rekonstruksi_NDP-ok by zmikin

VIEWS: 190 PAGES: 3

									                                                                          Mengapa Rekonstruksi NDP?
                                  Dengan Nama-Nya Yang Mahatinggi


                           Mengapa Rekonstruksi Ideologi HMI?
                                            Oleh Andito

Hanya dengan Alquran dan terjemahnya kita sudah dapat memakai dan „memelintir‟ ayat-ayat suci
dengan bebasnya. Masalah kemampuan bahasa arab, asbab al-nuzul dan tetek bengek lainnya „tidak
dipentingkan‟. Memang lazimnya demikian. Toh, semuanya akan berpusing-pusing pada tafsir. Itu bahasa
sadisnya.
       Praktik tadi sungguh berbeda saat kita berhadapan dengan naskah Nilai Dasar Perjuangan/Nilai
Identitas Kader (selanjutnya ditulis NDP), sebuah rumusan Islam yang khas Himpunan Mahasiswa Islam
(HMI). Untuk memahami, apalagi mengajarkan, NDP kita harus menjalani praktik-praktik ritual tertentu
yang tidak sembarang orang dapat melakukannya, mulai dari Basic Training (Latihan Kader I/LK I),
pendalaman NDP Pasca LK, Training Up Grading NDP, Senior Course sampai Training Instruktur NDP.
Kita juga tidak boleh meninggalkan wirid intensif dengan membaca karya-karya Nurcholish Madjid (Cak
Nur).

Pembalseman Cak Nur secara Sistematis
       Mengapa hal ini dapat terjadi? Banyak alasan dapat dikemukakan. Pertama, Pembalseman Cak Nur
secara sistematis. Pengaguman terhadap Cak Nur membuat semua orang merasa rendah diri ketika
berhadapan dengan pemikiran-pemikirannya. Penjara imajinasi ini mengkondisikan Cak Nur laksana
Tuhan bagi agama HMI. Ia bersabda di puncak gunung dan umat di bawahnya cuma meng-amin-kannya.
Sebab ia adalah rais bagi umat HMI. Fobia kritik dijadikan alasan utama melarang dan menghakimi orang
agar berbuat hal yang sama sebagaimana dirinya.
       Padahal, NDP bukan tafsir kitab suci, juga bukan kumpulan hadis. Orang lupa, Cak Nur yang
membuat draft NDP di periode 69-an berbeda dengan Cak Nur millenium baik dari sisi usia,
intelektualitas, pengalaman dan lain-lain. NDP merupakan sebuah cara pandang Islam ala Cak Nur muda,
yang ekstremnya, belum tentu benar. Repotnya, kader HMI sulit memahami evolusi pemikiran seseorang
yang dapat berubah seiring waktu, kontemplasi, dan kedewasaan. Adalah hal biasa pemikiran masa lalu
tidak lagi sesuai dengan pemikiran masa kini. Tidak ada alasan untuk takut mengkritik Cak Nur muda.
       Mengkritisi NDP tidak ada hubungannya sama sekali dengan penghormatan kepada Cak Nur. Cak
Nur tetap kita hormati dan terhormat dengan sendirinya ketika pemikiran-pemikirannya turut
memperkaya khazanah pemikiran Islam Indonesia. Cak Nur adalah sedikit tokoh yang pemikiran
brilyannya dicermati oleh paling tidak 3 presiden: Suharto, Habibie, dan Abdurrahman Wahid.

