terpengaruh krisis (lihat catatan pedoman 3).
    Lembaga keuangan formal (yang bercita-cita mencapai tingkat ini) melakukan audit eksternal
     tahunan dan menerbitkan laporan keuangan bulanan berdasarkan standar akuntansi internasional
     (lihat catatan pedoman 4).

18
   Prinsip-prinsip ini didasarkan pada Consultative Group to Assist the Poorest (CGAP), “The Client Protection Principles in
Microfinance” (http://www.cgap.org/p/site/c/template.rc/1.26.4943), yang merupakan norma yang dikembangkan oleh industri
keuangan mikro (lihat lampiran 3 untuk informasi lebih lanjut)
19
   Ada sejumlah metodologi untuk penaksiran cepat kredit klien (lihat lampiran 3 untuk bacaan lanjutan).
20
   Lihat lampiran 3 untuk bahan bacaan dan panduan praktik yang baik.
                                                                                              Standar Jasa Keuangan - 41


    Lembaga non-formal dan berbasis komunitas memastikan bahwa metode tersedia untuk
     transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana (lihat catatan pedoman 5).
Catatan Pedoman
1.   Strategi yang jelas bagi hibah versus pinjaman: Di dalam beberapa situasi, penyuntikan uang tunai
     dan modal dalam bentuk hibah satu kali bagi rumahtangga dan bisnis mungkin diperlukan untuk
     memicu pembangunan dan penghidupan kembali serta memantapkan pendapatan. Saat
     mengembangkan strategi pembiayaan (untuk hibah atau pinjaman), program harus:
     a. menilai apakah kegiatan yang dibiayai akan memerlukan suntikan uang tunai atau bahan satu
        kali, atau jika kebutuhan pembiayaan bersifat siklus sehingga lebih berlanjut didanai lewat
        pinjaman; dan
     b. mengembangkan komunikasi konsisten tentang strategi pembiayaan, khususnya untuk hibah,
        dan menetapkan harapan bahwa penyediaan hibah adalah peristiwa satu kali.
     Contoh:
     (1) LSM membantu sekelompok perempuan membentuk koperasi untuk menjual keranjang dan
         barang kerajinan lain ke pasar lokal dan regional. LSM itu menyediakan hibah satu kali kepada
         mereka untuk membeli sebagian peralatan yang mereka perlukan bagi usaha itu, dan
         mengaitkan mereka dengan lembaga keuangan lokal untuk mendapatkan pinjaman guna
         membeli pewarna dan bahan lain yang mereka perlukan secara teratur untuk barang
         kerajinannya.
     (2) Memulai bisnis baru atau membeli sapi untuk kebutuhan pokok keluarga mungkin lebih cocok
         bagi hibah. Membeli persediaan atau meningkatkan jumlah ternak untuk produksi susu untuk
         pasar grosiran lokal dapat lebih cocok bagi pinjaman.
2.   Memasarkan penetapan harga: Produk dan jasa keuangan yang ditawarkan harus digerakkan oleh
     permintaan dari usaha dan rumahtangga, dan dihargai dengan harga pasar yang mencerminkan
     biaya dana, risiko dan transaksi. Ini akan memastikan bahwa produk dan jasa keuangan yang
     ditawarkan dapat diperbesar sehingga dapat diakses oleh sejumlah besar rumahtangga dan usaha
     yang terpengaruh. Sementara subsidi tingkat bunga mungkin menarik dalam jangka pendek, setelah
     donor awal meninggalkan daerah itu dan pasar normal kembali, kebergantungan klien kepada
     tingkat bunga yang rendah akan merusak kemampuannya untuk berhasil secara ekonomi. Selain itu,
     di daerah dengan biaya penyedia jasa keuangan, subsidi bunga dari sebagian pelaku dapat
     melemahkan kebertahanan jangka panjang pelaku lainnya yang memberi pinjaman dengan suku
     bunga pasar. Jenis subsisi ini, jika berkepanjangan, akan sangat mengacaukan pasar..21
3.   Standar dan praktik baik untuk jasa keuangan yang efektif: Walaupun keadaan setelah krisis
     mungkin ditandai oleh guncangan ekonomi, kerusuhan sipil, atau faktor lain yang melemahkan
     stabilitas, standar dan praktik baik jasa keuangan yang efektif harus tetap menjadi kaidah,
     mencakup perancangan produk berbasis kebutuhan, penilaian kredit, pendidikan keuangan, dan
     penilaian dampak. Sementara keluaran jasa keuangan ini mungkin tampak lain di dalam konteks
     pasca-krisis, penerapannya harus sama ketatnya dengan di dalam konteks non-krisis.




21
   Catatan pedoman ini tidak dimaksudkan untuk menyiratkan bahwa semua populasi dapat dan harus mengakses jasa keuangan
dengan harga pasar. Lihat Standar Akses ke Aset, jika ternyata bahwa jasa keuangan bukanlah intervensi yang tepat bagi populasi
target.
42 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


4.   Audit dan laporan keuangan bulanan: Kepatuhan kepada, dan promosi, standar akuntansi
     internasional akan memperkuat kesehatan keuangan dari lembaga keuangan, yang meningkatkan
     kemampuannya menyediakan jasa keuangan dalam jangka panjang.
5.   Akuntabilitas dan transparansi: Lembaga keuangan berbasis masyarakat atau kelompok sudah
     memiliki mekanisme bagi anggota untuk melacak penggunaan dana. Ini dapat mencakup buku besar
     kelompok dan/atau laporan rugi-laba serta pemeriksaan teratur angka-angka oleh berbagai anggota
     kelompok.

Standar Jasa Keuangan 5: Koordinasi dan Transparansi
       Penyedia jasa keuangan berkomunikasi secara proaktif dengan pemangku kepentingan
       yang relevan dan berkomitmen terhadap transparansi.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Program jasa keuangan mengoordinasikan sekumpulan luas pemangku kepentingan, mencakup
     donor, badan pemerintah, badan pertolongan dan pembangunan, dan penyedia jasa keuangan yang
     ada (lihat catatan pedoman 1).
    Penyediaan jasa keuangan dikoordinasikan bersama, dan terpisah dari, hibah dan kegiatan lainnya
     (lihat catatan pedoman 2).
    Implementasikan dan koordinasikan program yang melengkapi hibah dan kegiatan pemindahan aset
     yang ada demi dampak maksimum dalam mempromosikan pemulihan ekonomi (lihat catatan
     pedoman 3).
    Jika layak, organisasi mengoordinasikan sumber daya dan tujuan untuk mempromosikan
     pengembangan jasa dan industri keuangan (lihat catatan pedoman 4).
Catatan Pedoman
1.   Pelibatan pemangku kepentingan: Jasa keuangan melintas sektor ekonomi dan dipengaruhi oleh
     aneka faktor pasar, kebijakan, dan sosial. Koordinasi dini dengan beragam pemangku kepentingan
     membantu memastikan bahwa jasa keuangan berfokus secara efektif pada peluang dan melengkapi
     prakarsa pemulihan ekonomi lainnya di sektor lain (misalnya, kesehatan, pendidikan, naungan)
     dengan menyuntikkan modal yang diperlukan ke dalam ekonomi yang terpengaruh krisis. Ini juga
     menyumbang kepada keberhasilan jasa dan produk keuangan yang disediakan. Lembaga jasa
     keuangan dan organisasi yang menjembatani kerjanya harus memiliki strategi terkoordinasi bagi
     cara bekerja dengan donor, badan pemerintah dan pengatur, badan pertolongan dan pembangunan
     internasional dan nasional lainnya, dan penyedia jasa keuangan yang sudah ada (misalnya, asosiasi
     kredit dan bank).
2.   Menyediakan pesan yang tegas dan pencitraan atas kegiatan pinjaman versus hibah: Di lingkungan
     krisis, organisasi kemanusiaan mungkin melakukan jasa keuangan di samping karya pertolongannya.
     Sebaliknya, karena krisis, lembaga keuangan mapan dapat keluar dari ruang biasanya dan
     memutuskan untuk menawarkan hibah tunai darurat atau bantuan langsung. Dalam keadaan seperti
     itu, ada potensi kebingungan di kalangan klien tentang pengadaan antara hibah dan pinjaman, dan
     siapa yang berhak atas apa. Untuk menghindari kebingungan, organisasi harus, sedikitnya, bersikap
     transparan dan menyampaikan secara luas kelayakan dan syarat-syarat, melakukan kegiatan
     peminjaman melalui saluran berbeda dengan intervensi hibah. Ketika dua organisasi melakukan
                                                                                        Standar Jasa Keuangan - 43


       operasi hibah dan pinjaman di daerah yang sama atau menargetkan kelompok yang sama, keduanya
       harus memiliki mekanisme dan kriteria, serta saluran penyebaran informasi yang jelas, transparan
       dan menjangkau jauh.
       Contoh: LSM di daerah terpengaruh mengoperasikan program hibah yang memberikan aset kepada
       masyarakat terpengaruh sambil memiliki secara bersamaan program kedua yang menyediakan jasa
       keuangan. Untuk menghindari kebingungan di sisi penerima hibah dan klien jasa keuangan, kedua
       program menggunakan logo yang berbeda, menempati bangunan berbeda, dan merancang seragam
       staf yang berbeda, walaupun mereka secara teknis bagian dari organisasi yang sama.
3.     Koordinasi dengan kegiatan untuk pemulihan ekonomi serta tujuan lain: Jasa keuangan dapat
       menjadi pelengkap yang kuat bagi upaya lain untuk menghidupkan kembali ekonomi lokal dan
       sektor yang terpengaruh. Sebaliknya, koordinasi yang buruk dapat melemahkan kebertahanan jasa
       keuangan dan membatasi langkah dan peningkatan skala menyeluruh upaya jasa non-keuangan.
       Contoh: Kemampuan penduduk yang terpengaruh oleh gempa bumi 2005 di Pakistan untuk
       membuka rekening bank penting untuk memudahkan pembagian dana bantuan yang cepat dan
       transparan dari pemerintah dan lembaga lainnya. Ini memungkinkan pengerahan jasa keuangan
       pelengkap untuk memanfaatkan dampak menyeluruh pendanaan hibah yang berfokus pada sektor.
       Sering kali, program pemberi hibah mulai segera setelah bencana atau redanya konflik. Ketika
       menimbang-nimbang untuk mengenalkan komponen program pinjaman, program harus mencari
       pelengkap yang dengannya pinjaman atau jasa keuangan lainnya dapat memperkuat sasaran
       pemindahan aset yang dijembatani oleh hibah, sehingga memungkinkan penerima hibah
                                                        22
       menggunakan lebih lanjut aset yang diperolehnya.
       Contoh: Suatu organisasi yang membagikan hibah bagi bisnis pemula lalu memutuskan untuk
       memulai pinjaman bagi pengembangan bisnis. Program lain yang membagikan perabot ruang kering
       hangat menimbang pinjaman renovasi rumah.
4.     Koordinasi sumber daya dan tujuan: Program mungkin memiliki sejumlah besar dana untuk jasa
       keuangan dan gagasan sedari awal mengenai area prioritas. Kegagalan menyampaikan dan
       mengoordinasikan area prioritas dan alokasi sumber daya berakibat maksimal pada upaya ganda,
       dan minimal menciptakan penghalang aktif bagi keberhasilan dalam upaya rekonstruksi.
       Contoh:
       1) Di tahun 2003, Afghanistan membangun fasilitas untuk merampingkan pendanaan dan
          menyadari bantuan teknis guna mendukung lembaga lokal. Lima tahun kemudian, lembaga-
          lembaga yang didukungnya melayani lebih dari setengah juta klien dan sebagian besar telah
          menjangkau, atau sedang menjangkau, tolok banding utama keberlanjutan keuangan.
       2) Di Kosovo tahun 1999, semua organisasi internasional yang mendukung pembiayaan mikro di
          provinsi itu bersepakat untuk berperan serta dalam sebuah kelompok koordinasi. Bersama-
          sama, semua organisasi menyetujui standar implementasi pembiayaan mikro dan membangun
          biro informasi kredit. Sembilan tahun kemudian, kelompok ini masih aktif dan menjadi badan
          terdepan untuk menyiapkan standar pembiayaan mikro di Kosovo.

Standar Jasa Keuangan 6: Penurunan Risiko Krisis


22
     Untuk mengetahui standar koordinasi dengan program lain, lihat Standar Jasa Keuangan 5 and catatan pedoman 2.
44 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


       Penyedia jasa keuangan memiliki kebijakan untuk melindungi organisasi dan kliennya dari
       dampak yang disebabkan krisis.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Penyedia jasa keuangan mengadakan kebijakan untuk menekan risiko keuangan dari krisis (lihat
     catatan pedoman 1).
    Panduan untuk memastikan keamanan staf dan klien dibuat dan ditinjau secara rutin (lihat catatan
     pedoman 2).
    Penyedia jasa keuangan menetapkan harapan bagi dan menegakkan pembayaran utang.
    Penyedia jasa keuangan mengkaji dampak krisis yang berulang pada klien untuk menentukan
     kebutuhan akan penyesuaian (lihat catatan pedoman 2).
Catatan Pedoman
1.   Kesiapan kelembagaan: Organisasi yang menyediakan jasa keuangan di daerah yang terpengaruh
     oleh krisis yang berulang harus bersiap menghadapi peningkatan kembali konflik atau bencana
     lanjutan. Kebijakan dan prosedur untuk kesiagaan dan tanggapan krisis harus didokumentasikan,
     dengan revisi tahunan yang ditinjau oleh staf dan dewan pengurus. Demikian juga, sistem informasi
     manajemen lembaga harus dikembangkan untuk menghadapi bencana, dengan prosedur tentang
     operasi sistem selagi krisis yang terdokumentasi. Selain itu, di saat krisis, kemampuan lembaga
     untuk mengelola likuiditasnya (memenuhi kewajiban bayar secara tepat waktu) terancam. Klien
     mungkin menabung lebih sedikit atau malah berhenti sama sekali, lupa membayar pinjaman,
     menarik tabungan, dan meminta pinjaman darurat tambahan. Semua kejadian ini amat
     memengaruhi jumlah uang tunai yang masuk dan keluaran lembaga keuangan dan, bagi lembaga
     yang tak siap, berakibat dalam kekurangan likuiditas. Ukuran lain bagi kesiagaan krisis dapat
     mencakup mendiversifikasi portofolio menurut basis geografi atau sektor ekonomi, menawarkan
     jasa pengiriman uang, menawarkan produk asuransi, mensyaratkan tabungan wajib yang dapat
     diakses jika terjadi bencana, atau menyisihkan cadangan bulanan untuk menutupi potensi kerugian
     akibat krisis.
2.   Keamanan staf dan klien: Memastikan keamanan staf dan klien adalah penting di dalam semua
     kegiatan pemulihan, namun lebih penting lagi dalam intervensi jasa keuangan karena besarnya
     volume uang tunai yang ditangani. Organisasi harus berharap masa-masa risiko tinggi yang berulang
     dan memiliki kebijakan untuk menekan potensi bahaya bagi klien dan stafnya.
3.   Pengkajian kebutuhan klien: Klien lembaga jasa keuangan mungkin terpengaruh oleh krisis dengan
     aneka cara; sebagian mungkin mendapatkan kemampuan membayar utang dan kebutuhannya serta
     mengakses tabungannya terpengaruh secara permanen atau sementara. Penyedia jasa keuangan
     dalam lingkungan yang terpengaruh krisis perlu memahami dan siap menghadapi volatilitas ini dan
     menawarkan opsi yang dapat membantu klien melewati situasi tanpa membahayakan kebertahanan
     jangka panjang lembaga.
     Contoh: Organisasi yang ingin membantu klien menghadapi krisis mungkin memutuskan untuk
     membuat tabungan klien tersedia sesegera mungkin tanpa denda, menjadwalkan ulang pembayaran
     pinjaman, menghapuskan denda bagi keterlambatan pembayaran untuk masa yang ditetapkan, atau
     merundingkan ulang pinjaman untuk menjadikannya bebas bunga. Walaupun menghapus pinjaman
                                                                    Standar Jasa Keuangan - 45


tertentu suatu opsi, menjaga harapan pembayaran adalah penting bagi kemampuan organisasi
untuk terus meminjamkan uang.
46 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


