Anak by zmikin

VIEWS: 113 PAGES: 5

									                                                                     Dec 28, '07 3:23
   Anak, Teknologi & Masa Depan Islam (Materi Kajian
                                                                     AM
   Muslimah)
                                                                     for everyone




                                       Anak-anak kita saat ini hidup pada era teknologi
yang dapat dinikmati secara individual dan konsumtif. Hal ini terjadi dengan adanya
inovasi yang besar-besaran terhadap teknolgi yang berbasis elektronik seperti: televisi,
sistem seluler yang menawarkan berbagai aplikasi pada hand phone , VCD, dan Internet.

Akibat teknologi itu, anak-anak kita saat ini kehilangan kemampuan untuk memiliki
interaksi sosial yang baik dengan peer group-nya dan juga orang lain di luar diri mereka.
Akibatnya, anak-anak kita saat ini tidak memiliki kecakapan sosial yang memadai akibat
kebiasaan menikmati teknologi yang cara pemanfaatannya memang dapat dilakukan
secara individual. Keadaan ini dalam jangka panjang akan membuat anak-anak kita
menjadi generasi yang egois dan hedonis. Selain dampak tersebut bahaya jangka pendek
akibat teknologi sesungguhnya tengah mengintai anak.

Internet merupakan satu dari sekian bentuk kemajuan teknologi, tak hanya di negara
maju, saat ini internet telah merambah masuk tak hanya ke ruang-ruang kantor tapi
bahkan telah sampai ke rumah-rumah, di negara2 berkembang. Kecenderungan orang tua
bangga jika anaknya mahir menggunakan internet, “tidak gagap teknologi” begitu
istilahnya. Sehingga anak-anak dibiarkan leluasa menggunakan internet yang
menghubungkannya dengan dunia luar, orang tua sendiri bahkan tidak tahu atau tidak
peduli bahwa links yang di klik ternyata mengantarkan anak-anak mereka ke dunia lain
yang berbahaya…

Anak & Internet
Sekitar dua bulan lalu, di sekolah anak saya diadakan pertemuan khusus orangtua dan
guru-guru untuk membahas masalah dampak internet. Di sini internet sudah menjadi
kebutuhan harian rumah tangga, hampir semua rumah memiliki koneksi 24 jam dengan
harga terjangkau. Era computer yang menawarkan system wireless juga semakin
mempermudah seluruh anggota keluarga menggunakan internet dalam waktu bersamaan,
dengan komputer atau laptop yang berbeda, di ruangan berbeda… sedemikian
personalnya sehingga akses orang tua untuk mengetahui apa yang dilakukan anak
semakin sulit.

Dalam pertemuan guru dan orang tua tersebut dibahas manfaat & mudharat internet,
menurut orang tua manfaat internet adalah : sebagai hiburan, komunikasi yg cepat dalam
& luar negeri, belanja online, pembayaran online berbagai rekening/tagihan, sumber
informasi dll

Sedangkan mudharatnya disebutkan : dapat membuat kecanduan (lupa waktu), akses situs
berbahaya, kontak anonym, membuat fisik lemah (krn duduk & menatap monitor terus
menerus), kesepian, kekerasan dari game/program lainnya, penipuan, bullying.

Dari pihak sekolah sendiri ternyata telah melakukan penelitian (sejenis action research)
dan ternyata ditemukan bahwa:

98% dari siswa di sekolah tersebut sudah mulai menggunakan internet sejak Groep 3
(Kelas 1 SD) 2. 50% murid melakukan penghinaan (pesten/bullying) via internet

3. 17 dari 22 murid mengalami penghinaan melalui internet

4. 6% siswi (meisjes) (Groep 8/Kelas 6) mengalami kecanduan internet

5. 4% siswa (jongens) (Groep 8/Kelas 6) mengalami kecanduan bermain games online

Menunjang angka-angka di atas, ada orang tua yang kebetulan duduk di kelompok kami
diminta oleh moderator sedikit menceritakan pengalamannya ketika salah seorang
putrinya hampir saja menjadi korban pria pedofil (kinderlokker) melalui MSN di internet.
Aksi tersebut berhasil digagalkan karena orang tua tadi sigap dan cukup tanggap dengan
aktivitas putrinya.

