Docstoc

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN

Document Sample
MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN Powered By Docstoc
					   PERANAN FILSAFAT PENDIDIKAN

DALAM PEMBENTUKAN MORALITAS SISWA




           DISUSUN OLEH :
            DEDI SUSANTO
               57218
             PADANG 17




   UNIVERSITAS NEGERI PADANG
      TEKNOLOGI PENDIDIKAN
               2010
                                       BAB I

                               PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


           Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan.

  Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya

  menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-

  masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi

  pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat

  dijangkau oleh sains pendidikan.


  Pendidikan adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia

  dengan     alam,   dengan   sesama    manusia   atau   juga   pengembangan   dan

  penyempurnaan secara teratur dari semua potensi moral, intelektual, dan jasmaniah

  manusia oleh dan untuk kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yang ditujukan

  untuk kepentingan tersebut dalam hubungannya dengan Sang Maha Pencipta

  sebagai tujuan akhir.

  Pendidikan mutlak harus ada pada manusia, karena pendidikan merupakan hakikat

  hidup dan kehidupan. Pendidikan berguna untuk membina kepribadian manusia.

  Dengan pendidikan maka terbentuklah pribadi yang baik sehingga di dalam

  pergaulan dengan manusia lain, individu dapat hidup dengan tenang. Pendidikan

  membantu agar tiap individu mampu menjadi anggota kesatuan sosial manusia

  tanpa kehilangan pribadinya masing-masing.
Pada hakikatnya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama, yakni keluarga,

masyarakat, dan sekolah/ lembaga pendidikan. Keluarga sebagai lembaga pertama

dan utama pendidikan, masyarakat sebagai tempat berkembangnya pendidikan, dan

sekolah sebagai lembaga formal dalam pendidikan. Pendidikan keluarga sebagai

peletak dasar pembentukan kepribadian anak.

Dalam UU RI No. 2 Tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional

(SISDIKNAS), Bab II Pasal 4, dijelaskan bahwa: ”Pendidikan Nasional bertujuan

mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia

seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan

berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani

dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab

kemasyarakatan dan bangsa”. Ini merupakan salah satu dasar dan tujuan dari

pendidikan nasional yang seharusnya menjadi acuan bangsa Indonesia.

           Krisis akhlak terlihat pada lapisan masyarakat yang sebagian sikap mereka

sangat mudah merampas hak orang lain, misalnya menjarah, main hakim sendiri,

melanggar peraturan tanpa merasa bersalah, mudah terpancing emosi, mudah

diombang-ambingkan dan perbuatan lain yang merugikan orang lain atau diri

sendiri.

           Hal ini juga berdampak buruk pada mutu pendidikan terutama pada

kalangan pelajar, dan untuk mengatasi hal tersebut maka perlu adanya filsafat

dalam pendidikan pada kalangan masyarakat terutama para pelajar, karena dengan

Filsafat pendidikan prilaku masyarakat terutama para pelajar akan lebih terarah, dan

tercapainya Tujuan Pendidikan Nasional. Oleh sebab itu maka penulis tertarik
  membahas lebih lanjut tentang “Peranan Filsafat Pendidikan dalam Pembentukan

  Moralitas Siswa”.



B. RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH

       Bagaimanakah peranan filsafat pendidikan dalam meingkatkan moralitas

  siswa dan bagaimana cara mengatasi krisis moral yang terjadi dikalangan

  masyarakat terutama para pelajar.



C. TUJUAN PENULISAN

  Penulisan makalah ini bertujuan :

  1. Untuk menambah ilmu pengetahuan penulis tentang peranan filsafat dalam

     dunia pendidikan.

  2. Sebagai bahan masukan bagi seluruh lapisan masyarakat tentang pentingnya

     filsafat dalam kehidupan.



D. MANFAAT PENULISAN

     Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat :

  1. Bagi siswa untuk lebih meningkatkan pemahaman tentang peranan filsafat dalam

     pendidikan.

  2. Bagi orang tua agar lebih dini menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-

     anaknya.