Bias Figur dalam Realitas Kolektif
       Kedua, bias personalisasi dalam realitas kolektif. Sesungguhnya perumusan NDP dihasilkan dari
kerja kolektif, bukan individual. Beberapa bagian NDP jelas dikerjakan oleh kader muda HMI lainnya,
seperti Endang Saefuddin Anshari, Saqib Mahmud, M Dawam Rahardjo dan yang lain. Bukan tidak
mungkin terjadi benturan ide dan paradigma satu sama lain. Penguapan konsistensi ideologi dapat
berbanding lurus pada wilayah ini.
       Ketiga, pada saat itu, arus pemikiran keislaman disemarakkan oleh pertentangan yurisprudensi
simbolis antara berbagai organisasi Islam tradisional dan modernis; di sisi lain, terbatasnya wacana
keislaman alternatif dan referensi —ditandai dengan sangat minimalnya peredaran buku-buku pemikiran
keislaman berbahasa Indonesia— turut memainkan peranan yang tidak sedikit pada gaya bahasa,
kedalaman bahasan dan kelengkapan tema NDP. Apalagi saat itu HMI sedang berada pada dua arus besar
konflik politis-ideologis, dengan CGMI, dan rezim transisional dari Orla ke Orba.
       Dengan seluruh fenomena di atas, wacana-wacana keagamaan alternatif —yang mungkin bukan
sesuatu yang “luar biasa” di masa kini— seperti mendapat momentum. Pemikiran-pemikiran radikal,
Ahmad Wahib misalnya, menjadi sesuatu yang wah diperhadapkan dengan pemikiran keislaman
konvensional saat itu.
       Pada posisi inilah kita dapat mencoba memahami mengapa dalam suatu kurun waktu yang panjang,
NDP menjadi sesuatu yang khas dan sulit untuk dikoreksi. Keterjagaan momentum ini, secara alamiah,
terus “dilestarikan” dengan semakin gemilangnya tokoh-tokoh perumus NDP dalam konstelasi pemikiran
sosial keagamaan di Indonesia. Hal berbeda mungkin akan kita temukan seandainya para perumus NDP
berevolusi sebagai orang-orang kebanyakan sehingga tidak populer.
       Akhirnya, kita juga paham mengapa banyak kader tidak memahami naskah NDP, meskipun
membaca berulang kali. Ketidakmengertian dinisbahkan pada kebekuan intelektual mereka dan bukan
pada naskahnya. Setiap kali selesai membaca yang berakhir dengan kebingungan, setiap kali itu pula
kader seakan berkata bahwa ia ternyata begitu bodoh. Dan masih saja bodoh meskipun telah membaca
referensi-referensi lainnya.

Pengkapuran Intelektualisme
      Keempat, pengkapuran intelektualisme, akibat semakin menggejalanya wacana politis praktis
ketimbang intelektualisme. HMI yang menang perang bharatayudha melawan PKI/CGMI dan anasir Orla
lainnya seperti ketiban pulung. Gelombang besar mahasiswa yang mendaftar sebagai kader HMI baru
pasca Orla ternyata tidak berdampak signifikan pada pembaruan dan pematangan teologis. Memang
format dan materi pengkaderan senantiasa terus berkembang, tapi semua itu tidak dibarengi dengan
peninjauan ulang seluruh nilai yang menjadi landasan ideologis HMI.


                                                                                                    1
                                                                            Mengapa Rekonstruksi NDP?
       Perkembangan struktural konstelasi politik dan kesibukan lainnya membuat kader-alumni HMI
boleh dikata tidak dapat lagi mencurahkan sedikit perhatian kepada materi-materi utama pengkaderan
yang mendasar. Bahkan fenomena bombastis di atas dijadikan salah satu alasan untuk tidak menoreh
tinta merah pada materi ideologi. Apalagi yang harus diutak-atik, kalau dengan keadaan sekarang saja
HMI sudah dapat besar, kader-kadernya banyak yang sudah jadi orang dan menjadi motor di banyak
wilayah strategis?
       Alih-alih memperbarui, keberadaan NDP diperkokoh dengan polesan dalil-dalil ayat suci sebagai
lampiran untuk mencuatkan dimensi keagamaan naskah tersebut. Kongres diadakan sebagai legitimasi
naskah. Padahal, perangkat hukum yang menopang bagi kemungkinan diadakannnya sebuah rekonstruksi
naskah ideologi sudah cukup memadai.
       Lengkaplah sudah mistifikasi NDP. Ia merupakan naskah suci, sakral sehingga anti kritik. Padahal,
sakralisasi pada segala sesuatu selain Allah adalah praktik kemusyrikan.

