Docstoc

Perkembangan Pemikiran Dalam Islam

Document Sample
Perkembangan Pemikiran Dalam Islam Powered By Docstoc
					                                                                                                    1


                             FILSAFAT SAINS ISLAM
                           (Sebuah telaah tentang Islamisasi Ilmu)


Pendahuluan


        Filsafat, banyak orang menganggapnya sebagai suatu hal yang sulit untuk
diterima keberadaannya. Tatkala mendengar ada orang berfilsafat, maka asumsi yang
muncul cenderung menganggap bahwa dia mulai memasuki daerah yang menyesatkan.
Padahal kenyataannya tidak demikian. Justru dengan filasafatlah orang akan
menemukan hakikat dari segala sesuatu yang ada, mengingat filsafat itu sendiri berarti
melihat segala sesuatu dengan penuh perhatian dan minat, atau berfikir tentang segala
sesuatu dengan disadarinya1.
        Bagi seorang ilmuwan, berfikir filsafat merupakan suatu keharusan, sehingga ia
tidak hanya mengenal ilmu dari segi pandang ilmu itu sendiri, tapi ia melihat hakikat
ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lain; kaitan ilmu dengan moral, akaitan ilmu
dengan agama, dan         akhirnya mendapatkan keyakinan tentang kaitan ilmu dengan
kebahagiaan dirinya. Inilah yang dimaksud dengan sifat menyeluruh dari filsafat.
        Di samping itu, berfikir filsafat akan menggiring seorang ilmuwan untuk melihat
pijakannya. Ia akan mempertanyakan tentang kebenaran ilmu. Ia akan berfikir secara
mandasar, melihat hakikat ilmu itu sendiri, sebagai ciri lain dari berfikir filsafat.
        Walaupun demikian, berfilsafat tidak bisa lepas dari cirinya yang ketiga, yakni
sifat spekulatif. Seorang ilmuwan tidak mungkin menangguk pengetahuan secara
keseluruhan, dan bahkan tidak yakin kepada titik awal yang menjadi jangkar
pemikirannya yang mendasar, dalam hal ini ia hanya berspekulasi. Memang spekulasi
bukanlah suatu dasar yang bisa diadakan, namun bagi seorang filsuf hal ini tidak bisa
dihindarkan.     Yang     penting    dalam     prosesnya,     baik    dalam     analisis   maupun
pembuktiannya, ia bisa memisahkan antara spekulasi yang dapat diandalkan dan yang
tidak. Dan tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan.
        Berdasarkan fenomena di atas, maka lahirlah filsafat ilmu, sebagai alat bantu
seorang ilmuwan dalam mencari gambaran tentang ilmu pengetahuan dari berbagai sisi,
1
 H. Judistira K. Garna, Metode Penelitian: Pendekatan Kualitatif, Primaco Akademika c.v., Bandung
1999, hal. 1



                                                 1
                                                                                                        2


atau studi masalah eksplanasi, artinya bagaimanakah menjelaskan tentang ilmu menurut
proses berfikir yang logik dan rasional. Filsafat ilmu merupakan bagian dari
epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu
(pengetahuan ilmiah)2. Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis3.
Ilmu atau pengetahuan sains ialah pengetahuan yang logis dan didukung bukti empiris4.
Ia juga merupakan cabang pengetahuan yang memiliki ciri-ciri tertentu. Meskipun
secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmi-ilmu alam dengan ilmu-ilmu
sosial, namun karena pemasalahan-permasalahan tekhnis yang bersifat khas, maka
filsafat ilmu ini sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu
sosial. Pembagian ini lebih merupakan pambatasan masing-masing bidang yang ditelaah
yakni ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, dan tidak mencerminkan cabang filsafat
yang bersifat otonom. Ilmu memang berbeda dari pengetahuan-pengetahuan secara
filsafat , namun tidak terdapat perbedaan prinsipil antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu
sosial, dimana keduanya mempunyai ciri-ciri keilmuan yang sama.
           Permasalah yang muncul dalam makalah ini adalah bagaimana ilmu-ilmu itu
atau dalam hal ini sains modern bisa menjadi sains Islam? Perlukah adanya penyesuaian
ontologi, epistemologi dan aksiologinya dengan ajaran Islam? Maka, setelah penulis
menguraikan tentang apa itu filsafat ilmu, dalam makalah ini penulis akan mencoba
untuk membahas lebih lanjut mengenai filsafat ilmu yang lebih spesifik mengkaji
hakikat ilmu yang islami, atau dengan istilah lain filsafat sains Islam.