  3. Bagi pendidik agar lebih banyak mengajarkan etika dan moral pada peserta

     didiknya, setiap kali proses belajar mengajar berlangsung.
                                          BAB II

                                     PEMBAHASAN


1. Pengertian Filsafat

   Filsafat adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu
   sampai keakar-akarnya. Sesuatu disini dapat berarti terbatas dan dapat pula berarti
   tidak terbatas. Bila berarti terbatas, filsafat membatasi diri akan hal tertentu saja. Bila
   berarti tidak terbatas, filsafat membahas segala sesuatu yang ada dialam ini yang
   sering dikatakan filsafat umum. Sementara itu filsafat yang terbatas adalah filsafat
   ilmu, filsafat pendidikan, filsafat seni dan lain-lainnya.

   Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan
   kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan
   kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi
   yang bisa diamati oleh manusia saja, sesungguhnya isi alam yang dapat dinikmati
   hanya sebagian kecil saja. Misalnya mengamati gunung es, hanya mampu melihat
   yang di atas permukaan di laut saja. Sementara itu filsafat mencoba menyelami
   sampai kedasar gunung es itu untuk meraba sesuatu yang ada dipikiran dan renungan
   yang kritis.

   Dalam garis besarnya ada empat cabang filsafat yaitu: metafisiska, epistemologi,
   logika, dan etika, dengan kandungan materi masing-masing sebagai berikut :

   1). Metafisika adalah filsafat yang meninjau tentang hakekat segala sesuatu yang
       terdapat dialam ini. Dalam kaitannya dengan manusia, ada dua pandangan
       menurut Callahan (1983) yaitu :

       a. Manusia pada hakekatnya adalah spritual. Yang ada adalah jiwa tau roh, yang
          lain adalah semu. Pendidikan berkewajiban membebaskan jwa dari ikatan
      semu. Pendidikan adalah untuk mengaktualisasikan diri, pandangan ini dianut
      oleh kaum Idealis, Scholastik, dan beberapa Realis.

   b. Manusia adalah organisme materi.Pandangan ini dianut kaum Naturalis,
      Materialis, Eksprementalis, Pragmatis, dan beberapa Realis. Pendidikan
      adalah untuk hidup. Pendidikan berkewajiban membuat kehidupan menusia
      menjadi menyenangkan.

2). Epistemologi adalah filfat yang membahas tentang pergaulan dan kebenaran,
   dengan rincian masing-masing sebagai beikut :

   a. ada lima sumber pengetahuan yaitu:

      (1). Otoritas, yang terdapat dalam ensiklopedia, buku teks yang baik, rums
          dan tabel.

      (2). Comman sense yang ada pada adat dan tradisi

      (3). Intuisi yang berkaitan dengan perasaan

      (4). Pikiran untuk menyimpulkan hasil pengelaman

      (5).Pengalaman yang terkontrol untuk mendapatkan pengetahuan secara
          ilmiah.

   b. ada empat teori kebenaran yaitu:

      (1). Koheren, sesuatu akan benar bila ia konsesten dengan kebenaan umum.

      (2). Koresponden, sesuatu akan benar bila ia dengan tepat dengan fakta yang
          jelas.

      (3). Pragmatisme, sesuatu dipandang benar bila konsekuensinya memberi
          manfaat bagi kehidupan.
          (4). Skeptivisme, kebenaran dicari secara ilmiah dan tidak ada kebenaran
              yang lengkap.

3). Logika adalah filsafat yang membahas tentang cara manusia berpikir dengan
    benar. Dengan memahami filsafat logika diharapkan manusia bisa berpikir dan
    mengemukakan penadapatnya secara tepat.

4). Etika adalah filsafat yang menguaraikan tentang perilaku manusia, Nilai dan
    norma masyarakat serta ajaran agama menjadi pokok pemikiran dalam filsafat
    ini. Filsafat etika sangat besar mempengaruhi pendidikan sebab tujuan
    pendidikan untuk mengembangan perilaku manusia, anatara lain afeksi peserta
    didik.

Junjun (1981) membagi proses perkembangan ilmu menjadi dua bagian yang seling
berkaitan satu dengan yang lain. Tingkat proses perkembangan yang dimaksud
adalah:

1). Tingkat empiris adalah ilmu yang baru ditemukan di lapangan. Ilmu yang masih
   berdiri sendiri, baru sedikit bertautan dengan penemuan yang lain sejenis. Pada
   tingkat ini wujud ilmu belum utuh, masing-masing sesuai dengan misi
   penemuannya karena belum lengkap.

