Docstoc

menggugah kesadaran identitas mahasiswa

Document Sample
menggugah kesadaran identitas mahasiswa Powered By Docstoc
					        MENGGUGAH KESADARAN IDENTITAS MAHASISWA
                   SEBAGAI AGENT OF CHANGE DAN SOCIAL CONTROL
                                        Oleh : mohammad Ijudin
                                  ( Presiden Mahasiswa BEM Unigal )

         Mahasiswa adalah kaum elit intelektual masyarakat, eksistensi dan kapabilitasnya diakui
sebagai kekuatan pembaharu (agent of change) dan merupakan elemen yang dengan gerakan
idealismenya mampu menjadi kontrol kestabilan sosial (social control). Mahasiswalah yang kemudian
diharapkan sebagai generasi muda berpendidikan (educated young generation) yang dengan kekuatan
intelektualnya akan mampu membawa bangsa dan negara ini kearah yang lebih baik.
         Namun demikian, semua predikat diatas tidak mutlak merupakan sesuatu yang objektif saat ini,
secara historis tahun 1975 kebelakang diakui bahwa mahasiswa secara menyeluruh saat itu bersikap
aktif berjuang dengan kekuatan intelektualnya. Sebagai insan akademik mereka bergerak mempertajam
intelektualnya dan peran-peran sosialnya. Mereka bergerak berdasarkan kesadaran identitasnya, mereka
sepenuhnya mengetahui, memahami dan menyadari akan realitas yang ada dan mereka sepenuhnya
merasa bertanggung jawab terhadap ketidakstabilan (imbalance) kehidupan berbangsa, bernegara dan
beragama, mereka kompak menyikapi ketidakmenentuan (disarray) kehidupan bangsa.
         Pada tahun 1998 dengan mengusung issu reformasi tampak seluruh mahasiswa di Indonesia
bergerak secara menyeluruh, namun itu dipandang sebagai gerakan yang bersifat instant dan mayoritas
dilandasi oleh euphoria aksi demonstrasi bukan atas landasan kesadarannya (background of
realization). Kita melihat bahwa gerakan menyeluruh tersebut hanya terjadi sementara saja dan saat ini
perjuangan tersebut hanya dilakukan oleh kaum minoritas mahasiswa, sementara kaum mayoritasnya
kembali menjadi mahasiswa yang apatis dan skeptis, hal itu merupakan tanda bahwa mahasiswa sudah
kehilangan kesadaran identitasnya.
         Sebagai akuntabilitas mahasiswa terhadap semua predikatnya (agen pembaharu dan kontrol
sosial), tentunya harus memiliki dahulu kesadaran identitas. Kesadaran tersebut tidak akan serta merta
ada dalam setiap pribadi mahasiswa, maka perlu adanya rekonstruksi kesadaran (reconstruction of
awareness) oleh berbagai pihak, menanamkan kembali intelektualisme dan jiwa populismenya sebagai
mahasiswa yang edukatif, inovatif, kreatif, aktualitatif dan dedikatif yang dilandasi oleh pemikiran
logis-rasional dan argumentatif. Sikap apatis dan skeptis harus disembuhkan karena merupakan
penyakit jiwa dan virus penghancur kreativitas-kritis yang telah menular hampir menyeluruh ke setiap
mahasiswa.
         Pada dasarnya mahasiswa mempunyai sebuah tradisi yang berjalan simultan dengan dunia
akademiknya yaitu tradisi intelektualisme dan populisme. Tradisi yang pertama merupakan identitas
keilmuwan (scientific identity) mahasiswa sedangkan yang kedua merupakan identitas aksi (identity of
act), yakni merupakan reaksi implementatif, aplikatif sekaligus aktualitatif dari identitas yang pertama.
Namun tradisi tersebut seolah-olah tertutup oleh kegemerlapan stratifikasi pendidikan. Sikap acuh
mayoritas mahasiswa terhadap kondisi bangsanya adalah bukti ketidakberhasilan dunia kampus
membentuk dan membangun tradisi dan kesadaran identitas mahasiswanya.
          Ada beberapa hal yang harus direnungkan, karena disadari maupun tidak semua yang terjadi
dalam dunia mahasiswa adalah merupakan konsekwensi dari sebuah realitas kehidupan kampus yang
sekarang sudah agak jauh meninggalkan tradisinya. Ada beberapa alasan kenapa mahasiswa kehilangan
kesadaran identitasnya sehingga ia rela meninggalkan tradisinya sendiri.
         Alasan pertama; tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan paradigma manusia modern sudah
mengarah kepada materialisme-individualis, dimana manusia sudah mengalami kemerosotan nilai
emanusiaan (dehumanisasi). Secara umum manusia bersikap memprioritaskan hal yang bersifat
materialis-hedonis (kekayaan dan kedudukan) bagi kepentingan dirinya sendiri, sehingga essensi
makna dari kuliah itu sendiri sudah mengalami distorsi, semula essensinya sebagai wadah untuk
menggali keilmuan untuk sebuah kemanfaatan bagi dirinya dan masyarakat, beralih menjadi sebuah
wadah pengejaran sertifikasi (certificate oriented) untuk sebuah stratifikasi bagi dunia kerja (job
stratification) atau lebih parah lagi dijadikan sebagai ajang lisensi bagi sebuah gengsi sosial (social
prestige), sehingga mahasiswa itu sendiri bersikap skeptis dan apatis terhadap realitas sosial yang ada
disekelilingnya.
         Alasan kedua; mayoritas bahkan mungkin semua lembaga Perguruan Tinggi (PT) kurang