Lampiran 3
Bacaan Lanjutan tentang Jasa Keuangan
Bruett, Tillman, Dan Norell, dan Maria Stephens, eds. 2004. “Conflict and Post-conflict Environments:
   Ten Short Lessons to Make Microfinance Work,” Progress Note No. 5. Washington DC: The SEEP
   Network. www.seepnetwork.org/files/2059_PN_5FINAL.pdf

CGAP. Web site. “Investor Initiative to Support Client Protection Principles in Microfinance.” 2008.
   http://www.cgap.org/gm/document-
   1.9.6002/Investor%20Endorsement%20of%20Client%20Protection%20Principles%20%2010-20-
   08.pdf

Das, Nureen. 2003. “A Critical Assessment of Micro Enterprise Development in Post-conflict
    Rehabilitation: A Study of Three MFIs in Kosovo.” PhD diss. Oxford: Oxford Center for Mission
    Studies. http://www.microfinancegateway.org/content/article/detail/3768

Docy, Shannon, Dan Norell, dan Shimeles Teferra. “The Emerging Role of Microfinance Programs in
   Mitigating the Impact of Natural Disasters: Summary Findings of an Impact Assessment of World
   Vision’s Ethiopian Affiliate.” Progress Note, no. 4. Washington DC: The SEEP Network, 2004.
   http://www.seepnetwork.org/files/2082_PN_4_Sept_2004.pdf

Doyle, Karen. Microfinance in the Wake of Conflict: Challenges and Opportunities. Washington DC:
   USAID/DAI Microenterprise Best Practices Project, 1998.
   http://www.microfinancegateway.org/files/1234_01234.pdf

Larson, Dave, Mark Pierce, Kenneth Graber, Karen Doyle, dan Max Halty. Technical Briefs on Post-
    Conflict Microfinance. Washington DC: USAID/DAI Microenterprise Best Practices Project, 2004.
    http://www.microlinks.org/ev_en.php?ID=7465_201&ID2=DO_TOPIC

    No. 1: “Main Summary”
    No. 2: “Developing a Post-Conflict Microfinance Industry”
    No. 3: “Developing Post-Conflict Microfinance Institutions: The Experiences of Liberia and Kosovo”
    No. 4: “Environmental Preconditions for Successful Post-Conflict Microfinance
    No. 5: “Searching for Differences: Microfinance Following Conflict vs. Other Environments”
    No. 6: “Security Issues for Microfinance Following Conflict”
    No. 7: “Microfinance for Special Groups: Refugees, Demobilized Soldiers, and Other Populations”
    No. 8: “Frequently Asked Questions on Basic Microfinance Concepts”

Nagarajan, Geetha. “Microfinance, Youth, and Conflict: Emerging Lessons and Issues.” microNOTE No. 4.
   Washington DC: USAID, 2005. http://www.microlinks.org/ev_en.php?ID=7123_201&ID2=DO_TOPIC

Nagarajan, Geetha, dan Michael McNulty. “Microfinance amid Conflict: Taking Stock ofAvailable
   Literature.” microNOTE No. 3 Washington DC: USAID, 2004.
   http://www.microlinks.org/ev_en.php?ID=8147_201&ID2=DO_TOPIC
                                                                              Standar Jasa Keuangan - 47


Nourse, Timothy. “Refuge to Return: Operational Lessons for Serving Mobile Populations in Conflict-
   Affected Environments.” microNOTE No. 1. Washington DC: USAID, 2004.
   http://www.microlinks.org/ev_en.php?ID=7122_201&ID2=DO_TOPIC

Parker, Joan C. “Finding a Role for Microcredit in Post-Conflict Reconstruction,” Development
    Alternatives 8, no. 1 (Summer 2002): 13–15.
    http://www.dai.com/pdf/developing_alternatives/beyond_chaos_summer_2002.pdf

The SEEP Network Savings-Led Financial Services Working Group, Ratios Sub-group. Ratio Analisis of
    Community-Managed Microfinance Programs. Washington DC: SEEP Network, 2008.
    http://www.seepnetwork.org/files/5905_file_Ratios_web_final.pdf

Welin, S., dan A. Hasting. Dokumen daring. “Post-Disaster and Post-Conflict Financial Services: Best
   Practices in Light of Fonkoze’s Experience in Haiti.” Kertas kerja yang disiapkan untuk Global
   Microcredit Summit 2006.
   http://www.microcreditsummit.org/papers/Workshops/32_WerlinHastings.pdf

Wilson, T. “Financial Services during and after Armed Conflict: Lessons from Angola, Cambodia,
    Mozambique, and Rwanda.” Dublin: Concern World Wide and Springfield Center for Business in
    Development, 2001.
                           Akses ke Aset




  Standar 1         Standar 2         Standar 3           Standar 4
Pemrograman    Pemrograman Aset     Aset Kelompok         Aset Tanah
    Ases       Jangka Pendek dan
                 Jangka Panjang




    Lampiran 4: Sumber Informasi dan Alat untuk Akses ke Aset
Standar Akses ke Aset
Standar Akses ke Aset 1: Pemrograman Aset
       Pemrograman aset dilakukan dengan cara yang memudahkan pemulihan ekonomi jangka
       panjang, sambil memperhitungkan masalah-masalah penargetan, kesetaraan,
       transparansi, dan keamanan.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Kegiatan yang menyediakan aset mengkaji kebertahanan kegiatan ekonomi penerima sebelumnya;
     kecakapan penerima, kapasitas teknis, dan prioritas; dan potensi keuntungan kegiatan ekonomi
     yang akan didukung, serta dampak lingkungannya (lihat catatan pedoman 1).
    Program menyampaikan dengan jelas kepada penerima penggunaan yang dibolehkan dari aset yang
     dipindahkan (lihat catatan pedoman 2).
    Penerima bantuan memutuskan sendiri hal-hal yang menyangkut pemulaian kembali dan
     pengembangan kegiatan ekonominya.
    Penyediaan aset tidak mencampuri atau menyaingi kegiatan pemulihan ekonomi lainnya, semisal
     jasa keuangan (lihat catatan pedoman 3).
    Program mengkaji potensi dampak pada pasar lokal saat mengadakan dan membagi aset (lihat
     catatan pedoman 4).
    Sumber nafkah baru, teknologi, penggunaan tanah, dan/atau metode yang ditingkatkan dimulai
     hanya ketika kapasitas kini dan implikasi bagi pasar lokal, praktik budaya, dan lingkungan dipahami
     dan diterima (lihat catatan pedoman 5).
    Keputusan menyangkut metodologi program memasukkan keamanan aset, ketersediaan lokal,
     kecepatan, efisien biaya, dan kekuasaan membuat keputusan penerima (lihat catatan pedoman 6).
    Program mengkaji potensi risiko terhadap keamanan fisik penerima, asetnya, dan pendapatan yang
     dihasilkan, serta mengambil langkah-langkah mengatasi risiko ini sebelum memindahkan aset.
Catatan Pedoman
1.   Pengkajian penyediaan aset: Pemrograman aset untuk maksud produktif hanya akan bekerja jika
     penerimanya siap dan mampu menggunakan aset yang digantikan atau disediakan, dan jika
     penggunaan aset akan berakibat pada sumber nafkah yang dapat bertahan bagi penerima. Selain
     itu, program mungkin perlu meniumbang dampak lingkungan aset yang digunakan (apakah
     digantikan atau diberikan untuk pertama kali) dan melihat alternatif yang mungkin lebih dapat
     berkelanjutan secara lingkungan.
2.   Penggunaan aset: Beberapa program memiliki panduan ketat bahwa semua aset yang digantikan
     atau diberikan harus untuk maksud produktif. Program lain berfokus lebih pada kebebasan
     penerima membuat keputusan menyangkut sumber nafkahnya sendiri. Untuk jenis kedua program,
     ada ruang gerak lebih bagi penerima untuk menjual aset, menyimpan uang tunai dan kupon hingga
     saat yang lebih baik, dan membuat keputusan strategis lainnya. Program harus menyampaikan
     dengan jelas sasaran dan kriterianya, serta hukuman akibat mengabaikan aturannya. Jenis pertama
50 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


     program mungkin memerlukan perjanjian yang lebih terinci dengan penerima dan sistem
     pemantauan yang lebih mendalam daripada jenis kedua.
     Contoh: Sebuah program menggunakan model asuransi untuk menggantikan aset yang lenyap
     sewaktu krisis. Tiap penerima bantuan diberi uang tunai yang bernilai sama dengan aset yang hilang
     hingga ke suatu pagu yang ditetapkan. Para penerima dibolehkan menggunakan uang tunai itu
     berdasarkan keadaan masing-masing, misalnya mengganti aset yang hilang, membeli aset yang lain,
     atau menggunakannya untuk kebutuhan lain keluarga.
3.   Persaingan dengan prakarsa pemulihan ekonomi lainnya: Karena banyak kegiatan pemulihan dan
     perlindungan aset melibatkan pemberian dana atau barang kepada penerima, kehatian-hatian harus
     diterapkan sewaktu berkoordinasi dengan program lain di area yang berpendekatan dengan jangka
     lebih panjang dan mungkin mensyaratkan komitmen lebih dari penerima. Dalam keadaan tertentu,
     penyebaran aset dapat menjadi kait ke kegiatan pemulihan berjangka panjang, misalnya, dengan
     mendayakan wirausaha mikro untuk memulai kembali dengan cepat bisnisnya sehingga dapat
     berperan serta dalam kegiatan pengembangan pasar. Tetapi, penyebaran aset dapat mencampuri
     tanpa sengaja upaya pemulihan jika menggunakan rantai atau penargetan penyebaran yang tidak
     patut. Misalnya, penyebaran luas barang yang dibeli secara eksternal dapat melemahkan upaya
     mengembangkan pemasok lokal bagi produk itu.
     Contoh: Setelah sebuah kebakaran, suatu program menyediakan kupon bahan bangunan untuk
     membangun kembali toko kecil dan kios pasar. Program ini lalu mengait ke lembaga pembiayaan
     mikro local dengan dana pinjaman khusus untuk membantu mengganti modal kerja. Melalui
     prakarsa bersama ini, bisnis yang terpengaruh mampu memulai kembali sumber nafkahnya dan
     menggunakan sumber modal bisnis jangka panjang.
4.   Pengaruh pada pasar lokal: Pengkajian perlu memperhitungkan pengaruh penyebaran aset pada
     pasar lokal dan menimbang aneka persoalan di sisi pasokan pada baik pembelian maupun
     penyebaran aset (misalnya, cara pengadaan lokal dapat memengaruhi ketersediaan barang bagi
     orang lain). Program juga harus menimbang manfaat dan potensi pendorong inflasi dari biaya
     membeli aset secara lokal atau regional (versus biaya lebih tinggi dan kesulitan logistik jika
     mengadakan aset secara eksternal), efek substitusi penerima yang menerima barang gratis atau
     uang tunai, dan dampak pada usaha dan organisasi mitra lokal, khususnya usaha kecil dan
     menengah.
     Contoh: Sebuah program membeli peralatan pertanian dasar (sabit, gerobak, dll) dari pedagang
     grosir lokal dan membagikannya kepada para petani untuk mengganti perkakas yang hilang selagi
     banjir. Pesanan besar ini memberi si pedagang grosir uang tunai yang perlu untuk menimbun
     kembali barang-barang lain dan meningkatkan ketersediaan umum pasokan pertanian di daerah
     terpengaruh.
5.   Teknologi baru: Mengenalkan spesies, teknologi, atau metodologi baru ketika menyediakan aset
     dapat sangat berhasil dari segi penghematan waktu dan tenaga atau peningkatan hasil dan
     pendapatan. Namun, jika tidak cukup riset dan tindak lanjut untuk mengkaji kecocokannya dengan
     situasi saat ini, mungkin ada dampak yang tak diinginkan pada pasar, produksi jangka panjang, dan
     lingkungan. Kemampuan penerima untuk menggunakan atau menjaga aset baru atau melanjutkan
     cara-cara produksi baru adalah pertimbangan yang penting. Mengkaji potensi
     penjualan/pendapatan nyata yang dihasilkan dari aset baru baik dalam jangka pendek maupun
     panjang juga penting. Pelatihan bagi kecakapan teknis atau perawatan aset baru mungkin perlu,
     maupun kait dengan pasar.
                                                                             Standar Akses ke Aset - 51


     Contoh: Petani tadinya menggunakan kerbau untuk membajak sawah, namun ternaknya mati
     sewaktu bencana alam. Sebuah program membawa masuk traktor untuk menggantikan kerbau,
     namun biaya petani tidak mampu membeli bahan bakar untuk menjalankan mesin itu. Maka,
     program harus mencari alternatif atau menemukan cara membantu petani mendapatkan akses ke
     bahan bakar, suku cadang, dan dukungan perawatan dengan jalan yang berkelanjutan selama jangka
     panjang.
6.   Mengenali sarana penyebaran aset: Diskusi besar masih berlangsung menyangkut penggunaan
     strategi berbasis uang tunai bagi penggantian aset versus penyediaan langsung aset. Metode yang
     patut bergantung pada lingkungan kerja dan sasaran program. Pemindahan uang tunai telah
     menjadi makin umum belakangan ini karena efisien dan kecepatan implementasi program;
     dukungan yang diberikan kepada pasar lokal; dan kekuasaan pengambilan keputusan penerima
     untuk memilih membeli apa, kapan, dan di mana. Penggunaan kupon (untuk membeli produk atau
     layanan tertentu dari beragam pemasok) adalah opsi tengah-tengah yang membatasi cara uang
     digunakan namun memberikan penerimanya kebebasan memilih sumber. Sama dengan itu, konsep
     perlindungan sosial juga diterapkan banyak praktisi dan donor di situasi pemulihan pasca-darurat.
     Sejumlah dokumen memberikan penjelasan dan analisis lebih dalam metodologi ini, beberapa di
     antaranya tercantum dalam Apendiks 1.
     Contoh: Penerima bantuan menerima kupon seharga Rp 4.000.000 untuk membeli pasokan bisnis
     yang dibutuhkan di toko lokal yang menjual peralatan, perkakas, dan mesin. Penerima diizinkan
     memilih pasokan yang diperlukannya berdasarkan pengkajian mereka atas permintaan pasar saat
     ini, dan diberi waktu enam bulan untuk menggunakan kupon.
     Contoh penggantian aset: Rumahtangga diberi uang tunai untuk menggantikan ternak yang hilang
     selagi bencana alam.
     Contoh perlindungan aset: Rumahtangga desa diberi uang tunai, barang bukan pangan, atau
     pangan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan mencegah penjualan aset produktif.
     Contoh sarana menyampaikan aset: Satu jenis penggantian aset mungkin mengkaji nilai aset yang
     hilang dan lalu menggantinya. Program lain membagikan satu jenis aset, misalnya hewan ternak,
     kepada semua penerima yang ditargetkan. Program jenis lainnya memberikan uang tunai atau
     sumber daya lain untuk mendapatkan kembali aset atau mencegah penjualan aset produktif.
     Program mungkin juga melibatkan solusi pasar untuk mejual aset yang produktifitasnya menurun,
     misalnya ternak yang kurang sehat, atau panenan di pasar yang kelebihan pasokan.