2). Tingkat penjelasan atau teoretis, adalah ilmu yang sudah mengembangkan suatu
   struktur teoretis. Dengan struktur ini ilmu-ilmu emperis yang masih terpisah-
   pisah itu dicari kaitannya satu dengan yang lain dan dijelaskan sifat kaitan itu.
   Dengan cara ini struktur berusaha mengintergrasikan ilmu-ilmu empiris itu
   menjadi suatu pola yang berarti.

Dari uraian di atas kita sudah berkenalan dengan ilmu empiris berupa simpulan-
simpulan penelitian dan konsep-konsep serta ilmu teoretis dalam bentuk teori-teori
atau grand theory-grand theory.
 Sedangkan Pendidikan adalah merupakan salah satu bidang ilmu. Sama halnya
 dengan ilmu-ilmu yang lain, pendidikan lahir dari induknya filsafat. Sejalandengan
 proses perkembangan ilmu ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan-lahan dari
 induknya. Pada awalnya pendidikan bersama dengan filsafat sebab filsafat tidak
 pernah bisa membebaskan diri dengan pembentukan manusia. Filsafat diciptakan
 oleh manusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan
 manusia, dan peningkatan hidup manusia.

 HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT DAN PENDIDIKAN

 Hubungan antara filsafat dan pendidikan terkait dengan persoalan logika, yaitu:
 logika formal yang dibangun atas prinsif koherensi, dan logika dialektis dibangun
 atas prinsip menerima dan membolehkan kontradiksi. Hubungan interakif antara
 filsafat dan pendidikan berlangsung dalam lingkaran kultural dan pada akhirnya
 menghasilkan apa yang disebut dengan filsafat pendidikan.

 Pendidikan menurut filsafat bertujuan mengembangkan kesadaran individu,
 memberikesempatan untuk bebas memilih etika, mendorong pengembangkan
 pengetahuan diri sendiri, bertanggung jawab sendiri, dan mengembangkan komitmen
 diri sendiri. Materi pelajaran harus memberikesempatan aktif sendiri, merencana dan
 melaksanakan sendiri, baik dalam bekerja sendiri maupun kelompok. Materi yang
 dipelajari ditekankan kepada kebutuhan langsung dalam kebutuhan manusia. Peserta
 didik perlu mendapatkan pengalaman sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual
 mereka. Guru harus bersifat demokratis dengan teknik mengajar langsung.

 DASAR-DASAR FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN



 a. Dasar ontologis ilmu pendidikan

   Pertama-tama pada latar filsafat diperlukan dasar ontologis dari ilmu pendidikan.

   Adapun aspek realitas yang dijangkau teori dan ilmu pendidikan melalui
pengalaman pancaindra ialah dunia pengalaman manusia secara empiris. Objek

materil ilmu pendidikan ialah manusia seutuhnya, manusia yang lengkap aspek-

aspek kepribadiannya, yaitu manusia yang berakhlak mulia dalam situasi

pendidikan atau diharapokan melampaui manusia sebagai makhluk sosial

mengingat sebagai warga masyarakat ia mempunyai ciri warga yang baik (good

citizenship atau kewarganegaraan yang sebaik-baiknya).

            Agar pendidikan dalam praktek terbebas dari keragu-raguan, maka

objek formal ilmu pendidikan dibatasi pada manusia seutuhnya di dalam

fenomena atau situasi pendidikan. Didalam situiasi sosial manusia itu sering

berperilaku tidak utuh, hanya menjadi makhluk berperilaku individual dan/atau

makhluk sosial yang berperilaku kolektif. Hal itu boleh-boleh saja dan dapat

diterima terbatas pada ruang lingkup pendidikan makro yang berskala besar

mengingat adanya konteks sosio-budaya yang terstruktur oleh sistem nilai

tertentu. Akan tetapipada latar mikro, sistem nilai harus terwujud dalam

hubungan inter dan antar pribadi yang menjadi syarat mutlak (conditio sine qua

non) bagi terlaksananya mendidik dan mengajar, yaitu kegiatan pendidikan yang

berskala mikro. Hal itu terjadi mengingat pihak pendidik yang berkepribadiaan

sendiri secara utuh memperlakukan peserta didiknya secara terhormat sebagai

pribai pula, terlpas dari factor umum, jenis kelamin ataupun pembawaanya. Jika

pendidik tidak bersikap afektif utuh demikian maka menurut Gordon (1975: Ch.