Pencarian filsafat Sains Islam


           Pada tahun 1985, Mash-hood Ahmed mengadakan penelitian tentang “etos Islam
dan ilmuwan muslim”. Studi ini meneliti tentang sikap ilmuwan-ilmuwan muda dan
senior muslim terhadap sains modern, dan bagaimana tanggapan mereka tentang isu
sains Islam. Menurut Ziauddin Saddar dalam menghadapi sains modern, atau sikapnya
terhadap sains Islam, ilmuwan muslim tebagi menjadi tiga kelompok. Pertama,

2
 Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1999,
hal. 33
3
    Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta 1985, hal. 9
4
    Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Program Pasca Sarjana IAIN SGD Bandung, 1999, hal. 2



                                                      2
                                                                                              3


kelompok muslim yang apologetik. Kelompok ini menganggap sains modern bersifat
universal dan netral. Oleh karena itu mereka berusaha melegitimasi hasil-hasil sains
modern dengan mencari-cari ayat al-Qur’an yang sesuai dengan teori dalam sains
tersebut. Kedua, kelompok yang masih bekerja dengan sains modern, tetapi berusaha
juga mempelajari sejarah dan filsafat ilmunya agar dapat menyaring elemen-elemen
yang tidak Islami, maka fungsinya termodifikasi, sehingga dapat dipergunakan untuk
melayani kebutuhan dan cita-cita Islam. Tetapi karena dengan eksperimen-eksperimen
dan teknik-teknik yang kuantitatif sekalipun ia tidak lepas dari nilai-nilai, alih-alih
mampu merealisasikan Islam, sains modern malah akan menjadi pendukung nilai-nilai
Barat yang tak Islami. Ketiga, kelompok yang percaya adanya sains Islam dan berusaha
membangunnya5.
           Berbicara tentang sains Islam dan bagaimana proses membangunnya, kiranya
tidak akan lepas dari adanya upaya Islamisasi ilmu. Walaupun dalam hal ini terdapat
kontroversial antara yang setuju dan yang tidak
           Diantara para ilmuwan ada yang setuju untuk menyesuaikan aspek ontologi,
epistemologi, dan aksiologi ilmu dengan ajaran Islam dan ada pula yang tidak
menyetujui gagasan islamisasi ilmu, karena menurut mereka yang harus diislamkan
adalah manusianya, bukan ilmunya. Keengganan ini tampaknya disebabkan sensitivitas
terminologi tersebut dari segi objektivitas ilmiah. Sedangkan kelompok yang setuju
disebabkan oleh sensitivitasnya dari segi rasa keagamaan, sehingga harus diikuti kalau
memanga hendak bereksistensi sebagai seorang muslim6.
           Islamisasi ilmu merupakan suatu keharusan. Disamping Islam mempunyai
pengarahan dalam aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi ilmu, dan masuknya
ajaran Islam dalam aktivitas ilmiah tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmiah,
Islamisasi ilmupun diharapkan dapat mengimbangi kemajuan Barat sekaligus sebagai
pemberantas berbagai akibat sampingan dari perkembangan ilmu dan teknologi modern
yang telah dirasakan membahayakan kehidupan.
           Disamping itu, Kemajuan Islam di zaman klasik atau abad pertengahan Masehi
dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban telah dipahami sebagai hasil usaha


5
    Sudamara Ananda, Filsafat Ilmu, Projustitia tahun XIX no. 2 April 2001
6
 Bustanuddin Agus, Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial: Studi Banding antara Pandangan Ilmiah dan
Ajaran Islam, Gema Insani Press, Jakarta 1999, hal. 125


                                                     3
                                                                                    4


merealisasikan ajaran islam itu sendiri, maka untuk keluar dari keterbelakangan dewasa
ini adalah dengan semangat kembali kepada Islam.
       Para pemikir dan cendekiawan muslim di penghujung abad 20 ini juga
berpendapat demikian. Misalnya, Muhammad Naquib al-Attas dalam The concept of
Education in Islam 47-56) serta Islam dan sekularisme (1981:195-203). Ismail Raji al-
Faruqi (1982:3-8) mengkritik ilmu pengetahuan barat yang berkembang dewasa ini
sebagai telah terlepas dari nilai dan harkat Manusia, dari nilai-nilai spiritual dan
hubungan dengan Tuhan. Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashraf mengkritik ilmu
barat sebagai yang tidak di tata untuk mewujudkan kesejahteraan dan menjunjung tinggi
kemuliaan manusia (1979:7-35,74-91). Syed Hossein            Nasr mengkritik     ilmu
pengetahuan tentang manusia dan masyarakat yang berkembang dewasa ini sebagai
yang tidak mempunyai metode untuk lebih mengetahui hal-hal yang lebih mendalam
dalam kehidupan manusia karena harus didasarkan pada kenyataan empiris (1983:7-8).
Maka mereka berpendapat bahwa dalam rangka membawa kesejahteraan bagi umat
manusia, pengembangan ilmu pengetahuan perlu dikembalikan pada kerangka dan
perspektif ajaran Islam. Ismail Raji al-Faruqi menyerukan perlunya dilaksanakan
gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan.
       Di sinilah peranan penting filsafat sains Islam, yang dengan bantuannya hakikat
ilmu-ilmu Islam dapat terungkap.