Mengawali Rekonstruksi
       Sebagai nilai dasar perjuangan, NDP membutuhkan unsur-unsur penyempurna bagi tumbuhnya
sebuah ideologi/paradigma/filsafat hidup/pandangan dunia: Sistematika yang jelas dalam penalaran
rasional (filosofis), kemudahan aplikasi teori praktis (sosiologis), efek perubahan individu dan
masyarakat.
       Penguatan dimensi kemanusiaan yang ada di NDP jelas membawa dampak signifikan. Di satu sisi ia
membawa dengan genial pesan-pesan peradaban, agar kader HMI tidak gamang dan takut menghadapi
perubahan zaman. Di sisi lain, materi NDP menjauh dari pendekatan filosofis, sesuatu yang selayaknya
menjadi titik sentral ideologi. Pendekatan sosiologis membuat Islam ditampilkan sebagai „Kehadiran‟ yang
mendahului „Kebenaran‟, dasar teologi Kristen, bukan „Kebenaran‟ mendahului „Kehadiran‟. Aspek
filosofis di NDP, kalaulah ada, juga berputar-putar pada paradigma Calvinian. Kerancuan aspek filosofis
dan sosiologis ketika berhadapan dengan teologi membuat kader semakin percaya bahwa tiada
keterkaitan sama sekali antara ruang publik (rasionalisme) dan ruang privat (keimanan). Alih-alih
mewartakan kebenaran Islam, pemberian materi NDP menggiring kader pada paradigma Kristen (pada
Bab Ketuhanan, Bab Kemanusiaan dan Bab Ilmu Pengetahuan) dan Marxian (pada Bab Individu-
Masyarakat dan Bab Keadilan Sosial Ekonomi).
       Kesenjangan inilah yang menyebabkan mengapa instruktur NDP cenderung berbeda visi dan
pemahaman satu sama lain. Ketidakmampuan memahami konteks historis yang melatarbelakangi
perumusan NDP; ketidakmampuan memahami paradigma yang dipakai para perumus; ketidaktahuan
batasan liberalisasi NDP; kurangnya referensi perbandingan dalam memahami NDP; dan kurangnya ilmu
alat yang dimiliki pemateri NDP dapat dijadikan kambing hitam susulan.
       Efeknya, sebagian pemateri NDP, terutama pada LK I, membawa materi seperti pengajian yang
monolitik dan dogmatik. Alih-alih menggiring kader menuju kesadaran teologis, instruktur malah
membuat kader terhalusinasi pada ghirah kebablasan.
       Pemateri NDP cenderung membawa materi dengan paradigmanya masing-masing. Cak Nur
difitnah untuk membenarkan keyakinan pemateri. Perlu dicurigai bahwa banyak pemateri yang belum
bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran Cak Nur dan studi banding dengan referensi lain yang
berhubungan. Di sisi lain, studi kritis NDP dimentahkan oleh alasan bahwa segala penjelasan tentangnya
telah ada di buku-buku Cak Nur. Ini tidak logis. Tiada relevansi apa pun antara buku Cak Nur dengan
NDP qua NDP.
       Pada tingkat struktural, bias ideologi berkembang semakin kompleks ketika organisasi dituntut
agar memberikan kejelasan arah kaderisasi. Pada satu aspek HMI telah berhasil membentuk kader yang
mempunyai karakter ideologis tertentu. Namun pada aspek lain, sebagaimana telah diterangkan di atas,
HMI boleh dikata telah gagal membentuk format keislaman yang utuh.
       Menjawab keparsialan NDP, instruktur yang mempunyai dalil kuat untuk menolak isi materi NDP
Cak Nur bermain dengan kerangkanya sendiri. Pada aspek dinamika intelektual, ia layak diacungi jempol
karena mampu membuat sebuah konsep alternatif. Pada aspek struktural, ia dikategorikan menyimpang
dari kurikulum baku dan melanggar aturan main organisasi. Apalagi yang „didekonstruksi‟ adalah materi
ideologi.

