PENGERTIAN PUASA

Document Sample
scope of work template
							                 Bulletin Kajian Islam DKM Baitul Mu'min Perum Pasirjati




                         Media Edukasi dan Komunikasi Ummat



                                 Silaturahim
             Dengan Puasa Ramadhan 1423 H

         Beberapa hari lagi kita memasuki bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam
seluruh dunia, yaitu bulah Ramadhan. Bulan yang penuh dengan hikmah dan sekaligus
bulan yang mendatangkan keuntungan bagi semua orang baik muslim maupun non muslim.
Berbagai kegiatan penyambutan sudah kita lihat baik dari media cetak, elektronik atau
penyelenggaraan langsung di mesjid-mesjid atau tempat terbuka lainnya oleh umat Islam.
         Namun yang lebih penting bagi kita adalah bagaimana kita memahami dan
memaknai Ramadhan sebagai bulan peningkatan kualitas kita baik secara ruhani maupun
duniawi.
         Oleh karena itu perlu bagi kita untuk bersilaturahim kembali atau mengenal
kembali puasa Ramadhan. Agar kita dapat melaksanakan secara benar puasa yang kita
akan laksanakan dan sekaligus kita dapat meraih kemenangan Ramadhan, bukan sekedar
latihan.

PENGERTIAN PUASA.

          Arti al-shiyam (puasa) secara bahasa adalah menahan diri dari sesuatu, bila
seseorang menahan diri untuk tidak bicara atau makan sehingga ia tidak bicara dan tidak
makan, maka secara bahasa ia sebut sha-im (berpuasa). Sedangkan secara istilah syara‟
al-shiyam adalah menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa sehari
penuh, dari terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari.
          Adapun dalil-dalil disyariatkannya puasa / shaum pada bulan Ramadhan terdapat
didalam Q.S. Al-Baqoroh : 185, yang artinya : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah)
bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda
(antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa diantara kamu hadir (dinegeri
tempat tinggalnya) di bulan itu maka hendaklah berpuasa di bulan itu…”.
          Sedangkan hadist yang menyebutkan tentang puasa diantaranya adalah hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, yang artinya :

                                           1
“ Islam ini dibangun atas lima (dasar), yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan
Muhamad itu Rasul Allah, mendirikan shalat, memberi zakat dan berpuasa pada bulan
Ramadhan “.

RUKUN PUASA.

         Menurut Hanafiyah dan hanabilah, rukun puasa itu dalah menahan diri dari segala
hal yang dapat membatalkan puasa. Sedangkan menurut Malikiyah, rukun puasa adalah
niat dan menahan diri. Adapun syafi’iyah berpendapat bahwa rukun puasa ada tiga yaitu
orang yang puasa, niat dan menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa.
Dan dalam niat puasa Ramadhan harus memenuhi tiga syarat :
     1. Tabyiit, niat pada malam hari (mulai dari maghrib sampai dengan waktu imsak /
         sebelum subuh tiba). Sesuai dengan hadits Nabi : “Barang siapa yang tidak
         berniat puasa pada malam hari sebelum fajar, maka tidak puasa baginya “.
     2. Ta’yiin, menentukan jenis puasanya, misalnya : Niat saya melakukan puasa
         Romadhan esok hari karena Allah Ta’ala. Nabi Muhamad bersabda : “
         Sesungguhnya sah atau tidaknya suatu amal tergantung pada niat, dan bagi
         setiap orang dilihat / tergantung dari niatnya “.
     3. Tikroor, harus berniat berulang-ulang pada setiap malamnya, sebelum fajar untuk
         niat shaum untuk keesokan harinya. Tetapi pendapat yang lain membolehkan
         sekali niat untuk satu bulan penuh. Artinya bahwa dengan kita, bersahur atau
         berniat puasa dalam hati dan keesok harinya kita berpuasa hal tersebut sudah
         artinya berpuasa.

SYARAT PUASA.

Syarat puasa menurut syafi‟iyah terbagi menjadi dua bagian yaitu
    1. Syarat wajib puasa, yaitu Islam, baligh, berakal dan ada kemampuan secara fisik
         dan syara.
    2. Syarat sah puasa, yaitu tetap Islam pada saat berpuasa, tamyiz, (mampu
         membedakan yang baik dan yuang buruk) bebas dari darah haid, nifas, dan
         waktunya untuk memungkinkan untuk berpuasa.

PEMBAGIAN PUASA.

          PARA ULAMA Malikiyah, syafi‟iyah dan hanabilah sepakat bahwa puasa itu
terbagi menjadi empat bagian :
1. Puasa Fardhu.
          Puasa Fardhu adalah puasa pada bulan Ramadhan baik secara tunai (ada)
maupun qadha, puasa kifarat, dan puasa nadzar, hukum dari puasa Ramadhan adalah
fardu‟ain bagi setiap mukallaf yang mampu melaksanakannya. Oleh karena itu, berdosalah
seorang mukallaf yang tidak berpuasa tanpa ada „udzur syara‟.
2. Puasa Haram.
          Sesuai dengan namanya maka hukum puasa ini adalah haram yaitu bila
berpuasa.


                                           2
Maka berdosa yang termasuk puasa haram adalah puasa di hari raya ‟Idul fitri‟dan „Idul
adha‟ serta tiga hari setelah idul adha (hari tasyrik). Bila seorang istri berpuasa tanpa seizin
suami itu juga termasuk puasa haram.
3. Puasa sunat / Mandub.
           Yang termasuk puasa sunnat adalah puasa setiap hari senin dan kamis, puasa
pada tanggal 9 dan 10 Muharram, puasa pada hari Arafah (9 dzulhijjah).
4. Puasa makruh
           Puasa yang di makruhkan adalah puasa pada tahun baru masehi, puasa sehari
atau dua hari sebelum Ramadhan, juga puasa pada hari jum‟at secara tersendiri.