memperdulikan essensi peran dan fungsi mahasiswa itu sendiri, sehingga PT lebih memfokuskan
mahasiswa bagi dunianya sendiri bukan dunia bersama, hal ini menyebabkan mahasiswa kehilangan
jatidirinya yang paling berharga yaitu jiwa kesosialannya. Hal ini mungkin merupakan ekses dari
politik orde baru di dunia pendidikan bagi sebuah keabadian kekuasaan, yakni dengan cara merubah
paradigma pendidikan, sehingga yang terjadi adalah istilah kesalahan berfikir. Hal inipun merupakan
jurus dewa mabuk untuk membungkam gerakan-gerakan mahasiswa dalam mengontrol dinamika
sosial.
         Alasan ketiga; beralihnya paradigma pendidikan yang semula bergerak idealis untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa, kini pendidikan beranjak menjadi pragmatis dan menjadi institusi
materialisme. Sehingga dunia pendidikan sekarang terutama perguruan tinggi berubah assumsi dari
Lembaga Pendidikan beralih menjadi sosok Perusahaan Pendidikan, mengingat semakin mahalnya
biaya pendidikan. Diakui maupun tidak komersialisasi pendidikan sudah merupakan prestasi
kapitalisme pendidikan.
         Essensi pendidikan itu sendiri sebagaimana di ungkapkan oleh Phenenoe seorang pakar
sosiolog bahwa “ education goes beyond merely teaching norm and values however to applicate to that
principles”
         Input bisa membentuk karakter out-put, kalau didunia mahasiswa sudah dibayangi atau ecara
tidak langsung diajari kapitalisme, komersialisasi, apatisme sosial, tindakan-tindakan manipulatif,
justifikasi kasalahan atau apapun bentuknya, maka akan lahir generasi bangsa yang insya Allah
bersedia melestarikan korupsi, kolusi, nepotisme, monopoli maupun perusakan norma agama dan
sosial. Sehingga perlu adanya langkah alternatif dari semua pihak untuk melakukan revitalisasi peran-
fungsi mahasiswa. Ada dua hal yang bisa dilakukan yang ditawarkan oleh penulis sebagai langkah
kuratif dan sekaligus preventif.
         Pertama perlu adanya kesadaran (realization) maupun penyadaran (awareness) semua pihak
terutama stickholder pendidikan untuk merekonstruksi makna, essensi dan fungsi pendidikan itu sendiri
yang sudah mengalami distorsi.
         Kedua perlu adanya kesadaran dan penyadaran mahasiswa atas identitas serta peran dan
fungsinya, bahwa dunia mahasiswa bukanlah dunia SMU, dimana mahasiswa adalah agen pembaharu
dan kontrol sosial yang bermodalkan intelektual (edukatif, kritis / rasionalis-argumentatif, inovatif) dan
berjiwa populis (sosialis, idealis, dedikatif, accountable, heroic). Reorientasi normative-reeducation (
pendidikan ulang norma)
         Mungkin kedua hal ini merupakan sesuatu yang tampak mudah namun sesungguhnya berat
untuk diimplementasikan, untuk sebuah perubahan sosial tidak mungkin terjadi tanpa adanya
perubahan paradigma (cara berpikir) manusianya. Betapa berat dan betapa lama kita akan mampu
merubah paradigma manusia, begitu rumit kita malakukan sebuah rekontruksi maupun rekayasa sosial.
Namun pepatah mengatakan disitu ada kemauan disitu ada jalan. Dan kalau para pelaku pendidikan
sudah memiliki kemauan dan kesadaran maka Insya Allah mahasiswa Indonesia akan menjadi next
generation yang bertanggungjawab terhadap terwujudnya bangsa yang adil dan makmur yang diridhoi
Allah SWT.
         Langkah pemerintah menjadi sebuah ajang pencerahan dunia pendidikan Nasional, konvensasi
BBM serta bantuan-bantuan lain dan yang lagi hangat Badan Hukum Pendidikan (BHP yang sekarang
masih digodok dan kelar akhir Tahun ini menjadi sebuah harapan baru dunia pendidikan meskipun
masih dikwatirkan akan terjadi penyelewengan-penyelewengan oleh yang merusak nama pemerintah
itu sendiri, namun besar harapan karena pemerintahpun berusaha secara transparan dan menggunakan
system control yang baik dengan secara terbuka menerima keluhan-keluhan kalau memang dilapangan
terjadi keganjilan.
        Akhirnya mengingat begitu krusialnya masalah ini maka satu satunya tempat bernostagia
membangun kesadaran tersebut saat ini, meskipun spekulatif adalah bukan wahana kampusnya tapi
dunia organisasinya. Dalam organisasi terjalin sebuah kehidupan yang dinamis sekaligus kompleks,
karena disitulah mahasiswa bisa membangun sebuah dinamika kehidupan sosial. Proses aktualisasi
sangat implementatif dalam dunia organisasi, karena pada intinya bahwa manusia yang berkepribadian
dinamis (dynamic personality) adalah manusia yang bukan hanya cerdas secara intelektual namun yang
memiliki kecerdasan sosial, emosional dan spiritual.. Orang yang senantiasa memikirkan kepentingan
orang lain serta kemanfaatannya bagi orang lain disamping ia memikirkan dirinya sendiri dialah
manusia tersukses (aplah). semoga bangsa kita mampu bangkit dari krisis moral dan juga krisis
intelektual.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:693
posted:1/9/2011
language:Indonesian
pages:3