mengenal diri sendiri by zmikin

VIEWS: 138 PAGES: 3

									                                  Mengenali Diri Sendiri
                                        Oleh : Tohirin




       M
                        anusia adalah puncak ciptaan Tuhan oleh karena itulah manusia
                        diberi amanah agar maenjadi khalifah (penguasa) di dunia ini.
                        Pemberian amanah ini bukan sesuatu yang terjadi secara spontan
melainkan melalui proses yang berjenjang. Konon katanya amanah itu pernah ditawarkan
kepada langit, bumi, dan gunung tetapi mereka semua menolaknya. Kemudian tampilah
manusia sebagai pengemban amanah itu.
       Sebagai makhluk pengemban amanah itu manusia telah dikaruniai dengan alat-
alat indera dan fakultas rasional (aql). Dengan karunia ini manusia dapat menjadi
makhluk yang secara continyu berpindah dari satu kesempurnan menuju kesempurnan
berikutnya pada strata yang lebih tinggi. Namun dengan karunia ini pula makhluk tuhan
bernama manusia ini terjerembab menjadi makhluk hina luar biasa bahkan lebih hina
dari binatang ternak yang dapat disantap dan diperbudak dengan seenaknya.
       Karunia yang diberikan bukan sebuah paket yang sejak diberi sampai mati
dibiarkan saja menjadi monument abadi tetapi karena ia adalah karunia maka potensi
kebaikan yang ada didalamnya harus diubah agar senantiasa baik dan memberi manfat
dalam hidupnya, maka sebetulnya dari sinilah hidup manusia sebagai manusia bisa
bernilai   dan   dari     sini   pula   manusia    dapat   secara   PD   (percaya    diri)
mempertanggungjawabkan apa yang dikaruniakan Tuhan.
       Ternyata dengan karunia yang diberikan ini manusia punya kemampuan untuk
melakukan perjalanan panjang agar ia sampai berkenalan dengan Tuhannya, perkenalan
dengan tuhan ini tentu kemudian akan gagal ketika sarana pendukungnya tidak bergerak
dinamis melihat fenomena dalam diri dan di sekitarnya (the others). Pengenalan manusia
terhadap sekeliling dapat ia peroleh lewat indera lahir, dari indera kemudian diteruskan
kedalam indera batin yang sudah berupa abstraksi yang dapat memunculkan rupa (form).
Hasil abstraksi ini selanjutnya disimpan (representasi) karena tanpa disimpan data
realitas lahir ini akan hilang. Setelah menerima hasil persepsi yang ada pada representasi
estimasi (al wahmiyah) mempersepsi maknanya. Pada tahap ini diri telah mampu
membentuk opini tetapi ini hanya didasakan pada penafsiran instinktif atau hubungannya
dengan dengan pengalaman masa lalu, yang bisa saja salah.
       Ingatan-peringatan   (al-hafizh-al-dzakir)   mempunyai     fungsi   yang    sama
denganrepresentasi dalam hal makna; ia menyimpan makna yang telah dipersepsi oleh
estimasi. Imajinasi (al-mutakhayyilah)adalah perantara antara indera-indera batin dengan
fakultas rasional manusia, yaitu akal (dan karenanya juga perantara antara diri hewani
[animal soul] yang terdiri dari kelima indera batin ini, dengan diri manusiawai/rasional
[human/rasional soul] ). Ia menerima rupa-rupa dari representasi dan makna-makna dari
ingatan-peringatan, dan bertindak atasnya sedemikian hingga makna-makna terkait
dengan rupa-rupanya.
       Proses psikoogis-epistemologis ini berlanjut dalam fakultas rasional manusia, dan
hasil akhirnya adalah pengetahuan tentang alam lahir (syekh Muhammad Naquib Al-
Attas dalam Islam dan filsafat Sains, Mizan, Bandung, 1995, hlm.34-45).
        Deskripsi sederhana       Muhammad Baqir Ash-Shadr dalam Falsafatuna
menyatakan bahawa Pengetahuan secara garis besar terbagi dua. Pertama, konsepsi atau
pengetahuan sederhana. Kedua , tashdiq (assent atau pembenaran), yaitu pengetahuan
yang mengandung suatu penilaian.        Konsepsi adalah penangkapan kita terhadap
pengertian panas, cahaya, suara dan lain-lain. Kemudian tashdiq adalah penilaiaian kita
bahwa panas adalah energi yang berasal dari matahari.
       Piiran manusia sebetulnya mangandung dua konsepsi. Pengertian-penertian
konsepsieptual sederhana, seperti pengertian        panas,cahaya,suara. Dan konsepsi-
konsepsi tunggal manusia lainnya. Kedua         pengertian-pengertian majemuk. Yaitu
konsepsi yang merupakan kombinasi dari konsepsi-konsepsi sederhana. Lalu Sumber
hakiki dan sebab timbulnya konsepsi-konsepsi sederhana dalam persepsi manusia
menurut para filosof muslim dapat dideskripsikan dengan mengelaborasi teori disposesi
(intizha). Teori ini terangkum dalam pembagian konsepsi-konsepsi mental menjadi dua
bagian ; konsepsi-konsepsi primer dan konsepsi-konsepsi sekunder.
       Konsepsi-konsepsi primer adalah dasar konseptual bagi akal manusia. Ini lahir
dari persepsi inderawi secara langsung terhadap kandungan-kandungannya. Kita
mengkonsepsi sesuatu dengan perantara indera kita dan dari sini diteruskan oleh akal
untuk yang dapat membangun konklusi dari yang dipersepsi, karena akal kita sudah
memiliki ide tentang sesuatu yang dapat ditangkap oleh persepsi inderawi. Dari ide-ide
itu terbentuklah kaidah pertama (primer) bagi konsepsi. Berdasarkan kaidah itu akal
memunculkan sekunder (turunan). Dari sini mulailah terjadinya akumulasi pengetahuan
yang menjadi basis bagi keberlangsungan inovasi dan konstruksi.

								
To top