Docstoc

Mengukuhkan Eksistensi HMI

Document Sample
Mengukuhkan Eksistensi HMI Powered By Docstoc
					                                         Mengukuhkan Eksistensi HMI
                                                              1
                                               Oleh : Tohirin

                                                   Abstract
 HMI as a big university student organization has built culture that significancy gave impact to the social or
  political atmosphere in Indonesia. Its impact became a discourse in which not only from HMI it self but so
does from another community. Its impact shown us about existention of HMI. This paper deals with respect to
                      some aspect to gain HMI's existention and so deal its pharameter.

                                          Keyword : impact—existention


Pendahuluan
         Sejak di awal berdirinya keberadaan HMI diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi
dunia intelektual (mahasiswa), mentransformasikan nilai-nilai ke-Islaman, dan peduli terhadap persoalan
kemasyarakatan atau kebangsaan. Ketiga visi yang telah tersurat dan tersirat sejak 14 Rabi’Al-awwal 1366 H
bertepatan dengan 5 Pebruari 1947 harus terus dipelihara dan dikembangkan agar apa yang menjadi tujuan
HMI dapat terus terwujud.
         Tujuan HMI untuk selalu membina kadernya agar menjadi insan akademis, pencipta, pengabdi yang
bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah
SWT tidak akan terwujud manakala perangkat-perangkat yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut
tidak terpenuhi. Perangkat-perangkat yang dimaksud adalah kader, mekanisme pengkaderan, dan
instruktur. Kader adalah anggota HMI yang berusaha secara kotinyu untuk menambah pengetahuan baik
secara kualitas maupun secara kuantitas. Mekanisme pengkaderan adalah sekumpulan komponen atau
tahapan yang saling berkaitan dalam penyelenggaraan pengkaderan baik itu jenjang pengkaderan formal
maupun nonformal. Namun yang perlu diingat bahwa penyelenggaraan pengkaderan jangan sampai
dipahami hanya sebatas training atau pelatihan namun pengkaderan pada hakikatnya adalah segala upaya
yang dapat dilakukan untuk terus meningkatkan kualitas kader HMI. Sedangkan instruktur adalah seseorang
atau kelompok yang secara kontinyu berusaha untuk meningkatkan dan mengawasi perkembangan
pengetahuan kader baik secara kuantitatif maupun secara kualitataif.
         Sebetulnya ketiga komponen tadi dapat secara dinamis ada atau menjiwai pada seorang kader HMI,
seorang kader HMI ialah seseorang yang secara dinamis berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas
pengetahuannya, seorang kader HMI harus dapat secara sekaligus menjadi instruktur sehingga akan terus
berupaya mentransformasikan pengetahuan yang dimilikinya pada orang lain, dan berupaya dengan
pengetahuan yang dimilikinya itu memberikan kontribusi positif bagi realitas di sekitarnya. Dengan demikian
jika banyak kader-kader HMI yang bertypical seperti tersebut di atas, maka apa yang menjadi tujuan HMI
dapat terwujud. Tujuan HMI secara eksploratif dapat dilihat pada pencapaian kualitas insan cita. Kualiatas
insan cita adalah pribadi HMI yang kaya dengan ilmu pengetahuan, kritis terhadap pelbagai persoalan
dengan terus berupaya mencari alternatif pemecahannya, dan tetap berpijak pada nilai-nilai ke-Islaman.