Menyusun Agenda
      Masih banyak hal yang perlu dikoreksi, diperjelas dan disempurnakan dalam naskah ideologi HMI.
Masih banyak tema dan bahasan yang perlu ditambah. Draft rekonstruksi ini juga tidak menafikan
keberadaan draft lain yang dibuat oleh perorangan dan/atau institusi lain. Semakin banyak konseptor
akan semakin baik. Maka dari itu, sangat disayangkan apabila ada pihak yang menganggap rekonstruksi
diarahkan atau dimonopoli oleh seseorang/kelompok tertentu.
      Niat awal yang melandasi pembuatan rekonstruksi ini adalah bagaimana kita melihat wacana
perubahan dalam menatap (naskah) ideologi. Biarkanlah semua pihak menimbang NDP dengan sudut
pandangnya masing-masing. Toh semuanya akan dinilai secara objektif lagi proporsional untuk mencari
yang terbaik. Dari mana pun datangnya hikmah itu. Yang penting, tidak boleh ada satu pun wilayah yang
bebas kritik. Namun hendaknya perlu diingat bahwa sebuah rumusan ideologi senantiasa berisi konsep-
konsep umum, bukan pada kelengkapan tata laksana operasional.

Membentuk Tim
       Sebuah usulan konseptual cenderung mudah diterima ketika hadir sebagai sebuah kebutuhan
kolektif dalam suasana yang kondusif. Pada kondisi yang tidak tepat sebuah tawaran alternatif dari
segelintir individu dan/atau institusi, misalnya menjelang suksesi (kongres), dapat didramatisasi-
dipolitisasi-dinilai secara a priori. Normalnya, sebuah tim yang mengakomodasi seluruh pemerhati dan

                                                                                                      2
                                                                              Mengapa Rekonstruksi NDP?
perumus NDP secara individual/tim atau atas nama cabang/badko perlu dibentuk. Setiap daerah/wilayah
melakukan pengayaan, pengkajian dan lokakarya internal sebelum mengajukan ke struktur yang lebih
tinggi. Setelah konsep ini utuh, draft rekonstruksi NDP diajukan pada Kongres mendatang untuk
disahkan.
       Namun pada kondisi abnormal, ketika syahwat politik sedang panas-panasnya dengan isu pilkada,
maka struktur yang cenderung kaku dan politis tidak bisa diharap terlalu banyak. Cara radikal perlu
ditempuh. Jalinan komunikasi antar alumni LK2 di tiap daerah terdekat sudah cukup untuk
menggerakkan sebuah perubahan. Melalui training instruktur dan kajian NDP antar komisariat, atau
antar cabang, kita menanam bibit kader ideologis di tiap daerah dan kita siap menanti ledakan sel, justru
ketika struktur HMI dari PB hingga Cabang sedang asyik masyuk dengan politik praktisnya. Pembusukan
sistem yang dilakukan secara sadar tak sadar oleh pengurus HMI menjadi musuh bersama (common
enemy) bagi setiap kader yang mengimpikan HMI kembali ke khitah perkaderan. Kader yang muncul dari
training seperti ini tidak akan takut konflik dengan siapapun, baik senior, alumni almamater, dan
penguasa setempat. Adakah gerakan kultural ini dapat dihambat? Bisa, dengan mengadakan kegiatan
serupa, yang sudah tentu akan membunuh dirinya sendiri. Dengan secuil momentum, setiap tetes
keringat yang dikeluarkan oleh kader untuk kajian NDP akan menjadi tsunami yang akan melumatkan
kader politis yang kerjaannya hanya mengklaim setiap keringat yuniornya namun emoh mengurusi
perkaderan.
       Dengan demikian, gerakan rekonstruksi NDP dapat dilakukan dengan gerakan kultural dan
struktural. Pada satu sisi kita mengikuti ketentuan dan hierarki organisasi dengan keputusan akhir tetap
di Kongres. Di sisi lain penguatan basis (komisariat/korkom/ cabang) tetap dilakukan. Tanpa basa-basi
birokrasi, internalisasi NDP dapat dilakukan sedini mungkin. Praktik ini secara alamiah pula dapat
dianggap sebagai proses pembentukan Lembaga Pengelola Latihan (LPL) di setiap insitusi cabang, kalau
memang belum ada.
       Pasca rekonstruksi ideologi, kita perlu juga memikirkan rekonstruksi pengkaderan mengingat
perubahan materi berimplikasi signifikan pada pembumian materi. NDP yang selama ini diformat dalam
satu naskah dapat dikembangkan menjadi tiga naskah dengan fokus dan bobot yang berbeda mengikuti
tingkatan pengkaderan formal: basic (LK I), intermediate (LK II) dan advance (LK III).