Standar Akses ke Aset 2: Pemrograman Aset Jangka Pendek dan Jangka Panjang
       Program aset jangka pendek mencapai penggantian dan pemeliharaan dasar aset
       produktif yang ada; sementara pemrograman jangka panjang menghasilkan pertumbuhan
       aset sebagai akibat peningkatan kapasitas ekonomi penerima bantuan.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Sasaran program aset selaras dengan lama dan jadwal program (lihat catatan pedomans 1 and 2).
    Program mengukur atau menunjukkan dengan model sebab-akibat kenaikan jangka panjang dalam
     pendapatan, aset, penjualan, atau pemekerjaan bagi penerima bantuan.
    Program mengukur atau menunjukkan dengan model sebab-akibat kenaikan jangka panjang dalam
     ketahanan terhadap bencana di masa depan bagi penerima bantuan akibat intervensi aset.
52 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


    Program sudah memiliki strategi peralihan ke penyediaan layanan berkelanjutan jangka panjang
     (lihat catatan pedoman 3).
Catatan Pedoman
1.   Pemrograman aset jangka pendek: Pemrograman aset jangka pendek ditujukan pada penggantian
     dan pemeliharaan aset produktif dasar, biasanya segera setelah krisis. Sedikit atau tidak ada upaya
     dibuat untuk meningkatkan aset atau menyediakan pembangunan ekonomi tambahan. Akan tetapi,
     bahkan di tahap-tahap segera, program harus menimbang potensi pengaruh jangka panjang
     pemindahan aset dan mulai menandai cara-cara program aset dapat mengait ke pemrograman
     jangka yang lebih panjang.
2.   Pemrograman aset jangka lebih panjang: Program aset berjangka lebih panjang itu lebih rumit
     daripada program aset segera. Program berjangka panjang menggunakan penggantian dan
     pemeliharaan aset untuk mengembangkan dan meningkatkan kegiatan dan bisnis penghasil
     pendapatan. Jenis program ini dapat mencakup bantuan teknis, kait pasar, dan kegiatan tambahan
     untuk meningkatkan kegiatan ekonomi penerima bantuan. Dalam hal ini, subsidi tidak boleh
     diberikan tanpa analisis menyeluruh kepantasannya dan dampaknya pada keberlanjutan jangka
     panjang.
     Contoh: Petani diberi varietas biji hibrida baru untuk meningkatkan produktifitas pertanian,
     bersama dengan pelatihan tentang cara merawat varietas baru itu. Petani juga disambungkan ke
     program pengembangan pasar tentang meningkatkan jaringan angkutan bagi komoditas pertanian.
3.   Strategi keluar dan peralihan: Program pemindahan aset, bahkan yang berjangka pendek, harus
     memikirkan secara aktif untuk membantu klien mengait ke pemrograman yang berkelanjutan,
     seperti jasa keuangan atau pengembangan usaha. Ini harus ditawarkan oleh organisasi lain di daerah
     bersangkutan. Lihat Standar Jasa Keuangan, Standar Pengembangan Usaha, dan Standar Umum 6
     untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Standar Akses ke Aset 3: Aset Kelompok
       Intervensi untuk memelihara, mengganti, dan menumbuhkan aset lewat mekanisme
       kelompok memiliki struktur tata kelola dan pengelolaan, serta didasarkan pada analisis
       dan pengkajian biaya-manfaat yang tepat terhadap implikasi pasar lokal.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Pemindahan aset kelompok dipilih setelah pertimbangan faktor-faktor ekonomi, budaya, dan
     lingkungan yang saksama (lihat catatan pedoman 1).
    Program memilih mekanisme aset kelompok hanya jika skala keekonomian atau dampak manfaat
     dan/atau hasil yang lebih besar tampak jelas atau diisyaratkan melalui pengkajian.
    Dampak buruk yang mungkin pada pasar lokal dari produksi, pengolahan, dan pengedaran kelompok
     yang lebih besar dan mengumpul dikaji, dipahami, dan dikurangi jika mungkin.
    Strategi untuk pengerahan kelompok menimbang kerjasama dengan atau melalui kelompok yang
     ada di dalam masyarakat (lihat catatan pedoman 2).
                                                                             Standar Akses ke Aset - 53


    Pemiliham dan pembentukan kelompok dilakukan dengan fokus pada keberhasilan ekonomi;
     penerima di kalangan masyarakat dan budaya yang lebih luas; dan masalah-masalah yang
     menyangkut keragaman, kesetaraan gender, dan kerentanan (lihat catatan pedoman 3).
    Pendaftaran kelompok mematuhi hukum lokal dan nasional jika relevan.
    Struktur pengelolaan kelompok, mengacu khusus ke jenis kelompok, jelas. Peran dan
     tanggungjawab semua anggota, mencakup atas pemeliharaan dan layanan aset yang berjalan,
     tergambarkan dan dipahami (lihat catatan pedoman 4).
    Intervensi aset kelompok menyediakan pelatihan yang pantas dan tepat waktu kepada anggota
     kelompok mengenai dinamika kelompok, tata kelola, pengelolaan, dan penyelesaian konflik.
    Skema berbagi manfaat, penggunaan/akses, dan pemilikan setara, transparan, dipahami, dan
     diterima oleh anggota kelompok (lihat catatan pedoman 5).
Catatan Pedoman
1.   Memilih aset kelompok: Aset kelompok cenderung besar dari segi ukuran, nilai, dan skala (misalnya,
     mesin, infrastruktur, teknologi baru). Biaya dan manfaat pemindahan aset kelompok, dibandingkan
     dengan pemindahan aset perorangan, harus dinilai secara saksama. Mekanisme kelompok sering
     dipilih karena aset yang terlibat akan digunakan oleh lebih dari segelintir orang, manfaat akan
     diterima oleh seluruh masyarakat, dan/atau nilai aset terlalu besar untuk diberikan kepada satu
     orang. Sebelum program aset berbasis kelompok dimulai, tim harus melakukan pengkajian pasar
     untuk memastikan bahwa pasar dapat menanggung kenaikan terharapkan dalam produksi barang.
     Kesulitan dalam membangun bisnis yang sukses terbentuk di seputar aset kelompok harus
     ditimbang dan dipahami sepenuhnya. Selain itu, program harus menentukan apakah struktur
     kelompok tepat dalam situasi itu. Faktor-faktor yang harus ditimbang mencakup waktu untuk
     membangun atau memperkuat kelompok, sikap budaya terhadap pembentukan kelompok, tata
     kelola kelompok, masalah peraturan, dan potensi penyalahgunaan aset (lihat catatan pedomans 3
     and 5).
     Contoh: Sekelompok perempuan memulai usaha pemanggangan roti setelah menentukan
     keterpasarannya dan setelah sebuah program pelatihan membantu mereka menghitung
     pendapatan dan biaya terharapkan (expected). Pembagian kerja dan penjadwalan memungkinkan
     mereka menjaga operasi oven selama 24 jam, membantu mereka memaksimalkan imbal atas
     investasi aset tetap dan besar. Program penggantian aset memberi mereka perlengkapan dasar dan
     mereka dikaitkan dengan lembaga jasa keuangan tempat mereka mengambil pinjaman kelompok
     untuk menutup biaya operasi awal.
2.   Struktur kelompok yang ada versus baru: Penggunaan struktur kelompok yang ada dapat
     menghemat waktu dan sumber daya, namun menilai kesetaraan dan transparansi struktur
     kelompok yang sudah ada itu penting, untuk memastikan apakah ada potensi bias dan penyisihan
     yang dapat menjadi titik perselisihan nantinya. Ini relevan khususnya di lingkungan pasca-konflik.
     Program juga dapat mengadaptasi struktur kelompok yang sudah ada, menggunakannya sebagai
     landasan untuk memperkuat kapasitas dan memfokuskan anggota kelompok pada intervensi aset
     tertentu. Jika tidak ada struktur kelompok lama, bahwa cukup waktu dan sumber daya diberikan
     untuk merampungkan pembentukan kelompok dengan kesetaraan dan transparansi adalah penting.
     Pada beberapa situasi, waktu yang diperlukan untuk mengembangkan kapasitas struktur kelompok
     yang baru lahir mungkin tidak tersedia, sehingga pemindahan aset perorangan mungkin solusi lebih
     tepat.
54 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


3.   Pemilihan anggota kelompok: Jika suatu program memilih untuk membentuk kelompok baru, ada
     beberapa faktor penting yang harus ditimbang. Pertama dan terutama, pembentukan kelompok
     harus memiliki kecenderungan tinggi untuk berhasil dalam mengelola aset demi keuntungan
     ekonomi. Program harus memastikan bahwa campuran kelompok dapat diterima di kalangan
     masyarakat dan budaya yang lebih luas, idealnya melalui proses yang dialogis dan transparan. Ini
     sering mencakup mengandalkan pemimpin masyarakat untuk mengenali anggota kelompok; namun,
     ini dapat makin menguatkan ketimpangan politik yang ada. Program mungkin juga harus
     menimbang aneka persoalan, seperti keragaman, kesetaraan gender, kerentanan, dan peredaan
     konflik.
4.   Pengelolaan dan tanggungjawab kelompok: Kapasitas kelompok untuk mengelola aset harus
     ditentukan dengan jelas. Jika ada kesenjangan, pelatihan yang cukup harus disediakan. Kebutuhan
     khusus akan teknologi yang lebih baru, seperti ketersediaan suku cadang, kapasitas perbaikan dan
     perawatan, dan penggunaan energi perlu dinilai dan ditimbang-timbang dengan jelas.
     Contoh: Untuk aset yang memerlukan rencana perawatan dan gilir waktu sederhana seperti traktor,
     struktur kelompok yang sederhana dan kurang formal sudah cukup. Untuk aset yang memerlukan
     pengelolaan yang lebih rumit, seperti peralatan pengolahan yang memerlukan perawatan teratur,
     akses ke utilitas, dan rencana gilir waktu, struktur kelompok formal dengan peran manajemen,
     sedikit penggantian, dan dewan pengawas resmi mungkin lebih tepat.
5.   Kesetaraan dan transparansi dalam kelompok: Di dalam pengelolaan kelompok atas aset mana
     pun, peran, tanggung jawab, pembagian biaya, dan pembagian keuntungan harus didokumentasikan
     dengan jelas dan disetujui oleh semua anggota kelompok. Potensi korupsi, penyerobot jatah, dan
     penyalahgunaan aset di dalam kelompok harus dibahas di dalam pelatihan pengelolaan kelompok
     atau ketika mendukung pengelolaan kelompok. Orang atau kelompok kepentingan di dalam
     masyarakat yang lebih besar mungkin berupaya mendominasi atau mengooptasi aset kelompok;
     bahaya ini harus ditimbang dan, jika mungkin, dikurangi. Contoh: sebuah kelompok diberi mesin
     pengolah ikan setelah menyepakati rencana tertulis untuk mengorganisasikan diri, mengelola
     kegiatan, dan berbagi keuntungan.

Standar Akses ke Aset 4: Aset Tanah
       Perorangan dan masyarakat mengetahui dan memiliki akses ke informasi, layanan, dan
       produk untuk melindungi dan memelihara kondisi tanah mereka dengan cara yang setara
       di masa krisis.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Program aset menimbang kerentanan kelompok menyangkut aset tanah dan menyediakan layanan
     untuk menguranginya jika mungkin (lihat catatan pedoman 1).
    Intervensi aset tanah mencakup penyedia informasi, pembangunan kapasitas, dan mekanisme
     perlindungan bagi masyarakat yang terpengaruh (lihat catatan pedoman 2).
    Program pemulihan ekonomi menimbang kegiatan analisis kebijakan dan pembelaan menyangkut
     hak tanah, sebagaimana diperlukan dan sesuai dengan kapasitas organisasi (lihat catatan pedoman
     3).
Catatan Pedoman
                                                                            Standar Akses ke Aset - 55


1.   Kelompok rentan: Tanah adalah aset paling berharga dan paling produktif yang dimiliki penerima
     bantuan program. Setelah krisis, penduduk lokal rentan utamanya terhadap kehilangan aset ini
     akibat spekulasi atau penyitaan tanah. Kaum perempuan, para janda, dan/atau kelompok penduduk
     asli khususnya rentan, terutama jika konflik yang mendasari berakar dalam pertikaian etnis.
     Sementara organisasi mungkin tidak mampu menjawab langsung situasi ini, program dapat
     memperhitungkan masalah ini, memastikan bahwa semua penerima bantuan memahami hak-
     haknya, dan mengenali strategi dan intervensi yang melindungi kepemilikan tanah melalui
     penguatan hak dan aset di daerah lain atau setidaknya tidak makin membahayakan hak tanah.
2.   Intervensi aset tanah: Ini dapat mencakup penyediaan informasi tentang undang-undang dan
     peraturan saat ini dan mendatang tentang kondisi tanah, pembangunan kapasitas tentang kebijakan
     dan kerangka kerja hukum, atau penyediaan mekanisme perlindungan (yang meliputi pemindaan
     aset lain) untuk menghadapi penjualan paksa tanah.
     Contoh: Sebuah program memberitahu kaum perempuan tentang undang-undang baru yang
     mensyaratkan kepemilikan bersama suami-istri atas tanah dan membantu keluarga melengkapi
     surat-surat pendaftarannya.
     Orang berkonsultasi dengan penasihat hukum di kantor penjangkauan LSM untuk membantu
     melengkapi proses pemerintah untuk menerima dokumen hak tanah baru, setelah dokumen
     dihanyutkan oleh tsunami.
3.   Intervensi kebijakan: Tidak semua organisasi memiliki kapasitas untuk terlibat dalam pembelaan
     kebijakan, dan tidak juga selalu pemerintah mampu atau mau berfokus pada masalah ini. Namun,
     jika layak, pembelaan dapat mencakup dukungan bagi perlindungan hak tanah bagi kelompok
     rentan. Satu bentuk keterlibatan mungkin meliputi analisis kebijakan untuk menyebarkan informasi
     yang akurat kepada masyarakat (lihat catatan pedoman 2), peranserta dalam sesi penerangan
     bersama, dukungan terhadap penilaian tanah dan upaya pemberian hak oleh pemerintah atau
     organisasi lokal, atau penguatan kapasitas pemerintah untuk mengembangkan kebijakan tanah dan
     kerangka kerja hukum.
     Contoh: Sebuah program membantu pemerintah membuat draf keputusan yang membekukan
     semua penjualan tanah selama enam bulan setelah bencana alam untuk melindungi pemukim dari
     calo tanah. Program lalu ikut berperan dalam kampanya informasi publik untuk menyampaikan
     keputusan itu kepada masyarakat.
56 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


Lampiran 4
Sumber Informasi dan Alat untuk Akses ke Aset
Harvey, P. “Cash-based Responses in Emergencies.” HPG Briefing Paper 25. London: Overseas
   Development Institute, Humanitarian Policy Group, 2007. http://www.odi.org.uk/resources/hpg-
   publications/policy-briefs/25-cash-based-responses-emergencies.pdf. Diakses 19 Februari 2009.
   Rujukan untuk penggunaan tepat uang tunai.

Harvey, P., dan J. Lind. “Dependency and Humanitarian Relief: A Critical Analisis.” HPG Research Report
   19. London: Overseas Development Institute, Humanitarian Policy Group, 2005. Diakses 19 Februari
   2009.http://www.odi.org.uk/resources/hpg-publications/reports/19-dependency-humanitarian-
   relief-critical-analysis.pdf.
   Memberikan pembahasan yang merangsang pemikiran tentang masalah kebergantungan dalam
   konteks pertolongan kemanusiaan dan pemulihan.

Hendricks, L., dan P. Meagher. Dokumen daring. Women’s Property Rights and Inheritance in
   Mozambique: Report of Research and Fieldwork. Economic Development Unit Learning Series, no. 1.
   Care: 2007. http://edu.care.org/Documents/Property%20Rights%20in%20Mozambique.pdf. Diakses
   19 Februari 2009.

ICRC dan International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies. Guidelines for Cash Transfer
    Programs. Geneva: ICRC and International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies, 2007.
    http://www.icrc.org/Web/eng/siteeng0.nsf/htmlall/publication-guidelines-cash-transfer-
    programming/$File/Final-version-of-mouvement-guidelines.pdf. Diakses 19 Februari 2009.
    Alat tentang cara dan waktu menerapkan program transfer uang tunai.

LEGS Steering Group. Livestock Emergency Guidelines and Standards. Akan datang 2009.
   http://www.livestock-emergency.net/. Diakses 19 Februari 2009.
   Pedoman multi-organisasi tentang kegiatan seputar ternak di lingkungan pasca-darurat.

Longley, C., I. Christoplos, and T. Slaymaker. “Agricultural Rehabilitation: Mapping the Linkages between
   Humanitarian Relief, Social Protection, and Development.” HPG Research Report 22. London:
   Overseas Development Institute, Humanitarian Policy Group, 2006.
   http://www.odi.org.uk/resources/hpg-publications/reports/22-agricultural-rehabilitation-
   humanitarian-relief-social-protection-development.pdf. Diakses 19 Februari 2009.
   Membahas persoalan cara mendukung pemulihan sumber nafkah di keadaan pasca-konflik, dan
   menyatukan konsep perlindungan sosial dengan konsep pasca-darurat, yang mencakup pengalihan
   aset dan dukungan sumber nafkah yang lebih luas.