Langkah-langkah dan paradigma Islamisasi Ilmu pengetahuan


   Langkah-langkah Islamisasi ilmu pengetahuan sebagaimana disebutkan oleh Prof.
Dr. Juhaya S. Praja, adalah sebagai berikut :
   1. Penguasaan disiplin ilmu modern dengan menguraikannya kedalam ketegori-
       kategori, prinsip-prinsip, metodologi, problem dan tema yang dominan di Barat.
   2. Survey disiplin ilmu yang dibuat dalam bentuk essay untuk mengetahui garis
       besar asal-usul dan sejarah perkembangan dan metodologinya. Perluasan visi
       bidang kajiannya, dan konstribusi utamanya yang menyebabkan banyak
       penggemarnya.
   3. Menguasai warisan Islam sebagai titik tolak Islamisasi pengetahuan.
   4. Penyajian disiplin ilmu Islam yang relevan dan khas Islam.



                                            4
                                                                                                       5


    5. Penilaian kritis atas disiplin ilmu
    6. Penilaian kritis atas warisan Islam.
    7. Melakukan survey atas masalah pokok umat Islam.
    8. Survey atas masalah umat Islam.
    9. Melakukan analisis kreatif dan sintesa yang hanya dapat dilakukan bila telah
        dikuasai disiplin ilmu dan warisan Islam sekaligus serta melakukan analisis
        kritis terhadap keduanya.
    10. Mentata ulang disiplin ilmu di bawah framework Islam : Menyediakan tekx
        book untuk Universitas.
    11. Melaksanakan berbagai konfrensi, seminar, workshop dsb. Sebagai faculty
        training.


    Adapun paradigma Islamisasi ilmu pengetahuan yang harus di miliki oleh seorang
Ilmuan adalah :
    1. Teori Tentang Sifat Setiap Ilmu: “Subyektivitas dan byektivitas”.
    2. Tauhidullah : Ilmu Tauhid : Dasar ilmu keagamaan dan ilmu kealaman.
    3. Al-Ruju’ ila al-Qur’an wa al- Sunnah.
    4. Persesuaian antara akal dengan wahyu.
    5. Pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya telah di jelaskan Rosul.
    6. Keadilan.
    7. Kebenaran itu ada dalam kenyataan bukan dalam alam pikiran.
    8. Teori Fitrah.
    9. Ilmu-ilmu Islam dan misi manusia7




7
 Juhaya S. Praja, Filsafat Ilmu Menelusuri Struktur Filsafat Ilmu dan Ilmu-ilmu Islam, Program Pasca
Sarjana IAIN SGD Bandung 2000, hal. 54




                                                   5
                                                                                      6


Kesimpulan


       Pemisahan antara pendekatan ilmiah dan pendekatan wahyu menurut ajaran
Islam tidak patut terjadi. Pengetahuan ilmiah yang didapatkan dengan pemahaman yang
kritis terhadap fakta juga sering didasarkan pada landasan pemikiran tertentu, misalnya,
berupa pandangan terhadap manusia, paradigma, postulat, konsep, prinsip, asumsi,dan
hipotesis yang juga tidak dipertanyakan kebenaranya dan merupakan pilihan peneliti
dari sekian banyak landasan pemikiran yang ada. Ajaran Islam juga berisi pandangan
tertentu terhadap manusia dan kehidupan yang dapat menjadi landasan pemikiran dalam
pengembangan berbagai ilmu. Berarti, memasukan ajaran Islam dalam penelitian ilmiah
tidaklah menyalahi prinsip keilmuan.
        Oleh karena itu, dalam rangka mengimbangi kemajuan Barat dan sekaligus
memberantas dampak negatif dari kemajuan ilmu dan teknologi modern, maka
Islamisasi ilmu pengetahuan sudah sepatutnya untuk dilakukan. Studi filsafat sains
Islam menempati posisi penting dalam upaya ini.




                                           6
                                                                                    7


                                DAFTAR PUSTAKA

Agus, Bustanuddin. 1999. Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial: Studi Banding antara
     Pandangan Ilmiah dan Ajaran Islam. Jakarta: Gema Insani Press.
Ananda, Sudamara. 2001. Filsafat Ilmu. Projustitia tahun XIX no. 2.
Bakar, Osman. 1997. Hierarki Ilmu: Membangun Rangka-pikir Islamisasi Ilmu.
     Bandung: Mizan.
Garna, Judistira K, H.. 1999. Metode Penelitian: Pendekatan Kualitatif. Bandung:
     Primaco Akademika c.v..
Nazir. 1985. Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Praja, Juhaya S.. 2000. Filsafat Ilmu: Menelusuri Struktur Filsafat Ilmu dan Ilmu-ilmu
     Islam. Bandung: Program Pasca Sarjana IAIN SGD Bandung.
Suriasumantri, Jujun S.. 1999. Filsafat Ilmu: sebuah Pengantar Populer. Jakarta:
     Pustaka Sinar Harapan.
Tafsir, Ahmad. 1999. Filsafat Ilmu. Bandung: Program Pasca Sarjana IAIN SGD
     Bandung.




                                           7

				
DOCUMENT INFO