Docstoc

klasifikasi iklim

Document Sample
klasifikasi iklim Powered By Docstoc
					                  Klasifikasi Iklim
    Menurut F. Junghuhn :
F. Junghuhn seorang berkebangsaan Belanda mengadakan penelitian di Sumatra Selatan dan
Dataran Tinggi Bandung. Berdasarkan hasil penelitiannya F. Junghuhn membagi iklim di
Indonesia berdasarkan ketinggian tempat.
Empat daerah iklim menurut F. Junghuhn adalah sebagai berikut.
1. Zona Iklim Panas
Zona iklim panas terletak pada daerah dengan ketinggian antara 0 – 650
meter dan temperatur antara 26,3 °C – 22 °C.
2. Zona Iklim Sedang
Zona iklim sedang terletak pada daerah dengan ketinggian antara 650 – 1500
meter dan temperatur antara 22 °C – 17,1 °C.
3. Zona Iklim Sejuk
Zona iklim sejuk terletak pada daerah dengan ketinggian antara 1500 – 2500
meter dan temperatur antara 17,1 °C – 11,1 °C.
4. Zona Iklim Dingin
Zona iklim dingin terletak pada daerah dengan ketinggian di atas 2500
meter dan temperatur kurang dari 11,1 °C.
    Menurut W. Koppen

Pada tahun 1918, seorang berkebangsaan Jerman bernama W. Koppen membagi iklim
berdasarkan temperatur udara, banyaknya curah hujan, dan penguapan. Dengan dasar itulah
W. Koppen membagi seluruh permukaan bumi menjadi 5 daerah iklim dengan diberi simbol A,
B, C, D, dan E.




   1) Iklim A atau Iklim Hujan Tropik (Tropical Rainy Climates)
      Golongan iklim ini dibagi menjadi tiga, sebagai berikut.
      a) Tropik Basah (Af)
      Pada bulan terkeringnya mempunyai curah hujan yang rata-rata lebih besar 60 mm.
      b) Tropik Basah (Am)
      Jumlah hujan pada bulan-bulan basah dapat mengimbangi kekurangan hujan pada bulan-bulan
      kering, sehingga pada daerah ini masih terdapat hutan yang sangat lebat.
      c) Tropik Basah Kering (Aw)
      Jumlah hujan pada bulan-bulan basah tidak dapat mengimbangi kekurangan hujan pada bulan-
      bulan kering, sehingga vegetasi yang ada hanyalah padang rumput dengan pohon-pohon yang
      jarang.

   2) Iklim B atau Iklim Kering (Dry Climates)
      Jumlah curah hujan sedikit, sedangkan penguapannya tinggi. Golongan iklim ini dibagi menjadi
      dua, sebagai berikut.
      a) Iklim Stepa (Bs)
      Daerah setengah kering yang terletak antara daerah sabana dan daerah padang pasir pada
      lintang rendah.
      b) Iklim Padang Pasir (Bw)



   3) Iklim C atau Iklim Sedang (Humid Climates)
      Golongan iklim ini dibagi menjadi tiga, sebagai berikut.
      a) Iklim Sedang dengan Musim Panas yang Kering (Cs)
      Daerah yang mempunyai musim panas yang kering, pada bulan terkering curah hujannya lebih
       kecil dari 30 mm pertahun.
       b) Iklim Sedang dengan Musim Dingin yang Kering (Cw)
       Daerah yang mempunyai musim panas yang lembap serta mempunyai musim dingin yang
       kering.
       c) Iklim Sedang yang Lembap (Cf)
       Daerah yang selalu lembap sepanjang tahun.



   4) Iklim D atau Iklim Dingin (Humid Microthermal Climates)
      Golongan iklim ini dibagi menjadi dua, sebagai berikut.
      a) Iklim Dingin dengan Musim Dingin yang Kering (Dw) dan
      b) Iklim Dingin Tanpa Periode Kering (Df).



   5) Iklim E atau Iklim Kutub (Polar Climates)
      Golongan iklim ini dibagi menjadi dua, sebagai berikut.
      a) Iklim Tundra (Ef)
      Bulan terpanas dengan rata-rata temperatur lebih besar dari 0 °C (32 °F), tetapi lebih kecil dari
      10 °C (5 °F), pada daerah ini vegetasi yang ada hanya lumut.
      b) Iklim Es atau Salju Abadi (Ef)
      Bulan terpanas rata-rata temperatur lebih kecil dari 0 °C (32 °F). Tipe iklim ini bercirikan adanya
      es dan salju abadi.


    Menurut Schmidt Fergusson


Schmidt dan Ferguson membagi iklim berdasarkan banyaknya curah hujan pada tiap bulan yang
dirumuskan sebagai berikut :




Di Indonesia terbagi menjadi 8 tipe Iklim :

A. kategori sangat basah, nilai Q = 0 – 14,3 %

B. kategori basah, nilai Q = 14,3 – 33,3 %
C. kategori agak basah nilai Q 33,3 – 60 %

D. kategori sedang, nilai Q = 60 – 100 %

E. kategori agak kering, nilai Q = 100 – 167 %

F. kategori kering, nilai Q = 167 – 300 %

G. kategori sangat kering, nilai Q = 300 – 700 %

H. kategori luar biasa kering, nilai Q = lebih dari 700 %

    Menurut Oldeman

Oldeman membagi iklim menjadi 5 tipe iklim yaitu :

      Iklim A. Iklim yang memiliki bulan basah lebih dari 9 kali berturut-turut

      Iklim B. Iklim yang memiliki bulan basah 7-9 kali berturut-turut

      Iklim C. Iklim yang memiliki bulan basah 5-6 kali berturut-turut

      Iklim D. Iklim yang memiliki bulan basah 3-4 kali berturut-turut

berdasarkan urutan bulan basah dan kering dengan ketententuan tertentu diurutkan sebagai
berikut:

   a. Bulan basah bila curah hujan lebih dari 200 mm.
   b. Bulan lembab bila curah hujan 100 – 200 mm.
   c. Bulan kering bila curah hujan kurang dari 100 mm.

A : Jika terdapat lebih dari 9 bulan basah berurutan.
B : Jika terdapat 7 – 9 bulan basah berurutan.
C : Jika terdapat 5 – 6 bulan basah berurutan.
D : Jika terdapat 3 – 4 bulan basah berurutan.
E : Jika terdapat kurang dari 3 bulan basah berurutan.

Pada dasarnya Kriteria bulan basah dan bulan kering yang dipakai Oldeman berbeda dengan
yang digunakan oleh Koppen atau pun Schmidt – Ferguson Bulan basah yang digunakan
Oldeman adalah sebagai berikut: Bulan basah apabila curah hujan lebih dari 200 mm. Bulan
lembab apabila curah hujannya 100 - 200 mm. Bulan kering apabila curah hujannya kurang dari
100 mm.
 Menurut Iklim Matahari
  Yaitu iklim yang didasarkan atas perbedaan panas matahari yang diterima permukaan bumi.
  Daerah-daerah yang berada pada lintang tinggi lebih sedikit memperoleh sinar matahari,
  sedangkan daerah yang terletak pada lintang rendah lebih banyak menerima sinar matahari,
  berdasarkan iklim matahari terbagi menjadi: iklim tropik; iklim sub tropik; iklim sedang dan iklim
  dingin.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:10634
posted:1/12/2011
language:Indonesian
pages:5