Shore, C. Economic Continuum. Monrovia, CA, USA: World Vision International. 2006.
   Alat menjadwalkan kegiatan.

Taylor, A., J. Seaman, and Save the Children/UK. Targeting Food Aid in Emergencies. Emergency
    Nutrition Network Special Supplement, no. 1. Oxford: ENN, 2004.
    http://www.ennonline.net/fex/22/supplement22.pdf. Diakses 19 Februari 2009.
    Pembahasan bermanfaat penargetan transfer sumber daya yang dapat diterapkan pada penyediaan
    dan perlindungan aset.
                                                                          Standar Akses ke Aset - 57


U.K. Department for International Development. Dokumen daring. Sustainable Livelihood Approach
    (Sustainable Livelihood Framework). Seri tujuh bagian Lembar Pedoman. London: DFID, 1999.
    http://www.eldis.org/index.cfm?objectid=42B0EF43-E4B7-FB32-
    9CE720C904CB143A&id=2&pageNo=2. Diakses 19 Februari 2009.

World Vision International. “Household Coping Strategies.” In Transformational Development Core
   Documents. Monrovia, CA, USA: World Vision International, 2002. http://www.transformational-
   development.org. Diakses 19 Februari 2009.
   Alat penargetan yang patut.
              Standar Penciptaan Pekerjaan




                       Standar 1
                 Pemekerjaan yang Pantas

Lampiran 5: Sumber Informasi dan Bacaan Lanjutan tentang Penciptaan
                             Pekerjaan
Standar Penciptaan Pekerjaan
Standar Penciptaan Pekerjaan 1: Pemekerjaan yang Pantas
       Orang memiliki akses yang setara terhadap pemekerjaan yang pantas dengan upah yang
       adil yang tidak mengacaukan sumber daya yang diperlukannya demi sumber nafkahnya. 23


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Intervensi pemekerjaan jangka pendek yang digunakan untuk menyediakan aliran pendapatan
     segera dan membangun aset yang terkait dengan strategi pemekerjaan jangka panjang yang
     mempromosikan potensi bagi pemekerjaan berkelanjutan di masa depan (lihat catatan pedoman 1).
    Strategi program dan kegiatan terkait didasarkan pada analisis pasokan dan permintaan tenaga
     kerja, produk, dan layanan, dengan keluwesan yang memungkinkan perubahan kondisi (lihat catatan
     pedoman 2). 24
    Rancangan program menimbang pembangunan kapasitas yang diperlukan untuk menciptakan
     pemekerjaan berkelanjutan bagi kelompok target (lihat catatan pedoman 3).
    Ukuran penciptaan pekerjaan mendukung dan mendorong kondisi pemekerjaan yang pantas dan
     adil (lihat catatan pedoman 4).
    Intervensi penciptaan pekerjaan mengkaji lingkungan operasi yang lebih luas dan memasukkannya
     ke dalam rancangan proyek (lihat catatan pedomans 5 and 6).
Catatan Pedoman
1.   Intervensi jangka pendek: Dalam lingkungan krisis, intervensi untuk mendorong pemekerjaan
     jangka pendek sering digunakan sebagai sarana a) memekerjakan kelompok rentan/mengambang
     dalam jangka pendek hingga terserap di tempat kerja; b) menyuntikkan dana ke ekonomi lokal; c)
     menyediakan bantuan mudah tukar bagi rumahtangga ug digunakan jika dipikirnya perlu; dan/atau
     d) memulihkah infrastruktur lokal. Karena intervensi dirancang untuk menyediakan pekerjaan hanya
     dalam jangka pendek, keterbatasan ini harus disampaikan dengan jelas kepada peserta demi
     meredam harapan pemekerjaan jangka panjang. Kapan sejak mungkin, intervensi jangka pendek
     harus dimanfaatkan untuk memperkuat potensi peserta bagi pemekerjaan jangka panjang. Ini dapat
     dicapai dengan mengenali dan memindahkan kecakapan dalam intervensi jangka pendek yang
     meningkatkan daya tarik peserta untuk dipekerjakan dalam jangka panjang di industri yang
     bertumbuh atau ada permintaan tenaga kerja yang tidak terpenuhi.
2.   Intervensi berbasis pasar: Strategi dan intervensi program harus beralaskan riset atas tren dan
     permintaan pasar. Riset untuk menentukan permintaan mencakup memeriksa sumber pemekerjaan
     saat ini dan yang tumbuh, dan sistem dan sumber daya pengembangan tenaga kerja yang ada di
     sektor pemerintah dan swasta. Sektor swasta harus diajak bicara dan, jika mungkin, ditarik sebagai
     mitra, untuk memastikan bahwa kumpulan kecakapan yang dikembangkan memenuhi permintaan
     pasar dan menyediakan peluang penempatan, pembimbingan, dan pengembangan tenaga kerja

23
   Definisi menurut Buku Pegangan Sphere, “Food Security Standar 3: income and employment”
(http://www.sphereproject.org/content/view/60/84/lang,English/)
24
   Lihat Buku Pegangan Sphere, “Food Security Standar 4: access to markets”
(http://www.sphereproject.org/content/view/61/84/lang,English/)
60 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


     yang sinambung ketika intervensi selesai. Pemantauan berkala juga diperlukan untuk memastikan
     daya tanggap terhadap tren pasar, dengan menempatkan mekanisme untuk memperbarui
     intervensi tenaga kerja seraya tren baru atau berubah terlihat.
3.   Pengembangan modal manusia: Dalam mengenali opsi pemekerjaan yang mampu bertahan,
     pendidikan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pemekerjaan—dan kelayakan—dengan
     pelatihan dan dukungan lain harus ditimbang. Kebutuhan ini dapat lebih besar bagi kelompok yang
     membutuhkan dan rentan dan menyisihkan peluang tertentu sekalipun besarnya potensi. Program
     harus menganalisis kebutuhan untuk menyediakan pelatihan mengenai kecakapan hidup, seperti
     membaca, kepemimpinan, dan komunikasi, serta kebutuhan dukungan dan bimbingan psikologis.
4.   Mutu pemekerjaan: Dalam menilai peluang pemekerjaan, faktor-faktor berikut harus
     diperhitungkan:
     a.   Tingkat pengupahan pantas, dengan menimbang upah tenaga kerja lokal, dan pembayaran bagi
          pekerja berupah tepat waktu dan berkala.
     b.   Ada prosedur untuk menyediakan suatu lingkungan keja yang aman dan selamat, mencakup
          perjalanan yang aman ke dan dari tempat kerja.
     c.   Peluang pemekerjaan dapat diakses dengan setara oleh kaum perempuan dan laki-laki; mereka
          yang dari etnis lain; kaum muda yang cukup umur untuk bekerja; dan semua kelompok dalam
          masyarakat, mencakup jika relevan masyarakat penampung, pengungsi sekawasan, pengungsi,
          pengungsi yang pulang, dan petempur yang lepas tugas (demobilized).25
     d.   Strategi program harus menimbang perlindungan anak, menghormati umur kerja minimum, dan
          tidak mengabaikan tanggungjawab orang untuk merawat rumahtangganya.
5.   Lingkungan operasi: Rancangan program menimbang lembaga pemerintah dan kebijakan lokal,
     serta norma informal yang mengatur pasar tenaga kerja, untuk meyokong keberlanjutan dan
     mengembangkan lingkungan bisnis dan kebijakan yang mendukung. Ini dapat dibuktikan lewat
     pengkajian di awal cara faktor-faktor tersebut memengaruhi pasar tenaga kerja dan industri yang
     disasar bagi pengembangan tenaga kerja.




25
   Lihat Sphere Handbook, “Food Security Standar 3: income and employment”
(http://www.sphereproject.org/content/view/60/84/lang,English/)
                                                                      Standar Penciptaan Pekerjaan - 61


Lampiran 5
Bacaan Lebih Lanjut tentang Penciptaan Pekerjaan
Beasley, Kenneth. “Job Creation in Post-conflict Societies.” Kertas Masalah, no. 9. PN-ADE-194.
   Washington DC: USAID, Center for Development Information and Evaluation, 2006.
   http://pdf.dec.org/pdf_docs/PNADE194.pdf. Diakses 19 Februari 2009.

Global Reporting Initiative. Dokumen daring. “Labor Practices, and Decent Work.” Dalam Sustainability
   Reporting Guidelines. GRI: 2000–2006. http://www.globalreporting.org/NR/rdonlyres/ED9E9B36-
   AB54-4DE1-BFF2-5F735235CA44/0/G3_GuidelinesENU.pdf. Diakses 19 Februari 2009.

ILO. Dokumen daring. “Declaration on Fundamental Rights and Principles at Work.” ILO: 1998.
    http://www.ilo.org/dyn/declaris/DECLARATIONWEB.static_jump?var_language=EN&var_pa
    gename=DECLARATIONTEXT SHA. Diakses 19 Februari 2009.

———. Dokumen daring. “Core Conventions.” http://www.labourstart.org/rights/#en. Diakses 19
  Februari 2009.

Sphere Project. Dokumen daring. “Food Security.” Dalam Humanitarian Charter and Minimum Standards
   in Disaster Response (dirujuk sebagai Buku Pegangan Sphere). Sphere Project, 2004.
   http://www.sphereproject.org/content/view/27/84/lang,English/. Diakses 19 Februari 2009.

United Nations. Dokumen daring. “Employment Creation, Income Generation and Reintegration in Post-
    Conflict Settings.” Kertas kebijakan bagi keseluruhan sistem PBB. Disetujui Mei 2008.
    http://www.enterprise-development.org/download.aspx?id=1246. Diakses 19 Februari 2009.

UN Global Compact. Web site. http://www.unglobalcompact.org/Issues/Labour/index.html.
   Diakses 19 Februari 2009.
   Sumber informasi tentang penggalakan prinsip seputar buruh.

Women’s Commission for Refugee Women and Children. Dokumen daring. “Market Pengkajian Toolkit
  for Vocational Training Providers and Youth: Linking Vocational Training Programs to Market
  Opportunities.” Laporan yang disiapkan untuk School of International and Public Affairs, Columbia
  University. Women’s Commission for Refugee Women and Children dan Columbia SIPA, 2008.
  http://www.womenscommission.org/pdf/ug_ysl_toolkit.pdf. Diakses 19 Februari 2009.
                              Pengembangan
                                  Usaha




   Standar 1          Standar 2            Standar 3              Standar 4
Promosi Kegiatan     Memastikan          Keberlanjutan           Melindungi
    dan Pasar       Kebertahanan        Jangka Panjang           Manusia dan
  Berdasarkan
                         dan                                     Lingkungan:
  Pemahaman
Potensi Imbal dan   Pertumbuhan                                     Jangan
 Risiko Potential                                                 Bahayakan


    Lampiran 6: Bacaan Lebih Lanjut tentang Pengembangan Usaha
Standar Pengembangan Usaha
Standar Pengembangan Usaha 1: Promosi Kegiatan dan Pasar Berdasarkan
Pemahaman Potensi Imbal dan Risiko Potential
       Sumber pendapatan dan nafkah baru dan yang ada didorong dengan memahami
       lingkungan, mendayai rumahtangga, dan usaha, serta menimbang potensi imbal, risiko,
       dan lingkungan bisnis.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Program melakukan analisis keuangan dan skenario usaha potensial. Analisis ini menunjukkan
     bahwa usaha akan berlaba dan bertahan, baik dari segi pendapatan maupun risiko (lihat catatan
     pedoman 1).
    Program meningkatkan jumlah atau mutu opsi pendapatan yang tersedia bagi komunitas (lihat
     catatan pedoman 2).
    Komunitas dan perorangan memiliki informasi lebih banyak dan baik tentang berbagai opsi untuk
     mendapatkan uang dan mengakses sumber daya yang diperlukan (lihat catatan pedoman 3).
Catatan Pedoman
1.   Kebertahanan keuangan usaha yang didukung: Badan yang mendukung sumber nafkah dan bisnis
     individu perlu memahami biaya, pendapatan, dan laba potensial yang dapat diraih oleh berbagai
     kegiatan sebelum menyediakan bantuan. Perhitungan ini harus mencakup biaya untuk perawatan
     peralatan, suku cadang, atau layanan berkala lainnya yang akan diperlukan bisnis untuk
     mempertahankan operasinya. Ketika mengkaji laba, prospek jangka pendek dan panjang bisnis
     harus dinilai, berdasarkan perkiraan tren (permintaan) pasar dan kemampuan bersaing. Jika
     mungkin, ramalan laba potensial harus memasukkan kemungkinan bahwa bisnis dapat rentan
     terhadap “ledakan” pertolongan—misalnya, sektor-sektor seperti restoran, konstruksi, dan
     angkutan, dapat terkena lonjakan permintaan untuk melayani tanggapan pertologan. Kehati-hatian
     harus diterapkan ketika membantu jenis bisnis ini, dan menimbang kegiatan dan industri yang
     mampu bertahan lainnya yang mungkin kurang terpengaruh oleh serbuan dan akhir yang pasti dari
     upaya pertolongan. Penilaian kebertahanan bisnis harus dilakukan baik secara mandiri atau
     berkolaborasi dengan pemilik untuk memastikan bahwa pemilik terlibat dalam usaha yang
     menguntungkan. Ketika sama-sama memahami analisis, badan bantuan dan pemilik bisnis berada
     dalam posisi yang lebih baik untuk membuat keputusan bermasukan (informed) tentang apakah
     bisnis dapat bertahan dan apakah masuk akal mendukung pemulihannya. Ini mengurangi risiko
     mendukung kegiatan yang dapat makin memiskinkan rumahtangga.
2.   Opsi sumber nafkah yang makin banyak dan beragam: Rumahtangga dan usaha, ketika menilai
     kegiatan ekonomi baru dan/atau membuat keputusan untuk mengkhususkan diri di satu kegiatan
     ekonomi alih-alih meragamkannya, harus menimbang sejumlah faktor di luar potensi keuntungan.
     Masuk ke kegiatan baru atau perluasan kegiatan ekonomi, sebagai tukaran tidak terlibat di bidang
     lain, dapat membuat rumahtangga dan usaha lebih rentan. Dalam menilai keputusan untuk
     disarankan bahwa rumahtangga mengkhususkan diri di salah satu kegiatan, program harus
     menimbang potensi pendapatan, serta risiko menghentikan kegiatan lain, untuk menentukan
     apakah rumahtangga dapat menghadapi risiko. Rumahtangga juga mungkin dapat mengenali dan
64 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


       lalu merencanakan cara lain untuk mengelola risiko, jika dibantu dalam mengakses informasi dan
       sumber daya yang diperlukan untuk itu.
       Contoh: Sebuah program agrobisnis mengaitkan petani pemilik lahan kecil dengan pengola keripik
       kentang. Petani pemilik lahan kecil memilih untuk menjauh dari pergiliran panen untuk
       mengkhususkan diri dalam varietas kentang yang dibutuhkan si pengolah, dengan janji imbal yang
       besar bagi panenannya. Dua tahun kemudian, penyakit kentang menyapu habis panen kentang—
       yang artinya keuntungan tahun itu—membuat petani tidak memiliki panen lain sebagai gantungan
       pendapatan dan sarana menafkahi keluarganya.
3.     Memberdayakan masyarakat dan orang dengan pilihan dan informasi yang benar: Program harus
       menggunakan metode partisipatif untuk mencakup bisnis dan individu yang ditandai perlu dibantu
       saat melakukan analisis risiko dan imbal serta pengkajian permintaan. Ini akan membantu mereka
       memahami potensi risiko dan imbal dalam jangka pendek dan panjang, dan memungkinkan mereka
       membuat keputusan bermasukan tentang kehidupan dan prospek masing-masing. Upaya harus
       dilakukan untuk memastikan bahwa analisis dilakukan dari sudut pandang penerima bantuan
       setempat, yakni, berdasarkan sumber daya yang dapat diaksesnya dan tingkat risiko yang nyaman
       untuk mereka.