Pihak sekolah juga mengungkapakn hasil riset mereka tentang pandangan dan sikap
murid terhadap manfaat dan mudharat internet. Manfaat internet, menurut mereka:
Mencari informasi untuk tugas-tugas sekolah, Berkomunikasi dengan teman (chatting),
games, memesan online, Hiburan (musik, VCD dll), Saling tukar film (file film, webcam
dll)

Sedangan Mudharat: tempat saling Ejekan secara anonim, situs berbahaya, Dipaksa
menjadi PSK (Loverboys), Kecanduan internet,Tidak banyak bergerak, Membaca buku
berkurang (lebih memilih membaca di depan monitor), Terlambat tidur, Merusak mata,
Merasa terkucil jika tidak punya sarana komputer dan internet.

Sekolah juga menemukan istilah-istilah “prokem” yang biasa digunakan siswa
berkomunikasi dengan media-media online di atas. Antara lain:

bm@8 = bij mij om acht uur (di tempat saya jam delapan nanti)
mnmdr = mijn moeder kijk mee (ibu saya lagi mengawasi saya)

bjmjez = bemoeie je met je eigen zaak (jangan ikut campur)

E-me = email mij (kirim saya email)

Masya Allah…ternyata dunia telah jauh berubah, coba ibu2 bandingkan dengan masa
kanak ibu2 dulu… Jaman kecil saya dulu, saya hanya kenal main karet, petak umpet,
main sepeda, nonton tv saja hanya satu saluran TVRI, lingkungan sekitar juga aman &
tenang. Dengan demikian apakah kita bisa menggunakan metode pendidikan &
pembelajaran yang telah diterapkan orang tua kita dahulu??? Pertanyaan mudah yang
sangat susah menjawabnya...

Anak, teknologi & dan masa depan Islam

Anak adalah harapan masa depan. Kalimat ini seringkali kita dengar dan sangat lekat di
benak kita. Karenanya, sudah semestinya memberikan perhatian khusus dalam hal
mendidiknya sehingga kelak mereka menjadi para pengaman dan pelopor masa depan
umat Islam.

Lingkungan pertama yang berperan penting menjaga keberadaan anak adalah
keluarganya sebagai lembaga pendidikan yang paling dominan secara mutlak, kemudian
kedua orang tuanya dengan sifat-sifat yang lebih khusus. Sesungguhnya anak itu adalah
amanat bagi kedua orang tuanya. Di saat hatinya masih bersih, putih, sebening kaca jika
dibiasakan dengan kebaikan dan diajari hal itu maka ia pun akan tumbuh menjadi seorang
yang baik, bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan kejelekan
dan hal-hal yang buruk serta ditelantarkan (termasuk membiarkan anak hidup di
“dunianya” tanpa pengarahan dan didikan orantua karena orang tua sibuk adalah
merupakan satu bentuk penelantaran). Kerugian mana yang lebih besar yang akan dipikul
kedua orang tua dan umat umumnya apabila meremehkan pendidikan anak-anaknya.

Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Bila terlihat kerusakan pada diri anak-anak,
mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari orang tuanya.” Maka Allah Subhanahu wa
Ta‟ala mengingatkan kita dengan firmanNya, “Hai orang-orang yang beriman peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” (QS At Tahrim: 6). Berkata Amirul Mukminin Ali Radiyallahu „anhu,
“Ajarilah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian kebaikan dan bimbinglah
mereka.”.

Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam bersabda, “Setiap di antara kalian adalah
pemimpin dan akan dipertanggungjawabkan, seorang imam adalah pemimpin akan
diminta pertanggungjawabannya, seorang laki-laki pemimpin atas keluarganya dan akan
diminta pertanggungjawabannya, seorang wanita pemimpin dalam rumah suaminya dan
ia bertanggungjawab, dan seorang budak adalah pemimpin dalam hal harta tuannya dan
ia bertanggungjawab. Ketahuilah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan diminta
pertanggungjawabannya.” (HR Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah ibnu Umar
Radiyallahu „anhu).

Dari sahabat Anas bin Malik, Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam bersabda,
“Sesungguhnya Allah Ta‟ala akan mempertanyakan pada setiap pemimpin atas apa yang
dipimpinnya, apakah ia menjaganya ataukah menyia-nyiakannya? Hingga seseorang akan
bertanya kepada keluarganya.” (HR Ibnu Hibban, Ibnu Ady dalam Al Kamil, dan Abu
Nu‟aim dalam Al Hilyah dan dishahihkan oleh Al Hafizh dalam Al Fath 13/113).
Demikian pula dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shalallahu „alaihi
wassalam bersabda, “Bertaqwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah terhadap
anak-anakmu.” Sikap adil dan kasih sayang terhadap anak adalah dengan mengajari
mereka kebaikan, para orangtua menjadikan dirinya sebagai madrasah bagi mereka.