I) akan terjadi mata rantai yang hilang (the missing link) atas factor hubungan

serta didik-pendidik atau antara siswa-guru. Dengan egitu pendidikan hanya akan

terjadi secar kuantitatif sekalipun bersifat optimal, misalnya hasil THB summatif,
      NEM atau pemerataan pendidikan yang kurang mengajarkan demokrasi jadi

      kurang berdemokrasi. Sedangkan kualitas manusianya belum tentu utuh.



b.   Dasar epistemologis ilmu pendidikan

        Dasar epistemologis diperlukan oleh pendidikan atau pakar ilmu pendidikan

     demi mengembangkan ilmunya secara produktif dan bertanggung jawab.

     Sekalaipun pengumpulan data di lapangan sebagaian dapat dilakukan oleh tenaga

     pemula namuntelaah atas objek formil ilmu pendidikan memerlukaan pendekatan

     fenomenologis yang akan      menjalin stui empirik dengan studi kualitatif-

     fenomenologis. Pendekaatan fenomenologis itu bersifat kualitaatif, artinya

     melibatkan pribadi dan diri peneliti sabagai instrumen pengumpul data secara

     pasca positivisme. Karena itu penelaaah dan pengumpulan data diarahkan oleh

     pendidik atau ilmuwan sebagaai pakar yang jujur dan menyatu dengan objeknya.

     Karena penelitian tertuju tidak hnya pemahaman dan pengertian (verstehen,

     Bodgan & Biklen, 1982) melainkan unuk mencapai kearifan (kebijaksanaan atau

     wisdom) tentang fenomen pendidikan maka vaaliditas internal harus dijaga betul

     dalm berbagai bentuk penlitian dan penyelidikan seperti penelitian koasi

     eksperimental, penelitian tindakan, penelitian etnografis dan penelitian ex post

     facto. Inti dasar epistemologis ini adalah agar dapat ditentukan bahaawa dalam

     menjelaskaan   objek   formaalnya,    telaah   ilmu   pendidikan   tidaak   hanya

     mengembangkan ilmu terapan melainkan menuju kepada telaah teori dan ilmu

     pendidikan sebgaai ilmu otonom yang mempunyi objek formil sendiri atau

     problematika sendiri sekalipun tidak dapat hnya menggunkaan pendekatan
     kuantitatif atau pun eksperimental (Campbell & Stanley, 1963). Dengan demikian

     uji kebenaran pengetahuan sangat diperlukan secara korespondensi, secara koheren

     dan sekaligus secara praktis dan atau pragmatis (Randall &Buchler,1942).

c.   Dasar aksiologis ilmu pendidikan

        Kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom

     tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi

     pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Oleh karena itu

     nilai ilmu pendidikan tidak hanya bersifat intrinsic sebagai ilmu seperti seni untuk

     seni, melainkan juga nilai ekstrinsik dan ilmu untuk menelaah dasar-dasar

     kemungkinan bertindak dalam praktek mmelalui kontrol terhadap pengaruh yang

     negatif dan meningkatkan pengaruh yang positif dalam pendidikan. Dengan

     demikian ilmu pendidikan tidak bebas nilai mengingat hanya terdapat batas yang

     sangat tipis antar pekerjaan ilmu pendidikan dan tugas pendidik sebagi pedagok.

     Dalam hal ini relevan sekali untuk memperhatikan pendidikan sebagai bidang yang

     sarat nilai seperti dijelaskan oleh Phenix (1966). Itu sebabnya pendidikan

     memerlukan teknologi pula tetapi pendidikan bukanlah bagian dari iptek. Namun

     harus diakui bahwa ilmu pendidikan belum jauh pertumbuhannya dibandingkan

     dengan kebanyakan ilmu sosial dan ilmu prilaku. Lebih-lebih di Indonesia.

            Peranannya ialah bahwa ilmu pendidikan lebih dekat kepada ilmu prilaku

     kepada ilmu-ilmu sosial, dan harus menolak pendirian lain bahwa di dalam

     kesatuan ilmu-ilmu terdapat unifikasi satu-sayunyaa metode ilmiah (Kalr

     Perason,1990).
d.   Dasar antropologis ilmu pendidikan

        Pendidikan yang intinya mendidik dan mengajar ialah pertemuan antara

     pendidik sebagai subjek dan peserta didik sebagai subjek pula dimana terjadi

     pemberian bantuan kepada pihak yang belakangan dalaam upaayanya belajr

     mencapai kemandirian dalam batas-batas yang diberikan oleh dunia disekitarnya.