Standar Pengembangan Usaha 2: Memastikan Kebertahanan dan Pertumbuhan
          Program yang mempromosikan usaha dan pemekerjaan mandiri menjawab serangkaian
          kebutuhan kritis yang diperlukan untuk kebertahanan dan pertumbuhan usaha dan
          memastikan bahwa usaha dapat bertahan secara ekonomi di dalam lingkungan yang
          mendayai saat ini, baik dalam jangka pendek maupun panjang.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
      Program melakukan analisis pasar target yang mengurai permintaan, tren, hubungan, dan
       kesenjangan yang harus dijawab untuk memastikan kebertahanan dan pertumbuhan pasar dan
       usaha (lihat catatan pedoman 1).26
      Program mempromosikan kait yang ditingkatkan di antara usaha dan layanan bisnis yang diperlukan
       yang dapat meningkatkan produktifitas dan penjualan (lihat catatan pedoman 2).
      Program menimbang baik intervensi langsung maupun tak langsung untuk memberikan bantuan
       kepada usaha dan pasar yang ditargetkan (lihat catatan pedoman 3).
      Program memastikan bahwa usaha dapat mengakses informasi yang andal tentang tempat membeli
       masukan dan menjual produknya (lihat catatan pedoman 4).
      Usaha menyadari aturan yang relevan dan mampu mematuhinya (dengan atau tanpa dukungan)
       sejauh mungkin (lihat catatan pedoman 5).
      Program membangun dan/atau mempromosikan mekanisme bagi dialog pemerintah-swasta untuk
       memastikan koordinasi di antara investasi swasta dan belanja pemerintah (lihat catatan pedoman
       6).
Catatan Pedoman


26
     Lihat juga Standar Pengkajian dan Analisis.
                                                                      Standar Pengembangan Usaha - 65


1.   Analisis pasar: Mendorong kebertahanan usaha dan sumber nafkah yang ditargetkan sebagai
     pemahaman kukuh atas pasar tempatnya beoperasi. Ini dicapai dengan analisis yang dimilai dengan
     kebutuhan pelanggan akhir, dan bekerja mundur dari pelanggan ini untuk memastikan bahwa
     seluruh rantai nilai disiapkan untuk melayaninya. Jenis analisis ini mengarahkan kita ke pendekatan
     program yang menyeluruh yang menentukan kebertahanan usaha dari segi permintaan dan
     keuntungan; akses ke masukan; dan dinamika kekuatan pasar (hubungan yang menentukan siapa
     yang dapat berperanserta secara efektif di pasar). Ada juga kebutuhan untuk menentukan apakah
     infrastruktur pendukung ada (misalnya, jalan, pasar, sistem komunikasi) atau perlu didaur ulang (see
     Standar Pengembangan Usaha 3 untuk mendapatkan informasi lebih lanjut).
     Contoh: Sering kali usaha mikro tidak dapat menghasilkan volume yang cukup untuk dijual kepada
     pedagang besar dan grosiran. Apakah ini masih menjadi kendala dapat dikaji lewat analisis pasar,
     yang diikuti dengan mengenali potensi solusi yang masih mendayai produsen mikro untuk terlibat di
     pasar. Sebuah badan yang membangun kapasitas usaha perorangan untuk berorganisai, membeli
     masukan secara curah, dan menjual bersama—serta memudahkan kait pasar dengan tengkulak dan
     pedagang grosir—dapat menciptakan perbedaan antara usaha yang berhasil dan gagal.
2.   Mengaitkan usaha dengan penyedia layanan bisnis: Karena tidak berdiri sendiri, namun bagian dari
     sistem pasar yang lebih besar, usaha dan dan sumber nafkah memerlukan akses ke serangkaian
     produk dan layanan agar berhasil. Hal ini ditegaskan oleh riset yang menunjukkan bahwa usaha—
     sekecil apa pun yang berbasis di rumahtangga—yang terkait dengan bisnis lain jauh lebih cenderung
     sinambung dan tumbuh. Layanan angkutan, pembiayaan, penyimpanan, serta perbaikan perkakas
     dan peralatan adalah contoh layanan bisnis yang mungkin dibutuhkan usaha agar berhasil.
     Pengkajian pasar harus dilakukan untuk mengenali layanan yang ada, layanan yang terkait dengan
     usaha yang ditargetkan, dan apakah ada layanan lain yang mungkin menguntungkan atau
     diperlukan. Jika pengkajian memastikan bahwa layanan yang dibutuhkan tidak dapat diakses dan
     tidak dapat didorong, maka mendukung usaha itu mungkin tidak akan bertahan dan harus
     menimbang kegiatan ekonomi lain.
     Pertimbangan khusus harus diberikan untuk mengaitkan usaha ke jasa keuangan. Jika bank, lembaga
     pembiayaan mikro, dan lembaga keuangan aman lainnya tidak ada untuk menyediakan layanan,
     maka badan bantuan harus menimbang alternatifnya. Alternatif pembiayaan dapat mencakup
     skema simpan-pinjam pribumi, serta sistem berbasis perdagangan seperti kredit pemasok, jaminan
     pinjaman dengan bank non-MFI, dan sistem kupon untuk pasokan masukan.
3.   Menilai sarana bantuan langsung dan tak langsung: Dalam menilai opsi program, informasi dan
     kriteria yang digunakan di dalam analisis harus cukup luas untuk memungkinkan penimbangan
     keefektifan intervensi yang bekerja langsung dan tak langsung dengan masyarakat yang ditargetkan.
     Contoh bantuan langsung dan tak langsung yang berpotensi efektif mencakup pengembangan aksek
     ke layanan komersial yang mudah diakses dan terjangkau yang mendukung sumber nafkah
     masyarakat target (misalnya, jasa keuangan, layanan dokter hewan, akses ke pasar baru);
     meningkatkan lingkungan operasi di pasar yang paling penting bagi pendapatan masyarakat; dan
     meluaskan permintaan produk dan layanan yang dihasilkan oleh masyarakat target. Sering kali
     dalam lingkungan krisis, layanan bisnis utama untuk usaha tidak berjalan dan rekaan program harus
     mengisi sementara kesenjangan. (Lihat Standar Pengembangan Usaha 3 serta catatan pedomans 3
     dan 4, untuk indikator mengenai kegiatan guna menjawab kesenjangan layanan.)
     Contoh: Sering setelah suatu bencana alam, pedagang kota kehilangan rantai pasokan, akibat
     gangguan pengumpulan produk di daerah pedesaan, yang memengaruhi sumber nafkah produsen di
     pedesaan, serta keamanan pangan konsumen di perkotaan. Untuk membantu pengecer kota
     membangun kembali kait pasokan, sebuah badan dapat bekerja bersama produsen pedesaan dan
66 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


     pialang lokal untuk menyiapkan pusat pengumpulan dan angkutan ke daerah perkotaan. Sebelum
     melakukan intervensi ini, badan pendukung harus memastikan bahwa ia memiliki strategi keluar,
     dan bahwa pusat pengumpulan dan angkutan dapat terus berlanjut setelah intervensi berakhir.
4.   Informasi pasar: Program harus memastikan bahwa usaha dan perorangan yang dibantu memiliki
     sarana untuk mengakses informasi pasar yang andal. Tanpa akses ini, risiko bisnis membuat
     keputusan tak bermasukan saat menilai permintaan dan menurunkan laba. Contoh risiko dari
     kurangnya informasi bisnis yang baik dapat mencakup petani membayar harga yang melambung
     untuk pupuk atau seorang perempuan menerima upah di bawah rata-rata pasar untuk roti yang
     dipanggangnya.
     Contoh: Suatu badan yang terlibat dalam pengembangan usaha menalikan pelaku pasar di berbagai
     daerah lewat sistem pesan teks di ponsel, sehingga informasi harga dapat diteruskan lebih cepat dan
     pelaku dapat menerbitkan informasi ini di tempat umum.
5.   Kerangka kerja peraturan untuk usaha: Suatu badan yang berkomitmen untuk mengembangkan
     usaha harus berpengetahuan tentang kerangka kerja aturan untuk pasar tempatnya beroperasi, dan
     memastikan sedapat mungkin bahwa usaha yang dibantunya sah dan patuh. Ini mencakup
     kepatuhan menyangkut izin yang diperlukan, pajak, dan aturan lainnya. Jika lingkungan yang
     mendayai menenggang informalitas yang luas, maka program dapat bekerja dengan usaha informal,
     namun harus mendukung pembelaan dan agenda kebijakan yang memajukan infrastruktur yang
     lebih formal. Di pasar informal, sering kali ada kebutuhan informal untuk operasi yang dikendalikan
     dan dikukuhkan lewat jaringan sosial dan kaitan ke mereka hingga berkuasa di pasar. Cara hal-hal ini
     memengaruhi kebertahanan bisnis dan sumber nafkah yang ditargetkan perlu dipahami dan
     diperhitungakan dalam pemrograman.
6.   Mekanisme dialog pemerintah-swasta: Dialog pemerintah-swasta dapat terjadi dalam aneka rupa,
     mulai dari dewan persaingan usaha nasional hingga kelompok kerja informal tingkat komunitas.
     Tanpa melihat tingkat formalitas dan fokusnya, kelompok-kelompok ini menyediakan forum yang
     berharga tempat berbagai kelompok pemangku kepentingan (yakni, sektor swasta, pemerintah,
     LSM, dan donor) dapat bertemu untuk mengoordinasikan kegiatan.27

Standar Pengembangan Usaha 3: Keberlanjutan Jangka Panjang
       Program pengembangan usaha dirancang dengan mengingat keberlanjutan jangka
       panjang.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Program membantu menciptakan atau memperkuat hubungan antar-usaha yang saling
     menguntungkan (sama menang) (lihat catatan pedoman 1).
    Program melibatkan sektor swasta sebagai mitra, sambil memastikan bahwa pelibatan ini tidak
     melanggar Standar Pengembangan Usaha 4, “Melindungi Manusia dan Lingkungan” (lihat catatan
     pedoman 2).

27
   International Finance Corporation telah menerbitkan sebuah dokumen yang memberikan panduan hebat tentang perangkap dan
praktik terbaik kemitraan daya saing yang berfokus pada usaha: Benjamin Herzberg dan Andrew Wright, “Competitiveness
Partnerships: Building and Maintaining Public-Private Dialogue to Improve the Investment Climate,” WPS3683 (Washington
DC: Multilateral Investment Guarantee Agency [MIGA], 2005).
http://portal.unesco.org/culture/en/files/29650/11369778613PPP_Public_Private_partnerships.pdf/PPP%2BPublic%2BPrivate%2
Bpartnerships.pdf
                                                                      Standar Pengembangan Usaha - 67


    Subsidi berbatas waktu dan digunakan secara selektif untuk merangsang tanggapan pasar (lihat
     catatan pedoman 3).
    Program menghindari masuk langsung ke pasar jika mungkin. Jika terpaksa demikian, program harus
     memastikan bahwa ada strategi keluar sejak awal (lihat catatan pedoman 4).
Catatan Pedoman
1.   Menguatkan hubungan: Pemrograman harus memiliki suatu sarana untuk memperkuat kolaborsi
     dan hubungan di antara pelaku pasar, dan di antara usaha dan individu target, serta di atar bisnis
     yang beroperasi di pasar. Hubungan yang kuat dan saling menguntungkan di antara usaha akan
     memudahkan alih informasi, kecakapan, dan layanan. Peluang dan kendala pasar mensyaratkan
     secara umum tanggapan terkoordinasi oleh banyak usaha di dalam suatu industri atau subsektor—
     yang mengharuskan kepercayaan dan kerelaan berkolaborasi. Membangun komunikasi dan
     meningkatkan transparansi adalah kegiatan pembangunan kepercayaan yang penting dalam
     lingkungan terpengaruh konflik dan hal ini mensyaratkan perencanaan terfokus dan waktu untuk
     menunjukkan hasil. Asosiasi atau kelompok kerja indsutri dapat memainkan peran penting dalam
     membangun kembali hubungan di antara usaha sejenis atau di antara usaha yang terkait secara
     vertikal di pasar.
     Contoh: Kepercayaan dapat didorong dengan banyak cara, seperti menciptakan “ruang aman” bagi
     pembeli dan penjual untuk bertemu, bertindak sebagai “perantara yang jujur” untuk memastikan
     kepatuhan kepada syarat kontrak, menetapkan standar mutu yang objektif, dan membangun sistem
     informasi pasar.
2.   Bermitra dengan sektor swasta: Program yang mendorong sumber nafkah usaha dan rumahtangga
     harus menggali kemitraan dengan sektor swasta yang lebih luas atau setidaknya terlibat dengannya.
     In i memastikan bahwa program membumi dengan kenyataan pasar. Di banyak industri, ada usaha
     sektor swasta dengan kemampuan dan insentif ekonomi untuk mengaitka usaha ke pasar, teknologi,
     atau informasi. Usaha-usaha ini—apakah pembeli, pengolah, atau produsen—dapat menyediakan
     kepemimpinan yang berkelanjutan bagi sebuah industri, menggerakkan inovasi dan memudahkan
     pembangunan kepercayaan.
     Contoh: Pembeli mungkin mau menyediakan nasihat teknis kepada pemasok untuk memastikan
     bahwa ia menerima produk bermutu yang diinginkannya. Mirip dengan itu, pemasok masukan
     sering memiliki insentif untuk menyebarkan informasi teknis untuk memastikan bahwa penggunaan
     masukan akan menghasilkan produksi yang lebih baik guna memperluas basis pelanggan dan
     membangun kesetiaannya.
3.   Penggunaan subsidi: Subsidi, menurut definisi, adalah tidak berkelanjutan sehingga mengganggu
     insentif pasar. Karena itu, pelaksana harus merencanakan sejak awal untuk menarik subsidi dan
     menyampaikan hal ini dengan jelas kepada penerima dan pemangku kepentingan lainnya. Subsidi
     harus merangsang atau mengarahkan, bukan mengganti, kegiatan pasar. Subsidi dapat efektif dalam
     meningkatkan ketersediaan informasi pasar untuk menaikkan transparansi dan kepercayaan, untuk
     “menyetarakan kedudukan” bagi usaha kecil, dan membantu penggantian aset. Subsidi dapat juga
     digunakan untuk menunjukkan potensi teknologi yang ditingkatkan, mengurangi risiko bagi usaha
     yang berinvestasi dalam teknologi dan teknik baru, atau mempercepat perkembangan industri lewat
     memecahkan kendala utama.
     Contoh: Pinjaman non-tunai, berbagi biaya, dan mekanisme pengurangan risiko lainnya dapat
     mendorong usaha untuk berinvestadi dalam teknologi produksi baru atau menyasar pasar baru.
     Begitu investasi menghasilkan laba, subsidi dapat ditarik.
68 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


4.   Memasuki pasar: Intervensi langsung di pasar untuk menutup kesenjangan dalam rantai,
     mengurangi risiko, atau menyediakan pilihan yang lebih setara kepada pelaku pasar yang ada, dapat
     “menghentak” bergulirnya industri. Tetapi, hal itu harus dimaksudkan hanya sebagai cara penutup
     lubang untuk menciptakan momentum, dan proyek yang melangkah masuk ke pasar sering
     menghadapi kesulitan menarik diri. Intervensi langsung menciptakan kebergantungan dan menunda
     bangkitnya solusi sektor swasta untuk masalah industri. Karena itu, intervensi demikian harus
     dihindari jika mungkin. Jika tidak ada pelaku pasar yang mampu atau mau melayani suatu fungsi
     penting di dalam rantai, layanan yang disediakan oleh proyek harus tidak bersubsidi dan diserahkan
     ke usaha sektor swasta sesegera mungkin. Rencana untuk mengenali, bermitra dengan, dan
     membangun kapasitas usaha sektor swasta dapat berasumsi bahwa layanan proyek dirancang
     sebelum memasuki rantai pasar.
     Contoh: Pembeli mungkin gagal membayar produsen tepat waktu, sehingga menyebabkan putusnya
     kepercayaan dan meningkatkan penjualan menyeleweng (side selling) oleh produsen. Sebagai
     tanggapan atas situasi ini, sebuah proyek mungkin memutuskan untuk menjadi perantara pasar dan
     membeli dari produsen dan menjual kepada pembeli. Dengan mengintervensi langsung, proyek ini
     mengurangi risiko bagi baik produsen maupun pembeli dan dapat meningkatkan volume produksi
     dan hasil penjualan. Akan tetapi, pengaturan semacam itu merangsang kebergantungan pada
     proyek dan tidak menciptakan insentif bagi pembeli dan produsen untuk memecahkan masalah
     mereka. Pilihan yang lebih dapat bertahan adalah berupaya bersama pembeli untuk menciptakan
     mekanisme yang memastikan pembayaran tepat waktu dan membangun kepercayaan dengan
     produsen. Jika ini mustahil, pilihannya adalah membantu produsen mengembangkan strategi untuk
     mencari dan berhubungan dengan pembeli yang lebih andal.