Keluarga, terlebih khusus kedua orang tua dan siapa saja yang menduduki kedudukan
mereka adalah unsur-unsur yang paling berpengaruh penting dalam membangun sebuah
lingkungan yang mempengaruhi kepribadian sang anak dan menanamkan tekad yang kuat
dalam hatinya sejak usia dini. Seperti Zubair bin Awam, misalnya. Ia adalah salah
seorang dari pasukan berkudanya Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam yang
dinyatakan oleh Umar ibnul Khattab, “Satu orang Zubair menandingi seribu orang laki-
laki.” Ia seorang pemuda yang kokoh aqidahnya, terpuji akhlaqnya, tumbuh di bawah
binaan ibunya Shafiyah binti Abdul Mutholib, bibinya Rasulullah, dan saudara
perempuannya Hamzah.

Ali bin Abi Tholib sejak kecil menemani Rasulullah Shalallahu „alaihi wassalam, bahkan
dipilih menjadi menantunya. Ia tumbuh sebagai seorang pemuda sosok teladan bagi para
pemuda seusianya di bawah didikan ibunya Fathimah binti Asad dan yang menjadi
mertuanya Khadijah binti Khuwailid. Begitu pula dengan Abdullah bin Ja‟far, seorang
bangsawan Arab yang terkenal kebaikannya, di bawah bimbingan ibunya Asma binti
Umais.

Orang tua mana yang tidak gembira jika anaknya tumbuh seperti Umar ibnu Abdul Aziz.
Pada usianya yang masih kecil ia menangis, kemudian ibunya bertanya, “Apa yang
membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku ingat mati.” - waktu itu ia telah menghafal
Al Qur‟an - ibunya pun menangis mendengar penuturannya. Berkat didikan dan
penjagaan ibunya yang shalihah Sufyan Ats Tsauri menjadi ulama besar, amirul
mukminin dalam hal hadits. Saat ia masih kecil ibunya berkata padanya, “Carilah ilmu,
aku akan memenuhi kebutuhanmu dengan hasil tenunanku.” Subhanallah! Anak-anak
kita rindu akan ucapan dan kasih sayang seorang ibu yang seperti ini, seorang ibu yang
pandangannya jauh ke depan. Seorang ibu yang super arif dan bijaksana.

Ibu2 yang di rahmati Allah, lihatlah bagaimana para pendahulu kita yang shalih, mereka
mengerahkan segala usaha dan waktunya dalam rangka men-tarbiyah anak-anaknya yang
kelak menjadi penentu baik buruknya masa depan umat. Jangan sampai seorang pun di
antara kita berprasangka mencontoh para pendahulu yang shalih adalah berarti kembali
ke belakang.
Sebaliknya, dengan melihat berbagai dampak buruk teknologi apakah kita harus
menjauhkan anak-anak kita dari kemajuan dunia tersebut?

Secara logika tentu jawabannya tidak mungkin, karena arus informasi & teknologi
sedemikian pesat takkan mampu dibendung. Kemajuan teknologi dunia-maya sebagai
bagian dari globalisasi sudah merasuk sedemikain jauh ke dalam relung-relung kehidupan
masyarakat. Orang tua dan pihak-pihak terkait seperti sekolah lah harus yang menyiapkan
peserta didiknya untuk siap menghadapi realitas kemajuan teknologi yang mampu
menjadikan anak-anak kita menjadi generasi “aperstaartjegeneratie” (“generasi @”).
Yaitu dengan cara mengoptimalkan aspek positif dan berusaha meminimalisir dampak
negatif teknologi (terutama internet) terhadap anak. Orang tua dan lingkungan harus
senantiasa melakukan pembelajaran (learning) terhadap isu-isu yang berkaitan dengan
kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi sehingga akan mampu memberikan
pengarahan dan pengawasan terhadap anak masing.

Kemajuan teknologi bukan satu hal yang perlu ditakuti, karena melalui teknologi pula
kita dapat mengambil banyak manfaat, karena kita tidak mungkin hidup tanpa
terpengaruh arus teknologi & globalisasi, tinggal bagaimana kita sebagai orang tua
memberikan pendidikan, pengawasan & pengarahan yang arif sehingga anak-anak
sebagai generasi Islam dapat mengambil manfaat positif teknologi tersebut demi
kepentingan agamanya kelak.

Wallahua‟lam bishowab, Den Haag 27 Dec 2007

Maraji':

Gunaryadi, Belia, Internet dan tanggung jawab Bersama (http://gunaradi.blogsome.com)

Ustd. Abu Hamzah Yusuf Al Atsari, Anak dan masa depan islam

								
To top