     Atas dasar pandangan filsafah yang bersifat dialogis ini maka 3 dasar antropologis

     berlaku universal tidak hanya (1) sosialitas dan (2) individualitas, melainkan juga

     (3) moralitas. Kiranya khusus untuk Indonesia apabila dunia pendidikan nasional

     didasarkan atas kebudayaan nasional yang menjadi konteks dari sistem pengajaran

     nasional disekolah, tentu akan diperlukan juga dasar antropologis pelengkap yaitu

     (4) religiusitas, yaaitu pendidik dalam situasi pendidikan sekurangkurangnya

     secara mikro berhamba kepada kepentingan terdidik sebagai bagian dari

     pengabdian lebih besar kepada Tuhan Yang Maha Esa.

     3. Peranan Filsafat dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

     Pendidikan berguna untuk membina kepribadian manusia. Dengan pendidikan

     maka terbentuklah pribadi yang baik sehingga di dalam pergaulan dengan manusia

     lain, individu dapat hidup dengan tenang. Pendidikan membantu agar tiap individu

     mampu menjadi anggota kesatuan sosial manusia tanpa kehilangan pribadinya

     masing-masing. Sejak dahulu, disepakati bahwa dalam pribadi individu tumbuh

     atas dua kekuatan yaitu : kekuatan dari dalam (kemampuan-kemampuan dasar), Ki

     Hajar Dewantara menyebutnya dengan istilah “faktor dasar” dan kekuatan dari luar

     (faktor lingkungan), Ki Hajar Dewantara menyebutnya dengan istilah “faktor ajar”.

     Teori konvergensi yang berpendapat bahwa kemampuan dasar dan faktor dari luar
  saling memberi pengaruh, kedua kekuatan itu sebenarnya berpadu menjadi satu. Si

  pribadi terpengaruh lingkungan, dan lingkungan pun diubah oleh si pribadi. Faktor-

  faktor intern (dari dalam) berkembang dan hasil perkembangannya digunakan

  untuk mengembangkan pribadi di lingkungan. Factor dari luar dan lingkungan

  kadang tidak berkembang dengan baik, misalnya ketika pribadi terpengaruh oleh

  hal-hal negatif yang timbul dari luar dirinya.

  Permasalahan sekarang baik dilingkungan masyarakat maupun para pelajar sering

  menggunakan pengaruh dari luar yang dipenuhi dengan hal-hal negative, sehingga

  banyak dikalangan masyarakat terutama para pelajar terjadi kirisis moral, masalah

  sedikit bisa mengakibatkan pertengkaran dan tauran pelajar. Hal ini sangat

  berpengaruh pada mutu pendidikan. Dengan terjadinya krisis moral pada pelajar

  maka akan berdampak buruk pada nilai pelajaran di sekolahnya dan akibatnya mutu

  pendidikan akan rendah.



e. Sebab Timbulnya Krisis Moral

  Adapun yang menjadi akar masalah penyebab timbulnya krisis akhlak dalam

  masyarakat cukup banyak, yang terpenting diantaranya adalah:

  Pertama, krisis akhlak terjadi karena longgarnya pegangan terhadap agama yang

  menyebabkan hilangnya pengontrol diri dari dalam (self control) Selanjutnya alat

  pengontrol perpindahan kepada hukum dan masyarakat. Namun karena hukum dan

  masyarakat juga sudah lemah, maka hilanglah seluruh alat kontrol. Akibatnya

  manusia dapat berbuat sesuka hati dalam melakukan pelanggaran tanpa ada yang

  menegur.
    Kedua, krisis akhlak terjadi karena pembinaan moral yang dilakukan oleh orang

    tua, sekolah dan masyarakat sudah kurang efektif. Bahwa penanggung jawab

    pelaksanaan pendidikan di negara kita adalah keluarga, masyarakat dan

    pemerintah4. Ketiga



f. Langkah yang ditempuh untuk mengatasi krisis moral

     Pendapat Harold G. Shane dalam bukunya yang berjudul “Arti Pendidikan Bagi

  Masa Depan”, ada beberapa karakteristik dari desain pendidikan yang akan muncul

  untuk kehidupan di masa depan, karakteristik itu adalah:

   1. Tekanan perlu diberikan pada mendapatkan kembali, dalam bentuk yang jelas,

      disiplin sosial yang telah menuntun orang Barat dan barangkali yang telah

      menuntun sebagian besar umat manusia, sebelum timbulnya krisis nilai sekarang

      ini. Krisis yang sifatnya relatifisme dan permisif ini mengganggu keterikatan

      orang pada norma-norma yang ditetapkankebudayaan yang menuntun setiap

      individu agar berbuat menurut cara tertentu. Kita harus bergerak maju menuju

      nilai-nilai dan tipe hidup yang baru yang diperlukan dalam menyongsong masa

      depan.