Parameter Eksistensi HMI
          Berbicara eksistensi maka tidak akan lepas dari beberapa aspek berikut ini, yaitu : Pertama aspek
komunitas (community), aspek komunitas artinya bahwa keberlangsungan HMI berpijak pada kelangsungan
komunitas HMI itu sendiri. Komunitas HMI pasti selalu disandingkan dengan berbagai relitas yang ada baik
itu realitas politik, ekonomi, sosial, budaya, pandidikan, dan relitas-realitas lainnya. Dalam persandingannya
dengan realitas ini maka pertanyaan yang paling tepat untuk menilai eksistensi HMI adalah apakah HMI
menjadi komunitas yang eksklusif yang hanya peduli dengan urusan internal ke-HMI-annya tanpa merespon
pelbagai problem dalam relitas eksternalnya atau menjadi komunitas inklusif yang sepertinya sangat peduli
dengan pelbagai problem eksternal tapi sarat dengan kader yang terdegradasi karena terlupa dengan
pengkaderan yang merupakan inti dari keberlangsungan HMI itu sendiri. Dalam hemat saya HMI harus
berdiri tegak dengan kualitas kadernya dan yang dengan kekuatan kualitas kadernya sanggup tampil menjadi
pembela kaum yang terdzalimi baik sacara sruktur maupun secara kultur.
          Kedua aspek pengaruh (impact), dalam aspek ini eksistensi HMI dapat dilihat dari tata kehidupan di
sekitar komunitas HMI. Apakah keberadaan HMI di suatu tempat berpengaruh terhadap kualitas
intelektualitas, kualitas ke-Islaman, dan kualitas harmoni kehidupan yang berpijak pada kesadaran untuk
menghargai kehidupan umat manusia sebagai makhluk yang cinta pada ketertiban (order), kedamaian
(peace), dan persamaan dalam perlakuan (equality). Dan yang ketiga tersebut di atas tidak akan terwjud
ketika tidak ada pemicu (triger) sekaligus pejuang yang sanggup berkorban untuk menciptakan kualitas
kehidupan yang lebih baik. Dalam aspek impact ini HMI juga disinggungkan dengan pengaruh-pengaruh
yang datang dari komunitas lain yang bukan hanya sejalan dengan cita-cita HMI tapi juga disinggungkan
dengan komunitas yang berlawanan dengan cita-cita HMI. Parameter keberhasilan impact HMI adalah
sejauh mana HMI menjadi agen perubahan (agent of change) yang mampu mempengaruhi wilayah struktur
untuk memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan yang berpihak kepada rakyat serta mampu
mempengaruhi wilayah kultur agar secara sinergis mau mengubah hidupnya dan mendukung sistem yang
memang baik bagi kehidupan dan kemaslahatan masyarakat banyak, bukan malah sebaliknya menjadi
problem bagi perubahan ke arah yang lebih baik.
          Ketiga aspek kontinuitas, maksudnya adalah bahwa kontinuitas peran dan fungsi HMI dalam
memberikan kontribusinya agar berpengaruh positif terhadap terciptanya tata kehidupan yang lebih baik.
Kontinuitas kontributif ini dibangun oleh kontinuitas internal dan kontinuitas eksternal yang sangat
dipengaruhi oleh kontinuitas internalnya. Kontinuitas internal adalah konsolidasi yang dilakukan secara terus

1
    Penulis adalah Formateur/Ketua Umum HMI Cabang Ciamis terpilih periode 2005-2006
menerus di internal HMI dan kontinuitas eksternal adalah upaya progresif HMI dalam hidup bersama dan
berbuat yang terbaik bagi kemaslahatan komunitas di sekitarnya.
         Termotivasi untuk mengukuhkan eksistensi HMI maka ada beberapa hal yang dapat ditawarkan yaitu
: terus mewacanakan paradigma baru ber-HMI, lebih mempraksiskan pengkaderan.

Mewacanakan Paradigma Baru Ber-HMI.
           Konsekuensi dari pewacanaan paradigma baru adalah terjadinya perubahan paradigma (revolusi
paradigma) dari paradigma yang selama ini begitu dahsyat menghegemoni pemikiran sebagian komunitas
HMI menjadi paradigma yang secara holistik menyentuh seluruh sisi yang ada pada realitas itu.
         Paradigma yang selama ini menghegemoni sebagian komunitas itu adalah paradigma yang selama
ini hanya menyentuh dimensi liberasi dan humanisasi, tetapi kurang mnyentuh dimensi transendensinya.
Artinya eksistensi yang ditunjukan HMI lebih teraksentuasi pada aspek formal dan insidental walau dengan
mengembangkan nilai yang          berusaha menempatkan manusia sebagai manusia dan berusaha
membebaskan (liberasi) manusia itu dari segala belenggu dehumanisasi namun kurang menyentuh nilai
ilahiyah yang dijadikan parameter akseptabilitas sebuah aktivitas secara ethics. Implikasinya adalah
munculnya gerakan yang sinergis, progresif, dan masif, namun kurang memiliki sandaran vertikal. Padahal
HMI sejatinya harus tampil dengan ketiga kekayaan dimensinya. Dimensi humanisasi akan melahirkan
egalitarainisme atau kesamaan (equality), liberasi akan melahirkan progresifitas dan keberanian dalam
berbuat sekaligus keberanian dalam menanggung resiko, dan nilai transendensi yang merupakan sandaran
vertikal akan melahirkan ketawaduan, kearifan, dan penghargaan terhadap tata nilai yang berlaku termasuk
tata nilai yang bersumber dari kebenaran Tuhan. Yang selanjutnya akan melahirkan pula sikap komitmen
terhadap pengamalan ajaran Islam secara kaffah dan perilaku yang terejawantahkan berdasar atas nilai-nilai
luhur itu.
         Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika ingin agar HMI secara dinamis megubah
paradigmanya. Pertama, peninjauan kembali terhadap latar belakang kemunculan HMI dalam kancah
perjuangan Bangsa Indonesia. Secara historis kemunculan HMI merupkan respon atau jawaban terhadap
kondisi bangsa, mahasiswa atau perguruan tinggi, dan umat. Kemunculannya untuk merespon pelbagai
problem tadi tidak hanya untuk memperkenalkan upaya pencerahan yang begitu menyentuh sisi
kemanusiaan dan berusaha menjadikan manusia sebagai makhuk yang bebas dari segala bentuk
penindasan dan pengekangan terhadap eksistensi dirinya baik itu penindasan dan pengekangan yang
sifatnya kultural maupun struktural. Tetapi juga memperkenalkan nilai yang sejatinya mendasari setiap
aktivitas manusia termasuk di dalamnya kader-kader HMI.
         Kedua, memberikan pemahaman terhadap Nilai Dasar Perjuangan (NDP)                    HMI secara
komprehenshif. NDP HMI adalah tafsir praksis Islam sebagai sistem nilai terpadu dalam pemikiran kader
HMI. Tafsir praksis adalah hasil kajian yang mendalam sebagai upaya untuk mencari makna teks yang
setelah makna teks didapatkan dapat digunakan sebagai daya pendobrak dan pembangkit untuk
mewujudkan sebuah tata kehidupan yang harmonis. Berbarengan dengan tampilnya kader HMI sebagai
pendobrak sistem yang melanggengkan status quo dan melegitimasi kekuasaan penindas ia juga
memancarkan kekuatan moralnya (moral force). Pendekatan yang dapat digunakan dalam penyampaian
materi NDP selain pendekatan rasional juga dengan pendekatan ethic yaitu pendekatan yang berusaha
menanamkan integritas moral.