Standar Pengembangan Usaha 4: Melindungi Manusia dan Lingkungan: Jangan
Bahayakan
       Operasi, produk dan limbah usaha yang didukung menekan atau menjawab bahaya
       potensi terhadap lingkungan atau manusia, atau potensi yang mendorong penyisihan,
       mengabadikan kemiskinan, menciptakan pertikaian, atau meningkatkan kesenjangan
       ekonomi.


Indikator Kunci (Bacalah bersama catatan pedomannya.)
    Program menerapkan kacamata “jangan bahayakan” pada rantai dan usaha nilai terpilih untuk
     menentukan dampak sosial yang lebih besar dari intervensi (lihat catatan pedomans 1 and 2).
    Program menempatkan sistem yang memastikan bahwa tidak ada kegiatan eksploitatif dilakukan
     oleh mitra terpilih dan usaha target (lihat catatan pedoman 3).
Catatan Pedoman
1.    Kacamata “Jangan bahayakan”: Bantuan via intervensi pasar dapat mengimbas dinamika kekuatan
     di masyarakat terpengaruh dan berpotensi merusak hubungan yang rawan di antara kelompok khas.
     Pengkajian pasar harus menimbang dinamika ini dan cara kegiatan program dapat, sebaiknya,
     mengurangi risiko atau setidaknya tidak menaikkannya. Dalam memetakan hubungan pasar dan
     dinamika kekuatan, semua pelaku (pasokan masukan, produsen, pengolah, tengkulak,pedagang
     grosir, pengecer) harus dipetakan, dan informasi harus dikumpulkan juga tentang jaringan sosial
     tempatnya berfungsi dan peran tradisional masing-masing. Contoh pertanyaan yang diajukan adalah
                                                                    Standar Pengembangan Usaha - 69


     “siapakah tengkulaknya,” “siapakah yang biasanya meminjamkan uang,” “siapakah yang menjual
     secara eceran di pasar,” dan “siapakah yang menjalankan toko grosir.” Sambil pemahaman
     meningkat, dinamika kekuatan akan terungkap, begitu juga kelompok-kelompok (kelompok laki-laki,
     perempuan, etnik, agama, kasta, atau suku) yang mengisi secara tradisional atau dominan peran
     tertentu dalam sistem pasar. Kadang-kadang ketika ingin membantu masyarakat tersisihkan, suatu
     program dapat membahayakan para pelaku pasar (atau kelompok) jika tatanan sosial terganggu
     tanpa masukan dari komunitas. Pengkajian pasar adalah kesempatan memahami jaringan sosial
     yang ada dan mereka yang termasuk atau tersisihkan. Dengan informasi ini, intervensi dapat
     dirancang untuk mendukung solusi sama menang bagi setiap orang dan memanfaatkan hubungan
     dan kaitan yang ada.
     Contoh: Di daerah pedesaan pasca-bencana, suatu badan bantuan mengenali perlunya jasa
     keuangan bagi petani miskin. Sebelum bencana, mereka hanya dapat mengakses uang dari rentenir
     kelompok etnis tertentu, yang lebih berkuasa di daerah itu. Badan ini memilih dan melatih
     pemimpin dari antara petani miskin menjadi petugas pinjaman. Kelompok etnis yang tersingkirkan
     mulai menyabotase panenan kelompok petani miskin itu, sehingga mereka tidak dapat membayar
     pinjamannya. Analisis pasar yang baik akan mengenali kelompok mana yang menjadi produsen,
     tengkulak, dan rentenir. Rentenir harus diberikan pelatihan (formal) menjadi petugas pinjaman,
     guna tidak meminggirkan mereka dari peran di dalam sistem pasar.
2.   Tekan dan kurangi dampak buruk pada lingkungan: Pengembangan pasar dan dukungan pasca-
     krisis kegiatan ekonomi berpotensi meletakkan tuntutan berlebihan pada lingkungan yang rentan,
     sehingga menghalangi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi. Kegiatan sumber nafkah dan
     penciptaan pendapatan memerlukan masukan, yang sering kali berupa sumber daya alam, seperti
     air atau ilalang untuk menganyam keranjang. Langkah-langkah dalam mengolah produk ini juga
     perlu dianalisis untuk menentukan apakah bahan kimia diperlukan (masukan lainnya) dan bahaya
     apakah yang dapat diakibatkan pembuangannya kepada lingkungan. Pilihan intervensi harus
     didasarkan pada analisis ini.
     Contoh: Sebuah badan bantuan melihat permintaan tak terpenuhi akan benang sutera di suatu
     konteks pasca-bencana. Masukan bagi serat sutera adalah kepompong. Bahan bakar dibutuhkan
     bagi tungku untuk merebus kepompong guna menyarikan serat sutera yang lalu dipintal menjadi
     benang. Kebutuhan tambahan akan kayu bakar mulai menciptakan kelangkaan bagi industri sutera
     (dan rumahtangga setempat). Sebagai bagian intervensi, pengumpul dan pedagang kayu dikenalkan
     dengan metode konservasi dan penanaman kembali tunas yang digunakan untuk kayu bakar. Badan
     itu juga menyediakan sumber daya untuk meriset bahan bakar pengganti, sehingga pertumbuhan
     dalam industri benang sutera tidak terhalang oleh kelangkaan bahan bakar untuk merebus berton-
     ton kepompong yang dihasilkan).
3.   Kaji potensi eksploitasi manusia: Setelah krisis, apakah alamiah atau buatan manusia, sering ada
     kesenjangan dalam tata kelola yang menyediakan ketertiban dalam masyarakat. Kegiatan tidak sah,
     mencakup sisi buruk buruh anak, perdagangan manusia, dan eksploitasi seksual kaum perempuan,
     sangat mudah timbul tanpa konsekuensi. Badan bantuan harus ketat dalam memilih mitra sektor
     swasta dan mematuhi hukum perburuhan. Mengatasi kegiatan tidak sah mensyaratkan kemitraan
     dengan program non-ekonomi, lembaga swadaya masyarakat, dan badan donor multilateral. (Lihat
     Standar Penciptaan Pekerjaan.)
     Contoh: Suatu badan bantuan melihat bahwa peluang pasar bagi lapik rajutan tangan di kawasan
     pasca-krisis dan memerlukan sumber produksi pewarna alamiah, produksi serat, penenunan,
     perdagangan, dan pengeksporan. Rumahtangga penghasil lapik melihat potensi pendapatan dan
     mengeluarkan anak-anak dari sekolah untuk menghasilkan lapik. Badan itu melihat masalah ini sejak
70 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


   awal dan bermitra dengan pemerintah setempat, sekolah setempat, dan beberapa donor
   internasional yang menyediakan kupon makanan bagi anak-anak yang menghadiri sekolah. Ini
   memberi keluarga suatu insentif untuk mengirimkan anak-anak ke sekolah. Kupon makanan
   mengurangi pengeluaran rumahtangga, yang memungkinkan keluarga itu untuk menyewa tenaga
   kerja luar guna membantu produksi lapik.
                                                                  Standar Pengembangan Usaha - 71


Lampiran 6
Bacaan Lebih Lanjut tentang Pengembangan Usaha
FEWER, International Alert, dan Saferworld. Online documents. “Conflict Sensitive Approaches to
   Development, Humanitarian Assistance, and Peace Building: Resource Pack.” FEWER, International
   Alert, and Saferworld, 2003. http://www.conflictsensitivity.org/resource_pack.html

Gündüz, Canan, dan Diana Klein. “Conflict-Sensitive Approaches to Value Chain Development.”
   microREPORT, no. 101. Disiapkan oleh International Alert for USAID. Washington DC: USAID,
   Microenterprise Development Program, AMAP, 2008.
   http://www.microlinks.org/ev02.php?ID=23786_201&ID2=DO_TOPIC

Herzberg, Benjamin, dan Andrew Wright. “Competitiveness Partnerships: Building and Maintaining
   Public-Private Dialogue to Improve the Investment Climate.” WPS3683. Washington DC: Multilateral
   Investment Guarantee Agency [MIGA], 2005.
   http://portal.unesco.org/culture/en/files/29650/11369778613PPP_Public_Private_partnerships.pdf
   /PPP%2BPublic%2BPrivate%2Bpartnerships.pdf

Miehlbradt, Alexandra O., dan Mary McVay, ed. Jim Tanburn. Implementing Sustainable Private Sector
   Development: Striving for Tangible Results for the Poor—The 2006 Reader. BDS Annual Seminar
   2006. Geneva: ILO, 2006. www.bdsknowledge.org/dyn/bds/docs/497/PSDReader2006.pdf. Diakses
   19 Februari 2009.

USAID. “End-Market Research for Value Chains.” Washington DC: USAID, akan muncul di
   www.microlinks.org
Apendiks 1
Glosarium Standar Pemulihan Ekonomi
Glosarium ini menyediakan definisi bagi istilah yang sering digunakan di dalam Standar Pemulihan
Ekonomi ini. Definisi-definisi ini bersifat reflektif; leksikon umum didasarkan pada definisi yang diterima
luas dalam karya seputar pembangunan ekonomi, pembiayaan mikro, pengembangan usaha, sumber
nafkah, pengembangan pasar, pertanian, dan keamanan pangan. Kecuali sumber lain disebutkan, semua
definisi diadaptasi dari situs web Microenterprise Development Office di USAID: www.microlinks.org
Akses (Access)
Dalam jasa keuangan, akses diukur oleh jangkauan lembaga keuangan (dalam angka) ke usaha mikro
dan kecil, dengan produk dan layanan yang dapat mereka gunaka secara menguntungkan. Definisi ini
diterapkan secara mirip dalam pengembangan usaha, di mana akses diukur oleh dengan angka usaha
yang dapat mengakses produk dan layanan bagi bisnisnya, mencakup pasar, secara menguntungkan.
Imbal operasi yang disesuaikan (Adjusted return on operation)
Ukuran inti yang digunakan oleh banyak organisasi untuk mengkaji keberlanjutan keuangan lembaga
pembiayaan mikro. Nilai satu atau lebih berarti keberlanjutan keuangan yang purna (lihat Keberlanjutan
keuangan purna.)
Perlindungan aset (Asset protection)
Sering kali merujuk ke pencegahan penjualan atau konsumsi aset memindahkan uang tunai atau aset
(misalnya, kupon, bantuan pangan), namun juga dapat mencakup kegiatan yang melindungi secara fisik
aset alam dan rumahtangga dan memastikan akses ke aset skala besar atau aset kelompok (misalnya,
tanah, air atau fasilitas yang dikelola kelompok), serta memastikan bahwa hukum dan norma budaya
lokal tidak membahayakan aset masyarakat.
Penjangkauan Luas (Broad outreach)
Penyediaan manfaat yang nyata bagi sebagian besar kelompok target tertentu.
Bisnis (Business)
Pekerjaan, profesi, perniagaan, atau entitas yang terlibat dalam kegiatan ekonomi demi laba (lihat
Enterprise and microenterprise)
Layanan pengembangan bisnis (Business development services, BDS)
Aneka rupa layanan non-keuangan yang penting bagi masuknya, bertahannya, produktifitas, daya saing,
dan pertumbuhan usaha28 (lihat Usaha dan usaha mikro). Ini mencakup layanan strategis dan
operasional yang diperlukan usaha untuk melanjutkan operasinya dan meningkatkan diri, guna
menaikkan laba. Layanan ini dapat mencakup layanan dasar, seperti pelatihan ISO, bantuan teknis
teknologi informasi, perencanaan strategis, dan pemasaran, serta layanan khusus subsektor dalam
pengembangan produk, akses pasar, pasokan masukan, penjualan atau sewa peralatan, dan bantuan
dan/atau pelatihan teknis sektoral lainnya.

28 Committee of Donor Agencies for Small Enterprise Development, Business Development Services for Small Enterprises:
Guiding Principles for Donor Intervention (Geneva: ILO, 2001),
http://www.ilo.org/public/english/employment/ent/papers/guide.htm. Komite mencakup USAID, DFID, CIDA, IFAD, UNDP,
JICA, EU, GTZ, Ford Foundation, dan Bank Dunia.
                                                                                          Apendiks 1: Glosarium - 73


Kait bisnis (Business linkages)
Mencakup kait vertikal dan horizontal di antara usaha. Kait bisnis meliputi pembangunan hubungan
saling menguntungkan di antara bisnis pada tingkat rantai nilai yang sama (horizontal) dan berbeda
(vertikal), serta menjawab kendala pada semua tingkat rantai untuk mendukung hubungan sama
menang (win-win). Kait bisnis sering kali dirujuk juga sebagai kait pasar.
Kopeasi (Cooperatives)29
Koperasi adalah perkumpulan otonom orang yang bergabung secara sukarela untuk memenuhi
kebutuhan dan cita-cita ekonomi, sosial, dan budaya bersama melalui usaha yang sama dimiliki dan
dikendalikan secara demokratis. Model koperasi usaha dapat diterapka ke semua kegiatan bisnis.
Koperasi ada di sektor ekonomi tradisional, seperti pertanian, perikanan, layanan konsumen dan
keuangan, perumahan, dan produksi (koperasi pekerja). Namun, koperasi ditemukan di berbagai sektor
dan kegiatan, mencakup di antaranya tumpangan mobil, perawatan anak, perawatan kesehatan dan
sosial, pemakaman, orkestra dan filharmoni, sekolah, olahraga, pariwisata, utilitas (listrik, air, gas, dll.),
angkutan (taksi, bis, dll.). (Lihat Aset kelompok dan Kelompok produsen)
Daya Saing (Competitiveness)
Kemampuan usaha atau negara untuk bersaing dengan sukses dengan usaha atau negara lain
berdasarkan harga, mutu, keunikan, layanan yang baik, dan/atau standar lain yang dihargai secara sosial
atau lingkungan. Daya saing juga dirujuk sebagai pertumbuhan berkelanjutan dalam produktifitas yang
menghasilkan standar kehidupan yang meningkat untuk penduduk pada umumnya. Mencapai dan
mempertahankan daya saing bergantung pada kemampuan untuk berinovasi. Karena keunggulan
bersaing suatu usaha bergantung pada sistem bisnis dan lingkungan kebijakan tempatnya beroperasi,
daya saing pada semua tingkat adalah saling bergantung. Maka, sukses mencapai kinerja bersaing
bergantung pada bukan hanya kemampuan usaha untuk berinovasi, namun juga kinerja tautan hulu dan
hilir dalam rantai nilai bersangkutan.
Strategi penanggulangan (Coping strategies)
Merujuk ke upaya khusus yang digunakan rumahtangga untuk menanggapi gangguan terhadap sumber
pendapatan. Contoh umum strategi penanggulangan yang berpotensi buruk mencakup mengurangi
asupan pangan harian; mengonsumsi pangan yang lebih murahl mengurangi pengeluaran untuk hal-hal
seperti sandang, perawatan kesehatan, dan pendidikan; dan mengurani jumlah tanggungan
rumahtangga..
Korupsi (Corruption)30
Penyalahgunaan amanah kekuasaan untuk keuntungan pribadi, mencakup korupsi keuangan, seperti
penipuan, penyuapan, dan uang komisi liar (kickback). Ini juga meliputi bentuk korupsi non-keuangan,
seperti pemalsuan atau pengalihan bantuan kemanusiaan demi menguntungkan kelompok bukan
sasaran, penjatahan sumber daya pertolongan sebagai tukaran layanan seks, perlakuan istimewa dalam
proses bantuan atau perekrutan bagi kerabat atau teman sendiri, dan ancaman atau tekanan kepada
staf atau penerima bantuan agar menutup mata atau ikut dalam korupsi.
Penjangkauan dalam (Deep outreach)




29
     International Co-operative Alliance, www.coop.org.
30
     Lihat situs web Transparency International web site, http://www.transparency.org/.
74 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