   2. Melalui pendidikan, serangan akan dilancarkan terhadap kubu materialism yang

      kuat, secara spesifik, terhadap kekeliruan yang telah meletakkan kepercayaan

      besar pada nilai-nilai materialisme. Diharapkan melalui pendidikan dapat

      mengubah nilai-nilai yang selama ini bersifat “cinta benda” yaitu selera besar

      untuk memperoleh benda-benda konsumsi yang tak terkendalikan.
3. Bahaya dan masalah penggunaan tekhnologi dalam menyongsong hidup di masa

   depan. Dengan pendidikan diharapkan dapat meminimalisir bahaya dan masalah

   tekhnologi, sehingga menjadikan tekhnologi itu sarana penting dalam

   memperbaiki kedudukan manusia dan perlunya dipikirkan lagi agar pemanfaatan

   tekhnologi dapat diinjeksikan ke dalam kurikulum.

4. Kurikulum harus mulai responsif secara lebih memadai terhadap ancaman

   kerusakan atau krisis nilai yang menimpa lingkungan sosialnya. Secara paten,

   pendidikan akan mempunyai peranan penting saat keputusankeputusan sosial

   yang penting dicapai berkenaan dengan kebijakan nasional dan dalam keadaan

   bagaimanapun juga terdapat banyak dasar untuk memulainya di sekolah.

5. Pendidikan perlu terus mendidik pelajar supaya keluaran pendidikan yang baru

   dapat membuat pelajar menghadapi potensi kekuatan media massa dalam bentuk

   opini dan sikap publik. Inilah sosok pendidikan yang berkembang kini, dan

   bagaimana sosok masyarakat masa depan dengan nilai-nilainya yang dominan.

   Memang kita semua mengetahui betapa sektor pendidikan selalu terbelakang

   dalam berbagai sector pembangunan lainnya, bukan karena sektor itu lebih di

   lihat sebagai sector konsumtif juga karena pendidikan adalah penjaga status quo

   masyarakat itu sendiri. Pendidikan merupakan sebagian dari kehidupan

   masyarakat dan juga sebagai dinamisator masyarakat itu sendiri. Dalam aspek

   inilah peran pendidikan memang sangat strategis karena menjadi tiang sanggah

   dari kesinambungan masyarakat itu sendiri.

       Proses perubahan tata nilai akan berjalan sesuai dengan dinamika

   masyarakat dalam era tertentu. Selain itu nilai-nilai pada generasi yang
mendahului sebagian atau keseluruhan masih tetap hidup dalam generasi

berikutnya. Nilai-nilai yang dominan pada setiap generasi ada yang bersifat

positif dan ada yang negatif, maka kita perlu mengidentifikasinya dan waspada

sehingga kita bisa menyaring mana yang perlu dihidari dan mana yang perlu

diambil untuk kemajuan di masa mendatang. Salah satu tugas dari Sistem

Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), yakni           menjaga, melestarikan dan

membangun nilai-nilai luhur bangsa18. Dalam perkembangannya, generasi nilai-

nilai dalam masyarakat Indonesia kita lihat adanya nilai-nilai antar generasi.

Pendidikan menjadikan nilai-nilai dasar akan semakin kokoh dalam perjalanan

kehidupan bangsa, seperti nasionalisme dan patriotisme sebagai nilai-nilai

generasi pertama dari perjalanan hidup bangsa.

    Sudah tentu nilai-nilai luhur itu perlu ditempa, dihaluskan dan diasah terus

menerus sesuai dengan perubahan kehidupan
                                        BAB III

                                      PENUTUP



       Gejala kemerosotan nilai-nilai akhlak dan moral dikalangan masyarak sudah

mulai luntur dan meresahkan. Sikap saling tolong-menolong, keujujuran, keadilan dan

kasih sayang tinggal slogan belaka. Bahkan krisis itu telah melanda generasi muda

sebagai penerus bangsa. Adanya sikap, tindakan dan perbuatan yang tidak bertanggung

jawab ini bila dibiarkan terus, maka tak ayal lagi kalau generasi mendatang akan diliputi

kegelapan dan hancurnya tatanan perikehidupan umat manusia.