Mempraksiskan Pengkaderan
         Sebagaimana telah sedikit disinggung di bagian pendahuluan bahwa upaya untuk terus
meningkatkan kualifikasi kader jangan hanya dipahami dapat ditempuh melalui jenjang pengkaderan baik
formal maupun nonformal dalam bentuk training atau pelatihan yang selanjutnya disajikan sebagai rutinitas
ritual selama satu periode kepengurusan.
         Pengkaderan dalam bentuknya seperti itu bukan tidak mungkin akan membentuk pandangan yang
formalistik, kaku, dan sempit ketimbang dengan melakukan pengkaderan yang terencana secara kontinyu
dan lebih praksis. Mempraksiskan pengkaderan artinya memposisikan kader sebagai subjek yang dengan
stimulan dan fasilitasi tertentu dapat terus meningkatkan kualitas dan kuantitas pengetahuannya. Kader tidak
hanya dididik menjadi event organizer atau aktivis kepanitiaan sebuah acara insidental tapi dipersiapkan
menjadi aktivis perubahan dengan cara dihadapkan pada pelbagai problem sosial dalam kehidupan yang
sesungguhnya.
         Mempraksiskan pengkaderan berarti menumbuhkan semangat pada diri untuk menjadikan aktivitas
dalam HMI seperti halnya hidup dalam aktivitas keseharian. Secara konseptual HMI telah menyuguhkan dan
memberikan arahan bagi para kadernya untuk hidup layaknya hidup di masyarakat dengan jabtannya baik itu
jabatan sosial maupaun jabatan politik.
         Praktek-parktek yang biasa dilakukan dalam aktivitas ke-HMI-an tidak relatif sama dengan praktek-
praktek pada kehidupan di masyarakat. Entah itu dalam hal membangun komunikasi (public relation dan
human relation), advoksi dan penyampaian ide/gagasan, serta analisis problem sekaligus dengan alternatif
solusinya. Kegiatan-kegiatan insidentalnya sama saja dengan kegiatan insidental yang dilakukan di HMI
dalam merespon isu-isu lokal maupun nasional.

Penutup
        Eksistensi HMI adalah eksistensi implikatif kader-kadernya. Eksistensi HMI berbanding lurus dengan
eksistensi kadernya. Artinya jika kualitas kader HMI meningkat maka eksistensi HMI juga akan meningkat
dan begitu pula sebaliknya. Sehingga untuk mengukuhksn eksistensi HMI kita sebagai kader HMI harus terus
meng-upgrade kuantitas dan kualitas pengetahuan kita, bergerak secara dinamis melihat segala fenomena
dalam realitas agar menjadi bahan pemikiran dan selalu punya keinginan untuk menggulirkan perubahan ke
arah yang lebih baik dengan tetap berpijak pada semangat ke-Islaman yang merupakan sistem nilai yang
selain berdimensi transendensi juga berdimensi sosial atau humanis. Yakin usaha sampai!

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:174
posted:1/9/2011
language:Indonesian
pages:3