Penyediaan manfaat yang nyata kepada anggota yang secara khusus paling membutuhkan dari
kelompok target yang lebih luas. Dalam hal program pengembangan usaha, ini biasanya mencakup
wirausaha termiskin, wirausaha perempuan, dll.
Pembangunan ekonomi (Economic development)
Sebagai disiplin yang luas, aneka kelompok mendefinisikan pembangunan ekonomi berdasarkan
kelompok target dan bidang praktik. Definisi istilah ini mencakup:
     ●   Peningkatan dalam efisien penggunaan sumber daya sehingga keluaran barang dan jasa yang
         sama atau lebih banyak dihasilkan dengan masukan modal alam, olahan, dan manusia yang
         lebih sedikit.31
     ●   Perubahan kualitatif dan penataan ulang ekonomi negara berkaitan dengan kemajuan teknologi
         dan sosial. Indikator utama pembangunan ekonomi adalah meningkatnya PNB per kapita (atau
         PDB per kapita), yang mencerminkan kenaikan dalam produktifitas ekonomi dan kemakmuran
         materi rata-rata penduduk negara. Pembangunan ekonomi terkait erat dengan pertumbuhan
         ekonomi.32
Pertumbuhan ekonomi (Economic growth)33
Perubahan kuantitatif atau pemekaran ekonomi negara. Pertumbuhan ekonomi diukur secara
konvensional dengan kenaikan persentase dalam produk domestik bruto (PDB) atau produk nasional
bruto (PNB) selama satu tahun. Pertumbuhan ekonomi hadir dalam dua bentuk: ekonomi dapat tumbuh
baik secara “ekstensif” dengan menggunakan sumber daya lebih banyak (misalnya modal fisik, manusia,
atau alam) atau "intensif" dengan menggunakan jumlah sumber daya yang sama secara lebih efisien
(produktif). Ketika dicapai dengan tenaga kerja lebih banyak, pertumbuhan ekonomi tidak berakibat
pada pertumbuhan pendapatan per kapita (lihat Bab 4). Namun, jika dicapai lewat penggunaan lebih
produktif semua sumber daya, mencakup tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi menghasilkan
pendapatan per kapita yang lebih tinggi dan perbaikan standar hidup penduduk rata-rata. Pertumbuhan
ekonomi yang intensif memerlukan pembangunan ekonomi.
Istilah ini juga merujuk ke kenaikan dalam jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu ekonomi.
Pertumbuhan diukur secara konvensional dengan laju persen kenaikan dalam produk domestik bruto
nyata (PDB nyata). Pertumbuhan biasanya dihitung dari segi nyata, misalnya, tersuai inflasi, guna
meredam pengaruh informasi pada harga barang dan jasa yang dihasilkan. Dalam ilmu ekonomi,
“pertumbuhan ekonomi” atau “teori pertumbuhan ekonomi” biasanya merujuk ke keluaran potensial,
misalnya, produksi pada “pemekerjaan penuh,” yang disebabkan oleh pertumbuhan dalam agregat
permintaan atau keluaran yang teramati.
Lingkungan yang Mendayai (Enabling environment)
Lingkungan kebijakan, peraturan, lemabag, dan tata kelola ekonomi keseluruhan yang memungkinkan
pertumbuhan ekonomi.
Usaha (Enterprise)34



31
   UNESCO, http://www.unesco.org/education/tlsf/TLSF/intro/glossary_links/glossary.htm. Diakses 19 Februari 2009.
32
   Bank Dunia, http://www.worldbank.org/depweb/english/beyond/global/glossary.html. Diakses 19 Februari 2009.
33
   Bank Dunia, http://www.worldbank.org/depweb/english/beyond/global/glossary.html. Diakses 19 Februari 2009.
34
   Jurnal Resmi Masyarakat Eropa, Rekomendasi Komisi, 6 Mei 2003 mengenai definisi usaha mikro, kecil dan menengah,
http://europa.eu.int/eur-lex/pri/en/oj/dat/2003/l_124/l_12420030520en00360041.pdf.
                                                                                         Apendiks 1: Glosarium - 75


Sebuah usaha dipandang sebagai sebarang entitas yang terlibat dalam kegiatan ekonomi, tanpa melihat
bentuk hukumnya. Dalam program pengembangan usaha, ini khususnya mencakup pekerja mandiri,
bisnis keluarga, kemitraan, atau kelompok bisnis (asosiasi, koperasi, kelompok informal) yang terlibat
secara teratur dalam kegiatan ekonomi. (Lihat Usaha mikro untuk definisi usaha mikro, kecil, dan
menengah berdasarkan pendapatan dan jumlah pekerja.)
Strategi keluar (Exit strategy)
Berkaitan dengan menarik diri dari menyubsidi intervensi, dengan meninggalkan perbaikan yang
berkelanjutan di sektor swasta.
Fasilitator (Facilitator)
Lembaga atau proyek yang memberikan dukungan tak langsung bagi pengembangan sektor swasta. Alih-
alih menyediakan layanan langsung, fasilitator menyelaraskan intervensi yang membangun kapasitas
lokal untuk menyediakan layanan dan/atau solusi komersial (bagi kendala berulang), lebih disukai lewat
penyedia yang ada di sektor swasta. Layanan dan/atau solusi dapat mencakup akses ke pasar,
pengembangan/perancangan produk, akses teknologi, pelatihan, layanan konsultasi, jasa keuangan
(kaitan ke jasa keuangan), masukan yang ditingkatkan, dan/atau layanan pembelaan.
Biaya dana (Financial costs)
Biaya dana yang digalang oleh lembaga keuangan mikro untuk menutup peminjaman. Bergantung pada
konteks, ini mungkin mencakup hanya biaya bunga tunai yang perlu (out of pocket) yang dibayarkan
kepada penabung dan/atau lembaga keuangan lainnya, serta biaya peluang dari dana yang diterima
sebagai hibah atau pinjaman lunak dari donor, pemerintah, atau organisasi amal.
Jasa keuangan (Jasa keuangan)
Dalam konteks pengembangan usaha, ini mencakup penyediaan serangkaian jasa keuangan kepada
masyarakat berpendapatan rendah, mencakup pinjaman, tabungan, pengiriman uang, asuransi, sewa
beli, dan kartu kredit (lihat Pembiayan mikro).
Keberlanjutan keuangan (Financial sustainability)
Derajat kemampuan organisasi mengumpulkan pendapatan yang memadai dari penjualan jasanya untuk
menutup seluruh biaya kegiatan, dilihat dari basis biaya peluang.
Sektor formal/ekonomi formal (Formal sector/formal economy)35
The formal sector or formal economy refers to regulated economic units (e.g. businesses) and workers
that are regulated and protected. Put another way, the formal sector comprises economic activities and
enterprises that are regulated and/or taxed by the government.
Sektor formal atau ekonomi formal merujuk kepada satuan ekonomi yang diatur (misalnya, bisnis) dan
pekerja yang diatur dan dilindungi. Dengan kata lain, sektor formal mencakup kegiatan dan usaha
ekonomi yang diatur dan/atau dipajaki oleh pemerintah. (lihat Informal sector/informal economy).
Tingkat bunga dan ongkos pemulihan biaya penuh (Full-cost-recovery interest rates and fees)
Tingkat suku bunga, ongkos, dan pengeluaran lain yang diperlukan untuk menutupi biaya jangka panjang
untuk menyediakan pinjaman atau jasa keuangan atau lainnya.


35
   Dari Martha Alter Chen, PBB/Kertas Kerja DESA no. 46, “Rethinking the Informal Economy,”
http://un.org/esa/desa/papers/2007/wp46_2007.pdf. Lihat juga Wikipedia
(http://en.wikipedia.org/wiki/Informal_economy#cite_ref-portes_0-0), diakses 19 Juni 2008.
76 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


Keberlanjutan keuangan purna (Full financial sustainability)
Situasi di mana pendapatan yang dihasilkan organisasi dari kliennya menutupi seluruh biaya (peluang)
kegiatannya, sehingga memungkinkannya meneruskan operasi pada tingkat yang stabil atau bertumbuh
tanpa dukungan terus-menerus dari pemerintah, badan donor, atau organisasi amal. Ketika diterapkan
kepada lembaga jasa keuangan, keberlanjutan keuangan purna mensyaratkan bahwa bunga dan ongkos
yang dikumpulkan lembaga keuangan mikro untuk pinjamannya sama dengan atau melebihi jumlah
biaya operasional dan finansialnya, dengan yang terakhir dinilai atas basis biaya peluang.
Biaya jangka panjang (peluang) purna (Full long-run (opportunity) costs)
Dalam konteks pedoman ini, biaya operasional dan finansial adalah yang dikeluarkan organisasi untuk
menyediakan suatu jumlah dan mutu layanan (misalnya, pinjaman), setelah organisasi mencapai skala
keekonomian yang layak dan peningkatan dalam efisien operasional, dengan semua biaya dinilai atas
basis biaya peluang. Ini digunakan sebagai dasar bagi menaksir harga yang harus dibebankan untuk
layanan yang memungkinkan organisasi mencapai keberlanjutan keuangan purna. Dalam hal lembaga
jasa keuangan yang mengalami pertumbuhan dan/atau peningkatan yang nyata dalam efisien
operasionalnya, biaya jangka panjang purna penyediaan pinjaman akan biasanya kurang dari biaya yang
saat ini teramati.
Aset kelompok (Group assets)
Aset yang dimiliki secara formal atau informal oleh sekelompok orang yang terlibat bersama dalam
bisnis. Contoh aset yang dikelola kelompok mencakup sistem irigasi tetes/sembur, peralatan
pengemasan, gudang, dan pembangkit listrik. Pemindahan aset kelompok cenderung lebih besar dalam
skala (nilai dan ukuran) daripada pemindahan aset perorangan dan lebih terpusat di satu lokasi; maka,
perhatian lebih sebelum pemindahan harus diberikan untuk menilai dampak dan implikasi pasar lokal.
Dampak (Impact)
Perubahan yang disukai atau dimaksudkan di dalam tujuan program tingkat tinggi, seperti pertumbuhan
usaha atau pendapatan rumahtangga. Dampak harus dibedakan dari keluaran antara proyek, misalnya
jumlah produsen yang terorganisasi atau jumlah pelatih yang diberikan.
Kajian dampak (Impact assessment)
Melibatkan pengkajian dampak proyek dan membuktikan kesebaban (attribution) dengan
membandingkan hasil aktual dengan kontrafaktual—suatu taksiran yang mungkin terjadi jika proyek
tidak diimplementasikan. Cara terbaik mengkaji dampak proyek adalah melalui survei sampel
longitudinal yang menggunakan metodologi coba-coba atau semi coba-coba untuk membandingkan
sampel peserta proyek dengan kelompok kontrol serupa yang tidak terlibat. Dampak kadang kala diukur
dengan meminta pendapat peserta dan/atau pakar. Walau dapat melengkapi secara efektif survei
longitudinal, penelitian kualitatif seperti ini bukan pengganti yang memuaskan bagi pendekatan yang
lebih unggul.
Organisasi pelaksana (Implementing organization)
Dalam kontek pemulihan ekonomi, semua organisasi pemerintah dan swadaya masyarakat yang
menyediakan langsung jasa keuangan dan/atau bantuan keuangan kepada usaha mikro, atau yang
melakukan atau yang melakukan kegiatan lain yang dimaksudkan untuk meningkatkan lingkungan bagi
kinerja usaha mikro.
Kerjasama antar-usaha (Inter-firm cooperation)
                                                                                           Apendiks 1: Glosarium - 77


Didefinisikan sebagai kesepakatan strategis di antara dua atau lebih bisnis yang melibatkan pertukaran
dan/atau berbagi atau pengembangan bersama produk, teknologi, atau layanan; dan mencakup aneka
pengaturan di antara usaha mikro, kecil, menengah, dan besar, yang meliputi hubungan pemberian
lisensi dan subkontrak, teknologi, pemasaran, dan bentuk-bentuk lain kemitraan strategis. Motivasi
utama kerjasama ini adalah meningkatkan posisi saing atau kekuatan pasar, menurunkan biaya
transaksi, dan menyediakan akses ke pengetahuan dan pembelajaran organisasi. Kerjasama antar-usaha
dapat menjadi mekanisme efektif untuk pembangunan kapasitas di bidang-bidang seperti teknologi,
peningkatan mutu produk dan proses, pemasaran, dan cara-cara pengelolaan, khususnya bagi usaha
mikro, kecil, dan menengah. (Lihat Kait Bisnis, Koperasi, dan Kelompok produsen).
Sektor informal/ekonomi informal (Informal sector/informal economy)36
Sektor atau ekonomi informal, disebut juga dengan “ekonomi kedua,” merujuk kepada pekerjaan yang
tidak diatur atau dipajaki oleh pemerintah. Ini mencakup beraneka rupa kegiatan dari berbagai jenis dan
hubungan pekerjaan dan pemekerjaan. Sektor informal dapat mencakup pekerja mandiri (dalam
kegiatan sendiri atau bisnis keluarga), pekerja berupah dalam usaha informal, pekerja sektor formal
dengan kegiatan ekonomi kedua informal, pekerja tak berupah dalam bisnis keluarga, pekerja lepas
tanpa majikan tetap, dan pekerja subkontrak yang terkait dengan usaha formal dan informal. Sebagian
besar pekerja dunia, mencakup yang paling miskin, ada di sektor informal. (lihat Sektor formal
/ekonomi formal).
Sumber nafkah (Livelihoods)
Sumber nafkah mencakup kemampuan, aset (meliputi sumber daya materi dan sosial), dan kegiatan
yang dibutuhkan sebagai sarana hidup. Sumber nafkah dipertahankan jika dapat menghadapi dan pulih
dari aneka tekanan dan kejut, dan mempertahankan atau meningkatkan aset dan kemampuan, sambil
tidak mengabaikan basis sumber daya alami. (DFID)
Sumber nafkah adalah strategi yang digunakan masyarakat untuk memegang, menggunakan, dan
memindahkan aset untuk menghasilkan pendapatan hari ini dan menghadapi masalah esok. Strategi ini
berubah dan menyesuaikan diri sebagai tanggapan atas aneka kejut, pengaruh luar, norma dan aturan
kelembagaan, dan faktor-faktor lain. Pendekatan sumber nafkah harus sedinamis strategi ini.
Pendekatan sumber nafkah bagi pengentasan kemiskinan menimbang pada dasarnya cara si miskin
mengelola asetnya dalam konteks kerentanan. Strategi pengentasan kemiskinan harus berisi kebijakan
dan tindakan yang mempromosikan sumber nafkah yang berkelanjutan dan menciptakan kerangka kerja
yang kondusif untuk meningkatkan kendali dan kepemilikan masyarakat miskin atas asetnya. (USAID)
Rantai pasar (Market chain)
Istilah yang sering kali digunakan oleh praktisi untuk merujuk ke subsektor atau rantai nilai. (Lihat
Subsektor atau Rantai nilai.)
Pengembangan pasar (Market development)
Pengembangan pasar, seperti yang didefinisikan oleh SEEP Network, adalah subbidang pengembangan
sektor usaha, tempat program pengembangan mencoba membantu usaha mikro dan kecil berperan
serta dalam, dan menarik manfaat lebih dari, pasar yang ada dan potensial tempat mereka berbisnis
(meliputi pasar masukan dan dukungan, serta pasar akhir). Melihat bahwa usaha mikro dan kecil tidak
beroperasi secara sendirian namun menjadi bagian pasar yang lebih besar, program pengembangan
pasar mencoba menerapkan program yang memperhitungkan kekuatan dan tren pasar. Ini
mensyaratkan bahwa program bekerja bukan hanya pada tingkat usaha kecil atau rumahtangga satuan,