Sebab timbulnya krisis akhlak antara lain:

   1. Krisis akhlak terjadi karena longgarnya pegangan terhadap agama yang

       menyebabkan hilangnya pengontrol diri dari.

   2. Krisis akhlak terjadi karena pembinaan moral yang dilakukan oleh orang tua,

       sekolah dan masyarakat sudah kurang efektif. Bahwa penanggung jawab

       pelaksanaan pendidikan di negara kita adalah keluarga, masyarakat dan

       pemerintah.

   3. Krisis akhlak terjadi karena derasnya arus budaya hidup materialistik, hedonistik

       dan sekularistik.

   4. Krisis akhlak terjadi karena belum adanya kemauan yang sungguhsungguhdari

       pemerintah. Kekuasaan, dana, tekhnologi, sumber daya manusia, peluang dan

       sebagainya yang dimiliki pemerintah belum banyak digunakan untuk melakukan

       pembinaan akhlak bangsa.
5. Kerisauan kita mengenai akhlak yang mengkhawatirkan bisa saja diperpanjang

   dengan mencari siapapun yang disalahkan dan menjadi kambing hitamnya, akan

   tetapi hal itu tidaklah arif dan bijaksana tanpa memusatkan perhatian untuk

   mencari solusinya. Menyadari akan pentingnya akhlak, tentu kita tidak bisa

   melepaskan diri dari dunia pendidikan itu sendiri. Pendidikan berusaha

   mencetak kader-kader yang selain mempunyai wawasan dan ilmu pengetahuan

   yang luas atau bersifat teoritis, juga harus bisa mengaktualisasikan dalam

   kehidupan sehari-hari. Pendidikan akhlak tidak sebatas pengetahuan tetapi lebih

   berpijak pada perilaku yang dibiasakan.

          Pendidikan akhlak dapat dilakukan dengan menetapkan pelaksanaan

   pendidikan agama, baik di rumah, sekolah maupun masyarakat. Hal yang

   demikian diyakini, karena inti ajaran agama adalah akhlak yang mulia yang

   bertumpu pada keimanan kepada Tuhan dan keadilan sosial. Pendidikan akhlak

   merupakan konsep nilai-nilai yang terbungkus dalam tataran norma-norma, adat,

   kebiasaan atau dalam bentuk seni dan berkebudayaan. Inilah arti penting

   pendidikan dalam tataran mengatasi krisis akhlak yang berkembang dalam

   kehidupan sehari-hari.
                               DAFTAR PUSTAKA

Arifin H.M., (1994) Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara: Jakarta.

Al-Aziz, Moh. Saifulloh, Drs. (2000), Milenium Menuju Masyarakat Madani, Terbit
      Terang: Surabaya.

Bogdan & Biklen (1982) Qualitative Research For Education. Boston MA: Allyn
Bacon

Campbell & Stanley (1963) Experimental & Quasi-Experimental Design for Research.
    Chicago : Rand McNelly

_______ (2007) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa
      Indonesia, PT. Balai Pustaka: Jakarta.


Gordon, Thomas , (1974) Teacher Effectiveness Training. NY: Peter h. Wydenpub

G. Shane, Harold, (2002) Arti Pendidikan Bagi Masa Depan, PT. Raja Grafindo
      Persada: Jakarta.

Hasbullah, (1997) Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.

Mudyahardjo, Redja (2002) Pengantar Pendidikan Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-
     Dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia, PT. Raja
     Grafindo Persada : Jakarta.

Nata Abuddin, MA. Prof. Dr. H., (2003) Manajemenen Pendidikan: Mengatasi
      Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, Kencana: Bogor.

Rasyad Aminuddin, dalam Ahmad Tafsir, (1995) Epistimologi untuk Ilmu Pendidikan
      Islam, Fak.Tarbiyah MIN Sunan Gunung Jati: Bandung.

Suparlan suhartono.(2006). Filsafat Pendidika, Ar-Ruz Media: Jogjakarta.


Tirtarahardja, Umar dan La Sulo (1994). Pengantar Pendidikan, Dirjen Pendidikan

Tinggi. Depdikbud: Jakarta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:34080
posted:1/9/2011
language:Indonesian
pages:19