Merangkai Mimpi
       Itu harapan idealnya. Jangan berharap banyak bahwa pada akhir pelaksanaan rekonstruksi berikut
segala pelatihan percontohannya akan menghasilkan kader-kader yang menjadi pemikir tercerahkan
(rausyan fikr). Eksplorasi wacana ini bukanlah indoktrinasi mekanis seperti yang dilakukan banyak
harakah, yang mengalami split personality, menuhankan dirinya karena bingung membedakan
pendapatnya dengan ayat-ayat Tuhan yang ditentengnya ke sana ke mari. Juga bukan seperti kebanyakan
aktivis rasialis himpunan mahasiswa yang mengalami post-power syndrome, menganggap kebenaran
hanya datang dari duli senior.
       Pada dirinya sendiri, NDP bukanlah himpunan peraturan operasional yang menawarkan tindakan
praktis. Tidak seperti materi-materi informatif lainnya, materi NDP kering dan abstrak sehingga tidak
menarik minat banyak kader untuk mengkajinya. Dengan demikian, adalah hal wajar kalau hanya ada
segelintir orang yang berhasil tersaring, syukur-syukur menjadi pemateri, dari ramaian peserta kajian
atau pelatihan.
       Setelah seluruh aktivitas rekonstruksi ini berjalan, boleh kita bermimpi tentang terbentuknya kader
yang dapat menggabungkan pengetahuan tradisional dan modern; yang menghimpun nilai-nilai kebijakan
secara harmonis. Kader seperti ini tiada pernah meninggalkan dan melupakan dimensi transenden;
mempunyai pemahaman yang integral seputar diri/manusia-alam-Tuhan; tidak mudah terseret pada
paradigma politis, serta tidak mudah terhegemoni oleh negara. Boleh kita mengharap kader yang menjadi
cahaya, yang terang dengan sendirinya dan menerangi segala sesuatu di luar dirinya. Rekonstruksi
ideologi adalah sebuah tindakan wajar sebuah organisasi kader ketika ingin mereposisi diri pada dunia
yang terus berubah.[]

Penulis adalah Ketua PB-HMI Bidang PA (2004-2005) dan aktivis Masyarakat Universal Lintas Agama (MAULA).
Menggagas Training Revolusi Kesadaran (TRK), sebuah model pelatihan instruktur NDP hanya dalam 6 bulan.

Alamat:
Jl. Buncit Raya Kav. 35 Pejaten Barat JAKARTA 12510
aandito@yahoo.com
0812 9642 333
[021] 7065 8931
faks. [021] 799 6777




                                                                                                        3

								
To top