36
     Women in Informal Employment, http://www.wiego.org bersama Organisasi Buruh Internasional (ILO).
78 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


namun juga dengan usaha besar, asosiasi, atau lembaga pemerintah yang terlibat dalam dan
memengaruhi pasar. Sasaran akhir program pengembangan pasar adalah merangsang pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan yang mengentaskan kemiskinan—utamanya dengan memastikan bahwa
pemilik usaha kecil dan para pekerjanya berperan dalam pertumbuhan dan meraup hasil yang tinggi.
(Lihat Rantai nilai, Subsektor, dan Membuat pasar bekerja bagi si miskin (M4P) untuk mengetahui
berbagai metodologi untuk melakukan pemrograman pengembangan pasar.)
Kait pasar (Market linkages)
(Lihat Kait bisnis, Analisis rantai nilai, dan Subsektor)
Membuat pasar bekerja bagi si miskin (Making markets work for the poor, M4P)
Pendekatan M4P digerakkan sebagian oleh Sasaran Pembangunan Milenium PBB yang ambisius untuk
mengurangi kemiskinan ekstrem hingga setengahnya pada tahun 2015. M4P mencoba “mempercepat
pertumbuhan pro-si miskin dengan meningkatkan hasil yang penting bagi mereka dalam perannya
sebagai wirausaha, pekerja, atau konsumen pasar.”37 Pendekatan ini memasukkan bukan hanya pasar
lokal, namun juga pasar nasional, regional dan global. Perubahan dalam aturan kebijakan dan praktik
bisnis yang memengaruhi lingkungan yang mendayai adalah bagian terpadu pendekatan. Maksud
proyek ini adalah mengubah struktur dan karakteristik pasar untuk meningkatkan peran serta kaum
miskin pada segi yang menguntungkan mereka.38 Perhatikan bahwa sebagian praktisi juga merujuk ke
MP4 sebagai pendekatan “dasar piramida,” mengutip judul buku karangan C.K. Prahalad.
Usaha menengah (Medium enterprise)
(Lihat Usaha mikro dan Usaha kecil)
Usaha mikro
Usaha yang sangat kecil yang dimiliki dan dijalankan oleh kaum miskin, biasanya di sektor informal,
dengan 10 atau kurang pekerja, mencakup si wirausaha dan pekerja anggota keluarga tak berupah. Ini
juga mencakup produksi panenan, sepanjang kegiatan itu memenuhi definisi (USAID).
Kategori usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) disusun oleh usaha yang memekerjakan kurang dari
250 orang, dengan omzet tahunan tidak lebih dari 50 juta euro, dan/atau neraca tahunan tidak lebih
dari 43 juta euro. Dalam kategori UMKM, usaha kecil didefinisikan sebagai usaha yang memekerjakan
kurang dari 50 orang dan beromzet dan/atau total neraca tahunan yang tidak melebihi 10 juta euro.
Dalam kategori UMKM, usaha mikro didefinisikan sebagai usaha yang memekerjakan kurang dari 10
orang, dengan omzet dan/atau total neraca tahunan tidak melebihi 2 juta euro (Komisi Eropa).39
Usaha mikro didefinisikan sebagai memiliki hingga 10 pekerja, aset total hingga 100 ribu dolar AS, dan
penjualan total tahunan hingga 100 ribu dolar AS; usaha kecil memiliki hingga 50 pekerja, aset total
hingga 3 juta dolar AS, dan penjualan total hingga 3 juta dolar AS; usaha menengah memiliki hingga 300
pekerja, aset total hingga 15 juta dolar AS, da penjualan tahunan hingga 15 juta dolar AS. Sementara
diakui bersifat subjektif dan sedang ditinjau, semua definisi ini konsisten secara umum dengan yang


37
   DFID, “Making Market Systems Work Better for the Poor (M4P): An Introduction to the Concept,” kertas kerja yang
disiapkan untuk lokakarya bersama ADB/DFID tentang “Making Markets Work Better for the Poor,” Manila, the Philippines, 15-
16 Februari 2005.
38
   David Ferrand, Alan Gibson, dan Scott Hugh, Making Markets Work for the Poor: An Objective and an Approach for
Governments and Development Agencies (Woodmead, South Africa: ComMark Trust, 2004); dan SIDA, “Making Markets Work
for the Poor: Challenges to SIDA’s Support to Private Sector Development,” edisi sementara (Stockholm, Sweden: Sida, 2003).
39
   Jurnal Resmi Masyarakat Eropa, Rekomendasi Komisi, 6 Mei 2003; definisinya tentang usaha mikro, kecil dan menengah
(http://europa.eu.int/eur-lex/pri/en/oj/dat/2003/l_124/l_12420030520en00360041.pdf).
                                                                                            Apendiks 1: Glosarium - 79


digunakan oleh sebagian besar lembaga keuangan internasional. Namun, patut dicatat bahwa angka
yang diperlihatkan di atas amat bergantung pada pilihan definisi ini (dan lainnya) (Bank Dunia)40
Pengembangan usaha mikro (Microenterprise development)
Semua kegiatan yang dilakukan donor, pemerintah negara induk, atau lembaga swadaya masyarakat
untuk meningkatkan kehidupan masyarakat miskin dengan mendorong pembentukan dan/atau tingkat
keuntungan usaha mikro dan kecil.
Wirausaha mikro (Microentrepreneur)
Pemilik atau pelaksana usaha mikro, kadang-kadang seseorang yang membutuhkan secara ekonomi,
sosial dan pendidikan, dan biasanya orang yang kurang memiliki akses ke sistem perbankan komersial
resmi dan layanan pengembangan bisnis yang biasa.
Pembiayaan mikro (Microfinance)
Penyediaan jasa keuangan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat berpendapatan rendah,
misalnya wirausaha mikro, khususnya penyediaan pinjaman kecil, penerimaan tabungan bernilai kecil,
dan penyediaan layanan pembayaran yang dibutuhkan oleh wirausaha dan masyarakat lain yang
mungkin kurang memiliki akses ke jasa keuangan arus utama.
Lembaga/organisasi pembiayaa mikro (Microfinance institution/organization, MFI/MFO)
Organisasi yang seluruh atau sebagian besar kegiatannya mencakup penyediaan jasa keuangan kepada
wirausaha mikro.
Bantuan non-keuangan (Non-financial assistance)
Dalam konteks pengembangan usaha, semua upaya meningkatkan kinerja usaha perorangan atau
kelompok yang diambil selain dari pembiayaan mikro. Mencakup, namun tidak terbatas pada, pelatihan
wirausaha perorangan, upaya menautkan usaha dengan pemasok atau pasar untuk keluarannya,
pengembangan dan perluasan teknologi untuk digunakan wirausaha, dan upaya melobi untuk perbaikan
kebijakan dan/atau lembaga yang memengaruhi usaha.
Biaya operasional (Operational costs)
Bagian dari biaya program yang menutupi biaya pegawai dan administrasi, depresiasi aset tetap, dan
rugi pinjaman.
Efisiensi operasional (Operational efficiency)
Sejauh mana sebuah organisasi berhasil menekan biaya operasionalnya bagi masyarakat target. Efisien
ini diukur oleh rasio biaya operasional organisasi terhadap nilai rata-rata portofolio yang masih tersisa.
Swa sembada operasional (Operational self-sufficiency)
Situasi yang membuat organisasi mampu menghasilkan pendapatan yang cukup dari klien untuk
menutupi biaya operasionalnya.
Biaya Peluang (Opportunity costs)
Nilai sekumpulan sumber daya dalam cara pemanfaatan terbaiknya. Jika diterapkan pada program
pengembangan usaha, istilah ini merujuk ke nilai pasar sumber daya yang digunakan untuk menjalankan
program. Secara khusus, menghitung nilai peluang program mensyaratkan bahwa semua dana atau


40
     Bank Dunia, “Small and Medium Enterprise Development,” http://www2.ifc.org/sme/html/sme_definitions.html.
80 - Standar Pemulihan Ekonomi Minimum


sumber daya lain yang diterima dalam bentuk hibah atau pinjaman berbunga rendah dinilai menurut
yang seharusnya dibayar lembaga untuk dana itu jika saja digalang dari pasar keuangan swasta.
Kelompok produsen (Producer group)
Dimaknai sebagai orang-orang yang terlibat dalam menghasilkan produk yang sama yang diatur untuk
mencapai skala keekonomian dan efisien produksi atau pemasaran. Dengan (bekerjasama) mengatur diri
ke dalam kelompok produsen, perusahaan mikro dan kecil sering mampu: 1) meningkatkan akses ke dan
mengurangi biaya bahan mentah lewat pembelian curah; 2) meningkatkan efisien dengan berbagi
kecakapan dan sumber daya produksi; 3) meningkatkan mutu dan penerimaan pasar produk lewat
standar produksi bersama dan spesifikasi yang terpacu pasar; 4) meningkatkan akses ke pembiayaan
yang tersedia; 5) mendapatkan layanan bisnis penting lewat mekanisme tertanam atau biaya-atas-
layanan; dan 6) meningkatkan kedudukan pasar dengan memiliki mutu, jumlah, dan jenis produk yang
dibutuhkan banyak pembeli (lihat Koperasi dan Kerjasama antar-usaha).
Kiriman Uang (Remittances)
Pendapatan yang dikirimkan kaum migran ke negara asal mereka. Di Amerika Latin dan Karibia,
misalnya, kiriman uang membentuk arus penting mata uang asing di sebagian besar negara.
Usaha kecil dan usaha kecil-menengah) (Small enterprise dan SME)
Juga sering disingkat dengan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) (lihat Usaha dan Usaha mikro).
Kejut (Shock)
Biasanya peristiwa tiba-tiba tak beraturan yang memengaruhi secara nyata kemampuan rumahtangga
dan usaha untuk menghasilkan pendapatan lewat sarana yang biasa. Pada tingkat ekonomi dan pasar,
kejut adalah sebuah peristiwa yang mengganggu pola dan tren perdagangan yang mapan. Pengaruh
kejut akan berbeda-beda di antara rumahtangga, usaha dan pasar.
Subsektor (Sub-sector)41
Subsektor dapat dimaknai sebagai semua perusahaan yang membeli dan menjual satu sama lain untuk
memasok seperangkat tertentu produk atau layanan kepada pelanggan akhir.
(lihat Rantai nilai)
Pinjaman bersubsidi (Subsidized credit)
Penyediaan pinjaman dengan basis tingkat bunga dan biaya yang tidak menutupi biaya penuh jangka
panjang penyediaan pinjaman itu.
Pasar pendukung atau layanan pendukung (Supporting markets or supporting services)
(Lihat Layanan pengembangan bisnis)
Keberlanjutan (Sustainability)
Keberlanjutan dampak proyek mensyaratkan pengembangan kapasitas lokal untuk mengatasi kendala
berulang. Kendala rantai nilai berulang harus diatasi dengan upaya pada kebijakan dan/atau solusi
pembaruan peraturan dan komersial bagi layanan (bisnis dan keuangan) yang mendukung dan masukan
yang ditingkatkan. Lebih-lebih, intervensi harus bersifat sementara, dan strategi keluar yang tegas harus
dikembangkan sejak awal (tidak di akhir proyek) untuk memastikan bahwa dampak itu berkelanjutan
setelah kegiatan proyek berakhir.
41
  Frank Lusby dan Henry Panlibuton, Promoting Commercially Viable Solutions to Sub-Sector and Enterprise Development
Constraints (Arlington, VA, USA: Action for Enterprise, 2004).
                                                                              Apendiks 1: Glosarium - 81


Peningkatan (Upgrading)
Merujuk ke perubahan pola pikir, peningkatkan kecakapan, pengembangan rancangan atau produk baru
yang berdasarkan pengetahuan akan pelanggan akhir, pemanfaatan teknologi baru, penggunaan fungsi
baru di dalam rantai nilai, dan tindakan lain yang membawa ke ke daya saing yang lebih besar.
Peningkatan dapat mencakup pengembangan produk, alih teknologi, pelatihan tenaga kerja, kait balik
pemasok yang efektif, serta penggunaan informasi teknologi untuk membuat perusahaan mampu
mengenali dan bersaing di pasar baru. Menyusun usaha mikro dan kecil sering kali menjadi langkah
pertama dalam membangun kait balik yang efektif ke pemasok.
Nilai tambah (Value added)
(Lihat Peningkatan)
Rantai nilai (Value chain)
Menguraikan rentang purna kegiatan yang diperlukan untuk membawa produk atau layanan dari
penggagasan ke penggunaan akhir dan setelahnya, dan mencakup kegiatan seperti perancangan,
produksi, pemasaran, pengedaran, dan dukungan kepada pelanggan akhir. Kegiatan yang menyusun
rantai nilai dapat ditampung di dalam satu perusahaan atau dibagi di antara beberapa perusahaan.
Kegiatan rantai nilai dapat diwadahi di dalam satu lokasi geografis atau tersebar di daerah yang lebih
luas.
Rantai nilai global dibagi di antara banyak perusahaan dan tersebar melintasi kawasan geografis yang
luas, sehingga disebut “rantai nilai global.” Bukti menunjukkan bahwa rantai nilai global telah makin
umum dan halus di ujung abad ke-20. Kini, proses perkembangan ekonomi tidak dapat disekat dari
sistem global ini. Ini artinya bahwa perusahaan dan pekerja di lokasi yang terpisah jauh memengaruhi
satu sama lain lebih daripada di masa lalu. Sebagian pengaruh ini sangat langsung, seperti ketika
perusahaan dari satu negara membangun pabrik baru atau pusat rekayasa di negara lain. Sebagian lebih
rumit, seperti ketika sebuah perusahaan di satu negara mengikat kontrak dengan perusahaan di negara
lain untuk mengoordinasikan produksi di pabrik yang dimiliki oleh perusahaan lain di negara ketiga, dan
seterusnya (lihat Subsektor)
Analisis rantai nilai
Berfokus pada dinamika antarkait di dalam sektor produktif, khususnya cara perusahaan atau negara
terpadu secara global. Sementara mencakup suatu uraian pelaku dalam rantai nilai dan analisis kendala
di sepanjang rantai (sebagaimana analisis sektoral tradisional), analisis ini mengatasi kelemahan penting
analisis tradisional, yang cenderung statis dan membatasi diri kepada batas negara. Analisis rantai nilai
memusatkan perhatian pada antarkait dan, dengan demikian, menyingkap arus dinamis kegiatan
ekonomi, organisasi, dan persinggungan di antara produsen di berbagai sektor, bahkan pada suatu skala
global.
Apendiks 2
Gugus Tugas Pengembangan Standar
Kita akan dianggap lalai jika tidak mencantumkan semua orang dan organisasinya yang telah
menyumbangkan waktu, bakat, dan tenaga untuk mengembangkan draf konsultasi Standar Minimum
Pemulihan Ekonomi setelah Krisis.
Tim Penulis
Mike Albu, Practical Action                           Ben Lydecker, CRS
Sarah Bailey, ODI                                     Lloyd McCormick, CCF
Elizabeth Bellardo, InterAction                       Devorah Miller, CCF
Tanya Boudreau, FEG Consulting                        Lauren Mitten, DAI
Ruth Campbell, ACDI/VOCA                              Lili Mohiddin, OxfamUK
Sybil Chidiac, CARE                                   Mary Morgan, Friend of SEEP
Eric Derks, AFE                                       Sasha Muench, Mercy Corps
Tuan Doan, Save the Children                          Tregenna Myrabo, World Vision International
Mayada El-Zoghbi, Banyan Global                       Geetha Nagarajan, IRIS Center
Jesse Fripp, ShoreBank International                  Tim Nourse, AED
Karri Goeldner Byrne, IRC-UK                          Amelia Peltz, Save the Children
Colleen Green, DAI                                    Adina Saperstein, ACDI/VOCA
Canan Gündüz, International Alert                     Ina Schonberg, Save the Children
Rob Henning, OTF Group                                Thomas Shaw, CRS
Terry Isert, ARC                                      Rod Snider, Save the Children
Carlton Jones, JE Austin Associates                   Kimberly Tilock, CHF International
Diana Klein, International Alert                      Monica Verma, FINCA
Alex Kobishyn, FINCA                                  Sarah Ward, Mercy Corps



Fasilitator Utama: Tracy Gerstle, CHF International (2007–2008) dan CARE USA
Ko-Fasilitator: Laura Meissner, SEEP

Catatan: sebagai orang telah meninggalkan organisasi yang terdaftar di sini; namun, mereka disebutkan
untuk menghargai komitmen organisasinya.

Penghargaan khusus kepada Hani Eskandar dan Alison Joyner di Sphere Project Project atas panduan
dan dukungannya.

						
Related docs
Other docs by rur18893