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA.

         Hal-hal yang dapat membatalkan puasa terbagi atas dua bagian :
1.   Mewajibkan qadha sekaligus kifarat, seperti jima‟ pada siang hari bulan Ramadhan.
     Maka bagi yang melakukannya wajib mengqadha puasa dan membayar kifarat.
2.   Mewajibkan qadha tanpa kifarat, seperti memasukan sesuatu pada perut orang yang
     berpuasa secara sengaja, muntah secara sengaja.

HAL-HAL YANG SUNNAT BAGI YANG BERPUASA.

          Untuk menambah nilai dari ibadah puasa, ada beberapa hal yang disunnatkan
untuk dilakukan oleh orang yang berpuasa, diantaranya adalah :

     1.  Bersahur sekalipun sedikit.
     2.  Mengakhirkan sahur.
     3.  Menyegerakan buka puasa.
     4.  Membaca do‟a ketika berbuka.
     5.  Bebuka dengan kurma.
     6.  Memberi makanan pada orang yang berbuka.
     7.  Menjaga lisan dari perkataan yang tidak perlu.
     8.  Banyak bersedekah.
     9.  Beri‟tikaf di mesjid terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
     10. Memperbanyak membaca Al‟quran dan berdzikir serta menyibukan diri pada ilmu
         pengetahuan.
     11. Mandi dari hadats besar sebelum fajar.

HAL-HAL YANG MAKRUH BAGI ORANG YANG BERPUASA.

          Ada beberapa hal yang makruh dilakukan oleh orang yang berpuasa karena hal
tersebut akan berakibat berkurangnya nilai dari puasa itu sendiri. Seperti saling mencaci,
mencicipi makanan, berenang, dll.




                                               3
ALASAN YANG MEMBOLEHKAN TIDAK PUASA.

    Ada beberapa hal yang membolehkan tidak p-uasa, diantaranya adalah :
    1. Sakit, bila orang yang sedang berpuasa sakit dan ia khawatir dengan puasa
        sakitnya akan bertambah atau kesembuhannya tertunda, maka ia boleh untuk
        tidak berpuasa.
    2. Wanita yang hamil dan menyusui, karena dikhawatirkan akan berbahaya bagi
        dirinya maupun anaknya.
    3. Musafir, orang yang dalam perjalanan diperbolehkan tidak berpuasa dengan
        syarat perjalanan nya itu mencapai jarak yang diperbilehkan mengqashar shalat
        dan perjalanannya dimulai sebelum fajar dan sampai ketempat tujuan sebelum
        fajar terbit.
    4. Karena lanjut usia.
    5. Gila / hilang ingatan.

HIKMAH PUASA.

         Ibadah puasa mengandung beberapa hikmah, diantaranya sebagai berikut :
    1.   Tanda terima kasih kepada Allah karena pada hakekatnya semua ibadah itu
         mengandung arti terima kasih kepada Allah atas nikmat pemberian-Nya.
    2.   Didikan kepercayaan, seseorang yang telah sanggup menahan makan dan
         minum dari harta yang halal kepunyaannya sendiri, karena perintah Allah tentu ia
         akan meninggalkan perintahnya dan melanggar segala larangannya.
    3.   Didikan perasaan belas kasihan terhadap fakir miskin karena seseorang yang
         telah merasa sakit dan perihnya perut keroncongan, akan dapat mengukur
         kesedihan dan kesusahan orang yang sepanjang masa merasakan ngilunya
         perutnyayang kelaparan. Maka dengan demikian akan timbul belas kasihan dan
         suka tolong-menolong terhadap fakir miskin.
    4.   Untuk menjaga kesehatan.
    5.   Bagi orang yang berpuasa akan dimasukan kedalam surga yang pintunya disebut
         dengan Ar-rroyyan.
    6.   Fitnah seseorang dalam keluarganya, dalam hartanya, dalam tetanggannya,
         dapat ditutup (dihapus) oleh shalat, puasa dan sedekah, ( H.R. Bukhari ).


                     Terbit tiap dua pekan ■ Penerbit: DKM Baitul Mu’min
                ■ Penasehat: Drs. H. Koko Komarudin, MPd., Drs. Tata Rohmat
          ■ Sirkulasi: Indi. S. Haryandi, Asep Idfiana, Eulis Listiani, M. Abdurahman
              ■ Redaksi: DKM Baitul Mu’min RW 15 Perum Pasirjati - Jati Endah
              ■ Tim Redaksi: Darminto, S.Pd, Asep NursobahS.Ag, Sumadi AF.,
                                       Drs. Tarya Sudiah
 ■ E-mail: baitulmukmin_altafkir@yahoo.com. Redaksi menerima sumbangan dalam tulisan.
                    Dan tulisan yang dimuat menjadi milik dewan redaksi.




                                           4

						
Related docs
Other docs by zmikin
9622545
Views: 68  |  Downloads: 0
Dialog Peradaban NASR
Views: 329  |  Downloads: 4
PRAPERADILAN ABB KAPOLRI II ss (DOC)
Views: 28  |  Downloads: 1
Aqidah-Sepuluh Hal Pembatal Keislaman kita
Views: 3  |  Downloads: 0
Aqidah-Bidahkah ucapan Shodaqallahul adzim
Views: 1  |  Downloads: 0
perpajakan
Views: 750  |  Downloads: 14
Untuk Sekedar Renungan Sahabat
Views: 220  |  Downloads: 4